Pretty Boy

AUTHOR: v3aprilia

LEGTH: oneshoot

GENRE: kayaknya sih romance

RATED: tenang, ini aman dibaca untuk semua umur, tidak menyebabkan penyakit komplikasi

Cast:

–      Kim Kibum, Park Hyun Ran (main cast)

–      Leeteuk, Eunhyuk (minor cast)

–      Heechul (minjem nama doang)

Soundtrack: M2M – Pretty Boy

Disclaimer: ide cerita dari pengalaman author sendiri, tapi bedanya, kalo di kehidupan nyata akhirannya sad ending, huehehehe. Dan ini juga sebagai bentuk kerinduanku pada Kim Kibum oppa. Oppa, meskipun aku bukan Snowers, but I miss you like crazy! Cepetan baliiiiik!!! *teriak-teriak pake megaphone*

HYUN RAN’S POV

Oh my pretty pretty boy

I love you

Like I never ever loved no one before you

Pretty pretty boy you’re mine

Just tell me you love me too

Lagu itu mengalun lembut menemaniku belajar. Itu lagu pertama yang kumasukin ke playlist di music player HP-ku dan kudengarkan hampir tiap hari, berkali-kali. Hehe, ketahuan deh addicted-nya ama lagu-lagu jadul. Habisnya, ini lagu kan pertama kali nongol sekitar tahun 2000-an, waktu aku masih SD. Dan sampai SMA, aku masih tetep jadi fansnya lagu ini.

Waktu SD aku sempat bingung dan bolak balik ngecek kamus, artinya pretty boy apaan sih? Boy itu cowok, pretty itu cantik. Jadi artinya cowok cantik dong? Maka dari itulah, otak SD-ku yang polos *atau dongo?* ini sempat teracuni dengan kesimpulan dodol: pretty boy itu bencong. Dan M2M ceritanya jatuh cinta ama cowok kemayu yang hobi nyalon plus ngomong, “Hey ciiin, apa kabar?” trus cipika cipiki.

Untungnya kebodohan itu berhenti sejak SMA. Dan siapa yang akhirnya membuat kebodohan itu menghilang? Dan siapa yang membuatku selalu ingin kembali ke masamasa

SMA?

***

Temanku, Iseul, setengah mati berusaha meyakinkan aku kalau pretty boy itu ngga seperti yang kuduga selama ini.

“Pretty boy itu maksudnya cowok cakep trus penampilannya bersih, rapi, mukanya manis,” katanya.

“Oh, kayak Heechul oppa di depan rumahku?” tanyaku, merujuk ke tetangga yang tinggal tepat di sebelah apartemenku.

“Bukaaan, dia berbau manis kan karena kerja di pabrik permen, tiap hari berkubang dengan gula-gula!”

“Pretty boy itu kayak Super Junior itu lho, wajahnya cute!”

“Ah, itu sih ganteng namanya, bukan pretty!” sanggahku. Dalam hati aku diam-diam kagum dengan teman-temanku yang setia selalu berusaha mengobati penyakit idiotku ini, hehehe.

“Gini deh, pretty boy itu kalo didandanin jadi cewek bisa keliatan cantik, kayak cewek beneran,” kata Ha Neul asal.

“Nah, berarti bener kan pretty boy itu bencong?” kataku.

Iseul langsung nenggak pil penurun tekanan darah 8 biji sekali telen.

Lagi seru-serunya topik perdebatan dengan tema “Membuktikan pada Park Hyun Ran Bahwa Pretty Boy Tidak Sama dengan Bencong”, perhatianku tersita oleh sesosok makhluk berjenis cowok yang duduk di bangku kantin yang tidak jauh dari kami. He looks cool, dia duduk sendirian dan bersikap seolah-olah ngga ada yang peduli dengan kehadirannya *kecuali aku*. Tubuhnya tinggi tegap, kulitnya putih bersih, wajahnya manis, rambutnya coklat gelap, dan bentuk tubuhnya yang berotot nyaris sempurna masih bisa terlihat dari balik seragam kemeja putihnya *sempet-sempetnya nerawang bodi orang, hehehe* Dia sempat melihatku, kami bertatapan hanya sedetik sebelum akhirnya dia kembali asyik mendengarkan musik dari iPod dan menyantap makan siangnya.

Tatapannya… tatapan sedetik yang bikin aku lupa napas selama semenit. Diakah the pretty boy?

***

Ngga di sekolah, di kampus, apalagi di tempat kerja, aku yakin cewek atau cowok populer pasti ada. Tuhan kan maha adil, Dia pasti menyebarkan populasi makhluk-makhluk rupawan-Nya di berbagai penjuru tempat sebagai penyegar mata, hehehe. Iya lah, masa cewek-cewek ama cowok-cowok rupawan harus dikumpul di satu tempat yang steril dari makhluk jelek? Sombongnya… Life will suck without differences, guys! *buka-buka kamus*

Dan berbekal keyakinan itu pula, aku yakin kalau cowok inilah salah satu makhluk populer nan rupawan yang disebar Tuhan. Dan karena cowok ini, aku akhirnya percaya kalau pretty boy itu bukan bencong.

Namanya Kim Kibum, anak kelas 2-F. Hanya itu yang Iseul beritahukan padaku, itu juga karena aku hanya menanyakan namanya. Aku masih belum berani ngaku kalau aku suka dengan anak itu. Siapa tahu aku hanya terpesona, hanya kagum kok bisa-bisanya ada malaikat ganteng nyasar ke dunia yang fana ini, hehehe.

Ya, aku memang berdebar-debar waktu pertama kali melihatnya di kantin, apalagi sampai bertatapan mata segala. Tapi apa itu tanda-tandanya kalau aku jatuh cinta? Kayaknya belum tentu deh. Dipelototin cowok ganteng kayak gitu, gimana kita kaum wanita ngga gelepar-gelepar kayak ikan kehabisan oksigen? Tapi ini juga yang bikin aku merasa aneh, kok bisa-bisanya aku ngga langsung naksir ama dia? Sama Heechul oppa yang umurnya sekarang nyaris 30 aja, dulu aku bisa segitu termehek-meheknya, hehehe *ditendang Heechul oppa*

Meskipun begitu, jujur saja, aku sangat menikmati saat-saat aku punya kesempatan memandanginya, meskipun dari jauh. Ada rasa aneh bercampur senang tiap aku ngeliatin dia. Senang karena dia ganteng *hehehe*, tapi aneh karena dia selalu kelihatan menyendiri dari teman-temannya, duduk melamun sambil mendengarkan musik di iPod. Ngga tahu apa yang dilamunin. Yang jelas ngga mungkin ngelamun jorok *ngelamunin kloset gitu misalnya, jangan mikir mesum ah!*, abisnya ekspresi mukanya gitu-gitu aja. Datar.

Aku sering datang ke sekolah pagi-pagi, paling pagi malah, mungkin ngalahin bangun tidurnya penjaga sekolah *lebay*. Biasanya kalau belum ada teman yang datang, aku ngga langsung masuk kelas, tapi duduk-duduk dulu di pinggir lapangan, bengong ngeliatin lapangan dan menikmati udara sejuk. Atau kalau langsung masuk kelas, aku duduk di bangkuku yang kebetulan paling depan dan dekat pintu masuk.

Sering waktu aku lagi duduk di bangkuku, aku ngeliat Kibum melintas depan kelasku, dan kami akan bertatapan selama sedetik, bahkan kadang, kurang dari setengah detik. Selalu saja, kita berdua yang datang paling pagi. Selalu saja, kita bertatapan mata tiap kali dia melintas depan kelasku. Selalu saja, dia mojok sendirian dan aku hanya bisa ngeliatin dia dari jauh, ngga ada kesempatan dan keberanian buat kenalan. Entah karena semesta ngga mengijinkan atau akunya yang terlalu penakut.

Lha, kok malah jadi melankolis gini sih, hehehe. Udah ah, lanjut lagi ceritanya. Selama beberapa waktu hubungan kami ngga lebih dari sekedar papasan dan tataptatapan. Saling lempar senyum aja ngga pernah, apalagi kenalan. Pasif banget, sampai akhirnya ada kejadian tentang scrapbook-ku.

Jadi ceritanya aku lupa naruh scrapbook-ku dimana, aku udah bongkar-bongkar tas tapi tetep aja ngga ketemu. Padahal itu scrapbook kesayanganku, momen-momen penting, jadwal kegiatan, kliping artikel, sampai sketsa-sketsa wajah, semua ada di situ. Scrapbook itu benar-benar mewakiliku, semua emosiku ada di sana *halah* Pokoknya, benda itu penting banget. Apalagi di halaman terakhir ada sketsa wajah Kibum. Kalau sampai orang yang nemuin scrapbook itu ngeliat sketsa itu, dan ternyata dia masih murid di sekolah ini, bisa mampus! Mending aku pensiun aja jadi murid *apaan sih* Aku udah hampir nangis darah waktu pagi harinya, pagi-pagi banget, waktu aku sendirin di kelas, meratapi kepergian scrapbook-ku *halah*, tiba-tiba seseorang masuk ke kelasku. Aku ngga nyadar, karena waktu itu aku lagi nunduk sambil nangis. Suara buk pelan menyadarkanku. Aku mendongak mencari asal suara itu, dan tiba-tiba saja scrapbook-ku sudah ada di hadapanku! Dan lebih shock lagi karena yang nganterin buku itu adalah Kibum!

“Kamu ninggalin bukumu di perpus, kemarin aku lihat. Tapi maaf baru sekarang bisa ngembaliin.”

Suaranya sama dengan wajahnya, cool. Aku hanya bisa mengucapkan ‘gomawo’, itupun pelan banget. Tapi begitu dia keluar kelas, tiba-tiba saja keberanianku muncul.

“Namaku Hyun Ran!”

Dia berbalik, headset-nya tertahan di tangan. “Aku Kibum.” Dan dia keluar dari kelas.

Tentu saja, aku sudah tahu namamu dari dulu, aku membatin. Itu saja, hanya itu saja, bisa membuatku sangat senang.

***

KIBUM’S POV

Perpus tempat yang cocok untukku, aku suka sepi. Aku suka sendirian, itu lebih enak daripada dirongrong belasan cewek-cewek yang tiap hari selalu ada aja yang dilakukan hanya supaya aku mau noleh atau ngomong. Ngga tau apa yang mereka lihat dariku, bisa ngga sih mereka menjauh saja? Bukannya udah jelas, aku ngga suka keramaian, dan aku ngga tertarik dengan segala bentuk perhatian mereka yang terkadang berlebihan. Apa yang mereka suka dariku?

Aku hanya sedikit punya teman, itupun lebih banyak cowok. Bukan karena aku ngga tertarik dengan cewek, tapi cewek-cewek di sekolahku kayaknya ngga bisa ngga melihatku tanpa bertingkah berlebihan. Entah itu teriak histeris, menatapku sambil ngedip-ngedipin mata, atau malah jadi stalker yang ngikutin aku kemana-mana.

Mungkin satu-satunya cara supaya aku bisa bebas dari mereka, aku pura-pura ngaku gay. Tapi aku ngga akan pernah melakukan itu.

Tapi hari ini, aku sedikit menemukan perbedaan dari gadis itu. Dia ngga seperti yang lain, aku ngga pernah ngeliat dia ada di antara kumpulan cewek-cewek yang histeris tiap kali ngeliat aku lewat. Aku ngga pernah ngeliat dia ada di antara kumpulan cewek-cewek yang antre ingin memberiku coklat saat Valentine. Aku ngga pernah ngeliat dia nguntit aku kemana-mana. Awalnya aku maklum, ngga semua orang suka aku. Mungkin dia salah satunya.

Sampai akhirnya aku nemuin scrapbook-nya yang tertinggal di perpus. Aku tahu itu miliknya, karena aku ngeliat dia ngeluarin buku itu dari tasnya dan ngga sengaja dia tinggal. Bukunya menarik dan keliatan banget kalau anak ini kreatif. Buku ini terkesan girly meskipun ngga ada warna pink sama sekali. Di halaman awal, aku melihat fotonya seukuran kartu pos, dan di bawahnya dijejer foto-fotonya dalam ukuran kecil, diurut dari fotonya waktu TK, SD, dan SMP, lengkap dengan gayanya. Tapi bukan pasfoto. Foto-foto kecil itu ditempel di atas rol film bekas, lalu ditempel ke scrapbook. Dia juga menggambar pita-pita di beberapa sudut. Kayaknya scrapbook ini jadi semacam semidiary, dia nempelin sobekan tiket bioskop, kliping artikel, foto orangtuanya waktu masih muda, puisi, hingga sketsa wajah. Dari sketsa wajah idolanya sampai teman-temannya. Bahkan tapak kaki anak anjing, dedaunan dan bunga-bunga kering juga dijadikan penghias.

Aku iseng-iseng melihat seluruh isi scrapbook, sampai akhirnya di halaman akhir, aku nemuin satu lembar kertas berisi sketsa. Kertas itu putih polos, lebih tepatnya itu kertas HVS. Ngga ada hiasan tapak kaki anak anjing, rol-rol film bekas, atau apapun. Polos. Tapi bukan itu yang bikin aku kaget.

Cewek itu melukis sketsa wajahku yang lagi sendirian di perpus, di hari dia ninggalin scrapbook-nya.

Apa dia sengaja? Ngga tahu, tapi waktu aku kembaliin buku itu besok paginya, aku lihat dia lagi nangis sendirian di kelas. Dan ekspresi senangnya waktu lihat bukunya kukembalikan sama sekali ngga dibuat-buat.

“Namaku Hyun Ran!”, hanya itu usahanya untuk lebih mengenalku. Selebihnya, ngga ada. Itu yang bikin aku penasaran dengan anak itu.

***

HYUN RAN’S POV

Beberapa minggu belakangan ini aku punya hobi baru: chatting. Yap, sebelumnya aku agak males dengan kegiatan yang satu ini. Aku memang malas ngobrol dengan orang yang ngga tahu hidup apa ngga, hehehe. Maksudnya, aku ngga tahu wajahnya, tubuhnya, pribadinya, bahkan jenis kelaminnya. Bisa aja kan dia ngaku-ngaku cewek, padahal cowok, atau malah sebaliknya. Atau bisa aja dia ngaku-ngaku ganteng atau cantik, padahal kalau dilihat aslinya, mata bisa mendadak katarak.

Tapi kok sekarang aku malah jadi keranjingan chatting? Ini semua awalnya dari saudara sepupuku, Hye Sun, yang tinggal jauh di luar kota. Dia yang maksa aku supaya chatting dengannya. Alasannya supaya lebih irit.

“Lha, kan bisa SMS,” kataku.

“Ah, udah basi,” katanya.

Akhirnya, dengan panduan kilat jarak jauh, aku mulai bisa ber-chatting ria dengan Hye Sun. ID-ku autumn_snowers. Hahaha, jangan tanya deh kenapa aku pakai nama itu, aku aja ngga ngerti. Asal bikin aja.

Beberapa hari aku asyik chatting dengan Hye Sun, selama beberapa hari itu juga aku penasaran dengan salah satu ID yang tiap kali aku online, dia juga lagi online. IDnya kim_blackpearl. Kayaknya familiar, aku pernah denger Ha Neul nyebut-nyebut ID ini karena dia juga lumayan suka chatting.

Kebetulan Ha Neul sedang online. Aku langsung menanyakannya.

“Itu Kibum, pretty boy dari 2-F itu. Kenapa? Naksir? Eh, tumben nih kamu chatting, kemakan bujuk rayu siapa?”

Aku ngga bales. Ha Neul dan siapapun ngga tahu kalau aku naksir Kibum. Aku blingsatan sendiri di depan komputer. Sapa, ngga, sapa, ngga. Tapi buat apa juga takut, toh dia ngga akan tahu aku siapa.

Ternyata Kibum ramah, mungkin karena kami ngga bertatapan langsung. Kami pun akhirnya ngobrol tentang banyak hal, dan dari sini juga aku tahu kalau dia datang dari keluarga broken home. Orangtuanya bercerai setahun yang lalu. Mungkin itu sebabnya aku sering ngeliat dia duduk melamun sendirian, menyendiri dari keramaian. Mungkin dia masih sedih dengan perceraian orangtuanya.

“Ngga apa-apa nih kamu cerita masalah pribadi ke aku?” tanyaku.

“Aku percaya kamu. Ngga tahu kenapa, meskipun cuma chatting, aku merasa nyaman cerita banyak hal ke kamu.”

Aku GR, hehehe. Gimana ngga GR, setelah sekian lama cuman bisa mandangin dari jauh, liat-liatan, baru kali ini aku bisa ngobrol, meskipun ngga bisa denger suaranya. Tapi aku juga merasa sedih karena aku ngga bisa memahami perasaannya yang kecewa dengan perceraian orangtuanya. Aku masih beruntung karena orangtuaku masih lengkap, masih mesra. Aku hanya bisa bilang supaya dia tabah dan ngga menghadapi masalah ini dengan emosi.

Suatu hari, tiba-tiba dia minta fotoku. Jleg! Foto? Mampus. Bakal ketahuan nih siapa aku yang sebenarnya. Banyak hal yang bikin aku keberatan ngasih foto. Pertama, aku minder dengan fisikku. Aku ngga secantik cewek-cewek di sekolah yang ngejar-ngejar dia. Kedua, apa mungkin dia masih mau ngobrol sama aku kalau dia tahu selama ini dia ngobrol sama cewek yang pernah dia kembaliin scrapbook-nya? Kali aja dia malah menjauh, takut kalau ternyata aku ini adalah salah satu anggota groupies yang menggilainya.

“Sebaiknya ngga usah. Aku lebih suka kayak gini aja, kita ngga tahu muka satu sama lain, karena dari awal chatting aku hanya ingin berteman,” elakku. Dia mengerti, bahkan dia bilang, aku beda dari cewek-cewek lain. Banyak cewek-cewek di sekolah yang sudah tahu ID-nya, dan setiap hari selalu aja berusaha untuk ngajak dia ngobrol, dan ujung-ujungnya, ngajak pacaran.

“Aku ngga suka, mereka ngga ngerti kalau aku ingin sendirian aja,” katanya.

Kalau aku senekat mereka, mungkin sekarang ini aku bakalan nulis, “Kibum, ini Hyun Ran, teman satu sekolahmu yang punya scrapbook itu. Saranghaeyo, pacaran yuk!”

“Tapi belakangan ini aku ketemu dengan cewek yang beda dari cewek-cewek lainnya. Dia temen sekolahku.”

“Oh ya?”

“Ya, kupikir dia ngga suka ama aku, yah wajar lah, ngga semua orang suka ama aku. Tapi dulu aku pernah nemuin scrapbook miliknya di perpus dan ternyata dia pernah ngelukis sketsa wajahku. Aku heran, kalau dia sampai ngelukis aku sedetail itu, kenapa dia ngga pernah berusaha deketin aku? Dia bener-bener beda dari cewek-cewek lain.”

Deg! Apa dia bilang tadi? Sketsa?

Aku baru sadar, kalau Kibum adalah orang yang nemuin scrapbook-ku, dia pasti pernah melihat-lihat isinya. Dan ternyata dia melihat sketsa itu juga. Mati aku! Aku ngga akan sanggup ngelihat dia lagi.

“Mungkin… dia hanya kagum. Mungkin menurut dia, kamu ganteng kalau dilukis, tapi bukan berarti dia naksir.”

“Hahaha, mungkin juga.”

Aku buru-buru offline. Perasaanku campur aduk.

***

Aku ngga pernah chatting lagi semenjak hari itu. Aku terlalu malu, sudah banyak yang Kibum lihat tentangku. Dia pasti juga membaca beberapa puisiku tentang dia. Apalagi karena tentu saja dia melihat fotoku, dia akan ingat kalau aku adalah ‘pengagum rahasianya yang diam-diam melukis sketsa wajahnya’.

Rasanya aku ingin terjun bebas ke air terjun Niagara. Aku ngga mau lagi duduk di bangku paling depan dekat pintu. Aku menghindari Kibum, aku ngga mau tatap-tatapan lagi dengannya. Dia pasti mengenaliku. Aku malu.

Tapi pernah, suatu hari waktu aku sedang jalan di koridor, dia datang dari arah berlawanan. Saat itu koridor sudah sepi, hanya ada kami berdua. Tapi aku ngga mungkin balik arah, kentara banget kalau aku menghindarinya. Aku menguatkan diri, sok PD berjalan melewatinya. Aku bisa merasakan kalau dia menatapku saat aku papasan dengannya. Kejadian itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi itu adalah beberapa detik yang menyiksa. Mau nangis rasanya, saking malunya.

***

KIBUM’S POV

Aku ngerasa anak itu mulai menghindariku. Cewek itu, Hyun Ran. Semenjak aku ngembaliin scrapbook-nya, dia malah makin menjauh. Lebih tepatnya, berusaha supaya ngga dekat-dekat denganku. Tiap kami papasan, dia selalu nunduk dan jalan cepat-cepat.

Dia juga ngga pernah lagi kulihat duduk di bangku depan dekat pintu. Dia seperti menghilang. Dia menghilang bersamaan dengan menghilangnya autumn_snowers. Apa mungkin Hyun Ran dan autumn_snowers itu orang yang sama? Apa mungkin dia berusaha deketin aku supaya aku dengan gampangnya ngebongkar rahasiaku yang dari keluarga broken home, lalu nyebarin ke semua cewek-cewek di sekolah? Kalau benar kayak gitu, bener-bener kelewatan!

Tapi lewat beberapa hari, suasana sekolah ngga berubah. Tetep berlalu seperti biasanya. Cewek-cewek tetep bisik-bisik di belakangku, tapi bukan dengan ekspresi dahi berkerut, tapi dengan mata berbinar-binar. Seperti biasa. Dugaanku salah.

Tapi kenapa cewek itu malah menghindar? Apa mungkin karena sketsa di scrapbook-nya? Apa dia malu karena aku yang ngembaliin bukunya, sementara di buku itu ada sketsa wajahku? Kenapa dia harus malu? Kenapa ngga malah dia jadiin sketsa itu sebagai alat untuk deket denganku?

Kenapa aku selalu mikirin dia? Apa aku mulai suka dengan Hyun Ran?

***

Sekarang hari Jumat, siaran radio sekolah hari ini memperbolehkan kami untuk request lagu barat. Tapi aku ngga pernah request. Malas. Aku lebih suka mendengarkan saja, sambil makan siang.

“Dan sekarang gilirannya membacakan request dan salam dari teman-teman semua!” Seperti biasa, Leeteuk hyung selalu ceria tiap siaran ditemani soulmate-nya tiap kali siaran, Eunhyuk. “Kali ini aku yang bacakan. Ini dari… Autumn Snowers. Wow, siapa nih?”

“Ngga tahu, itu saja yang dia tulis. Udah, buruan baca, durasi nih!” kata Eunhyuk.

“Ok ok. Aku baca ya, ‘Aku request Pretty Boy dari M2M. Aku berikan lagu ini untuk kim_blackpearl. Gomawo, karena sudah membuatku bahagia meskipun mungkin selamanya kamu ngga akan pernah mengenalku. Gomawo, karena kamu adalah alasan kenapa scrapbook-ku menjadi semakin berwarna. Autumn Snowers’. Omo, manis banget…”

Deg! Aku nyaris tersedak minum susu. Kantin langsung riuh rendah dengan kasak kusuk, beberapa cewek langsung tahu kalau kim_blackpearl itu ID-ku tiap kali aku chatting. Dan siapa itu tadi? Autumn Snowers?

Jangan-jangan…

Aku lari keluar kantin tanpa menghabiskan makan siangku.

***

Aku mencari Hyun Ran di mana-mana, aku bertanya ke teman-temannya, dan mereka semua juga ngga tahu. Dia ngga ada di kantin, dan dimana pun. Masa aku harus nyari ke toilet cewek juga?

Mendadak aku ingat. Mungkin aja di perpus!

Aku berlari ke sana, sementara lagu Pretty Boy mulai mengalun dari speaker. Beberapa anak melihatku heran, tapi aku ngga peduli. Aku pontang panting ke perpus mencari Hyun Ran.

Dan dia memang ada di sana, duduk sendirian menatap scrapbook-nya, dan kaget melihatku yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.

***

HYUN RAN’S POV

Pretty Boy masih sama indahnya dengan yang pernah kudengar dulu, waku aku pertama kali denger lagu ini waktu SD. Masih bernuansa jatuh cinta, dan aku selalu ngerasa seperti sedang jatuh cinta, meskipun waktu itu aku ngga tahu lagi jatuh cinta sama siapa.

Bedanya, sekarang aku dengerin lagu ini dalam keadaan sedang jatuh cinta beneran. Dengan Kibum. Tapi aku terlalu takut menghadapi dia. Takut ditolak mentah-mentah. Takut disangka sama aja kayak cewek-cewek lain yang naksir dia. Meskipun dia sudah bilang kalau aku ini berbeda, tapi aku tetap malu. Ini mungkin akan jadi caraku yang pertama dan terakhir untuk ngungkapin perasaanku ke dia, lewat Pretty Boy ini.

And what can I say to make you mine

To reach out for you in time

Ngga ada lagi yang bisa kulakuin, aku ini emang payah…

Tapi tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depanku, dengan napas ngos-ngosan. Kibum. Aku bengong.

“Ikut aku,” dia menarik tanganku dan kami keluar dari perpus.

***

KIBUM’S POV

“Ternyata itu bener kamu,” kataku.

Kami duduk berdua di atap sekolah, menatap lapangan sepak bola, tempat parkir, dan pintu gerbang sekolah dari sini. Hyun Ran diam saja. Ngga berusaha untuk bicara apapun.

“Boleh tahu, kenapa kamu melukisku di atas kertas polos?”

“Soalnya kalau pakai kanvas ribet,” jawabnya. Kami tertawa.

“Serius nih.”

“Mungkin,” Hyun Ran menatap langit. “Karena aku suka kamu apa adanya. Polos tanpa hiasan apa-apa, ngga peduli kedaanmu kayak gimana.”

Aku tertegun. Sekian banyak cewek-cewek yang terus terang ingin pacaran denganku, tapi baru kali ini ada cewek yang seperti ini.

“Tapi kenapa waktu kita chatting, kamu ngga bilang kalau namamu Hyun Ran?” tanyaku lagi.

Hyun Ran berbalik memunggungiku. “Aku pikir, kamu ngga perlu tahu siapa aku, yang penting kita bisa deket dan ngobrol banyak hal. Tapi setelah aku sadar kalau kamu pernah lihat sketsa bikinanku, aku bener-bener malu. Kupikir kamu bakalan nganggap aku sama saja kayak cewek-cewek lain. Aku jadi ngga percaya diri.”

Aku spontan memeluknya dari belakang. Hyun Ran panik, dia berusaha mendorong tubuhku menjauh darinya.

“Apa-apaan kamu?” jeritnya panik.

“Saranghaeyo, Hyun Ran,” kataku. Dia berhenti bergerak. Aku memeluk pinggang dan tangannya hingga tangannya ngga bisa gerak sama sekali.

“Saranghaeyo,” kataku lagi.

“Apa ini semua cuman karena aku beda dari yang lain?” tanyanya. “Karena aku ngga ngejar-ngejar kamu kayak cewek-cewek lain, ngga berusaha deket sama kamu, ngga berusaha ngasih kamu coklat Valentine?”

“Bukan,” jawabku, masih memeluknya. “Tapi karena waktu aku tanya ke diriku sendiri kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu, aku ngga tahu jawabannya apa.”

Hyun Ran ngga menjawab apa-apa.

“Jangan menghindariku, Hyun Ran.”

Oh my pretty pretty boy

I love you

Like I never ever loved no one before you

Pretty pretty boy you’re mine

Just tell me you love me too

Lagu itu sayup-sayup terdengar hingga ke atap sekolah, tapi ngga tahu kenapa bisa terdengar dengan jelas di hatiku. Sudah lama aku menerima sebutan pretty boy, tapi baru kali ini aku merasa bahagia.

“Aku sudah bilang cinta padamu, apa lagi?” bisikku. “Katakan sesuatu…”

“Na do saranghae,” katanya. Dia perlahan mendorong tanganku yang melingkar di pinggangnya, berputar menghadapku dan memelukku lagi.

“Mungkin cewek-cewek bakalan ngamuk kalau tahu aku meluk-meluk cowok ganteng di atap sekolah,” katanya.

“Cuek aja,” kataku.

Kami tertawa.

THE END

44 responses to “Pretty Boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s