The Lakeside view – Never Is a Happy Ending Chapter 4 (Last Chapter)

Link untuk chapter-chapter sebelumnya
Intro Chapter 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Sidestory Part 1 Part 2

title: The Lakeside View – Never Is a Happy Ending Chapter 4

Author: Yuminsshi

Genre: drama, romance, comedy

Cast:

Choi Minho

Choi Yoo Min (oc)

Choi (Lee) Tae Min

Kwon Jiyoung

Kwon Yoon Cha

Kwon (Yang) Yo Seob

Lee Donghae

Lee Viona

Rating: PG-15

Disclaimer: I own the plot, and the name of the oc character.

ENJOY =)

Di dalam ruangan serba putih, sepasang suami-istri duduk di hadapan seorang laki-laki tua. Poster-poster anatomi yang terpampang di dinding menunjukkan bahwa ini adalah ruang dokter di sebuah rumah sakit. Kedua pasangan itu terlihat gugup ketika Sang dokter mulai membaca hasil pemeriksaan pada beberapa lembar kertas dalam satu map di tangannya. Sang istri mulai merepas tangan sang suami karena perasaannya yang semakin gugup ketika sang dokter membalik lembar halamannya. Dan ketika sang dokter membuka mulutnya untuk berbicara, kedua pasangan itu hanya bisa mendengarkan dengan teliga terbuka, walau hati mereka bagaikan ditoreh dengan sebilah pisau ketika mendengar kabar yang diberikan oleh sang dokter.

—-

Di sisi lain kota Seoul, seorang wanita mengendarai Audi A5 silver melewati jalan-jalan besar, menuju tepi kota. Dia bawa mobilnya memasuki sebuah kawasan perumahan bertuliskan The Lakeside di depang gerbangnya. Diparkirnya mobil itu di depan sebuah rumah. Terdengar suara detuman ketika pintu mobil ditutup. Heelsnya menimbulkan bunyi seirama ketika dia berjalan dari pekarangan rumahnya menuju bangunan utama. Tangannya memutar kunci pintu rumah sampai terdengar bunyi klik, dan knop pintu bisa diputar. Diletakkannya tas tangan kecil berwarna hitam dengan lambang Channel tergantung di sisinya sembarangan di meja. Matanya kemudia tertuju pada sesosok bayangan di ruang keluarga. Dia hampiri sosok itu karena yang dia tahu, seharusnya saat ini keadaan rumah masih kosong. Sosok itu membalik menghadapnya ketika wanita itu menginjakkan kakinya di ruang keluarga. Senyuman lebar terpampang di wajahnya ketika melihat wajah laki-laki. Seorang laki-laki yang belum lama pergi meninggalkannya kini sudah kembali ada di hadapannya.

Secangkir teh. Sepiring kue kering. Segelintir cerita yang mengganjal di pikiran. Just another day at Yoo Min’s house. Cahaya terang dari arah jendela menunjukkan waktu masih siang hari. Tapi entah mengapa suasana di ruang makan ini tidak secerah cuaca di luar rumah. Padahal sudah 1 jam kami duduk di meja ini, tapi kedua sahabatku masih tidak mau membuka mulut mereka. Yang satu hanya diam memainkan cairan teh di dalam cangkirnya, dan yang satu lagi hanya diam tidak berngeming. Wajah mereka yang sangat datar membuatku semakin tidak mengerti dengan keadaan mereka.

“Kalian tahu, lama-lama aku bisa gila jika kalian terus diam seperti ini. Apakah sedang ada penyakit menular yang membuat kalian kehilangan suara? Atau kalian hanya ingin membuatku memfosil di kursi ini karena terus menunggu salah satu dari kalian berbicara?” Akhirnya aku memilih untuk memulai pembicaraan.

“Sorry Min, bukan maksudku mendiamkanmu. Hanya saja ada sesuatu yang sedang kupikirkan” Yoon Cha akhirnya mengeluarkan suara yang sudah beberapa menit ini tidak terdengar. Secangkir teh di depannya masih menjadi kesibukan bagi tangannya.

“Bukankah tujuan kita berkumpul setiap minggu untuk bercerita? Ayo, tuangkan masalahmu pada kami, Cha” Ucapku pada Yoon Cha.

“I’m moving to Japan” bisik Cha yang membuatku harus membuka kupingku lebar-lebar untuk mendengar suaranya. Sedangkan Viona masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Apa?Kenapa?Kapan?BAGAIMANA?” aku menghujani Yoon Cha dengan berbagai pertanyaan.

“Jiyong mengajakku tinggal dengannya di Jepang karena sepertinya dia akan menetap di sana lebih lama” Jelas Yoon Cha singkat.

“Wait, memang dimana Jiyong sekarang?” tanyaku lagi.

“Mungkin sedang bersantai-santai di sofa, dengan kaus dan boxernya” Bayangan  Jiyong dengan kaus oblong dan boxer membuatku sedikit bergidik.

“Jadi? Kapan kau akan pindah?” di sampingku, Viona masih diam di posisinya.

“Entahlah. Aku tidak tahu. Aku masih ragu-ragu. Jujur saja, aku takut. Sudah bertahun-tahun aku tidak pernah tinggal dengan suamiku. Aku takut jika aku tinggal dengannya, justru hanya akan membuatku berhenti menyukainya. Mungkin saja ternyata kita tidak cocok.” Kali ini wajah Yoon Cha terlihat khawatir.

“Kemana Yoon Cha yang selalu berani ambil resiko? kau harusnya bersyukur Jiyong mau mengajakmu tinggal bersamanya. Itu artinya dia serius mengenai pernikahan kalian yang awalnya hanya berupa perjodohan. Bukankah selama ini yang kau inginkan hanyalah kehidupan normal dengan suami yang selalu ada di sisimu?”  Ucapku menceramahi Yoon Cha. Untuk beberapa saat Yoon Cha diam, seperti hanyut dalam pikirannya sendiri.

Setelah beberapa detik dalam kebisuan, Yoon Cha mengeluarkan suaranya, “Tapi kalau aku pindah ke Jepang, kita tidak bisa berkumpul seperti sekarang lagi”

“Aku janji akan sering erkunjung ke Jepang. Tapi kamu juga harus janji akan datang ke Seoul kapan-kapan” Ucapku sambil menggenggam tangan Yoon Cha yang membuatnya tersenyum senang.

“Oh ya, Viona, bagaimana hasil kunjunganmu ke dokter kemarin?” Tanya Yoon Cha pada Viona yang dari tadi tidak bergeming.

Dan setelah ditanya pun, Viona masih tidak menjawab. Sampai akhirnya pundak Viona mulai bergetar dan suara isakkan terdengar memenuhi kesunyian ruang makan rumahku. Viona hanyut dalam sungai air matanya sendiri. Suara tangisnya mengiris hatiku karena tanpa disebutkanpun aku sudah tahu bagaimana hasil pemeriksaan kemarin. Wajah Viona terbenam di dalam pelukan Yoon Cha dan aku. Kubiarkan bajuku basah dengan air mata Viona yang tidak berhenti mengalir. Kali ini, tidak ada kata-kata menenangkan yang bisa kukeluarkan untuk menghibur Viona. Kubiarkan tangisannya menjadi obat penenang bagi Vi.

flashback

Setelah kemarin segumpal darah keluar dari tubuhku, aku dan suamiku mendatangi dokter kandungan. Padahal kukira aku akan mengandung seorang bayi kecil. Tapi setelah diperiksa oleh deokter, ternyata bayi itu tidak akan pernah datang. Aku keguguran. Dan penyebabnya adalah antibodi diriku sendiri. Darahku menolak janin dalam rahimku. Ini semua karena Rh aku dan Donghae tidak cocok. Rh ku – karena darah kaukasian dari ibuku, sedangkan Rh Donghae + karena darah asianya. Dokter bilang masih ada kemungkinan untukku mengandung seorang anak sehat, tapi kemungkinannya sanga kecil. Kenapa, justru disaat aku merindukan kehadiran seorang anak, Tuhan malah menghalanginya. Apakah ini balasan karena bertahun-tahun aku mencegah untuk mempunyai anak? Donghae memeluk tubuhku yang sudah lemas setelah mendengar penjelasan dari dokter itu. Kubenamkan wajahku yang sudah basah oleh air mata di dada Donghae. Bisikan Donghae di telingaku hanya membuat tangisku semakin membahasa. ‘It’s gonna be alright’ katanya. Just when my heart starts to have some hope, faith crashed it into small pieces. And my eyes can’t stop bleeding from the wounds in my heart.


Tidak ada hidup yang sempurna di dunia ini. Life sucks. That’s all I can say about life. Seperti seorang teman yang kesepian, atau seorang wanita yang tidak ingin tumbuh dewasa. Memang hidup itu identik dengan kata sulit. Tapi hidup juga identik dengan kata anugrah. Semuanya tergantung dari bagaimana cara kita memandangnya.

Seperti seseorang yang mencoba memulai hidup baru. Mungkin akan banyak tantangan yang dia lalui nantinya. Banyak kebiasaan yang harus dia tinggalkan, demi bisa beradaptasi dengan keadaan lingkungan barunya. Tapi aku yakin, Yoon Cha pasti bisa. Apalagi dengan Jiyong di sisinya. Mungkin mereka tidak tau, tapi menurutku, they are made for each other.

Atau seperti seseorang yang tidak berhenti berharap. Walau usianya sudah melebihi 30, Viona tetap teguh pada pendiriannya. Dia ingin mempunyai seorang anak. Dan walau dokter mengatakan kemungkinannya kecil, dia tetap tidak akan menyerah, karena dia tahu, Donghae juga tidak akan menyerah. Donghae yang selalu ada di sisinya juga ikut memberi kekuatan pada pasangannya. Dan menurutku, ini justru membuat mereka semakin dekat.

Dan aku. Tidak, aku tidak menganggap hidupku sempurna. Terkadang aku berharap bisa memiliki harta sebanyak Yoon Cha. Atau memiliki wajah secantik Viona dengan suami setampan dan sebaik Donghae. Tapi aku akan terus berusaha mensyukuri hidup yang kumiliki. Mungkin aku tidak sekaya Yoon Cha. Tapi setidaknya penghasilan Minho dan aku sudah cukup bisa menghidupi keluarga kecil ini. Walau Minho tidak setampan atau sebaik Donghae, dia tetap laki-laki yang kupilih. Jika bukan dnegannya, mungkin aku tidak akan menjadi aku yang seperti ini. Dan juga aku bersyukur karena dia memberikanku seorang malaikat kecil berwujud anak laki-laki bernama Taemin. Yes, life never is perfect But the way we see it is what makes it so beautiful.

***

EPILOG

Yoon Cha sudah siap dengan passport di tangannya. Semua barang-barangnya sudah dibereskan untuk kepindahannya ke Jepang. Di sampingnya, Jiyoung menggenggam erat tangan Yoon Cha. Tidak akan melepasnya untuk yang kesekian kalinya. Karena Jiyong tidak ingin membuat Yoon Cha menyesali pilihannya. Yoseob masih sibuk dengan katong-kantong kecil yang ada di tangannya. Kenang-kenangan dari teman sekolah yang ikut mengantar kepergiannya.

Di dekat mereka, Donghae dan Viona berdiri bersebelahan. Tangan kanan Donghae merangkut pundak Viona. Bersiap-siap mengucapkan salam perpisahan pada sahabat mereka.

Taemin masih berbincang-bincang dengan sahabatnya sejak kecil, Yoseob, sambil membantunya memasukkan kanong-kantong kecil itu ke dalam sebuah tas hand carry. Sedangkan Minho dan Yoo Min masih menunggu Jiyong dan Yoon Cha yang masih mengurus check-in pesawat mereka.

“So, Iguess this is it” ucap Yoon Cha sambil menghampiri Viona dan Yoo Min.

“Promise me we will always contact each other no matter what” Viona merangkul Yoon Cha erat, agak tidak rela melepas kepergian sahabatnya itu.

“Jangan lupa berkunjung ke Seoul sesering mungkin” Yoo Min ikut masuk dalam rangkulan Yoon Cha Dan Viona.

“Dan kalian juga harus janji, akan berkunjung ke Jepang setiap kalian punya kesempatan” Ucap Yoon Cha kemudian kembali merangkul kedua sahabatnya.

Di sisi lain, Taemin dan Yoseob berbincang untuk terakhir kalinya. Mereka saling merangkul untuk beberapa saat sampai ponsel Yoseob berbunyi. Salah satu teman mereka, Suzy, mengucapkan selamat tinggal pada Yoseob dan meminta maaf karena dia tidak bisa ikut mengantarnya pergi.

Walaupun tidak terlihat, sebenarnya setiap dari mereka mengeluarkan air mata. Walaupun hanya di dalam hati. Sahabat-sahabat itu masih teru bercakap-cakap sampai pengumuman bahwa pintu gate sudah dibuka terdengar. Setelah mengucapkan kata-kata terakhir, dan saling berpelukan untuk yang terakhir kalinya, mereka berpisah. Meninggalkan memori dan ikatan pertemanan yang tetap ada di sana. Karena saat mereka bertemu kembali, mereka masih akan mengenal satu dengan yang lainnya, sebagai seorang sahabat.

FIN

Ya, tamat sudah ff ini. Maaf kalo ceritanya agak ngebosenin. I’ll be back with a new story to tell. Maybe next week. Or tomorrow.

Advertisements

10 responses to “The Lakeside view – Never Is a Happy Ending Chapter 4 (Last Chapter)

  1. udh ending aj ne.. aq trsnggung ne* manyun * hahaha.. prince keroro ku dblg tdk tmpan.. pdhal dy plng sglax.. dy belahan jwaq..

  2. kenapa harus yuri snsd sih yang deket sama choi minho
    dia itu jablayyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy

  3. OH udah selesai ya ini? TT
    huaaaaaa endingnya bagus TT mengharukan banget TT
    kasian banget vionanya TT sumpah suka banget yang bagian viona TT bagus banget TT
    Jiyongnya juga so sweet abis 😀
    aaaaaaaaaaaa FF ini bikin overexcited b^_^d
    bagus banget author 😀
    sumpah aku suka banget FF ini, kamu bikin ini jadi novel aja hahaha 😀
    gilaaaaaa 😀 i wanna be like them hahaha having bestfriends like that :3
    sorry yang chapter 3.5 juga baru baca hari ini hehe <– nggak update
    #digampar author X)

  4. jd viona g jd hamil neh???
    haduh…. hidup memang tidak prnah sempurna…
    aduh masih kesel neh viona kaga hamil…

  5. author~
    lanjutin dong yang donghae..
    masih meleg eung…maksudnya masih penasaran banget crita.a yang donghae..
    plis…ya?ya?ya?

  6. Agh jiyong !! Howcreep u !
    Aku juga ikut2an ngebayang abang naga pake boxer sama kaus oblong tidur2an di sofa .. Goddamn HOT ! *VIPscream

    Ohya , admin kemana aja ? Kok nggak ada karya baru ? Padahal karya2 admin bikin aku exiting setiap nge’baca ! O.o

    Banyakin Bigbang’nya ya ! ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s