Cracks of My Broken Heart – Last Part

Title                  : Cracks of My Broken Heart

Author              : E-blow / Eciondubu

Main cast         : Onew (SHINee) and Choi Yoo Jin (OC)

Other Cast       : Park Yoon Mi (OC) and SHINee

Genre               : AU, Romance, Angst.

Length              : Doubleshot

Rating               : PG-15 / Straight

Summary          : Love always has two sides, it was like a dream or a bridge like the heady wine of the soul. but in love with a dagger stuck, can kill also injured. “Cinta selalu punya dua sisi, ia bagai jembatan mimpi atau anggur yang memabukkan jiwa. Namun dalam cinta terselip belati, bisa membunuh atau melukai.”

Credit Song      : SHINee – Last Gift  and Co.Ed – I love you a thousand times

Language          : Indonesian (and Korean in some case)

Disclaimer        : I don’t have Onew characters. He belong to himself. And Yoo jin are my original characters. All things that happen in here are only a fiction. So please don’t sue me. And SHINee are belong ©SM Entertainment.

Warning           : Un-beta-ed

A/N                 : In this is fanfic. I didn’t use any diction. So you can relax and read this fict with comfort. I’m sorry for my fault, maybe any miss typo in this fict , because this fic hasn’t betaed. But I hope you can enjoy it. NO SILENT READER PLEASE and no bashing, jebal !

Part 1

“Ini Yoon mi dan dua orang namja yang Eomma maksud” eomma sedikit mundur dan namja yang ada di belakangnya, tampak dengan jelas olehku. Onew oppa. Ya, Onew oppalah yang eomma maksud. Kepalaku mulai pusing. Teringat kejadian di taman tadi malam.

“Eomma keluar sebentar,” eomma meninggalkanku dengan tiga orang ksatria yang telah menolongku ini.

“Jongmal gomawo, telah menolongku.” aku sedikit membungkuk tapi apadaya, punggungku terasa sakit, sehingga aku hanya bisa mengangukkan kepalaku.

“Cheonmanayeo, Yoojin-ah”

“Siapa yang menemukanku ?”

“Onew oppa, dia yang mengendongmu sampai kesini. Aku hanya menelfon eommamu dan di temani Minho oppa” Yoon mi angkat bicara.

“Kronologisnya ?”

“Aku tidak tahu secara pasti, tapi yang pasti saat aku dan Yoon mi sedang duduk di depan aula sekolah, Onew menelfonku, katanya bilang kepacarmu, Yoojin pingsan, cepat telfon eommanya!” kali ini Minho oppa yang angkat bicara.

“Kalau kau mau berterima kasih, berterima kasihlah ke Onew oppa, karna kami hanya menelfon eommamu. Aku dan Minho oppa keluar sebentar. Kau kutinggal dengan Onew oppa” Yoonmi dan Minho oppa pergi meningalkanku berdua dengan Onew oppa.

“Bagaimana keadaanmu ? sudah membaik?”

“Ye, kamsahamnida karna telah menolongku sunbae”

“Ye, cheonmanayeo”

Sebenarnya aku sedikit grogi saat bicara denganya.

“Penampilan Sunbae, bagus sekali. Aku suka”

“Kau suka ? jongmal ? aku juga suka saat kau menontonku di deretan penonton paling depan.”

“Hah, maksud sunbae ?”

“Maksudku, terimakasih sudah menontonku.”

“Oh !”

Aku dan Onew oppa sekarang sudah semangkin akrab, candaanya yang konyol membuatku semangkin suka padanya.

Pintu dibuka, ada eomma datang, dia membawa sebuah tas besar.

“Ya sudah, karna eommamu sudah datang aku pergi dulu”.

“Ye, Kamsahamnida”

Onew oppa meninggalkanku dengan eomma. Eomma mendekatiku penuh rasa curiga.

“Siapa namja tadi ?”

“Sunbaeku”

“Kau mau makan ?”

“Tidak usah, aku belum lapar”

“Nanti kau sakit lagi ?”

“Sudah kubilang aku tidak mau, kalau anda mau makan, makan saja sendiri !”

Eomma meninggalkanku sendirian, isak tangisnya tedengar jelas olehku. Aku masih belum bisa memaafkan eommaku. Karna saat Appa meninggal ia terlihat tidak sedih. Malah terlihat bahagia melihat orang yang aku cintai mati.

Kulihat tasnya ada di sampingku. Ku buka hanya ada uang, foto kami sekeluarga, dan secarik kertas kuning. Perlahan kubaca isinya.

3 Januari 2002

Aku melihat dukacita di wajah putriku hari ini. Suamiku, ayahnya mati karna leukimia. Aku sudah pernah melihat mimik terluka, marah, dan bingung, tapi sebelum ini tak pernah aku melihat dukacita di wajah yang begitu muda. Aku ingin tahu apa yang ia pikirkan. Kukatakan kepadanya bahwa ayahnya telah menjadi malaikat. Meskipun aku telah mecoba menghindari kata “meninggal” ia langsung meyadari apa yang kumaksud. Aku tak pernah melupakan mimik wajahnya. Tadinya aku tidak mengira ia akan memperlihatkan ekspresi kesedihan yang menyerupai orang dewasa. Kisah malaikatku yang tidak bisa menghapus kepedihanya karena kehilangan seorang ayah. Aku sudah tahu bahwa pencangkokan tulang sumsumnya gagal dan bahwa umur suamiku sudah tidak lama lagi. Namun, saat berita itu datang aku sangat terguncang. Kami baru saja memiliki anak gadis. Mengapa Tuhan membiarkan kehidupan begitu cepat merenggutnya dari kami ?

Aku tak hentinya menanggis walau itu sembunyi-sembuyi dari anakku. Karena aku tidak mau terlihat lemah dimatanya. Sakit yang kurasakan sangat dalam. Tidak ada pengalaman yang lebih buruk daripada kehilngan anggota keluarga yang kita cintai.

Aku menagis pelan, memikirkan apa yang dialami eomma waktu itu, ternyata aku salah. Bahkan ternyata dia sangat sayang pada suaminya. Aku menghapus air mataku dan mencari eomma. Aku mencabut sesuatu yang melekat di tangan kiriku. Darah segar menetes perlahan dari pergelanggan tanganku, ku abaikan. Mencari eomma di koridor rumah sakit—sendirian. Aku menemukanya, sedang menagis di sebuah bangku rumah sakit. Aku memeluknya erat. Aku bagai anak kecil yang kehilangan ibunya.

“Eomma maafkan aku selama ini, aku salah menilaimu,” aku terisak. Eomma mengelus rambutku pelan. Dia membisikan sesuatu di telinggaku.

“Ia akan bersamamu, selama angin berhembus,

Ia akan selalu di hatimu, ia tak meninggalkamu sendirian,

Ia hidup abadi,

Rohnya selalu bersamamu,

Dan jika matahari bersinar di langit,

Dan hujan memenuhi udara,

Dan pelangi menerangi harimu,

Ketahuilah ia ada disana, menjaga kau dan ibu.”

Aku juga membisikan sesuatu ke telingga eomma.

Kaulah alasanku satu-satunya untuk hidup. Saranghae.

“Maaf, kalau selama tujuh tahun ini, kau merasa tersakiti. Percayalah. Aku menyanyangimu. Sungguh,” kulihat mata eomma berkaca-kaca dengan bibir terkatup dan rapat, seolah puluhan moncong senapan tak mampu menggentarkanya untuk sekedar membuka sedikit celahnya.

Aku memeluk Eomma erat, bisa aku rasakan air matanya jatuh di atas rambutku.

***

“Annyeong” seorang namja membawa sebuket bunga.

“Annyeong” jawabku.

“Kata dokter, hari ini kau boleh pulang?” katanya, dan ia menaruh sebuket bunga, ke samping tempat tidurku.

“Jongmal? Huh, akhirnya! Aku sudah bosan di sini”

“Kan ada aku,”

“Hah? Oppa? Ani?”

“Mwo? Kau bilang apa?” Tiba-tiba jitakan kecil, mendarat di kepalaku.

“Eommamu kemana?”

“Pergi ke perusahan lama kami, eum, maksudku pergi ke perusahan Mr. Kim,”

“Ada masalah apa?”

“Eomma, mau bekerja di sana,”

“Oh,”

“Mungkin sebentar lagi pulang,”

Lama aku berbincang dengan Onew oppa, tak lama kemudian Ibuku datang.

“Kau sudah makan?” eomma menghampiriku dan mengecup keningku.

“Sudah! Eomma?”

“Eomma, juga sudah. Onew, sudah lama di sini?”

“Baru saja ahjumma.”

Aku, Eomma, dan Oppa bebincang lama, bercerita tentang masa laluku bersama Eomma dan Appa yang sempurna. Ternyata eomma, diterima di perusahan itu, perusahan yang sebenarnya punya appa, sekarang sudah berpindah tangan.

***

Aku pulang ke rumah, terlihat sedikit bebeda. Aku masuk ke kamarku, kusimpan tubuh dan hatiku dalam keremangan kamarku yang indah. Terlihat, tujuh kuntum anggrek segar baru saja menempati ruangan barunya memisahkan telepon dan lampu tidur. Warna hijau dan kelembutan senantiasa menyihirku seperti kelembutan cahaya dan tiupan seruling. Dua buah lukisan terpampang di dinding, keduanya menghadiriku dalam selubung impresionis yang terlalu jauh untuk kujabat tangannya. Sekalipun demikian, warna gorden ruangan termasuk warna favoritku, dan cukuplah untuk menutupi jarak antara aku dengan lukisan itu.

Aku suka kamar pribadi dan menyeduh minumanku sendirian dikamar. Aku merebahkan tubuhku ke kasur empuk milikku. Hanya milikku.

***

Seperti hari-hari biasa, aku pergi ke sekolah. Tapi kali ini berbeda, ada kecupan hangat di keningku. Yang selama tujuh tahun ini, tidak pernah aku rasakan. Kecupan hangat dan  dari seorang Ibu yang telah lama aku rindukan.

“Cepatlah berangkat, kalau tidak kau akan terlambat.”

“Eum.”

***

“Yoo Jin-ah! Onew sunbae mencarimu!” seorang teman perempuanku mengejutkanku, saat aku baru saja tiba di kelas.

“Sekarang dia ada dimana?”

“Aula,”

“Gomawo,” aku sedikit membungkuk, mengucapkan tanda terima kasih, aku segera pergi menuju aula sekolah. Sekarang hubungan antara aku dan Onew oppa semangkin dekat. Dia sering main ke rumah sakit saat aku sedang butuh perawatan medis.

Sesampainya di aula, aku melihat seorang namja yang memakai pakaian sekolah sama denganku sedang duduk diatas sebuah kursi.

“Kau sudah datang”

“Oppa, ada apa memanggilku ke sini ?”

“Aku mau memberimu ini ?”

“Pena? Untuk apa?”

“Nanti kau akan tahu sendiri, eum, sabtu malam malam kau ada acara?”

“Sabtu malam? Tidak ada”

“Temani aku, aku pergi dulu, Jjong, Key, Minho dan Taemin menungguku,”

Yeah, kuakui pria yang satu ini selalu sibuk dengan bandnya. Jarang sekali punya waktu luang. Aku kembali ke kelas. Kutatap pena yang di beri oleh Onew oppa. Apa maksudnya memberi aku sebuah pena?. Aku duduk di samping Yoon mi, sebelum songsaengnimku datang.

***

Pagi menjelang. Aku sedang bersiap-siap berangkat sekolah seperti biasa , dan ibuku, sedang mempersiapkan diri untuk ke kantor.

Ketika berangkat sekolah, seperti biasa aku mengucapkan selamat tinggal kepada eomma. Kukatakan bahwa aku mencintainya dan akan menemuinya sepulang sekolah.

Sepulang sekolah, aku tidak menemukan sosok ibuku, hampir seluruh ruangan ku jelajahi, tapi hasilnya nihil. “Mungkin, masih bekerja,”

Sekitar pukul 20.00, handphoneku berdering, tapi lenganku serasa digelayuti sekuintal pasir. Dengan malas aku mengangkatnya.

“Yeoboseo”

“Nona, Choi Yoo Jin?” kata suara di seberang sana.

“Ye, anda siapa?”

“Sekarang pergi ke perusahan tempat ibumu bekerja,”

“Anda siapa, dan ada apa dengan Eommaku,”

Tut..tutt.ttuuut

“Sial,” umpatku. Aku segera bergegas menuju perusahan tempat eomma bekerja.

“Astaga! aku lupa! Hari ini hari sabtu, aku ada janji dengan Onew oppa,”

Ake segera menelfonya, mendekatkan gangang telefon ke telingaku, mendengarkan suara monoton dan, “Nomor yang anda tuju sedang sibuk…”

“Argghh, Oppa kau kemana? Minho! Ya Minho Oppa!”

Hasilnya sama dengan Onew Oppa, hanya terdengar suara operator.

Aku bergegas ke perusahaan eomma. Dan menonaktifkan handphoneku.

***

Sebagian bangunan itu hancur akibat ledakan. Orang berhamburan keluar dengan tubuh berlumuran darah. Sejak saaat itu aku tahu bahwa ada kemungkinan eomma tak akan pernah pulang. Aku, berlutut dan mulai berdo’a. Satu-satunya hal yang memenuhi pikiranku adalah, Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi?. Aku baru saja berbaikan dengan eomma, dan sekarang eomma mau menyusul appa, di surga.

Aku diam, di kerumunan orang banyak dan aku sendirian. Di saat seperti ini tidak ada yang bisa aku andalkan! Yoon Mi sedang latihan drama, aku tahu kebiasaanya, kalau dia sedang latihan, handphonenya pasti di matikan. Begitu juga dengan Onew, Minho, Key, Jonghyun dan Taemin Oppa. Aku diam menunggu apakah mungkin mereka menemukan eomma dalam keadaan hidup. Jam demi jam berlalu dan tidak ada yang terjadi. Saat itulah aku melihat teman-teman eomma keluar dalam keadaan ditandu. Mereka sudah tak benyawa. Aku mulai merasa benci kepada siapa pun yang melakukan itu dan menagis semangkin keras. Aku merasa tak berguna. Aku tidak bisa melakukan apapun. Mengubungi keluargaku? Yang hampir semuanya berada di luar negeri? Itu mustahil! Tak bisa yang aku lakukan! Malam semangkin larut, bahkan tinggal aku sendiri di depan perusahaan itu. Menunggu apakah ada eomma di dalam? apakah dia selamat?

“Nona, ini sudah hampir subuh. Anda sebaiknya pulang,” kata seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di sampingku.

“Apakah anda bisa menemukan Ibuku? Kalau anda bisa menemukan Ibuku! Aku akan pulang,”

“Percayalah! mereka pasti menemukan Ibumu, akanku antar kau pulang,”

Aku mengambil handphoneku di dalam tasku, mengaktifkanya dan dreett,,dreettt, handphoneku bergetar, tanda pesan masuk. Aku enggan untuk membacanya, pikiranku sekarang sudah dipenuhi dengan eomma. Kumasukan Handphoneku ke dalam tasku lagi. Drett,,drett, handphoneku bergetar lagi. Dengan enggan aku meraihnya dan membaca pesan masuk.

Sender : Onew♥

Received : 2011-01-16 | 01:22:51 a.m

Maaf aku tidak ada di sampingmu. Maafkan aku. Aku sekarang ada di rumahmu!    Bersama Yoon Mi, dan yang lain. Kau ada di mana? Kau baik-baik saja?

Begitu pesan pertama yang ku terima, aku menekan tombol replay,

To : Onew♥

Sent : 2011-01-14 | 01:23:47

Aku sedang dalam perjalanan pulang. Jangan khawatirkan aku.

Aku membaca pesan ke dua yang masuk.

Sender : Auntie Eun Jung

Recived : 2011-01-15 | 01:24:58 a.m

Ya tuhan! Apa yan terjadi? Kau tidak apa-apa sayang? Apa kau baik-baik saja? Kenapa Handphonemu tidak aktif? Apa Eommamu tidak apa-apa? Auntie dan yang lain ada di rumahmu sekarang! Where are you, dear? Are you okay? Take care!

Astaga ini dari ahjumma, mereka ke sini? Astaga!! Segera aku balas pesan dari Auntieku.

To : Auntie Eun Joong

Sent : 2011-01-15 | 01:25:10

Don’t worry Auntie, I’m fine. But, Eomma hasn’t found.

“Kita sudah sampai! Benarkan ini rumahmu!” kata Ahjussi, yang tadi mengantarkanku, dia teman satu kantor Eomma yang selamat.

“Kamsahamnida, Changmin ahjussi,” aku keluar dari mobilnya dan membungkukan badanku sembilan puluh derajat. Mobilnya melesat setelah aku meninggalkanya, dan aku mendapati sekerumunan orang di rumahku. Terlihat perempuan seumuran eomma menghampiriku.

“Oh, dear! Are you okay?” Kata Auntieku dengan logat Inggrisnya yang sempurna.

“Yeah, I’m fine” Auntie memeluku, wajah Auntieku memang mirip dengan eomma, mereka hanya berselisih satu tahun, jadi tidak heran kalau wajah mereka hampir mirip. Aku teringat eomma lagi. Menagis sejadi-jadinya di pelukan Auntieku.

“Kita akan segera menemukan Eommamu. Percayalah!”

“Eum.” Aku menganguk mantap. Meyakinkan kata-kata Auntie dalam hatiku. Kami maju perlahan, terlihat ada Halmeoni, Anak Auntieku, dan Ahjussi—suami Auntie. Tak jauh dari mereka berdiri, Onew, Key, Taemin, Jonghyun, Minho dan Yoon mi.

Auntie menyuruh semuanya masuk ke dalam rumah. Sekitar pukul 04:00 a.m, Onew, Yoon mi, Minho Oppa dan yang lain bepamitan pulang.

***

Hari-hari berlalu tanpa berita, aku tidak bisa melakukan apapun. Tapi keluargaku ada di sana dan mereka membantuku. Aku dalam keadaan terguncang. Aku hanya ingin eomma pulang dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, tapi keingginanku tidak pernah terwujud. Kadang aku kehilangan harapan, bertanya-tanya, Apakah aku akan kehilangan eommaku seperti aku kehilangan appaku?

Rabu pagi, dua setengah minggu setelah pemboman itu, tangisan Auntie dan Halmeoni membangunkanku. Aku turun dari ranjang untuk melihat apakah mereka baik-baik saja. Mereka memberi tahu bahwa eomma ditemukan.

Aku begitu bahagia hingga tak bisa mempercayainya. Tuhan telah menjawab do’a-do’aku! Kutanyakan kapan Eomma pulang. Mereka mengatakan ia tak akan pulang. Aku agak binggung. Lalu mereka memberitahuku bahwa Eomma tidak selamat dari pemboman. Eomma bekerja di lantai tujuh bangunan itu. Ia ditemukan di lantai dua. Aku mulai menagis, dan kupikir Kenapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi, setelah kehilangan Appa, aku kehilangan Eommaku. Kenapa? Apa yang telah aku lakukan? Eomma adalah hal nomor satu dalam hidupku, dan sekarang ia hal nomor satu dalam hatiku. Pada hari pemboman itu. Eomma pulang ke rumah, tapi tidak ke rumah kami, tapi ke rumahnya di langit, menyusul Appa. Sementara itu, aku akan mencoba membuat Eommaku bangga pada diriku dan selalu ingat betapa istimewanya Eomma.

Keesokan harinya, aku menoleh kepada temanku, Yoon mi. “Eomma…” Hanya itu yang bisa aku katakan sebelum aku mulai menagis. Yoon mi memeluku erat-erat dan berbisik, “Aku tahu, dan aku akan selalu berada di sampingmu.” Saat itulah aku tahu bahwa Yoon mi akan mendukungku.

Tak lama kemudian, semua kerabatku berkumpul di rumah duka, menunggu di mulainya upacara penghormatan terakhir. Begitu aku berjalan ke tempat di mana eommaku di baringkan di sebuah peti, kuraih tangan eommaku, mungkin kali ini, kai terakhirnya aku memegang tangan eommaku. Ketika tanganku menyentuh tanganya, sesaat aku lega. Ia terasa sama seperti biasanya, hanya agak lebih dinggin. Ketika aku menggangkat kepala menatap eommaku, dan terdengar suara eomma mengatakan ”Jangan menagis”. Aku tidak bisa menahan tagisku, aku sadar bahwa kenagan-kenagan manis aku dan eomma tidak mungkin terulang lagi. “Eomma.. maafkan aku. Aku mencintaimu.”

Selama beberapa jam berikutnya, aku bertemu banyak orang. Semuanya mengatakan bahwa mereka turut berduka cita atas meninggalnya eommaku. Dan dukungan datang dari berbagai orang dan tempat yang berbeda. Siang harinya banyak kenalan kami yang datang ke rumah. Mereka semua menawarkan bantuan. Tapi mereka semua tidak bisa menggembalikan eomma.

Hari-hari berlalu tanpa kedua orang tuaku, tapi, ada Halmeoni yang menemaniku. Auntieku jaga sekarang sudah menetap di Korea, katanya dia ingin menemaniku. Yoon Mi hampir setiap hari ke rumahku, sesaat aku bisa melupakan kesedihanku.

***

Sekarang aku sedang berada di taman, taman di mana aku menghabiskan sebagian waktuku bersamanya.

“Oppa,,,”

“Ye,”

“Aku mau tanya, apakah yeoja yang akhir-akhir ini bersamamu itu pacarmu?”

“Mwo? Yoeja? Yoeja yang mana? Akhir-akhir ini yang dekat denganku hanya kau?” katanya.

“Yoeja, yang hampir kau cium.”

“Aku? Mencium yoeja? Tidak mungkin! Aku belum pernah berciuman!” hardiknya.

“Waktu di taman sekolah! Apa Oppa lupa?”

“Taman sekolah? Waktu kau pingsan itu?”

“Ye,”

“Hahahahahah,,,”

“Loh? Ada yang salah? Jawab pertanyaanku!”

“Dia itu Joongki hyung. Aku mengetahuinya saat kau pingsan itu.”

“Lalu, yoeja yang akhir-akhir ini dekat dengan oppa? Dia hoobaeku!”

“Maksudmu? Oh, aku tahu, anak kelas musik yang setiap hari pulang denganku?”

“Ye,”

“Dia sepupuku. Dia itu yang ada dengan Jongki hyung saat kau pingsan itu. Mereka sudah pacaran.”

“Jongmal? Berarti aku salah….”

“Memangnya kau kira Jongki hyung  itu siapa?”

“Oppa…”

“Hahahahah… kau ini ada-ada saja” Saat aku mendengar tawanya yang lepas, seakan beban yang ada di otakku hilang, aku berdo’a kepada Tuhan, agar tetap menjaganya. Aku tidak mau kehilangan orang-orang yang aku cintai.

“Yoo Jin-ah”

“Ye,”

“Maukah kau menjadi pacarku?” sebuah kalimat yang tidak pernah aku duga sebelumnya terlontar dari bibir seorang LEE JINKI.

“Oppa?? Jangan bercanda!”

“Aku tidak bercanda. Ini bukan karna kau sudah sendiri, bahkan sebelum eommamu meninggal, aku sudah mencintaimu.” Aku hanya bisa terdiam mendengar apa yang ia bicarakan. Apa aku sedang bermimpi? Bangun Yoo Jin!! Bangun!!

“Jawab aku Yoo Jin!!” Aku teringat kata-kata eomma di hari terakhirnya “Wanita tidak boleh menerima begitu saja; ia harus mempertanyakan. Ia tidak boleh terpesona oleh apa yang sudah dibangun di sekelilingnya; ia harus menghormati sosok perempuan dalam dirinya yang memperjuangkan ekspresi diri.”

“Kenapa? Kenapa harus aku Oppa?”

“Aku mencintaimu Yoo jin, Sungguh!”

“Aku mau Oppa!” Onew oppa mendekatkan mendekatkan wajahnya dan mencari bibirku. Setelah dapat yang ia mau. Ia melumat bibirku. Bibir kami bertaut satu sama lain. Aku menagis. Yang terpikir di otakku adalah Jika aku kehilangan dia, apa yang harus aku lakukan?

“Baiklah kita pulang sekarang!”

***

Tidak seperti biasanya, aku dan Onew oppa pergi berjalan kaki. Biasanya ia akan mengajakku berkeliling dengan motornya atau dengan mobilnya.

Hari ini, hari dimana aku merasa pandanganku tentang dunia berubah. Hidup ini memang sebatang kara. Kita lahir, menjeritkan tangis, dan dunia tertawa. Inilah awal penegasan dunia sebatng kara. Janga mengharapkan orang lain untukmu, jika kau tak berusaha menjadi untuknya. Yang penting adalah diri kita. Siapa diri kita. Lalu siapa diri kita dengan sebenar-benar adanya.Tetapi kita selalu salah sagka dan salah pengertian tentang diri kita karena kita tidak pernah mau tahu siapa diri kita.

Tak jauh dari kami berjalan, tampak segerombolan orang. Aku heran kenapa Onew oppa memilih jalan ini untuk jalan pulang. Padahal ia sudah tau, ini jalan rawan akan tindak kejahatan. Aku takut. Hari sudah mulai gelap. Sepanjang perjalanan pulang, Onew tak melepas sedetik pun tangganku dari gengamannya. Karena lelah dan pikiranku bercabang kesan kemari, dengan nyaman kusandarkan kepalaku ke bahunya. Dinggin udara malam terus mengepung perasaan menawarkan kemesraan. Begitu nikmat melelapi mimpi, lorong-lorong surga yang tak terjamah.

“Aku ingin terus seperti ini. Aku ingin keindahan ini tidak berakhir. Janggan tinggalkan aku Yoo Jin.”

Lalu kusadari tubuhku telah berada dalam pelukanya. Begitu kuat pelukan itu. Dan cumbuan itu. Kulihat bumi menjadi benderang dan hamparan mutiara bertebaran, berkilauan.

“Tapi Oppa. Aku takut.”

“Bersamaku seperti ini?”

“Ani, aku takut. Aku takut kita berpisah.”

“Percayalah, aku akan selalu menjagamu.”

Onew merengkuh dan mencoba memberi ketenangan dalam pelukannya, dan perasaanku begitu lapangnya dan tidak ada sesuatu yang membuatku gelisah. Mengikuti matanya yang sanggup menembus lapisan kabut, matanya yang seperti safir tersembunyi di antar terumbu karang. Begitu menenangkan.

“Arrrrgggg….!” terdengar suara parau dan mengiba menggema di lorong kecil tempat kami berdiri sekarang.

Kami mencari sumber suara. Dan menemukanya. Yang benar saja, seorang perempuan sedang disiksa oleh segerombolan pria, berbadan tegap. Sejurus aku tersihir oleh penglihatanku. Kutatap wajah wanita itu—menyedihkan.

“Apa yang kalian lakukan disini!” Seorang dari mereka angkat bicara.

“Seharusnya kami yang bertanya, kenapa kalian lakukan itu?”

‘Apa urusanmu anak muda. Kau mau mati?” Deg, aku tersentak mendengar kata mati.

“Kau mau aku laporkan polisi?”

“Terserah kau saja!”

Salah satu dari mereka mendekati kami, menarik kerah baju Onew oppa. Memberikan pukulan bertubu-tubi di mukanya. Aku tersentak ketakutan dan berusaha melarikan diri, tetapi lengan hitam yang di penuhi otot-otot menonjol tak seragam itu menagkapku. Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan dan ia menariknya kuat, menapar pipiku, menempeleng wajahku, dan menyeretku menjauh dari Onew Oppa.

“Hen…t..i..kan..” teriakan suara parau Onew Oppa, mukanya sudah berlumuran darah, bentuk bajunya sudah tidak sempurna. Terdapat bercak darah dimana-mana. Aku menagis. Apa yang akan aku lakukan? Kenapa selalu disaat seperti ini! Disaat aku tidak bisa menolong orang yang aku cintai! Terdengar gelak tawa dari mereka. Setiap kali kucoba menutup telinga dari suara-suara itu, mataku menangkap bayangan Appa dan Eomma. Melawanlah Yoo jin! Bukalah bibirmu dan katakan ke mereka.

“Apa yang kalian inginkan! Uang?”

“Nona manis kau jangan sok jagoan!”

“Aku bisa memberikan sepuluh juta won ke kalian! Asal kalian melepaskanya! ”

“Sepuluh juta? Baiklah” Aku menggambil pena pemberian Onew oppa dan selembar cek. Demi memuaskan mata-mata kelaparan yang menatap dengan penasaran. Dengan tangan gemetar, penaku berguncang menahan rassa takut, dan rambut kepalaku beku karena takjub. Aku menyerahkan cek kepada mereka.

“Yoo jin, ja..n..n.n.g…an.”

Tapi apa yang aku dapat setelah aku menyerahkan cek itu, sebotol racun yang berada di tangan keparat itu. Ia menyuruh Onew oppa meminumnya. Walapun berontak dengan sekeras apapun, jumlah mereka lebih banyak dari kami. Wanita tadi yang berteriak, ternyata wantia para jahanam-jahanam ini. Mereka menjebak kami.  Onew menelan minuman yang bisa menghilangkan nafasnya.

“Hentikan! Hentikan! Ku mohon hentikan!”

Tak sampai beberapa menit, Onew oppa merangkai kematianya dengan tragis. Dia sudah tertidur lelap selamanya. Kulihat ada pisau di tangan sebelah kanan pria yang memakai baju berwarna hitam. Meraihnya dan menancapkannya ke dadaku. Kalian tahu apa yang terjadi?

***

Cinta telah membakar dua jiwa dengan tatapan pertama, kedua belah pihak berusaha mempersembahkan sesuatu yang dikehendaki cinta. Cinta yang membuat mereka mengubur gadis dan pria hidup yang tertidur lelap. Membuat mereka tidak terpisahkan. Gadis yang telah menemukan keutuhan keluarganya lagi, melihat lembah indah, aliran air keperakan mencerminkan kedalaman sungainya, terlihat permadani indah terhampar, berwarna hijau, dan membentang luas sejauh mata memandang, seakan sahara berwarna daun keemasan. Berbahagialah kalian di surga.

 

.::END::.

 

P.S : Huaaa T___T kepanjangan yah ? Saya bikin karakter saya mati :[ kalau yang nggak suka :[ bilang aja :[  weh,  ada akang chngmin, changmin dbsk yeh, bukan changmin 2am. Dia juga jadi ahjussi*plakk/digampar changmin* Jadi inti dari ff ini : Cintailah semua orang yang ada di dekat kalian, selagi mereka masih hidup, baik itu yang udah jahatin kalian atau sangat baik sama kalian. Buat yang udah baca ini di Sf3si, ini endingnya saya bikin beda, yang di sono saya bikin happy ending, di sini saya bikin ANGST……. ini karena AYAM SAYA!!! Huaaaaa T___T pulanglah kau ayamku sayang(?). SILLENT READER SAYA DO’AKAN DOSANYA BERTAMBAH 10x lipat.*ammmiiiinnn* Buat yang udah like dan komen, thanks yah!! Chu♥~

me ini poto apaan? *PLAAAAAKKKK*

Advertisements

29 responses to “Cracks of My Broken Heart – Last Part

  1. tragis T_T itu baru yang namanya cinta mati!! hohoho tapi bener2 deh kalo aku jadi si Yoojin aku udah gakuat kali… hueeee author bikin aku hampir nangis nih 😥

  2. KEREN,BAGUS…
    Ceritanya tentang kematian semua
    Penjahatnya kejam…
    kasian banget harus mati tragis kayak gitu
    saya udh senang pas onew bilang cinta sama yo jin tapi ga taunya kematian menimpa mereka ber2
    semoga bahagia ya di surga
    like,,,like,,,like ^,^

  3. omo~~

    cerita cinta yang mengharukan..
    aku beneran nangis lho bacanya..T_T

    kata-katanya bagus, banget…^^
    bner2 menyentuh#apadeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s