[FREELANCE] Time Will Erase The Pain

Title                       : Time Will Erase The Pain ~Berdamailah dengan Rasa Sakitmu, dan Kau akan tahu

Artinya Bahagia~

Author                  : Babyhae

Lenght                  : Oneshot

Genre                   : G, Family, Romance

Cast                       : Lee Donghae, Leeteuk, Park Jungsoo

PS. Ini sekuel dari The Doctor and Me. Well, yang Italic itu berarti flashback ya^^

The doctor and me

>>>

Terkadang, hidup tidak berjalan seperti apa yang kita mau. Kita berharap selalu bahagia, tapi yang kita dapat luka. Gwenchana….waktu pasti akan menyembuhkan luka. Bukan secara langsung, tapi dia memberi kita kesempatan untuk menyembuhkan luka….

>>>

Untukku, dunia tidak lebih dari sebuah ruangan tanpa penerangan. Gelap, sepi, dan dingin. Cih! Bagaimana bisa semua orang bisa bahagia berada di tempat seperti itu? Bahkan tikuspun mencari tempat ternyaman mereka dengan segala sampah yang mereka sebut makanan. Hina!

“Shinmi, annyeong. Aku Lee Donghae, doktermu yang baru. Aku janji aku tidak akan meninggalkanmu seperti orang lain. Aku janji,”

Siapa dia? Orang aneh. Tidak akan meninggalkanku? Dokter Park yang terkenal sabar dan digilai banyak perawat saja menyerah dan menyerahkanku padamu. Hei, dokter, jangan sok yakin. Jangan mengumbar janji kalau kau akan melanggarnya. Aku benci semua orang. Aku benci orang tertawa. Aku benci warna. Buatku semuanya hitam. Aku yakin, dia tidak akan bertahan lama.

“Hei, dokter baru itu ganteng ya? Murah senyum, masih muda, pinter pula,” bisik-bisik para perawat setiap kali mereka bertemu muka dengan Dokter Lee.

Wanita-wanita aneh. Baru melihat pria langsung heboh. Jatuh cinta? Klasik! Mereka tidak akan tahu sakitnya jatuh cinta.

“Shinmi-ssi, kau beruntung. Dokter barumu tampan lho. Ah, aku noona nih buat dia,” kata salah satu perawat yang mengantarkanku ke taman rumah sakit. Cih! Dia menghinaku? Beruntung? Kalau dia mau, jadi saja buta sepertiku supaya dia bisa dirawat ekslusif oleh dokter tampan. “Rasanya beberapa perawat di sini jatuh cinta padanya, lho Shinmi-ssi. Aku yakin kau juga akan jatuh cinta padanya kalau kau melihat senyumnya,” sambungnya asal. Aku sudah mengepalkan tanganku. Bersiap-siap memukulnya jika saja tidak ada dia…

“Wah, saya lebih baik tidak dicintai kalau hanya karena senyuman saja. Saya lebih suka dicintai karena saya adalah saya bukan karena saya adalah orang dengan senyum yang indah. Senyum kan hanya sebagian, sementara saya ingin dicintai secara utuh, bukan hanya sebagian saja,” katanya sambil memegang bahuku berusaha membuatku rileks, kurasa.

Aku tidak tahu bagaimana ekspresi perawat ganjen itu, atau bagaimana tampang dokter muda sok menyenangkan-ramah-bersahabat itu. Hanya satu yang aku ingat kalau aku akan jatuh cinta kalau aku melihat senyumnya?

Cinta? Aku benci cinta. Cinta membuatku sakit. Cinta membuatku buta. BUTA. Silakan saja kalian jatuh cinta. Pada saatnya kalian akan tahu, bahwa cinta itu menyakitkan. Menampar, menghina, memukul, menyiksa, saling menyakiti, dan membuat orang lain BUTA. Itulah definisi cinta. Setidaknya hingga saat itu. Saat sebelum  aku duduk di taman dengan dokter Lee di sampingku.

——-

Dokterku sedang tersenyum, aku tahu itu. Aku bisa merasakannya. Aku tahu dia bahagia. Hanya saja, aku tidak tahu kenapa dia bisa begitu bahagia? Dia bilang karena aku sudah menemaninya duduk di taman itu, ngobrol, dan menikmati pemandangan. Ralat, hanya dia yang menikmati. Aku, tidak. Aku kan buta. Apa yang kelihatan? Dia bilang, aku harus tersenyum supaya aku bahagia. Aku percaya padanya, hanya saja walaupun aku tersenyum, aku tetap tidak tahu apa bahagia itu.

“Dokter,” panggilku ragu-ragu. “Eung?” sahutnya cepat. “Bahagia itu seperti apa?”

“Well, rasanya hangat di dalam sini,” jawabnya sambil memegang tanganku, meletakannya di dadanya. “Badan rasanya ringan, dunia terasa jauh lebih indah, dan semua hal terlihat menyenangkan. Kira-kira seperti itu rasanya bahagia,” sambungnya kemudian, masih memegang tanganku dan menempelkan erat di dadanya. Dapat kurasakan debaran jantungnya. Cepat, tidak beraturan, dan keras seperti dentuman drum dari aliran musik metal. Astaga! Apa dokterku kena penyakit jantung? Kenapa detak jantungnya jauh lebih cepat daripada punyaku?

“Hangat?” tanyaku ragu-ragu dan dia makin mempererat genggamannya. Iya rasanya hangat, tapi tanganku. “Iya. Rasanya hangat. Suatu saat kau akan tahu kalau kau merasakannya sendiri, Shinmi-ya,” sambungnya. Dia tersenyum, entah bagaimana, aku merasa dia sedang tersenyum.

“Ayo kita kembali ke rumah sakit. Sudah sore. Kalau aku ketahuan membawamu keluar hari ini, aku akan diomeli habis-habisan oleh Dokter Park. Tau sendiri dia seperti apa. Ramah tapi galak kalau soal pasien,” ajaknya kemudian menarik tanganku yang masih digenggamnya. Aku tidak punya pilihan lain selain berdiri dan mengikuti langkahnya.

“Ih, liat deh. Namjanya tampan, tapi kok dia bawa-bawa yeoja buta ya? Apa dia tidak malu?” bisik-bisik itu semakin jelas terdengar. Aku hanya menarik nafas berusaha menahan rasa sakit yang ada di hatiku dan tanganku. Ya, dokter Lee makin mempererat pegangan tangannya saat mendengar itu.

“Kalian cantik lho. Tolong jangan rusak wajah cantik kalian dengan kalimat menyakitkan seperti itu. Sayang kalau yeoja cantik tapi tidak bisa menjaga bicara,” kata dokter Lee. Sepertinya dia menegur para wanita yang tadi berbisik-bisik itu. Dia sangat protektif. Itulah dokter Lee. Ramah, sabar, murah senyum-kata orang- sangat pintar, dan sangat protektif. Dia seperti paket lengkap manusia dewasa dengan kepolosan anak-anak dan kepandaian seorang profesor.

“Jangan didengar. Mereka itu Cuma iri, soalnya partner jalan-jalan mereka tidak tampan sepertiku.” Dan air mataku tidak jadi jatuh. “Awas, jangan lewat situ. Sini, mendekat sedikit padaku. Ada lubang di sana,” katanya seraya menarikku mendekatinya. Hangat. Sangat hangat. Dan kurasa, aku juga terkena penyakit jantung itu. Jantungku berdetak tak karuan.

“Dokter Lee, Anda dipanggil Dokter Park ke ruangannya,” panggil seorang perawat saat kami memasuki Rumah Sakit. Perawat itu menggandeng tanganku.

“Tidak usah. Biar saya yang mengantar Shinmi ke ruangan saya. Setelah itu saya akan menemui Dokter Park.” Jawabnya kemudian menarikku menjauhi perawat itu. “Ah, acara jalan-jalan kita kan baru tamat kalau sudah sampai ruanganku, jadi tidak akan kubiarkan orang lain membawamu ke sana,” bisiknya seolah menjawab kebingunganku.

———-

“Shinmi, ada yang ingin menemuimu,” kata dokter Lee tiba-tiba. Entah sejak kapan dia masuk. Aku yang duduk di kursi pasien langsung berdiri sambil meraba-raba sekitarku berusaha mendekatinya. “Silakan masuk, Tuan, Nyonya,” sambungnya. Eh? Tuan? Nyonya? Siapa?

“Shinmi, bagaimana kabarmu, Nak?” suara ragu-ragu seorang wanita membuatku diam. Berderet-deret kejadian bermunculan di kepalaku seperti film yang sedang diputar. Saat aku menutup telingaku di depan rumah, saat aku mendengar teriakan-teriakan disertai makian kasar dari dalam rumah, saat aku mengintip dan melihat kondisi rumah yang mendekati hancur, saat seorang pria menampar seorang wanita dengan begitu keras, dan adegan terakhir saat sebuah benda menghantam kaca di depanku dan sedetik kemudian semua gelap…ukhhhh!!!

Dengan cepat, aku berjalan berusaha menjauhi suara itu, merentangkan tanganku berusaha menghindari barang-barang yang ada, meninggalkan ruangan itu sesegera mungkin secepat yang aku bisa. Entah berapa barang yang jatuh akibat ulahku, berapa orang yang mengeluh karena kutabrak, dan berapa kursi yang tidak sengaja kutendang demi menjauhi tempat itu.

Udara bebas, tidak ada bau obat. Aku yakin aku sudah tidak berada di gedung rumah sakit. Jauh dari mereka. Kurentangkan tanganku sekali lagi, meraba udara kosong di sekitarku, gemetar, kemudian duduk memeluk lututku. Di sanalah, tangisku pecah. Sakit. Sangat sakit mendengar lagi suaranya lagi. Eomma, Appa, kalian datang? Untuk apa? Apa kali ini untuk mematahkan kakiku? Atau memutuskan pita suaraku?

“Sakit hati membuatmu jadi sangat manusia,” suara pria terdengar pelan tapi jelas di telingaku. Kemudian, aku merasa ada orang yang duduk di sebelahku, mengusap lembut punggungku, dan menyeka air mataku, yang kurasa percuma karena air mata itu terus keluar. Dia berusaha melonggarkan posisiku dan memelukku erat. Nyaman. Dia terus seperti itu, padahal bagian depan kaosnya sudah basah oleh air mataku. “Shinmi, aku tidak melarangmu menangis. Tapi sepertinya aku akan dicap sebagai cassanova brengsek yang menghamili gadis buta kemudian menyuruhnya menggugurkan kandungannya karena telah menemukan wanita lain yang lebih seksi dan menggoda,” ucapnya tenang dan entah kenapa air mataku jadi berhenti. “Sudah merasa lebih baik?” tanyanya. Apa yang harus kujawab?

“Aku sakit, dokter. Begitu dengar suara mereka, hatiku sakit. Dadaku rasanya sesak dan mataku rasanya seperti ditekan, sangat menyakitkan,” jawabku jujur. Tidak ada yang perlu kututupi di depannya. Toh dia, entah bagaimana, pasti akan tahu.

“Aku tahu. Aku tidak menyalahkanmu, Shinmi. Tapi cobalah untuk berdamai dengan mereka. Appa, eomma, dan rasa sakitmu. Semua akan baik-baik saja.” Aku hanya diam. Berdamai? Apa itu mungkin? Rasanya sebelum beberapa saat lalu, aku sudah berdamai dengan rasa sakitku. Aku sudah mati rasa, hingga mereka berdua datang. Rasa sakit itu datang lagi.

“Dokter Park bilang, kau mendapat donor mata. Ada yang cocok dengan dengan yang kau butuhkan, Shinmi. Appa dan Eomma-mu langsung datang begitu mereka mendengar itu. Saat aku ada di ruangan itu, aku melihat mereka sangat bahagia dan lega. Mereka juga ingin kau kembali normal, bersekolah dengan normal, dan kembali hidup bersama mereka.” Dan aku langsung gemetar. Entah kenapa, kata ‘tinggal bersama mereka’ seolah merupakan mimpi buruk untukku. Aku merasa akan ada sesuatu yang lebih buruk kalau itu terjadi. Dokter Lee langsung mempererat pelukannya, protektif seperti yang dia lakukan setiap aku merasa terancam.

“Aku tidak memaksamu. Tapi, apa kau tidak bosan tinggal bersama dokter Park? Kau tidak ngeri tengah malam mendengar suara tertawanya yang melengking tinggi itu? Aku saja yang tidak tinggal serumah dengannya merinding setiap kali dia tertawa. Dan bagaimana bisa kau tahan dengan kebawelannya itu?” protesnya. Dia benar-benar seperti anak kecil dan dokter Park dalam gambarannya seperti nenek tua yang selalu cerewet pada cucunya. Astaga, dokter Lee. Park Jungsoo tidaklah seburuk itu.

Kulayangkan lagi ingatanku beberapa tahun lalu. Saat aku pertama kali ke rumah sakit itu. Dokter Park yang sabar menanganiku yang terus menerus menangis dan meraung-raung. Saat akan dibawa pulang oleh orangtuaku, aku menolak. Aku ingat, aku benar-benar ketakutan saat itu. Aku memeluk tiang infus dengan gemetar. Dokter Park langsung turun tangan. Dia ingat, dia bilang aku trauma dan ketakutan ditambah tidak bisa menerima vonis bahwa aku buta. Berikutnya, entah bagaimana dia melakukannya, tapi tiba-tiba aku sudah berada di rumah yang asing bagiku. Rumahnya. Dengan nada ceria, dia menjelaskan, rumahnya dibangun dengan usahanya sendiri, semuanya putih, ada pelayan yang bisa membantuku untuk melakukan apapun. Saat itu, aku benar-benar tidak mengerti apapun. Di pikiranku hanyalah mencari jalan raya terdekat, gedung tertinggi, atau sungai terdalam untuk mengakhiri semuanya.

Setiap pagi, dia menungguku di meja makan, menjelaskan semua yang ada di hadapanku. Kemudian sambil makan, dia akan bercerita banyak hal *hei, dia mirip Dokter Lee. Cerewet*. Kemudian, dia akan membawaku ke rumah sakit. Dia kepala rumah sakit, ngomong-ngomong. Dia akan mengajakku masuk ke ruangannya atau berkeliling mengunjungi beberapa pasiennya. Dia selalu bilang, Ahjumma ini terkena penyakit ini. Wah, kau harus bersyukur karena kau sehat. Atau, si tampan imut ini menderita leukimia, tapi dia setiap hari bisa bersenang-senang, wah kau harus banyak belajar darinya cara bersenang-senang. Katanya sambil mengajakku ke bagian anak-anak. Setelah itu, sorenya dia akan mengajakku pulang, mengajakku ngobrol –dia yang bicara dan aku hanya diam- sambil menunggu makan malam. Setelah itu, dia akan mengantarkanku ke kamarku, menyelimutiku, dan mengusap-usap kepalaku. Dia akan bilang, “Aku bahagia, aku punya dongsaeng. Dongsaengku yang cantik, semoga besok pagi aku sudah bisa mendengar suaramu.” Kemudian dia akan keluar dari kamarku setelah sebelumnya mematikan lampu. Apa selalu bingung, kenapa dia selalu seperti itu? Tidak ada bedanya bagiku lampu menyala atau mati. Tapi seolah menjawab kebingunganku, dia bilang, “Aku selalu ingin punya adik, melindunginya, dan melakukan ini. Aku senang, pada akhirnya aku bisa melakukannya, karena dongsaengku yang sebelumnya di kamar ini tidak suka gelap.” Dan memang itulah yang dilakukannya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Dokter Lee tiba-tiba yang langsung membawa ingatanku kembali. “Dokter Park, apa dia keberatan aku tinggal di rumahnya?” tanyaku ragu-ragu.

“Kau tahu dia bukan orang seperti itu.” Jawabnya singkat. “Jungsoo Hyung itu sunbaeku waktu kuliah, dia selalu bilang ingin punya adik. Saat itu, akulah yang jadi adiknya. Kamar yang kautempati di rumahnya, itu adalah kamarku dulu kalau aku menginap di rumahnya. Sekarang, melihat kalian, aku bisa merasa dia sangat bahagia. Orang yang kuhargai, kuhormati, dan kusayangi akhirnya bisa bahagia,” sambungnya. Dahiku berkerut, mengkaitkan semuanya dalam memoriku.

“Maksud Dokter, dokter adalah dongsaeng yang tidak suka gelap itu?” tebakku. “Iya. Aku takut gelap. Gelap membuatku merasa dingin dan sepi.  Saat melihatmu pertama kali, aku seperti merasa gelap di siang hari. Shinmi, aku ingin kau merasa hangat saat bersamaku. Kau tahu, kau memang buta dan duniamu seluruhnya gelap. Tapi aku ingin kau merasa hangat, setidaknya selama bersamaku. Aku bukan Jungsoo Hyung yang setiap saat bisa bersamamu. Tapi, jadikan aku alasan untukmu tetap bertahan. Sebentar lagi kau akan dioperasi. Sebentar lagi, kau akan bisa melihat lagi,” ujarnya sambil mengelus punggungku lembut.

Beberapa pemeriksaan kujalani dan semuanya menyatakan aku dalam kondisi yang bagus dan siap untuk dioperasi. Sampai hari ini, eomma dan appa selalu datang ke rumah sakit, tapi tidak pernah berani masuk ke ruangan tempatku diperiksa. Kata dokter Lee, mereka tidak mau aku ketakutan dan membuat kondisi yang sudah bagus jadi memburuk. Yang mereka inginkan hanyalah aku segera sembuh dan hidup dengan normal. Apapun akan mereka lakukan, itu yang dokter Lee bilang. Apapun? Benarkah?

“Shinmi, kau sudah tidur?” tanya dokter Park tiba-tiba saat memasuki kamarku. Aku langsung mengambil posisi duduk dan bersandar ke kepala tempat tidurku menunggunya. Dia berjalan dan menyeret kursi belajar di samping tempat tidur mendekat. “Kau tegang?” tanyanya dan aku hanya mengangguk. “Itu wajar. Besok kan kau operasi. Santai saja, aku kenal Donghae sejak dia masuk jadi mahasiswa baru. Dia itu anak yang polos, ramah, sabar, tapi pintar. Yah, bisa dibilang dia mengikuti jejakku,” sahutnya kemudian mengeluarkan tawa khasnya –yang membuat dokter Lee bergidik ngeri itu- “Ehm, lanjut. Aku asisten dosen saat itu, dan aku tahu prestasinya. Setiap kali praktek, dia melakukan semuanya dengan baik, sekalipun yang diotak-atik hanya mainan. Tapi dia melakukannya dengan baik, yah…jadi kemungkinan dia akan melakukan kesalahan pada manusia itu kecil. Dia itu penuh kasih sayang. Ah, satu lagi, aku akan mendampingi besok.” Kemudian dia beranjak. Aku tahu itu karena dia menggeser kursinya.

“Apa mereka menyayangiku?” tanyaku sambil memegang erat tangannya. Sedetik, dua detik, beberapa saat dia hanya diam. Pertama kalinya aku bicara di depannya. Selama ini memang aku hanya mau bicara pada dokter Lee. Mungkin dia kaget.

“Dongsaengku bicara? Aigo!!” serunya heboh. Kemudian dia balas memegang tanganku, menggeserku dan duduk di sampingku. “Appa dan eomma-mu? Mereka menyayangimu. mereka menyesal sudah membuatmu seperti ini. Awalnya mereka mencoba untuk mendonorkan mata mereka untukmu, tapi sayangnya mereka bahkan sudah memakai kacamata. Jadi aku tidak bisa setuju. Setiap hari, eomma-mu meneleponku bertanya bagaimana keadaanmu, apa kau sudah makan. Appa-mu juga ke rumah sakit seminggu sekali untuk mengambil fotomu. Maaf, tapi aku memotretmu diam-diam. Aku tahu kau marah pada mereka, tapi aku juga tidak tega pada mereka. Aku berjanji akan memberitahu mereka setiap perkembanganmu, apa kegiatanmu setiap hari melalui foto. Entah sudah berapa banyak foto yang sudah kuberikan pada mereka. Shinmi, saat mereka tahu akhirnya kau mendapat donor mata, mereka bilang itu adalah keajaiban yang selalu mereka tunggu. Mereka akan melakukan segalanya supaya semua berjalan lancar, bahkan merelakanmu untuk tetap bersamaku kalau kau memang tidak mau bersama mereka. Oh iya, mereka menitipkan surat. Mau kubacakan?” tanyanya sementara dadaku sudah sesak. Aku hanya mengangguk.

“Dear anak appa dan eomma. Bagaimana kabarmu, nak? Kau makan dengan baik? Dokter Park selalu memperlakukanmu dengan baik kan? Dokter Lee juga baik kan? Jangan takut, nak. Kami tidak akan menyakitimu lagi. Hari itu adalah hari terburuk untuk kami berdua. Kami tahu, sejak saat itu, kami sudah membuatmu memutuskan hubunganmu dengan kami. Saat kami saling memaki. Appa menyesal sudah menyakiti Eommamu. Appa tidak bermaksud, hanya saja Appa tidak tahu apa yang ada di pikiran bodoh Appa saat itu. Tapi yang lebih buruk adalah melihatmu meringkuk dan meraung-raung dengan darah sudah mengalir dari matamu, Nak. Saat itu Appa tidak bisa berbuat apapun. Appa merasa berakhir sudah semua hidup Appa bersama dengan berakhirnya kehidupan normalmu. Eomma, juga sama. Eomma yang sudah melempar vas itu. Demi Tuhan, sayang…kalau saja Eomma tahu ada kau di sana, Eomma tidak akan pernah melakukannya. Biarlah Eomma yang ditampar oleh Appa. Eomma tidak keberatan. Eomma yakin, tidak ada Eomma yang lebih buruk dari ibumu ini. Appa dan eomma menyesal. Maafkan kami, nak. Maaf sudah membuatmu merasa tersingkir, merasa bahwa kau tidak dicintai, merasa bahwa kau tidak berguna. Kami sangat mencitaimu. Kau itu berharga, nak. Tolong jangan menyiksa dirimu karena itu akan membuat kami lebih merasa bersalah. Kami yang membuatmu seperti itu, benci saja kami, tapi jangan benci dirimu sendiri. Kau merasa sakit, nak? Kami juga merasa jauh lebih sakit, karena kamilah yang membuatmu seperti ini. Kami yang tidak berguna. Kami tahu kau benci kami, kami tidak akan memaksamu untuk tinggal bersama kami. Tolong jangan takut pada kami. Dokter Park setuju kalau kau memang ingin terus tinggal bersama dia. Dia tidak keberatan. Kami tidak akan mengganggumu lagi kalau itu memang maumu. Kami tidak akan pernah muncul di depanmu lagi kalau itu hanya membuatmu ketakutan. Tapi kami akan tetap mencintaimu dari jauh, nak. Semoga Tuhan memberkatimu dan hidup barumu. Kami akan ikut bahagia kalau kau juga bahagia. Tuhan tidak akan membencimu hanya karena kau tidak mau bertemu dengan kami, karena Tuhan tahu kami yang salah. Semoga kau bahagia, nak. kami sangat mencintaimu. Sangat dan selalu.

Appa dan Eommamu.”

Detik berikutnya, aku merasa dadaku ringan. Aku tidak tahu perasaan apa itu. Yang aku tahu, aku tidak lagi merasa berat. Aku merasa semuanya menguap. Dokter Park sibuk memanggil pelayan untuk mengambilkannya tissue. Aku menangis, tanpa kusadari aku menangis, mencengkeram erat-erat surat dari Appa dan Eomma dengan Dokter Park yang berteriak panik karena pelayannya yang tidak kunjung datang dan pada akhirnya dia menggunakan kaosnya untuk menyeka air mataku.

——–

“Kau siap, nona yang sebentar lagi akan jadi mantan pasien?” gurau dokter Lee yang berdiri di sampingku. Dengan gugup aku hanya mengangguk. Terlalu tegang untuk menanggapi atau mencibir gurauannya. Kemudian, dia membuka perban yang membelit bagian mataku pelan-pelan.

Setitik sinar remang-remang dan kabur yang kulihat pertama kali. Kemudian, satu persatu wajah menyeruak ke dalam pandanganku, masih tidak jelas untuk kugambarkan. Aku tidak begitu bisa melihat ekpresi apa yang ada di wajah-wajah itu. Sampai beberapa saat kemudian, kusadari ruangan itu minim cahaya, aku memiringkan kepalaku. Apa ada yang salah dengan operasi ini?

“Kau kan baru dioperasi, jadi tidak boleh terkena sinar yang terlalu terang secara langsung. Bertahap ya,” kata pria di sebelah kiriku seakan bisa membaca pikiranku. Dari suara dan caranya bicara padaku, bisa kutebak dialah dokter tampan yang selalu menggandengku protektif. “Sepertinya, kau memang tampan, dokter Lee,” kataku pada akhirnya. Dan seulas senyum lega langsung terbentuk di wajah putihnya.

“Apa aku juga tampan, nona?” tanya pria lain yang ada di sebelah kananku. Mukanya terlihat seperti baru saja melepaskan beban khawatir, senyum lengkap dengan lesung pipi muncul samar di wajahnya. “Dokter Park juga tampan,” jawabku akhirnya dan senyumnya melebar.

“Sesuai pesananmu, ada yang ingin bertemu,” sambungnya sambil berjalan mendekati pintu kamarku. Sesaat setelah dia membuka pintu, muncullah mereka ragu-ragu. Appa dan Eomma. Mata Eomma sembab, sepertinya habis menangis. Alis Appa masih bertaut, tandanya dia masih khawatir dan ragu-ragu. Mereka tidak berubah dari yang kuingat. “Sepertinya, dokter Lee dan aku butuh penyegaran. Ketegangan benar-benar membuatku bisa mengalami penuaan dini,” kata dokter Park kemudian meninggalkan kami diikuti Dokter Lee yang masih menyempatkan untuk menggenggam tanganku dan tersenyum memberikan penguatan. Cukup membuatku merasa tenang dan yakin dengan langkah yang kuambil.

“Matamu indah, nak,” kata Eomma tiba-tiba.

“Apa kalian benci padaku?” tanyaku langsung dan mereka langsung memelukku erat. Hangat, nyaman. Dan saat itu aku tahu, aku yakin dengan jawaban mereka. Aku yakin dengan perasaanku.

——-

“Dokter, rasanya memang hangat di sini,” kataku sambil memegang dadaku. Dia hanya tersenyum sambil meminum jusnya. Senyumnya manis, dia tampan, dan dia memang dokter paling tampan.

“Kan sudah kubilang. Tapi aku sudah bukan doktermu. Hari ini adalah pemeriksaan terakhirmu, pertemuan terakhir kita, dan awal hidup barumu. Mulai saat ini, kau sudah punya harapan hidup baru kan?” jawabnya sambil mengacak pelan rambutku.

Kami duduk dalam diam. Dulu, kami memang selalu seperti ini. Duduk di taman sampai sore, kemudian dia akan mengajakku kembali ke rumah sakit dan kemudian aku akan pulang bersama Jungsoo Oppa. Ah, dokter Jungsoo sudah kupanggil Oppa. Dia suka itu, karena dengan begitu dia benar-benar merasa punya adik. Sore hari tinggal beberapa saat lagi. Itu artinya, sebentar lagi memang aku harus berpisah dengan dokterku ini. Tidak rela. Itulah yang kurasakan.

“Jujur aku tidak rela,” katanya tiba-tiba. Aku tertegun, bagaimana bisa kami merasakan hal yang sama. Dentuman jantungku mulai menggila lagi. “Sejak pertama kali aku ditugaskan untuk menjadi doktermu, aku sudah menanamkan pada diriku sendiri kalau aku ingin jadi alasanmu tetap bertahan hidup. Sekarang semuanya akan berakhir, aku tidak rela,” sahutnya pelan kemudian menghela nafas panjang. Murung. Dokterku hari ini murung, bukan dokter yang biasa. “Tidak bisakah kalau kita….” dia menggantungkan kalimatnya. Berpikir berulang kali sebelum melanjutkannya.

“Dokter, aniya…Lee Donghae-ssi. Terimakasih atas semua yang kauberikan. Harapan hidup, nasehat, humor anehmu, semangat, dan keberadaanmu untuk jadi alasanku tidak jadi mengakhiri semuanya. Tapi aku sudah tertinggal banyak. Kata Jungsoo Oppa, kau itu pintar. Bisakah kau mengajariku untuk mengejar ketinggalanku? Mulai besok aku akan sekolah lagi,” kataku. Dia menoleh cepat ke arahku. Tersenyum, kemudian menggandeng tanganku.

“Kau tahu, sunset itu indah kan? Sunset mengakhiri segala yang buruk di satu hari, mengawali malam yang memberikan kita ketenangan untuk beristirahat, dan menghubungkan kita dengan orang-orang yang kita sayangi, karena mereka semua memandang sunset yang sama. Sudah sore, aku harus mengembalikanmu ke rumah sakit, atau aku akan diskors Jungsoo hyung karena mengira adiknya kuculik,” katanya mengajakku berjalan kembali ke rumah sakit.

Sunset memang indah, tapi bersama denganmu, mempunyai Oppa baru, dan kembali menikmati rasa cinta keluarga jauh lebih indah. Rasanya hangat di sini, badan menjadi ringan, dan semua terlihat indah. Oh, aku sudah tahu apa itu bahagia. Terimakasih sudah memberiku arti bahagia, sudah memberiku semangat dan kesempatan untuk melihat dunia lagi, dan memberitahuku bagaimana untuk bisa mendapatkan itu semua. Kalian tidak memaksaku, kalian memberiku waktu untuk itu semua. Kalian menungguku dengan sabar. Waktu yang kalian berikan membuatku merasa bisa bernafas dan berpikir. Aku sudah berdamai dengan rasa sakitku. Jadi inilah bahagia itu…..

Advertisements

34 responses to “[FREELANCE] Time Will Erase The Pain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s