Strong Girl for a Weak Boy – Part 7 (End-Epilog)

Strong Girl for a Weak Boy – Part 7 (End-Epilog)


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Kim Kibum

Kim Jiyoung a.k.a Joanne Peterson

Other cast       :           SHINee – Lee Jinki

f(x) – Jung Krystal

Genre             :           Romance, Action

Rating             :           PG-13

Length            :           Series

Disclaimer      :           Just own the story, not the casts

Previous         :           Part 1Part 2Part 3Part 4 Part 5 Part 6

+++

(Jiyoung P.O.V)

“Kau mau kan selamanya jadi penjagaku? Would you be mine?”

Deg.

Perkataan Kibum barusan membuat jantungku berdegup kencang. Apa aku tidak salah dengar? Seorang Kim Kibum?

“Please…” katanya lagi. Aku melirik sedikit ke arahnya dan, eh, wajahnya terlihat sangat memelas. Ottokhe?

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat akhirnya aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaannya. Aku menggigit bibir bawahku.

“Mianhae Kibum, aku tidak bisa…” jawabku hati-hati. Diam-diam aku memperhatikan reaksinya dengan ekor mataku.

“Hey, bukan jawaban itu yang ku inginkan. Ayo katakan, kau mau kan?” kali ini ia bangkit dari posisi tidurnya. Ia duduk di sana dan menatapku dengan tatapan ingin tahunya.

Sekali lagi aku menghela napas. Aku mencoba memikirkan kembali jawaban yang tepat. Aku bertanya pada lubuk hatiku yang paling dalam. Apa aku juga menyukainya?

Setelah aku memikirkannya, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku juga menyimpan perasaan padanya. Meskipun aku sendiri belum yakin perasaan apa itu.

“Sungguh, aku tidak bisa… Mianhae…” akhirnya ku putuskan untuk menolaknya. Yeah, ku rasa ini yang terbaik.

“Kenapa?” tanyanya lagi. Ia terlihat tidak ingin menerima begitu saja keputusanku.

“Karena aku tidak bisa. Kibum, aku ini bukan yeoja yang cocok untukmu. Latar belakang keluarga kita berbeda, apalagi kau dan aku memiliki aktivitas yang berbanding terbalik. Kau ingat kan, aku ini…” belum sempat aku melanjutkan perkataanku, tiba-tiba ia sudah memotongnya.

“Tidak masalah. Kalau hanya itu alasanmu, kenapa mesti dipersoalkan? Jangan membohongi dirimu, kau juga punya perasaan yang sama bukan?” ujarnya dengan semangat. Ia juga meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat. Omo… Sungguh situasi yang tidak pernah ku bayangkan saat bersama Kibum sebelumnya.

“Tidak bisa, Kibum. Persoalannya bukan hanya karena itu…”

“Hhh, lalu apa lagi?!”

“Ada sesuatu yang harus ku penuhi…”

“Hhh, terserah kau saja…” tiba-tiba ia melepaskan genggaman tangannya dariku. Ia juga memalingkan wajahnya, tidak ingin menatapku lagi. Melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah membuat hatiku sedikit teriris. Sakit juga.

“Kibum, mianhae…” aku memegang bahunya. Sama saja, ia tetap tidak ingin melihatku lagi.

Ia terdiam, seperti tidak lagi berminat untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya itu. Untuk kesekian kalinya aku menghela napas, namun kali ini terasa sangat berat.

Hhh, semuanya memang di luar kendaliku. Tapi apa boleh buat? Semoga keputusanku ini sudah tepat.

“Kibum, kalau begitu aku pamit dulu ya… Kau istirahat yang banyak, semoga cepat sembuh…” ucapku lirih. Aku menunggu reaksinya, berharap ia berbalik dan mau memaafkanku.

Tapi lama kelamaan aku menunggu, ia tetap tidak bergeming. Ia malah merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur dan mengambil posisi membelakangiku.

Kibum, apa kau sebegitu marahnya padaku?

Akhirnya aku membalikkan tubuhku dan berjalan menuju pintu.

Klek.

Aku memutar gagang pintunya perlahan. Aku kembali menoleh ke arah Kibum untuk terakhir kalinya. Masih sama, ia tetap terlihat tidak peduli.

Tanpa ragu lagi aku keluar melewati pintu itu dan berjalan menjauh dari kamar rawat Kibum.

“Jo?” sapa daddy-ku saat melihatku keluar dari ruangan itu dengan wajah yang ditekuk. Seketika itu pula aku langsung mengubah ekspresi wajahku dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kita pulang sekarang…” kataku pada daddy-ku. Ia terlihat mengerutkan keningnya, namun akhirnya memenuhi permintaanku.

Aku dan daddy-ku melangkah di sepanjang koridor rumah sakit menuju pintu keluar. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam.

Tiba-tiba tanpa ku komando, air mataku menetes dan mengalir di sepanjang pipiku. Buru-buru aku menghapusnya sebelum daddy sadar dan mendapatiku dalam keadaan seperti ini.

Aku terus memikirkan Kibum. Hhh, bukannya aku tidak ingin menerimamu Kibum. Hanya saja, aku akan dipindah tugaskan ke negara lain. Aku tidak mungkin menerimamu sementara kau dan aku harus terpisah jarak yang sangat jauh. Lagipula aku akan pergi dalam waktu yang cukup lama.

Semuanya karena masalah itu. Kinerjaku dinilai buruk semenjak kecelakaan itu. Itulah sebabnya mengapa pihak instansi akhirnya memilih untuk memindahkanku dengan harapan aku bisa memperbaikinya kembali. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu, tapi sepertinya kau sudah tidak ingin mendengarkannya.

+++

(Kibum P.O.V)

Klek.

Aku mendengar suara gagang pintu yang diputar. Hhh, sepertinya Jo sudah ingin pulang. Ingin sekali rasanya aku menghampirinya, namun aku terlanjur kecewa. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengacuhkannya hingga ia benar-benar menutup kembali pintunya dan berjalan menjauh dari ruangan ini.

Kenapa tidak bisa? Apa yang salah dengan perbedaan itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk di pikiranku tanpa ada jawaban yang jelas.

Air mata yang sedari tadi ku tahan di pelupuk mata akhirnya tidak bisa ku bendung lagi. Aku membiarkannya jatuh dan mengalir dengan bebas hingga membasahi bantalku.

Kim Kibum, kau ini kenapa? Hanya persoalan yeoja hingga membuatmu secengeng ini? Hhh, sulit ku percaya. Yeoja itu sudah benar-benar mengubahku.

Tapi tenang saja, aku tidak akan terus berlarut-larut dalam keadaan seperti ini. Kalau memang kau tidak bisa menerimaku, aku juga akan berusaha untuk melupakanmu.

+++

(Jiyoung P.O.V)

“Jo, besok kau sudah bisa diberangkatkan ke Amerika…”

“Mwo?!” aku membelalak kaget saat mendengar perkataan daddy-ku itu.

“Kenapa? Ada yang salah?” tanya daddy-ku dengan wajah bingungnya.

“Secepat itu?” tanyaku meyakinkan. Aku memang sudah tahu kalau aku akan diberangkat ke Amerika, tapi aku tidak pernah menyangka kalau aku akan berangkat secepat itu. Besok!

“Yes. Bukannya lebih cepat lebih baik? Lagipula orang-orang di sana sudah tidak sabar menantikan kedatanganmu. Hmm, daddy yakin kau akan menjadi agen wanita yang sangat hebat” kata daddy sambil mengacungkan jempolnya ke arahku.

Aku tidak begitu tertarik menanggapi perkataannya barusan. Aku hanya bias diam mematung sambil memikirkan nasibku besok.

“Hey?” daddy membuyarkan lamunanku.

“Ya daddy?”

“Jangan bilang kalau kau ingin mengubah keputusanmu? Daddy perhatikan, sepertinya kau terlihat ragu…” kata daddy dengan nada curiga.

“Ah tidak tidak… Aku sudah yakin ingin berangkat ke sana!” aku membantah perkataannya dengan cepat sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Ya sudah, kalau begitu cepat kemasi barang-barangmu. Besok pagi kau sudah harus tiba di bandara. Mengerti?”

“Ne…” kataku akhirnya dan segera berjalan menuju kamarku. Sesampainya di kamar, aku langsung membereskan barang-barang yang akan aku bawa besok.

Tiba-tiba aku teringat pada Kibum. Kira-kira apa ia tahu kalau sebentar lagi aku akan pergi?

Hhh, sepertinya ia sudah tidak peduli lagi padaku.

+++

(Kibum P.O.V)

“Akhirnya kau bisa kembali pulang nak…” sambut eomma-ku saat aku tiba di rumah. Aku hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan eomma.

Aku langsung melangkah menuju kamarku. Hhh, saat ini aku sedang malas melakukan kegiatan apapun. Tiba-tiba langkahku terhenti di depan sebuah ruangan. Aku menatap pintu ruangan itu lama. Hhh, bekas kamar yang pernah ditempati Jo saat masih bekerja padaku.

“Ada yang bisa ku bantu tuan?” tiba-tiba seorang pelayan muncul di dekatku. Aku menoleh padanya dan berpikir sebentar.

“Apa kau tahu dimana keberadaan Jo sekarang?” entah kenapa hanya pertanyaan itulah yang satu-satunya melintas di kepalaku.

“Tidak tahu tuan…”

“Oh, ya sudah kalau begitu” kataku padanya lalu kembali bergegas menuju kamarku. Setibanya di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku kembali memikirkan Jo. Hhh, yeoja itu… Kenapa masih terus memikirkannya? Padahal aku sudah berusaha untuk melupakannya.

Aku kembali bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa aku benar-benar bisa melupakannya?

Aku lalu meraih ponselku dan mencari nomor telepon instansi tempat dimana ia dilatih. Sepertinya aku masih menyimpan nomor teleponnya.

“Nah ini dia!” gumamku lalu segera menghubungi nomor itu.

“Ada yang bisa ku bantu?” jawab seseorang di seberang sana.

“Apa Kim Jiyoung ada di sana?”

“Maaf, tapi Kim Jiyoung sudah dipindahkan ke Amerika”

“Mwo?! Jadi ia sudah tidak ada di Korea?”

“Hari ini adalah hari keberangkatannya. Sepertinya sebentar lagi pesawatnya akan berangkat…”

“Mwo?!”

Klik.

Tanpa pikir panjang aku memutuskan sambungan teleponnya dan segera berlari keluar rumah.

“Kibum-ah! Mau kemana lagi kau?!” seru eomma-ku saat melihatku sedang tergesa-gesa.

“Jangan khawatir eomma!” kataku lalu menyuruh sopir untuk mengantarku menuju bandara.

Brakkk!

Aku membanting pintu mobil dengan kasar.

“Bawa aku ke bandara. PALLI!”

+++

(Jiyoung P.O.V)

“Jo, daddy yakin kau bisa jadi lebih baik di sana. Good luck!” kata daddy sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku hanya mengangguk kecil menanggapinya.

“Ya sudah, daddy aku berangkat” kataku pada daddy lalu menghambur memeluknya. Setelah pamit, aku akhirnya bergegas sebab sebentar lagi pesawatku akan berangkat.

“JO!” seseorang berseru memanggil namaku saat aku baru saja ingin melangkahkan kakiku. Aku menoleh dan mendapati seorang namja sedang berlari tergesa-gesa ke arahku. Aku memicingkan mataku, mencoba melihat dengan jelas siapa namja itu.

“Kibum?” gumamku ragu saat namja itu mulai mendekat.

“Siapa dia?” tanya daddy-ku. Aku tidak menghiraukan pertanyaannya dan terus saja memperhatikan namja itu hingga akhirnya namja itu tiba di hadapanku. Omo… Itu benar-benar Kibum. Tapi, bagaimana bisa?

“Hoshh… Hosshhh…” ia memegang lututnya sambil mengatur napasnya. “Jo!”

“Eh? Darimana kau tahu kalau aku ada di sini?” tanyaku heran dan sedikit ragu. Aku masih belum yakin sebab aku pikir namja ini sedang marah padaku.

“Aish… Itu sama sekali tidak penting!”

“Memangnya ada apa?” tanyaku bingung.

Pletakk!

Tiba-tiba ia menjitak kepalaku.

“Awww…” aku meringis sambil mengusap-usap bekas jitakannya. “Hey kau ini kenapa?!” seruku emosi.

“Kau itu yang kenapa?! Kau ingin pergi dan tidak mengabariku huh?!” ujarnya tak kalah emosi.

“Apa pedulimu? Aku pikir hal itu tidak penting lagi bagimu…”

“Pabo!”

“Arrrghh! Kau hanya membuang-buang waktuku saja!” seketika itu pula aku kembali menenteng koperku dan berlalu meninggalkannya.

“Hey girl…” ia langsung memegang lenganku hingga membuatku berhenti berjalan. Aku menoleh dan memasang ekspresi tidak peduli.

“Ada apa lagi?! Kalau kau masih ingin bertengkar, maaf aku tidak bisa! Aku…”

Cup.

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, ia tiba-tiba mengunci mulutku dengan bibirnya. Mendadak aku merasakan aliran darahku berhenti total. Tubuhku dingin dan mematung, sementara ia masih saja menempelkan bibirnya di bibirku.

“Hey boy! What are you doing huh?!” tiba-tiba daddy-ku mendorong tubuh Kibum hingga membuatnya tersungkur ke belakang. Aku sama sekali tidak bisa bereaksi apa-apa, terlalu kaget dengan apa yang baru saja terjadi.

Kesadaranku akhirnya kembali saat daddy-ku sudah mengambil ancang-ancang untuk memukulnya.

“Stop!” aku mencegahnya sebelum daddy melayangkan tinjunya. Aku mendekat dan memisahkan mereka dalam jarak yang agak jauh.

“Daddy, tunggu di sini sebentar!” kataku seraya menyuruh daddy untuk duduk kembali di bangku yang ada di dekat itu. Setelah daddy mengikuti perintahku, aku kembali menghampiri Kibum.

Bughhh!

Aku melayangkan satu tinjuku tepat di pipi kirinya. Ia hampir saja terhuyung namun dengan cepat aku menopang tubuhnya agar tidak jatuh.

“Aaaaaa Jo kau tega sekali!” rintihnya sambil terus memegangi pipi kirinya. Aku hanya menyeringai lebar ke arahnya.

“Itu karena kau terlalu lancang! Lagipula masih mending aku yang memberimu pelajaran… Coba bayangkan kalau daddy-ku yang harus turun tangan, hhh, aku tidak yakin kalau wajahmu masih berbentuk…” ujarku sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Ku dengar ia hanya mendengus kesal.

“Ne, ya sudah. Aku minta maaf… Jo, kau tidak akan pergi kan?” tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan.

“Eh? Tentu saja aku harus pergi…” tiba-tiba suasana berubah menjadi canggung. Ekspresi jahilnya kini sudah digantikan dengan ekspresi yang terlihat, errr, sedih?

“Jangan pergi, aku membutuhkanmu… Apakah ini alasan mengapa kau tidak bisa menerimaku?” ucapnya lirih. Tiba-tiba ia berlutut di hadapanku lalu meraih kedua tanganku.

“Tapi…”

“Tapi aku tidak yakin bisa menjalani hari-hariku ke depannya tanpamu… I need you girl” katanya lagi. Ia menatapku tajam dan perlahan-lahan matanya terlihat berkaca-kaca.

“Hey, dasar cengeng. Jangan menangis!”

“Kau yang cengeng…” ia berdiri dari posisi berlututnya lalu mengusapkan telapak tangannya di pipiku. Arrggh! Kenapa malah air mataku yang menetes lebih dulu!

Aku kembali memperhatikannya. Perlahan-lahan air matanya juga menetes di sepanjang pipinya. Tiba-tiba aku menarik tangannya dari pipiku lalu menghambur ke pelukannya. Aku menangis sejadi-jadinya di sana. Aku membuat bajunya basah, namun sepertinya ia tidak peduli. Aku membenamkan wajahku di dadanya sementara ia membalas pelukanku dan mengusap rambutku pelan.

“Sudah ku duga, kau pasti punya perasaan yang sama padaku…” gumamnya di dekat telingaku.

“Ne, Kim Kibum. Sekarang aku sudah menyadarinya, aku… Aku mencintaimu” ujarku sambil terus terisak.

“Kalau memang kau mencintaiku, kau akan tetap tinggal di sini kan?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Aku memang mencintaimu, tapi tidak ada pilihan lain. Aku sudah harus pergi…”

“Jo, pesawatnya sebentar lagi berangkat. Untuk apa kau meladeni anak itu!” tiba-tiba daddy menghampiriku dan memaksaku untuk pergi. Daddy menarikku agar menjauh dari Kibum. Kibum sempat menarik tanganku, namun daddy terus memaksaku hingga akhirnya aku benar-benar terpisah darinya. Aku hanya bisa menatapnya nanar.

“Baik-baik di sini ya Kibum. Ingat, jangan jadi namja yang cengeng lagi, tidak boleh manja ya…” hanya itu kata-kata terakhir yang bisa keluar dari mulutku. Aku terus berjalan namun masih tetap menengok ke arahnya.

“Jo! Kau mau pergi sampai kapan?! Kau pasti kembali kan?! Hey girl, aku pasti menunggumu!” ia berteriak kencang ke arahku. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum tipis ke arahnya sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang dari pandanganku.

Selamat tinggal namja cengeng.

+++

(Kibum P.O.V)

Aku terus memeluknya erat, sangat erat seakan takut suatu saat nanti aku bisa kehilangannya. Dan yang paling membuatku sedih, ia terus menangis di pelukanku.

“Kalau memang kau mencintaiku, kau akan tetap tinggal di sini kan?” tanyaku padanya, berharap ia akan berubah pikiran,

“Aku memang mencintaimu, tapi tidak ada pilihan lain. Aku sudah harus pergi…”

Aku hanya bisa menghela napas berat sambil terus memeluknya erat. Andwae… Jangan seperti itu…

“Jo, pesawatnya sebentar lagi berangkat. Untuk apa kau meladeni anak itu!” tiba-tiba appa-nya datang menghampiri kami dan menarik Jo dengan paksa. Aku mencoba untuk menahannya, namun percuma sebab ia akhirnya lepas dari genggamanku.

“Baik-baik di sini ya Kibum. Ingat, jangan jadi namja yang cengeng lagi, tidak boleh manja ya…” katanya padaku sebelum ia benar-benar menjauh.

“Jo! Kau mau pergi sampai kapan?! Kau pasti kembali kan?! Hey girl, aku pasti menunggumu!” aku berteriak sekencang mungkin ke arahnya yang sudah jauh dariku. Sepertinya ia mendengarnya, sebab ia menoleh padaku dan tersenyum ke arahku sambil melambaikan tangannya.

Akhirnya ia kembali melangkah hingga aku tidak bisa lagi melihat sosoknya.

‘Hhh, baiklah, aku akan menunggumu super girl!’ batinku sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipiku.

 

 

THE END

+++

EPILOG

Sepuluh tahun kemudian…

(Jiyoung P.O.V)

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Akhirnya aku kembali menginjakkan kakiku di kota ini. Hmm, lumayan banyak yang berubah. Aku kemudian memutuskan untuk berkeliling-keliling sebentar untuk kembali mengingat-ingat daerah ini. Ck, sepertinya banyak yang harus aku kunjungi. Sepuluh tahun meninggalkan Seoul membuat ingatanku sedikit kabur.

Aku mulai berjalan di sepanjang trotoar jalan sambil sesekali memperhatikan ke kiri dan ke kanan. Rupanya banyak bangunan baru yang sudah didirikan, sebab seingatku dulu tempat ini masih lumayan sepi. Di sudut jalan bahkan terdapat pengerjaan bangunan baru. Saat aku melewatinya, debu-debu beterbangan ke arahku hingga membuatku harus merogoh tas jinjingku untuk mengeluarkan kacamata hitamku. Hhh, dasar… Polusi di mana-mana.

“KYAAAAAA PENCOPET!!” tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan histeris yang berasal dari seorang ahjumma. Aku mencoba untuk melongokkan kepalaku dan mencari-cari orang yang dimaksud ahjumma itu.

Tiba-tiba seorang namja berlari melintasiku dengan cepat. Tanpa pikir panjang lagi aku segera berlari mengejar namja itu.

“Ya! Berhenti kau!” seruku kencang pada namja pencopet itu. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengejarnya. Ck, kecepatan berlarinya hebat juga.

“Ya! Jangan kabur!” aku terus mengumpatnya, namun ia tetap tidak bergeming. Ia terus berlari menerobos setiap orang yang dilewatinya.

Bughh!

“Aaa mianhae…” kataku seraya membungkuk pada yeoja yang baru saja aku tabrak. Belum sempat ia menanggapiku, aku kembali melanjutkan pengejaranku.

Tidak terasa sudah hampir lima menit kami melakukan aksi kejar-kejaran itu. Namja itu berlari dengan sangat kencang hingga membuat jas yang ia gunakan dikibar-kibarkan oleh angin.

Jarak antara aku dan namja itu cukup jauh juga, namun tiba-tiba ia berhenti berlari dan mengatur napasnya sambil memegangi lutut.

‘Kesempatan bagus!’ gumamku dalam hati sambil menambah kecepatan lariku.

“Rasakan ini!” aku melompati tubuh namja itu dari belakang hingga membuatnya ambruk di atas jalan. Ia jatuh dalam posisi menghadap tanah. Tanpa pikir panjang lagi aku duduk di atas punggungnya dan mengunci kedua tangannya ke belakang.

“Aargghhh…” ia meringis kesakitan saat aku menekan kedua tangannya.

Plakk!

Aku menampari pipi kanannya dalam posisi masih duduk di punggungnya.

“Hey, zaman seperti ini pencopet di Korea semakin meningkat saja huh?!” kataku sewot lalu menampar pipinya sekali lagi.

Plakk!

“Awww…” ia meringis kesakitan namun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berusaha untuk menoleh ke arahku dan saat ia menampakkan setengah wajahnya, aku terkejut bukan main.

“Kibum?!” seruku tidak percaya dengan namja yang ku tangkap ini.

“Ya! Kenapa kau malah menangkapku…” rintihnya ke arahku. Dengan cepat aku turun dari punggungnya dan membantunya untuk berdiri.

“Hey, kau mencopet?” tanyaku curiga padanya.

“Apa maksudmu?! Memangnya kau siapa huh?!” umpatnya kesal ke arahku. Ah aku baru ingat. Dengan cepat aku melepaskan kacamata hitam yang sedari menutupi mataku.

“Omo… Kau… Jo?!” serunya sambil menunjuk-nunjuk wajahku. Aku hanya menanggapinya dengan memamerkan sederetan gigiku.

“Ne, tapi, bagaimana bisa?” kataku dengan nada curiga. Astaga, jangan katakan kalau namja ini benar-benar mencopet! Seketika itu pula aku langsung membelalakkan mataku, tidak percaya dengan kenyataan ini. Hey, bukannya Kibum itu golongan konglomerat?!

Pletak!

Tiba-tiba ia menjitak kepalaku dengan sangat keras. Aku hanya bisa mengelus-elus kepalaku dan menatapnya bingung.

“Kau ini harusnya lihat-lihat dulu! Bukan aku pencopetnya! Tadi aku juga sedang mengejar pencopetnya yang asli, kau malah menyangka yang bukan-bukan!” gerutunya penuh emosi.

“Hah? Bukannya…”

“Bukan! Lihat di sana! Itu dia pencopetnya!” katanya seraya menunjuk seseorang yang sedang melompati pagar pembatas yang jaraknya sudah jauh dari tempat kami berdiri.

“Haaa… Kenapa kau tidak bilang?!”

“Kau mengacaukan semuanya! Padahal tadi aku sudah hampir menangkapnya. Hhh, kau malah mengejar orang yang sedang mengejar pencopet aslinya… Ya! Kau bahkan menampar pipiku berkali-kali…” ujarnya sambil memegangi pipi kirinya. Bibirnya yang bergerak-gerak dengan lincah itu membuatku menahan tawa. Aigo… Sifatnya yang cerewet ternyata masih melekat.

“Huhuu… Mianhae, aku sungguh tidak tahu…” kataku penuh rasa bersalah. “Tapi bagaimana bisa kau ada di tempat ini?”

“Ck, aku hanya kebetulan sedang berada di sekitar sini…”

Beberapa saat kemudian terdengar suara sirine mobil melolong membelah keributan yang tercipta akibat insiden pencopetan itu. Muncul serombongan berseragam polisi yang turun dari mobil patrolinya, membuat beberapa orang harus menyingkir untuk memberinya jalan.

Doorrrr!

Polisi itupun melakukan aksinya dengan cepat. Mereka akhirnya berhasil menangkap si pencopet walau harus melayangkan sebutir peluru di kakinya. Selanjutnya, salah seorang dari rombongan polisi itu berlari mendekat.

“Semuanya sudah beres!” kata salah seorang polisi itu sambil mengambil posisi hormat pada, errr, Kibum?

“Bagus. Selanjutnya usahakan untuk menindaklanjuti kasus ini secepatnya. Kalian juga perlu mengikutkan korban untuk memberikan kesaksian” Kibum menanggapinya.

“Baik detektif Kim. Kalau begitu kami permisi dulu” ujar polisi itu lalu pamit undur diri dan segera kembali pada rombongannya.

Aku hanya bisa menatap Kibum heran dan sedikit terkejut.

“Wae?” tanyanya sambil mengangkat alisnya saat ia menyadari tatapan anehku padanya.

“Detektif Kim? Kau…” aku menggantungkan kata-kataku dan terus menatapnya tidak percaya. Ia lalu merapikan jasnya dengan gaya yang terkesan angkuh.

“Sulit ku percaya…” kataku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Ya! Kau ini kenapa? Sepertinya kau keberatan dengan profesiku sekarang…” ia memasang tampang menyelidiknya.

“Bagaimana bisa seorang Kibum…”

“Hey, kau terlalu meremehkanku girl…”

“Girl? Ya! Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Aku ini sudah dewasa…” ujarku sedikit sewot. Aku lalu menyilangkan kedua tanganku di depan dada.

“Dewasa? Benarkah?” ia ikut menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia lalu bergerak semakin mendekat ke arahku. Semakin dekat, hingga jarak antara kami berdua hanya terpaut beberapa senti. Ia menjelajahi setiap bagian dari diriku dengan tatapannya itu hingga membuat jantungku tiba-tiba berdetak tidak karuan.

Deg. Deg. Deg.

Aish, apa yang namja ini lakukan?!

“Ya! Apa yang kau lakukan?” kataku sambil melempar pandanganku ke arah lain, tidak berani menatapnya yang terus-terusan memperhatikanku dengan tatapannya yang sulit ku artikan.

“Wae? Ada yang salah? Sudah lama aku tidak bertemu denganmu. I miss you girl…” ujarnya lembut.

Blush.

Aku merasakan telingaku memanas dan pipiku memerah, belum lagi jantungku yang berdetak tidak karuan. Omo… Namja ini!

Saat aku masih sibuk menutupi rasa maluku, ia tiba-tiba menarikku dan memaksaku untuk mengikuti langkahnya.

“Hey, mau ke mana?”

+++

Ternyata ia membawaku ke sebuah café yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tadi. Ia memilih untuk mengambil tempat di sudut ruangan lalu menyuruhku untuk duduk. Ia kemudian duduk berhadapan denganku.

“Aku kenyang…” kataku padanya.

“Oh, ya sudah, kalau begitu tidak usah makan” katanya cuek.

“Lalu untuk apa kau mengajakku ke tempat ini huh?”

“Ck, sabar dulu, tidak usah terlalu buru-buru. Yakin tidak ingin makan sesuatu? Biar aku pesankan…”

“Tidak usah! Cepat katakan untuk apa kau mengajakku ke tempat ini?”

“Hhhh…” ia menghela napas sebentar. Aku terus memandangnya dengan tatapan penuh menyelidik.

“Setelah sepuluh tahun tidak bertemu, akhirnya aku bisa kembali melihatmu…”

“…”

“Apa kau masih ingat saat terakhir waktu kita berpisah dulu? Di situ aku mengatakan kalau aku akan menunggumu bukan?”

“…”

“Sekarang kita sudah bertemu kembali. Hhh, sepertinya penantianku sudah harus berakhir sampai di sini…”

“…”

“Ya! Kenapa dari tadi kau diam saja!” tiba-tiba suaranya membuatku tersentak kaget.

“Lalu aku harus berkata apa?”

“Hhh, kau ini…” katanya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Tapi sekarang aku sudah tidak ingin memintamu untuk menjadi pacarku lagi…”

Aku sedikit terkesiap saat mendengar perkataannya barusan. Tidak ingin menjadi pacarku? Kenapa? Padahal aku kembali ke negara ini hanya untuk menemuinya.

“Hey, bukannya kau sendiri yang mengatakan kau akan menungguku?” kataku tiba-tiba. Sungguh, perkataannya barusan membuat hatiku terasa tersayat.

“Memang”

“Lalu apa maksudmu?”

“Ne, sekarang aku tidak akan mengatakan ‘would you be mine?’ lagi, sebab waktu itu kau terus menolakku…”

“…” aku terus terdiam, tidak tahu lagi harus berkata apa. Semakin jauh, arah perbincangan kami makin terasa tidak menyenangkan bagiku. Aku lalu memalingkan wajahku, tidak ingin menatapnya.

“Tapi sekarang aku akan menggantinya dengan ‘I will marry you!’… Ingat, itu bukan pertanyaan, jadi aku tidak perlu menunggu jawaban apapun darimu. Arachi?”

Seketika itu pula aku langsung menoleh kembali ke arahnya. Apa yang barusan ia katakan? Apa aku tidak salah dengar?

“Maksudmu?”

“Marry you, I will!”

Tanpa aba-aba tiba-tiba air mataku langsung jatuh membasahi pipiku. Aku hanya bisa terdiam, tidak tahu kata-kata apa yang harus ku keluarkan dari mulutku ini. Kata-katanya barusan sudah membuatku sangat terharu. Ne, aku tidak salah dengar!

“Aigo… Sejak kapan kau jadi cengeng seperti ini huh? Jo yang ku kenal adalah wanita yang kuat…” ujarnya sambil tersenyum lalu mengusap pipiku yang basah dengan telapak tangannya.

+++

(Kibum P.O.V)

“Kibum-ah, cepat. Sebentar lagi acaranya akan dimulai!” seru eomma-ku panik. Aku hanya melemparkan senyumku ke arahnya.

“Sabar eomma, sebentar lagi…”

Sekali lagi aku berdiri di depan sebuah cermin berukuran besar. Aku memutar-mutar tubuhku dan memperhatikan setiap detailnya, dan saat aku sudah yakin kalau semuanya sudah sempurna, aku berjalan menghampiri eomma yang terlihat sudah tidak sabaran.

“Aku sudah siap eomma…” kataku pada eomma. Ia lalu menoleh dan tersenyum ke arahku.

“Aigo… Kau ini sangat tampan. Hhh, sulit ku percaya kau akhirnya menikah dengan yeoja itu…”

“Eomma…”

“Ne ne, apapun yang membuatmu bahagia. Ya sudah, cepat keluar! Orang-orang sudah menunggumu!”

Aku kembali tersenyum dan berjalan berdampingan dengan eomma menuju tempat di mana aku akan mengikat janji dengan seorang wanita. Bukan wanita biasa, ia sudah membuatku menunggunya selama bertahun-tahun.

Aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan itu dan di saat itulah semua pandangan tertuju padaku. Sesekali aku mencoba untuk mengatur napasku. Aigo… Kenapa aku jadi segugup ini?

Aku lalu mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Ternyata jumlah tamu yang hadir lebih banyak dari yang ku kira. Eomma mengantarku sampai ke depan, lalu setelah itu ia bergegas menyusul appa yang sedari tadi sudah duduk di kursi bagian terdepan. Aku terus berdiri di depan sembari menunggu seseorang yang sangat spesial itu. Ck, lama sekali. Lagi-lagi ia membuatku menunggu. Ya sudahlah.

Beberapa saat kemudian, dari arah pintu muncul seorang wanita bergaun putih yang berjalan beriringan dengan seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah appa-nya sendiri. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya, sebab ada kain putih yang terjuntai panjang dari kepalanya hingga menutupi wajahnya.

Saat ia sudah berjalan sampai ke tengah ruangan, kali ini aku yang berjalan menyusulnya. Aku menjemputnya dengan mengulurkan tangan kananku padanya. Pria yang sedari tadi mendampinginya menyerahkan tangan wanita itu ke telapak tanganku. Aku menerimanya dan menggenggamnya dengan erat, setelah itu aku berbalik dan kembali mengajaknya untuk maju ke depan.

Setibanya di depan, kami berdua saling berhadapan. Perlahan-lahan aku mencoba untuk membuka penutup wajahnya.

Deg. Deg. Deg.

Jantungku sudah berdetak tidak karuan. Sumpah, aku gugup sekali! Tanpa ku komando jariku tiba-tiba gemetaran saat menyentuh kain penutup wajahnya itu. Setelah mengatur napas sedemikian rupa, aku akhirnya berhasil membukanya.

Blush.

Aku merasakan wajahku seketika memerah saat melihat dengan jelas wajah yang ada di balik penutup yang sedari tadi menghalangi itu. Astaga, aku tidak bisa memungkiri kalau wanita di hadapanku ini terlihat sangat, errrr, cantik. Ku lihat ia juga tersenyum sambil menundukkan wajahnya, membuatku terpengaruh untuk juga menyunggingkan senyumku padanya. Senyuman yang manis, pipi yang bersemu merah, mata bening yang menatap ke arahku, serta wajahnya yang beraksen campuran timur barat, hhh, you’re so beautiful my princess.

+++

(Jiyoung P.O.V)

“Betapa beruntungnya diriku” gumamnya pelan namun masih bisa terdengar dengan jelas di telingaku. Hhh, anak ini, ia hanya semakin membuatku tersipu.

“Kim Kibum, apakah kau bersedia menjadi suami Kim Jiyoung dan senantiasa mendampinginya, baik dalam suka maupun duka hingga ajal memisahkan kalian berdua?”

Deg. Deg. Deg.

Aku tidak bisa menyembunyikan rasa gugupku, terlebih lagi rasa bahagiaku. Dengan mantap Kibum menyanggupi semua pertanyaan yang dilimpahkan padanya, begitu pula dengan diriku.

Akhirnya kami berdua resmi mengikat janji sehidup semati. Kami kembali berhadapan. Ia meraih tangan kananku dan menyematkan sebuah cincin berlian di jari manisku, lalu setelah itu aku melakukan hal yang sama padanya.

Seketika suara tepuk tangan menggema di penjuru ruangan. Kibum lalu menatap mataku sangat dalam, dan lagi-lagi aku hanya bisa menunduk sambil menyembunyikan wajahku yang sedari tadi sudah memerah. Tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga kini ia mengecup keningku lembut. Suasana ruangan mendadak jadi hening.

Cup.

Aku memejamkan mata dan mencoba meresapi kehangatan yang menjalar dari bibirnya. Ia mengecup keningku lama hingga akhirnya ia melepaskan bibirnya dari keningku.

Suara tepuk tangan dan teriakan menggoda dari para hadirin seketika kembali bergema. Aku dan Kibum hanya tersenyum sambil sedikit tersipu.

“Kisseu! Kisseu! Kisseu! Kisseu!” tiba-tiba hadirin kembali bersorak-sorak heboh. Omo… Kisseu?!

Mendadak tubuhku jadi panas dingin. Kibum terlihat menggaruk-garuk kepalanya sementara para hadirin semakin bersorak-sorak seakan terus mendesak. Tiba-tiba Kibum kembali mendekatkan wajahnya ke arahku hingga membuat para hadirin semakin berteriak histeris.

Omo… Jangan sekarang… Aku malu! Please please…

Cup.

Oh no! Semuanya sudah terjadi. Kibum kini sudah mendaratkan bibirnya ke bibirku. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya.

Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menamparnya lagi? Atau mendaratkan tinjuku ke wajahnya?

Anniyo… Dia itu suamiku.

Akhirnya aku memutuskan untuk membuang rasa maluku dan membalas ciumannya. Aku lalu melingkarkan jariku di lehernya dan mencoba merasakan kembali kehangatan yang menjalar dari bibirnya.

+++

(Kibum P.O.V)

Selanjutnya kami mengadakan pesta pernikahan. Banyak sekali tamu yang hadir. Tamu dari pihak Jo saja sudah lumayan banyak, apalagi tamu dari pihakku. Sudah hampir setengah hari aku dan Jo berdiri di tempat ini sambil menyambut ucapan selamat yang datang dari tamu satu per satu.

“Sudah lupa denganku huh?” seorang lelaki tiba-tiba menghampiriku lalu menjabat tanganku. Aku menyambut jabatan tangannya sambil terus mencermatinya dari atas sampai ke bawah dan memperhatikan wajah dengan seksama. Siapa? Apa aku pernah mengenal lelaki ini?

Lelaki itu lalu tersenyum ke arahku sambil memamerkan gigi kelincinya hingga membuat matanya hanya tersisa segaris. Tunggu dulu, sepertinya aku ingat dengan ciri-ciri itu.

“Aha! Aku ingat! Kau Jinki kan?!” seruku dengan kencang dan sontak membuat beberapa orang yang ada di dekatku kaget, termasuk Jo.

“Hahaha. Ternyata kau masih ingat padaku” katanya sambil tertawa. Aku lalu melirik ke arah anak kecil yang sedari tadi mengekornya.

“Siapa jagoan kecil ini? Anakmu?” tanyaku padanya sambil mengusap-usap kepala anak laki-laki itu. Jinki hanya mengangguk-angguk sambil terus tersenyum.

“Wow. Ternyata kau sudah lebih dulu berkeluarga…” aku tertawa sambil menepuk-nepuk bahunya.

Bughh!

Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang meninju perutku.

“Awww…” aku meringis pelan dan mendapati anak kecil yang sedari tadi bersama Jinki sedang menyeringai lebar ke arahku.

“Astaga anak ini! Aigo, jangan nakal nak” tiba-tiba muncul seorang wanita yang terlihat berlari-lari kecil ke arah anak itu. Ia lalu berjongkok dan menasehati anak itu.

“Hahahaha… Mianhae Kibum, anak itu cukup hiperaktif dan tidak terkendali… Hahahaha…” kata Jinki sambil tertawa.

“Hhh, melihat tingkah anak itu, aku jadi ingat sifatmu yang dulu. Aku yakin anak itu pasti mewarisi kepribadianmu…” kataku sambil memamerkan sederetan gigiku ke arahnya.

“Hahaha… Aigo, tidak usah mengungkit masa lalu yang kelam itu”

“Ne, aku juga sudah melupakannya. Ngomong-ngomong, dia istrimu? Bukankah itu Krystal?” kataku sambil menunjuk wanita yang sedang mengurusi anak kecil itu dengan daguku.

“Ne, dia Krystal. Dunia benar-benar sempit ya…”

“Hehehe… Sempit? Benarkah?” kataku padanya dengan nada bercanda.

“Ne. Buktinya kau juga menikahi wanita itu. Bukankah dulunya ia murid pindahan? Tapi seingatku, dia hanya sempat bersekolah di tempat kita selama beberapa hari. Bagaimana bisa?”

“Hhh, ceritanya panjang. Ya sudah, kapan-kapan akan ku ceritakan” kataku pada Jinki.

“Ternyata anakku yang tampan itu menikah dengan anakmu…” tiba-tiba perhatian kami tertuju pada sebuah keributan kecil yang ternyata berasal dari eomma-ku. Ia berjalan mendekati daddy Jo yang sedang asyik duduk menyendiri.

“Me too! Aku juga tidak menyangka putriku yang hebat itu harus menjadi istri anakmu…” daddy Jo menimpali. Mereka berdua sama-sama terlihat memasang tampang tidak peduli, namun keduanya masih terus melemparkan pendapat masing-masing seperti tidak ingin kalah.

“Hmm, anakmu sangat beruntung memiliki suami seperti Kibum…” ujar eomma-ku sambil mengibaskan tangan kanannya pada daddy Jo.

“Yeah, bukankah sebaliknya? Anakmu yang beruntung memiliki istri seperti Jo. Hhh, how pity Jo…” kata daddy Jo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mwo?!” seru eomma-ku kencang. Tiba-tiba suasana mulai memanas. Seluruh perhatian kini tertuju pada dua orang tua yang sama-sama tidak ingin mengalah itu.

“EOMMA!”

“DADDY!”

Seruku dan Jo secara bersamaan. Barulah mereka berdua sadar dan akhirnya memilih untuk menyudahi perang mulut itu.

Aigo… Mereka berdua ternyata belum akur sepenuhnya. Hhh, setelah ini aku dan Jo harus bekerja keras untuk menasehati kedua orang tua itu. Ckckck.

 

THE END


Numpang curcol boleh ya..

FF rusak!! Mian.. T-T *bow* mian juga lama.. inet saya lagi jelek,, jadi baru bisa share ff di sini lagi.. *bowagain*

Btw part ini udah panjang belum?? Ini 19 lembar ms.word lho~ *gapen* kalo masih ada yang bilang kependekan,, hhh, ampun deh saya nyerah,, bisanya cuma segini.. ._.V

Buat avy,, mian yah kalo jadinya malah begini.. hhuhuhuh.. oiya,, mian juga kalo adegannya belum nyampe standarmu(?).. liat,, ini ratingnya cuma PG-13!! XD *bughhh!/ditinju* kalo belum puas,, ntar aku buatin after story-nya yang NC hahhahahah *plakk!!* <<< abaikan

Deepthanks buat yang ngikutin ff ini ampe lumutan.. *hugs* hhh, pasti udah banyak yang g mau ngomen deh.. T-T ya sudah,, yg penting ff naas ini udah selesai.. yay!! *dancebonamanabarengtaemin(?)*

Buat yang berkenan,, g usah malu2 untuk temui saya di facebook,, twitter @diandiandyu,, atau di blog ff pribadi saya parkkyungjin.wordpress.com.. wait you there.. ^^

Advertisements

52 responses to “Strong Girl for a Weak Boy – Part 7 (End-Epilog)

  1. ini udah ending??
    wuaaaaaaaaaaa… Key jdi detektif, kereeeeeeeeeenn *o*
    itu para org tua murid(?) ttep ga bisa akur ya.. padahal anak nya nikah, malah ribet sndiri,, hahahaa heboooooohhh
    daebak saeng ^^b
    ini udah cukup panjang kok, klo masih ada yg bilang kurang panjang juga, sungguh ter~la~luuuu /duaghhh
    ending nya keren 😀 nice FF 😉

  2. Woaaaah happy ending~ suka deh sama ini fanfic dan omo key so sweet bgt sih jadi iri hahahaha~ hohoho bikin after story nya dong author ya ya ya *muka memelas hahahahaha nice ff author 😀

  3. yah udah endinggg 😦
    emm tapi gapapa , akhirnya happy endingg , yeee
    akhirnya married jugaaaa .
    emm aku ngefans loh sama ff kamu , oia panggilnya apa ya ?
    oiya bikin after story nya juga ya author
    hwaiting 🙂

  4. Woah..kren kren,happy ending,bgus nget crta.nx,,stlah pnantian lma mrka brstu jga
    good job author:-)

  5. saya merasa basi komen di sini, kenapa?
    halloo dunia, ini tahun 2012, anda posting ini fanfic tahun 2010,
    aduh, muka saya uda kaya tahu dah =.=
    hakaka,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s