[FREELANCE] Saranghae [2/2] END

Saranghae ~[2/2]End (freelance)

Author : Renz

Genre : Romance, Friendship, a bit comedy

Length : twoshoot

Cast : Seon woo, Key [Shinee], Kim Jonghyun [Shinee], Luna [f(x)]

Annyeonggg….ini dia part 2 dari ff twoshoot saraghae… Seperti biasa author ingetin “Please don’t be silent reader” ea .. Oh ya, kalau ada tulisan yang bergaris miring itu berarti kenangannya key ea..hehehe

Selamat membaca.. ^0^

Previous : Part 1

 

“Key..ayo sapa noonamu.” Omma mendorong tubuhku pelan mendekati seorang gadis kecil di hadapanku. Aku menggeleng, menyembunyikan diri di belakang omma.

“Hey key..kenalkan namaku seon.” Gadis kecil itu menatapku lekat, seulas senyum keluar dari bibirnya.

Aku mengintip, terpesona dengan senyumnya. “Salam kenal seon noona.” kataku pelan malu-malu.

Gadis kecil itu menggenggam tanganku. “Ayo kita bermain..” katanya bersemangat, menarikku pergi. Aku mengikutinya, menggenggam erat tangannya yang terasa hangat. 

“Hwaaa~gosongg..” Aku terbangun tiba-tiba, mencium bau terbakar dari arah dapur.  Dengan segera aku berlari ke dapur mencari sumber bau itu.

“Waeyo??”

Seon menoleh ke arahku, menatapku dengan kecewa. “Ini key…gosongg..” katanya sambil menunjuk panci yang ada di atas kompor.

“Yaa~itu masih panas..” Seon mengangkat panci dari atas kompor dan menjatuhkannya kelantai. “Awww~”

“Aishh!! Aku kan sudah bilang masih panas. Sini tanganmu..” Aku mendekat dan meraih tangan seon. “Tuh kan terbakar..Ayo kuobati..”

Kutarik tangannya menuju sofa dan mengambil kotak obat. “Kamu ini sudah tau gak bisa masak masih aja nekat. Gimana kalo tadi kebakaran?? Harusnya kamu membangunkanku seon.” omelku sambil mengoleskan obat ke tangannya.

“Habis kelihatannya kamu lelah sekali. Aku tidak mau mengganggumu.” katanya pelan sambil menundukkan kepala.

Aku menghela nafas pelan, mengelus kepalanya lembut. “Ne..Mian sudah memarahimu, tapi seharusnya kamu membangunkanku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?? Memang kamu mau membuat apa sih??”

“Emm…” Seon menatapku ragu. “Aku…aku mau membuat bekal untuk jonghyun oppa key..”

Seharusnya aku tidak usah bertanya. Dia rela melakukan pekerjaan yang paling tidak dikuasainya hanya untuk hyung. Hahh~sebenarnya apa yang kuharapkan. Apalagi mereka juga sudah resmi berpacaran 2 minggu ini.

Aku mendongak, memaksakan untuk tersenyum. “Perlu kubantu??”

Seon menggeleng cepat. “Ani..aku mau membuatnya sendiri. Aku ingin menjadikannya kejutan.” katanya sambil tersenyum senang.

Aku mengalihkan pandangan, mencoba menenangkan dadaku yang terasa sesak. Aku sangat suka melihatnya tersenyum. Dia terlihat sangat cantik ketika tersenyum, tapi aku hanya ingin itu untukku bukan untuk orang lain.

Drrt…Drrt..

“Yoboseyo?? Waeyo luna?? Ani..aku tidak ada acara. Baiklah..besok aku akan menjemputmu jam 7. Sampai ketemu besok..”

Seon menatapku lekat, senyum jail keluar dari bibirnya. “Waeyo??” tanyaku curiga.

“Kenapa kamu gak pacaran dengan luna aja sih key?? Dia kan cantik sekaliiii…udah gitu baik lagi…Kalian pasti cocok deh..”

Aku mengerjapkan mata, mengerti maksud perkataannya. “Menurutmu aku cocok dengan luna??”

Seon menganggukkan kepalanya penuh semangat. “Tentu saja. Kalian pasti akan menjadi pasangan yang sangat serasi. Aku setuju banget deh kalau kamu sama luna.”

“Jadi kamu setuju jika aku pacaran dengan luna.” gumamku pelan, merasa ada sesuatu yang menghantam tepat di dadaku.

Memang tidak ada gunanya mengharapkan seseorang yang tidak akan pernah kumiliki. Mungkin memang saatnya aku menyerah. Mungkin memang kami seharusnya seperti ini.

———————

“Oppa…oppa..” Aku tersentak, menatap gadis di hadapanku. “Gwenchana?? Oppa terus melamun dari tadi.” tanya luna khawatir.

Aku tersenyum tipis. “Ne..gwenchana..Kita mau kemana lagi??”

Luna mengedarkan pandangan ke sekeliling mall. “Eh~itu kan seon onnie..Seon onnieee..” teriaknya keras pada seorang gadis yang tampak memandang etalase sebuah toko.

Gadis itu menoleh, seulas senyum keluar dari bibirnya. “Luna..Key..Kalian juga di sini. Habis nonton ya??”

“Ne onnie..Onnie sendirian?? Mana jonghyun oppa??” tanya luna dengan penasaran, menatap samping seon.

Seon tersenyum. “Oppa telat jadi aku menunggu sambil melihat-lihat deh..”

Aku mengikuti pandangan seon yang menatap salah satu etalase toko yang penuh dengan boneka beruang. “Kamu mau masuk??” tanyaku.

Seon menggelengkan kepalanya, pipinya memerah. “Ani…untuk apa aku masuk ke toko boneka.”

Aku tertawa pelan. “Sudah jangan bohong. Aku tau kamu suka sekali boneka beruang. Lagipula tidak ada laranga orang dewasa dilarang masuk kan. Masuk saja.”

Seon menatapku lekat. “Apa kamu tau alasanku sangat menyukai boneka beruang??”

“Bukannya karena jung soo appa sering membelikanmu boneka beruang.”

“Ani..yah~sudahlah. Kamu pasti tidak ingat.” gumamnya pelan dengan sedih, berjalan masuk ke dalam toko. Aku hanya menatapnya bingung. Kenapa dia sesedih itu?? Apa ada sesuatu yang kulupakan??

“Ah~jonghyun oppa..” Aku menoleh, mendapati hyung berlari ke arah kami dengan tergesa. “Luna?? Key?? Kebetulan sekali bertemu di sini. Apa kalian melihat seon??”

“Onnie masuk ke dalam toko oppa..” Luna menunjuk toko boneka yang dimasuki seon.

“Gomawo luna..” Hyung berjalan pelan mendekati seon, mengagetkannya dari belakang. Seon menoleh, tawa keluar dari bibirnya.

Senyum dan tawa itu bukan lagi milikku. Sudah ada seseorang yang lain di sisinya. bahkan tanpa aku pun dia pasti bisa tersenyum. Seon terlihat sangat bahagia dengan hyung.

Aku menghela nafas dalam, menoleh ke arah luna. “Luna..ada yang ingin kubicarakan.”

——————-

“Key..besok senin kamu ada acara gak??” tanya seon bersemangat, menatapku penasaran.

“Gak sih. Waeyo??”

“Kamu jangan pergi kemana-mana ya. Di rumah aja.”

Aku mengernyit menatap seon. “Memang ada apa?? Ah~aku tau. Kamu takut ya sendirian di rumah. Hahaha.”

Seon mengerucutkan bibirnya, menatapku kesal. “Pokoknya kamu jangan pergi kemana-mana. Arraseo??”

“Arraseo..aku tidak akan pergi kemana-mana.”

Seon tersenyum senang. “Janji ya…kalau begitu aku pergi dulu.”

“Kamu mau kemana lagi sih?? Akhir-akhir ini pulang malam terus.”

“Ada deh…Aku pergi dulu…”

Seon berdiri dan berjalan keluar rumah dengan semangat. Apa yang direncanakannya??

Drrt..Drrt..

“Yoboseyo?? Luna??”

———————

Aku menatap bayanganku di kaca sekali lagi, merasa puas dengan diriku sendiri. “Kamu mau kemana key??” Seon berdiri di depan pintu kamarku dengan bingung.

“Aku ada janji dengan luna. Dia mau mengajakku ke suatu tempat. Tidak apa-apa kan kalau kutinggal??”

 “Oh ya~aku sudah pacaran dengan luna.” kataku sambil tersenyum.

Seon mengerjapkan matanya. “Sejak kapan??”

“Sejak seminggu yang lalu, saat kita bertemu di mall. Sepulangnya aku meminta luna menjadi pacarku. Kamu bilang kami serasi kan??”

“Ah~ne..kalian serasi sekali. Chukkae key…” katanya pelan sambil tersenyum tipis.

Aku menatapnya lekat. “Apa benar tidak apa-apa?? Aku bisa membatalkan janji dengan luna.”

Seon menggeleng mantap. “Kalian baru saja pacaran jadi harus lebih sering menikmati waktu bersama. Sudah sana pergi. Nanti luna marah karena terlalu lama menunggu.” Seon mendorong tubuhku menuju pintu depan. “Selamat bersenang-senang..” katanya dengan semangat, melambai ke arahku.

———————–

“Happy birthday oppa…” teriak luna sambil mengulurkan sebuah kado padaku. Aku mengerjapkan mata kaget, tidak menyangka surprise yang dia berikan padaku.

“Aku lupa kalau hari ini aku ulang tahun.” gumamku pelan, menatap kado yang diberikan luna padaku.

“Oh ya, roti ini aku yang membuatnya sendiri lho..” Luna mengeluarkan sebuah kotak besar dan membukanya di hadapanku. Kotak itu berisi sebuah roti yang bertulisakan ‘happy birthday key oppa’.

“Sepertinya enak..Gomawo luna.. Aku tidak menyangka kamu akan memberikanku suprise seperti ini.”

Luna menganggukan kepalanya dengan senang, pipinya bersemu merah. “Ayo oppa dimakan rotinya.”

Aku tersenyum dan mulai memakan roti itu. “Hmm~enak..”

“Benarkah…syukurlah. Aku sempat takut kalau tidak enak. Aku ke kamar mandi dulu ya oppa..” Luna berdiri dan berjalan pergi.

Aku menatap roti di hadapanku dengan kecewa. Apa seon tidak ingat ulang tahunku?? Bahkan dia tidak mengucapkan selamat sama sekali. Hahh~

“Key??” Aku mendongak, menatap seseorang yang kukenal di hadapanku. “Hyo na noona.”

“Wah~sudah lama tidak bertemu. Kamu di sini dengan seon?? Mana dia??” Hyo na noona mendekat, menjabat tanganku bersemangat.

“Ani…aku di sini dengan yeojachinguku.”

“Jadi kamu bukan datang dengan seon??”

Aku mengernyit melihat hyo na noona yang bingung. “Waeyo noona??”

“Apa kamu tau seon sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untukmu??”

“Kejutan ulang tahun??”

Noona menganggukkan kepalanya. “Ne.. Dia bahkan berlatih membuat roti ulang tahun secara khusus denganku hanya untukmu. Tapi kalau kamu di sini berarti….”

Aku hanya diam, mencoba mencerna perkataan hyo na noona. Seon ingin membuat kejutan untukku?? Dia bahkan membuat roti ulang tahun sendiri hanya untukku?? Jangan-jangan alasan dia pulang malam setiap hari karena itu.

“Wah~sudah jam segini. Aku pulang dulu key. Jangan bilang seon kalau aku memberitahumu ya. Dia bisa marah padaku. Aku duluan key..”

Aku tidak bisa mendengar apapun lagi. Rasanya pikiranku penuh dengan berbagai perkiraan. Bagaimana seon sekarang??

“Oppa..ada apa??” Luna mengguncang tubuhku pelan, membangunkanku dari lamunan. “Ani…Emm~bagaimana kalau kita pulang sekarang luna??”

“Pulang sekarang?? Tapi oppa belum menghabiskan rotinya.” kata luna dengan kecewa.

“Aku akan menghabiskannya di rumah, lagipula ini sudah mau hujan. Kita pulang ya??”

“Ne…”  

———————-

Aku sampai di rumah dengan cepat, tidak memperdulikan hujan yang turun dengan deras. Lampu tengah masih menyala terang, memperlihatkan sebuah roti yang tertata rapi di meja tengah. Seon tampak tertidur di kursi dengan lelap. Kulangkahkan kaki mendekatinya, mengambil tempat duduk menghadapnya.

“Key…happy birthday…” Gadis kecil itu tersenyum padaku. Di tangannya terdapat sebuah roti kecil bertuliskan namaku.

“Aku membuatnya sendiri key…Sarang omma yang mengajarkanku membuatnya.” katanya dengan semangat, mengulurkan roti itu padaku.

“Bukankah noona bilang tidak suka memasak??” Aku mengambil kue itu, menatapnya tidak percaya.

“Ne..aku sangat benci memasak, tapi ini khusus hanya untukmu. Aku hanya akan memasak untukmu.”

“Hanya untukku??”

Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya mantap. “Aku hanya akan memasak untuk orang yang sangattttt berarti untukku.”

“Jadi untuk noona aku sangat berarti…”

“Tentu saja..kamu adalah dongsaeng yang paling aku sayangi di seluruh dunia…Ah~aku lupa membawa kado.” Gadis kecil itu tampak berpikir, seulas senyum keluar dari bibirnya.

Cup…

Aku terdiam, menyentuh pipi kananku yang diciumnya. “Ini hadiah ulang tahun untukmu…Selamat ulang tahun yang kesembilan key..”

Aku hanya diam, merasakan sesuatu yang lain tumbuh di hatiku.

“Emm~” Seon mengerjapkan matanya perlahan, menatapku dengan bingung. “Key?? Kamu ngapain di sini??”

“Memangnya aku tidak boleh pulang ke rumahku sendiri.” kataku sambil tertawa pelan.

“Ani..maksudku…kamu cepat sekali sudah pulang. Ini kan baru jam delapan.” Seon menatap jam dinding.

“Apa ini?? Apa kamu membuatnya untukku??” tanyaku mengalihkan pembicaraan, menatap roti di atas meja.

“Ah~itu untuk kumakan sendiri.” Dengan cepat kuambil kue itu sebelum seon sempat meraihnya. Kuambil sepotong dan memakannya. “Hmm~”

“Tidak enak ya…” Aku tertawa melihat wajahnya yang kecewa. “Enak ko’..tenang saja. Aku aja heran kenapa bisa enak. Kupikir aku akan langsung pingsan setelah memakannya. Hahaha.”

“Tentu saja enak. Aku kan sudah berlatih.”

“Oh ya, mana kadoku??”

“Eh~kado??”

“Wah~jangan-jangan kamu lupa kado untukku ya.” Aku menghela nafas dalam, pura-pura kecewa.

“Miannn…aku lupa kadonya. Kalau begitu kamu mau apa?? Kamu boleh meminta apa aja deh.”

“Aku boleh meminta apapun??”

Seon menatapku curiga. “Asal jangan mahal-mahal ya. Emang kamu mau apa??”

Aku menunjuk pipi kananku. “Cium aku..”

“Haa~andwae!! Kenapa aku harus menciummu??”

“Katamu aku boleh meminta apapun. Lgipula ini kan ciuman sayang antara adik kakak. Ah~jangan-jangan kamu gugup ya. Jangan-jangan kamu jatuh cinta padaku ya. Hahaha.” Aku tertawa keras, menatap seon jail.

“Aku tidak gugup. Untuk apa aku gugup??”

“Oh begitu…Jadi kalau seperti ini bagaimana??” Aku mendekatkan tubuhku ke arahnya, membuat jarak kami sangat dekat. “Apa kamu tidak gugup sama sekali??” bisikku pelan di telinganya.

Seon tidak menjawab, menutup matanya rapat. Bau sabun tercium dari tubuhnya, membuatku semakin ingin memeluknya. Dengan cepat aku menjauhkan diri darinya sebelum lepas kendali. Siall!! Aku harus bisa menahan diriku.

“Baiklah…kalau begitu tidak jadi. Enaknya aku minta kado apa ya??”

Cup..

Aku terdiam, menatap seon kaget. “Happy birthday..” katanya cepat, berlari menuju kamar. Kurasakan jantungku berdebar sangat kencang. Jika seperti ini terus, apa aku bisa menyerah??

————————

“Gwenchana??” Aku menatap seon khawatir, wajahnya tampak pucat.

Seon menggeleng pelan. “Ne..gwenchana..”

Aku mendekat dan menyentuh keningnya perlahan. “Badanmu panas seon. Kamu istirahat di rumah saja tidak usah ikut pergi.”

“Andwae!!! Aku mau ikut. Ini pertama kalinya kita liburan ke pantai sama-sama.” tolak seon keras kepala. Dia berdiri dan mengambil tas. “Jonghyun oppa dan luna sudah menunggu…Kajja…”

Aku menghela nafas pelan, berjalan mengikutinya keluar rumah.

Hari ini, kami berencana untuk pergi ke salah satu pantai di daerah selatan. Untuk mencapai tempat itu butuh waktu 4 jam menggunakan mobil. Seon duduk di depan sebelah hyung, sedangkan aku duduk di belakang dengan luna.

“Hwaa~lautt…” teriak seon dan luna bersemangat. Mereka membuka pintu mobil dan menatap keluar dengan senang.

“Yaa~jangan keluarkan kepala kalian. Haishh!! Kalian ini.”

Seon menoleh ke arahku dengan cemberut. “Aishh!! Kamu ini berisik sekali sih key. Ini waktunya bersenang-senang bukan mengomel. Luna, namjachingumu ini dikasih plester saja biar diam.”

Luna tertawa pelan. “Onnie..kalau key oppa tidak mengomel berarti ada yang salah dengannya. Hahaha.”

“Benar kata key. Seon..jangan keluarkan kepalamu. Berbahaya..” kata hyung lembut sambil menepuk pundak seon.

Seon memutar bola matanya, menjauhkan diri dari kaca jendela. “Ne..oppa..” Hyung mengacak rambut seon sambil tersenyum. Aku hanya diam, mengalihkan pandangan ke kaca jendela. Lagi-lagi rasanya begitu sesak.

“Ayo kita bermain…” Seon berlari ke arah pantai dengan semangat begitu kami turun dari mobil. Hyung tertawa pelan, mengejar seon.

“Oppa..ayo kita ke sana..” Luna mendekat dan menarikku mengikuti mereka. Aku hanya tersenyum tipis, membiarkannya menarikku.

Acara selanjutnya sangat menyenangkan. Kami bermain di pantai seharian dan selanjutnya makan siang dengan makanan khas di sana. Kebetulan hyung mempunyai saudara yang memiliki penginapan di sana jadi kami memutuskan untuk menginap selama 2 hari. Kami menggunakan 2 kamar. Satu kamar untukku dan hyung, sedangkan kamar yang satunya untuk luna dan seon.

Seharian ini aku tidak terlalu khawatir lagi dengan seon. Dia tampak baik-baik saja, bahkan sepertinya dia yang paling bersemangat di antara kami. Aku benar-benar lega dia baik-baik saja walaupun aku sangat tau alasannya. Pasti karena jonghyun hyung.

“Key??” Aku menoleh, mendapati seon berdiri di belakangku. “Kamu belum tidur??” tanyanya, berjalan mendekatiku.

“Belum ngantuk…Kamu sendiri kenapa belum tidur??”

“Sama..Hehehe..Wahh~bintangnya banyak sekali.” Seon mendongak, menatap taburan bintang di langit dengan takjub. “Hey key…kamu masih ingat malam itu gak??” tanyanya, mengalihkan pandangan ke arahku.

Aku mengernyit. “Malam itu??”

“Ne…malam saat kita di atas atap. Saat itu kan ada bintang jatuh. Ingat gak??”

“Ah~ne…aku ingat. Malam itu hari ulang tahunmu yang kesepuluh, tapi appa dan omma malah ada tugas keluar kota. Aku ingat banget malam itu kamu menangis terus menerus. Hahaha.”

Seon menjitak kepalaku pelan, pipinya memerah. “Aishh!! Bukan yang bagian itu. Kamu ingat saat bintang jatuh itu kita mengucapkan permohonan bersama-sama. Malam itu bintangnya sebanyak ini.”

Seon menoleh ke arahku. “Kamu  dulu minta apa key??”

 “Sudah dong noona..jangan menangis. Appa dan omma kan memang sedang sibuk sekali, tapi mereka sudah menelepon kan.” kataku menenangkan gadis kecil itu, mengelus kepalanya lembut.

Gadis kecil itu mendongak, menatapku sedih. “Tapi kan tidak sama key. Memangnya pekerjaan mereka sepenting itu ya sampai tidak bisa pulang saat hari ulang tahunku yang kesepuluh. Hikz..hikz..”

“Aku kan ada di sini. Jadi jangan menangis lagi ya noona. Wahh~ada bintang jatuh noona.”kataku bersemangat sambil menunjuk atas. “Ayo ucapkan permohonan..”

Gadis kecil itu mengentikan tangisnya dan menutup matanya, tampak serius mengucapkan permohonan. Matanya membuka dan menatapku berbinar. “Kamu minta apa key?? Aku minta supaya kita berdua selalu bersama.”

“Aku…” Aku menatap gadis kecil itu lekat, merasa pasti dengan sesuatu yang kuminta.

“Keyyy…ko’ malah melamun sih. Kamu dulu minta apa sih?? Dari dulu kamu tidak pernah mau memberitahuku padahal kan aku sudah memberitahumu.” katanya dengan cemberut.

Aku tersenyum pelan. “Kamu mau tau aku minta apa??”

“Ne…memang kamu minta apa sih??” Seon mencondongkan tubuh ke arahku, menatapku penasaran.

Aku mendekatkan wajahku ke arahnya. “Saranghae…Aku minta supaya aku bisa selalu mencintaimu..” bisikku pelan.

Seon terdiam, menatapku kaget. “Hwahahahah….kamu kaget ya. Kamu percaya aja sih. Mana mungkin aku meminta seperti itu. Hahaha.”

Seon mengerjapkan matanya, memukulku keras. “Aishh!! Kamu ini membuatku kaget saja. Aku hampir saja mati berdiri. Dasar menyebalkan!!!” omelnya sambil berkacak pinggang.

Aku menghentikan tawaku, menatapnya serius. “Kalau aku serius bagaimana??”

Seon mengalihkan padangannya dariku. “Hahh~sudahlah…Aku mau tidur saja. Kelamaan denganmu bisa membuatku stress tau.” Seon berbalik dan berjalan pergi. Aku hanya diam, menatapnya yang pergi menjauh.

Seandainya aku benar-benar mengatakannya. Apa yang akan kamu lakukan seon??

————————–

Hari ini kami pergi ke tebing yang tidak jauh dari penginapan. Tebing itu tidak terlalu tinggi tapi sedikit curam, membuat kami harus ekstra hati-hati. Tapi tebing itu memang luar biasa, laut dari atas terlihat sangat indah. Jonghyun hyung harus pergi sebentar menemani sepupunya jadi kami hanya bertiga saja.

“Luna…gwenchana??” Aku menatap luna khawatir. Seharian ini dia hanya diam saja, tidak seperti kemarin. Ada apa dengannya??

Luna menggeleng pelan, mendongak menatapku. “Oppa bisa bicara sebentar..” katanya dengan serius.

Aku mengangguk, mengikutinya menjauh dari tebing. “Ada apa??”

“Aku ingin bertanya sesuatu…Apa oppa..”

“Key…Luna…” teriak seseorang membuat kami menoleh. Seon ada di pinggir tebing, melambai ke arah kami dengan semangat. “Ayo kesini..”

“Seon!!! Hati-hati!!!” teriakku keras. Seon terpeleset ke belakang dan jatuh ke laut. Dengan cepat aku berlari, menceburkan diri ke dalam laut.

Kugendong tubuhnya menuju pantai. Orang-orang berkerumun mendekati kami. “Seon..seon..” kataku dengan panik melihatnya yang masih diam tidak bergerak, wajahnya terlihat sangat pucat.

“Uhuk..Uhuk..” Seon mengerjapkan matanya, menatapku bingung. “Key??”

Aku memeluknya erat. “Syukurlah…Dasar pabo!! Seharusnya kamu lebih hati-hati.” kataku tercekat, merasa lega. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya??

Seon tersenyum tipis. “Aku tidak apa-apa ko’. Sepertinya lebih baik aku kembali ke penginapan.”

Dengan cepat kugendong tubuhnya menuju penginapan. “Aku bisa jalan sendiri key…”

“Sudah diam…” perintahku tegas. Seon menutup mulutnya, menatapku kesal.

“Sekarang lebih baik kamu ganti baju lalu istirahat.” Aku mendudukannya di kasur dan berjalan keluar kamar.

“Oppa bagaimana keadaan onnie??” Luna berjalan mendekatiku, menatapku khawatir. “Dia tidak apa-apa. Istirahat juga sembuh. Oh ya, tadi kamu mau bicara apa??”

Luna menatapku ragu, menggelengkan kepalanya pelan. “Nanti saja. Oppa temani onnie dulu saja sampai jonghyun oppa datang. Aku mau membantu sara onnie di dapur.” Luna berbalik dan berjalan pergi ke dapur.

Tok…Tok…Tok..

“Seon sudah belum…Aku masuk ya.” Aku membuka pintu perlahan dan mendapati seon sudah tertidur. Kuambil selimut dan menyelimutinya. “Lagi-lagi aku tidak bisa melindungimu.” gumamku pelan, menatap wajahnya lekat. 

“Key..ayo bermain kejar-kejaran..” teriak gadis kecil itu dengan semangat. Dia berlari menjauhiku, mengintip di balik pohon. “Ayo tangkap aku..”

Aku tertawa pelan, berlari mengejarnya yang semakin jauh mendekati jalan raya. “Key!!! Awasss!!” teriak gadis kecil itu ketakutan. Aku menoleh, menatap sebuah cahaya yang mendekatiku cepat.

BRUKK…

Gadis kecil itu mendorongku cepat, membuat tubuh kami terjatuh ke pinggir jalan.

“Noonaaa..” Aku bangun dan mengguncang tubuh gadis kecil itu pelan. Gadis kecil itu membuka matanya perlahan, menatapku penuh sayang. “Jangan menangis key. Noona tidak apa-apa. Tuh kan hanya berdarah sedikit ko’..” katanya menenangkan sambil tersenyum. Dia bangun dan duduk di sebelahku.

 “Mian noona…karena aku, noona jadi terluka.” kataku sambil terisak.

Gadis kecil itu menghapus air mataku pelan dengan jarinya yang mungil. “Sudah jangan menangis. Anak laki-laki itu tidak boleh menangis.”

Aku memeluk tubuhnya erat. “Mulai sekarang aku akan melindungi noona. Aku tidak akan membiarkan noona terluka lagi. Aku akan selalu membuat noona tersenyum.”

Aku membuka mata perlahan, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam. Ternyata tanpa sadar aku ikut tertidur. Seon masih tertidur dengan lelap, sesekali senyum keluar dari bibirnya. Aku tertawa pelan, mencium pipinya lembut. “Cepatlah sembuh seon…”

Aku berjalan keluar kamar menuju teras depan, menatap laut yang terhampar luas di hadapanku. “Oppa…” Luna berdiri di belakangku, menatapku serius. “Aku ingin bertanya sesuatu??”

“Waeyo?? Serius sekali.” Aku berdiri dan mendekati luna.

Luna menghela nafas dalam. “Apa key oppa menyukai seon onnie??”

Aku mengerjapkan mata kaget. “Kamu aneh-aneh aja sih. Mana mungkin aku suka pada noonaku sendiri. Hahaha.” elakku sambil tertawa gugup. Apa aku begitu terlihat??

“Jangan bohong oppa. Kemarin aku melihat oppa mengatakan bahwa oppa mencintai onnie.”

“Luna..itu kan hanya bercanda.”

“Tadi juga aku melihat oppa mencium seon onnie. Apa itu juga bercanda??” tanyanya dengan tercekat. Air mata membasahi pipinya. “Oppa menyukai seon onnie kan. Jujurlah oppa!!!”

Aku hanya diam, mengalihkan pandangan dari luna. Apa aku harus jujur?? Aku tidak bisa membohongi luna terus menerus. Aku sayang padanya, tapi tidak bisa lebih dari sayang pada seorang dongsaeng. Meskipun aku berusaha mencintainya, tapi tetap tidak bisa. “Ne..aku mencintai seon”

“Aku mau kembali ke kamar.” Luna berbalik dan berlari cepat meninggalkan teras. Aku hanya diam, menatap punggung luna yang menjauh.

——————–

“Lebih baik kita putus saja oppa.” kata luna pelan sambil mengaduk isi cangkirnya.

Aku hanya menghela nafas. “Apa kita tidak bisa membicarakannya lagi?? Aku akan berusaha luna.”

Luna menggeleng pelan. “Sebenarnya aku sudah menyadarinya lama oppa. Aku tau oppa mencintai seon onnie, tapi aku terus berusaha percaya. Berharap suatu saat oppa hanya akan melihatku. Aku sudah berpikir seminggu ini sejak hari itu dan kupikir memang lebih baik seperti ini. oppa tidak akan pernah bisa mencintaiku. Cinta oppa hanya untuk seon onnie.” katanya tercekat.

“Mianhae…jeongmal mianhae..” Aku menundukkan kepala, merasa bersalah padanya.

“Tidak apa-apa oppa. Kuharap setelah ini kita tetap bisa menjadi sahabat ya oppa. Aku pergi dulu..” Luna berdiri dan berjalan pergi. Kulihat bahunya bergetar, air mata menetes di pipinya. Apa yang sudah kulakukan?? Aku sudah menyakiti hati luna.

————————

“Key…gwenchana??” tanya seon khawatir, berjalan mendekatiku.

“Aku sudah putus dengan luna.”

“Waeyo?? Padahal kalian kan cocok sekali. Apa alasannya?? Jangan-jangan kamu berkencan dengan gadis lain ya??”

Aku berbalik, menatapnya tajam. “Karena aku mencintaimu.”

Seon menatapku kesal. “Aishh!! Kamu ini. Saat seperti ini masih saja bercanda. Sudah lebih baik kamu jelaskan pada luna kalau kamu benar-benar mencintainya pasti kalian akan baikan lagi.” Seon mengambil handphone. “Aku akan menelepon luna biar kalian bisa bicara.”

Dengan cepat kurebut handphonenya, membuatnya menatapku. “Aku serius seon. Saranghae…”

Seon mengerjapkan mata. “Kamu ini masih saja bercanda. Seharusnya kamu mengatakannya pada luna bukan padaku. Kalau kamu…”

Kucium bibirnya kasar, menghentikan kata-katanya. Seon terdiam, menatapku shock. “Emmm~key..lepaskan…” katanya panik, mendorong tubuhku menjauh.

“Apa ini belum cukup??” Aku berjalan mendekatinya, membuatnya semakin merapat pada tembok. “Apa kamu masih berpikir aku bercanda?? Aku serius.”

“Aku ini noonamu key..” bisiknya lirih, air mata mengalir di pipinya. “Aku ini noonamu…”

Aku menjauh, menatapnya dengan tersiksa. “Aku tau. Aku tau seon.” gumamku pelan, berjalan keluar rumah. Sebenarnya apa yang sudah kulakukan?? Aku menyakiti luna dan sekarang seon. Aku sudah menyakiti mereka berdua. Aku membuat mereka menangis.

Kuambil handphone, memencet sebuah nomer. “Yoboseyo?? Appa?? Ada yang ingin kubicarakan.”

————————-

Aku menatap tiket pesawat di tanganku ragu. Aku sudah minta izin pada jung soo appa dan omma untuk melanjutkan kuliah di amerika, tapi aku tidak mengatakan apapun pada seon. Sudah 2 minggu ini dia terus menghindar dariku, membuatku semakin tersiksa jika terus berada di sini. Melihatnya membenciku lebih menyiksa dibanding melihatnya dengan orang lain.

Aku menghela nafas dalam, berjalan menuju pintu keberangkatan. “Key!!!” Aku menghentikan langkahku, menyadari pemilik suara itu.

Seon berlari ke arahku, memelukku erat. “Kenapa kamu tidak bilang kalau mau pergi?? Kamu mau meninggalkanku sendiri di sini.” katanya sambil terisak. “Kamu kan sudah janji tidak akan meninggalkanku.”

“Waeyo noona??” tanyaku khawatir pada gadis kecil di hadapanku. Wajahnya tampak pucat dan air mata membasahi pipinya.

“Aku mimpi buruk. Aku bermimpi semua orang meninggalkanku. Mereka meninggalkanku sendiri, seperti omma yang meninggalkanku.” katanya sambil terisak. Tubuhnya yang kecil bergetar.

Aku mendekat dan memeluknya. “Aku tidak akan meninggalkan noona. Apapun yang terjadi aku akan selalu di sisi noona. Omma noona sudah mendapat tempat yang baik di sana.” Aku menunjuk langit yang bertabur bintang.

Gadis kecil itu mendongak menatap langit, seulas senyum keluar dari bibirnya. “Janji ya key. Jangan pernah meninggalkanku.”

Aku mengangguk mantap. “Ne…aku tidak akan pernah meninggalkan noona. Aku akan selalu bersama noona.” Kuulurkan sebuah boneka padanya. “Ini buat noona…”

“Boneka beruang…” gumamnya pelan, mengambil boneka itu dan memeluknya.

“Boneka itu akan selalu ada untuk noona seperti aku yang akan selalu ada untuk noona. Jaga baik-baik ya noona.”

“Gomawo key…Aku akan selalu menjaganya.”

“Kamu bilang akan selalu ada untukku seperti boneka beruang itu. Aku selalu menyukai boneka beruang karena aku ingin kamu selalu ada di sisiku. Tapi kenapa sekarang kamu mau meninggalkanku??”

 “Saranghae…Aku mencintaimu key..” bisiknya pelan, membenamkan tubuhnya di pelukanku.

Aku tercengang, tidak percaya dengan apa yang kudengar. Apa aku bermimpi??

Kulepas pelukannya, menatapnya shock. “Kamu serius??”

“Aku sudah merasakannya sejak dulu, tapi kupikir itu karena kamu dongsaengku. Aku baru menyadarinya ketika kamu mengatakan bahwa kamu berpacaran dengan luna. Aku berusaha menghilangkannya, tapi tidak bisa. Apalagi ketika kamu mengatakannya padaku. Aku tidak tau harus berbuat apa saat itu. Aku bingung. Aku takut mengecewakan appa dan omma.”

“Bagaimana dengan hyung??”

“Aku sudah putus dengan oppa. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya.”

Kupeluk tubuhnya erat, merasa sangat lega. “Kamu tau betapa tersikasanya aku selama ini. Berusaha menganggapmu sebagai noonaku. Bahkan berkencan dengan banyak gadis hanya untuk menarik perhatianmu. Rasanya ini bagai mimpi…” Kudekatkan wajahku ke arahnya. “Saranghae seon…” bisikku pelan, mencium bibirnya lembut.

Seon tampak kaget, mendorong tubuhku menjauh. “Aishh!! Apa yang kamu lakukan??”

“Memang aku tidak boleh mencium yeojachinguku sendiri.”

Seon mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan panik. “Tadi aku datang dengan appa dan sarang omma tapi aku kabur duluan. Bagaimana kalau mereka melihat kita??”

Aku tertawa pelan. “Tuh appa dan omma.” kataku sambil menunjuk ke belakang seon.

“Ahh~appa dan omma mengganggu ya…Lanjutin lagi aja deh. Appa dan omma pergi ke mobil dulu…” Jung soo appa dan omma tersenyum manis, melambai ke arah kami sambil mengedip jail.

Seon menatapku bingung. “Aku sudah mengatakan pada appa dan omma. Mereka merestui kita ko’…” jelasku, kembali mendekatkan wajahku ke arahnya. “Jadi…..bagaimana kalau kita lanjutkan lagi..”

“KEY!!!!”

~FIN~

Hwaahh~mian ea kalau akhirnya geje banget*harap maklum deh…* hehehe

Oh ya, buat para reader yang pada nungguin lanjutannya i want you forever *pede mode on* sabar ea cz nie masih dalam proses pembuatan.. xp

Seperti biasa jangan lupa comment nya ea..Please Don’t Be Silent reader..

Advertisements

25 responses to “[FREELANCE] Saranghae [2/2] END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s