[ONESHOOT] SARANGHAE…

Author : Minhye_harmonic

Cast     : Geunmin (yang jelas ini ada OC author kekkekekek)

Donghae, Kyuhyun, Siwon, Sulli

Other Cast       : Super Junior

#Ini oneshoot… ok.. mohon maaf klo jelek ya… kekekekekke… ini pernah gw publish di wp.gw.. klo udah ada yang pernah baca.. ya baca lagi.. *plakkk. Kekekkekeke (gaemgyu.wordpress.com) 

SILENT READER KAGA BOLEH BACA!

LEAVE YOUR COMMENT PLEASE!

***

SARANGHAE…

Aku berjalan gontai sembari membawa makan siangku menuju meja pojok―lokasi favoritku. Menghempaskan tubuhku di kursi, memandang kotak makan siangku tanpa selera. Hari ini aku benar-benar tidak bersemangat.

Perlahan kubuka kotak bekalku, melihat isinya sekilas lalu menutupnya kembali. Aku merogoh saku kemeja, mencari-cari secarik kertas yang diberikan Choi Sulli saat aku hendak ke Kafetaria. Kertas merah jambu berbau bunga mawar yang dilipat rapi. Kubuka perlahan lipatan demi lipatan, mendapati kalimat yang tertulis dengan tinta hitam cair. Apa ini surat cinta?

Belum sempat aku membaca kalimat itu, pekikan gadis-gadis menghentikan kegiatanku.

“Kya~!!! Lihat itu mereka!!” Histeria gadis-gadis membuatku cepat-cepat kembali memasang headphone yang sedari tadi bergantung dileherku.

Histeria-histeria dengan cepat menjalar di seluruh kafetaria. Bagai bissa ular yang menyebar melalui peredaran darah. Mulai lagi deh…Aku menguap dan beranjak dari dudukku. Bermaksud kembali ke kelas.

Di depan pintu kafetaria berdiri Kyuhyun dengan gaya bersandar di dinding. Tangannya ia jejalkan di saku celana. Memasang wajah tenang yang menyebalkan, seperti biasa.

“Hei, hei tunggu dulu. Agassi.” Ia merentangkan tangan, menghalangiku keluar kafetaria.

“Mwo!” Aku meninggikan suara. Selalu saja seperti ini, seperti ini. Kapan kau berhenti memperlakukanku seperti ini!!

Kyuhyun meraih pergelangan tanganku, memaksaku untuk mengikutinya.

“Apa maumu!” Seruku sarkastis.

Ia berhenti, membalikkan badannya dan menatapku lewat sorot matanya yang selalu membuatku luruh. “Hanya ingin memastikan kau tak diganggu anak lain,” Kyuhyun menyeringai kecil. “Hanya aku saja yang boleh mengganggumu.”

Wajahku panas, aku bisa merasakan jantungku berdetak semakin cepat ketika ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku memejamkan mata saat kurasakan hembusan nafasnya menggelitik pipiku. Lama aku menunggu, tapi tak terjadi apa-apa.

Kucoba untuk mengangkat kelopak mataku. Melihat dirinya tersenyum licik dan berseru, “Kena kau!” Ia tertawa keras. Sadarkah kau Kyuhyun. Kau membuatku menjadi gugup!

“CHO KYUHYUN!!!! AKU BENCI KAU!!!!” Kulayangkan pukulan dan tepat mengenai lengannya.

Lagi-lagi ia mengumandangkan tawanya yang menyebalkan bukan mengaduh kesakitan. “Kau mudah sekali ditipu, Agassi.” Ia berlari menghindar dari kepalan tanganku yang mulai terangkat.

***

“Ada apa denganmu?” Tanya Sulli ketika kami duduk di taman belakang rumahnya. Di tangannya terdapat kertas yang sama dengan yang diberikan padaku tadi.

“Kyuhyun.”

“OMO!” Serunya seraya mengedipkan sebelah matanya, aku bisa mendeteksi nada kepura-puraan dalam keterjutannya.“Cieh…ada apa lagi dengan Cho Kyuhyun. Ehem.” Godanya, ia membuka buku bersampul kulit domba putih dan melingkari angka pada kalender yang terdapat di dalam buku tersebut.

Sulli membuka bukunya lebar-lebar sembari menunjuk ke arah beberapa angka yang ia lingkari. “Lihat. Begitu banyaknya hari kau dibuat kesal olehnya.” Ia mengerling, “So, seberapa besarkah rasa cintanya padamu?” Goda Sulli lagi.

Aku melipat kedua tangan ke dada. “Kyuhyun menyukai seseorang, ingat?”

Sulli menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan konyol, Geunmin. Kita belum tahu pasti. Berhenti berprasangka buruk.” Ia mencoba bersikap lebih dewasa dengan menasihatiku.

Aku tergelak. “Kini kau mencoba sedikit lebih tua dariku, eh?” Ledekku.

“Hei! Kau hanya lebih tua tiga bulan dariku.” Ia mengerucutkan bibirnya.

Aku mendesah pelan. Kurogoh kembali saku kemeja; memberikan kembali lipatan kertas itu pada Sulli.

Kening Sulli berkerut. “Wae?” Ia menerimanya, “Kau tahu isinya?”

Aku menggeleng pelan. “Belum sempat kubaca. Keburu para gadis-gadis menjadi gila waktu komplotan Oppamu bertandang ke Kafetaria.”

Well, kau rugi.” Ia menuding lipatan kertas di tangannya. “Ini berisi tentang perasaan seseorang padamu.”

“Nugu?” Kujulurkan tanganku, bermaksud mengambil kembali lipatan kertas itu. Tapi Sulli dengan cepat meremasnya dan merobek kertas itu.

“Aku hanya bercanda. Kau mudah sekali ditipu, Agassi.”

DEG… Sindiran itu, persis dengan sindiran Kyuhyun tadi siang. Aku bisa merasakan wajahku kembali panas waktu mengingat kejadian tadi siang. Kejadian yang membuatku menjadi tampak bodoh.

“Hei, Agassi. Sadarlah. Apa kau mendengarku?” Sulli mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat di depan mataku.

Aku mengerjap-ngerjap kaget bersamaan dengan datangnya Siwon, Oppa Sulli. Ia mengambil posisi duduk di sampingku. Siwon meletakkan setumpuk brosur yang di cetak di kertas kuning. Kulirik tulisan yang dicetak besar-besar dan tebal di brosur. Super Girl?

Siwon menatap kami berdua, tatapannya aneh. “Oh, kedua bidadariku yang cantik jelita.” Ucapnya, sok puitis. “Bisakah kalian berdua menolongku?” Kali ini benar-benar aku tak bisa menahan tawa mendengar suaranya yang dibuat-buat.

“Apa itu?” Sulli ikut-ikutan, ia mengerling jenaka ke arahku. Aku menanggapinya dengan tawa yang semakin meledak.

“Bisakah kalian menolongku membagikan brosur-brosur bodoh ini?” Siwon mendayu-dayukan suaranya. “Leeteuk-hyung membebankan ini semua padaku.” Ia menunjuk ke arah tumpukan brosur.

“Mianhae.” Kali ini aku yang bicara, mencoba mendayu-dayukan suara seperti Siwon. “Aku hari ini harus pulang cepat…banyak pr.” Aku sukses membuat kedua Choi itu tertawa.

“Nah, baiklah. Waktunya aku pulang. Aku tidak mau terlambat makan malam.” Aku bangkit, mengenakan backpack-ku dan berlalu seraya melambaikan tangan pada Sulli.

***

Akhir pekan, di mana orang-orang menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan atau berbelanja. Berbeda denganku, aku lebih menyukai mendekam di kamar mungilku atau duduk di balkon apartemen sambil menyeruput cappuccino.

Tapi kali ini berbeda, Kyuhyun memintaku untuk menemaninya. Entah aku tidak tahu alasannya meminta tolong padaku. Tapi sepertinya hanya ini satu-satunya cara aku bisa bersamanya untuk terakhir kali.

Kyuhyun datang dengan gayanya seperti biasa. Kemeja merah kotak-kotak yang lengannya ia sisingkan ke siku dipadukan dengan jeans hitam serta sneakers merah. Berbeda denganku yang harus rela berdandan feminine untuk mencoba memberikan kesan sebelum aku pergi. Aku ingin membuat ia jatuh cinta padaku, atau setidaknya ia tahu perasaanku.

Entah kenapa penampilan kami terlihat begitu kompak padahal aku dan dia tidak berjanji memakai baju yang sama. Aku dalam balutan roll-up sleeve plaid blouse merah maroon serta zip-back  lace skirt hitam. Lalu sepasang high sneakers merah.

Myongdhong benar-benar seperti lautan manusia. Kami jadi harus berpegangan supaya tidak sampai terpisah. Tak tahu apa yang dia pikirkan hingga merangkulku ketika melintas di hadapan para member Super Junior, boyband sekolah.

DEG…DEG…DEG… Tidak bisakah ia untuk sekali ini saja tidak membuatku menjadi gugup? Aku bisa melihat wajah Siwon yang tercengang melihatku bersama Kyuhyun. Dia mungkin tak percaya dengan apa yang dilihatnya―karena ia tahu, selama ini aku dan Kyuhyun sering bertengkar macam anak kecil.

“Annyeong hyung.” Kyuhyun berhenti sejenak untuk menyapa para hyung-nya.

“Wah..wah..wah..” Heechul muncul seraya bertepuk tangan dan geleng-geleng kepala.

“Kyuhyun punya pacar.” Celetuk Eunhyuk.

Semburat merah jambu mulai menjalar di wajahku. Kini jantungku berdetak semakin cepat.

“Sedang kencan, eh?” Kulihat Ryeowook datang seraya tersenyum menggoda.

Pacar? Kencan? Ah…begitu indah aku mendengar kata-kata itu. Begitu ingin kata-kata itu menjadi kenyataan, tapi apa bisa? Wajahku semakin panas memikirkan hal ini. Tak tahu lagi apa ini lelucon dari Kyuhyun untukku, mengatakan bahwa kami sedang kencan

“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Donghae-hyung?” Tanya Ryeowook, ia menunjuk ke arah Donghae yang baru saja datang.

Donghae mengangkat sebelah alisnya, menatap kami semua meminta penjelasan. Tak mengerti maksud Ryeowook. Ryeowook berdiri, beringsut mendekati Donghae dan mengatakan bahwa aku sedang kencan dengan Kyuhyun serta menanyakan apa hubunganku dengan Donghae baik-baik saja.

Kilatan marah dan kecewa terpancar jelas di matanya. Ia terus menatapku seperti itu, api di matanya begitu besar, aku tak berani membalas tatapannya. Apa ini? Kenapa justru aku yang merasa bersalah mengatakan kencan kepada Donghae, bukankah ia tahu bagaimana perasaanku pada Kyuhyun. Well, mungkin ia akan mengerti. Tapi mengerti untuk apa? Sahabat atau… Arrgh! Apa yang kupikirkan! Tidak,tidak,tidak! Tak mungkin Donghae menyukaiku! Sadarlah Geunmin!

“Bisa kita bicara sebentar, Geunmin ya~?” Donghae langsung menarikku, menjauh dari para member Super Junior.

Kurasakan tangannya begitu kuat menggenggam pergelangan tanganku yang mulai memerah. Kucoba untuk berhenti tapi ia terus menarikku―atau kata yang tepat menyeretku. Ada apa dengannya?

Kami berhenti tepat di dekat pintu keluar, ia menatapku masih dengan kilat marah dan kecewa. Aku bisa mendeteksi itu.

“Lepaskan, Donghae ya~! Sakit!” Rintihku saat tangannya tidak juga mau melepaskan genggaman yang semakin erat seperti ingin mematahkan pergelangan tanganku.

“Katakan!” Geramnya―tanpa melepaskan genggamannya. “Sejak-kapan-kau-berpacaran-dengan-Kyuhyun?” Intonasinya penuh dengan penekanan.

Aku terdiam, mencoba mengalihkan mataku untuk tidak menatap wajahnya yang mulai mengusik. Please, berhenti seperti ini!

“Aku…hanya…”

“Kencan dengannya!” Ia mengitenrupsi diriku, semakin membuatku terpojok.

Nadanya yang emosi, menyulut amarahku. “Kau!” Tunjukku kasar. “Kau tidak berhak mendikteku untuk jalan dengan siapa! Kau bukan siapa-siapa!” Sadarkah aku saat mengatakan hal ini? Aku takut melukai perasaannya.

“Bukan siapa-siapa, HAH!” Ia marah, aku tahu itu. Bisa kubaca suasana hatinya, ia menggeram dengan penuh emosi memukul tembok di sebelahku.

Aku memejamkan mataku. Takut, kecewa dan marah semakin mewarnai suasana. Kulihat Donghae berjalan keluar dengan menundukkan kepalanya.

“Donghae ya~!” Panggilku, aku ingin mengejarnya tapi sebuah lengan menahanku. Ini…lengan Kyuhyun.

“Biarkan, ia ingin sendiri!”

“Tapi…”

“Sudahlah, ayo masuk!”

Semua menatap kami heran, melihat mataku yang berair serta hidungku yang memerah. Ini efek dari bertengkar dengan Donghae. Ya, kami selalu bertengkar. Padahal kami sahabat dari kecil. Mengingat semua itu, rasanya dadaku sesak.

Aku masih ingat semua itu, akhir dari setiap pertengkaran konyol kami adalah dengan menangisnya aku. Tapi apa maksudnya ini? Sebenarnya aku menyukai Kyuhyun atau Donghae????

Kusentuh dadaku yang semakin sesak. Menghembuskan nafas berat berkali-kali, membuat Kyuhyun menatapku bingung. Tapi apa haknya marah padaku! Seharusnya ia senang melihatku jalan bersama Kyuhyun bukan justru marah! Aku benci kau, Donghae!!

***

Hari ini waktunya beres-beres, mengepak semua baju-baju ke dalam koper dan menumpuk semua perabot serta buku-buku ke dalam kardus. Sulli kali ini datang bersama Siwon, membantu membungkus tembikar-tembikar dengan koran kemudian diatur di dalam kardus. Hari ini aku lebih banyak diam ketika Siwon tidak sengaja menyebut-nyebut nama Donghae. Memberitahu kalau kemarin Donghae datang ke rumahnya dengan wajah yang ditekuk-tekuk, tapi aku untuk saat ini enggan membicarakan Donghae.

“Apa kemarin Kyuhyun menyatakan cinta padamu?” Pertanyaan Sulli serta merta membuatku kaget dan menjatuhkan setumpuk buku ke lantai.

Aku membungkuk, memunguti buku-buku itu dan menaruhnya di atas meja. “Bagaimana kau tahu?”

Sulli dan Siwon menatapku girang. “Lalu? Kau sekarang jadian dengannya?” Wajah Siwon sumringah, entah mengapa dia yang senang mendengar kabar bahwa kemarin Kyuhyun menyatakan cinta padaku. Sedangkan aku, merasa seperti terjepit di dalam keadaan.

“Aku belum memberi jawaban, kukatakan padanya akan memberikan jawaban besok.” Pernyataanku sukses membuat kedua kakak-beradik itu saling berpandangan―tak mengerti apa maksudku.

“Kenapa kau lakukan ini, Geunmin? Bukankah kau menyukai dirinya sejak pandangan pertama tiga tahun lalu?” Sulli beringsut duduk di sebelahku, tergambar jelas di wajahnya kalau ia haus akan penjelasan.

“Molla…aku seperti terjepit dalam keadaan ini.”

“Kau menyukai Donghae?” Tanya Siwon penuh selidik.

Aku mengangkat bahu, “Molla..”

***

“Donghae ya~, berikan ice creamku!”

“Shiro…”

“Tapi bukankah kau tak suka rasa pisang? Kembalikan!”

“Aku hanya ingin mencobanya.”

Memori itu kembali memenuhi benakku, aku serasa melihat kembali masa-masa itu tanpa bisa ikut berperan lagi di dalamnya. Dadaku rasanya kebas, menyesakkan. Semilir angin menggelitik telingaku pelan―serasa membisikkan sesuatu.

Sore ini adalah sore terakhir aku berada di Seoul. Besok aku sudah akan berangkat ke Amerika. Kumanfaatkan waktu yang tersisa dengan baik sebelum pergi. Keluar pelan-pelan dari kehidupan mereka semua, sahabat-sahabatku.

Sempat tadi aku bertandang ke rumah Donghae, tapi Eomma-nya mengatakan bahwa Donghae tidak ada di rumah. Donghae ya~? Kau kemana? Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu sebelum pergi.

Aku terduduk di bangku taman, sendirian. Kujejalkan tanganku ke saku jaket. Hawa semakin dingin, mungkin karena sebentar lagi musim dingin. Seseorang menghampiriku dengan wajah ceria, ia duduk disebelahku sembari menyerahkan sebuket bunga mawar merah.

Kutolehkan kepalaku, memandangnya―minta penjelasan. Ia terkekeh pelan, meletakkan tangan Geunmin ke atas tangannya.

“Bagaimana jawabanmu, Agassi?”

Aku terdiam, aku tak sanggup menjawabnya. Atau takut menjawabnya. Jujur aku senang dia ternyata memiliki perasaan yang sama denganku, tapi kenapa aku rasanya berat untuk menerimanya?

“Bagaimana?” Tuntutnya, wajah sempurnanya itu mendekat.

“Aku…” Kuhembuskan nafas panjang. Apa harus aku bilang sekarang?

***

“Jadi begitu.” Lirihnya, sorot kekecewaan nampak jelas di matanya. “Baiklah!” Ia memaksa tersenyum, “Baik-baik dengannya!”

Ia memberikan pelukan padaku, “Mianhae, Kyuhyun.” Ucapku―masih dalam pelukannya.

“Sarangheyo…”

“Geunmin…” Sebuah suara bergetar mengagetkanku, cepat-cepat ku melepas dekapan Kyuhyun.

Donghae? Sejak kapan dia berdiri di sana. Di tangannya tampak setangkai mawar merah. Kutatap ia, kilatan api itu muncul lagi. Sebelum aku berhasil menghampirinya, ia sudah berlari menembus kencangnya angin musim gugur yang bertiup.

“Donghae ya~!” Suaraku tercekik, tak terasa air mataku meleleh. Kyuhyun menghampiriku dengan ekpresi menenangkan.

“Kejar dia Geunmin.”

“Tapi…” Kutatap wajah Kyuhyun yang tiba-tiba saja berubah teduh.

“Kejar dia!”

***

Donghae berlari ke arah motornya―yang diparkir sembarangan di dekat trotoar. Kupercepat lariku, bermaksud menghampirinya dan menjelaskan semuanya… semuanya… Termasuk perasaanku…

Ia menyalakan mesin motor dan bersiap melesat ketika aku menarik lengan jaketnya. Tapi ia dengan kasar menepisnya, membuatku terjungkal. Ia tak peduli dengan keadaanku, melaju bersama motornya di jalanan yang sepi.

Aku mengejarnya lebih tepatnya berusaha mengejarnya. Kukerahkan semua tenagaku untuk menyaingi kecepatan laju motornya tapi sepertinya itu mustahil―hal yang sia-sia belaka dan hanya dilakukan oleh seorang yang bodoh seperti diriku.

Aku tersandung, jatuh terjerembab ke badan trotoar dengan posisi tangan kanan menghantam trotoar sebelum kepala terbentur. Pandanganku kabur, samar-samar aku bisa mendengar suara pekikan Kyuhyun dan wajahnya yang penuh kekhawatiran. Setelah itu…semuanya gelap, aku ingat apa-apa lagi…

***

Kelopak mataku bergetar, perlahan kucoba untuk membukanya. Hal pertama yang kulihat adalah plafon putih dan dinding-dinding putih kokoh. Kucoba untuk menggerakkan kepalaku―berusaha menoleh tapi rasanya kepalaku langsung berkedut-kedut.

Kyuhyun duduk di sampingku langsung tersenyum lega. Ia beranjak dari duduknya, berlari kecil ke arah pintu. Walaupun tidak terlalu jelas aku bisa melihat Sulli dan Siwon melongokkan kepala dan masuk, ekspresi mereka sama seperti Kyuhyun.

Kugerakkan lengan kananku langsung terasa nyeri luar biasa. Baru aku sadar ternyata tanganku digips. “Ini di mana?” Tanyaku lirih―lebih mirip bisikan.

“Di rumah sakit, babo…” Sulli menjawab, sambil mengambil kursi untuk duduk di samping ranjang pasien.

“Rumah sakit ya…kupikir aku sudah mati.”

“Dasar babo! Kau tidak boleh mati! Andwae!” Sulli memelototiku, “Kau masih punya utang janji denganku…” Guraunya seraya mengedipkan sebelah matanya. Itu cukup membuatku merasa terhibur.

Aku berusaha bangkit dari ranjang pasien, tapi seperti ada yang menusuk kepalaku. Kurungkan niat sebelum benar-benar bangun.

“Kau benar-benar beruntung Geunmin.” Ceteluk Siwon, ia duduk di tepi ranjang pasien. Tersenyum mempesona seperti biasa.

“Wae? Apa selama tak ada aku Sulli kesulitan mengerjai orang?”

Tawa meledak, Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya ampun Geunmin. Kau benar-benar kurang peka ya!” Sindirnya. “Selama tiga hari ini ada dua cowok yang selalu menjagamu, dua puluh empat jam!”

Wajah Kyuhyun tiba-tiba saja bersemu merah. Berarti selama aku pingsan dia terus menjagaku? Aku jadi merasa bersalah padanya. Tapi yang satu siapa lagi? Donghae? Tak mungkin! Tunggu! Tiga hari? Aku ketinggalan pesawatku!
“Chamkanmanyo!” Seruku tiba-tiba―hampir membuat Sulli menjatuhkan apel yang sedang ia kupas. “Tiga hari? Siwon-oppa kau jangan bohong! Aku ketinggalan pesawatku!”

Lagi-lagi ia tertawa, jemarinya menyentuh pipiku pelan lalu mencubit dengan ekspresi gemasnya.

“Ow!! Hei! Kau tak boleh menyakitiku! Aku pasien di sini!”

“Hahaha…kau memang lucu! Tenanglah, aku sudah menghubungi Jung Yonghwa, sepupumu tentang keadaanmu. Dia bilang akan menjemputmu seminggu lagi.” Jelasnya di sela tawa.

“Hah, kau ini. Selalu membuatku kesal saja!”

Mataku membelalak kaget saat melihat sepasang mata yang mengintip dari kaca pintu. Mata itu…bukankah milik Donghae? Ah.. pikir apa aku ini…

“Sulli…” Kutelengkan kepalaku agar dapat menatapwajah Sulli yang sangat serius mengupas apel. “Apa dia di sini?”

“Siapa? Oh si babo itu…ya… dia ada di sini?”

“Apa dia yang menjagaku juga?” Tanyaku, tidak lebih tepatnya aku berbisik pada Sulli. Cukup membuat Kyuhyun dan Siwon mengernyit bingung.

Sulli mengangguk tanpa melepas konsentrasinya mengupas apel.

“Boleh aku bertemu dengannya?”Tanyaku takut-takut.

Gadis yang menjadi salah satu member f(x), girlband sekolah itu menatapku tak percaya. Ia memberhentikan aktivitasnya, “Oh tentu saja, jagiya…”

Setengah berlari Sulli keluar kamar, lalu beberapa saat kemudia datang dengan menyeret-nyeret seseorang. Wajahnya terlihat sedikit menakutkan. Sulli membuat Donghae berdiri kaku di dekat ambang pintu ketika ia secara paksa membawa Kyuhyun dan Siwon keluar kamar.

Hening. Tak ada yang bicara dan tak ada yang memulai pembicaraan. Kami hanya saling tatap dalam kebisuan. Ia berjalan menghampiriku, duduk di tepi ranjang―seperti yang dilakukan Siwon tadi. Cepat-cepat aku menangkupkan kedua telapak tanganku di pipi, takut kalau ia akan juga melakukan hal yang sama seperti Siwon; mencubit pipiku.

Donghae menaikkan sebelah alisnya, “Waeyo?”

“Aniyo..” Kugelengkan kepalaku pelan. Membuat kepalaku seperti merasa ditusuk lagi.

“Mianheyo…” Lirihnya.

Aku menatapnya sedikit kurang percaya. “Untuk?”

“Gara-gara aku kau jadi seperti ini.” Tatapan matanya semakin sayu. Aku tak tahan melihatnya seperti itu. Kumohon! Hentikan tatapan matamu!

“Gwencara…bukan salahmu juga…tapi salahku.”

Donghae beringsut semakin mendekatiku, “Tidak itu salahku. Kalau saja aku turuti saja kemauanmu untuk bersama Kyuhyun. Mungkin tak kan seperti ini.” Ia menghela napas panjang. “Mungkin sudah seharusnya aku merelakanmu. Jadi, terimalah ini sebagai tanda perpisahan.” Donghae menyodorkan setangkai mawar merah yang terlihat sedikit layu. Bukankah ini bunga mawar yang ia ingin berikan padaku waktu sore itu? Bisa kupastikan dengan pita merah yang dipasang di bawah tangkainya.

Aku tahu ia kecewa sekaligus sedih. Matanya benar-benar bisa dibaca. Aku meraih mawar layu itu, bergidik berusaha mencari kata untuk menyindirnya―mencarikan suasana. “Ya! Kenapa bunganya layu! Apa kau tak bisa memberikanku bunga yang lebih bagus?”

Sukses ia mengangkat kepalanya, “Huh! Kau tak suka. Berikan lagi padaku!” lah..dia marah.

“Eh?! Jangan-jangan.”

So? Kau sudah jadian dengannya?”

“Siapa? Kyuhyun?” Aku menunduk, menghembuskan nafas sepanjang-panjangnya. “Aniyo…aku sadar bahwa selama ini perasaanku kepada Kyuhyun hanya perasaan kagum bukan cinta.” Aku menghentikan penjelasanku, menatapnya sebentar―berusaha menangkap ekspresi yang ia keluarkan. “Aku lebih mencintai seseorang…”

“Siapa?” Desaknya, kentara sekali suaranya tercekik.

“Dia hanya orang babo yang selalu menggangguku…membuatku tampak bodoh di hadapan setiap orang, selalu menyontek pr-ku setiap saat, mencuri kotak bekalku atau sekedar meledekku. Dan…orang selalu melindungiku dari para pengganggu, orang yang patut dibangggakan atas keberaniannya, kecerobohannya, kebodohannya…”

“Kenapa orang beruntung itu mirip sekali denganku?” Protesnya.

“Karena orang itu kau…” Kini Donghae benar-benar terkejut, matanya berbinar tak percaya. “Saranghae, Donghae ya~…” Bisikku pelan.

“Nado saranghae, Geunmin ya~…”

***

Advertisements

48 responses to “[ONESHOOT] SARANGHAE…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s