[THE SERIES] Dia Bukan Untukku – Part 2

Halohalohaloo~ jumpa lagi, dengan maisy lola disini *abaikan*

btw buat yang gatau, itu lagunya maisy, penyanyi cilik jaman saya kecil dulu *abaikanlagi* :p

heyhoo, datang dengan lanjutannya part sungmin… RCL ya

dan PS: saya nemu fotonya sungmin yang unyunyunn lagii awawawaw   >w<

 

DIA BUKAN UNTUKKU – part 2

(Bahasa version; English version)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Lee Sungmin

Hanifah Sausan Nurfinaputri aka oepieck as Kim Saera


 

TINGTONG! TINGTONG!!

Aku memencet bel di kediaman Jungsoo dengan tak sabaran.

TINGTONG!!

“Niisan—” panggilku langsung begitu pintu terbuka. Lho, tapinya kok… “…Donghae-ya??”

Hei, apa yang dilakuin kembaranku di rumah ipar kami?

“Min-ah! Ngapain kamu kemari?” Donghae menyambutku masuk ke dalam rumah.

“Ya, harusnya aku yang tanya: ngapain kamu disini? Bukannya tugas polisi itu menjaga masyarakat dari kriminalitas, 24 jam sehari 7 hari seminggu ya?” Adik bungsuku ini memang seorang polisi.

“Aish~ Kamu hidup di abad berapa sih, kakak sayang? Sekarang ada sistem yang namanya shift… Masih kuno aja ternyata.” sungutnya.

Tuh kan, bahkan adikku sendiri bilang aku kuno. Apa iya aku betul-betul harus mencoba sedikit rileks seperti yang dibilang Kim Saera padaku?

Aku akhirnya duduk di sofa yang ada di ruang tamu setelah sebelumnya meletakkan gitarku terlebih dulu, juga di atas sofa. Donghae mengikutiku duduk. “Niisan mana? Ngomong-ngomong, disini memang selalu sepi begini, ya?”

“Oh, iya ya, ini pertama kalinya kamu kesini ya? Um-hum, kalau dibandingin sama rumah kita sih, iya, memang selalu se-sepi ini sih disini.” jawabnya.

Aku cuma mengangguk-angguk. Jelas, selama di rumah kami ada dua orang macam dirimu dan Eunhyuk, pastinya semua rumah lain bakal tergolong ‘sepi’, lah. -____-

“…noona dan hyungnim yang pengantin baru mikir kalau pembantu itu cuma bakal ganggu aja, makanya mereka akhirnya mutusin untuk ga punya dulu. Dan oh, mereka belum pulang, mungkin sebentar lagi sih. Kamu langsung kesini dari sekolah? Ada apa?”

“Ada perlu sama niisan.”

Donghae yang sudah paham kebiasaanku yang hanya ngomong seperlunya, cuma mengangguk. “Oh iya, kamu sudah makan? Sini, sini deh… ” ia menarik tanganku ke arah dapur di rumah besar serba putih ini dan membuka kulkas yang berada di depan kami. “Bwabwa (lihat), banyak banget cemilan kan? dan ya ampun, mereka juga punya pizza! Oh~ cinta banget deh aku sama ke-simpel-an pasangan ini. Coba kalau di rumah, makanan-makanan beginian mah ga bakal lolos dari screening Yora sama appa, jadi ayo kita puas-puasin makan disini, noona ga bakal keberatan kok. Meokja!” katanya sambil melempar beberapa bungkus cemilan dari dalam kulkas dan segera memanaskan pizza-pizza tadi ke dalam microwave.

Jadilah kami menunggu kedatangan kakak kami dan suaminya sambil ngemil. Tapi ini sih sudah kelewat lama…

“Mereka tuh kemana sih??” aku mulai jengkel.

“Sabar niichan, sabar… Nih, makan lagi. Aah~ damainya rumah ini… Apa nanti aku minta hyungnim buat hubungin aku terus ya kalau butuh orang buat jagain rumah lagi? Kalau sudah gitu kan aku bisa ajak pacarku kemari juga, terus… Kkkk~” mulai lagi Donghae dengan rencana bejatnya. Aku cuma geleng-geleng kepala, sudah biasa.

“Huh, ‘Ee Baram’-eun ee baramiya (‘Lee Baram’ ya tetap aja playboy begini). Ga ada deh yang namanya perubahan.”

Kami berdua segera beralih ke arah pintu. Dan terlihatlah adik perempuan kami sudah memasuki rumah bersama dengan tunangannya yang tinggi itu.

“Yora, Siwon Sunbae-nim!” seru Donghae pada mereka berdua. Siwon, tunangan Yora, juga adalah polisi dan teman sekantor Donghae. “Kalian ngapain kemari?”

“Ketemu eonni.” Jawab Yora.

“Dan tolong jangan panggil aku ‘sunbae-nim’ lagi, Hyung. Rasanya betul-betul ga benar.” Kata Siwon sopan pada Donghae. “Shift malam, Hyung?”

“Uhm.” Jawab Donghae. “Seperti biasa, nanti aku bakal minta anterin Hyukie dulu ke kantor sebelum dia pulang.”

“Jadi Eunhyukie bakal kemari juga??” aku shock.

“Hmm… kita berbagi satu mobil berdua sih… ingat? Jadi mau bilang apa coba?”

“Geokjeonghajimaseyo (ga usah khawatir), Hyung. Nanti kalau hyung sudah dapat promosi dan naik pangkat, mobil dinas juga sudah akan menanti kok, kayak aku ini. Untuk sekarang, nikmatin aja masa-masa shifting-nya hyung sebagai Junior Officer, seru juga kok.” Kata Siwon sambil tersenyum.

“Helloo… Aku liat mobil berjejer tuh di depan, jadi apa semuanya sedang merindukan kami?” suara ala TOA kakak perempuanku tiba-tiba terdengar di telinga kami semua. Ia memasuki rumah dengan menggelendot di lengan sang suami. Di belakangnya, Eunhyuk mengikuti dengan wajah super-capek.

“Kalian darimana aja sih??” ledakku.

“Whoa, sabar, Min. Maaf ya, hari ini soalnya H-1 musikal kami, jadi seisi kantor semuanya pada hectic deadline gitu deh.” Jelas Jungsoo.

“1, 2, 3,” sang istri menghitung sambil menunjuk kami yang ada di hadapannya satu per satu, “…4.” dia berbalik untuk menghitung Eunhyuk juga. “Jadi semua adikku lengkap ngumpul disini nih? Ada apakah gerangan? ”

Aku dan Yora bertukar pandang.

“Sungminnie oppa dulu.” katanya.

“Oh, aku cuma perlu sama niisan sih… Jadi, niisan?”

“Disini aja, Sungmin-ah. Ini tentang Ahn-ssi, kan? Dia sudah hubungin kamu?” tanya Jungsoo kalem.

Jadi dia tahu? Ada apa sih sebenarnya di balik semua ini?

 

“Jadi si produser dari Energy Entertainment ini minta oppa buat jadi artis mereka? Tanpa training kayak yang harusnya calon-calon artis ikutin dulu sebelum debut?” Yora merangkum seluruh perkataanku dengan terkejut.

Aku hanya mengangguk pelan, “Dia bilang yang namanya persiapan sih pasti ada, tapi bukan training karena dia sudah dengar demoku dan katanya itu memuaskan. Pasti ini kerjaanmu kan, Niisan?” aku mendelik pada Jungsoo.

Si tersangka malah sengaja mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, pura-pura tak mendengar apapun.

“Sungmin-ah, kamu tuh memang kembaran kami deh!” Eunhyuk dan Donghae tiba-tiba berteriak berbarengan sambil memelukku yang berada di tengah-tengah mereka.

“Bakal ada seleb dalam keluarga kita, lho… ‘Sesuatu’ banget kan??” seru Donghae semangat.

“Geureom!” Eunhyuk mendukung partner-in-crime nya dengan sebuah tos.

“Heh, aku dulu juga seleb, tahu…” kata Jungsoo, tak rela harga dirinya jatuh di hadapan ipar-iparnya.

“Model aja sih ga masuk hitungan lho, Yeobo.” Kakakku, Ryeoru, memotong tajam. Jungsoo langsung jatuh tertunduk. Bahkan istrinya sendiri tidak mendukungnya… T.T

Aku ikut-ikutan menduduk, tapi pada kasusku, ini karena: kenapa juga sih aku harus ngomongin masalah ini dalam forum keluarga begini?? Apalagi dengan orang-orang kayak gini?? *lirik-lirik Eunhae*

“Kalau menurut aku sih, sebaiknya oppa terima aja deh.” Yora berkata bijak yang didukung oleh anggukan banyak kepala disana. Haah~ memang cuma dia dan Siwon orang yang waras disini selain aku. “Ini kesempatan yang bagus, lho. Apalagi datangnya dari Energy Entertainment. Energy Entertainment yang itu.”

Aku mengangkat bahu, “Begitukah? Well, yah, aku pikir-pikir lagi deh…”

“Tapi jangan lama-lama, Sungmin-ah.” Sepertinya Jungsoo sudah menemukan kembali kewarasannya. “Tawaran seperti ini ga akan datang dua kali, kan?”

Aku mengangguk.

“Dan… oh ya,” ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya. “…ini, tiket untuk premier kita besok, tolong kasih satunya untuk muridmu itu juga ya, siapa namanya lagi?”

“S—”

“Saera-chan.” Eunhyuk menduluiku lagi sambil nyengir. Chan? Apa mereka sudah betul-betul sedekat itu? Gah, bukan urusanku juga.

Jungsoo terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, “Simpan aegyo-mu dariku, Hyuk-ah. Menjijikan, tahu.”

***

Aku sedang menghadiri rapat tahunan dewan guru ketika aku mendengar fakta mengejutkan ini,

“Tidak diragukan lagi, siswa terbaik tahun ini harus kembali jatuh ke tangan Kim Saera lagi.”

“’Lagi’?” tanyaku pada sang guru flute, Lee Yoonji, di sebelahku.

“Um, dia sudah memegang gelar siswa terbaik di sekolah musik ini selama tiga tahun berturut-turut. Ini akan menjadi tahun keempatnya jika review para guru dan hasil ujiannya mendukungnya lagi.” jelasnya.

“Tapi dia bahkan masih Upper Basic di kelas saya, bukankah gelar siswa terbaik hanya bisa jatuh untuk level Intermediate ke atas?” argumenku.

“Jika dia lulus ujian akhir semester ini, dia akan naik menjadi Advance 2 di kelas saya, lho.”

“Eh? Dia ikut kelas Anda juga?”

“Dan kelas piano Yoo Seonsaeng dan kelas drum Geum Seonsaeng. Tapi flute itu spesialisasinya, makanya dia sudah berada di level setinggi itu. Dua tahun pertama dari gelar siswa terbaiknya didapatkannya dari kelas flutenya. Kelas saya.” Ia tersenyum. “Betul-betul jenius, dan tahun lalu ia mendapatkannya dari kelas pianonya, tebak kenapa. Hanya karena dia baru mencapai level Intermediate. Yoo Seonsaeng bilang, kalau saja bukan karena peraturan sekolah yang mewajibkan siswa terbaik berasal minimal dari kelas Intermediate, sudah sejak lama ia memberi Kim Saera gelar itu.”

“Tapi dia betul-betul tidak menunjukkan bakat spesial atau apapun itu di kelas saya…” aku terus menyanggah. Sungguh sulit dipercaya bahwa ada seorang jenius tepat di depan mataku, dan aku sama sekali tak menyadarinya.

Sang guru flute tertawa kecil, “Karena latarnya adalah klasik. Ia ikut kelas Anda dan Geum Seonsaeng hanya untuk memperkaya wawasannya, tapi tetap, bakatnya ada di klasik.” Ia tiba-tiba memelankan suaranya karena kepala sekolah kami yang sudah mulai memperhatikan kami. “Ah, Sungmin Seonsaeng mengajar piano juga, kan? Cobalah dengar ia bermain sekali waktu, luar biasa.” Ia mengedipkan mata sebelum kembali mendengarkan kembali rapat kami dengan seksama.

“Waeyo, Sae—Seonsaeng?” tanya Saera ketika aku (tanpa sengaja) malah melihatnya terus alih-alih memperhatikan permainan murid yang sedang melaksanakan ujian prakteknya ini.

“Ah, oh, aniyo.” Jawabku gugup. “Baik, cukup.” Aku menepuk bahu muridku untuk menghentikannya bermain. “Kim Saera.” panggilku.

Ia berjalan ke depan kelas sambil memeluk gitar hijaunya dengan riang. Dan ia bermain dengan lancar, harus kuakui, tapi tetap saja, belum menakjubkan. Betul-betul sulit dipercaya kalau ia adalah jenius di bidang instrumen klasik.

“Wae iraeyo, Seonsaeng?” sekarang pertanyaannya sudah terdengar sedikit jengkel karena memergokiku yang masih terus memperhatikannya teramat intens, bahkan ketika permainannya sudah selesai.

“Lee Seonsaeng-nim, dangshineun Saera eonnireul joh-ahaji? (Seonsaeng suka sama Saera eonni ya?)” salah satu muridku tiba-tiba berseru yang langsung memancing tawa yang lainnya termasuk Saera sendiri.

“Oh ya, Seonsaeng-nim?” Saera ikut bertanya, lebih pada menggoda, sepertinya.

“Y-Ya, mana mungkin seorang guru menyukai muridnya sendiri? Geumanhae, jigeum (sekarang hentikan).” Kataku tegas.

“Waeyo? Aahh, sayang sekali, padahal saya lumayan suka lho sama Seonsaeng.”

DEG!

Anak ini… Bagaimana mungkin dia bisa semudah itu mengatakan hal seperti tadi? Dan yang paling penting, kenapa juga hatiku jadi berdesir aneh mendengarnya??

“Aish, geumanharago (kataku berhenti).” omelku. “Berikutnya, Min Taejoon. Dan Saera-ssi, temui saya di ruang guru setelah kelas berakhir.”

Dan ia terus cemberut dalam perjalanannya kembali ke tempat duduknya…

 

Akhir kelas,

“Cheogiyo.” Saera mengintip ke dalam ruang guru setelah tak lupa mengetuk pintu. “Ah, Yoonji Saem, Lee Seonsaeng-eun eodiseyo?”

“Sungmin Seonsaeng?” tanyanya balik. Saera mengangguk. “Mejanya… ah, cheogi (disana), dekat grand piano itu. Kamu bisa lihat?” Yoonji menunjuk sebuah area kerja berbentuk kubus dengan plakat bertuliskan ‘Lee S.’ terpajang di salah satu dinding tripleksnya.

Saera membungkuk, “Gamsahamnida, Saem-nim!”

Yoonji, guru terakhir yang masih berada di sekolah itu selain Sungmin hanya membalas dengan senyuman, sebelum langsung melanjutkan langkahnya untuk pulang ke rumah, mengikuti jejak guru-guru lain yang telah pulang terlebih dulu.

“Seonsaeng?” Saera menyapa pelan sambil mengintip ke dalam area kerjaku. Aku berbalik. “Seonsaeng, joisonghamnida, saya ga akan berani bercandain Seonsaeng lagi.” Ia membungkuk dalam.

Aku tertawa kecil, “Ngomong apa sih kamu? Kemarilah, dan mainkan ini disana.” Aku memberinya selembar kertas partitur yang baru saja kutulis sambil menunjuk ke arah grand piano di belakangnya dengan daguku.

Fur Elise?” tanyanya kaget. “Tapi ini kan—”

“Main aja.” potongku. Akupun bangkit dan mendudukkannya di kursi piano.

Ia akhirnya setuju untuk bermain. Dan sejak sentuhan pertama tuts-nya… aku langsung menyadari kalau ia memang hebat. Fur Elise, lagu yang mudah, bahkan anak-anak TK pun sudah mempelajari ini di sekolah mereka. Tapi bagiku, lagu ini juga berbahaya. Lagu ini bisa menunjukkan kemampuan sesungguhnya dari seseorang, itulah mengapa aku selalu meminta murid-murid baruku untuk memainkan lagu ini sebelum ia boleh mengikuti kelasku, jadi aku bisa tahu sampai manakah dasarnya dalam piano.

Dan pada kasus gadis ini, aku tenyata betul-betul harus mengakui kalau para rekan guruku tidak hanya melebih-lebihkan tentangnya, dia memang betul-betul hebat. Dia punya ‘soul’ dan rasa percaya diri yang sangat terasa, yang juga merupakan kunci dari penampilan spektakulernya.

“Jalhanda (bagus sekali), Kim Saera.” Aku bertepuk tangan.

Ia tersenyum malu, “Hehe, gomapseumnida. Sudah lamaaaa sekali saya ga main lagu ini! Yoo Seonsaeng selalu meminta saya main nomor-nomor susah.”

“Jadi kamu suka lagu simpel, ya?” aku mengambil tempat duduk di sebelahnya, di atas satu kursi piano yang sama. “Kalau gitu, ayo kita mainkan satu lagu yang kamu suka. Lagu modern juga boleh.”

Ia mengerjapkan matanya tak percaya, “‘Kita’? Maksudnya kita bakal—” aku mengangguk. Ia tersenyum, “Kalau begitu, Bella’s Lullaby, dari film Twilight. Geu norae… araseumnikka (Seonsaeng tahu lagu itu)?”

Aku terkekeh, “Joh-a.” kataku sambil mulai bermain. Sebuah lagu yang selalu menemani Bella tertidur. Sebuah lagu yang diciptakan dan dimainkan sendiri oleh Edward Cullen hanya demi belahan jiwanya, Bella Swan. Saera masih terkejut.

“Ya, kamu ga akan bantu saya nih ceritanya?” protesku bercanda.

“Saya pikir Seonsaeng ga akan tahu lagu ini… ”

“Ya, apa maksudmu? Saya masih 25 tahun tahu, pastilah saya tahu lagu ini. Beda ceritanya kalau kamu tanyakan itu pada Yoo Seonsaeng-mu.” Jawabku, menyebut nama guru senior kami di sekolah ini.

Saera tertawa, “Andwae, Seonsaeng sama sekali ga terlihat seperti cowok umur 25!”

Aku mendelik, “Bocah ini! Seingat saya baru beberapa menit lalu ada yang bilang ga akan berani bercandain gurunya lagi.”

“Hahaha, tapi betulan deh, Seonsaeng-nim. Seonsaeng tuh cuma butuh rileks, rileks! Liat tuh urat-urat itu, cowok umur 25 tahun ga seharusnya seserius itu, ayolah!” ia masih tertawa. “Ah, saya suka sekali lagu ini.” ia tersenyum sambil memulai lagi Bella’s Lullaby-nya.

Aku menghela napas, betul-betul kalah dari gadis ini. “Aku juga.” Kataku kemudian, sambil bergabung dalam permainannya—lihat? Aku bahkan tanpa sengaja sudah kehilangan formalitasku dengan berkata ‘aku’ alih-alih ‘saya’. Ia menoleh dan tersenyum sambil menatap wajahku. Aku betul-betul tidak pernah menyangka akan menemukan teman pertamaku di Korea, dengannya aku bisa berbagi hobi yang sama hanya lewat sebuah Bella’s Lullaby.

 

<TBC>

 

huaahhh akhirnya posting juga… mianhae saya betul2 lagi ga bisa sering2 posting nih… padahal pengen banget… reader pada kangen ga ya? #PLAKK 😛

apapun itu, minumnya teh botol sosro jangan lupa komen, dan semoga suka! gomawo^^

Advertisements

29 responses to “[THE SERIES] Dia Bukan Untukku – Part 2

  1. Wah, onnie keren!
    Seneng liat komen” reader. Pada muji lola onnie. Saya turut bahagia. ^^
    buruan di post lanjutan.a onnie. Kesian nanti pada mati penasaran nungguin part selanjutnya. Kekeke~
    Stuju ama komen di atas *tunjuk”*, the series maunya happy ending terus. Yayaya? *puppy eyes *abaikan.
    Aduh, kayak.a aku mujinya kurang banyak. Tapi gpp deh, ntar kalo onnie terbang takut g bisa turun lgi. *PLAKK!
    Pokoknya lola onnie daebak! Fighting! ^^

  2. nunggu part slanjutnya publish, hahaha
    tpi seingetku saera itu bkannya sama hyuk *lee vs kim, ngambil ksimpulan sndiri*
    jadi gregetan sama sungmin -,-‘

  3. baru bs baca FF ini setelah beberapa hari g baca FF sama sekali..
    bagus bagt..
    apalagi seorang saera bs ngerubah sungmin yang kaku menjadi lebih rileks..
    ditunggu kelanjutannya y..

  4. hahah si kembar ada maksud dateng ke rumah teuki tapi yang ngmong cuman umin doank apa maksud itu kenapa gak di beberin semuanya aja hahahah

    setidaknya dirumah teuki gak pelit2 amat masih ada ceminlan nyangkut di kulkas kekekek #plak

    ya ampun seara bener otak apa otak itu semua kelas di lelep.. ><

    kayalnya part series umin lebih banyak ya autor???

    • oohh itu~ sebenernya yang ada maksud ke rumah teuki tuh cuma sungmin sama yora doang, laennya mah nyampah kkk~ *digantung*

      nih aku beberin 1-1 knp pada disitu:
      1. donghae: nungguin kunyuk buat minta anterin ke kantor (jadi mereka kan dikasih satu mobil berdua–itu juga sebenernya mobilnya ryeoru yang ditinggal dirumah kk~–jadi mereka uda janjian ketemuan di rumah teuki, dia bawa mobilnya dari rumah, di drop di kantor trus mobilnya dibawa pulang lagi sama kunyuk)
      2. eunhyuk: nebeng mobil teuki sampe rumahnya buat ketemuan sama donghae
      3. sungmin: udah ketauan kan 🙂
      4. yora+siwon: nah ini yang ga dijelasin hehehe. jadi yora mau minta backing-an ryeoru ke ortunya, soalnya dia mau nginep di kontrakannya siwon-yesung (lagi)

      gituuu~ (panjang ya hahaha)

  5. Pingback: [THE SERIES/ENG] I’LL MOVE ON AND LOOSEN UP – Part 2 | Super Junior and DBSK fanfics!^^·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s