Timeless {2-end}

Author : Keychand

Cast : Choi Minho, Park Minhyo, Choi Siwon

Genre : romance, angst, little bit action

Rate : PG+15

Length : Twoshot

N.B : Scenario diambil dari mv’a timeless (junsu ft. zang li yin) maaf kalau ada yang gak sesuai. :) Baca sambil dengerin lagunya yaa~ 😀

biar gak bingung, kalo ada keterangan waktu sama tempat itu artinya lagi flashback, kalo engga berarti alurnya maju. hope you understanding it, yaa~

previously [timeless -1]

[timeless]

 

{Seoul International Hospital, room 135. Wed, 3rd July 2005, 22.00 KST}

Hujan malam itu menambah suasana sendu hati si gadis bermata bening. Tubuhnya berdiri menghadap kaca jendela kamar rawat kekasihnya yang terus diciprati air hujan. Seharusnya tak ada hujan malam itu, tapi sepertinya awan bisa merasakan perasaan yang dirasakan sang gadis.

Sakit. Ya, itulah perasaan si gadis. Ia sakit karena tak bisa melakukan apapun untuk kekasihnya yang masih terkapar diruangan itu tanpa melewati masa kritisnya. Sudah seminggu lebih ia menemani kekasihnya, tapi tak ada perubahan. Yang ada malah denyut jantung kekasihnya yang semakin melemah.

Ia hanya bisa berdoa, meminta agar datang keajaiban pada kekasihnya agar bisa selamat dari masa kritisnya dan kembali hidup seperti sedia kala –walau dengan luka didada.

Dibelakangnya, seorang pendeta khusyuk melafalkan setiap deret kata yang tercetak dalam bibble-nya. Beliau sengaja diminta datang untuk mendoakan Choi Siwon, nama kekasih sang gadis yang kini sudah dalam keadaan sekarat.

Disamping sang pendeta, ayah dari Choi Siwon –Si komandan kepolisian, duduk dengan tenang, namun wajah yang kentara akan gelisah. Selama dirawat dirumah sakit, ia tak pernah meninggalkan anaknya barang sekalipun. Ia hanya akan duduk di sofa dan mendoakan putranya dalam diam.

“permisi tuan choi—“ pintu kamar itu terbuka, seorang dokter lengkap dengan jas kerjanya masuk membawa sebuah berkas.

Laki-laki tua itu berdiri, menghampiri sang dokter dan berdiri disampingnya. Ia menatap penuh harap pada sang dokter, berharap agar sebuah kalimat bahagia meluncur dari bibirnya. Tapi takdir berkata lain, dokter itu menggeleng lemah.

“tidak ada harapan lagi, maafkan kami tuan choi. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain—“ dokter itu menghela nafasnya, seolah berat untuk mengatakannya meski bisa saja ia pernah mengatakannya juga beberapa kali pada orang yang bernasib sama.

“aku mengerti, terima kasih—“ laki-laki itu memutus ucapan sang dokter, ia turut menghela nafas dan menekuk wajahnya.

“kalau begitu, biar kutandatangani berkasnya.” Lanjut lelaki itu sembari menjulurkan tangannya.

Dokter itu tampak ragu, ia menatap sekilas orang disampingnya dan akhirnya memberikan berkas kuning yang ia pegang sedari tadi. “kau akan melakukannya?”

Laki-laki itu menatap dokter didepannya ragu, berpindah menatap berkas yang ia buka perlahan. Tertera nama anaknya disana, Choi Siwon. Ia menghela nafas, beralih menatap anak laki-laki satu-satunya yang selama ini menjadi kebanggaannya.

Anaknya yang sudah menjadi seorang komandan kepolisian internasional, memimpin segala penyergapan maupun pergerakan kepolisian. Kini harus terbaring lemah akibat risiko pekerjaannya juga. Dalam hati, lelaki tua itu sama sekali belum siap ditinggal lebih dulu oleh anaknya. Tapi ia tak bisa menolak, ia harus menerimanya.

“ya, akan kudonorkan jantungnya—“ lelaki itu mengeluarkan pena dari celananya, bersiap menggoreskan sign-nya diatas kertas perjanjian.

Kertas yang isinya bersedia untuk menyumbangkan jantung milik Choi Siwon pada seorang penderita jantung yang memang sama kritisnya dengan dia. Permintaan itu datang 4 hari yang lalu, saat keadaan siwon yang memang sudah diprediksi akan semakin melemah.

“igeo—“

“gamsahamnida, tuan Choi. Semoga kau diberi ketabahan,” dokter itu menerima berkasnya dan menepuk pelan pundak ayah dari siwon. Memberikan kekuatan padanya.

“gamsahamnida” lelaki renta itu mengangguk. Ia mundur dan kembali duduk disofa, menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan menatap putranya yang masih terbaring lemah.

Tak lama, para perawat masuk, mereka mendekati ranjang sang komandan –choi siwon, dan melepas segala alat bantu yang terpasang ditubuhnya.

“andwae—“ suara yang bergetar terdengar lirih dari pinggir ranjangnya, tuan choi bangkit. Dilihatnya minhyo –nama gadis kekasih putranya, menarik lengan salah satu perawat dan mendorongnya.

“minhyo-ya, biarkan mereka melakukan tugasnya..” tuan choi menghampiri gadis yang sebenarnya akan menjadi menantunya itu. Ia menarik minhyo agak jauh dari ranjang, tapi gadis itu terus meronta.

“anni, appa. Mereka tak bisa melakukannya, oppa akan sembuh. Ia harus sembuh, appa!” gadis itu meronta, tubuhnya menghentak mencoba melepaskan dekapan tuan Choi.

“sudahlah, minhyo. Kau harus merelakan siwon, sudah saatnya ia pergi—“ tuan choi semakin mengeratkan dekapannya yang sempat terlepas.

“andwae!”

Gadis itu melepaskan dirinya secara kasar, ia menghempas lengan lelaki yang ia panggil ‘appa’ barusan dan mendekati ranjang siwon. Ia menarik tangan para perawat yang sibuk melepas alat-alat medis.

“jangan dilepas! Aku mohon, jangan! Siwon akan sembuh! Jebal! Andwae!” minhyo terus meraung, matanya yang bening sekarang sudah basah dengan air matanya.

Wajahnya merah karena menahan tangis terlalu lama, tubuhnya yang kecil terus berusaha menghentikan para perawat, tapi percuma. Mereka sudah melepas alat bantu pernafasan untuk siwon, pendeteksi detak jantung sudah dicopot, tak ada lagi peralatan medis yang menempel ditubuh siwon. Ia sudah tiada, masanya di dunia sudah selesai.

“jeosonghamnida, agasshi. Kami permisi..” tutur salah satu perawat perempuan sedikit membungkuk dan kemudian berlalu.

“o-oppa—“ minhyo merengek, tangannya bergerak menjamah wajah pucat siwon.

“oppa—“ dielusnya wajah tampan kekasihnya, air matanya kembali menetes, lama kelamaan semakin banyak, membasahi lengan baju siwon.

“ireonnaya oppa! Ireonna~!!” minhyo berteriak keras, tangannya mengguncang tubuh siwon yang sudah tak bernyawa.

“bangun siwon-ah! Bangun! Ya! Choi Siwon! Bangun!!” ia memukul dada laki-laki itu, semakin keras diiringi dengan tangisannya yang semakin menjadi.

Gadis itu terus meraung, berkali-kali mengguncang tubuh kekasihnya yang hanya tinggal jasad saja. Ia benar-benar tak bisa kehilangan kekasihnya, lelaki yang sudah memacarinya lebih dari 2 tahun, lelaki yang selama ini menyayangi dan disayanginya, lelaki yang mengisi kehidupannya. Sekarang lelaki itu hanya terbujur kaku diatas ranjangnya, dengan wajah pucat dan dada yang dibalut perban, ia meninggalkan kekasihnya dengan perasaan lara.

“minhyo-ya, uljima. Relakan siwon—“ tuan choi kembali mencoba menenangkan minhyo, dielusnya lengan minhyo lembut, membisikan kata-kata tepat ditelinganya dengan lembut. Mencoba menenangkan gadis yang sudah ia anggap sebagai anaknya juga.

“andwae, kau t-tak boleh p-pergi o-oppa, hh..” tubuh gadis itu merosot, ia terduduk dilantai dengan kaki menekuk.

Matanya sudah benar-benar sembab, terlalu banyak air mata yang ia keluarkan malam itu, beriringan dengan semakin derasnya hujan diluar sana. Tubuh kecil minhyo bergetar hebat, ia terus menangis sembari melafalkan nama Choi Siwon dengan lirih, hampir berbisik.

“relakan siwon, minhyo-ya. Kau tidak boleh menahan kepergiannya, biarkan ia tenang disana. Biarkan ia pergi—“

“an-andwae, o-oppa,hh—“

***

 

“arkh!” kali ini minho benar-benar kalut. Ia membanting bantal sofa yang ada disampingnya dengan kasar kelantai. Menendang ujung meja dan kembali menenggak whisky, tak tanggung-tanggung, langsung dari botolnya.

Ia benar-benar merasa pusing dengan kelebatan-kelebatan kejadian yang entah kenapa bisa berkelana diotaknya. Apa yang salah dengan otaknya? Kenapa ia terus dibayangi oleh si polisi dan kekasihnya? Seorang gadis bertubuh kecil yang manis—

*

 

{Seoul International Hospital, ICU. Thurs, 4th July 2005, 02.00 KST}

‘tiit..tiit..’

Suara yang berasal dari alat pendeteksi jantung itu berbunyi dengan lancar meski sedikit lemah. Lampu bedah langsung terpasang diatas ranjang bedah, menyala dengan kekuatan yang kuat sehingga menghasilkan nyala lampu yang terang. Segala peralatan sudah tersedia disana, para dokter sibuk memakai peralatan mereka, sementara asistennya membantu mereka.

Seorang lelaki sudah tertidur diatas ranjang bedah, wajahnya pucat pasi dan terpasang alat bantu pernapasan dimulutnya. Kabel-kabel berwarna-warni sudah terhubung anatara alat medis dengan tubuhnya, ia siap secara instrumental untuk menjalani operasi.

Dokter tersebut mulai melakukan pembedahan, ia menyayat kulit dada laki-laki itu, darah mulai merembes keluar dari bekas sayatannya. Ia membuka kulitnya hingga cukup untuk mengeluarkan jantungnya dari sana.

Ya, mereka melakukan transplantasi jantung. Jantung orang tersebut bermasalah, ada komplikasi yang sudah ia derita sejak lama hingga masuk masa kritis seperti sekarang. Beruntunglah ia mendapatkan donor jantung disaat yang genting seperti itu.

Sekitar setengah jam waktu yang dibutuhkan dokter tersebut hingga jantung orang itu dapat dikeluarkan. Ia menggantinya dengan memasukkan yang baru, menyambungkan saraf-sarafnya dan menanti respon dilayar tampil.

Cukup lama bagi para tim operasi menanti responnya, karena alat itu tak berbunyi juga. Namun akhirnya, lama kelamaan alat itu mengeluarkan bunyi kecil yang semakin lama semakin terdengar normal.

Mereka saling pandang dan mengangguk penuh arti. Terlihat bulir-bulir peluh yang semakin bertambah membasahi dahi mereka, namun dengan segera asisten mereka membantu membersihkannya.

Dokter tersebut kembali menutup bekas sayatannya dan menjahit bekas lukanya, mereka membalut tubuh laki-laki itu hingga tak terasa tiga jam proses operasi berjalan dengan lancar. Laki-laki itu berhasil lolos dari maut, berkat donor jantung yang ia terima disaat yang tepat sekali. Ia harus bersyukur dan berterimakasih atas keselamatannya.

***

 

“hh.. hh—“ mata perampok ulung itu membulat, menerawang menatap kosong segala sesuatu yang ada disekitarnya. Tangan kanannya meraba dan sedikit meremas dadanya kembali mengingat –lebih tepatnya mencoba menyimpulkan.

Ia kembali mengingat foto yang terpajang diatas meja kasir gadis itu, mengingat wajah sang lelaki dan perempuan secara bergantian. Ya, ia semakin yakin. Laki-laki itu adalah komandan polisi yang waktu itu tak sengaja ditembaknya. Gadis itu— gadis itu adalah sanderanya saat itu.

‘brak’

“akh—“

Minho berjengit, dengkul kakinya tak sengaja membentur sudut meja akibat gerakan tiba-tibanya. Tapi ia tak begitu memperdulikannya. Dengan tergesa ia menyambar jas hitam dan kunci mobil Mercedes-nya, berlari kearah serambi rumah dan segera membawa pergi mobilnya menembus udara dingin seoul di malam hari –oh, tidak. Ini sudah dini hari.

***

 

Mobil Mercedes berwarna hitam mengkilap itu berhenti didepan sebuah gedung besar bercat putih yang sebagian lampu penerangannya sudah mati. Hanya beberapa lampu utama saja yang menyala memberikan penerangan.

Dengan tergesa sang pemilik mobil mewah tersebut berlari kearah gedung tersebut, mencari sebuah ruangan yang biasanya terbatas untuk akses umum. Langkahnya yang besar dan cepat membawanya menelusuri gedung tersebut hampir seperlima-nya.

“hh—“

Langkahnya terhenti tepat didepan sebuah ruangan dengan papan menggantung diatasnya bertuliskan ‘ruang arsip’. Nafas laki-laki itu tersengal, tangannya bertolak pinggang, membuat jasnya sedikit terangkat memperlihatkan kemeja putihnya yang sudah keluar dari celananya.

Ia mengeluarkan sebuah kawat kecil, memasukkannya kedalam lubang kunci pintu tersebut, sedikit menguliknya hingga terdengar suara kecil dari engsel pintu tersebut.

Ia memutar kenop-nya dan mendorong pintu itu perlahan agar tak terdengar suara sama sekali. Dengan segera ia menyalakan lampu ruangan tersebut, memperlihatkan deretan rak yang terbuat dari besi yang di beberapa bagiannya sudah agak berkarat akibat termakan usia.

Rak tersebut berisi ribuan berkas yang disusun berdasarkan alphabet dengan penempatan yang kurang rapi akibat terlalu banyaknya berkas yang dijejalkan. Laki-laki itu memulai pencariannya, ia bergerak mendekati rak yang ada dideretan kedua dan menyusur alphabetnya.

Jarinya terhenti dibaris ke-2 dari atas rak tersebut, dan kembali menyisir deretan berkas yang dijejalkan asal tersebut. Ia menarik salah satu berkasnya, membaca data yang ada dan mengembalikannya dengan asal.

Bukan itu!

Ia memutar tubuhnya menghadap rak yang ada dibelakangnya, kembali menyusur deretan berkas dan mengambil satu berkas –lagi. Dengan teliti matanya menyusur membaca isi berkas tersebut dan memperhatikan fotonya. Bukan juga—

“hh—“

Laki-laki itu mulai putus asa, dari sekian banyak berkas yang ada tak mudah baginya menemukan satu berkas yang akan menjelaskan semuanya. Setidaknya memperjelas alasan kenapa ia terus dibayangi wajah polisi dan kekasihnya itu.

Tangannya kembali bergerak menyusur dan mengambil secara asal satu berkas yang ada dideretan ke-3 dari atas rak tersebut. Matanya bergerak dari kiri kekanan dengan cepat, menyusur tiap barisnya. Tak lama, mata laki-laki itu membulat.

“C-choi Siwon?!”

Dilihatnya foto dalam berkas tersebut, foto seorang komandan polisi yang sudah ia tembak waktu itu. Wajah yang sama yang ia lihat difoto gadis itu, wajah yang ternyata sudah mendonorkan jantung untuknya.

Berkas itu menjelaskan semuanya. Bahkan sekaligus menjawab siapa sang malaikat yang dengan baik hati mendonorkan jantungnya untuk seorang perampok ulung bernama Choi Minho.

“hh—“

Ia menatap tak percaya berkas tersebut, nafasnya semakin menderu. Dengan kasar ia menutup berkas tersebut dan kembali menjejalkannya kedalam kumpulan berkas yang lain. Ia berlari meninggalkan ruangan kecil itu dan kembali membawa pergi Mercedes-nya ke rumahnya.

Dengan kecepatan penuh ia membawa lari mobilnya, hingga tak sampai 20 menit ia sudah sampai dirumahnya.

‘blug!’

Ia menghempas pintu mobilnya dengan keras, berlari masuk kedalam rumah. Laki-laki itu membuka lebar-lebar pintu kamarnya, dengan tergesa menghampiri buffet coklat yang terbuat dari kayu berusia puluhan tahun. Ditariknya laci-laci buffet tersebut, mencari sebuah kotak yang menyimpan barang yang selama ini ia simpan.

Ketemu! Sebuah kotak berwarna coklat terbuat dari kayu yang diukir membentuk ukiran bunga-bunga seukuran 8x8x6 cm. tersimpan rapi didalam buffet dibagian bawahnya. Minho mengambilnya, membuka kotak tersebut dan mengambil barang yang ada didalamnya. Sebuah liontin berwarna emas dengan bandul berbentuk hati.

Ia meraba kalung itu dengan bergetar, perlahan membuka liontin yang dapat menyimpan foto itu. Ia semakin tersentak, disisi kanan liontin itu terpasang foto seorang Choi Siwon, dan sisi kirinya foto si gadis, kekasih Choi Siwon.

“akh— hh—“

Minho ambruk, ia berlutut dilantai dengan tubuh yang bergetar. Tangan kirinya bertumpu pada sisi buffet, sementara tangan kanannya menggenggam erat liontin itu. Kepalanya terasa pusing, dadanya sesak, ada rasa penyesalan yang tiba-tiba menyeruak dari dalam dirinya. Menyalahkan dirinya atas segala yang ia rasakan dari kemarin.

Ini semua salahnya, ia yang sudah menyebabkan dirinya sendiri terbelenggu dalam bayang-bayang sepasang kekasih itu. Karena dirinya, sepasang kekasih itu terpisah.

Pertama, seorang Choi Minho sudah membuat sang laki-laki meninggal akibat tembakan yang ia lepas secara refleks akibat terjepit dalam keadaan waktu itu. Kedua,secara tidak langsung ia melukai hati gadis itu. Bukan hanya menyandera-nya, ia meninggalkan luka mendalam bagi gadis tersebut. Ia menyakiti hati sang gadis dengan cara menembak kekasihnya sampai tergeletak tak bernyawa. Ketiga, betapa beruntungnya si perampok ulung itu, saat penyakit jantungnya hampir merenggut nyawa-nya juga, secara sukarela jantung sang komandan ia dapatkan. Bodoh memang, seseorang yang sudah ia tembak malah memberikan jantungnya untuk menyelamatkan hidup sang perampok kelas kakap –Choi Minho.

Sekarang, laki-laki bernama Choi Minho itu sudah merasakan akibat dari semuanya. Ia terus terbayang segala hal yang berkaitan dengan sepasang kekasih itu, terlebih lagi, jantung sang pria kini ada dalam tubuhnya, menumpu hidupnya yang hampir berakhir.

“akh— hh—“

Ia semakin meremas liontin tersebut, matanya sudah basah akibat air mata yang terus meluncur dari mata bulatnya. Terdengar isakan tangis yang cukup kencang, ia menyesal, ia merasakan sesak didadanya. Rasa sesal dan sakit yang bersamaan.

***

 

Pagi itu, mentari bersinar cukup terang. Burung-burung berkicau dengan riang, memberikan irama indah membentuk lagu alam yang merdu. Angin bertiup lembut, menyapa dedaunan berwarna hijau dengan ramah.

Tapi sayang, sang Mercedes hitam yang tengah melaju dijalanan tampak berbeda. Warna hitamnya tampak cocok untuk mewakili perasaan si pengemudinya. Laki-laki yang ada dibalik kemudi itu tampak lemah, matanya sembab, rambutnya sedikit berantakan. Hampir sepertiga malam ia habiskan untuk menangis menyesali segala yang ia perbuat, meluapkan rasa sesak yang terus menyeruak dari dalam dirinya.

Tak lama, mobil itu berhenti tepat didepan sebuah café yang belum lama ia kunjungi juga. Sebuah café yang menyatu dengan florist dengan bermacam bunga cantik yang tertata apik. Laki-laki itu keluar dari mobilnya, menghampiri si gadis berkepang satu dengan sedikit rambut yang tak terkepang disisinya. Gadis itu sibuk membenahi café-nya, bersiap untuk buka. Minho berhenti tepat dibelakangnya, menunggu gadis itu berbalik.

Dan benar saja, tak lama gadis itu berbalik. Ia sedikit terlonjak kaget melihat minho yang berdiri didepannya dengan lemah. Gadis itu menatap ragu pada minho, memperhatikan wajahnya yang kuyu dan tubuhnya yang tampak rapuh.

Minho menjulurkan tangan kanannya, dengan liontin emas yang ia pegang. Menunjukkannya pada sang gadis tanpa bersuara sama sekali. Gadis itu Nampak bingung, ia menatap ragu minho dan perlahan mengambil liontinnya. Ia sebenarnya hapal betul dengan liontin emas tersebut.

Gadis itu bernama Park Minhyo, pemilik sah dari liontin emas tersebut. Liontin yang diberikan kekasihnya saat anniversary hubungan mereka yang pertama. Karena itu, tak heran gadis itu benar-benar mengetahui liontin tersebut.

Perlahan ia membuka liontinnya, melihat foto yang masih terpasang rapi disana. Foto ia dan kekasihnya yang sudah tiada, Choi Siwon. Gadis itu terhenyak, matanya membulat dengan berkaca-kaca, genangan air sudah berkumpul dikantung matanya, bersiap untuk meluncur.

“mi-mianhada, jeongmal mianhada..” lagi-lagi minho ambruk. Seorang perampok ulung yang sudah diakui kehebatannya itu kini berlutut dihadapan seorang gadis bernama Park Minhyo. Ia menangis dengan tersedu, senggukan terdengar hebat diantara tangisannya.

Minhyo menutup mulutnya dengan tangan kanannya, matanya terpejam membuat bulir bening air matanya meluncur cepat melalui pipinya. Ia tak menyangka liontin paling berharga baginya ada ditangan seorang Choi Minho, sang perampok ulung yang sudah membuat mati kekasihnya.

Yang membuatnya semakin tertohok adalah kenyataan bahwa jantung kekasihnya ternyata didonorkan pada si perampok Choi Minho.  Jantung kekasih tercinta-nya kini ada didalam tubuh Choi Minho.

Tangisan minhyo semakin menjadi, ia kembali teringat akan kekasihnya, Choi Siwon. Ia teringat akan wajah tampannya yang selalu tersenyum saat bertemu dengannya. Pelukan hangatnya saat mereka kembali bertemu setelah cukup lama terpisah karena tugas Siwon sebagai seorang polisi. Ia rindu akan pelukan hangat penuh kasih dan cinta dari Siwon, ia rindu senyuman manis yang menenangkan dan membuat hatinya nyaman dari seorang Siwon.

Ia rindu segala hal yang ada dalam diri kekasihnya itu. Kekasih yang sudah seminggu lebih meninggalkannya. Meninggalkannya dengan seberkas luka dalam hati seorang Park Minhyo dan segenggam jantung yang kini menopang hidup seorang manusia.

Siwon tak benar-benar meninggalkannya, ia masih menitipkan jantungnya pada seseorang. Untuk melindungi gadis yang ia cintai.

“mi-mianhae Minhyo-sshi. Jeongmal mianhae—“

Ya, jantung yang ia titipkan pada Choi Minho. Si perampok ulung..

 

Siwonnie..

I miss you, miss you so bad

I miss everything from you

Siwonnie..

 

Timeless
This isn’t a goodbye,
If it’s one life, it’s now
Hold tight baby
Timeless
Put it in your heart,
It’ll just hurt for a while, just like the flu
We both agree,
This is timeless love…

 

(timeless – xiah ft. zang li yin)

 

[timeless]

 

vic omma~ maaf ya ff’a failed. entah kenapa ga ada feel lagi buat bikin yg angst dan sebangsanya (gak profesional+ga bakat sih ==”) semoga suka omma, maafkan anakmu ini yaa~

oh, heeh. selamat hari ibu yaa~ semoga suka ff’a ini. oh satu lagi. yang kemaren udah baca ff soulizer, ada yg ngerasa bingung kan ama endingnya yang gantung? hahahah (ketawa setan xD) rencana chand mau bikin sekuel oneshot’a, tapi PROTEKSI! Just for ma real reader!!! jadi yang minat, silakan mention chand atau lewat fb, gak pake alamat email! ok!

thanks! keychand!

Advertisements

13 responses to “Timeless {2-end}

  1. ngga pernah mengerti mv timeless tu critanya gmn.. *babo deh
    skrg jg msh bingung ni.. jd mino nembak siwon, hbs itu jantungnya kambuh, trus dpt donor? yg tnyt dr siwon sendiri..
    beruntung dong mino, kalo ga nembak siwon mgkn dia ga dpt donor gehehehe /plakkk

  2. aku gatau mv.nya siii…. hihihiii
    jujur ya slama baca ff ini tu aku bingung. tapi bgtu mendekati ending, hilang sudah kebingungan saya. puwahaha

    sedih… perasaanku kebawa melo-melo merindu gitu .
    hukshuks , nice story !!!

  3. hwaa… akhirnya bener2 sad… terus itu minho jadi gx sama minhyo ??
    pletak … iya tuh .. aku nunggu lama bgtttttttttttttt ,……….. aku masih nunggu loh onn .. ;(

    *plak!!*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s