Our Big Trouble – Part 1

Our Big Trouble! – Part 1


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Jinki

Hwang Suin

SHINee – Kim Jonghyun

Other Cast     :           SHINee – Kim Kibum (Key)

Kim Rinhae

Genre              :           Romance

Rating             :           PG-15

Length            :           Series

Disclaimer      :           Just my stupid idea

Previous         :           Prolog

+++

“Ya, malam ini juga Lee Jinki akan menjadi pria yang sesungguhnya, seperti yang kau katakan. Benar kan?” kata yeoja itu sambil menoleh ke arahku.

Omo… Apa maksud yeoja ini?!

“Mwo?!” aku berseru kaget menanggapi perkataannya, namun ia tiba-tiba menyikutku dan member isyarat agar meyetujui perkataannya.

“Errr, ne…” kataku ragu, dan sesaat kemudian yeoja itu semakin mengencangkan pegangannya di lenganku.

“Oh, ternyata kau benar-benar sudah berubah Jinki…” kata Jonghyun padaku.

“Oh, yeah… Hehehe” jawabku sambil mengangkat bahuku dan tertawa garing. Omo… Apa ini?!

“Wow, perkembangan yang bagus teman!” Key menatapku dengan tatapan antusiasnya sambil menjabat kembali tanganku. Ia lalu melanjutkan perkataannya, “Ya sudah, tunggu apa lagi?”

Entah untuk keberapa kalinya aku melototkan mataku, terlalu kaget dengan semua ini.

“Kau yakin huh?” tanya Jonghyun padaku. Dari nada bicaranya, sepertinya ia ragu.

Belum sempat aku menjawab, yeoja itu sudah maju dihadapan Jonghyun, menopangkan tangan kirinya di pinggang sementara satu tangannya yang lain ia gunakan untuk menyentuh permukaan bibir Jonghyun dengan jari telunjuknya.

“Sssttt, lihat saja nanti!” katanya singkat, lalu segera berbalik kembali dan menarikku dengan paksa.

“Hey, mau ke mana?” kataku padanya dengan suara berbisik.

“Ikut saja…” jawabnya santai dan juga berbisik. Ia terus memaksaku untuk berdiri hingga akhirnya aku beranjak dari kursiku dan meninggalkan kedua namja itu.

“Ya! Have a nice night, bro!” teriak seseorang padaku yang ku yakini adalah Key. Sekarang untuk berbalik menoleh pun aku sudah tidak sempat. Yeoja ini terlalu sibuk menarikku untuk mengikutinya sedangkan aku sendiri tidak tahu ke mana yeoja ini akan membawaku.

Ia terus menarikku hingga melalui tangga yang menghubungkan ke lantai dua pub itu. Kami berjalan menyusuri lantai dua itu hingga akhirnya kami tiba di depan pintu sebuah ruangan.

“Aku mau yang ini…” ujar yeoja itu pada seorang penjaga yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Seakan mengerti dengan maksud dari yeoja itu, penjaga bertubuh besar itu mengangguk setuju lalu memberikan sebuah kunci pada yeoja itu.

Yeoja itu lalu mengangkat kunci yang tadi ia terima dan memasukkannya pada lubang kunci ruangan itu.

Ceklik.

Pintu akhirnya terbuka dan ia kembali menarikku untuk masuk ke dalam ruangan itu. Tak lupa ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya pada penjaga itu.

“Selamat menikmati” kata penjaga itu lagi. Yeoja itu hanya mengangguk kecil dan sesaat kemudia penjaga itu pergi meninggalkan kami. Yeoja itu lalu menutup kembali pintunya.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan yang tidak begitu luas. Hanya ada sebuah sofa yang dilengkapi dengan satu set televisi, sebuah meja kecil yang di atasnya sudah dipenuhi dengan botol-botol minuman beralkohol, lemari pakaian yang ukurannya tidak terlalu besar, dan tempat tidur. Eh? Ini, sebuah kamar?

“Tempat apa ini?” tanyaku pada yeoja itu.

“Ck, aku yakin kau sudah melihatnya dengan jelas kan? Tentu saja ini kamar tidur…” jawabnya cuek.

“Maksudmu?”

Ia menoleh padaku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ckckck, kau ini terlalu polos…” ujarnya dengan nada prihatin.

“Hey, jangan bilang kalau…” aku menggantungkan kata-kataku dengan ragu. Ia terlihat tidak peduli. Ia lalu berjalan menuju sofa dan melepaskan jaket kulit yang sedari tadi ia kenakan. Di balik jaketnya itu, ia hanya mengenakan dress mini berkesan glamour. Bagian belakang dress itu hanya berupa dua tali kecil yang menyilang sampai di bahunya  hingga sekarang aku bisa melihat dengan jelas punggung yeoja itu.

Ia lalu berbalik ke arahku.

“Ya! Apa yang kau lakukan di situ? Kau ingin jadi penjaga pintu huh? Kemarilah…” katanya sambil melambai-lambaikan tangannya.

Perlahan-lahan aku melangkahkan kakiku mendekat.

“Ya! Kau ini kenapa? Jangan takut seperti itu, aku tidak akan memakanmu…”

Hhh, ternyata kegugupanku dapat di baca oleh yeoja ini. Akhirnya aku mencoba untuk bersikap biasa.

“Hey, aku ini atasanmu. Kau lupa huh?” kataku padanya. Ck, sedari tadi yeoja ini berbicara padaku seenaknya.

“Lee Jinki, hal itu hanya berlaku di kantor. Di luar, kau dan aku tidak ada bedanya bukan?” katanya sambil menyeringai tipis. Tak lama kemudian, ia melangkah mendekatiku hingga membuatku sontak melangkah mundur.

Yeoja itu menatapku tajam sambil terus melangkah mendekat, dan di saat yang bersamaan aku semakin melangkah mundur menjauhinya.

“Apa yang akan kau lakukan?” kataku sedikit panik.

Buk.

Tiba-tiba punggungku menabrak permukaan tembok. Sekarang aku sudah tidak bisa melangkah mundur lagi, dan itu membuatnya semakin mendekat.

Yeoja itu sekarang sudah berada di hadapanku. Ia lalu meletakkan kedua tangannya di bahuku.

“Jangan macam-macam…” aku memperingatkannya, namun ia tidak bergeming. Tangannya yang awalnya hanya sebatas menyentuh pundakku kini ia lingkarkan di leherku. Aku memalingkan wajahku dan memejamkan mataku rapat-rapat.

‘Ya Tuhan, tolong aku’ gumamku dalam hati. Beberapa saat kemudian, aku merasakan hembusan napasnya yang hangat di leherku.

“Kau ini benar-benar polos. Tenang saja, aku bukan yeoja yang seperti itu… Hahaha…” katanya sambil tertawa. Ia lalu melepaskan lengannya dari leherku.

Perlahan-lahan aku kembali membuka mataku. Yeoja itu kini sudah duduk di atas sofa.

Fiuhhh…

Aku menghela napas lega. Ternyata aku sudah berpikiran terlalu jauh. Aku lalu melangkahkan kakiku menuju pintu.

“Hey, mau ke mana?” tanyanya tiba-tiba.

“Aku ingin pulang” aku menoleh padanya dan menjawab sekenanya.

“Pabo, kau ingin pulang sementara kedua namja itu masih ada di lantai bawah?”

“Wae? Ada yang salah?” tanyaku bingung. Ia kembali menggeleng-geleng mendengar pertanyaanku.

“Kau lupa huh? Bukankah kau sudah mengatakan pada mereka kalau malam ini kau hanya bersamaku?”

“Lalu?”

“Ck, dengan begitu kau hanya memperlihatkan kebodohanmu… Aku sarankan, malam ini kau tidak usah pulang dulu”

“Mwo?! Kalau aku tidak pulang, aku harus menginap di mana?”

Tiba-tiba yeoja itu menghentakkan kakinya di lantai. Ia lalu menepuk jidatnya dan menyandarkan punggunya di sofa.

“Jenius dan bodoh itu memang tidak ada batasnya…” gumamnya pelan.

“Apa maksudmu?!”

“Lee Jinki, ku akui kau ini memang pintar. Apalagi kau ini calon pemimpin perusahaan yang akan menggantikan posisi appa-mu. Tak ku sangka di luar dari itu, kau tidak lain hanya seorang namja yang tidak mengerti apa-apa…”

Aku hanya bisa mendengus kesal saat mendengar perkataannya.

“Hey, jangan marah dulu. Oke, aku minta maaf. Tapi sekali lagi ku sarankan, sebaiknya malam ini kau tidak keluar dari kamar ini dulu. Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa” katanya meyakinkan.

Aku kembali berpikir sejenak. Benar juga, kalau sekarang aku keluar dari sini dan muncul di hadapan Jonghyun dan Key, mungkin aku akan dianggap pengecut oleh mereka.

Hhh, apa boleh buat, lebih baik aku mengikuti saran yeoja ini. Toh tidak ada salahnya juga. Lagipula ia sudah menjamin tidak akan terjadi apa-apa.

“Ya sudah…” kataku pasrah. Aku lalu berjalan ke arahnya dan ikut duduk di atas sofa. Hanya saja, aku mengambil posisi di ujung sofa itu hingga membuat jarak antara kami berjauhan.

Aku melirik ke arahnya. Ia meraih remote yang ada di atas meja dan menekan tombolnya on. Saat ini televisi itu menyala. Ia terlihat mencoba menikmati tontonan, sedangkan aku hanya bisa terdiam menatap layar televisi itu. Aku memang menatap televisinya, tapi pikiranku melayang-layang, tidak peduli dengan apa yang ditampilkan televisi itu.

“Jinki…”

“Huh?”

“Kau melamun?”

“Anni… Oh iya, aku belum tahu siapa namamu…”

“Mwo? Jadi selama ini aku bekerja di perusahaanmu dan kau tidak mengetahuinya?” katanya sedit terkejut.

“Bukan begitu. Aku tahu kau bekerja di sana. Kau ini sekretaris pribadinya Jonghyun kan? Aku pernah beberapa kali melihatmu. Hanya saja, aku tidak tahu namamu…” kataku ragu. Entah mengapa jadi aku merasa tidak enak padanya. Hhh, beginilah aku. Aku memang orang yang kurang menjalin sosialisasi dengan orang lain.

“Ck, mentang-mentang kau ini atasan jadi tidak mengenal bawahannya…” katanya pelan. Ada nada kekecewaan yang tersirat dari perkataannya.

“Mianhae, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu. Ya sudah, aku janji saat kau beritahu namamu, aku tidak akan melupakannya. Kalau begitu siapa namamu?”

“Hhh, kalaupun kau lupa sepertinya itu tidak akan menjadi masalah yang penting. Ya sudah, perkenalkan namaku Hwang Suin. Kau cukup memanggilku dengan Suin saja…”

“Oh, ne…” aku mengangguk-angguk.

“Hoammpphhh…” tiba-tiba ia menguap lebar. Ia lalu bangkit dari sofa dan berjalan mendekati tempat tidur.

“Ya! Jangan katakan kau mau tidur di sana?” tanyaku curiga.

“Ne, ada yang salah?”

“Jelas! Kalau kau tidur di sana, aku tidur di mana?!”

“Hey, tidak usah di ambil pusing. Ukuran tempat tidur ini cukup besar. Kau bisa tidur di sini juga kalau kau mau…” jawabnya cuek sambil merebahkan tubunya dengan asal ke atas tempat tidur itu.

“Ya! Tidak bisa begitu!” aku beranjak dari sofa dan berjalan mendekat ke arahnya. Aku lalu menariknya dengan paksa hingga membuatnya terduduk di atas tempat tidur.

“Ck, aku mengantuk! Kau ini menyebalkan sekali” ujarnya lalu kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

“Anniyo, pokoknya aku ingin tidur di situ!” kataku tidak mau kalah.

“Kau bisa tidur di sini ju…”

“Shireo!” belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, aku sudah memotongnya dan membantahnya dengan tegas.

Ia akhirnya membuka matanya dan bangkit dari posisi tidurnya.

“Dasar kau ini…” katanya lalu berdiri dari tempat tidur dan melangkah dengan malas menuju sofa. Sesampainya di sofa, tanpa lama-lama lagi ia membanting tubuhnya ke atas sofa itu dan berbaring di atasnya.

“Bagus…”

“Terserah kau saja bos…” celetuknya di sela-sela kantuk.

Aku hanya bisa terkekeh pelan mendengarnya. Hhh, dasar yeoja aneh.

Tak perlu waktu yang lama untuk membuat yeoja itu tertidur, sebab dari sini aku sudah bisa mendengar dengkuran halusnya.

Aku melirik jam dinding yang terpasang di tembok kamar. Hmm, sudah larut malam. Beberapa saat kemudian, aku juga memutuskan untuk tidur.

Tempat tidur ini lumayan empuk juga, hingga dalam beberapa menit saja aku sudah tenggelam di alam mimpi.

+++

Aku membuka mataku perlahan. Ck, kenapa aku tiba-tiba terbangun? Padahal aku masih sangat mengantuk.

Aku kembali mencoba melihat jam dinding. Ck, masih berlalu satu jam dari terakhir kali aku melihat waktu. Aku mencoba memejamkan mataku kembali namun tiba-tiba aku teringat sesuatu, yeoja itu.

Dalam keadaan mengantuk, aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan lunglai menuju sofa.

Yeoja itu masih tertidur di sana. Aku duduk di ujung sofa yang masih ia sisakan.

Aku lalu memperhatikan yeoja itu. Hmm, wajah yeoja ini saat tertidur ternyata sangat polos. Berbeda dari apa yang selama ini ku lihat, sebab biasanya wajah itu dipolesi dengan berbagai jenis make-up.

‘Namja macam apa aku ini…’ batinku saat melihat posisi tidurnya yang terlihat kurang nyaman sementara sedari tadi aku asyik bergelut di atas tempat tidur yang nyaman itu.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengalah padanya. Dengan hati-hati, aku mengangkat tubuhnya dari sofa dan memindahkannya ke tempat tidur.

+++

Aku kembali membuka mataku dan mendapati suasana kamar ini sudah terang. Aku mengumpulkan kesadaranku dengan susah payah hingga akhirnya aku menyadari kalau aku ketiduran di sudut tempat tidur, dengan kepalaku di tempat tidur dan sebagian tubuh tersungkur di lantai.

Aku mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Samar-samar ingatanku kembali saat aku berjalan menuju sofa, memindahkan Suin ke tempat tidur dan saat aku berhasil memindahkannya, aku sudah terkulai di lantai namun kepalaku sempat mendarat di ujung-ujung tempat tidur. Ckck, mungkin karena saking mengantuknya.

Eh, tunggu sebentar, Suin?!

Dengan panik aku berdiri dari posisiku dan mencari sosoknya di atas tempat tidur. Nihil.

Aku lalu berjalan menuju sofa dan mencarinya di sana.

Tidak ada juga! Apa mungkin ia sudah pergi duluan?

Aku lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Gawat, dalam waktu setengah jam aku harus tiba di kantor!

Tanpa pikir panjang lagi aku berlari ke luar kamar. Aku berjalan menyusuri pub menuju pintu keluar. Suasana pub ini terlihat sangat sepi, berbeda dari yang ku lihat semalam. Yang nampak hanya petugas kebersihan yang sibuk membereskan pub beberapa pengunjung yang terlihat berantakan yang juga sudah ingin pergi meninggalkan pub itu.

Aku bergegas menuju tempat dimana aku memarkirkan mobilku. Setibanya di mobil, aku melajukannya dengan cepat menuju rumah.

Beberapa menit kemudian, aku tiba di rumah. Aku langsung membenahi diriku, dan di saat aku sudah terlihat rapi, aku kembali bergegas menuju kantor.

+++

“Selamat pagi” sapa beberapa orang yang kutemui saat aku berjalan masuk ke gedung kantor. Aku menanggapi mereka dengan anggukan kecil.

Buru-buru aku melangkah menuju ruanganku sambil sesekali melirik jam tanganku. Hmm, belum terlambat terlalu lama.

Aku membuka pintu ruang kerjaku dan belum sempat aku masuk, tiba-tiba appa muncul dari arah belakangku.

“Akhirnya kau datang juga. Aku kira kau sudah lupa dengan pekerjaanmu” ujar appa dengan nada menyindir.

Aku hanya bisa menunduk, tidak berani menatapnya. Aduh, bagaimana kalau ia menanyakan tentang menghilangnya diriku secara tiba-tiba semalam?

“Aku rasa bukan cuma pekerjaanmu saja yang terbengkalai. Kau bahkan tidak menginap di rumah semalam. Dari mana saja kau huh?” tanya appa padaku.

Glekk.

Aku menelan ludahku dalam-dalam. Akhirnya apa yang ku takutkan terjadi.

Ottokhe? Apa aku harus mengatakan padanya kalau aku ini bosan karena pekerjaan yang menumpuk? Lalu pergi secara diam-diam dari kantor dan berpetualang tak tentu arah di sekeliling kota? Setelah itu aku singgah di sebuah pub dan hampir saja meneguk minuman haram untuk pertama kalinya? Dan yang lebih parah, apakah aku harus mengatakan kalau semalam aku tidur sekamar dengan seorang yeoja?

Ahh, jelas saja tidak mungkin!

Aku memaksa otakku untuk mengeluarkan alasan yang paling logis. Ayolah, aku ini namja yang brilian. Aku pasti bisa menemukan alasan yang bisa membuat appa-ku percaya.

Aargggh! Percuma. Sampai detik ini pun aku masih belum menemukan alasan yang tepat sementara appa semakin menaikkan alisnya, menunggu jawaban yang kira-kira keluar dari mulutku ini.

“Semalam dia menginap di rumahku…” tiba-tiba Jonghyun muncul dari arah belakang dan ikut terlibat dalam perbincangan kami.

“Benarkah?” tanya appa dengan tatapan menyelidik.

“Tentu saja, iya kan?” kata Jonghyun sambil menyikut lenganku.

“Ah, ne appa… Semalam aku memang menginap di rumahnya, sekalian menjenguk ahjussi dan ahjumma. Sudah lama aku tidak mengunjungi mereka…” jawabku dengan terbata-bata. Ck, pabo! Bisa-bisanya aku menambah alasan menjenguk itu! Aku melirik ke arah Jonghyun. Ia terlihat sangat santai, terbukti dari senyum yang merekah di bibirnya.

“Ya sudah, pokoknya lain kali aku tidak akan menerima alasan apapun. Sekarang kembalilah bekerja. Kau sudah membuang-buang waktumu hingga pekerjaanmu terbengkalai…”

“Ne, appa…” kataku padanya. Setelah itu, appa akhirnya berlalu meninggalkanku.

Fiuhhh…

Syukurlah. Aku terselamatkan.

“Hampir saja…” celetuk Jonghyun padaku, lalu setelah itu ia langsung beranjak meninggalkanku.

Aku lalu masuk ke dalam ruang kerjaku dan menutup rapat pintunya.

Aku berjalan menuju meja kerjaku dan duduk di sana. Aku mencoba mengecek file yang ada di atasnya. Hmm, sepertinya semuanya sudah hampir diselesaikan.

Tok tok tok…

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintuku dari arah luar.

“Ne, masuklah…”

Ceklik.

Pintu dibuka dan dari balik sana muncul sosok Rinhae, sekretaris pribadiku.

“Selamat pagi Jinki-ssi…” sapanya padaku.

“Pagi. Oh iya, semua ini kamu yang mengerjakannya?” tanyaku padanya sambil menunjuk map-map yang sudah rapi itu.

“Ne. Semalam seorang investor ingin menagih hasilnya sementara anda sedang tidak ada di tempat. Jadi aku berinisiatif untuk mengerjakannya…” ujarnya.

“Oh, syukurlah. Maaf, kemarin aku meninggalkan semuanya sementara kau yang harus menyelesaikannya…”

“Gwaenchana, aku senang bisa membantu” ujarnya sambil tersenyum.

“Ne, gamsahamnida. Tidak salah aku memilihmu sebagai sekretarisku. Kau memang bisa diandalkan” kataku padanya. Ia terlihat menunduk, mungkin malu pada pujianku.

“Anda terlalu berlebihan…” katanya malu-malu.

“Hahahah… Anni, aku tidak berlebihan. Kau memang yeoja yang hebat dan berbakat” kataku tulus. Aku memang mengakui Rinhae cukup mahir. Aku sering merasa tertolong karenanya. Hhh, setidaknya dialah yang selama ini membantuku untuk menyelesaikan pekerjaanku. Apalagi ia termasuk yeoja yang baik. Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun saat pekerjaan terus menumpuk. Tidak seperti diriku yang terus mengeluh-eluhkan kesibukanku ini.

“Oh iya, tolong urus berkas yang harus dikirim hari ini. Aku ingin menemui Jonghyun dulu…” kataku memberi instruksi padanya. Ia mengangguk padaku lalu segera mengerjakannya.

Aku berjalan meninggalkan ruanganku menuju ruangan Jonghyun.

+++

Tok tok tok…

Aku mengetuk ruangan Jonghyun pelan.

“Masuk…” aku mendengar Jonghyun menyahut dari arah dalam. Aku membuka pintunya dan berjalan menghampirinya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun padaku. Ia menghentikan aktivitas menulisnya dan menatapku heran.

“Tidak ada apa-apa, hanya saja aku ingin berterima kasih…”

“Untuk apa?”

“Untuk pertolonganmu tadi. Untung ada kau. Gomawo…”

“Oh, cheonmaneyo. Ck, kau ini ada-ada saja. Kalau sampai appa-mu tahu, aku tidak yakin apa kau masih hidup saat ini…”

“Ck, kau ini terlalu berlebihan…” aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya.

“Eh, bagaimana? Apa semalam kau benar-benar melakukannya?” tanya Jonghyun dengan tatapan menyelidiknya. Nada bicaranya yang tadinya santai kini berubah menjadi tajam.

“Maksudmu?”

“Ayolah, jangan berpura-pura tidak mengerti. Apa benar semalam kau tidur dengan Suin?” tanyanya lagi.

Oh, ternyata itu maksud dari namja ini.

“Oh, tentu saja” jawabku berpura-pura bangga.

“Tidak ku sangka kau benar-benar melakukannya” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Wae? Bukankah itu wajar? Kau bahkan sudah berkali-kali melakukannya bukan?” aku berbalik menyerangnya dengan pertanyaan. Ia hanya mengangkat bahunya, menanggapi perkataanku.

Ugh, perkataanku tadi membuat perutku sedikit mual. Wajar? Hey, hal itu bahkan perbuatan yang paling tabuh menurutku. Aku berjanji tidak akan melakukannya sebelum waktunya. Hhh, pemuda zaman sekarang bahkan menganggap itu sebagai hal biasa.

Ceklik.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan Jonghyun. Aku dan Jonghyun menoleh ke arah pintu.

“Suin?” kataku refleks saat mengetahui siapa yang datang.

“Ah, annyeong Jinki-ssi” katanya sambil membungkukkan sedikit badannya. Eh? Aneh sekali.

“Annyeong…” balasku ragu. Yeoja ini terlihat sangat berbeda dari yang semalam aku temui. Ia berpakaian rapi. Dan yang paling membuatku heran, cara bicaranya berubah menjadi agak sopan.

“Ya sudah, Jonghyun, Suin, aku permisi dulu…” kataku pamit pada mereka dan berlalu dari ruangan itu.

+++

Hari-hari berlalu semenjak kejadian bodoh malam itu. Saat ini aku sudah kembali bisa menerima kehidupanku sebagai orang yang sibuk, dan aku berharap semoga aku tidak lagi bertingkah yang tidak-tidak.

Tidak ada yang berubah, hanya saja aku jadi mengenal Suin. Kami sering bertegur sapa saat bertemu di kantor. Seperti pagi ini, aku berpapasan dengannya saat akan memasuki gedung kantor. Seperti biasa, ia selalu berpenampilan rapi, dan pagi ini ia menguncir rambutnya hingga kesan rapi semakin melekat di dirinya.

“Selamat pagi Jinki-ssi…” sapanya padaku.

“Pagi…” aku membalas sapaannya. Kami terus berjalan beriringan di sepanjang koridor.

“Oh iya, ada yang ingin ku bicarakan denganmu…”

“Apa itu?”

“Errr, sepertinya tidak baik kalau dibicarakan sekarang. Bagaimana kalau kita bertemu di café depan sana?” tawarnya padaku.

Aku mengerutkan keningku, namun akhirnya aku menyetujui permintaannya.

“Ya sudah, pukul dua siang nanti kita bertemu di sana”

Ia mengangguk menanggapi perkataanku. Di ujung koridor, kami berpisah sebab arah ruangan kami berbeda.

Aku terus berjalan menuju ruanganku. Setibanya di dalam, aku langsung larut dalam kesibukanku.

Kriingg…

Tiba-tiba telepon di meja kerjaku berdering.

“Halo?”

“Jinki, dua hari lagi akan ada undangan makan malam dari salah satu investor terbesar kita. Ini acara resmi, jadi ku harap kau bisa datang dengan seorang pasangan”

“Pasangan? Maksud appa?”

“Ne. Tidak baik kau datang ke sana sendirian. Kau boleh mengajak wanita manapun untuk menemanimu nanti”

“Apa memang aku harus datang?”

“Tentu saja! Ini bukan undangan biasa. Apalagi kau ini manajer menjadi satu-satunya calon direktur perusahaan ini”

“Kenapa bukan Jonghyun saja yang datang ke acara itu? Dia juga manajer di perusahaan ini…”

“Jonghyun juga akan datang. Semua petinggi-petinggi perusahaan ini harus hadir dalam acara itu, tidak terkecuali kau. Arachi?”

Hhh, aku sudah tidak bisa membantah lagi. Akhirnya aku memenuhi permintaan appa.

“Ne, appa. Aku usahakan”

“Pokoknya kau harus datang”

Klik.

Sambungan telepon kembali terputus. Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Hhh, appa-ku memang orang yang keras kepala.

Tok tok tok…

Seseorang mengetuk pintu ruanganku. Aku menyahut dari dalam dan menyuruhnya masuk.

“Masuk”

“Permisi Jinki-ssi…” seorang yeoja berpostur tubuh tinggi, rambut berombak dan berpenampilan menarik memasuki ruanganku.

“Ne Rinhae, ada apa?” tanyaku pada yeoja itu.

“Ah, tidak apa-apa, aku hanya ingin mengecek jadwal hari ini”

“Ohh, tenang saja. Hari ini aku tidak ada jadwal apapun. Kau bisa bersantai hari ini” jawabku sekenanya.

Tiba-tiba aku teringat pada percakapanku dengan appa di telepon tadi.

“Rinhae, dua hari ke depan kau tidak sibuk kan?”

Ia terlihat menimbang-nimbang sebentar hingga akhirnya menjawab pertanyaanku.

“Err, sepertinya tidak. Ada apa?”

“Begini. Dua hari ke depan ada acara makan malam, undangan dari seorang investor kita. Appa menyuruhku datang dan…”

“Dan?”

“Dan membawa seorang pasangan…” kataku ragu. Ia sedikit terkesiap mendengar perkataanku.

“Lalu apa yang bisa aku lakukan untukmu?”

“Tidak ada. Kau hanya perlu datang ke acara itu bersamaku, errr, sebagai pasanganku… Bagaimana?”

Aku menunggu reaksinya. Ugh, kenapa suasana tiba-tiba menjadi canggung seperti ini? Padahal ini hanya acara makan malam biasa. Aku melihat semburat merah juga terpancar dari wajahnya yang, err, lumayan cantik.

“Rinhae? Bagaimana?” tanyaku sekali lagi.

“Ohh, baiklah…” jawabnya sambil mengangguk. Hmm, pergi bersama Rinhae tidak ada salahnya juga. Lagipula, berada di dekatnya cukup membanggakan. Selain cerdas dan berbakat, ia juga cantik.

+++

Aku melirik jam tanganku. Sudah jam dua siang. Itu artinya sekarang aku harus berkunjung ke café yang ada di seberang kantor. Tadi pagi aku sudah janjian ingin bertemu dengan Suin di sana.

Aku melangkahkan kakiku dengan sedikit tergesa-gesa. Ck, sepertinya aku sudah agak terlambat.

Sesampainya di café, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan.

‘Nah, itu dia!’ gumamku dalam hati saat menemukan sosok Suin yang sedang duduk sendirian di pojok ruangan. Dandanannya masih sama dengan yang ku lihat tadi pagi, hanya saja kali ini ia mengurai bebas rambutnya. Tanpa pikir panjang lagi aku bergegas menemuinya.

“Suin, maaf terlambat…” kataku saat tiba di hadapannya. Ia menoleh padaku lalu menyunggingkan senyumnya.

“Gwaenchana, Jinki… Setidaknya kau sudah datang” ujarnya sambil mengaduk-aduk orange juice-nya dengan pipet. “Duduklah…”

Hhh, cara berbicara Suin di dalam dan di luar kantor memang berbeda. Suin yang ku temui sekarang hampir sama dengan Suin yang ku temui malam itu, berbeda dengan Suin yang ku temui di kantor. Ya sudahlah…

Aku mengikuti perintahnya dan duduk berhadapan dengannya.

“Kau belum pesan makanan? Baiklah, akan ku pesankan…”

“Tidak usah” ia mencegahku yang baru saja ingin memanggil seorang waitress.

“Oh, ya sudah” aku mengurungkan niatku untuk memesan makanan. Suasana mendadak hening. Suin masih sibuk mengaduk-aduk orange juice-nya, sedangkan aku hanya bisa menatapnya bingung.

“Hey, bagaimana pekerjaanmu? Lancar?” aku memulai pembicaraan dengan sedikit berbasa-basi.

“Hhhh…” ia berhenti dari kegiatan mengaduk juice-nya dan menghela napas sebelum ia kembali melanjutkan pembicaraan, “Hal itu tidak penting. Ada sesuatu yang lebih penting yang ingin ku beritahukan padamu…”

Oh benar juga. Aku baru ingat, tadi ia memang mengajakku ke tempat ini untuk membicarakan sesuatu.

“Ya sudah, katakan saja…” kataku sambil menunggunya berbicara. Raut wajahnya yang tadinya datar kini berubah menjadi sedikit cemas.

“Aku harap kau tidak terkejut…” ia menggantungkan kata-katanya. Ia berpikir sebentar, lalu kembali melanjutkan perkataannya.

“Aku hamil…” gumamnya pelan.

“Hah?”

“Ne, Jinki… Aku hamil!” ia mengulangi perkataannya dengan volume suara yang lebih besar. Aku mencoba untuk mencerna perkataannya.

“Tidak mungkin…” hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Mendadak keringat dingin mulai bercucuran di sekitar keningku.

 

TO BE CONTINUE


Gimana,, mau dilanjutkan?? Syaratnya simple,, just leave a comment guys!! komennya dikit,, lebih baik tidak usah dilanjutkan.. buang2 energi saja.. bener g?? jangan takut2 komen.. tenang aja,, pasti aku balas.. segala bentuk komen diterima.. ^^

102 responses to “Our Big Trouble – Part 1

  1. Bruakakak aneh bgt Suin hamil XD jiaaaa kan Jinki ga ngapa2in? ato jgn2 itu anaknya jjong? *digampar blingers* tumben nih kyungjin ga da cast Taeminnya, biasanya ada, kekeke~ :p trus kasian tu si Rinhae, ckck~ lanjutnya jgn lama2 ye XP

    • hahahah.. iya sih,, ceritanya rada2 g logis.. ==a
      wah iya nih,, habis si taem g cocok dimasukin ke ff ini..
      padahal aku suka bikin ff yang castnya taem..
      tapi apa boleh buat.. *curcol*
      makasih ya udah mampir.. ^^

  2. DYUUUU…Im coming!!!!!!! *Treak HIsterisssssss*
    kok bisa? kok bisa? *tanya oplos* XD
    napa bisa hamil tuh orang? padahalkan gag ngelakuin apa2
    gmn bisa?? XD
    penasaran berkelanjutan neh! ppali,ppali ya saeng.. 😉

  3. lhah, kok hamil??? emang diapain? mabok aja engga waktu malem tu… whoooo… Jinki dijebak!!! Suin licik tu!!! *emosi gak jelas* 😀
    lanjut-lanjut…

    bdw, bahasanya author serem ‘komennya dikit, gak usah dilanjutkan, buang2 waktu aja’
    >>mojok sambil noel2 lantai karna takut ama author

    • wakaakakakakakakaak.. XD mabok ama warga?? XD *ngakak*
      hhuhuu.. iya..
      kan kalo ffnya g bagus,, mending g usah dilanjutin..
      *ikutnoel2lante*
      wah jangan takut lah,, g menggigit kok~ 😉
      btw makasih udah mampir.. ^^

  4. Waaah! Leader-sshi sangat cocok buat peran-peran gini!
    Aiiih JH udah nggak jadi bad boy lagi *_*

    Itu si suin kenapa bisa hamil deh, jadi penasaran!
    lanjut unn!

  5. ne pak bos aku hamil~ *tampangnya onyu langsung sekut –> kocak deeh*
    hahahaha
    ah itu si suin sebelumnya udah hamil anaknya jjong, nah si jinki dimanfaatin pas di pub, bukan begitu bukan?

  6. nah lho, kok bisa hamil yak?
    masa cuma digendong trus dipindahin ke kasur langsung hamil, ckck..
    sepertinya ada oknum2 yg tdk diinginkan nih *apacoba?*
    lanjutkan thor !!

  7. hahahaha…namanya apa dong tuh??
    hamil diluar ‘bikin’…
    kok bisa??? jgn” hamil ma Jjong lgi nihh??
    penasaran,lanjut sist..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s