Please, Marry Me! (Part.5)

Title : Please, Marry Me! (Part.5)

Author : Cute Pixie (Rara) & Keyholic (Nisa)

Main Casts : Choi Minho, Han Yooki

Minor Casts : Yoon Jisun, Lee Taemin, Shin Hyunchan, and other casts (still hidden)

Genre : Romance

Length : Series

Rate : PG-15

Previous Part : Part.1 | Part.2 | Part.3 | Part.4


Pagi-pagi sekali, Taemin sudah bangun. Kedua matanya terbuka perlahan. Dilihatnya jam beker yang terletak diatas nakas disebelah ranjangnya. Baru jam enam kurang empat menit. Pemuda itu bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.

Jam 6.12, Taemin sudah siap, lengkap dengan t-shirt kuning bergambar Mickey Mouse yang melekat di tubuhnya. Rambutnya yang hitam –yang sebenarnya berbentuk seperti jamur, sengaja diberikan gel agar rambutnya menjadi spike. Setelah merasa penampilannya sudah pas, ia tersenyum puas.

Taemin menuruni anak tangga, menuju ruang makan. Disana sudah nampak appa dan umma yang sudah duduk di meja makan. Appa sedang memakan sup hangat buatan umma, sedangkan umma didepannya juga melakukan hal yang sama. Pemuda itu duduk ditengah-tengah appa dan umma, mengambil sup jatahnya dan makan dengan lahap.

“Kau mau kemana, kok pagi-pagi begini sudah pergi?” Tanya appa, memulai topik pembicaraan.

“Ada acara perpisahan klub renang.” Kata taemin disela-sela makannya.”Aku akan pergi bersama anggota klub renang lainnya di pulau Jeju. “

“Kau sudah..”

Ucapan umma terhenti saat Taemin menyela perkataannya. Taemin sudah tau kemana arah pembicaraan umma kesayangannya ini. “Tenang saja, umma. Aku pergi tak sampai setahun, kok. Cuma 5 hari. Dan aku sudah menyiapkan semuanya. Baju ganti, handuk, celana..”

“Dan boneka teddy bear?” lanjut umma dan langsung dibalas senyuman kecut oleh Taemin.

“Ya! umma! Aku kan bukan anak kecil lagi, aku sudah tak membutuhkan barang menjijikkan itu.” Taemin cemberut, umma dan appa malah tertawa geli. Ya, ya, ya, dari lahir dan –mungkin selama-lamanya ia akan menjadi anak balita bertubuh besar di mata orang tuanya. Dan Taemin sadar akan hal itu.

“Pelan-pelan makannya,” tegur umma, menilik cara makan anaknya yang seperti tak makan setahun.”Nanti tersedak,”

“Nde. Umma,” jawab Taemin cepat, lalu kembali memasukkan sesendok penuh sup. Kelihatannya terburu-buru.

Tak sampai lima menit, Taemin bisa menghabiskan semangkuk besar sup. Ia mengusap sisa air sup yang menempel di sudut bibirnya dengan kedua tangannya, lalu beranjak menuju kulkas yang letaknya tak jauh dari ruang makan.

“Kau tak mau tambah lagi?” kini giliran appa yang bersuara. Taemin yang sedang membuka pintu kulkas, langsung menjawab singkat. “Sudah.” Diambilnya beberapa buah-buahan (bukan beberapa, tapi hampir sepenuhnya) dari dalam kulkas. Pisang, jeruk, pir, apel, semua berhasil diambilnya dan dimasukkan ke dalam tas ransel miliknya.

Umma berbalik dan terkejut mendapati tingkah laku aneh anak semata wayangnya.”Ya! ambil satu saja!”

Appa menyela umma.”Sudahlah, biarkan saja dia.”

“Sebelumnya ia tak pernah menyentuh apapun di kulkas, apalagi buah-buahan.”

“Mungkin dia sedang dalam masa pertumbuhan,” kata appa lagi, sambil memasukkan sup hangat ke dalam mulutnya.

Setelah selesai ‘merampok’ buah-buahan, Taemin menutup pintu kulkas dan berkata. “Benar. Aku harus cepat bertumbuh,” sahutnya sambil berjalan ke arah pintu depan, dengan tas ransel penuh di punggungnya.

“Baguslah. Bertumbuhlah dengan cepat!”

Taemin tersenyum. Ia berbalik kearah orang tuanya yang masih duduk di meja makan. “Aku pergi dulu!”, lalu melangkah ke ruang depan untuk memasang kaos kakinya.

Umma menyahut. “Nde! Hati-hati, ya!”

Appa langsung meletakkan mangkuk didepannya dan beranjak menyusul Taemin. Umma yang duduk didepannya berekspresi bingung.

“Taemin-ah, tunggu,” appa mengeluarkan sesuatu dari balik saku celana kerjanya. Ia memberikan beberapa lembar mata uang won pada anak lelakinya itu. “Ini uang ekstra untuk bertumbuh besar,”

Semulanya Taemin agak terkejut dengan uang pemberian appanya. Bukan apa-apa, tapi jumlah uang yang diberikan appa padanya bukan nilai mata uang yang jumlahnya kecil. Mungkin ia bisa membeli beberapa kaset game kesukaannya dengan uang ini.Ini lebih dari cukup.

“Gomawo, appa.” Ucap Taemin senang. Tentu saja senang. Siapa yang tak senang kalau diberi uang lebih? Baru kali ini appa memberinya uang sebanyak ini. Setelah berpamitan pada appa, Taemin memakai sepatunya dan melangkah keluar pintu rumah.

“Berapa?” Tanya umma penuh selidik. Appa baru sadar ternyata dari tadi umma sudah berada di sampingnya.

“Cuma 30 ribu won,” ucap appa enteng. Ia merogoh saku celana hitamnya, lalu sontak menepuk jidatnya. Uang lebihnya terikut pada anaknya yang baru saja pergi tadi.“Haish! dia mengambil semua uangku!”

***

“WOW!”

“Kapalnya besar, ya!”

Semua anggota klub renang terperangah dengan pemandangan yang berada tepat didepan mereka. Kapal laut yang besar, dan kemungkinan menyewa benda ini juga dibutuhkan uang tak sedikit jumlahnya. Kapal ini akan membawa mereka ke pulau Jeju. Yooki melirik kearah Taemin yang mulutnya terbuka lebar, gadis itu tersenyum. Sedangkan ia bisa melihat Minho dan Jisun yang sedang bergandengan tangan melalui sudut matanya.

Yooki mendesah pelan, lalu melangkah masuk menuju kabin utama. Sesaat kemudian mereka sudah duduk di kursi masing-masing. Minho sempat merasa aneh berada ditengah-tengah anggota klub renang. Seperti asing melihat semua anggotanya. Kalau bukan karena paksaan Jisun, ia juga tak mau menghadiri acara perpisahan klub orang lain. Masih mending dia duduk santai dirumah, nonton acara bola tanpa ada yang bisa mengusiknya –karena pasti Yooki akan pergi ke pulau Jeju.

“Oppa, aku tinggal dulu, ya.” Jisun beranjak dari bangkunya. “Aku mau ke toilet sebentar.”

“Perlu kutemani?” Tanya Minho jahil.

Jisun tertawa mendengar pertanyaan Minho. Ia hanya memukul keras lengan Minho dan setelah itu beranjak pergi menuju ruangan lain.

Sementara itu, Taemin berlari tergesa-gesa sambil mendekap wadah bening berukuran besar yang berisi buah-buahan. Dia tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang sedari tadi memperhatikannya .a berleari sepanjang koridor kapal. Bahkan saking tergesa-gesanya, ia tak sengaja menabrak seseorang hingga..

BRUKK!

Orang yang ditabrak Taemin terjatuh di lantai. Buah-buahan yang dibawa Taemin berserakan dimana-mana. Taemin meringis, lalu mengarahkan pandangannya kearah gadis berdress berpola bunga yang baru saja ditabraknya. Ia baru menyadari telah menabrak seseorang. Bodoh.

Gadis itu sama meringisnya seperti Taemin, tapi tak lama gadis itu bangkit dan melihat Taemin yang sepertinya kesulitan mengumpulkan buah-buahan yang berserakan ke dalam box yang dibawanya. “Sunbae, perlu kubantu?”

Ternyata ia tak marah, ia malah tersenyum manis dan bersedia membantu pemuda itu.

“Tidak usah,” kata Taemin halus.

“Tidak apa-apa. Biar aku ikut membantu,” ucap gadis yang baru diketahui pemuda itu bernama Yoon Jisun. Anak kelas 2. Taemin baru ingat, ternyata dia juga anggota klub renang yang baru. Pantas saja dia mengenalku dan memanggilku ‘sunbae’, batin Taemin.

Ucapan Jisun terdengar lembut tapi setengah ngotot. Akhirnya Taemin pasrah saja saat Jisun memungut kembali buah-buahan milik Taemin, membantu pemuda itu mengambil buah dan memasukkannya kembali ke dalam box.  Setelah selesai, gadis itu bertanya.

“Semua buah itu untuk apa, sunbae?”

“Ah,” Taemin bingung, lalu sedetik kemudian, ia menjawab dengan cepat. “Itu untuk kumakan,” katanya, berbohong.

Mata gadis itu membulat, setengah percaya. “Semuanya?”

Taemin mengangguk.

“Sunbae hebat,” kata gadis itu sambil terkekeh. Taemin berfikir, entah itu pujian atau sekedar basa-basi saja. Setelah itu, gadis itu membungkuk sopan kearahnya dan beranjak menuju toilet khusus yeoja, sementara Taemin bergegas menuju kabin.

Mata Taemin menerawang jauh, tepat kearah Yooki yang sedang bercengkrama dengan teman-teman dari klub renang yang kebetulan juga beberapa yeoja. Taemin segera menghampiri kerumunan gadis-gadis itu.

Sontak gadis-gadis itu menoleh kea rah Taemin yang terpaku di depan mereka, sambil tersenyum. Taemin duduk disamping Yooki dan memberikan box besar berisi buah-buahan itu pada Yooki. “Makanlah,”

Yooki terkejut, sementara Taemin masih terus berbicara. “Aku tahu nafsu makanmu bertambah akhir-akhir ini .Kau harus memakan semuanya sendirian,”

Gadis-gadis itu langsung memutar bola mata mereka. Salah satu gadis itu, Krystal, malah menyahut. “Haish..  Kita juga tak butuh, kok.”

Sulli memandang iri pemandangan disampingnya. Matanya terus memperhatikan Taemin yang sedang mengupas buah jeruk untuk Yooki, bahkan tak malu-malu menyuapi gadis itu. “Aku iri melihat mereka.. andai namjachingu-ku juga seperti itu.. ”

Krystal hanya diam. Tapi dalam hati, ia juga berkata hal yang sama.

Sementara Yooki dan Taemin hanya tersenyum  malu saat semua pasang mata melihat kearah mereka. Yooki bersyukur. Semenjak kejadian Taemin menembaknya tempo hari, sikap Taemin sama sekali tak berubah padanya. Perhatian namja itu tak luntur, ia bahkan semakin perhatian pada Yooki. Taemin mengerti kondisi Yooki yang sedang hamil tiga bulan dan Taemin juga yakin, Minho tidak bisa memperhatikan dan merawat Yooki karena Jisun masih ada disisinya. Taemin bersedia menggantikan posisi Minho.

Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah menerawang mereka dari kejauhan.

Minho mendengus. Ia melipat tangannya dan duduk di sudut ruangan dengan perasaan agak sedikit kesal. Kesal karena melihat tingkah laku Taemin yang sok care pada Yooki. Ia merasa Taemin telah mengambil sesuatu yang sudah menjadi hak dan yang pasti miliknya –Yooki, maksudnya. Pemuda itu sendiri tak tahu, kenapa akhir-akhir ini ia bisa berfikir bodoh seperti ini. Padahal itu bukan urusannya. Harusnya ia tak perlu marah melihat Taemin mendekati Yooki.  Itu urusan mereka berdua, dan tak seharusnya aku pusing memikirkannya, batin Minho.

Jisun yang baru kembali dari toilet melihat namjachingu-nya yang kelihatannya kesal. Mungkin ia bosan dengan lingkungan sini, pikir Jisun. Ia akhirnya duduk disamping Minho. Otaknya berusaha mencari-cari topik pembicaraan yang tepat agar suasana menjadi tak kaku seperti sekarang.

“Oppa, lihat itu.” Sedetik kemudian, Jisun menunjuk kearah Taemin dan Yooki yang sibuk suap-suapan jeruk satu sama lain.”Baju Taemin dan Yooki sunbae warnanya sama. Aku dengar mereka sudah jadian, wah benar-benar pasangan yang so sweet ya,”

Jisun melirik kearah Minho, berharap namja itu menunjukkan reaksi yang sesuai dengan impiannya. “Rasanya iri.. sekali. Aku ingin punya namjachingu seperti Taemin sunbae. Dia perhatian dan baik. Menurutmu bagaimana, oppa?”

Namun pertanyaan Jisun tak dihiraukan oleh Minho. Minho hanya memandang lurus, tepat kearah dua orang yang sudah sukses membuatnya ‘agak’ sedikit kesal. Kepala namja itu tertunduk, menatap baju kuning yang dipakainya. Padahal ia sengaja memakai baju yang warnanya senada dengan baju Yooki. Tapi, kenapa Taemin yang diperhatikan? Dan satu lagi, kenapa baju Taemin bergambar Mickey Mouse, dan Yooki bergambar Mini Mouse?  Haish.

Sebenarnya Minho sudah tahu, Yooki menolak Taemin tempo hari. Tapi orang-orang disekitarnya menganggap Yooki dan Taemin pacaran, dan itu membuat telinganya panas mendengar semua orang yang membicarakan Taemin dan Yooki jadian.

Bahkan telinganya semakin bertambah panas saat sepanjang perjalanan, Jisun terus-terusan membahas tentang dua orang itu. Pasangan itu keren lah, cocok lah, romantis, serasi..

Minho tiba-tiba berteriak saat Jisun masih terus menyerocos tanpa ujung. “Ya! Jisun-ah! Bisakah kau diam? Aku mau tidur!”

Jisun membelalakkan matanya, kaget. Baru sekali ini Minho berteriak dengan nada ketus seperti itu padanya. “Kenapa kau yang marah?”

“Berhentilah membicarakan orang lain. Lebih baik kau tidur dibahuku, agar tidak kelelahan nanti kalau sudah tiba disana.” Setelah itu Minho memasang earphonenya dan tertidur. Jisun terdiam sejenak, lalu sesaat kemudian ia menuruti Minho, ia menyandarkan kepalanya di bahu namjachingunya dan memejamkan kedua matanya perlahan.

Sementara orang-orang yang tadi cukup kaget mendengar teriakan Minho kembali ke aktifitas masing-masing.

****

Tak terasa, ini sudah hari ke tiga sejak kedatangan mereka semua ke pulau Jeju. Semua anggota klub berpencar, mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah dua hari lagi. Termasuk Jisun. Jisun kali ini pergi berburu oleh-oleh sendiri, tanpa sosok Minho yang menemaninya. Sedangkan Taemin pergi ke pantai, bersama anak-anak namja lain. Dasar anak-anak laut.

Sore hari itu, Yooki berbaring dengan posisi terlentang *yaiyalah* di kamarnya, tangannya sibuk membolak-balik majalah milik Sulli yang tadi baru saja ditinggalkannya, sebelum akhirnya Sulli ikut dengan anak cewek lain, mencari oleh-oleh di toko souvenir.

Gadis itu mengelus perutnya. Perutnya baru timbul sedikit, semua orang mengira aku hanya kelebihan makan.Untung selama beberapa hari ini aku tak muntah-muntah,kalau iya bisa terbongkar semuanya, batin Yooki.

Sedetik kemudian, tanpa Yooki sadari, Minho sudah memutar knop pintu kamar gadis itu dan masuk kedalam hingga gadis itu kaget, err.. sekaligus takut sebenarnya. Bagaimana kalau ada orang yang lihat namja itu masuk ke wilayah pribadinya?

Dengan sesegera mungkin Yooki bangkit dari posisinya dan segera mendekati Minho. “Kau mau apa kesini? Kalau ketahuan, bagaimana?” bisiknya pelan.

Minho menjawab enteng. “Gwenchana. Semuanya sedang pergi, hanya tinggal kita berdua.”

“Lalu?”

“Kau mau menemaniku?”

“Kemana?” kening Yooki berkerut. Jelas ia merasa keberatan dengan ajakan Minho.

“Ikut saja..” Minho menarik telapak tangan Yooki sebelum gadis itu menolak ajakannya. Yooki hanya bisa menuruti kemauan Minho saja.

Akhirnya langkah mereka terhenti di sebuah taman. Entahlah. Yooki sendiri bingung menyebut tempat ini apa. Bisa disebut taman, tapi bisa juga hutan –karena pohon-pohon tinggi dimana-mana. Yang jelas tempat ini merupakan tempat yang aman bagi pencuri untuk bersembunyi.Oh ya, di tempat ini juga terdapat rumah kaca yang banyak ditumbuhi jenis bunga dan tumbuhan lainnya.

Sebenarnya Minho juga enggan sekali ke tempat ini, tapi karena ia hanya bisa menonton TV sendirian di villa khusus cowok, lebih baik ia melakukan sesuatu yang diharapnya tidak membuatnya jenuh. Mendingan ngobrol dengan Yooki di tempat ini, lagipula cuaca juga sedang cerah-cerahnya.

Mereka berdua sudah duduk di sebuah bangku taman. Suasana di sekeliling mereka sepi, tak ada pengunjung yang lalu lalang seperti taman-taman kebanyakan. Padahal kalau ditelii lagi suasana disini cukup menyenangkan juga.

Dan Minho mulai bercerita pada Yooki. Tentang hal apa saja, yang jelas bisa diterima telinga Yooki dengan baik dan Yooki menyambutnya dengan tawa yang tersungging di bibirnya. Mereka tertawa bersamaan, seakan dunia milik mereka berdua.

Keduanya tak tahu kenapa, tapi rasanya baru kali ini mereka sangat rileks ngobrol satu sama lain. Mereka sangat menikmatinya, dan sepertinya lupa kalau mereka sudah punya pasangan masing-masing. Minho merasa rileks ngobrol dengan Yooki, tak seperti Jisun yang selalu mendominasi ketika berbicara. Yooki lebih banyak mendengar daripada berbicara.

“Han-goon.” ucap Minho.”Bulu matamu jatuh.”

Yooki berusaha mengusap daerah sekitar matanya. “Sudah hilang,”

“Belum.” Minho memperhatikan wajah Yooki.”Masih ada.. disebelah kanan,”

“Ah, dimana?”

“Biar aku saja,” Minho berinisiatif mengambilkannya untuk Yooki.Kepalanya maju dan mendekati wajah Yooki. “Sudahlah, diam saja. Tutup matamu.”

Sebenarnya Yooki ingin protes, tapi akhirnya ia memejamkan matanya. Minho terdiam sejenak, memperhatikan wajah gadis itu. Ia semakin memajukan wajahnya dan telapak tangannya hendak mengambil sehelai bulu mata yang berada di bawah mata sebelah kanan Yooki.

“Haish.. lama sekali. Biar aku sendiri saja..” Yooki langsung membuka matanya dan ekspresinya berubah terkejut. Ia melihat  dua orang yeoja yang sangat dikenalnya, Krystal dan Sulli, berjalan beriringan dari kejauhan.

Berbagai pikran negatif terus berputar di benak Yooki. 2 orang itu terkenal sebagai ‘ratunya’ gossip di sekolah. Kalau sampai tahu aku dan Minho berduaan, tamatlah riwayatku. Yooki menelan ludah.

Sementara itu, Sulli mengenali sosok Yooki dari jauh. Ia yakin itu Yooki. Sementara disebelahnya.. ia tak yakin siapa itu. Ia hanya bsia melihat Yooki dan namja lain dari belakang.

“Sepertinya itu Yooki,” tunjuk Sulli.”Tapi.. namja disebelahnya, siapa? Taemin? Rasanya tidak mungkin.”

Krystal melepas kacamata hitamnya, lalu memicingkan matanya. Ia berusaha melihat dengan jelas. “Omo.. mereka kissing, lagi. Iucchh..” Krystal langsung memasang tampang jijiknya. “Jangan-jangan Yooki selingkuh dari Taemin.”

“Kau tahu kan apa yang harus kita lakukan? Ini pasti akan jadi gossip heboh, ” Sulli mengedipkan matanya, disusul anggukan oleh Krystal. Tanpa aba-aba lagi mereka langsung berteriak kea rah Yooki. “Yooki-ya! Chankaman!”

Mendengar teriakan Sulli dan Krystal,Yooki segera menepis tangan Minho dan menariknya bangkit dari bangku, sementara Minho bingung. Setelah Yooki jelaskan, akhirnya Minho mengajak Yooki bersembunyi di salah satu pohon tinggi. Memang agak konyol, tapi terpaksa hal itu dilakukan.

“Haish. Mereka lari. Licik juga si Han Yooki itu,” Sulli berdecak setelah Yooki dan pria misterius itu hilang entah kemana. Krystal juga sudah patah semangat, ia berhenti berlari dan berusaha mengatur nafasnya. Sulli mendekati sahabatnya yang masih terengah-engah.

“Ayo kita kejar mereka lagi!”

“Sudahlah, aku capek.” Ucap Krystal menyerah. “Lagipula kita sudah tak tahu mereka dimana. Sudahlah, kita kembali saja ke villa.”

***

Minho bersandar di pohon sambil mengatur nafasnya. Posisinya sedang memeluk Yooki, agar tubuh Yooki tak terlihat dua yeoja gila itu. Dan setelah Krystal dan Sulli yak terlihat lagi, Minho  dan Yooki sama-sama menghela nafas lega.

Deg. Yooki baru sadar ternyata posisinya saat ini sangat rapat, bahkan Minho terlalu mendekap tubuhya. Gadis itu merasa jantungnya berdetak kencang, dan pemuda yang sedang memeluknya itu merasakan hal yang sama. Mata minho menatap bola mata Yooki yang gelap dengan lekat.

Ternyata Yooki cantik juga, batin Minho.

Tanpa sadar Minho memajukan wajahnya hingga sangat dekat dengan wajah Yooki. Mata gadis itu membelalak saat mendapati wajah Minho yang tinggal beberapa senti lagi dari wajahnya. Dilihatnya Minho menutup kedua matanya. Yooki terdiam. Aku harus berbuat apa disaat-saat seperti ini? Batin Yooki gelisah.

Yooki berusaha memejamkan matanya, walaupun hatinya agak sedikit kagok. Ia pasrah saja saat dirinya merasakan nafas Minho yang menyapu wajahnya, pertanda Minho semakin dekat.. dan dekat..

TIITTT..

Ringtone milik Minho berbunyi. Otomatis Yooki dan Minho membuka mata dan merasa canggung satu sama lain.

“Mianhe. Itu tak akan terulang lagi.” ucap Minho disambut dengan tatapan bengong dari Yooki. Yooki hanya bisa terdiam dengan muka yang pasti memerah saking malunya. Dengan gugup Minho mengambil ponsel di sakunya dan melihat nama si penelepon.

Omo.. Jisunnie lagi?

***

Suara merdu dari Onew dan Jonghyun SHINee membahana seantero pantai restoran itu. Mereka berdua membawakan lagu “The Name I Loved”, yang membuat seluruh pengunjung restoran itu larut dalam suasana malam.

Malam ini, Taemin mengajak Yooki ke suatu restoran outdoor, yang terletak di sudut pantai. Angin malam sukses membuat tubuh Yooki kedinginan. Tapi tentu saja tak mengurangi penilaiannya terhadadap tempat indah ini. Belum lagi sebentar akan ada acara kembang api. Jujur saja, acara itulah yang paling ditunggu-tunggu. Soalnya hari ini hari terakhir mereka di pulau Jeju.

Taemin dan Yooki sudah duduk manis. Sebuah meja terletak di depan mereka berdua, ditambah dengan lilin dan mawar merah diatasnya. Omo.. sekali lagi, Yooki harus mengakui Taemin sangat baik. Tak terbayang berapa yang harus dikerahkannya untuk menyawa ruang VIP di luar restoran yang tentu saja hanya beberapa orang yang berkunjung. Sementara Taemin hanya tersenyum-senyum saja, mengingat uang yang dikeluarkannya berasal dari pemberian appa.

Lagu terus mengalun.

“Yooki-ya, makanlah.” Suara Taemin membuat lamunan Yooki buyar. Yooki terperanjat dan mendapati tangan namja yang duduk di depannya itu menyentuh punggung tangannya.

“Nde,” Yooki menatap makanan di depannya dengan raut wajah senang. Sesaat kemudian, saat ia ingin memasukkan spaghetti kedalam mulutnya, pandangannya tertumbuk pada sepasang muda-mudi yang berjalan beriringan satu sama lain, yang satu namja tinggi berambut spike dan satunya lagi yeoja berambut panjang, coklat keemasan.

Lengan yeoja itu dikaitkan dengan lengan namja di sampingnya. Mereka dekat sekali, seperti tak akan terpisahkan saja. Setelah menemukan meja yang pas, akhirnya namja itu menggeser kursi dan mempersilahkan si yeoja untuk duduk. Yeoja itu tersenyum manis menghadapi prilaku gentle dari namjachingunya.

Kenapa kebetulan sekali? Batin Yooki. Ia masih memandangi Jisun dan Minho dari kejauhan. Sedangkan pasangan yang diperhatikan malah tak balas menatap yeoja yang menatap mereka. Mereka tak menyadarinya, mereka lebih mementingkan dunia mereka berdua.

Suasana hening.

“Kalau kuliah nanti, kau mau mengambil jurusan apa?” Tanya Taemin sambil menikmati makanannya. Sedangan Yooki tak merespon. Ia terdiam. Gadis itu lebih memilih melihat pasangan yang lagi bermesraan dari kejauhan. Taemin bingung melihat pergerakan mata Yooki yang sepertinya melihat kearah lain, sontak namja itu menoleh kebelakang. Dan benar saja, ia sudah menduga siapa yang diperhatikan Yooki.

Taemin kembali menatap Yooki. “Kenapa melihat mereka?” ucap Taemin pelan. “Biarkan saja mereka melakukan apa saja yang mereka mau, sudahlah.. lebih baik kau makan saja,. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada kau dan bayimu.”

Yooki menunduk. Ia mengeraskan kepalan tangannya diatas meja. Perasaannya sedikit kacau dan aneh. Entah kenapa hatinya merasa panas, apalagi saat melihat Jisun dan Minho melakukan acara ‘suap-suapan’. Melihat Minho dan Jisun tertawa bersama membuatnya jengkel.

Anni.. harusnya aku tak boleh seperti ini, batin Yooki. Ini pertama kalinya ia merasa kesal pada Minho. Ia juga tak tahu kenapa perasaannya harus seperti ini, padahal awal-awal ia menikah dengan Minho tak merasakan apapun. Mungkin karena aku sedang  hamil, makanya sifatku berubah sensitif seperti ini, Yooki berusaha berfikir positif.

Entah kenapa. matanya tak bisa lepas dari Minho dan Jisun.

Yooki tak tahan lagi. Rasanya muak melihat Minho. Ia akhirnya menggebrak meja dan membuat Taemin yang duduk didepannya terkejut. “Aku mau pulang.”

Sontak semua orang yang sedang makan di tempat itu mengarahkan pandangan mereka kea rah Yooki, begitu juga dengan Minho dan Jisun. Dalam hati, Minho bertanya. Kenapa Yooki bisa ada disini?

“Yooki-ya, tunggu!”

Tanpa menunggu lagi, Taemin mengejar Yooki yang meninggalkan tempat itu dan duluan pulang ke villa. Namja itu berlari, berusaha menarik kembali tangan Yooki. Sementara otaknya mulai berfikir. Dari sorot mata Yooki, ia bisa menangkap ada kesan cemburu Yooki pada Minho. Taemin merasa Yooki cemburu melihat kebersamaan Minho dan Jisun di restoran tadi.

***

BRAK!

Di kamarnya, Yooki membanting pintu kamar dengan keras dan langsung menghambur ke kasur. Ia  menutup wajahnya dengan bantal, dan menangis sepuasnya. Ini aneh, sebenarnya Yooki jarang menangis, tapi beginilah adanya. Ia harus mengakui kalau ia sangat membenci Minho. Ya, aku benci Minho, batin Yooki kesal.

Minho bodoh. Minho jelek. Minho bermuka dua. Ternyata ia bukan hanya bersikap perhatian padaku, ternyata pada Jisun juga. Yooki menerawang ke depan, memandangi langit-langit ruangan itu sembari mengingat kejadian tadi. Ia juga menyesal kenapa harus meninggalkan Taemin sendirian tadi dan beralasan perutnya tiba-tiba sakit. Ia merasa tidak enak pada Taemin.

TOK. TOK.

Yooki tak memperdulikan suara ketukan itu.

Tak lama, Minho memutar knop pintu dan memasuki kamar Yooki. Dilihatnya Yooki yang juga balas menatapnya. Matanya sembap.

Gadis itu tak perduli. Ia malah berbalik dan tidur dengan posisi samping. “Pergilah,”

Minho berkata dengan pelan. “Shireo,”

“Aku sudah tak ingin melihat wajahmu. Pergilah sebelum semua yeoja penghuni villa melihatmu dan mengira yang tidak-tidak,”

Minho tetap bersikeras. Kakinya tetap berpijak di posisinya semula. Matanya melihat punggung Yooki. “Kau bodoh. Kau kenapa pergi tadi? Aku kesini hanya ingin bertanya itu padamu,”

“Bukan urusanmu. Aku pergi bukan karena kau –atau gadismu yang paling kau cintai itu,”

“Jangan bohong, Yooki. Aku tahu kau marah melihatku..”

“…”

Yooki akhirnya berbalik, menatap Minho yang berdiri di depan tempat tidurnya. “Sudah? Sekarang pergilah,” ia bangkit dan mendekati Minho, mengisyaratkan agar namja itu lekas keluar dari kamar.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau marah tadi? Apa memang karena melihatku dan Jisun?”

“Anni. Aku bukan marah padamu, ataupun Yoon Jisun!” Jawab Yooki dengan nada agak keras. “ Aku hanya marah.. pada diriku sendiri. Aku sedang tidak enak badan tadi. Kau tahu kan.. err, perutku sakit tiba-tiba.”

Yooki menunduk, dan wajahnya berubah memerah. Minho menatap mata Yooki. Setiap tatapan Yooki, Minho yakin mengandung kebohongan. saat detik itu juga tubuh gadis sudah berada di pelukan Minho. Minho memeluknya erat. Erat sekali. Bahkan membuatnya susah bernafas.

“Aku tak ingin kau marah.” Minho berbisik pelan ke telinga Yooki. “Mianhe kalau aku berbuat sesuatu yang membuatmu kesal.”

Yooki tak merespon apapun. Entah mengapa dipeluk Minho merasa perasaannya jadi tenang. Dadanya berdesir hangat. Seolah-olah dia senang diperlakukan seperti ini.

Dan si suatu sisi, tanpa Yooki dan Minho sadari, sepasang mata melihat mereka dari celah pintu kamar Yooki yang setengah terbuka. Setelah melihat Yooki dan Minho berpelukan, ia berbalik, dan punggungnya merapat ke tembok. Sebelah tangannya menggenggam erat kantong plastik berisi berbagai macam obat dan sebelah tangannya lagi mengepal.

Haish. Kenapa aku harus melihat adegan seperti ini? batinnya.

Untuk pertama kalinya, Taemin merasa cemburu.

..::::TBC::::..

Ah.. akhirnya TBC juga.. *lega*

mian klo rada berantakan.. ini blum smpe di konfliknya.. hehe.. konfliknya muncul sekitar part.6 atw 7.. hoho *tertawa ala om2 mesum*

Makasih buat yng mau nungguin ff ini *cium satu2*

lnjutannya di post sbtu depan.. seperti biasa. Ditunggu ya.. *maksa* ke ke ke~

Advertisements

202 responses to “Please, Marry Me! (Part.5)

  1. Waktu taemin mengambil semua buah dkulkas dan akhirnya dkasih ke yooki,persis adegan junno ke jeeni.lucu ngebayanginnya. Ceritanya semakin menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s