[drabble] Doesn’t her (Junghyeo POV)

[drabble] Doesn’t her (Junghyeo POV)

Author; Minhye_harmonic

Cast(s); Choi Siwon, In Junghyeo

Rating; PG-13

Genre; romance,hurt/comfort,angsty

Length; drabble

Theme song; Miss You―SM the Ballad

photo credit; cutepixie@bananajuice03.wordpress.com

DON’T BE A SILENT READER, PLEASE!

LEAVE YOUR COMMENT!

DON’T LIKE DON’T READ!

RnR


***

KULIHAT ia hanya melamun di balkon. Menatap lurus dan nanar. Aku mulai menebak-nebak apa yang ia pikirkan sekarang. Dan semoga bukan dia…

Perlahan kusentuh bahunya. Ia tidak terkejut sama sekali. Malah meraih telapak tanganku, menggenggam erat.

“Jungyoo…” Desahnya pelan.

DEG

Aku terpaku. Dia masih saja menganggap aku adalah Jungyoo. Padahal berulang kali aku mengatakan bahwa aku bukan Jungyoo. Aku Junghyeo. Jungyoo itu saudari kembarku.

“Kau mencintaiku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa sempat kuhentikan.

Dia menolehkan kepalanya. Menatapku. “Tentu saja…”

Aku merasa jawaban itu bukan untukku. Tapi untuk Jungyoo. Sampai kapan akan seperti ini? Mencintaiku hanya karena aku mirip dengan Jungyoo? Cintailah aku sebagai Junghyeo! Bukan Jungyoo!

Rasanya aku selalu menangis pilu mendengar ia mengigau Jungyoo setiap malam. Dan selalu memanggilku dengan ‘Jungyoo’ bukan ‘Junghyeo’. Aku capek, aku muak. Aku akan memberitahu semuanya…

***

“Kita mau kemana?” Tanya-nya begitu aku menepikan mobil di depan gerbang sebuah areal pemakaman Incheon.

Kuraih sebuket Lily putih di jok belakang. Tanpa mengucapkan sepatah kata, aku membuka pintu mobil dan turun. Berjalan memasuki areal pemakaman yang sepi,dingin dan suram. Ia mengikutiku di belakang. Kami sama-sama diam. Menghayati sepatu kami yang berdekak-dekak di sepanjang jalan beton menuju areal pemakaman bagian dalam.

Tepat di depan sebuah nisan. Aku berhenti. Sebuket mawar kuning masih segar bersandar pada dinginnya nisan. Kudekap buket Lily putih itu erat, sebelum menyandingkannya dengan mawar kuning tersebut.

“Aku datang…dan dia juga.” Bisikku perlahan. “Kau ingin bertemu Jungyoo kan?” Kulayangkan pertanyaan pada dia yang berdiri di belakangku.

“Jungyoo? Apa maksudmu? Kau ini kan Jungyoo.” Rasanya itu pertanyaan. Bukan pernyataan―masuk ke gendang telingaku.

“Kau rindu dia kan? kau―sapalah dia.” Kudorong ia agar lebih dekat dengan nisan―dan membaca nama siapa yang terukir di sana.

IN JUNGYOO

“Jungyoo?” Suaranya bergetar. “Jungyoo!”

Aku tidak tahan untuk tidak menangis. Sungguh, aku benci mengungkap ini semua. Tapi aku tak punya pilihan.

Ia jatuh terduduk. Tergugu dengan jemari mencengkram rumput-rumput tak berdosa di sekitar nisan Jungyoo.

Tanganku bergerak. Ingin menyentuh bahunya. Menepuknya; mencoba menenangkan.

“Biarkan aku sendiri.”

Tanganku terhenti di udara. Menggantung di suasana yang sesak tiba-tiba.

“Aku akan menunggumu, di mobil.”

Dalam derap langkah menuju mobil, air mataku kembali keluar. Menangis lagi.

Untuknya…

Untuk suamiku, Choi Siwon.

***

Bagus…sekarang dia hidup bersamaku dengan pandangan berbeda. Dulu pandangan sebagai Jungyoo, sekarang menjadi iba. Hebat sekali diriku ini!

Bertahan. Itu saja yang kulakukan. Bertahan di sisinya, mencintainya meski dihatinya tidak ada sedikitpun celah bagiku untuk masuk, menabur benih cinta itu.

Ulang tahun Siwon sebentar lagi. Dan aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Akhir-akhir ini ia sering pulang terlambat. Aku tahu apa yang ia lakukan. Pasti berkunjung ke ‘tempat’ Jungyoo.

“Kau darimana?” Tanya-ku begitu ia melewati ruang makan. Dimana aku duduk, menunggu-nya. Hingga lewat tengah malam dengan hidangan sudah dingin.

“Aku lelah. Aku mau istirahat.”

“Kau lelah? Lelah karena menangis seharian di depan nisan Jungyoo-eonni?!” Seru-ku cemburu. “Jangan pikir aku tak tahu!”

“CUKUP!” Bentakannya membuatku berjengit takut. “AKU LELAH! BERHENTILAH UNTUK MENANYAKAN INI DAN ITU!” Dia membanting pintu kamar. Meninggalkanku yang sudah jatuh lemas terduduk di lantai.

TOK…TOK…

Ketukan berirama ¾ terus kulakukan. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Perlahan kusentuh knop pintu, membukanya.

Dia berbaring di sana. Di ranjang. Penampilannya masih lengkap, masih sama seperti sebelum berangkat kerja tadi pagi.

Kudekap mulutku yang terbuka tak percaya saat jemariku tak sengaja menyentuh dahinya. Panas. Begitu juga dengan leher serta tangan. Dia demam.

Dengan panic tanpa berniat membuatnya terbangun, aku mengambil baskom penuh es batu dan selembar handuk. Mengompres dan menunggui sampai suhu badannya normal―setidaknya turun beberapa derajat. Kuseka keringat yang muncul di dagu serta dahiya. Tanpa membuatnya sadar. Ekspresi menahan sakit di wajahnya benar-benar membuat hatiku tambah pilu. Dan rasa bersalah makin menghantui.

Aku.

Aku…

Aku seharusnya tidak mengambil keputusan konyol ini! Konyol! Semua konyol!

Termasuk dirimu! Jatuh sakit dihari special-mu!

Tes…

Menitik lagi. Jatuh tepat di pipinya. Aku cengeng sekarang. Apa masih pantas bertahan dalam hubungan seperti ini?

CUP…

Kukecup kening. Dan berbisik pelan.

“Saengil chukkae, nae nampyeon.”

Dan…aku mencintaimu…

*FIN*

Ini adalah versi drabblenya…

XD… klo respon bagus… saya bakal usahain yang full versionnya kelar dan siap di baca…

maka dari itu, bagi yang ingin membaca full versionnya.. komen dan like yah!

Advertisements

26 responses to “[drabble] Doesn’t her (Junghyeo POV)

  1. Sedih banget ya kalo orang yang mencintai kita itu melihat kita sebagai orang lain :'(. Drabblenya bagus, chingu. Akan lebih bagus lagi kalo ada full versionnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s