[THE SERIES] The President’s Son – Part 2

Yuuuhuuu~ Jumpa lagi dengan saya~

ini lanjutan THE SERIES bagian KyuKyu, kalo suka komen, ga suka yaa… komen juga. HOHOHO~ *ketawa setan*

sip dah ah, cekidot! :p

 

“Kyuhyun, Jo Kyuhyun.”

“Choi Jiwon.” Jiwon membalas uluran tangan Kyuhyun.

Dan ketika mereka sedang bertatap-tatapan seperti itu, dua pasang tangan membekap mulut mereka dengan kain ber-chloroform.

THE PRESIDENT’S SON – Part 2

(part 1)

Written by Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Jo Kyuhyun


Merasakan mulutnya dibekap, Jiwon langsung bereaksi sebelum efek menusuk obat itu menghilangkan kesadarannya. Ia pun buru-buru mengeluarkan sebuah pen-spray dari kantong jeansnya dan menyemprotkannya ke mata dua penjahat itu.

“Kyuhyun, ayo lari!” Ia menarik tangan Kyuhyun begitu bekapan penjahat itu terlepas sejenak karena pedih yang disebabkan spray tadi. Jiwon berlari tanpa tujuan, dan Kyuhyun yang bingung hanya mengikuti saja gadis ini. Mereka terus masuk ke dalam hutan yang memang mengelilingi kamp pengungsian itu, terus dan terus, sampai akhirnya Kyuhyun menahan tangan Jiwon, menghentikannya terus berlari.

Jiwon berbalik. “Waeyo? Ayo lari lagi!”

“Cukup! Dengar, ga ada suara lagi kan? Mereka sudah ga ngejar kita!”

Jiwon, masih menggenggam tangan Kyuhyun, mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencoba mendengar suara-suara langkah penjahat tadi. Benar, sunyi.

“Geureom. Kamu benar.” Katanya akhirnya, ketika sudah yakin mereka telah selamat dari penculikan itu. “Hajiman (tapi)…”

“‘Hajiman’ mwo?” Kyuhyun jadi ikut-ikutan melihat sekeliling, rasa parno mulai merasukinya lagi. Ada apa lagi sekarang?

“Hajiman… dimana kita??”

 

Di lain tempat,

“Dimana Jiwon-ssi??” Dua asisten Jiwon, Boram dan Jeha, mulai panik ketika pemilik yayasan mereka tidak kunjung datang menyusul mereka menyisir lokasi. Ditelepon pun, jawabannya selalu: nomor yang Anda hubungi berada di luar jangkauan. Padahal ‘bos’ mereka itu tidak pernah missing in action seperti ini sebelumnya…

“Apa?? Kyuhyun-ssi tidak ada di kamp??” Terdengar ribut-ribut lain dari tim tetangga. Jeha dan Boram langsung saling bertatapan satu sama lain. Ada anak sebelah yang ‘hilang’ juga?

“Cheogiyo, museun itnayo (permisi, ada apa ya?)” Jeha selaku koordinator Jiwon Fund, yayasan mereka, menghampiri salah seorang anggota tim partai XXX, mencoba memperjelas apa yang terjadi.

“Salah seorang anggota kami yang tidak ikut penyisiran tiba-tiba menghilang dari kamp, ponselnya pun tidak bisa dihubungi.” Jawab orang itu cepat-cepat, terdengar panik sekali.

“Lalu apa kata koordinator Anda? Ia juga tidak ikut penyisiran ini kan?” Tanya Boram, karena sepenglihatannya tadi Kyuhyun akhirnya tak jadi ikut dan tinggal di kamp saja, kan…

Si anggota tim sebelah mengernyit, “Apa maksud Anda? Itu koordinator kami…” Ia menunjuk seorang pria berumur 30-an yang dengan wajah paniknya terlihat terus sibuk menelepon.

Boram menggeleng, “Aniya, pria muda tinggi agak kurus, yang memarahi kalian waktu kalian baru sampai…” Sebenarnya Boram sudah akan menambahkan juga: yang tampan itu lho… Tapi akhirnya ia mengurungkannya. -,-

“Kyuhyun-ssi?” Yakin si lawan bicara. Boram menaikkan bahunya, ia tidak tahu nama pria itu. Tapi yang ditanya mengangguk. “Ya, itu Kyuhyun-ssi. Koordinator apa? Dia adalah putra calon presiden Jo, petinggi partai kami. Dan dialah anggota kami yang hilang itu!”

Boram kaget, pastinya. Di pikirannya adalah: ia harus secepatnya memberi tahu Jiwon tentang ini, ternyata pria itu bukan hanya tampan tapi juga putra pejabat! -__-

Tapi ternyata orang itu belum selesai bicara, “…akhir-akhir ini keselamatan Kyuhyun-ssi sedang terancam karena karir politik ayahnya, dan kami takut itulah yang terjadi kali ini…”

“Apa… yang mungkin terjadi, maksud Anda?” Jeha mulai takut membayangkan apa yang ada di pikirannya.

Orang itu menjawab sambil memejamkan matanya, “Penculikan… atau mungkin yang lebih parah… pembunuhan.”

Jeha dan Boram langsung saling bertatapan dengan wajah pucat pasi. Ini betul-betul tidak baik. Karena jika bicara tentang penculikan… tidak ada sasaran yang lebih empuk daripada putri bungsu orang terkaya di Korea ini, yaitu pimpinan yayasan mereka yang juga sedang hilang itu!

 

“Huaahh… Aku belum pernah lewat sini, lho…” Kata Jiwon sambil terus menyibak pohon-pohon kecil di hadapannya untuk membuka jalan. Di belakangnya, Kyuhyun makin panik setelah mendengar kata-kata itu, lebih daripada tadi ketika pertama Jiwon tersadar kalau mereka tersesat. Iyalah, karena kalau Jiwon saja yang terbilang sudah memahami daerah ini pasca survei dengan yayasannya tidak tahu, apalagi dia??

“Hei, ngomong dong, kamu masih shock gara-gara tadi ya? Maaf ya…” Jiwon masih sibuk mengajak Kyuhyun bicara. Karena yang ia dengar, di hutan begini seseorang tidak boleh ‘kosong’, takut ada ‘makhluk lain’ yang mengisinya, dan bagi Jiwon itu lebih menakutkan daripada penculik-penculik macam tadi!

“‘Maaf’? Justru aku yang—tunggu.” Kyuhyun mulai merasa aneh dengan gadis beralis indah di hadapannya ini. “Kelihatannya kamu santai-santai aja sama kejadian tadi. Kita mau diculik lho, dan spray itu…”

“Oh.” Jiwon masih melanjutkan langkahnya. “Dari kecil aku sudah sering jadi target penculikan sih, jadi pertahanan diri macam begini mah sudah standar banget hahaha.”

Heh? Kyuhyun mengernyit (dan sedikit bergidik, sebetulnya) mendengar jawaban Jiwon. Jadi target penculikan sejak kecil?

“Eh, ada pondok kecil tuh. Pos jagawana (polisi hutan) kali ya? Ayo kesana!” Jiwon kembali menarik tangan Kyuhyun, yang entah kenapa, kembali membuat hati Kyuhyun berdesir aneh…

“Ch—”

“Cheogiyo… Ada orang disini?” Kyuhyun yang tidak rela daritadi Jiwon yang selalu terlihat menguasai keadaan, menduluinya. Jiwon menoleh ke arahnya dan tersenyum diam-diam.

“Ga ada orang, ya?” Tanya Jiwon sambil melihat ke sekeliling. Tapi pos ini bersih kok… Seperti baru saja ditinggalkan, mungkin sehari-dua hari. Eh, tapi ya iyalah ya, bukannya semua penghuni pulau ini memang sudah di evakuasi ke kamp? Haah, Jiwon babo!

Sementara di seberangnya, Kyuhyun tak menjawab dan masih sibuk mengutak-atik microphone kecil dan beberapa tombol di hadapannya. Radio.

“Roger, roger. Disini Jo Kyuhyun dan Choi Jiwon. Kami tersesat dan butuh pertolongan. Kami sekarang berada di…” Kyuhyun melihat poster besar di hadapannya. “…pos jagawana 402? Harap segera mengirimkan orang untuk kami. Ganti.”

Tak ada respon.

“Berhasil… ga?” Tanya Jiwon penasaran. Kyuhyun yang tadinya berdiri langsung jatuh melorot ke lantai. Nelangsa. “Engga, ya?” Jiwon melanjutkan ragu-ragu begitu melihat reaksi Kyuhyun. Ia kini ikut duduk di samping cowok itu.

“Cerita-cerita aja yuk.” Ajak Jiwon sambil memeluk kakinya. Kyuhyun menatap gadis itu lekat. “Kamu… siapa sih sebenarnya?”

“Heeh??” Kyuhyun langsung kaget. Bukannya harusnya dia yang nanya begitu ya??

“Kelihatannya semua orang di tim kamu melindungi kamu. Mereka bahkan rela adu urat sama kamu demi kamu ga ikut penyisiran, karena takut kamu kenapa-kenapa—aku sebenarnya dengar lho debat kalian hehe. Waktu hari pertama yang kamu marah-marahin mereka, aku pikir kamu cuma koordinator yang lagi negur stafnya aja, tapi setelah kejadian tadi, rasanya posisimu ga sesimpel itu… Lebih penting?” Jiwon menelengkan kepalanya ke arah Kyuhyun.

“Aku… orang biasa kok.” Jawab Kyuhyun pelan, menghindari mata Jiwon. “Justru kamu, apa-apaan itu: jadi target penculikan sejak kecil? Siapa kamu sebenarnya?” Lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.

Jiwon tersentak, “Aku juga orang biasa kok, cuma aku terlalu imut aja jadi dari kecil banyak yang mau culik aku.”

Diam. Kyuhyun melirik Jiwon yang kini bahkan sudah memutar duduknya ke arah lain. Iapun ikut menatap sisi yang berbeda. Keduanya masih tenggelam dalam rahasia masing-masing, dan tetap: keraguan. Yakin dia orang biasa?

 

Di lain tempat, tiga receiver ternyata menerima pesan radio dari Kyuhyun.

“…kami ada di pos jagawana 402…”

 

Kantor pusat Pulau Pyeongsan:

“Pak, ada 2 orang tersesat di hutan, pos jagawana 402!”

“Apa?? Apa yang mereka lakukan disana? Bagaimana jika ada serangan dari pihak utara lagi?? Kirimkan tim SAR segera, sebelum matahari terbenam mereka sudah harus kembali, jangan sampai mereka bermalam, bahaya sekali gerilya utara itu, cepat!”

 

Radio tim Jiwon Fund:

“‘Jo Kyuhyun dan Choi Jiwon’? Dia bersama Jiwon-ssi katanya? Bukankah Jiwon-ssi ikut penyisiran dengan yang lain?” Salah satu relawan JF yang menerima pesan udara tersebut mengernyit keheranan di depan pesawat radio milik yayasannya. “Ya! Tadi Jiwon-ssi pergi penyisiran dengan Jeha-ssi dan yang lainnya kan?” Tanyanya pada salah seorang teman relawannya yang berdiri tak jauh dari situ.

Sang rekan yang sedang sibuk mendata stockist menoleh, “Tadi sepertinya Jiwon-ssi bilang dia akan menyusul, jadi ga berangkat bareng… Wae?”

“Gawat! Jiwon-ssi tersesat di hutan!!”

 

Receiver terakhir… HT milik dua penjahat yang mengejar mereka.

“Hyung, mereka bodoh sekali ya…”

Si kakak tersenyum licik, “Seperti yang sudah kubilang, ini akan mudah. Kaja!”

 

***

Kruyuk, kruyuk…

Kyuhyun langsung menoleh begitu mendengar bunyi itu. Jiwon juga kaget (sekaligus malu, pastinya) mendengar kelakuan tak sopan sang perut. Tapi mau apa lagi, ia hanya bisa menunduk sambil memeluk perutnya, seakan itu mampu menyuruh sang perut berhenti bernyanyi. -__-

“Baegopayo? (kamu lapar?)” Tanya Kyuhyun. Jiwon mengangguk pelan. Hari memang sudah nyaris malam, dan sebetulnya tadi siang Jiwon pun tak sempat makan karena terlalu sibuk mengurus persiapan penyisiran.

“Aku keluar sebentar ya siapa tau ada buah yang bisa dimakan.” Kata Kyuhyun sambil berdiri. Tapi Jiwon menahan lengannya.

“Jangan, di luar bahaya, lagian belum tentu kita bisa nemuin tempat ini lagi nantinya…”

“Tapi kamu belum makan, dari kapan, coba bilang?”

“Pagi…” Jawab Jiwon refleks, makanya dia langsung menutup mulutnya.

“Nah.” Respon Kyuhyun sambil beranjak lagi. Tapi kini Jiwon menggenggam tangannya.

“Aku ikut.”

“Masih ada tenaga?”

Jiwon manyun diremehkan seperti itu—biarpun itu benar sih, ia sebetulnya sudah lemas sekali. Haah, di saat-saat seperti ini ia betul-betul ingin bisa sekuat gadis-gadis yang terbiasa menahan lapar karena diet seperti sang calon kakak ipar, Yora. Terbiasa makan teratur kadang menyulitkan juga!

Mereka pun akhirnya betul-betul keluar berdua, tapi kini Kyuhyun yang memandu dengan menggenggam erat jemari Jiwon yang sudah kehabisan tenaga. Tapi begitu membuka pintu pos, dua orang sudah menunggu disana.

“Jo Kyuhyun dan… Choi Jiwon?”

Kyuhyun langsung menyembunyikan Jiwon di belakang punggungnya. Mereka dua penculik tadi.

“Annyeonghaseyo…” Kyuhyun malah membungkuk -___-. Tapi… “Jiwon ayo lari!” ia buru-buru menarik Jiwon menerobos dua orang yang masih kebingungan dengan sapaan (?) Kyuhyun tadi.

Kyuhyun berlari sangat cepat dengan Jiwon yang berusaha keras menjajarinya. Mereka bolak-balik nyaris tertangkap hingga akhirnya Jiwon merasa tak kuat lagi dan pelan-pelan melepaskan genggaman Kyuhyun. Awalnya Kyuhyun tak menyadarinya, tapi lama kelamaan ia merasa aneh dengan beban yang seperti menghilang dari genggamannya. Dan begitu menoleh… seperti ketakutannya, Jiwon sudah sukses terkulai tak berdaya di tangan dua penjahat itu.

 

<TBC>

 

yeeey akhirnya posting lagi~ *tari hulahula*

gimana bagian ini? jangan lupa kasih review^^

buat yang udah baca, makasih. apalagi kalo yang komen sekalian, GOMAWO^^

Advertisements

54 responses to “[THE SERIES] The President’s Son – Part 2

  1. mwo??!!!kok udh tbc?! yeilehh,ching kok pendek amat…ok dehh..ntu kyu gmana sehh,kok sempet2 nya ngasih hormat sma penculiknya…ckckck…ada2 saja sikyu..next part na chingu jgn lma2 yahhh!!^__^’

  2. jiwoooonn!!!
    ih, kyuhyun nih sopan amat ya, ga ada ciri2 evil magnae’a :p
    eh, maap loh ya chand komen di part 2 langsung, hehe..

    Baguuuussss!!!! 😀

  3. wow, padahal lagi seru serunya .
    haduh, itw mereka b2 ga ada yang mau ngaku kalo mrka tuh anak orang penting ya .
    oke deh, dtnggu lanjutannya ya .

  4. ONNNIIIIIIIIEEEE ! ZEN DATANG ! Huaaah, Zen penasaran nih sama kelanjutannya, Zen kan udah nunggu dari kemarin2. T^T akhirnya muncul juga.

    Mianhaeyo ya onnie Zen baru baca sekarang. Zen udah masuk sekolah nih, jadi agak berkurang waktu onlinenya.
    Zen mau lanjutannya ya onnie 😀

    Tapi jangan lama-lama Zen udah mati penasaran T^T. Oke onnie. FF onnie Keren. Zen pergi dulu ya Baybaah onnie.

    Haha .. Annyeong.

  5. THORRR MAAPP YAKKK ….
    qu mau ngopy ni ff tapi bacanya kpan* aja …
    cosss mau ngopyy ff yg banyakk dulu supaya pas kagakk punya pulsa modem
    tetep bisa baca dahhh ,, besokk pulsa bulanan qu dahh habiss (nyesekk tingkat tinggi)…
    hehehe mian thorrr #dicekik authorrr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s