Please, Marry Me! (Part.7)

Title : Please, Marry Me! (Part.7)

Author : Cute Pixie (Rara) & Keyholic (Nisa)

Main Casts : Choi Minho, Han Yooki

Minor Casts : Yoon Jisun, Lee Taemin, Shin Hyunchan, and other casts (still hidden)

Genre : Romance

Length : Series

Rate : PG-15

Previous Part : Part.1 | Part.2 | Part.3 | Part.4 | Part.5 | Part.6


Yooki melangkahkan kakinya, memasuki daerah taman Yeouido yang terletak persis di depan sebuah gedung stasuin TV KBS. Hamparan bunga-bunga yang membuat decak kagum orang-orang yang hanya sekedar duduk-duduk saja disitu (dibawah pohon) dan juga beberapa remaja yang tengah asyik bermain sepatu roda, menjadi pemandangan utama saat Yooki memasuki taman ini. Matahari bersinar cukup cerah –mungkin itulah alasan mengapa taman ini sedang ramai-ramainya dikunjungi penduduk kota.

Bola mata Yooki bergerak, mencari sosok Taemin. Sore tadi Yooki sudah menelepon namja itu untuk datang kesini. ada urusan penting–begitu katanya. Taman ini sudah menjadi tempat favorit yang sering dikunjunginya bersama Taemin sejak dulu, tapi tidak untuk kali ini. Ada masalah yang harus segera diselesaikannya pada Taemin.  Dan ini sangat penting. Menyangkut dirinya, masa depannya, masa depan Taemin.. dan perasaannya.

Sedetik kemudian, ia terhenti. Sejenak dipejamkannya mata dan ditariknya nafas panjang. Setelah merasa dirinya akan baik-baik saja, ia melangkahkan kakinya dengan mantap.

Begitu dilihatnya Taemin duduk sendirian di bangku taman, Yooki tersenyum dan berjalan ke arahnya. Hatinya agak deg-degan, tapi setengahnya lagi merasa lega. Mungkin ia sudah cukup siap untuk mengatakannya pada Taemin.

“Annyeong,” sapa Yooki seriang mungkin. Taemin terperangah begitu melihat sosok yang ditunggu-tunggunya sejak tadi akhirnya datang juga. Yooki pun duduk disamping Taemin.

Taemin tersenyum menanggapi kedatangan Yooki. “Annyeong, Yooki-ya.” dan tak lama setelah itu, suasana hening. Mereka terdiam. Tak ada suara yang kelar dari salah satu pihak. Bibir mereka seakan terkunci rapat. Sebenarnya Taemin ingin memulai pembicaraan, tapi setelah melihat wajah Yooki yang seolah-olah ingin mengatakan sesuatu yang ‘penting’, ia tak jadi berbicara . ia lebih memilih diam.. dan menunggu.

Beberapa menit berlalu. Tetap saja, Yooki tak mau berbicara. Padahal Taemin sangat yakin kalau Yooki ingin mengatakan sesuatu, tapi dipendamnya rapat-rapat. Kening Taemin berkerut. Bingung juga. Ia bingung dengan apa yang akan mereka lakukan di saat-saat seperti ini.Karena gemas melihat tingkah Yooki yang diam saja, Taemin akhirnya memulai topik pembicaraan.

“Tak banyak berubah dari taman ini. Terakhir kali kita kesini sebelum ujian kelulusan,”

Taemin menoleh, dan Yooki masih diam saja. Lebih tepatnya Yooki tak tahu tanggapan yang bagus untuk menanggapi pernyataan Taemin. Taemin akhirnya memulai berbicara lagi.

“Kau lihat bunga matahari di sebelah sana?” telunjuk Taemin mengarah pada sekumpulan bunga matahari berwarna oranye kekuning-kuningan, yang ditanam di sebelah pohon Ek. “Aku suka dengan bunga matahari. Kau tahu, mereka itu bunga yang setia dan tidak akan pernah berpaling pada matahari. Bunga matahari itu akan menatap matahari terus menerus,”

Taemin berharap sekali Yooki akan menunjukkan reaksinya. “Dan begitu juga dengan perasaanku,” katanya, lirih.

Kata-kata Taemin yang terakhir itu sukses membuat yeoja disampingnya menoleh kerahnya, menatap Taemin. Yooki tak menyangka Taemin masih memiliki perasaan yang seperti dulu. Selama ini ia mengira Taemin sudah melupakan perasaannya.

“Bunga matahari akan terus menunggu sang matahari hingga ia keluar dari awan gelap, dan setelah itu ia akan kembali menatap matahari,” ucap Taemin –lagi, tanpa melihat kearah Yooki. Matanya menatap lurus pemandangan yang ada di depannya.

Yooki akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. “Tapi, bagaimana jika matahari tak mau keluar dari awan gelap itu karena ia merasa nyaman disana?”

Taemin terdiam mendengar pernyataan Yooki. Ia bingung harus bagaimana menjawabnya, perasaannya mulai tidak enak.

“Kurasa.. kalau begitu, sudah saatnya bunga matahari mencari patokan lain,” Yooki menjawab pertanyaannya sendiri.

“Bagaimana kalau perasaanku sama seperti matahari itu?” Tanya Yooki lagi. “Bagaimana kalau aku sudah merasa nyaman dengan awan gelap itu.. dan tak mau kembali lagi?”

Taemin terkejut. Respon dari Yooki sungguh diluar dugaannya. “Yooki-ya.”

Yooki menunduk. “Mianhae, Taemin. Tapi.. perasaanku tak sama dengan yang dulu lagi. Aku sendiri tak tahu mengapa, tapi posisimu sudah tergantikan dengan Minho. Aku menyayangi Minho. Bukan karena dia ayah dari bayi yang kukandung, tapi karena aku benar-benar menyayanginya dengan tulus.”

“Kau namja yang sangat baik, Taemin. Kau pantas mencari yeoja yang lain pantas untukmu, dan itu bukan aku,” Yooki menghela nafas. Sangat susah untuk mengatakannya, ia tahu persis bagaimana perasaan Taemin saat ini. “Aku yakin kau bisa menemukan matahari-mu yang baru, matahari yang akan terus menyinarimu tanpa pernah sedikitpun berpaling ke awan gelap itu.”

Deg. Taemin tak bisa berkata-kata apapun sekarang. Ucapan Yooki seakan-akan membuat hatinya hancur berkeping-keping. Kecewa.. dan sakit. Selama ini ia selalu berbesar hati, terlebih lagi saat ia Yooki menolak cintanya dulu. Tapi kini ia tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri kalau ia memang sangat kecewa. Taemin merasa dirinya sudah menunggu terlalu lama, dan penantiannya ternyata tak memberikan hasil yang diinginkannya.

“Minho diterima di Universitas Tokyo, lusa pagi kami akan berangkat ke Jepang,” Yooki kembali berbicara setelah keheningan sempat melanda mereka berdua. Ia berbalik arah, kini posisinya menghadap namja itu. Ditatapnya mata Taemin lekat-lekat. Menatap mata Taemin sama saja membuat hatinya ikut sedih. Sedetik kemudian, Yooki memberanikan diri memeluk Taemin.

Taemin berhasil dikejutkan dengan tindakan spontan dari Yooki.

“Gomawo, Taemin-ah. Aku tahu, kata terimakasih dariku tak cukup pantas membalas semua kebaikanmu padaku, tapi hanya itu yang bisa kulakukan. Semoga kita masih bisa berteman seperti dulu. Dan mulai dari sini, kau dan aku akan memulai hidup baru masing-masing. Jaga dirimu baik-baik,” Yooki melepas rangkulannya.

Yooki beranjak dari tempat duduknya. “Annyeong,” ucapnya berbungkuk –sebagai tanda perpisahan pada Taemin. Baru saja ia ingin melangkah pergi, tangan Taemin buru-buru menahannya. Ia menggenggam pergelangan tangan Yooki, seolah berkata ‘jangan-pergi.’

Tapi.. percuma. Tanpa melihat wajah Taemin, Yooki melepaskan tangan Taemin yang sempat menahannya dengan tangan yang satunya.

“Maaf, Taemin.” Yooki bergegas pergi meninggalkan namja yang sedang tersenyum miris itu.

“Semoga kau bahagia dengan pilihanmu, Yooki-ya. “ bisik Taemin lirih. Setengah hatinya tak rela saat yeoja itu mulai menghilang dari pandangannya.

***

Langit sudah mulai gelap, sebenarnya sudah saatnya sang raja siang itu kembali ke peraduannya, namun tak begitu nampak akibat cuaca mendung yang menggelapkan langit. Taman Yeouido yang tadinya ramai dipadati manusia, kini berangsur-angsur berkurang seiring dengan jatuhnya gerimis yang lama-kelamaan berubah wujud menjadi hujan lebat. Namun namja yang tadinya ditemani seorang gadis yang akhirnya pergi itu, tetap bersikukuh diam di tempatnya tanpa berniat menyingkir dari tempat itu, apalagi berteduh dari serangan hujan.

Hujan semakin deras, seolah-olah ingin ikut serta dalam kesedihan Taemin. Ia diam, tak bergeming sedikitpun. Taemin menengadahkan kepalanya, menyambut butiran air hujan yang semakin deras. Ia membiarkan air matanya tersembunyi di balik air hujan.

Ia sendiri tahu, lelaki itu pantang menangis, terlebih lagi untuk urusan percintaan. Benar-benar memalukan. Tapi jika kau berada di posisinya saat ini, hal itu bakal sulit kau lakukan.

Tiba-tiba, Taemin mendengar suara tangis sesegukan yang ikut berbaur dengan suara hujan. Awalnya Taemin tak perduli. Masa bodoh. Tapi, lama kelamaan suara itu mulai mengganggunya. Perasaanya yang tadi hampir kembali normal, kini dikacaukan oleh suara itu. Akhirnya, ia menoleh ke seberang. Ia berfikir, memangnya masih ada orang yang mau berhujan-hujan dengan tingkah bodoh sepertinya?

Matanya menangkap sosok gadis yang tiba-tiba tubuhnya ambruk dari kursi taman. Taemin terkaget dan segera berlari menuju gadis itu untuk mengecek keadaannya. Dan betapa terkejutnya dia, saat ia menyibak pinggir rambut yeoja yang tengah pingsan itu.

Ini kan.. Yoon Jisun? Pikir Taemin tak percaya.

“Jisun-sshi.. Jisun-sshi.. ireonna!”Taemin mengguncang-guncangkan tubuh Jisun, tapi tak ada reaksi yang berarti. Dia pingsan.

Dilihatnya wajah hobbaenya itu lama kelamaan sudah semakin memucat. Kalau dibiarkan terus, lama-lama dia bisa sakit. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera menggendong Jisun dan membawa tubuh gadis itu cepat masuk ke dalam mobilnya. Satu hal yang disyukurinya saat itu, untung saja appa mengizinkannya membawa mobil.

Sepanjang perjalanan Taemin merasa benar-benar gelisah. Tangan kanannya memegang setir, sementara tangan kirinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya fokus ke depan, ia berusaha mempercepat laju mobilnya. Namun disisi lain pikirannya kembali melayang.

Kenapa Jisun bisa berada di taman dan berhujan-hujan disana?

“Minho oppa, kumohon jangan tinggalkan aku.. aku.. aku tidak bisa..”

Taemin berbalik ke belakang dan menatap Jisun yang masih terbaring. Jisun tiba-tiba mengigau, sementara  mata gadis itu masih terpejam. Dan igauan Jisun itu sudah menjawab pertanyaan di otak Taemin.

***

“Umma.. umma.. tolong bantu aku!” teriak Taemin sesampainya ia tiba di depan pintu rumah. Ia kelihatan sangat tergesa-gesa  sementara tangannya masih merangkul Jisun yang tidak sadarkan diri.

“Aigoo.. Taeminnie.. wae gurae? Yeoja itu, siapa?” sahut umma yang muncul dari ruang makan.

“Haish, umma, pertanyaannya banyak sekali! Cepat bantu aku bersihkan kamarku,” Kening wanita berusia 40-an tahun itu sedikit berkerut, bingung tau-tau ada yeoja yang tak dikenal masuk ke wilayah keluarganya. Tapi setelah itu ia menuruti perintah anaknya.

Umma langsung masuk ke kamar Taemin, sementara Taemin yang sedang membopong tubuh Jisun mengikuti ummanya dari belakang. Setelah sampai di dalam kamar, Taemin membaringkan Jisun di ranjangnya.  Setelah ia membaringkan Jisun, Taemin menoleh dan mendapati tatapan ummanya yang seperti berkata ‘tolong-jelaskan-pada-umma-siapa-gadis-itu’. Kelihatannya umma masih belum percaya seratus persen pada anak semata wayangnya itu.

“Dia temanku, umma. Tadi aku tak sengaja menemukannya pingsan di taman,” jawab Taemin, seolah-olah tahu apa yang ada di benak ummanya.

Umma  melangkah mendekati gadis yang tengah terbaring itu. Telapak tangannya menyentuh kening Jisun. Omo.. panas sekali suhu tubuh anak ini. Kenapa ia bisa pingsan di taman kota? Apa ia sedang ada masalah? Pikir umma. Biarpun gadis-yang-entah-siapa-namanya itu bukan anaknya, tapi ia merasa kasihan pada anak itu. Apalagi ia seorang yeoja. Ia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Taemin jika anaknya itu pingsan.

Umma memandang sebentar wajah gadis itu, ia menoleh kebelakang. “Umma akan mengganti pakaiannya. Jika dibiarkan bisa masuk angin,” umma sudah mulai ingin mengganti baju Jisun, tapi..

“Ya! kenapa kau masih ada disini? Cepat keluar sana!” seru umma, pura-pura memasang tampang galak. Dan Taemin hanya tersenyum geje lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.

Haish, dasar bocah itu.. mesum. Ucap Nyonya Lee dalam hati.

Setelah mendapatkan perawatan dari ummanya Taemin, akhirnya Jisun sadar. Pelahan-lahan kedua matanya terbuka sedikit. Ia bisa melihat sesosok namja yang duduk di pinggir ranjang, meskipun pandangannya agak sedikit mengabur. Ternyata sunbae di sekolahnya, Lee Taemin.

“Sunbae,” Jisun bangun, kini ia dalam posisi terduduk diatas kasur berseprai kuning cerah itu.Tangannya memegangi kepalanya yang terasa pening. Ia masih setengah sadar. Baru saja ia ingin bangkit, tangan taemin dengan sigap menahannya.

“Eh, jangan banyak bergerak dulu! Demammu belum turun, Jisun-sshi,” ucap taemin, lalu membaringkan tubuh yeoja itu lagi. Jisun mengangguk pelan, walau sebenarnya ia masih bingung. Bingung dengan semua keadaan ini. Bagaimana bisa ia berada di kamar milik Taemin? Padahal baru sore tadi ia merenungi diri di taman.

“Kau ada di rumahku sekarang. Tadi aku menemukanmu pingsan di taman,” Taemin berkata seolah-olah menebak pertanyaan yang akan dilontarkan Jisun.

“Malam ini, menginaplah disini. Aku sudah menelepon rumahmu yang ada di kontak ponselmu, tapi sepertinya tak ada orang. Jadi, kupikir kau lebih baik disini saja, ibuku akan merawatmu sampai sembuh,” terang Taemin, Jisun mengangguk sambil tersenyum. Percuma saja namja itu menelepon ke rumahnya, toh dirumah dia hanya ditemani Miru –anjingnya. Appa terlalu sibuk, sampai-sampai ia jarang pulang ke rumah.Pekerjaan adalah prioritas utama baginya. Dan.. Jisun, mungkin baru nomor ke sekian.

Sebenarnya tak jadi masalah bagi Jisun untuk menginap semalam disini. Tapi, bagaimana dengan Miru? Ia tidur dengan siapa malam ini? Jujur saja, Jisun paling tidak tega membiarkan anjingnya sendirian dirumah.

“Khamsahamnida, sunbae-ya,”

“Satu hal lagi, kupikir kita cuma beda setahun, jadi tak usah seformal itu memanggilku. Aku kadang-kadang merasa risih dengan formalitas, kesannya aku ini sangat tua,”

Jisun tertawa mendengar ucapan namja itu. Biasanya para sunbae di sekolahnya sangat menjunjung tinggi formalitas, tapi sunbae yang satu ini berbeda.

“Ne,oppa,”

“Nah, begitu ‘kan lebih baik..” Taemin tersenyum. Tangannya meraih nampan berisi semangkuk bubur yang ada di atas nakas, dan meletakkanya di pangkuannya. “Oh iya, ini bubur untukmu. Makanlah, ummaku sudah membuatkannya khusus untukmu. Kalau rasanya aneh, maaf-maaf saja, ya. Soalnya ummaku tak bisa masak,” dan keduanya tertawa saat mendengarnya. Jisun merasa Taemin itu terlalu jujur. Dan polos.

“Terimakasih, oppa.”

***

Incheon Airport, Seoul.

Hiruk pikuk dan kesibukan disana-sini. Pintu keberangkatan dan kedatangan tak henti-hentinya terbuka. Bandara Incheon memang penuh sesak olah manusia yang datang dari berbagai penjuru negeri, bahkan juga dari berbagai belahan dunia. Suara decitan koper dan troli barang terdengar disana-sini. Sangat berisik.

Minho berdiri termenung , disampingnya sudah ada Yooki. Matanya menatap lekat-lekat tiket pesawat yang ada di tangannya. Tertulis jelas tulisan yang tertera di tiket itu, tiket pesawat tujuan TOKYO, JEPANG.

Sejenak ditariknya nafas panjang, lalu dihembuskannya perlahan. Didepannya sudah ada tiga orang. Tiga orang yang terdekat baginya. Tiga orang yang selama ini selalu ada di sampingnya. Tiga orang yang selama ini merupakan bagian keluarganya. Appa. Umma. Dan Hyunchan noona.

“Appa, umma, noona, kami berangkat ya,” ucap Minho, berusaha terlihat setenang mungkin. Mungkin, setelah ini, ia akan jarang bertemu dengan keluarganya.Ia pasti sibuk berat dengan tugas kuliah yang sudah ada didepan mata. Ia melirik Yooki. Yooki bersikap biasa-biasa saja. Melihat wajah Yooki, hati Minho menjadi kembali tenang. Setidaknya gadis ini akan menemaninya di Jepang nanti.

Kini tiba saatnya dia dan yooki berangkat ke Tokyo untuk melanjutkan sekolahnya. Minho sendiri tak percaya kenapa ia bisa diterima di universitas bergengsi itu. Siapa yang tak kenal universitas Tokyo? Semua orang pasti tahu, tak banyak dari siswa yang bisa diterima di universitas itu, kecuali yang otaknya diatas rata-rata. Minho merasa bangga, akhirnya ia bisa berkuliah di jurusan kedokteran sama seperti Hyunchan noona, meski ia merasa IQ-nya masih jauh dari yang dibayangkan.

Yooki juga ikut membungkuk dihadapan keluarga Choi.Tuan Choi tersenyum, sedangkan Nyonya Choi hanya menanggapi tindakan Yooki tadi seperti angin lalu. Ia masih tetap dingin seperti biasa. Tanpa senyum, ia memandang kedepan. Entah kenapa, melihat wajah gadis itu saja, sudah membuatnya muak.

Hyunchan yang menyadari sikap ummanya sudah keterlaluan pada Yooki, sikutnya langsung menyenggol umma. “Umma..” Hyunchan menyuruh ummanya agar memberikan (setidaknya sedikit) senyuman untuk Yooki, namun umma malah tidak menampakkan senyumnya. Menatap wajah anak itu saja, ia enggan melakukannya. Apalagi tersenyum.

“Aish, sudahlah. Aku mau kembali ke mobil,” sahut umma (memang) tak perduli. Ia membalikkan badannya, dan segera pergi keluar pintu utama bandara. Dia tak mau berlama-lama merasakan kehadiran Yooki ditengah-tengah mereka.

“Sudahlah, Yooki-ya. Kau tahu kan, sifat ummanya Minho memang seperti itu, jadi jangan masukkan ke hati, ya.” ucap appa, berusaha menenangkan hati menantunya itu. Yooki mengangguk, namun sebenarnya hatinya berkata yang sebaliknya.

“Sudah, cepat berangkat sana.. dan ingat pesanku, jaga..”

Omongan Hyunchan terhenti saat Minho langsung memotongnya. “Jaga Yooki baik-baik. Nde, noona, arasseo.. Kau selalu mengulang-ulang ucapan itu,” kata Minho setengah kesal. Hyunchan hanya tertawa, sebenarnya tangannya sudah gatal ingin memukul kepala adiknya itu. Namun ia mengurungkan niatnya. Biarkanlah Minho terbebas dari pukulannya sekali ini saja, toh besok ia sudah berada di Tokyo.

***

“Perhatian, bagi para penumpang harap memasang seatbeltnya dengan baik, karena sebentar  lagi pesawat akan tinggal landas,” suara pramugari menggemea seantero pesawat. Sebentar lagi, pesawat jurusan Tokyo itu akan meninggalkan lapangan terbang Incheon.

“Han-goon,” panggil Minho. Mereka sudah duduk di bangku pesawat. Yooki berada di sampingnya, ia melihat pemandangan diluar pesawat. Kelihatannya antusias sekali.

Yooki pun menoleh ke arah Minho, perlahan-lahan tapi pasti, Minho mendekatkan wajahnya ke Yooki. Otomatis Yooki merasa deg-degan. Bola mata hitamnya menatap wajah Minho yang semakin mendekat.Yooki menatap Minho dengan ekspresi takut.Ia tak menyangka Minho akan melakukannya di tempat seramai ini.

“Ya! Choi Minho, apa yang kau lakukan? Ini pesawat, bodoh! Banyak orang!”

Minho berbisik. “Ssstt.. diamlah, Han-goon. Kenapa kau jadi malu-malu begitu? Bukannya kita ini suami-istri?” Minho semakin menunjukkan senyuman devilnya. Menyebalkan.

Mata Yooki berkeliling ke sekitar. “Ne.. tap-tapi..” Yooki ingin berbicara, namun ucapannya terpotong ketika jarak wajah Minho semakin lama semakin dekat. Sial. Mau tak mau Yooki menutup matanya rapat-rapat. Tangannya memegang keras pengangan kursi saking dag-dig-dugnya perasaannya sekarang ini. Lama-lama ia merasa nafas Minho mulai mendekat, menyapu wajahnya. Dan..

PLETAK!

Minho mendaratkan sentilan kecilnya di kening Yooki. Yooki refleks meringis, tangannya meraba keningnya yang lumayan perih.

“Ouch… sakitnya..”

“Makanya, pikiranmu itu jangan kemana-mana. Dasar bodoh!”

Yooki membuang mukanya dari Minho. Ia terlalu malu dengan kejadian tadi. Bisa-bisanya dia mengharapkan yang tidak-tidak. Malang sekali nasibmu, Han Yooki.

Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang melengket di rambutnya.

“Han-goon, lihat aku.” Minho berusaha menarik tubuh Yooki agar berbalik ke arahnya. Yooki pun berbalik, (berusaha) tanpa ekspresi. Wajahnya sudah tak semerah tadi. Minho menatap wajah Yooki sejenak dengan tatapan menilai.

“Aigoo… neomu yeppeoda..”

Yooki melongo. Ada sesuatu yang aneh pada Minho, kenapa ia tiba-tiba mengatakanku cantik? Seharusnya dari dulu.. batin Yooki mulai ge-er. Sepertinya tatapan Minho tertuju pada bagian atas rambutnya. Penasaran, tangan Yooki meraba-raba sesuatu di kepalanya itu.

“Jepitan?” tanyanya bingung. Ia menatap jepitan berbentuk kupu-kupu biru-silver yang bersinar. Hiasan rambut yang sangat manis. Ingatannya kembali terulang. Ini kan.. jepitan yang kuinginkan di booklet itu?

“Uhm.. jepitan itu.. jaga baik-baik, ya. Yah, walaupun harganya tidak mahal, tapi kalau kau sampai menghilangkannya..” Minho berusaha memasang tampang sedingin mungkin. “Tak akan kumaafkan!”

Yooki tersenyum senang. Walaupun dari tatapan mata namja itu yang seakan-akan dibuat dingin dan cuek, tapi ia bisa melihat ketulusan di mata Minho saat namja itu memberikan benda itu padanya. Ia mengangguk mantap. “Nde,, yaksokhe, nae yeobo..~”

Ini pertama kalinya Minho memberinya sesuatu dan ia janji akan menjaganya baik-baik.

“Emm.. aku pegang janjimu, tapi jangan senang dulu. Tidak ada yang gratis di dunia ini,”

Alis Yooki naik sebelah. “Mwo? Memangnya apa maumu?”

Minho tak berbicara apapun. Ia hanya menunjukkan pipi sebelah kirinya.

Yooki menggeleng. “Ya! Sudah kubilang disini banyak orang, shireo!” tolaknya, ia menyilangkan tangannya, pertanda bahwa ia memang sama sekali tak mau dan tak ingin. Memangnya apa sih yang ada di pikiran gila Minho? Sejak kapan ia menjadi genit seperti ini? Ia terlalu malu untuk melakukannya, terlebih didepan puluhan pasang mata yang sedang berada di ruangan yang sama dengan mereka.

“Ya sudah. Kalau begitu, pemberianku akan kuambil kembali dan aku tidak akan pernah memberimu apa-apa lagi,”

Minho baru saja ingin merebut jepitan itu dari tangan Yooki, namun Yooki tiba-tiba berteriak. “Andwe!”

Ini adalah pemberian satu-satunya dari Minho , dan kalau Minho tak ingin membelikannya, berarti tidak akan ada kenang-kenangan dari Minho, begitu pikir Yooki.

Yooki menghela nafas. “Ok-oke.. baiklah.. huft.” Gadis itu mulai mendekatkan wajahnya ke pipi Minho, sedangkan Minho menunggu dengan senang hati. dan saat jaraknya semakin dekat, Minho tiba-tiba berbalik dan..

Chu~

Mata Yooki terbelalak. Kaget, sekaligus.. entahlah. Susah untuk mendekskripsikannya. Perasaannya campur aduk. Ada perasaan marah bercampur senang yang muncul bersamaan saat Minho menciumnya. Karena tak mau itu terjadi terlalu lama, akhirnya Yooki  langsung cepat-cepat membuang muka. Wajahnya memanas karena malu. Aliran listrik seolah-olah mengalir dari atas tubuhnya.

Aigoo.. kenapa jadi begini, sih? Padahal ini bukan yang pertama kalinya, gerutu Yooki. Ia menyentuh dadanya. denyut jantungnya yang merasakan sesuatu yang lain dari yang biasanya.

Yooki bisa mendengar suara tawa Minho yang meledak setelah ciuman sekilas itu “Hahaha.. kena kau, Han-goon!”

BUKK!!

Pukulan keras mendarat di kepala Minho dan  ketawanya pun terhenti.

“Ya! Wae? Apa ada yang salah kalau suami mencium istrinya?” Minho membela diri.

“Arghh.. diamlah, Choi Minho!”

Minho terkekeh. Yooki malah memasang muka marah, kedua tangannya dilipat. “Aigoo.. Han-goon, kau jangan marah. Mianhae, yeobo-ya.” Minho tersenyum kecil, lalu merangkul pundak Yooki. “Saranghaeyo nae Han-goon!”

***

Dentuman yang begitu keras yang terdengar membuat penumpang menjerit kepanikan. Orang-orang yang tadinya sibuk bercengkrama, tidur ataupun sekedar mendengarkan music, kini didera rasa ketakutan yag luar biasa. Bagaimana tidak,asap mulai mengepul dari arah luar badan pesawat, sedangkan pesawat itu sendiri mulai oleng dengan ketidakseimbangan yang ada.

“Para penumpang sekalian, diharapkan tetap tenang. Pesawat sedang mengalami gangguan. Silahkan pasang masker udara yang terdapat di tempat kalian, karena tekanan udara dalam pesawat sedang dalam keadaan tidak stabil,” ucap pramugari berbaju biru, tampak berusaha setenang mungkin di depan para penumpang.

Namun sayang, kata ‘sedikit gangguan’ itu terbantahkan saat keadaan pesawat mulai terombang-ambing dan setelah itu pesawat penerbangan jurusan Tokyo itu mendarat di daerah Wonsan, tepatnya di ladang warga setempat.

Dan.. lihat. Keadaan dalam pesawat sudah benar-benar awut-awutan. Suara tangisan, ringisan, dan keluhan menjadi soundtrack di dalam badan pesawat itu. Kepulan asap menyelimuti ruangan pesawat, kursi-kursi tak berada di tempatnya lagi. Para penumpang yang tubuhnya penuh luka, dan bau anyir darah yang menjadi suguhan miris, sekaligus tragis.

Minho merasakan sekujur tubuhnya sakit tak terkira. Posisinya tengkurap dan dibelakangnya, potongan badan pesawat tengah menindih tubuhnya. Dengan konsisi yang dipenuhi luka, ia berusaha memperjelas penglihatannya, mencari dimana keberadaan sosok Yooki.

Yooki.. Yooki.

Dia dimana? Tanya Minho dalam hati.

Akhirnya, ekor matanya pun menangkap onggokan tubuh yang tergeletak lemah tak jauh dari tempatnya berbaring. Itu.. Yooki. Dia berada di posisi yang sama dengan Minho. Wajah beberapa menit lalu masih dinggatnya bersih dan segar, kini tak tampak lagi. Wajah Yooki tergores, penuh luka dimana-mana, darah segar mengalir dari ujung kepalanya, mengalir dari kening, hingga turun ke dagunya.

“H-han-goon.” Minho berusaha memanggil nama yeoja itu, namun sial, suaranya tak cukup kuat untuk memanggil namanya. Yang terdengar hanya suara rintihan yang samar. Minho mencoba bertahan ditengah kesakitan yang dihadapinya.

“Han-goon..” ucapnya, kali ini lebih keras lagi. Tangannya bergerak, berusaha menggapai telapak tangan Yooki, tapi tetap tak bisa.

Perlahan-lahan Yooki membuka matanya, dan didepannya sudah ada Minho, namja yang beberapa saat tadi duduk di sampingnya. Keadaannya tak kalah tragis dibanding dirinya. Rasanya sangat sakit. Lebih tepatnya, rasa sakit di tubuhnya lebih sedikit dibandingkan rasa sakit ketika melihat keadaan Minho. Rasanya lebih baik nyawanya dicabut detik itu juga, daripada harus mengalami kesakitan yang tidak tertahankan. Rasanya perih sekali. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mengerahkan semuanya untuk memanggil nama Minho.

“Minho..”

Itulah ucapan terakhir yang dilontarkan Yooki dan didengar oleh Minho. Sesaat setelah itu, pandangan Yooki mengabur. Dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Yooki dan Minho tak sadarkan diri.

.:::TBC:::.

A.. akhirnya TBC.. *jingkrak2 kesenengan* wkwkw..

mian chingudeul klo part ini hancur.. huhu.. jujur aku susah mendeksripsikan adegan ‘kecelakaan pesawat’nya kayak gmn, mklum ajh ya.. aku kan belum pernah ngalamin kecelakaan pesawat *jgn smpe* XD

jd klo merasa ga ngerti ama adegan yg akhir itu,, mian… TTOTT

malah ceritanya kayak sinetron lg.. *curcol* tp tenang ajh, next partnya ga bakalan di bikin lebay seperti sinetron kok..

part.8 bakal di post minggu depan.. apdetnya bakal setiap hari sabtu *gaadaygmonunggutuh*

gomawo buat chingudeul yg udh rela baca n komen.. *kisu+peluk satu2* <– ditendang

Advertisements

198 responses to “Please, Marry Me! (Part.7)

  1. Yaampun itu puitis banget kata2 perpisahan yooki tapi juga menyakitkan T.T *berasa thor* apa2an ini thor???!! baru bahagia langsung begituuuhhh, yaampuunnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s