[THE SERIES] Dia Bukan Untukku

Yak, satu lagi THE SERIES… kali ini Sungmin punya (padahal yang Lee Triplets VS Kim Boys aja belon selesai T.T)

lagi dan lagi, saya pakai cast si reader dongsaeng suporter utama saya upik aka oepick… hehehe

oh ya saya uda ada sasaran reader yang mau saya jadiin cast lagi lho… jadi tetep dukung saya dan jangan lupa cek2 lagi balesan komen saya, siapa tau kamu ditawarin 😉 *PD banget banyak yang mau :p*

yuk ah, cekidot!

 

DIA BUKAN UNTUKKU

(Bahasa version; English version)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Lee Sungmin

Hanifah Sausan Nurfinaputri aka oepieck as Kim Saera

 

“Sungmin-ah, bantuin proyek baru hyung yuk, jadi kami lagi butuh music director dan hyung ga bisa nemuin yang lebih cocok untuk itu daripada kamu.” Ajak kakak iparku, Park Jungsoo, ketika ia dan istrinya sedang mengunjungi rumah kami yang memang sudah jadi rutinitas mereka tiap akhir pekan.

“Hm? Mollasseumnida, niisan… Tahulah, aku kan masih ngajar juga.” Jawabku sopan. Niisan. Aku menghabiskan 18 tahun dari 25 tahun hidupku di Jepang, itulah mengapa aku masih belum bisa menanggalkannya begitu saja biarpun aku dan adik-adik kembarku sudah kembali ke kampung halaman kami. “Ngomong-ngomong, kali ini perusahaan hyung mau garap proyek apa lagi?”

“Musikal-iya. Sekarang sudah makin banyak orang yang mengenal dan mempercayakan acara mereka pada jasa organizer kami, jadi akhirnya kakakmu dan aku memutuskan untuk melebarkan sayap dan mulai menerima tawaran-tawaran ‘tak biasa’, ya kayak musikal ini.” Jawabnya.

“Jangan mau Sungmin-ah. Sebetulnya dia tuh cuma mau ngurangin budget dengan memakai saudara-saudaranya. Dia sudah dapat aku sebagai koreografer, dan sekarang dia mau kamu. Pelit dasar.” Salah satu kembaranku, Hyukjae atau biasa kami panggil Eunhyuk, tiba-tiba muncul dan langsung duduk di sofa. Ia memeletkan lidahnya pada kakak ipar kami.

“Ya! Pelit macam apa coba yang mau invest banyak uang di pembangunan dance studio kamu, sudah gitu ngasih pekerjaan pula selama kamu nganggur nungguin itu studio jadi. Siapa hah, siapa??” Jungsoo menjitak kepala kembaranku. Si korban cuma ngengir sok inosen.

“Huuu, coba kalau aku tahu kerja di tempat hyung tuh cuma bakal bikin makan ati gara-gara tiap hari harus mergokin hyung sama noona ‘ehem-eheman’, dih, ga bakal aku mau join. Suer.” sungutnya.

Jungsoo tertawa keras, “Makanya cari pacar dong! Hahaha!”

Eunhyuk menatapnya aneh, “Heh, maksudku tuh ya, memangnya kalian tuh kurang puas ya ‘begituan’ di rumah sampe-sampe harus dilanjutin di kantor segala? Aish!”

Jungsoo malah makin ngakak. Mereka terus saja bercanda dan saling ledek begitu akrabnya, layaknya kakak beradik kandung seperti tadi, yang jujur membuatku sedikit cemburu. Cemburu, karena kami bertemu dan mengenal kakak ipar kami ini pada waktu yang sama, hanya beberapa bulan lalu ketika kami baru pindah kemari, tetapi Eunhyuk dan kembaranku satu lagi, Donghae, sudah berhasil akrab dengannya hanya dalam waktu singkat. Sedang aku? Seperti yang bisa kalian lihat tadi, aku bahkan masih berbicara seformal itu pada kakak iparku sendiri, yang umurnya bahkan hanya tiga tahun lebih tua dariku.

Ya, Ryeoru neesan, istrinya  Jungsoo, memang bukan kakak kandung kami bertiga. Ia dan Yora, adik perempuannya, adalah sepupuku, Eunhyuk, dan Donghae sebelum orangtua kami meninggal dalam kecelakaan sekitar empat bulan lalu. Dan sejak saat itu, orangtua mereka menyuruh kami pulang ke Korea untuk tinggal di rumah mereka dan mengangkat kami sebagai anak.

“Jadi gimana, Sungmin-ah? Ini musikal besar lho, kamu ga bakal kecewa deh. Yaksogiya (janji).”

Butuh waktu bagiku untuk berpikir, tapi kemudian… “Geureohnikka… ye, aku ikut.”

Mudah-mudahan dengan ini, hubunganku dengan anggota-anggota keluargaku akan menjadi lebih dekat lagi.

***

“Saem!” panggil salah seorang muridku ketika aku sedang membuka mobilku—edit, ini mobil Yora sebetulnya, bersiap-siap pulang. Aku mengurungkan niatku dan menatapnya.

“Berapa kali harus saya bilang kalau seorang murid—apalagi wanita—tidak seharusnya memanggil gurunya dengan panggilan tidak sopan begitu??”

“Ara, ara…” jawabnya enteng. Aku mendelik lagi. “…yo. Hehe, maksud saya arayo, arasseoyo, Seonsaeng-nim …” cengirnya. “Eh, cheogiyo, Seonsaeng-nim, saya dengar Seonsaeng gabung di upcoming musical itu ya? Yang di-organize P.A.R.K Organizer?”

Aku mengangguk, “Geureohke. Waeyo?”

“Aniyeyo… Geundae, saya kan lagi ngerjain tugas akhir di kampus, saya ambil Performing Arts dan tim saya memutuskan mau bikin musikal buat tugas akhir itu. Nah… jadi mungkin, Lee Seonsaeng mau mengikutsertakan saya… gitu disana, jadi apa aja, bagian dari orkestra, mungkin? Atau apa aja, saya cuma mau tahu bagaimana cara memproduksi sebuah musikal kok Seonsaeng-nim… Jebalyo?”

Aku mengerutkan kening, “Mworagoyo? Tugas akhir? Memang berapa umurmu, Saera-ssi?”

“20. Saya kelahiran ’91, mulai kuliah pas umur 17, sudah gitu saya ambil semester pendek, makanya hanya dalam 3 tahun saya sudah mulai ngerjain tugas akhir deh.” jawabnya. “Wae geuraeyo, Seonsaeng? Memangnya saya betul-betul keliatan semuda itu ya buat seorang mahasiswi semester akhir?” tanyanya, terdengar sedikit bangga.

Aku mengangguk, “Well, itu satu, tapi yang lebih mengejutkan adalah, kamu itu masih di level Upper Basic di kelas saya, dan itu level buat anak-anak SMP …”

 

Aku segera memasuki gedung tempat proyek musikal yang sedang aku tangani sebagai music director ini begitu sampai. Terlihat Jungsoo niisan sedang berbicara dengan seseorang sambil menunjuk sana-sini di sekeliling interior gedung, sementara kembaranku sedang sibuk dengan aktor-aktor yang dilatihnya di atas panggung. Semua orang terlihat betul-betul bekerja keras untuk proyek musikal perdana perusahaan kami ini.

“Niisan.” Aku menepuk pundaknya.

Jungsoo berbalik, “Ya, Sungmin-ah! Baru pulang kerja?” sapanya. Aku mengangguk. “Ah, Ahn-ssi, ee sarameun, uri music director, Lee Sungmin. Sungmin-ah, Ahn-ssi neun Energy Entertainment-eui producer. Bisa dibilang, dia inilah ‘big boss’-nya kita disini.” Ia memperkenalkan kami.

Aku membungkuk, “Annyeonghasimnikka… Jeoneun Lee Sungmin imnida.”

“Aigoo, aniyo, aniyo, Lee-ssi. Park Sajang-nim suka bercanda nih, saya cuma perwakilan dari agensi saya saja kok.”

“Hahaha, tuh, Ahn-ssi rendah hati ya Sungmin-ah.” Pujinya. Tapi tiba-tiba matanya menangkap kehadiran seseorang di belakangku. “Cheogi, Sungmin-ah, geunyeoneun… heokshi… (Anu, Sungmin-ah, dia… mungkin…)”

Aku langsung kaget mendengar pertanyaannya, aku bahkan lupa kalau aku membawa muridku juga kemari!

“A-ani, aniyo… Dia ini siswa di sekolah musik tempat aku ngajar, Kim Saera. Saera-ssi bilang dia mau buat musikal untuk tugas akhirnya, jadi dia tanya apa dia bisa ikutan melihat proses produksi pertunjukan musikal disini untuk belajar. Apa boleh, Niisan, Ahn-ssi?”

“Geureomyo.” Jawab Jungsoo dan Ahn-ssi bersamaan.

“Bangabseumnida, Saera-ssi. Park Jungsoo imnida, dari P.A.R.K Organizer.” Jungsoo menyapanya.

“Annyeonghasimnikka, mannaseo bangabseumnida…” Saera balik menyapa sambil membungkuk.

“Geuraeseo, Niisan, Ahn-ssi, saya mohon diri dulu untuk memperkenalkan Saera-ssi ke kru-kru lain, bolehkah?” izinku.

“Ah, ye, ye, silakan.” Jawab Ahn-ssi yang didukung anggukan kakak iparku.

Akupun membungkuk sebelum mulai berjalan meninggalkan mereka menuju panggung. Jelas, aku harus menyapa kembaranku dulu. Dibelakangku, Kim Saera berjalan sambil memeluk notebook-nya, siap-siap jika ada hal-hal penting yang harus dia catat.

“Hyuk-ah!” aku memanggilnya dari bawah panggung.

“Min-ah, kamu datang! Kirain kerjamu cuma berkutat di dalam studio aja!” serunya masih dari atas panggung, tapi setelah membubarkan para aktor yang dilatihnya untuk beristirahat sejenak.

Dia membuka topi pet-nya dan berjongkok di pinggir panggung sambil mengelap keringat dengan handuk kecil yang barusan aku lemparkan. Ia nyengir ketika menerimanya, dengan cengiran gusi-nya yang khas itu.

“Oh, Hyuk-ah, turun dong, ga sopan kan ngobrol dengan seseorang—apalagi ia kakakmu sendiri—tapi kamunya ada di atas gitu?” ingatku.

Eunhyuk memakai topinya lagi, “Ah, hai, gomen ne, wasureta (Ah, iya, maaf aku lupa).” Katanya sebelum berjalan ke arah tangga yang ada di samping panggung untuk turun.

Selama menunggunya, aku merasakan seseorang menyikut lenganku, “Seonsaeng-nim, Seonsaeng-nim memang selalu se-kaku itu ya masalah etiket? Padahal terkadang seseorang juga butuh untuk rileks, lho.” Muridku berkata.

Rileks? Good point.

“Niichan.” Panggil Eunhyuk setelah ia turun dari panggung.

Aku tersenyum, “Nande? Ada apa tahu-tahu ngomong Nihongo lagi? ”

“Hehehe, tahu nih, tiba-tiba kangen aja sama Tokyo. Aku sudah hopeless tadinya bakal harus nunggu sampai pulang cuma demi bisa ngobrol Nihongo sama kamu dan Donghae, eh tahunya kamu datang. Ini nih, salah satu bukti lagi kalau kita memang beneran kembar hahaha.”

Aku ikut tertawa bersamanya. Memang sih, dilihat dari ‘penampakan’, nyaris tidak akan ada orang yang percaya kalau kami ini kembar.

“Anou… Sumimasen…”

Baik diriku dan Eunhyuk segera menoleh ke sumber suara tadi. Dan… murid wanitaku berdiri disana sambil tersenyum malu. Aigo, lagi-lagi aku lupa kalau ia ada disini. Tapi tunggu, barusan dia ngomong Jepang?

“Kim Saera-ssi? Niga—”

“Kimi wa Nihongo ga wakaru? (Kamu ngerti bahasa Jepang? –kalimat informal, Eunhyuk banget-)” Eunhyuk menduluiku.

“Ah, hai. Aku dulu pernah tinggal di Jepang. Dan sebenarnya aku tahu kalau Lee Seonsaeng itu guru pindahan dari Jepang, tapi aku ga pernah berani buat ngajak ngobrol beliau tentang itu…” ia menghela napas lega. “Kim Saera desu, onamaewa…? (Aku Kim Saera, namamu…?)”

“Lee Hyukjae desu, Eunhyuk. Uwa, dozo yoroshiku, atarashii no tomodachi! (Aku Lee Hyukjae, Eunhyuk. Senang berkenalan, teman baru!)”

“Hai, dozo yoroshiku onegaishimasu… (Iya, senang berkenalan juga… Mohon bantuannya.)”

“Yak, tahan disitu sebentar.” potongku. “Nah, kebetulan sekarang kalian ketemu, ada yang mau aku bilang. Hyuk-ah, Saera-ssi ini adalah muridku di sekolah musik. Dia kuliah Performing Arts sama kayak kamu, dan dia mau ambil musikal buat tugas akhirnya. Jungsoo niisan sudah setuju buat ngebiarin dia belajar disini, dan karena kalian satu jurusan kuliah, aku mikir buat ninggalin dia belajar sama kamu. Apa kamu bersedia? ”

“Jadi Eunhyuk-ssi ambil Performing Arts juga waktu kuliah?” tanya Saera kaget.

“Geurae. Lulusan Nihon Daigaku lho. Senang bertemu, Saera-kohai (junior), dan mungkin Sungmin lupa bilang ini, tapi aku adalah koreografer utama disini.” Cengirnya bangga.

“Oke deh, aku tinggal ya. Aku akan ada di backstage, check sound, kalau kalian cari aku.”

“Ah, jamsimanyo, Seonsaeng-nim.” Panggil Saera sebelum aku benar-benar pergi. “Tadi saya dengar percakapan Seonsaeng dan Eunhyuk-senpai, dan Anda berdua bilang Anda kembar… Betulkah??”

Eunhyuk tertawa, satu lagi orang yang tidak percaya fakta (lucu) ini. Tapi aku tidak.

“Yah, faktanya seperti itu. Kami kembar tiga, sebetulnya. Masih ada seorang pria lagi di luar sana yang berbagi status kembar dengan kami.” Aku tersenyum sinis dan langsung berlalu. Tapi aku masih sempat melihat perubahan di wajah Saera. Antara bengong dan… shock? Tawa Eunhyuk pun terdengar semakin keras karena hal itu.

Sementara itu, di sisi lain gedung…

“Park Sajang-nim, kalau boleh jujur, saya punya minat yang sangat besar pada music director kita.”

“Eh?” Jungsoo segera menatap partner bisnisnya lagi, Ahn-ssi dari Energy Entertainment.

“Ia masih muda, music director berarti ia sangat mengerti tentang musik—dan itu betul kan?, dan yang paling penting adalah ia punya tampilan yang menunjang. Tampan, bertalenta… sangat potensial.”

Sebagai juga mantan pelaku dunia hiburan—Jungsoo adalah seorang model sewaktu masih kuliah dulu—maka ia pun langsung mengerti kemana arah pembicaraan ini. Tapi Jungsoo memutuskan untuk pura-pura tidak paham akan maksud orang penting di industry hiburan itu, “Jadi, maksud Anda, Pak?” tanyanya.

“Yah, saya sedang berpikir kalau saja saya bisa mendapatkan nomor telepon atau demo musiknya, mungkin… jika Anda punya. Karena saya punya penawaran yang sangat menarik untuknya.”

Jungsoo terkekeh, gen bagus memang mengalir dalam darah seluruh anggota keluarganya… (Ga sadar dia kalau mereka bahkan ga punya hubungan darah sama sekali -____-“)

 

<TBC>

 

NB: fotonya sungmin di atas unyu unyu banget yaaa~ saya baru dikasih mbah google tuh >w<

oh ya, ini juga awal dari profesi solo gitarisnya sungmin, di lee 3 vs kim boys yora bilang kalo dia bakal debut kan? 🙂

 

KOMEN, KOMEN!^^

Advertisements

27 responses to “[THE SERIES] Dia Bukan Untukku

  1. masi penuh tanda tanya -,-‘
    aku lanjut deh, tpi ntaran aja, uda pagi soalny hahaha *komen-curhat gapen*

  2. Pingback: [THE SERIES] The President’s Son – Part 1 « FFindo·

  3. Pingback: [THE SERIES/ENG] I’LL MOVE ON AND LOOSEN UP – Part 1 | Super Junior and DBSK fanfics!^^·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s