Behind His Glasses – Part 1

Title            : Behind his glasses.

Author        : flameunrii

Disclaimer   : ide ceritanya beberapa sumbangan dari teman aku era yurisa. Selebihnya banyak yang aku ubah sesuai kemauan aku HUAHAHA (?)

Ini sebenarnya adalah narasi yang akan didramakan untuk tugas mulok kami. Daripada diam mengambang tidak ada yang baca lebih baik aku post disini =D

Main Cast    :

  • Samantha as Amber liu
  • Robert as Lee Jinki
  • Elliot darell as Choi Minho
  • Khaterine Fanny as Suzy

Minor cast   :

  • Danielle as Luna                        (korban 1)
  • Dagna as Krystal                       (korban 2)
  • Vian as Kang eun ri (?)              (korban 3)
  • dan beberapa aku tambahkan dipart selanjutnya o.o

Genre                   : Mistery, Angst, thriller, horor, teen romance.

Ketika malam hari, piano diruang musik berdenting sendiri.

Model tengkorak di labor biologi akan tertawa.

Jumlah anak tangga juga berubah-ubah setiap kali dihitung.


Mungkin kalian sudah sering mendengar rumor-rumor seperti itu disekolah kalian. Ya…setiap sekolah ‘biasanya’ punya cerita-cerita horor seperti itu. Begitu juga sekolahku. Sedikit berbeda, karna kali ini bukan hanya cerita horor yang tidak pasti kebenarannya tapi, benar-benar peristiwa yang membuat satu sekolah gempar. Teman sekelasku, danielle. Ditemukan tewas dengan posisi tengah tertidur diatas piano ruang seni, kemarin pagi oleh pak thomas, penjaga sekolah yang akan membersihkan ruang seni.

Dua hari sebelumnya, danielle dinyatakan hilang oleh keluarganya. Dia tidak pulang kerumah, dan tidak ada yang tahu keberadaannya. Termasuk teman-teman dekatnya sendiri.

Pihak polisi berpendapat, danielle diculik ketika pulang sekolah. Lalu disekap dan besoknya barulah ia dibunuh dengan cara kepalanya dipukul balok kayu. Pembunuhan itu terjadi pada pagi hari. Makanya jasad danie terlihat baru saat itu.

Mengenai siapa pembunuhnya, polisi masih belum bisa menemukan. Bukti yang tersisa begitu sedikit. Tidak ada satu sidik jari pelakupun yang menempel pada pakaian dan tubuh danielle. Pembunuhan itu sepertinya sudah direncanakan.

Oh, ya. Aku samantha williams, 15 tahun. Seorang siswi tingkat 1 disebuah sekolah menengah atas dikotaku. Aku duduk dikelas 1-4. Tepat dua bangku dibelakangku, adalah bangku yang biasa diduduki danielle. Aku bukan orang yang sangat dekat dengannya. Tapi, kami memang pernah beberapa kali terlibat percakapan singkat. Danie, begitu teman-temannya biasa memanggil. Adalah seorang siswi yang tidak bisa dibilang biasa-biasa saja. Dia cukup pintar dibidang pelajaran dan berprestasi dibidang seni. Terbukti dia pernah memenangkan perlombaan cheers bersama teman-teman satu timnya. Yah, danie memang salah satu anggota cheers sekolah yang cukup terkenal. Wajar kalau banyak yang syok dengan berita kematiannya yang tak wajar.

Mungkin Khaterine adalah salah satu yang paling syok.

Karna Katherine adalah teman terdekat danielle. Sekaligus kapten cheers sekolahan kami. Aku tidak bisa menyimpulkan orang seperti apa dia. Habis kami bukan teman dekat. Berbicara saja belum pernah. Bahkan mungkin dia tidak pernah mengenalku.

Khaterine tidak sekelas denganku. Dia duduk dikelas 1-1 yang terpisah cukup jauh dari ruangan kelas ku. Tidak banyak yang ku ketahui tentang khaterine.

Dan juga yang kulihat amat syok adalah Elliot. Tidak ada yang tidak tau kalau elliot ‘pernah’ menjalin hubungan dengan danie. Dan banyak yang bilang kalau elliot memutuskan danie karna mengincar khaterine.

Elliot. Aku juga tidak begitu mengenalnya. Yang kutau hanya, dia kapten basket sekolah, pernah mencalonkan diri sebagai presiden sekolah tapi tidak terpilih, cowok idola yang selalu menjadi pusat perhatian para wanita dan playboy kelas atas yang sudah biasa mematahkan hati para wanita.

Mereka yang kusebut diatas adalah 3 nama paling terkenal di sekolah ini. Tidak ada yang tidak tau siapa mereka. Bahkan senior sekalipun. Sedangkan aku? Oh, tak perlu kuceritakan. Aku hanya seorang siswi biasa yang datang untuk belajar dan pulang begitu mendengar bel. Tidak ada yang istimewa denganku. Sama sekali tidak. Meski tidak terlalu pandai bergaul, aku tetap mempunyai beberapa teman akrab. Hanya beberapa sih. Tapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Oke, aku jadi menjilat ludah sendiri dengan malah menceritakan seperti apa aku.

“Anak-anak, buka buku kalian halaman 113.” Suara pak philip, guru matematika menyadarkanku.

Semua mengikuti perintahnya dengan mulai membolak-balik buku. Ah, apa yang kulakukan sejak tadi. Aku bahkan belum mengeluarkan buku matematikaku. Benar-benar tidak niat untuk belajar.

Aku mengaduk-ngaduk isi tasku mencari buku cetak. Tidak ada. Bodoh, masak iya aku menginggalkannya. Putus asa. Setelah hampir 5 menit mencari suara pak philip kembali menyadarkanku.

“Hello, nona williams. Kau masih tidak membuka bukumu?”

“Maaf, sepertinya saya meninggalkannya dirumah.” Aku meminta maaf dengan sedikit menunduk. Pak philips menghembus nafas panjang. Lalu berkata,

“Ya sudah. Tuan wesley, kau tidak akan keberatan jika kuminta satu berdua dengan williams?” Tanya pak philips lebih seperti perintah.

Wesley yang duduk disebelahku mengangguk lalu menggeser bukunya ketepi meja. Aku menghela nafas panjang sebelum menggeser kursiku ke mejanya. Robert wesley, anak berkacamata disebelahku ini tetap diam selama pelajaran matematika berlangsung.

Sejak awal aku agak aneh dengannya. Robert wesley berbeda dengan anak laki-laki pada umumnya. Dia…sangat pendiam dan suka membaca. Bisa dilihat dari kacamatanya yang aku yakin minus nya lebih dari 4. Dia juga jarang sekali kutemukan dikantin ketika jam istirahat. Beberapa bilang dia lebih senang menghabiskan jam istirahat dengan menyendiri dipustaka sekolah atau ditempat-tempat sepi lainya. Intinya, dia suka sekali menyendiri. Tidak banyak bergaul (kecuali pada buku dan perpustakaan sekolah -_-)

“Hey, robert…Aku tidak mengerti apa yang dia jelaskan.” Aku mencoba berbasa-basi dengannya. Robert melirik ku sebentar, lalu kembali terpaku pada pak philips didepan kelas. Sialan, dia mengacuhkan ku.

Semenjak itu, kuputuskan tidak menyapanya lagi. Ternyata selain pendiam dia juga bukan orang yang bisa beramah tamah. Menyesal aku bicara padanya.

Keesokannya harinya, ketika aku berjalan melewati koridor sekolah, aku melihat seorang laki-laki yang sedang bersembunyi dibalik tembok. Tidak begitu jelas, jadi aku berjalan lebih mendekatinya.

Ternyata itu robert. Anak aneh dikelasku. Dia mengintip kearah lapangan basket. Aku mengikuti arah pandangannya hingga kutemukan sepasang remaja disana. Elliot dan katherine. Apa yang mereka lakukan?

Kulihat elliot sedang berdiri dihadapan katherine yang sedang duduk dibangku taman yang membelakangi kami. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, wajah elliot saat ini menunjukkan kalau dia sedang menyatakan perasaannya pada khaterine.

Bugh! Aku dikagetkan oleh sebuah suara. Robert menghantamkan kepalan tangannya ketembok. Seperti menahan kesal. Dia lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Ada apa dengannya?

Perkiraanku itu ternyata benar. Ini sudah hari kedua semenjak aku menyaksikan elliot-khaterine-robert kemaren dan satu sekolah sekarang sudah tahu mengenai kabar “Elliot berpacaran dengan khaterine.”

Berbeda dari teman-temanku, aku tidak begitu kaget mendengar kabar itu. Karna tanpa sengaja aku menyaksikan mereka langsung. Tapi ada satu yang mengganjal. Robert…

Sebulan kemudian, sekolah kami kembali dilanda kabar buruk. Salah seorang siswi kelas 1-1 meninggal dengan tidak wajar. Masih disekolah! Dan mayatnya juga ditemukan pagi hari. Kali ini digudang peralatan olahraga. Kalau aku tak salah. Namanya Dagna. Polisi mengatakan dilihat dari kondisi jenazahnya, sepertinya dagna dipukul dari belakang dengan stik kasti. Dan lagi-lagi, tidak satupun sidik jari mencurigakan yang ditemukan disana. Stik kasti itu? Jangan ditanya! Puluhan anak sudah pernah memakainya. Tak heran jika ada puluhan sidik jari disana.

Aku menatap kosong pada jenazah dagna yang sudah dibungkus oleh sarung mayat berwarna kuning. Sirine mobil ambulance dan polisi bercampur menambah kebisingan. Belum lagi cuap-cuap para murid yang ikut menyaksikan ini.

Aku terus memperhatikan mayat itu sampai mayatnya dimasukan kedalam ambulance. Aku menoleh kekiri dan menemukan teman-teman akrab dagna yang tengah menangis. Ah, aku mengerti perasaan mereka.

Sekarang aku memperhatikan ekspresi para murid satu-persatu. Ada yang menangis, terpaku dengan tatapan kosong, berkeringat dingin, ngeri, tapi…

Eh, ada robert disana! Robert ikut menyaksikan dengan tangan dilipat didada. Dia memasang tampang datar kearah mayat diambulance. Dia menarik nafas panjang lalu menunduk dan bias kulihat kalau dia…berseringai kecil! Kemudian dia menaikkan kepalanya dan menoleh kearahku. Astaga! sepertinya dia mulai merasa diperhatikan!

Dengan sigap aku membuang muka, sebelum robert sadar aku memperhatikannya dari tadi. Kulirik robert dari sudut mataku. Dia masih menyipitkan matanya memperhatikan aku. Entah kenapa aku jadi sedikit takut mengingat seringainya tadi. Robert berbalik lalu berjalan meninggalkan gudang olahraga. Dia berjalan lurus menyusuri koridor.

Aku menelan ludah. Sedikit syok dengan yang tadi. Tidak tau kenapa, tapi aku punya firasat buruk tentang robert. Astaga samantha! Apa yang kau pikirkan! Tidak seharusnya kau menuduh yang macam-macam pada seseorang’ Hati nurani kuberkata. Ku coba untuk percaya, meski rasanya masih janggal. Aku memutuskan berjalan kekelas meninggalkan tempat ini.

Sesampainya dikelas, aku bergabung dengan teman-teman akrab ku yang sudah menyudut untuk mengobrol.

“Kau tau? Beberapa hari yang lalu aku melihat dagna bersama elliot!” Salah satu temanku berkata.

“Elliot? Elliot yang terkenal itu? Pacarnya khaterine?” kali ini yang seorang lagi. Mendengar nama elliot-khaterine aku semakin mendekatkan diri mendengarkan pembicaraan mereka lebih jelas.

“Hari itu aku berjalan kekelas dari pustaka. Aku melintasi gudang olahraga. Samar-samar aku mendengar sebuah percakapan. Radar penasaranku naik, jadi aku menempel dipintu untuk menguping. Disana, dagna menyatakan cinta pada elliot. Tapi elliot menolak dengan alasan dia sudah punya pacar. Dagna tidak peduli, dia terus memaksa…”

“Lalu? Lalu?”

“Aku tidak tau.” Temanku itu menjawab pasrah sambil mengendikkan bahunya. Yang lain memasang tampang murka,

“Kenapa bisa tidak tau! Katanya kau menguping! Bagaimana sih!” Yang lain mulai memaksa.

“Aku mendengar suara bel. Jadi aku buru-buru kekelas tanpa mendengarkan percakapan mereka sampai akhir.” Ujar temanku itu sekenanya. Yang lain menghelas nafas berat.

Jadi dagna pernah menembak elliot? Tapi elliot menolak? Dan dagna memaksa? Dan lagi itu terjadi digudang olahraga? Astaga, aku mulai mencium sesuatu dari kasus ini.

“Kurasa pembunuh dagna dan danielle sama!” Celetuk salah seorang temanku. Mendengar itu, Aku kembali bergabung pada mereka.

“Habis, cara membunuhnya sama. Bedanya, danie disekap lebih dulu.” Aku mengernyitkan dahi berusaha berpikir. Temanku benar, pelaku danielle masih belum ditemukan sampai saat ini. Dan lagi cara pembunuhannya sama. Ada kemungkinan pembunuhnya juga sama.

Aku kembali duduk dimejaku. Kasus ini, sepertinya…

tap-tap aku mendengar langkah kaki menuju arahku. Kudongakkan kepalaku mencari tau siapa. Robert! Dia berjalan melewatiku lalu duduk dibangkunya, disebelahku.

Kulirik robert dari sudut mataku. Dia terlihat sedang membuka sebuah note dan mencoret-coret sesuatu disana. Aku tidak bisa lihat apa yang ditulisnya, karna ia menutupinya dengan tangan.

Hari ini berakhir begitu saja. Kami tidak belajar sama sekali dan kami juga dipulangkan lebih awal. Pihak sekolah bilang, ingin memberi kesempatan pada pihak polisi untuk menyelediki dua kasus ini. Tentu saja berharap tidak akan ada kasus ketiga.

Dijalan, aku masih memikirkan kasus² itu. Kasus pertama, Danie disekap lalu dibawa keruang musik dan dipukul balok kayu. Kedua, Dagna ditemukan tewas bersimbah darah dengan kepala dipukul stik kasti digudang olahraga. Danie adalah seorang anak yang cukup populer disekolah. Dia anak yang cukup pintar dan salah seorang anggota cheers. Dan Dagna walaupun dia tidak terlalu terkenal, tapi dia juga anak yang cukup pintar dan banyak disenangi orang. Selain itu, apalagi kesamaan mereka?

Menurutku, jika mereka memang dibunuh oleh pelaku yang sama. Tentunya mereka berdua punya kesamaan yang membuat mereka jadi korbannya. Lalu apa lagi kesamaan mereka!! Ah tunggu, apa jangan-jangan mereka teman yang cukup akrab? Ah, tidak. Rasanya aku tidak pernah melihat dagna menempel pada danie. Aduuuh! Aku jadi pusing sendiri memikirkannya.

“Kruyuuuk…” Suara menyebalkan datang dari perutku. Astaga, aku lupa kalau aku belum makan sama sekali sejak tadi malam. Kuputuskan berjalan kekantin belakang sekolah sebentar. Kami baru bubar 15 menit yang lalu, jadi kurasa kantin itu masih buka. Ah, sandwich…aku datang!

Aku berjalan menuju kantin itu setelah membeli sandwich dan minuman kaleng aku berjalan kembali. Kulihat masih banyak pihak penyidik yang berkeliaran disekolahku. Astaga, tanpa sengaja aku malah jalan dikoridor sini. Jadinya aku melintasi gudang olahraga lagikan!

Ah, tidak perlu takut! Kalau ada sesuatu aku akan teriak saja.’ pikirku. Aku meneruskan jalanku melintasi koridor ini. Kuintip sedikit kedalam gudang olahraga yang gelap.

Trek! Trek! Aku merinding mendengar sebuah suara. Aku terdiam ditempat dan suara itu makin terdengar. Trek! Trek!

Sepertinya ada seseorang didalam. Siapa? Tim penyidikkah?

Dengan mengumpulkan segenap keberanianku. Aku mendekati gudang olahraga, memastikan sesuatu yang ada didalamnya.

Aku menelan ludah sebentar dan dengan jantung berdebar-debar mulai mengintip kedalam. Cepat kupejamkan mataku.

‘Semoga bukan hantu! semoga bukan hantu!’ gumamku berkali-kali. Aku tidak berani membuka mataku. Padahal badanku sudah sepertiganya masuk kegudang. Kuhitung hingga hitungan ketiga, dan perlahan baru aku membuka mataku. Aku melirik kebawah dulu. Dan yang pertama kali terlihat adalah sepasang sepatu hitam. Aku menaikkan pandanganku sedikit, dan yang kulihat kali ini ialah… celana panjang abu-abu.

Sepatu dan celana = kaki. Bagus, terima kasih tuhan! Ternyata dia bukan hantu! Aku bersorak dalam hati. Melihat kakinya menginjak tanah. Kalau sempat aku lihat dia tak punya kaki. Mungkin aku sudah pingsan ditempat dengan mulut berbusa².

Tunggu dulu! Tim penyidik memang pake celana abu-abu? Abu-abu celana apa ya?

Dengan bodohnya aku menghabiskan waktu dengan memikirkan celana abu-abu. Hampir semenit kemudian baru aku bergumam…

“Aha! itukan seragam SMA!” oke, aku telat mikir memang. Aku masuk kedalam dan ‘klik’ Ku tekan stok kontak hingga lampu gudang ini menyala. Dan kini aku dapat melihat sosok ini secara langsung.

“Robert?” Sahutku kaget. Anak aneh itu! Apa yang dia lakukan disini. Sendirian lagi?

.: TBC :.

Bagaimana? Bagaimana? Tertarik untuk bacanya? Kwkwkw

Terlalu pendekkah ini?

Kalo iya anggap aja ini teasernya *plak

Oh, maaf kalo ada yang bingung sama namanya yang enggak korea sama sekali.

Belum diganti, tapi bayangin aja castnya itu mereka XD

Advertisements

25 responses to “Behind His Glasses – Part 1

  1. Robert a.ka. Jinki…, oppaku…
    pembunuh psycho…???? andweee….
    gak tega…., oppa yang lembut dan penyayang…
    apalagi sama aku… jd psycho….
    Tapi penasaran….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s