Please, Listen to Me! (part 2)

Tittle  : Please, Listen to Me ! (part 2)

Author : ninanino a.k.a. ninasomnia

Genre : romantic, friendship

Cast :

  • Han Kihyun a.k.a. author (bisa diganti nama kalian juga kok)
  • Lee Hyukjae a.k.a. eunhyuk super junior
  • Lee Sungmin a.k.a. sungmin super junior
  • Cho Jisun a.k.a. another cast
  • Another Super Junior’s member

Disclaimer : I just do my own story. DON’T LIKE ? just ignore THIS. don’t COMMENT in this FF? just do your own story and FEEL what if your story doesn’t get a RESPONSE. sorry, if I hurt you with this statements 😥

Previous Chapter : Please, Listen to Me! (part 1)

***

Keluarlah. Mereka sudah masuk bioskop.

Aku terdiam menerima pesan singkat itu. Hampir saja kujatuhkan ponselku karna tak percaya dengan apa yang kulihat ini. Kenapa pesan ini? Segera kudorong kasar pintu toilet ini. Brak. Beberapa yeoja memandangku penuh rasa ingin tahu. Tapi sedikitpun tak kuhiraukan mereka. Merasa diabaikan, mereka bergegas keluar dari toilet ini, meninggalkanku seorang diri. Syukurlah, aku tak perlu menutupi wajahku yang begitu mengerikan saat ini.

Kubuka tasku perlahan. Mengeluarkan beberapa barang yang ada di dalamnya. Lalu kususul dengan memoleskan kembali bedak tipis di wajahku. Sapuan lipstick juga tak lupa kuberikan di bibirku. Ini semua kulakukan untuk menutupi sisa-sisa tangisan yang ada di wajahku. Selesai dengan semua itu, segera kubereskan kembali barang-barangku. Menatap sebentar pantulan diriku di cermin. ‘Perfect.’ Gumamku pelan.

***

“Oh, oppa!” Aku terkejut melihat Sungmin oppa bersandar tepat di depan toilet. Posisinya benar-benar cool. Hingga tanpa sadar, aku dibuat tertawa melihatnya. “Syukurlah kau sudah bisa tertawa.”

Nde?” Ia tersenyum. Kemudian menarik tanganku untuk mengikutinya. Aku menurut saja. Toh, aku juga cukup lama di dalam toilet tadi. Kupandang ia sekilas. Ah, benar-benar tampan.

Oppa, kita mau kemana? Mana yang lain?” Sungmin oppa masih tetap berjalan. Kembali kupandang wajah itu, ia berbalik, tapi masih dengan menarikku lembut.

“Ke suatu tempat. Kalau Hyukkie dan Jisun, mereka sudah pergi berdua sejak tadi.” Deg. Jadi benar, ini sebuah double date yang direncanakan Hyukjae. Tapi kenapa ia menjodohkanku dengan Sungmin oppa? Aish, tak tahukah ia kalau…

“Kau tidak suka ya? Kalau iya, aku akan mengantarmu pulang.” Ia membuatku menghentikan pikiran bodohku. Segera aku menggelengkan kepalaku. Melepaskan  genggaman tangannya pelan, lalu melambaikan kedua tanganku sebagai bukti ketidaksetujuanku. Dan sekali lagi, ia hanya tersenyum. Tulus sekali. ‘Lebih baik kulupakan dulu kekesalanku pada Hyukjae. Dan kusimpan untuk nanti.’ Batinku. Tanpa menunggu lama, ia kembali menarikku. Membawaku ke sebuah tempat, yang entahlah aku tak tahu namanya.

***

“Apa yang kalian lakukan semalam?”

“Kata Hyukkie, kalian memisahkan diri ya semalam?”

“Kalian kemana saja?”

“YA ! Bisakah kalian tidak berisik?” Emosiku meluap. Jujur, aku tadi sempat panik setengah mati sewaktu Wookie mengirim pesan singkat agar aku segera datang ke tempat latihan secepatnya. Setahuku Wookie bukan seseorang yang bisa mengerjai seorang yeoja, terlebih akan hal fatal semacam ini. Pandangan membunuh segera kulepaskan pada Ryeowook. Kulihat ia memaksakan diri tersenyum, lalu menunduk takut.

“Heechul oppa, Shindong oppa, Yesung oppa. Berhentilah menanyaiku. Tidak terjadi apa-apa antara kami.” Mereka mendenguskan napas kecewa. Kudengar suara Heechul oppa bergumam pelan, “Sungminnie juga mengatakan hal yang sama.”

“Kalau begitu kenapa masih menanyakan padaku? Aish. Dan kau Kyuhyunnie.” Aku membentak kasar Kyuhyun yang sedang sibuk dengan game console terbarunya. Orang yang kutunjuk malah memasang ekspresi bodohnya. “Aku?”

Kuluapkan emosiku, masih dengan orang yang sama. “Nde. Kau tidak ikutan mengintrogasiku seperti mereka? Kau tahu siapa yang jalan denganku semalam. Lee Sungmin, Kyunnie.” Tatapan tajamku belum beralih dari Kyuhyun. Kurasakan keempat namja lain yang ada di ruangan ini ikut menatap penuh curiga ke arah Kyuhyun. Menunggu jawaban Kyuhyun, seolah dialah kunci utama permasalahan ini.

“Aku tidak suka ikut campur urusan orang lain.”

Duar.

Evil maknae ini memang sangat pintar berkata-kata. Sorot mataku perlahan memudar. Suaraku yang sedari tadi tak jauh dari teriakan kini tinggal dehaman kecil yang mungkin hanya serak-serak yang akan keluar jika dipaksakan. Heechul oppa, Yesung oppa, Shindong oppa, bahkan Ryeowookie terpaku tak percaya mendengar jawaban bodoh si evil maknae ini. Malu, kutinggalkan mereka semua yang ada disini. Bergegas keluar sebelum mereka sadar mukaku sudah memerah karna terlalu percaya diri.

“Hanya satu pertanyaanku noona. Apa kalian jadian semalam?” Kudengar teriakan keempat namja kurang ajar itu. Disusul kemudian tawaan-tawaan bodoh seolah mengejekku saat ini. ‘Kim Ryeowook, tunggu pembalasanku.’

***

Bruk.

Aku terdorong ke belakang. Tubuhku dengan sukses mendarat di lantai parquette ini. Kulihat ponselku terjatuh, dan terbagi menjadi beberapa bagian. Sekilas kulihat Hyukjae dan beberapa namja lainnya berdiri di hadapanku. Seolah tak memperdulikan mereka, aku segera meraih ponselku. Mencoba merakitnya kembali, meski itu merupakan alternatif yang konyol. Sembari melupakan rasa sakit terlebih di bagian belakang tubuhku, aku mencoba bangkit.

“Kihyun-ah. Gwenchana?” Seseorang mengulurkan tangannya. Kuraih dan kusimpulkan siapa namja itu.

MWO.

Ya. Han Kihyun, berhentilah membayangkan khayalan indah yang ada di otak bodohmu itu. Dan kembalilah ke dunia nyata tempat dirimu berada seharusnya.” Tak memeperdulikan omongannya tadi, aku segera berlari meninggalkan tempat itu. Untuk kedua kalinya, aku dipermalukan hari ini. Kudengar suara Sungmin oppa yang tadi membantuku bangun berteriak memanggilku. ‘Mian oppa, aku terlalu malu untuk berada di tempat itu.’

***

“Kihyun, kau yakin?”

Terpaksa aku menganggukkan kepalaku. Keputusan yang aku ambil sebenarnya bukan keputusan sulit. Hanya tinggal bilang iya atau tidak. Tapi entah kenapa, satu hal ini cukup membebaniku akhir-akhir ini.

“Han Kihyun, kalau kau tidak mau, halmeoni akan membicarakan ini terlebih dahulu dengan mereka. Setidaknya agar mereka mau mendengar keluhanmu.” Kupikirkan sejenak nasehat halmeoni ini. Sejujurnya, semua ini masih bisa dibicarakan baik-baik. Cuma aku terlalu lelah jika harus berlarut-larut memikirkan hal bodoh semacam ini.

Halmeoni, Kihyun yakin dengan keputusan ini. Kihyun akan membiarkan mereka berpisah. Lagipula itu sudah menjadi keputusan mereka.” Sekali lagi wajah menua itu terlihat begitu lelah. Pembawaannya yang tenang tidak membuatku merasakan hal yang sama. Aku tahu halmeoni terlalu banyak memikirkan masalah ini selama ini. Meski aku sendiri tak bisa memberikan saran yang cukup berarti untuk menyelesaikan masalah ini.

“Tapi,…” Kata-kata halmeoni terhenti. Segera kurengkuh beliau ke dalam pelukanku. Menepuk punggungnya pelan, mencoba menenangkan beliau. Isakan kecil kurasakan keluar dari beliau. Tubuh halmeoni mulai bergetar.

Halmeoni, gwenchana. Kihyun saja bisa merelakan appa dan mama bercerai, halmeoni juga harus bisa. Mungkin ini…” Kurasakan suaraku ikut bergetar. Kenapa aku harus mengingat appa dan mama lagi? Terlebih aku sendiri masih punya masalah dengan kehidupan pribadiku.

Halmeoni membalas pelukanku. Isakannya perlahan berangsur tenang. Lama, kulirik halmeoni. Keadaannya lebih tenang daripada sebelumnya. Bahkan beliau tertidur, masih dalam pelukanku. Kucoba membaringkan beliau. Halmeoni terlihat sangat lelah dengan semua ini. Begitu juga aku.

***

“Mama harap kamu mau ikut mama.” Appa terlonjak. Tak percaya dengan apa yang dibilang mama. Tak lama mereka kembali bertengkar. Menggunakan bahasa mandarin, yang aku sendiri tak begitu lancar mengerti.

“Mama. Appa. Hargai kami. Setidaknya jangan bertengkar disini.” Mama kembali duduknya. Mengambil kipas dari dalam tasnya lalu menggerakkannya. Berusaha menenangkan dirinya dengan meraih udara sebanyak-banyaknya.

Mediator itu tersenyum. Dari papan nama yang ada di hadapanku, aku tahu namanya Jang Shinhee. ‘Nama yang aneh.’ selorohku dalam hati. Bodoh, masih sempatnya aku bercanda di tengah keadaan semacam ini.

“Tuan Han dan Nyonya, bisakah saya berbicara berdua dengan putri kalian? Saya ingin mengetahui tentang sudut pandang putri anda serta bagaimana perasaannya.” Aku menatap nanar ke arah appa. Merasa tak digubris, aku mengalihkannya ke arah mama. Mama tersenyum, lalu mengangguk pelan. Keluar dari ruangan ini meninggalkanku berdua dengan mediator ini.

Dua jam mediator ini menanyaiku berbagai macam pertanyaan. Kujawab semuanya dengan sepengetahuanku. Tidak bermaksud mengurangi ataupun melebihkan. Beberapa kali kutengok ke luar jendela kecil di ruangan ini. Pemandangan yang tidak terlalu jelas. Hanya sorot matahari yang mencoba menerobos ke dalam ruangan ini.

“Sepertinya sudah selesai Kihyun-sshi. Nanti akan kuhubungi lagi kalau aku membutuhkanmu Kihyun-sshi. Kau boleh pergi sekarang.” Aku mengangguk singkat. Segera beranjak dari tempat itu. Setelah sebelumnya menunduk hormat ke arah mediator itu.

“Bagaimana ?” Aku segera berbalik dan tersenyum sopan.

“Semua baik-baik saja mama. Mama sekarang diminta untuk masuk ke dalam.” Kulihat mama tersenyum, lalu menepuk bahuku pelan. Berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Tak lama appa menyusul di belakang. ‘Sepertinya sudah saatnya aku pergi.’

***

“Han Kihyun, kau kemana saja ?” Suara sebuah benda terbanting terdengar begitu jelas. Aku sendiri tak tahu benda apa itu. Saat ini, aku hanya berani menundukkan kepalaku takut. Aku terlambat satu jam lebih dari janjiku seharusnya.

Mian” Kini sebuah suara pukulan terdengar tepat saat aku selesai mengucapkan satu kata tadi. Hyukjae lalu pergi meninggalkanku. Member yang lain hanya bisa diam melihat hal ini.

“Kihyun-ah, kau kemana saja? Eunhyukie sedari tadi menunggumu. Dia sampai membatalkan kencannya dengan Jisun.” Aish, bisa-bisanya aku membuatnya kesal sampai seperti itu. Kuputar badanku cepat. Berusaha mengejar Hyukjae sebelum menjauh. Hingga aku sadar sebuah tangan menahanku untuk beranjak.

“Biarkan ia sendiri. Ia akan menemui Jisun.”

Tubuhku melemas. Entah kenapa setiap melihat kenyataan ia akan mengejar yeoja itu dan meninggalkanku selalu membuatku sesak. Mataku mulai memanas, mungkin akan segera berlanjut dengan keluarnya butiran kristal jika tak kupaksakan diriku untuk tertawa.

“Oh iya. Aku lupa. Babo. Hahaha.” Semua member berjalan menghampiriku. Entah untuk apa. Kutepis tangan yang menahanku tadi. Lalu keluar dari tempat itu.

“Mau kemana?” Leeteuk oppa berteriak. Aku menjawab dengan tanpa menatap mereka. “Membeli makan siang untuk kalian. Tunggulah.”

***

“Sudah ratusan kali kau mengecek ponselmu. Sebenarnya ada apa?” Acara makan siang terhenti untuk beberapa saat. Mata para member sontak beralih ke arahku. Sungmin oppa, yang dengan polosnya menayakan hal tersebut bahkan sampai menaruh kembali makan siangnya.

Aniyo. Aku hanya menunggu telepon dari mama.” Ujarku berusaha berkilah.

“Mamamu pulang dari Cina?” Kini giliran Kyuhyunnie yang membuka suaranya. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Lalu kembali terfokus ke ponselku. Hingga tak berapa lama ponselku berbunyi. Tanpa melihat nama yang tertera di layar, aku langsung mengangkatnya begitu saja.

Yeoboseyo.” Raut wajahku yang semula bersemangat langsung berubah seketika. Bukan Hyukjae yang menghubungiku. Ternyata ini benar-benar mama.

Ya, mama.”

“…….”

I know. Just wait me. I’ll go there now.”

“…….”

Ok, mama. Bye.” Tepat saat aku selesai dengan pembicaraan teleponku, kulihat para member kembali ‘berpura-pura’ dengan aktifitas mereka sebelumnya. Sebuah senyuman kecil terkembang di wajahku. Lalu dengan segera membereskan barang-barang dan bersiap beranjak pergi dari tempat itu.

“Semuanya, aku pamit dulu ya. Aku ada perlu. Annyeong.” Mereka membalas lambaian tanganku. Lalu berteriak keras mengucapkan selamat tinggal. Benar-benar lucu.

Tepat saat aku sampai di depan pintu masuk SM Entertainment, aku melihat Hyukjae. Dan tak jauh di belakangnya, ada Jisun mengikuti. Ah, mereka tidak bergandengan pasti karna di depan begitu banyak ELF. Tak berapa lama, pandangan kami bertemu. Tapi sesuatu yang jauh dari bayanganku terjadi. Ia membuang mukanya, dan malah berlari menjauh, seolah tidak melihatku.

“Ini memang bukan harimu, Han Kihyun.” Gumamku pada diriku sendiri.

***

Mama terduduk di salah satu sudut kafe ini. Raut wajahnya nampak begitu lelah. Mungkin karna hasil diskusi tadi dengan mediator.

“Mama.” Mama melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum dan berjalan pelan menghampirinya.

“Sudah lama?”

“Belum. Apa mama mengganggu acaramu?” Aku mengernyitkan dahiku bingung. Mama meraih tanganku, menggenggamnya pelan.

Of course not mom. Justru mama yang telah menyelamatkanku.” Kini kulihat justru mama yang terlihat bingung dengan ucapanku tadi. Kubalas dengan sebuah senyuman.

Sepanjang sore ini mama dan aku banyak menghabiskan waktu untuk bercerita. Walaupun sebenarnya sepanjang pertemuan kami lebih banyak perdebatan daripada pembicaraannya. Terkadang aku sedikit bingung dengan mama. Ia ingin bercerai dari appa. Meskipun masalah sudah ada sejak aku kecil dan pertengkaran keduanya bukan hal luar biasa.

“Apa saja yang ditanyakan mediator tadi?” Aku merenung. Kembali memikirkan wawancara yang melelahkan sepanjang tadi siang.

Flashback.

“Han Kihyun, apa yang kau pikirkan tentang masalah kedua orang tuamu sayang? Sebagai suatu beban atau apa? Ceritakan saja.”

Kuambil napas dalam. Kulihat, ahjussi mediator ini dengan sabar menungguku membuka mulut. Pikiranku jauh menerawang. Memikirkan bagaimana sebenarnya perasaanku.

“Semuanya sebenarnya sudah tidak bahagia dari awal.” Kurilekskan kembali posisi dudukku. Membuatnya senyaman mungkin. Meski aku sendiri sedikit memaksakan dengan keadaan ini.

Appa dan mama dijodohkan. Meski begitu, keluarga besar mama awalnya menolak dengan tegas. Karena appa bukan orang Cina, terlebih mama adalah salah satu keluarga bangsawan di Cina.”

Kembali kutarik napas perlahan. Raut wajah mediator ahjussi juga berubah. Yang sedari awal begitu sabar dan menyejukkan, kini menjadi raut wajah penuh keingintahuan.

“Setiap hari mereka selalu bertengkar. Itulah sebabnya aku diambil paksa oleh halmeoni, dan dirawat beliau sejak kecil sampai sekarang.” Ahjussi itu masih terdiam. Tapi raut wajahnya benar-benar menampakkan betapa ingin tahunya beliau akan hal ini.

“Aku tidak pernah membenci mereka jika kau ingin bertanya tentang itu. Bahkan aku tidak pernah trauma sedikitpun.” Ahjussi itu tertawa ringan. Lalu menggelengkan kepalanya membuatnya terlihat begitu lucu. Seperti pororo kurasa.

“Seburuk apapun contoh yang diberikan mereka, toh mereka tetap orang tuaku. Meskipun aku berusaha mengelaknya.”

“Lalu, apakah kau pernah menceritakan ini kepada orang lain?”

Aku menggeleng pelan. Berusaha memberikan penegasan bahwa memang seperti itulah kenyataannya. Mediator ahjussi menyipitkan matanya tak percaya. Seolah aku masih menutupi sesuatu di balik ini.

Jeongmalyo. Aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, termasuk…” Kugantungkan jawabanku.

“Termasuk?”

“Keluarga besarku. Bahkan halmeoni.”

Flashback end.

***

::to be continued::

part 2 gantung jelek amat ya (?) /dorr

jadi ini rencananya mau ada 4/5 part saja.

cuma tinggal ending, masih dilema antara happy end apa sad end. /dorr #kokjadicurcol

udahlah pokoknya komen aja ya 🙂

I didn’t hate SILENT READER at all. But you know, I respect to SPEAK READER.

feel free to contact me at here

THANKS 🙂


Advertisements

25 responses to “Please, Listen to Me! (part 2)

  1. Pingback: Please, Listen to Me ! (part 4) | hey~!!! welcome to my side ^^·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s