[Twoshots] I am The GOD (The Reality) – END

Author             : Songhyena

Main Casts      : Kim Taeyeon (SNSD), Seo Joohyun (SNSD), Lee Taemin (SHINee), Lee Sun Kyu a.k.a Sunny (SNSD).

Other Casts     : Kwon Yuri (SNSD), Song Hyena, Jessica (SNSD)

Length             : Twoshots :   Damnation – Part I | The Reality – END

Romance, Tragedy,T + PG-15, AU

Note                : nah nah, ini yang endingnya sudah terbit. Bagi para reader yang mungkin belum tahu edisi pertamanya, kalian bisa klik link dibawah ini. Seperti biasa, anggap Taemin dan Taeyeon itu seumuran dan Seohyun dan Taeyeon adalah sekeluarga.

Story                :      Damnation – Part I | The Reality – END

 

Anneyeoonnggg!!! Akhirnya, borongan FF ini selesai juga! Hahahaha.. ini adalah FF tercepat yang bisa aku buat selama ini. Dalam jangka 1 hari. Gila banyak banget tantangan waktu buat ni FF. Jeongmal mianhe kalau alur + bahasanya tidak jelas. Saya manusia dan author biasa :p 😦 Bagi readers yang belum tahu cerita pertamanya , bisa klik link di atas ya!

 

Kritik + Saran + Komentar DITUNGGU!!!

Don’t be a SILENT READERS PLEASE!!!!

-Taeyeon’s POV-

 

“Hey, Taeyeon!”panggil Taemin. Tapi aku masih terdiam… Sunny dan Seohyun berhenti berbicara dan melihat ke arahku. Taemin menepikan mobil. Mungkin karena masih bingung kenapa aku diam saja. Taemin menepuk lemah tanganku. Aku tersentak.

“Kenapa mobilnya berhenti?”tanyaku. Tampak rona kelegaan dari wajah Taemin.

“Seharusnya yang aku tanya, kenapa kau berhenti berbicara?” Aku diam saja.

“Jalankan lagi mobilnya. Kau tidak ingin dongsaengmu terlambat kan?”tanyaku. Taemin menghela nafas dan ia kembali menstarter mobil.

“Dan aku juga tidak ingin kita terlambat.” Mobil kembali berjalan memecah keramaian kota Seoul dan kami menuju SMP Danwa.

“Anneyeonghaseo Oppa!!!”teriak Sunny melambai-lambai.

“Anneyeonghaseo, Unnie! Gomawo Oppa!” teriak Seohyun. Aku dan Taemin melambai-lambai juga lalu kami kembali pergi ke sekolah kami saat yakin Sunny dan Seohyun masuk ke dalam gedung sekolah tersebut.

“Taeyeon, masih ada satu hal yang membuat aku bingung. Kenapa tadi kau terdiam mendadak?”tanya Taemin. Aku menoleh dan tersenyum.

“Yang juga masih membuatku bingung adalah, kenapa tiba-tiba kau mau mengantarkanku? Padahal kita tidak pernah berbicara di sekolah.” Taemin tertawa mendengar pertanyaan dariku.

“Apakah ini akan membuatmu bingung jika aku bilang aku juga bingung kenapa aku ingin melakukannya?” Aku hanya tertawa mendengar jawabannya itu.

“Hahaha.. Kenapa akhirnya kita bermain kata-kata bingun disini?” Lalu, Taemin memakirkan mobilnya di lapangan parkir sekolah dan turun dari mobil, dan membuka pintu mobil untukku. Glek! Deja vu lagi!

“Gomawo Taemin,”kataku.

“Perlu aku temani ke kelas?” Aku melihat ke arah Yuri yang melambai-lambai ke arah koridor kelas 1 SMA.

“Tidak perlu. Yuri sudah ada di sana,”kataku dan berjalan meninggalkannya.

“Hey! Kau berutang penjelasan kepadaku, Taeyeon!”kata Yuri. Aku merengut dan melihat ke arahnya.

“Apa?” Yuri menghela nafas.

“Kau pintar matematika, tapi kau tidak mengerti apa yang barusan aku bilang?” aku melihat ke arah sekeliling kami saat kami berjalan. Sebenarnya, Yuri adalah yeoja yang lumayan terkenal juga. Ia sering dijuluki ‘Gitar Spanyol’, karena tubuh Yuri yang sangat bagus. Tapi, Yuri selalu bilang,”ah, ada-ada saja mereka.” Yuri sudah cantik, pintar, ia masih saja rendah hati.

“Nah, duduk dulu…,”kata Yuri duduk di tempat Shinkyung, di depan mejaku.

“Kenapa kau bisa diantar oleh Taemin?”tanyanya.

“Aku sendiri juga tidak tahu.” Yuri tersenyum-senyum seperti menggoda.

“Cie… Akhirnya ada yang menyukai dewi Matematika kita.” Aku hanya tertawa saja.

“Anak-anak pelajaran dimulai!”kata Guru Hyena. Oh tidak! Geografi lagi!

*

“Mau ke kantin?”tanya Yuri. Aku yang tengah menulis-nulis di agenda mendongak dan menggeleng.

“Mau menitip sesuatu?”tanyanya lagi. Aku menggeleng sambil tersenyum. Yuri menghela nafas.

“Mau Taemin?” Aku melotot. Lalu melemparnya dengan karet penghapus sambil tertawa.

“Awas kau Yuri!!!!”teriakku mengejarnya. Yuri yang tertawa malah berlari berusaha agar aku tidak mendapatkannya. Tiba-tiba…

BRUK!

Aku terhuyung. Aku menabrak seseorang. Hampir saja aku terjatuh namun sebuah lengan mencekal lenganku. Aku membuka mata sambil menggosok-gosok kepalaku.

“Kau tidak apa-apa?”tanya dari orang yang menabrakku. Oups! Suara yang familier.

“Taemin?”tanyaku. Ia tersenyum. Yuri datang ke arahku.

“Taeyeon kau tidak apa-apa?”tanyanya. Ia belum tahu kalau ada Taemin di dekatnya. Lalu, ia menoleh. Taemin tersenyum ke arahnya.

“Wah wah wah, Pangeran Negara Tropis baru saja datang menjemput Putri Kutub,”kata Yuri. Taemin merengut,”maksudnya?”tanyanya. Aku melotot ke arah Yuri yang hanya tersenyum-senyum gila saja.

“Pikirkan sendiri! Pergi dulu ya!” Yuri melengkang bebas ke arah kantin. Aku menarik tanganku yang masih ada di dalam cekalan Taemin.

“Mau makan siang?”tawarnya. Aku menggeleng. Ia hanya tersenyum.

“Oh, tidak bisa. Harus mau!”katanya lalu menarik tanganku ke taman sekolah.

Kami sekarang sedang duduk di bangku taman depan sekolah. Aku merapatkan sweater ku karena, angin Seoul benar-benar sudah keterlaluan dinginnya.

“Kau mau?” Taemin menawarkan sebuah sandwich.

“Aku membuatnya sendiri,”tambahnya lagi. Aku menggeleng. Namun Taemin meraih tanganku, membukanya, dan meletakkan sandwich itu di atas tanganku.

“Hargai dong usahaku yang harus bangun pagi-pagi demi membuat sandwich ini!”

“Memang ada yang menyuruhmu?”tanyaku. Taemin terdiam lalu tertawa dan mulai memakannya. Aku juga tertawa,”gomawo…,”kataku. Taemin melihat ke arahku.

“Gitu dong!”katanya. Aku hanya tertawa.

Sandwich? Cara yang klasik saat pendekatan.

Batinku.

Glek! Sandwich? Tiba-tiba pikiranku melayang ke arah cerita yang berujudul “It’s My Life.” Sama persis. Karakter namja yang aku buat di cerita itu, juga menggunakan sandwich sebagai bahan pendekatannya. Dan, ia juga menabrak dan memaksa yeoja yang ada di cerita itu untuk menemaninya makan bersama. Ah, tidak…

“Taemin?”panggilku. Taemin menoleh.

“Hm? Apa?”mulutnya masih penuh dengan sandwich.

“Apa kau sering membaca atau mendengar ceritaku yang ada di Kid’s Magazine?”tanyaku.

Taemin menelan makanan yang ada di mulutnya,”iya. Sunny sering sekali menceritakannya. Kenapa?”

Oh wajar saja…

“Kau menggunakan sandwich sesuai cerita yang aku buat yang berjudul “It’s My Life” ?”tanyaku hati-hati. Taemin seperti menerawang. Lalu ia menggeleng,”aku belum pernah mendengar cerita itu dari Sunny.” Aku tersentak. Diam saja.

Mungkin ini hanya kebetulan saja.

Batinku.

“Memangnya kenapa? Kau tidak suka sandwich?”tanyanya. Aku melihatnya lagi.

“Tidak. Aku suka kok.”

“Lantas kenapa kau bertanya? Apa ada yang salah?”tanyanya lagi. Wajar saja kalau ia bertanya sejak pertanyaanku tadi.

“Tidak ada apa-apa kok. Hanya kelebihan mayones.” Aku tersenyum. Terdengar bel masuk berbunyi.

“Aku pergi dulu. Gomawo atas sandwichnya,”kataku lalu berdiri. Taemin mencekal lenganku.

“Nanti saat pulang, tunggu aku dulu,”katanya. Aku melihatnya lalu mengangguk dan mulai berjalan meninggalkannya.

*

Beberapa hari kemudian…

“Kau yakin membelikan ini untukku?”tanyaku pada Taemin. Ia mengangguk. Ia segera membawa kotak yang berisi kue tart ukuran medium ke kasir.

“Aku membeli ini. Berapa harganya?”Kasir tersebut menekan-nekan tombol meja kasir.

“7200 won,”katanya. Taemin mengeluarkan uang yang diminta. Lalu, setelah dibungkus, ia menarikku pulang dan mengantarkanku ke rumah. Saat nyampai, ia membukakan pintu untukku.

“Gomawo Taemin. Kau sangat baik,”kataku. Dia hanya tertawa.

“Tidak apa-apa, Noona. Salam buat ommamu,”katanya. Aku tersenyum lalu melambai saat ia masuk ke dalam mobil dan memngendarai sedan tersebut menjauhi dari rumahku. Aku masuk ke dalam rumah yang disambut Seohyun.

“Bagaimana, Unnie?”tanyanya. Aku mengedipkan sebelah mata sambil mengacungkan jempol.

“beres!”kataku. Ia tertawa dan kami mempersiapkan segala sesuatu untuk memberikan kejutan Omma. Sekitar satu jam lagi, ia akan pulang dari kantor dan kami pura-pura belum pulang dengan keadaan rumah tidak dikunci. Ia pasti akan marah besar.

Satu jam kemudian, kami sudah berada di rumah Jessica. Kami menumpang bersembunyi.

“Hari ini Bibi ulang tahun?”tanyanya saat ia melihat Seohyun memegang sebuah kotak berisi kue tart. Aku mengangguk. Ia membuka kotak tersebut.

“Waw… Kue yang cantik!”puji Jessica. Aku mengangguk.

“Unnie! Hayo!”kata Seohyun saat ia mendengar suara Omma yang berteriak-teriak.

“Hwaiting, Taeyeon!” Aku mengangguk.

“Gomawo, Sica!”kataku lalu kami pergi dari rumah Sica menuju rumah kami.

“Dasar anak-anak usil! Pergi dari rumah tapi tidak dikunci!” Marahan Omma terdengar hingga pintu depan. Seohyun menahan tawa. Aku memberi kode.

“1..2..3..”

Lampu kami matikan. Omma terkejut dan melihat ke arah kami yang ada di pintu depan dengan membawa kue tart dengan beberapa lilin.

“Happy birthday, Omma… Happy Birthday…,”kami melantunkan lagu Happy Birthday. Omma tampak shock hingga air matanya berlinang. Ia memelukku dan Seohyun.

“Tiup dulu lilinnya, Omma… Make a wish!”kata Seohyun. Omma mengangguk dan memejamkan mata seperti memanjatkan doa dan meniup lilinnya.

“Omma khawatir. Rumah tidak dikunci, tapi kalian tidak ada di rumah.” Aku tertawa.

“Kami di rumah Jessica tadi.” Seohyun menghidupkan lampu. Suasana menjadi jelas. Aku berdesir melihat pakaian yang dikenakan ommanya. Blus merah maroon dengan celana panjang. Sama persis dengan yang ia gambarkan di ceritanya yang berjudul “I Love my Mom”. Namun, sekuat tenaga aku menyembunyikan rasa shock, agar, kejutan untuk omma ini dapat berjalan dengan lancar.

*

Beberapa hari kemudian…

Aku sedang duduk di sebuah taman. Aku diajak bertemu oleh Taemin disini. Ia mengenakan mantel dingin selutut, stocking tebal, baju dress selutut, sepatu boot yang hangat, scarf, dan sarung tangan, dan tak lupa topi penghangat. Aku duduk di sebuah kursi taman yang mengarah ke arah sebuah danau buatan di salah satu daerah Seoul. Tak beberapa lama kemudian, Taemin muncul di depannya. Sangat tampan. Menggunakan sweater, jaket, celana panjang, dan menggunakan sarung tangan. Nuansa hitam.

“Sudah lama?”tanyanya. Aku menggeleng. Taemin mengambil posisi duduk di sebelahku dan menyodorkan sandwich.

“Buatanmu?”tanyaku. Ia menggeleng.

“Aku tidak sempat membuatnya.” Aku hanya tersenyum dan memakannya. Tidak, dia berbohong. Karena, sandwich ini kelebihan mayones.

“Kau yang membuatnya. Sama seperti yang sudah-sudah, selalu kelebihan mayones!” Taemin tertawa.

Maksudku, sama dengan karakter namja di ceritaku yang “It’s My Life”.

Batinku.

“Tapi, karena itu ‘kan kau selalu mengingat sandwich buatanku?”aku tersenyum lalu mengangguk. Kami kembal terdiam sambil melihat arah jalan kota Seoul yang padat.
”Untuk apa kau memanggilku ke sini?”tanyaku setelah semua sandwich habis kumakan. Taemin memasukkan kedua tangannya di masing-masing saku celananya. Menunggu dan berpikir. Seperti itulah dia sekarang.

“Bagaimana kalau besok kita kencan?”tanyanya. Pertanyaan macam apa ini?

“Apa?”tanyaku. Ia menghela nafas.

“Bagaimana kalau besok kita kencan?” Dia mengulang pertanyaannya. Aku berputar arah badan dan melihat ke arahnya.

“Tentu saja aku mau!” Taemin tersenyum merekah. Salah satu hal yang membuat aku selalu nyaman saat ia begini.

“Baik, besok tunggu lagi di taman ini. Aku akan menunggumu jam 10 pagi. Kita akan pergi sama-sama dengan bus kota. Kau harus datang! Jika kau tidak muncul-muncul, maka aku tidak akan pulang ke rumah!”

*

Keesokan harinya…

“Aku mau pergi dulu, Seohyun!”kataku sambil membereskan mantel dingin yang aku gunakan.

“Mau kemana Unnie? Sama Taemin Oppa ya?”tanyanya. Aku melihat ke arahnya dan tersenyum.

“Iya. Hati-hati di rumah, Dear… Jangan bukakan pintu kepada siapapun yang tidak kau kenal!” Aku mencium dahi Seohyun. Tanpa aku sadari, Seohyun memiliki firasat yang buruk.

*

-Taemin’s POV-

 

Aku melihat untuk kesekian kalinya. Ke arah arloji yang melingkari tangan kananku. Musim gugur Seoul tak kalah jauh ekstrim dengan musim gugur di dataran Eropa. Anginnya benar-benar menusuk kulit. Baru telat 5 menit. Aku kembali celingak-celinguk ke arah jalanan Seoul yang sangat padat. Aku masih disini. Berdiri di sisi jalan agar Taeyeon tidak susah untuk menemukanku.

“Mungkin ia terlambat sebentar karena memujuk Seohyun…”

Sudah satu jam.

Aku sudah mulai lelah. Aku berjalan masuk ke taman dan menduduki kursi taman yang baru saja kami duduki kemarin sore. Waktu sudah menunjukkan jam 11.06 . Tapi, Taeyeon tidak kunjung muncul. Sosok pendeknya itu tidak aku lihat. Jika hingga 30 menit kedepan ia tidak muncul dan tidak memberi kabar, aku harus menelponnya.

Sekarang jam 3 sore…

Angin berhembus makin kencang. Air mineralku sudah habis. Dan, aku sudah merasa sangat kedinginan. Taeyeon belum juga muncul. Saat aku telpon, ponselnya tidak aktif.

Nggiiunnngggg… Ngiiiiunnnngggg…

Suara sirene Ambulans itu menghentak lamunanku.

“Taeyeon, dimana kau sekarang?”

Sudah jam 5 sore..

Taeyeon tidak muncul juga. Aku mulai berdiri dan memendam kekecewaan atas tindakannya ini. Aku benar-benar kesal. Aku langkahkan kaki keluar taman hingga seseorang menarik mantel dinginku.

“Oppa!!! Syukur Oppa disini…” Aku berbalik badan.

“Sunny? Ada apa?”

*

Kini aku berada disini.

Ruang operasi itu masih tertutup pintunya. Taeyeon mengalami kecelakaan sekitar jam setengah 10 tadi. Ia ditabrak sebuah mobil truk yang membuatnya terpental. Ginjalnya pecah dan tulang belakangnya retak. Sangat amat buruk dari rasa kekecewaanku padanya. Aku menebarkan pandangan.

Terlihat Seohyun, Sunny, dan Omma Seohyun yang terus mengelus-elus punggung Sunny dan Seohyun. Ia tampak shock. Seohyun menangis terus. Sedangkan Sunny hanya sedikit terisak.

Ini salahku…

Aku mengepalkan kedua tanganku yang ada di atas kedua lututku. Andai waktu bisa diputar… Andai aku tidak membuat janji padanya kemarin…

Taeyeon sudah melalui operasi. Kini ia sedang di masa kritis. Ia tidak sadar. Aku menatap wajahnya yang hanya memejam. Seperti tertidur. Kira-kira apa yang dimimpikannya? Apakah ia sedang bermimpi tentang kencan kami?

Aku memegang lengan kanannya dengan tangan kanan. Sedangkan tangan kiri mengusap dahi Taeyeon yang dibalut perban itu. Sebuah tabung oksigen, bertengger di sebelah kiriku. Menghubungkan klep yang menutupi bagian hidung dan mulut Taeyeon untuk membantunya bernafas. Aku tidak marah dan kecewa padanya… Aku marah pada Tuhan. Kenapa kami harus menghadapi semua ini???

*

-Seohyun’s POV-

 

Ini sudah hari kelima.

Unnie belum juga sadar. Taemin oppa selalu menungguinya. Sekarang aku ada di kamar Unnie. Membuka komputernya dan membuka foto-fotonya. Seakan, foto tersebut memberikanku kekuatan dan keyakinan kalau semua akan kembali menjadi normal. Secepatnya. Aku berjalan mendekati tempat tidur Unnie. Membaca diary-nya. Halaman demi halaman aku baca… Hingga, halaman dimana saat Unnie baru saja bertemu Taemin Oppa di sebuah taman.

“Tunggu dulu!” Aku tersentak. Aku kembali membuka komputer dan membuka semua file cerita-ceritanya. Memoryku kembali ke beberapa hari yang lalu. Saat Unnie masuk ke dalam kamarku saat aku hendak tidur.

“Ada apa Unnie?”tanyaku. Unnieku hanya tersenyum melihatku.

“Seohyun, aku rasa, ini semua seperti Deja vu. Semua yang aku lalui ini sama seperti ceritaku. Apa kau percaya bahwa elemen kehidupan kita sudah bergabung dengan elemen kehidupan ceritaku?” Aku hanya tertawa.

“Unnie… Semua Tuhan yang mengatur…”

Kini aku mengerti. Semua ini adalah perwujudan dari cerita dan doa Unnieku sendiri. Tapi, aku bisa berbuat apa?!

Aku segera mengeprint semua cerita Unnie ku dan menghapus semua cerita di komputer Unnie. Sudah yakin tidak ada yang tersisa, aku mengambil korek api dan membakar semua printan cerita Unnie.

“Tuhan… Sembuhkan Unnieku.”

*

Saat kembali ke rumah sakit, aku melihat Unnie yang sudah sadar. Bahkan ia sudah duduk dan dipindahkan ke ruang perawatan yang biasa. Taemin oppa sedang pulang untuk mandi sedangkan Sunny bersama Yuri Unnie pergi untuk mencari makan. Omma sedang ada di toilet.

“Unnie… Syukurlah!”aku memeluk Unnieku. Unnie hanya tersenyum.

“Aku mengerti apa yang Unnie maksud malam itu…”

“Lalu?”tanyanya.

“Aku menghapus semua cerita itu dan membakar hasil print-annya. Kutukan itu sudah hilang!!!”kataku. Unnie tersenyum.

“Gomawo, Dongsaeng… Tanpa semua tindakanmu, mungkin aku berakhir seperti di “Destiny”.”

“Apakah Taemin Oppa sudah tahu Unnie sudah sadar?” Unnie menggeleng.

“Biarkan dia sendiri yang tahu…”

*

-Taemin’s POV-

Kini, aku bersama Taeyeon berada di taman rumah sakit. Angin masih dingin. Taeyeon hanya perlu istirahat hingga ia masih di kursi roda.

“Maafkan aku, aku tidak bisa datang waktu itu…”katanya. Aku tahu dia merasa bersalah. Tapi, aku lebih merasa bersalah.

“Tidak apa-apa… Sekarang adalah kencan kita…,”kataku yang menggiring kursi roda Taeyeon ke sebuah kolam ikan di area rumah sakit. Aku berlutut di depannya dan menggenggam tangannya.

“Kim Taeyeon. Aku tahu ini terlalu cepat. Kita masih 1 SMA. Tapi tidak apa-apakan kalau masih tahap perkenalan?” Aku tangkap raut bingung dari wajah Taeyeon.

“Apa maksudmu?” Aku menghela nafas.

“Taeyeon… Aku menyukaimu. Aku mencintaimu… Maukah kau menjadi yeojachinguku???” Aku menunggu responnya. Berdebar-debar… Apa jawabannya??? Yang kutangkap selanjutnya adalah senyumannya yang seperti menghentikan waktu di sekelilingku.

– THE END –

Advertisements

30 responses to “[Twoshots] I am The GOD (The Reality) – END

  1. Woooowwwww….
    KEREEENNN EKA!!
    HEBAT2…
    Author jaman sekarang emang hebat2 pisan euy, beda sama author kayak saya…
    Hahahahaha…

    Ntu si Taemin nyatain cinta sama Taeyeon trus diterima ya ka?
    Soalnya Taeyeon kan senyum, berarti dia sama Taemin udah jadian ya? *banyak nanya deh readers satu ini*

    Oya ka, boleh ngritik gak ya? *gak boleh!*
    Tadi aku baca masih ada kesalahan penulisan satu dua kata, trus tadi aku agak bingung bacanya, soalnya ada tanda baca yang mungkin gak ada atau mungkin gak kelihatan…

    Hahahahaha…

    YAh, intinya pokoknya Daebak lah ka… (^_^)d

    share more ya ka…:D

    • ueheeee… akhirnya author yang sempet hiatus ini come back and gives my ff a comment
      hihihihi.. very helpful!! http://www.cute-smiley.com

      heheheeh!
      dasar pecinta Taemin! (aku juga lho :p)
      iya dong diterima. sengaja gak aku terangin, jadi biar ngegantung dan lebih punya taste! *ceile*http://www.cute-smiley.com

      hihihihi..
      gomawo ni udah bilang aku bs nulis FF-nya
      hahahahaha…

      oh, oke, gomawo mer!
      nanti aku usahakan lebih baik lagi grammar (?) – nya supaya lebih jelas http://www.cute-smiley.com

      hhihihihi..
      GOMAWO SUDAH KOMEN + READ!!! http://www.cute-smiley.com

  2. Thor, ak boleh kritik g ? (boleh aja lah)
    Ide cerita ff ini keren. cma pas konflik.a kurang ‘wah’ thor. Trus pas penyelesaian.a juga…
    padahal ak pengen.a taeyeon dikejar” kematian ky di final destinaton..

    tapi cerita.a keren kok.
    good job !

    • hihihihihi…
      bole kritik kok
      aku malah senang

      wah iya, rencana sih aku mau panjangin pas dia lagi memang masuk ke dunia ceritanya. tapi, aku ngejar waktu juga.. terus, sudah terlanjur buat jadi double shot dan aku pikir double shot gak cukup
      tapi, gomawo ya sudah komen!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s