Bill of Materials (serie 1: ‘Keruntuhan Kaiten’ )

title                      : Bill of Materials (serie 1: ‘Keruntuhan Kaiten’ )
author                : Thata
Cast                     : Super Junior

other cast         : Park Jihoon a.k.a HYUNG, Park Hyora a.k.a FAI, Rien a.k.a Rien Oenni, Kevin a.k.a MR.Tower/plak, Bae Suzy Miss A

Genre                 : Action, Romance, Friendship, Family, or ANGTS? <we don’t know
Lenght               : Short Story
Rating                : General , PG 15
Disclaimer       : kepunyaan Allah, itu tidak bisa diganggu gugat
A/N                    : adegan banyak ditiru dari film2 china yang saya tonton, inspirasi dari MV Don’t Don-nya SUJU

NB                       : saya masih belajar merangkai kata-kata, dan juga membuat beberapa genre. alhamdulillah saya dipercayakan cukup lumayan dalam

genre Family <<PeDe berat, dan saya sudah optimis membuat genre Romance+Friendship, ANGTS? saya masih belom belajar dan juga ACTION.

maka dari itu saya mencobanya, semoga kalian suka. dan FF ini saya persembahkan untuk GOODTHAS(good readernya thata) dan juga orang2 yang

sudah mendukung saya selama ini di ffi TT^TT GOMAWO. saya tidak butuh SILENT READERS!

“uh-hum…” sahutnya

“yeah..yeah” sambungnya lagi

“okey,” akhir katanya, sambungan teleponpun terputus.

“Tuan Jihoon,” panggil sekretaris muda itu dengan nada yang sopan, pria yang dipanggil itu menoleh kearahnya, dia mengangguk pelan tanda mengetahui apa maksud sekretarisnya itu.

“hari ini kau boleh pulang cepat Rien,” pintanya, sang sekretaris hanya tercengang mendengar perkataan Bos-nya itu.

“tapi Tuan, saya belum..” sang bos langsung menyelanya dengan tatapan agak memaksa, segera sekretaris muda yang bernama Rien itu merapikan meja kerjanya dan berpamitan pulang kepada Tuan Jihoon.

“sampai ketemu besok Tuan,” salam rien, sambil membungkuk sedikit dan dibalas dengan anggukan pelan dari Tuan Jihoon.

Ruangan itu sekarang tampak sepi, karena pria separuh baya yang lumayan jangkung itu baru saja memerintahkan karyawan-karyawannya untuk pulang lebih awal. Dadanya berdetak sangat tidak beraturan, dalih-dalih kecurigaan yang cepat segera dia rasakan. Dia hanya tersenyum kecut mengingat pembicaraannya di telepon tadi. Kedua kakinya melangkh majua ke meja kerja miliknya, matanya beralih ke sebuah bingkai frame coklat, dua sosok malaikat sedang memamerkan senyuman cantiknya didalam gambar itu,mereka sedang bermain ayunan.

“ah-suzy” lamunnya, dia membawa bingkai frame itu keluar dari ruangan kerjanya. Dan menatap seluruh koridor-koridor yang masih terang dihiasi dengan cahaya lampu. Sesekali dia menghelakan nafasnya, sambil melihat bingkai frame coklat itu lagi.

“apa yang harus aku lakukan suzy?” namun bingkai frame coklat itu hanya menampakkan senyuman kedua malaikat cantik yang sedang bermain diayunan. Dia menghapus tetesan air yang jatuh diatas kaca frame itu, dia menangis sejanak.

“andai saja kau masih disini,” tangisnya

Klek-

Semua lampu dikoridor memadam, pria yang diketahui identitasnya adalah seorang Direktur diperusahaan kecil itu segera panik dan berlari ke ruangan kerjanya. Segelintir angin masuk dari jendela yang terbuka dari ruangan itu, dia menutup kaca jendelanya dan melihat langit yang begitu terang, dia hanya tersenyum kecut.

“ck-” darahnya berdesir, dan otot-otot diseluruh tubuhnya menegang.

Seseorang telah menunggunya dari belakang, terasa dingin ketika mata pisau itu menggores lehernya perlahan. Dia menelan ludahnya, menyipitkan matanya dan mulai bersuara.

“kalian mau apa?” tanya-nya dengan nada yang tegar, tak lupa dia menggengam erat bingkai frame coklat itu dikedua tangannya.

“uangmu,” jawab seseorang yang menggoreskan mata pisaunya itu ke leher Jihoon. Dia menekankan  mata pisaunya di lehernya Jihoon, sedikit-sedikit dia geserkan dengan perlahan sehingga membuat lehernya Jihoon terluka.

“baiklah, kau bisa mengambilnya disana-” Jihoon menunjuk kebrangkas uangnya yang ada di lemari dokumen, tetapi seseorang itu tidak melepaskan mata pisaunya dari leher Jihoon. Bahkan ada beberapa suara derap langkah yang lainnya menuju ke lemari dokumen itu.

“kau tidak sendirian?” tanya Jihoon curiga

“kau anggap aku bodoh?” desis itu tepat bersuara ditelinga kirinya Jihoon, semakin senang dia menggeser-geserkan mata pisaunya itu ke lehernya Jihoon.

“bisakah kau tidak membunuhku?” mohon Jihoon, pada akhirnya dia akan tahu kalau ajal akan menjemputnya sekarang

“Mayor, semua sudah aman!” seru seseorang dari arah lemari document itu

“jadi, kau ingin merasakan sakit atau tidak?” tanya seseorang yang menempelkan mata pisaunya itu tepat dilehernya Jihoon.

“ku mohon, jangan bunuh aku, aku ingin hidup!” pinta Jihoon, kemudian tetesan air matanya keluar. Seseorang yang dipanggil Mayor itu berdesis lagi.

“kau akan merasakan sakit tentunya,” sekarang dia tidak menggeser-geserkan mata pisaunya lagi, melainkan menari-nari dileher Jihoon dengan sayatan yang cepat. Jihoon meraung dan menangis, dia meminta ampun kepada Mayor itu tetapi tidak dikabulkan.

“mayor?” panggil seseorang dari jendela, dia memberhentikan sayatannya itu

“apa?” bentaknya

“Kapten menunggumu,” jawabnya, seseorang dari jendela itu meraih masuk kedalam ruangan, dia melihat Jihoon yang lehernya sudah terobek lebar, dengan tidak merasa ada beban, dia mengambil pistolnya yang berada tepat bersarang dikedua betisnya itu, dan mengarahkannya tepat di kepalanya Jihoon.

DORRRR-

Jihoon dilepaskan begitu saja oleh si Mayor, dan tubuhnya terhempas ke lantai. Bingkai frame coklat itu terlepas dari genggamannya. Mayor hanya tersenyum kecut dan membuka topeng yang ia pakai.

“sekali lagi kau mengganggu kesenanganku, jangan salahkan tanganku kalau mata pisau ini menyanyat lehermu,” ucapnya sambil melompat terjun keluar dari jendela. Sedangkan seseorang yang telah berhasil membunuh Jihoon hanya terdiam melihat Jihoon yang mati secara sempurna ditangannya.

“cih-dasar aneh,” ucapnya, dia juga melompat keluar dari jendela

(billofmaterials)

Ruangan itu dipenuhi banyak wartawan dan juga pihak polisi, semua karyawan-karyawan kantor hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Berbisik-bisik, dan bahkan ada yang diintrogerasi dari beberapa pihak polisi kota.

“ssst- padahal dia duda kaya ya,” bisik beberapa karyawan wanita

“bahkan aku mau jadi selingkuhannya,” sambung Rien yang adalah Sekretaris di perusahaan kecil itu.

“sst-pria itu tampan,” karyawan lain mengalihkan pembicaraan mereka.

Dua sosok pria bersetelan jas itu mengundang banyak mata untuk melirik mereka. Dengan kacamata hitam, rambut yang rapih dan juga pose yang keren, tidak salah karyawan-karyawan wanita di perusahaan itu berbisik-bisik tentang mereka.

Kedua pria itu memasuki arena TKP dengan cepat, tampak seorang polisi terganggu oleh kehadiran mereka, dia langsung menghampiri kedua pria misterius itu.

“maaf tuan-tuan, saya harap anda tidak mengganggu penyelidikan polisi tentang kasus pembunuhan ini,” jawab polisi wanita itu setengah menyindir

“ck-” cibir salah satu diantara mereka, dia meronggoh kantong dalam jasnya dan mengeluarkan sesuatu yang membuat polisi wanita itu tercengang.

“untuk apa FBI mengganggu tugas kami?” raung polisi yang tadi sibuk mencatat bukti-bukti di lokasi mayat si korban terbaring, dia menghampiri kedua pria misterius itu

“itu tergantung,” jawab yang mencibir tadi sambil melepaskan kacamata hitamnya, dia melihat keseluruh ruangan, dimana terdapat beberapa polisi dan wartawan sedang menghebohkan kasus pembunuhan ini.

“lamban, terlalu banyak bernegosiasi dan juga sangat tidak professional,” sambungnya, kali ini dia berjalan ke lokasi mayat si korban. Dengan seksama dia melihat mayat direktur itu, dan mendapatkan sesuatu.

“apa yang kau lakukan?” jerit polisi pria itu agak kesal, namun pria misterius itu melanjutkan aksinya yaitu mengeluarkan pinset panjang dari dalam jasnya dan mengangkat lembar poto yang tidak jauh terletak didekat mayatnya sang korban.

“tersangka tidak jauh-jauh dari letak kematian sang korban,” analisis pria itu, sambil menunjukkan lembar poto yang ia temukan kepada polisi-polisi itu.

“Bae Suzy, 35 tahun, janda, memiliki usaha dibidang tekstil, sudah tidak melakukan kontak dengan mantan suaminya selama 3 tahun belakangan dan tinggal di Amerika bersama anak tunggalnya,” analisis pria yang satunya lagi, sambil cekatan mengotak-ngatik layar handphone-nya yang canggih itu.

“tidak, aku mau yang ini,” tunjuk pria itu ke gambar sosok gadis kecil yang tersenyum ceria bermain dengan ibunya.

“Park Hyora, 17 tahun, seorang siswa di Packjjo High School, pendiam, tidak memiliki banyak teman dan juga sangat menyukai teman kecilnya, Kevin,” ucap pria itu dengan cepat, semua polisi itu tercengang

“jadi? Menurutmu? Siapa tersangka dibalik kematian Park Jihoon ini?” tanya polisi wanita itu agak sedikit curiga

“biarkan FBI yang mencari tahunya,” sedikit senyum kemenangan terpampang diwajah pria itu, polisi pria yang sudah merasa jengkel itu maju satu langkah kehadapannya

“kau fikir kami membutuhkannya hu?” gertaknya

“menurutku ya,” jawab pria itu, dia menyerahkan lembar foto itu kepada mereka dan segera pergi dari TKP dengan kembali memakai kacamata hitamnya.

(billofmaterials)

Tut…tut…tut….tut…..!

Wanita berambut hitam itu terdiam setelah menerima telepon dari kerabatnya. Gadis yang kira-kira berumur 17 tahun, yang sedang sibuk dengan psp-nya langsung memeluk wanita itu, yang adalah ibunya.

“mama-kenapa kau menangis?” tanyanya sedih

“hyora-hikss” tangis wanita itu, dia memeluk erat tubuh yang lumayan mungil itu

“ada apa dengan papa?” tebak gadis itu cerdas, wanita yang dipangginya Mama itu langsung tersontak kaget, dan menghapus air matanya.

“pagi tadi, papamu meninggal dibunuh ketika kantornya dirampok,” isaknya

“papa meninggal?” ada nada genting dari suaranya Hyora

“ya, hiksss papa meninggal,” jawab wanita itu sambil menangis

Hyora hanya bisa terpaku melihat Mamanya menangis seperti itu.

Malamnya, Hyora menunggu taxi dari tempat les pianonya. Karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dia langsung mengsms Mama-nya bahwa dia akan pulang telat. Ketika dia sudah berniat untuk pulang dengan berjalan kaki, tiba-tiba ada suara petir menyambar-nyambar, dia akhirnyamengurungkan niatnya untuk pulang dengan berjalan kaki.

“hei-” suara itu muncul dari sampingnya, dia terkaget dan menoleh keasal suara itu

“ck- Kevin,” panggilnya kesal

“belum pulang?” tanya anak lelaki keturunan Inggris itu kepada Hyora yang adalah asli dari darah Korea.

“kau tidak lihat kalau ada hujan eh?” tanya Hyora agak mengacuhkannya

“yaaa-hujan ya?” jawab Kevin setengah bercanda

“menyebalkan,” cibir Hyora, dia buru-buru menghindari Kevin dan meraih jaket dari tasnya.

“ku dengar, papamu meninggal dibunuh oleh perampok ya?” tanya Kevin tiba-tiba, pertanyaan itu membuat Hyora menegang dan bergidik ngeri.

“kau tahu darimana?” tanyanya ketakutan

“aku tahu dari berita di internet,” jawabnya ,”jadi papamu benar-benar dibunuh oleh perampok ya?” tanya Kevin lagi masih penasaran

“aku tidak tahu, yang pasti dia mati,” jawab Hyora sedikit dingin

“kau tidak sedih hyora?” tegur Kevin, dan Hyora langsung menggeleng-geleng cepat. Sesudah dia memakai jaket dari dalam tasnya itu, Hyora langsung menerobos hujan deras itu sambil meninggalkan Kevin yang masih penasaran dengan kasus papanya.

Kecipak…kecipak…

Sepatu kets kesayangannya basah, dan juga bibirnya yang mungil semakin lagi semakin membiru karena kedinginan. Hyora membantai hujan deras itu, bahkan beberapa petir tidak merobohkan niatnya untuk pulang.

“brr-br-” dia menggigil

“huh-rasakan kau mati papa, huh-” komentarnya ditengah perjalanan, begitu dendamnya ia terhadap Papa kandungnya itu, sampai-sampai dia mengaku kepada teman-temannya kalau bahwa dia tidak punya Papa.

Cekitttttttttttt-

Sebuah sepeda gunung menghalangi jalannya, ketika dia melihat si pengendaranya, dia langsung tersenyum simpul, dan menaiki tumpangan gratis itu.

“kau ini menyusahkan saja,” Kevin mengayuh pedal sepeda gunungnya dengan cepat, tubuhnya basah, dia tidak memakai jaket sama sekali

“huh-menyusahkan ya?” ulang Hyora yang memeluk erat pinggangnya Kevin

“kalau kau benar-benar ingin pulang, jangan memaksa untuk berjalan kaki dong,” omel Kevin

“huh-”

“kau benar-benar ingin pulang ya?” tanya Kevin, yang sudah pasti di jawab dengan anggukan iya dari Hyora.

Sesampai didepan rumah bernomer 15, Kevin memencet bel rumah itu tetapi tidak ada seseorang yang keluar dari dalamnya.

“mamamu dirumahkan?” tanya Kevin kepada Hyora

“ya, dia dirumah,” jawab Hyora yang masih duduk manis dijok belakang sepeda gunung itu

“oohkeh,” menggigil Kevin, dia kembali menekan bel rumah bernomer 15 itu. Berkali-kali dia menekan belnya tetapi tidak ada hasil.

“mungkin mamamu pergi,” jawab Kevin dalam derasnya hujan

“oh, kalau begitu, nih kau buka saja pakai kunci ini,” ucap Hyora yang mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku jaketnya

“gyaa-bukannya kau bilang dari tadi,” jerit Kevin kesal, dia segera meraih kunci itu dan membuka pagar yang terkunci.

Sesudah pagar itu terbuka, segera ia mengayuh dengan cepat sepedanya kedalam halaman yang lumayan luas itu. Dia turun dari sepedanya membopong Hyora untuk turun.

Prak-

Sesuatu yang pecah terdengar, Hyora langsung berlari menuju pintu rumahnya dan membukanya, ternyata pintu tidak terkunci sama sekali sedangkan Kevin menyusulnya dari belakang.

“serahkan saja,” ancam pria itu sambil mengacungkan mata pisaunya

“tidak..aku tidak mau,” bantah Suzy yang adalah Mamanya Hyora

“mayor, aku dapat….” Seru seseorang dari dalam kamar mandi, seseorang yang dipanggil Mayor itu langsung tersenyum puas

“kau bilang uangnya tidak ada,” cibirnya semakin memajukan arah mata pisaunya tepat didepan wajahnya Suzy.

“aku…aku…hiks itu uangku satu-satunya,” tangis Suzy, dia bersujud tepat dikaki si Mayor itu dan menangis sambil meraung-raung.

“ck-” si Mayor itu menendang perut Suzy, mengakibatkan Suzy terkapar kesakitan. Si mayor langsung menjambak rambut hitam wanita itu dengan kasar, dan memilin-milinkan mata pisaunya itu di lehernya Suzy.

“ku mohon-hiks-kau telah membunuh suamiku-” pintanya dengan tampang yang memelas

“hahahahahaa-” tawa si Mayor meledak, dan meludah dilantai dengan jijik

“aku? bukan aku pembunuhnya,” desisnya

“aku mohon-hikss-aku mohon-” pinta Suzy masih menangis

“mayor? Waktumu hanya 5 menit menghabiskannya,” tegur seseorang dibelakangnya, kesabaran si Mayor langsung memudar, dia malah balik menyerang temannya itu.

“kau mengangguku tahu,” berangnya, mata pisaunya kini sudah siap bertempur

“aku hanya menjalankan tugas,” jawabnya, dalih-dalih sudah memegang kedua pistolnya dengan erat

“cih-” dia meludah ke lantai lagi, “kali ini kau akan mati,” raungnya, mata pisaunya dia kibaskan dengan cekatan kearah pria itu, tetapi pria itu menghindar dengan cepat.

Dorr-dorr-

Pria itu mengeluarkan anak pelurunya kearah si Mayor, tepat saat anak peluru itu meluncur kearah wajahnya, dengan cepat dia menangkis anak peluru itu dengan mata pisaunya yang tergolong panjang. Dia segera meraih pistolnya yang bersarang di kedua lengan bajunya, dan membalas serangan-serangan pria itu dengan gesit.

Dorr-dorr

Beberapa guci, vas dan juga gantungan patung hancur seketika, pria itu membalas dengan memfokuskan tembakannya tepat di wajah sasaran, karena beberapa tembakan si Mayor telah menggoresi wajahnya yang tertutup topeng itu.

Dorr-dorr

Sementara mereka tembak-tembakkan, seseorang yang berada didalam kamar mandi melompat keluar dari jendela dan beberapa menit kemudian dia kembali dengan seseorang yang bertubuh tegap. Suzy yang memiliki kesempatan emas itu segera merangkak untuk keluar dari kamarnya, tetapi tindakannya itu terlihat oleh pria yang badannya agak gendut, segera dia mengacungkan pistolnya kearah kepalanya Suzy.

“ku mohon-janga-bunuh-aku-ku-”

Dorr- terlambat, pria berbadan agak gendut itu langsung menembak Suzy ditempat. Dan dengan mata yang tidak percaya, Hyora yang sedari tadi melihat kejadian perampokan itu langsung menghambur untuk memeluk Mamanya.

“mama….mama…hikss,” tangisnya, Suzy sudah tidak bernafas dan Hyora memeluk erat Mamanya yang sudah tidak bernyawa itu

“cukup-” seru pria berbadan tegap kepada dua orang yang masih tembak-menembak itu

“captain?” panggil si Mayor dengan nafas yang terengah-rengah

“kau Hyukjae, tidak becus menjadi mayor formasi kaiten!” tegur sang Captain itu, dia berjalan menuju Mayor yang bernama Hyukjae itu dan meraih tangan kirinya.

“ku mohon-jangan-” raung Hyukjae yang sudah digenggam erat tangan kirinya itu oleh sang Captain, tetapi percuma saja, tangannya tidak dilepaskan oleh Captain.

“ryeowook?” panggil Captain kepada pria yang diseberang kamar, masih bersembunyi dengan kedua pistol yang mengacung siap bertempur

“captain?” panggilnya patuh, dia langsung mendatangi sang Captain dan menyerahkan pergelangan tangan kirinya kepada Captain.

“aku harap kau tidak seperti Hyukjae,” ucapnya, dia mengeluarkan mata pisau miliknya dan menusukkannya di nadi Hyukjae, tepat pada symbol ular hitam yang melekat di kulit nadinya Hyukjae.

“arghhhh-” raung Hyukjae kesakitan, symbolnya yang permanen itu dihapus oleh sang Captain dengan keji, dengan mencongkel-congkel kulitnya hingga terpampang jelas sekarang dagingnya yang kemerah-merahan itu.

“aarghhh-” raungnya semakin sakit, dan ngilu terhadap lukanya yang tidak biasa itu

Sang Captain-pun puas atas hasil karyanya, dia tersenyum kecut dan kini dia beralih memandang tangan kirinya Ryeowook. Dengan sigap iya membuka penutup yang berada diujung mata pisau itu, tampak jelas sekarang sebuah ukiran ular telah siap untuk ditempelkan ke kulit yang baru.

“graaaaaaaaauuwww–” raungnya kesakitan, sekarang bekas luka bakar itu merah membara di nadinya Ryeowook dan membentuk sebuah symbol ular.

“hey penjahat!” panggil Hyora yang sudah mengacungkan sebuah pisau dapur kehadapan mereka, sang Captain menoleh dan hanya tersenyum kecut.

“selesaikan anak itu,” perintahnya kepada Ryeowook, sedangkan Hyukjae dan pria yang agak gendut melompat keluar dari jendele. Sekarang pertarungan antara Ryeowook dan Hyora yang tertinggal.

“kau akan mati ditanganku,” amuk Hyora dengan wajah basah karena habis menangis

“oh-terimakasih,” jawab Ryeowook, dia mengambil pistolnya dan mengarahkannya tepat di dahi Hyora. Hyora hanya terdiam dan memandangnya penuh dengan amarah dendam.

Dorr- sebuah tembakan

“lepaskan anak itu,” jerit polisi wanita yang mengenai sasarannya tepat dibagian pergelangan tangan kiri Ryeowook.

Segera Ryeowook melarikan diri, dan melompat dari jendela, tetapi dia terlambat. Rumah itu sudah dikepung oleh polisi-polisi dan juga beberapa helicopter. Dia menarik pengait yang ada dibajunya, tetapi ketika hal itu dilakukannya, seseorang sudah meraih punggungnya dan dia menoleh.

“kau tertangkap,” ucap polisi pria itu senang, Ryeowook membuka topengnya dan kembali melakukan hal yang ia kerjakan tadi.

“yah-kau juga,” sambungnya, setelah selesai menarik pengait dari baju pelindungnya itu, dia langsung memeluk polisi pria itu dengan erat, secara kontan polisi yang mengarahkan pistol miliknya ke dada Ryeowook langsung mengeluarkan sebuah tembakan.

“uhuk-” Ryeowok mengeluarkan batuk darah dan dia tersenyum senang ,”get it!”

DUARRRRRRR-

Sebuah ledakan yang cukup hebat merobohkan rumah bernomer 15 itu, dan polisi-polisi yang mengitari rumah itu segera berlari menghindari puing-puing yang jatuh. Hyora menjerit kesakitan ketika sebuah lemari menghimpit kakinya, tidak lupa Kevin langsung membantunya dan menggendong Hyora untuk keluar dari rumah itu, sebelum rumah itu hancur sepenuhnya.

(billofmaterials)

Asap tebal dari cerutu itu memenuhi ruangan yang serba hitam, di kelilingi oleh kurang lebihnya 14 pria berwajah tampan dan juga sadis. Salah satu diantara mereka duduk dikursi yang paling besar, melambangkan bahwa dia adalah pemimpin dari ke14 pria berbaju hitam itu.

“jadi-mayor Ryeowook telah melaksanakan tugasnya?” tegur pemimpinya kepada salah seorang yang bergelar Captain disana, symbol elang menyala-nyala di tengkuk masing-masing pria bergelar Captain itu.

“ya-dan kami semua selamat,” jawab salah satu yang bergelar Captain itu

“ehem-baiklah dia sangat berjasa dalam formasi kaiten!” ucap sang pemimpin, dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghadap tepat di wajahnya Hyukjae.

“maafkan aku Ayah,” ucap Hyukjae sambil menunduk sedih

“kau akan ku angkat menjadi mayor lagi,” desis pemimpin itu,”tetapi ingat? Kau tidak boleh mengacau lagi ditugas selanjutnya,” desisnya lagi, dan Hyukjae mengangguk-angguk setuju

“jadi? Ada apa dengan Nyonya Bae Suzy? Kenapa kalian membunuhnya?” tanya sang pemimpin menyuruh mereka untuk duduk, tidak berdiri mematung lagi

“dia tidak mau membayarnya Ayah,” jawab sang Captain yang berbadan tegap

“dia juga menipu kita ayah,” sambung Hyukjae tidak mau kalah

“huh- dasar wanita licik,” seru pria yang duduk paling ujung, sang pemimpin menoleh kearahnya dengan tatapan ingin tahu

“ayah, aku dan Jongwoon sudah menganalisa wanita licik itu,” ucapnya dengan nada tinggi

“Bae Suji, 35 tahun, janda, memiliki usaha dibidang tekstil, sudah tidak melakukan kontak dengan mantan suaminya selama 3 tahun belakangan dan tinggal di Amerika bersama anak tunggalnya,” jawab yang bernama Jongwoon tetapi dia langsung membuka suara lagi

“memiliki hutang yang besar dari bank umum, terlibat dalam penyeludupan barang-barang illegal dan bermotivasi untuk membunuh suaminya agar semua warisan suaminya jatuh ketangannya dan dia bisa kabur ke London bersama anak tunggalnya Hyora untuk menutupi kasusnya,” selesanya menganalisis

“jadi dia ingin bermain-main ya?” gumam sang pemimpin agak geli

“ya-tetapi kami sudah membereskannya,” ucap Captain yang berbadan tegap itu

“hemm-jadi target kita selanjutnya siapa?” tanyanya pelan, dia menoleh kearah pria yang paling ujung itu, dengan tatapan angkuhnya dia tersenyum senang

“Jongwoon akan menjelaskannya,” ucapnya sambil melihat kearah Jongwoon

Dengan gesit Jongwoong menganalisa target mereka yang baru melalui handphone canggihnya itu. Beberapa detik kemudian, sebuah senyuman kemenangan tergambar dari bibirnya Jongwoon.

“siapa?” tanya sang pemimpin

“_______, mahasiswa fakultas kedokteran, sudah memiliki anak tetapi tidak diketahui publik dan juga terlibat dalam kasus narkoba,”

“ku harap MK82 tidak mengecewakanku,” ucap pemimpin kepada sejumlah orang yang ia maksud

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

menurut goodthas sendiri <<ih mulai pede yeeee/plak.  apakah ini FF termasuk FF ACTION? yah yah memang thata tidak pintar membuat action2.

tapi toh thata sudah belajarkan? hauyoooooooo keritik dan saran yah, thata sangat suka sekali. kalo perlu bashing aja <<jah goblok

hohohoooo- okeeeh sekali lagi terimakasih udah mau baca. heheheheeeey, TUNGGULAH besok malam serie ke 2nya-SRING

 

22 responses to “Bill of Materials (serie 1: ‘Keruntuhan Kaiten’ )

  1. onnie-ah~!! ^^ *betul, gak?

    maaf kemarin gak ninggalin jejak, main close ta aja si andra^ ini.. hehehe 🙂

    SEKARANG COMENTNYA!!!

    eh? action? iya, kaya’ film action. d^^b
    wahooo~~~ (melolong ala yahoo)
    hyukjae diiris-iris tangannya (betulkah??)
    adegan yang aku baca berulang-ulang kali –> readers kcanduan thriller

    ah, pokoknya onnie hebat deh! d^^b

  2. udh baca tdi siang sih d mobil,,, tpi baru koment skrg ^^V
    ol pke hp tdi, 4 kali koment gg masuk2 -___-

    omo… kasian bgd jihoon, suzy, hyora, ama wookie baru muncul udh mati…. kevin mati juga yaa ?? –> kevin ini artis mana sih ??? q kira kevin u-kiss, tpi d atas tulisanny Mr. Tower ==a
    mrinding pas adegan leher d sayat2 ama tangan hyuk d congkel2…
    suka bgd dah ama ni FF 🙂 action & agak2 thriller –> saya suka FF thriller XD
    d tunggu next chapny 🙂

  3. Pingback: Bill Of Materials (serie 3 : ‘MK82 musnah’) « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s