With you Part III

Genre              : Romance,Friendship

Author            : Hikari-ghi

Length            : on going

Rating             : G

Cast                :

Choi Minho

Park Hyona

Etc

Anyeong ^^

Saya kembali lagi di part 3. Lagi-lagi semuanya berkat Zen dan para reader yang sudah memberi komentar, kritik dan saran di part sebelumnya. Semoga yang ini bisa membuat para reader senang!

Happy reading!




“ya! Choi Minho. Kau masih ingat siapa aku.” namja itu tersenyum sinis. Terlihat menyebalkan. Semakin banyak yang mengerumuni kami. Entah mengapa tidak ada guru yang datang kesini. Apa sedang rapat? Aku melihat Key hyung dan Taemin berada di antaraku.

“ya. Tentu saja aku tahu. Kau yang keluar dari tim basketku dua bulan yang lalu kan. Tapi aku lupa namamu.”

“haaah. Kau memang begitu. Itulah sifat burukmu. Kau selalu meremehkan orang lain. Kau tidak pernah peduli dengan orang sekelilingmu. Jangan kau pikir kalau kau itu populer, jadi kau bisa menjadi seorang Choi Minho yang SOK populer.”

“kau…!”

“jangan.” Aku melarang key yang sudah hampir maju untuk memukul namja itu. “teruskanlah. Teruskan apa saja yang kau ketahui tentang keburukanku.” Mataku tak terlepas dari mata namja itu. “apa sudah selesai Lee Daego.” Yah, aku baru ingat nama namja satu ini. Lee Daego.

“hhh. Ternyata kau sudah mengingat namaku Choi Minho.”

“ya! Katakan saja apa maumu!” sahut Taemin.

~hening

Sebenarnya apa tujuan Daego memancingku ke sini. Membuang waktu saja menungguinya berdiri di tengah lapangan ini. Aku hendak membalikkan badanku untuk pergi.

“lawan aku bertanding sekarang jika kau tidak mau dikatakan Choi Minho yang penakut.” Dia benar-benar memancingku.

Aku membalikkan badanku kembali menghadap namja yang sudah siap dan mendribble bola basketnya. Aku merasakan Key menepuk-nepuk pundakku. Kulangkahkan kakiku mendekati Daego. Dan sekarang Cuma aku dan daego yang berada di tengah lapangan basket. Tatapan-nya seperti seorang pembunuh berdarah dingin. tatapan yang cukup membuat sebagian orang takut. Sayangnya tatapanmu itu tidak bermutu untuk seorang Choi Minho.

Park Hyona POV

Telingaku semakin menangkap suara yeoja-yeoja yang semakin histeris memanggil nama Choi Minho. Tidak biasanya sampai se-histeris tingkat akut begini. Memang apa yang diperbuat namja culun itu. Apa dia memakai kostum frog ke sekolah hingga menurutnya tampak terlihat menggemaskan. Cih.

Aku melepas pensilku dan melangkahkan kakiku ke luar kelas. Ku pandangi lapangan yang cukup jelas dari balkon lantai dua depan kelasku.

“mwo?!” itu kan Minho dan Daego, murid kelas XI.B yang dikenal sangat dendam dengan Minho sampai ia mengundurkan diri dari tim basket yang kapten-nya Minho. Kabarnya namja itu berlatih keras untuk membuktikan bahwa ia dapat mengalahkan Minho, master basket di sekolah ini. Minho pasti tidak tahu tujuan Daego sebenarnya.

Apa aku harus turun ya? Batinku. Tapi sebaiknya tidak. Malas sekali mendengar jeritan yeoja-yeoja yang sedang gila itu. Dari jauh ini saja sudah terdengar cukup keras. Apalagi kalau aku berada di sana ==”

Aku kembali ke kelas. Melihat Aechan dan Nasae sedang memandangiku dengan keadaan bingung.

“waeyo?” tanyaku pada mereka.

“gwechanayo? Apa yang kau lihat di luar?” tanya Nasae.

“kau melihati Choi Minho atau Lee Daego?” Aechan menyambung.

“ANHI! Untuk apa. membuang tenaga saja.” Aku kembali ke tempat dudukku. Aku merasakan Nasae dan Aechan masih memandangku bingung. Memang perasaanku agak sedikit khawatir dengan Minho. Waeyo kau memikirkanya Hyona >.<

Choi Minho POV

“kau menang Minho. Kau mengalahkanku 12-9. Selamat. Memang tidak ada yang bisa menandingngi-mu di sekolah ini. Aku sudah latihan sekeras mungkin tapi tetap saja.” Namja itu tersenyum seperti menertawakan kekalahanya sendiri. Aneh sekali.

“kau bermain basket karena dendam padaku kan. Bukan karena rasa senang.” Tiba-tiba sekeliling kami hening saat aku mengatakan itu. Apa perkataanku terlalu menyentuh?

“hhh, ternyata kau bisa juga berceramah. Ingatlah Choi Minho. Suatu saat aku akan menghampirimu dan bisa mengalahkanmu, lalu membuatmu… down.” Daego melangkah maju ke arahku. Punggungku dan punggungnya bersentuhan dan akhirnya dia pergi.

“akan ku ingat! Hwaiting Lee Daego!” pekikku dengan senyuman. Rasanya aku sedang ingin tersenyum terus. Entahlah, kurasa bukan karena kemenanganku melawan Daego.

“kau hebat hyung!” Taemin menepuk punggungku.

“yah, tapi kau harus waspada. Dia masih mengincarmu Minho.” Sambung Key hyung.

“ya! Belikan aku minum! Aku gerah sedari tadi dikelilingi yeoja-yeoja menyebalkan itu!” sungutku berjalan bersama 3 sahabatku itu menuju kantin.

Park Hyona POV

13.20 KST

Pulang sekolah~

Aku menyusuri trotoar dekat taman setelah berpisah dengan dua chingu-ku. Ku perhatikan isi taman itu. Siang-siang panas begini ternyata banyak juga orang yang bermain di sini. Lebih baik aku mampir dulu ke tempat rahasia itu.

Sebelum melewati semak itu, aku mengharapkan sesuatu. Entah apa yang aku harapkan, tapi di pikiranku hanya namja culun itu.

Aku melangkah menuju pinggir danau dan berdiri menhirup udara sekitarnya. Kulirikan mataku ke lapangan basket di samping danau tersebut. Aku kembali mengingat saat aku bertanding dengannya kemarin. Aku duduk di rerumputan yang nyaman. Kukeluarkan buku bersampul berbagai macam warna hijau. Aku meraih pensil hijau di dalam tas. Dan aku mulai menggoreskan apa yang tergambar di angan-angan-ku.

16.00 KST

Choi Minho POV

Aku memarkirkan motor besarku di tempat parkiran taman khusus motor. Aku melangkah menuju semak itu dan berharap yeoja itu berada di sana. Benar saja dugaanmu Choi Minho. Yeoja itu sedang duduk di rerumputan pinggir danau. Lagi-lagi iya dengan buku kesayangannya itu.

Kulangkahkan kakiku membelakangi yeoja itu dan… aigoo! Ternyata Park Hyona mahir menggambar. Jari-jarinya cantik sekali setiap menggerakkan pensil di atas buku itu. Buku bersampul hijau dan pensil berwarna hijau. Apa Hyona menyukai warna hijau?

“kau suka warna hijau ya?” aku tersenyum ke arahnya sembari duduk di sampingnya. Yeoja itu kaget. Tapi matanya tertuju lagi pada buku sampul hijau itu.

“aku menyukai semua warna.” Hyona tertawa.

“lalu menagapa kau memakai sampul buku dan pensil warna hijau? Mengapa tidak warna pelangi saja?”

“sudah. Sudah berbagai macam warna sampul aku ganti saat aku mengganti buku gambar kecil ini. Pensil juga.” Hyona tersenyum ke arahku.

“kalau begitu, warna apa saja yang sudah kau pakai?”

“sudah hampir semua warna. Kecuali biru dan…”

“mwo?! Biru? Kau belum memakai warna biru? Aigoo! Itu warna kesukaanku! Kau harus memakainya araseo!” mata yeoja itu melongo saat aku mengatakan barusan. Aku terlalu semangat -,-

“Aneh sekali wajahmu!” Hyona tertawa lagi.

“yaaa maksudku kau harus memakai warna biru karena warna itu membuat kita semangat. Coba saja!”

“oh. Ne! Aku akan mencari notes bersampul biru dan…”

“pensil? Aku saja yang mencarikan pensil motif biru untuk-mu.” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku.

“ah, ne! Gomawo..” yeoja itu tersenyum lagi. Dan melanjutkan menggambarnya.

“ternyata kau hobi menggambar ya yeoja jelek.” Aku duduk di sampingnya. Yeoja itu mnoleh ke arahku.

“tentu saja.” Ia tersenyum tetap menatapi jari-jarinya yang menari di atas buku bersampul hijau yang sedari tadi bersamanya.

“mengapa kau tidak bilang padaku kalau kita satu sekolah, bahkan kelas kita sama.”

“tapi akhirnya kau juga tahu kan.”

“ya! Tapi bagaimana kalau aku tidak mengetahuinya?”

“waeyo kau bertanya seperti itu?” yeoja itu bertanya dengan mimik muka yang bingung.

“ah… anhi anhi!” mengapa aku jadi gugup. Aish~ Minho kau ini kenapa!

Yeoja itu terus menggambarkan sesuatu di buku kesayanganya itu. Aku penasaran. Ku dekatkan wajahku melihat lebih jelas apa yang digambar Park Hyona.

“Ya! Jangan dekat-dekat namja culun!” yeoja itu mendorongku sampai-sampai aku hampir terjaruh. Cukup kuat juga dia.

“aku hanya ingin melihat apa yang kau gambar!” sungutku.

“tidak boleh!” yeoja itu memonyongkan bibirnya sembari menutup-nutupi buku bersampul hijau itu.

“waeyo?”

“karena ini pribadi. Tidak boleh ada yang melihatnya kecuali aku dan…” yeoja itu berhenti bicara.

“dan siapa?”

“dan namjachingu-ku.” Yeoja itu tersenyum ke arahku dan menutup buku yg lebih kecil dan lebih tebal dari buku tulis itu, yg bersampul beberapa ragam warna hijau, dan yang membuatku penasaran sekali.

“memang siapa namjachingu-mu?” aku sangat penasaran. Siapa yang sudah mendapatkan yeoja manis ini. Siapa yang sudah mendahuluiku!

“belum ada.” Yes!

“kalau begitu….”

“kau tidak membawa bola basketmu?” aigoo! Yeoja itu memotong pembicaraanku! Baru saja ku ingin berkata ‘kalau begitu jadikan aku namjachingu-mu!’ huh. Dasar yeoja menyebalkan.

“tidak!” jawabku sungut. Yeoja itu menoleh karena jawabanku yang membuatnya kaget. “tapi aku membawa ini.” Aku mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketku.

“lolipop?” yeoja itu terlihat bingung.

“tentu saja. Kau kira apa lagi hah!?”

“lalu?” dia bertanya lagi -,-

“ini untukmu Park Hyona” aku menyodorkan lolipop itu ke wajah manisnya.

“wow! Kau ingat namaku, namja culun?” yeoja itu mengambil dan berkata sambil menatap lolipop dari tanganku.

“tentu saja. Dan berhentilah memanggilku ‘namja culun’! araseyo!?”

“ne! Ne! Choi Minho. Gomawo. Lolipop ini enak. Rasanya sedikit berbeda dari lolipop yang biasa kumakan.” Dia memanggil namaku. Aih rasanya senang sekali. Dia mantapku bingung sambil mengemut lolipop pemberianku.

“kalau begitu besok aku akan membawaknya lagi untukmu.” Aku tersenyum menatap yeoja itu

“waah! Ternyata kau namja yang baik. Tapi mengapa sikapmu dingin sekali saat di sekolah?” yeoja itu bertanya denganku. Apa benar aku begitu? “yaaa kau terlihat seperti namja yang tidak peduli dengan siapapun. Lebih tepatnya sombong.” Kata-kata yeoja ini mengingatkanku dengan perkataan Daego. Ternyata tanpa aku sadari ada beberapa orang yang menganggapku begitu. “tapi aku mengerti. Kau pasti risih kan mendengar pekikkan yeoja-yeoja histeris itu. Kkkk~” Hyona tertawa. Aigoo manis sekali kau Park Hyona!

Aku-pun ikut tertawa.

Park Hyona POV

Manis sekali namja ini kalau tertawa. Di sekolah aku tidak pernah memperhatikannya. Pantas saja hampir semua yeoja di sekolah menjadi histeris saat melihat batang hidung-nya. Aigoo! Jangan sampai aku yang menjadi korban senyuman namja ini >.<

Sementara Minho masih menceritakan semua lelucon-lelucon-nya, aku menatap jam tanganku. Haaah? Ternyata sudah jam 17.30. sudah hampir malam. Bagaimana aku pulang!

“kau mau pulang? Biar aku antar!” Minho langsung menarik lenganku yang belum sempat berdiri. Kami keluar melewati semak itu bersama dan sampai di parkiran Minho baru melepas genggamanya dari lenganku. Kuat sekali namja itu menggenggap. Seakan aku tidak boleh lepas dari-nya. hanya ada aku, Minho, dan motornya saja. Semua orang sudah pulang. Sepi sekali.

Hhhh~ terpaksa aku menerima tawaran-nya karena aku tidak mau pulang malam. Aku takut gelap!

@@@@@@

08.10 KST

~ringringringring~

Aku terbangun mendengar suara handphone di atas meja kecil di sebelah tempat tidurku. Ini kan hari minggu. Siapa yang mengganggu tidurku hah! Dengan mata setengah terbuka, aku melihat dan membuka dua email di layar handphone.

From : Choi Minho

Hari ini kau ke tempat persembunyian tidak!

To : Choi minho

Aku tidak tahu. Mungkin ya, tapi tidak sekarang. Aku masih ngantuk! Tempat persembunyian? Tidak enak sekali mendengarnya! lebih baik menyebutnya ‘tempat rahasia’! araseyo!”

Lalu aku membuka email selanjutnya.

From : Kim Aechan

Hyona, kau mau ikut aku dan Nasae ke tempat taman hiburan tidak? Kalau kau mau, kita bertemu di depan stasiun dekat tempat belanja Insadong araseyo?”

To : Kim Aechan

Gomawo atas tawaran-nya. Tapi aku sedang malas. Selamat bersenang-senang! 😀

Tidak lama, handphone-ku berbunyi lagi.

From : Choi Minho

Mwo?! Ternyata kau masih tidur Hyona? mianhae aku mengganggu-mu. Tapi aku akan menunggumu. Karena ada yang ingin ku sampaikan. Araseyo! Akan ku ingat! TEMPAT RAHASIA J

Aku tidak membalas email namja itu lagi dan kembali menarik selimutku. Tetapi aku tidak bisa tidur lagi. Huh mengapa aku jadi memikirkan namja culun itu. Perasaanku aneh. Aku melangkahkan kakiku menuju ke luar kamar. Kulihat oemma dan appa sedang melakukan rutinitas masing2 di ruang tengah. Aku menuju ke dapur lalu ke halaman belakang rumah dan kembali ke kamar. Aigoo! Kenapa aku ini? Mengapa aku berjalan tanpa tujuan begini? >.<

Namja itu, Choi Minho. Apa dia sudah ada di tempat rahasia itu. Hah! Sebaiknya aku cepat-cepat mandi dan pergi kesana!

@@@@@@

Aku berjalan ke-luar rumah. Menuju taman yang memang tidak jauh dari rumahku. Sambil melihat-lihat toko-toko di sepanjang jalan, mataku berhenti pada buku berukuran tidak terlalu besar. bercover biru dan ada motif awan. Bergambar katun perempuan yang menyandarkan kepalanya di bahu lelaki yang duduk di sampingya. Mereka duduk berdua di bawah pohon yang rindang. Itu mengingatkanku pada namja yang menyarankan, lebih tepatnya menyuruhku memakai buku bercover hijau. Aku berniat membelinya. Aku ambil buku itu dan memberikannya kepada ahjuma yang menjaga kasir. Sambil menunggu, aku melihat gantungan hp berbentuk miniatur kartun anak perempuan. Lucu sekali.

“kau mau itu?” ternyata ahjuma melihatku memegang gantungan hp ini.

Aku hanya tertawa pada ahjuma yang umurnya kurang lebih 50 tahun itu.

“tadi ada pemuda yang sudah membeli pasangan-nya. Aku menyarankan pemuda itu untuk membeli keduanya karena nanti salahsatunya kesepian. Tapi pemuda itu tetap tidak mau.”

“kalau begitu aku saja yang bembelinya. Kasihan kan kalau dia sendirian disini.” Aku dan ahjuma itu tertawa lagi.

Aku berjalan lagi menenteng buku dan gantungan hp yang aku beli tadi. Sengaja aku meminta pada ahjuma untuk tidak mengemasnya. Aku berniat memberikan gantungan ini pada Minho. Tapi ini kan gantungan perempuan. Ah tidak jadilah!

Choi Minho POV

Aku menunggu yeoja yang sangat kunanti. Aku sudah siap dengan dua benda yang ada di saku jaketku. Semua akan kuberikan untuk yeoja itu.

Aku meatap danau dengan tenang, mengingat senyuman yeoja manis itu. Hal itu tidak dapat menahan tawaku. Kkkek~

Mataku melihat sekeliling danau dan mataku menatap bunga berwarna putih, bentuknya seperti bunga terompet tapi tidak menjulang ke bawah. Aku yakin bunga ini hanya da di tempat rahasia ini. Karena sebelumnya aku tidak pernah menemukannya. Aku berniat memetiknya dan akan kuberikan kepada yeoja dan aku akan menyatakan perasaanku.

Tek ß [anggep aja bunyi bunga dipetik]

“hey! Jangan memetik bunga sembarangan!” seseorang mengagetkanku. Aku menoleh. Dia Park Hyona.

“sudah terlanjur kupetik. Apa bisa ditanam lagi?”

“ya mana bisa Choi Minho!” yeoja itu menyambar bunga yang baru saja kupetik lalu menyium baunya. “tidak harum lagi. Karena sudah kau petik bodoh!”

“tapi aku memetik itu untuk…”

“apa kau tidak meresakan perasaan bunga ini?”

“tentu saja tidak. Aku kan namja.” Aku menggeleng.

“kau mau dipisahkan dengan seseorang yang kau sayangi? Seperti 4 sahabatmu itu. Atau oemma appa-mu? Atau yeojachingumu? Atau…”

“tentu saja tidak!” aku shok mendengarnya menyebut kata ‘yeojachingumu’

“begitu juga dengan bunga ini! Saat dia berada di tempatnya, dia tampak senang dengan tanda baunya harum. Karena kau memetiknya, bunga ini merasa sedih karena terpisah dengan bunga-bunga lainya, baunya pun menghilang. Seperti… rasa senang yang akhirnya menjadi menyedihkan.” Kata-kata Hyona menjadi mengecil dan aku kurang mendengarnya. dia tertunduk dan bunga itu jatuh dari tanganya. Dengan segera aku mengambil bunga putih cantik itu. Aku menuntun yeoja yang masih menunduk itu menuju lapangan, tepatnya pinggir lapangan yang teduh ditutupi pohon besar yang mengkin sudah cukup tua.

Yeoja itu duduk menyilangkan kakinya masih tertunduk. Raut wajahnya sama saat pertama kali aku melihatnya. Apa dia kembali mengingat masalahnya? Mengapa kau Park Hyona?

Aku berpikir keras untuk menghiburnya. Ku akui, aku sangat lemah dalam menghibur seorang yeoja yang sedang sedih. Menghibur diriku saja susah, apalagi orang lain -,-

Tiba-tiba mataku berhenti pada sesuatu yang dipegang Hyona.

“kau sudah membelinya?” aku merebut buku berukuran agak kecil itu dari tanganya. Yeoja ini menepati janjinya. Buku ini bercover biru terdapat langit-langit di cover bagian atas, dan gambar kartun yeoja dan namja seperti kekasih.

Yeoja itu masih tertunduk. Aigoo! Aku tidak tega melihatnya begitu. Aku harus membuatnya lupa akan masalahnya. Tanpa pikir panjang aku mengambil sesuatu dari saku jaketku. Ku julurkan benda itu ke depan wajahnya yg masih tertunduk. Yeoja itu mendongakkan kepalanya melongo melihat benda di tanganku.

“kau sudah membelinya? Lucu sekali pensil biru ini.” akhirnya yeoja itu berbicara

Aku tersenyum. “tentu saja! Kau juga sudah membeli note bercover biru ini kan.”

“ne. Lalu?”

“mengapa kau membelinya?” tanyaku pada yeoja itu.

“karena kau memaksaku.”

“mwo?! Benarkah aku memaksamu? Kurasa tidak. Atau kau menyukaiku ya.” Ledek-ku.

“mungkin.” Hyona tertawa. Akhirnya kau tertawa juga yeoja manis.

Kami-pun tertawa bersama.

@@@@@@

Enam bulan berlalu…

20 Oktober 2011

15.00 KST

pulang sekolah…

“Choi Minho! Kajja! Lamban sekali kau ini!” suara yeoja cempreng Itu berjalan cepat menuju motorku dengan raut mukanya yang cemberut.

“ne! Kau ini harusnya sabar sedikit. Aku baru saja habis mengambil bola basket ini untuk mengalahkanmu Park Hyona!” aku merangkul pundak yeoja itu.

“ooh. Bagaimana kalau kita makan restoran itali dulu di arah sana?” yeoja itu menunjuk arah yang dimaksud.

“aku mau mie rammen!”

“aih~ aku bosan mengikutimu makan mie rammen setiap hari!”

“ne. Tapi besok dan seterusnya kau harus menemaniku makan mie ramen araseyo?”

“ne ne. Terserah kau sajalah. Kajja!”

Setelah makan…

Park Hyona POV

“apa kau tidak bosan mengalahkanku terus Choi Minho?” namja itu menggenggam lenganku berjalan mengitari taman menuju tempat yang sudah biasa kami datangi.

“tentu saja.” Namja itu hanya tertawa kecil. Dia sangat mengejekku. Mengapa dia selalu mau mengalahkanku bermain basket. Padahal setiap bermain dengannya dia selalu menang. Tapi tetap saja dia tidak bosan-bosan. Aneh.

“tapi, apa aku bisa bermain dengan masih berseragam sekolah begini?” dia menatapku dari bawah sampai atas.

“aniyoo! Mengapa kau tidak mengganti pakaianmu Hyona!”

“bagaimana aku mengganti pakaianku. Kita kan tidak mampir ke rumahku. Lagian, ini juga sudah terlalu sore untuk berolahraga.”

“tidak terlalu. Masih banyak waktu. Ini belum malam!” namja ini keras kepala sekali.

“kalau begitu, kau saja yang berolahraga! Aku mau meng…”

“menggambar?”

“ne!” aku tersenyum.

“kalau begitu kau ajari aku menggambar!” namja itu menarik lengan-ku lagi. Cepat sekali dia berjalan.

####

“bukan begitu caranya!”

“lalu bagaimana Park Hyona!”

“tanganmu jangan terlalu kaku!”

“ne…” Minho melanjutkan lagi menggambar di kertas-nya.

“kau tidak boleh terlalu tebal. Nanti mengapusnya susah!”

“lalu apa lagi?” wajah namja itu mendekatkan ke wajahku. Apa-apan kau Choi Minho!

“kau jangan dekat-dekat!” aku mendorong pundaknya. Namja itu hanya tertawa.

“hyona, aku mau kau menggambarkan sesuatu dan memberikanya untukku?.” Namja itu meremas kertas yang digunakan untuk menggambarnya tadi lalu membuang-nya ke arah belakang kami.

“baiklah tapi tidak sekarang. Aku akan memberikan-nya saat kau sudah bisa menggambar sesuatu yang bagus. Sebagai hadiah.”

“bagaimana kalau aku tidak bisa?”

“tentu saja aku tidak akan memberikan gambaran itu juga, bodoh!”

“tapi bagaimana kalau aku menginginkan sekali gambaran yang khusus kau buat untukku?” namja itu bertanya lagi.

“untuk apa. aku kan bukan seorang seniman yang terkenal. Tidak banyak yang mengetahui kebisaan-ku ini.”

“untuk selalu aku bawa kemana-mana. Agar aku selalu ingat denganmu.” Namja itu tersenyum. Jarang sekali dia tersenyum saat disekolah.

“ooh.” Hanya itu yang bisa aku balas dari perkataan gombalnya.

“cepat berikan aku gambaran yang paling bagus Park Hyona!” namja ini memaksaku. Menyebalkan.

“aku tetap tidak mau kecuali kau bisa menggambar, araseo!”

“baiklah. Tapi awas saja kalau kau tidak tepat janji memberikan gambaran itu padaku.”

Ada sesuatu yang membuat aku tidak bisa janji padamu Choi Minho. Mianhae~

-TBC-

Bagaimana? Apakah tindakanku benar meletakkan kata ‘tbc’ di sini? Sepertinya YA. Karena otakku sudah mampet banget >.<

Mian~ ya reader kalau ceritanya semakin membosankan. Tapi hanya ini yang bisa saya buat dan saya mohon untuk berikan KOMENTAR, SARAN, KRITIK untuk memperbaiki part selanjutnya. Cuma reader yang menentukan apakah part selanjutnya pantas untuk di posting! 😀

Oh iya, do’a-kan saya agar lulus UN dan bisa masuk SMA favorit ya!

Gomawo untuk Zen yg baik hati dan para reader yang TIDAK PELIT komentar. Untuk silent reader : BERTOBATLAH untuk jadi GOOD READER 😀 😀

Advertisements

14 responses to “With you Part III

  1. gomawo yaa ^^
    Hayoo tebak2 aja siapa tuh yang beli.
    Terus kenapa tuh hyona-nya. Kkkkek~
    Makasih doanya ya 😀

  2. seee~~~~ruu~~~~~~ ada apa dgn hyona? O.o dia mau pergi kah??? hwaaahh penasaran sekaliii, minhonya so sweet XD aku tunggu part selanjutnya~~!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s