Lucifer Life (Lucifer In My Soul) Part 3-end

Lucifer Life (The Lucifer in My Soul)

Part 3 (ending)

 

***

Main Cast: Lee Taemin SHINee

Other Cast: Park Ran-Ran

Ratting: PG

Genre: Horor, Friendship, Ambigu(kagak nyambung deh yak!)

Length: 3 shot

Author: Park Ran-Ran (Triple Park)

A/N: Ini cerita 100% murni hanya karangan author, hanya beberapa aja yang memiliki kebenaran, jadi buat reders yang meragukan kebenaran dari semua realita dalam fanfic ini ya sah-sah aja… Hehehehehe… Biarpun gitu, tetep aja ini fanfic 100% juga karangan asli dari author! (park ran-ran).

***

Nah, akhirnya sampe juga di part terakhir, oya author mau ngingatin, di Fanfic ini kunci ceritanya ada di Prolog sama Part 3 ini, jadi yang cuman nyimak dari Part 1, sama Part 2 bakal susah nangkep apa yang Ran maksud sebenernya, jadi bagi yang belum baca Prolog diharapkan untuk membaca dahulu… ^_^

 

Buat semua readers yang masih setia MAKASIH BANGEETTT! Maaf gak bisa Ran balesin komentnya satu-satu, yang pasti Ran udah tau siapa aja yang komeenntttt….

Hehehehe….

Semoga buat yang udah koment diberikan Ganjaran yang setimpal AMEN… (???)

 

BACA FANFICNYA, RESAPI CERITANYA, JANGAN LUPA KOMENTNYYYAAAAAAA….

GHAMSAMNIDA….  *bow 90 drajat*

 

Hahahahahahahaha….. *author sableng*

***

 

Semuanya Akan terungkap, Misteri dibalik semua kejanggalan ini akan segera timbul dari permukaan, Tirai kebenaran akan terbuka, dan semuanya akan terjai tanpa kau duga sama sekali…

***

 

Taemin P.O.V

 

Sudah 2 Hari aku dan Ran-Ran saling diam, bahkan aku sendiri tak mengerti apa alasannya. Semua bermula saat 2 hari yang lalu ia melarangku untuk memakai kalung cross yang diberikan oleh Bibi Han padaku. Entah mengapa sejak saat itu aku merasa ada yang janggal dengannya. Ia tiba-tiba saja terdiam saat bertemu denganku, lebih tepatnya saat melihat kalung Cross itu.

KRRIINGGG!!

 

Bel tanda istirahat berbunyi nyaring, aku dan semua siswa lain berbondong-bondong meninggalkan kelas dan berjalan menuju kantin sekolah, namun langkahku terhenti, tatkala melihat Ran-Ran berjalan ke arah lain, ya aku melihatnya tidak pergi ke kantin melainkan…. Kebun belakang sekolah!

Ran-ran terduduk di bawah sebuah pohon dan dengan tiba-tiba segumpal Cahaya mendekati Ran-Ran, tiba-tiba saja keningnya berkerut dan di tangannya terdapat sebuah buku mungil bersampul putih susu. Ia kemudian mengangguk dan bergumam sesuatu, aish kenapa dia aneh sekali eoh?

Dengan perasaan janggal aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

 

End Of Taemin P.O.V

Ran-Ran P.O.V

KRIINGG!!

Bel tanda keluar mainpun berbunyi, segera kulangkahkan kaki menuju kebun belakang sekolah dan menuju sebuah pohon dan terduduk di bawahnya, tiba-tiba saja segumpalan Cahaya menekatiku.

 

“Ran-Ran~ah, aku datang ke mari disuruh oleh Dewan Tinggi Malaikat untuk menyampaikan sesuatu padamu”, ucapnya.

“Oh, aku mengerti, katakana saja apa Informasi yang kau bawa”, balasku

“Dewan tertinggi mengatakan bahwa puncak Tugasmu sudah dekat, sebentar lagi nyawa manusia itu akan diambil secara sah, saat ia berumur 17 tahun”, jelasnya.

“Aku tau, apa yang seharusnya aku lakukan? Aku bingung, apalagi ia sekarang sudah mengenakan kalung itu! Kalung Cross dengan lilitan merah di tengahnya, bukankah itu kaluang milik Lucifer?”, ucapku seraya menghela nafas dalam-dalam.

“Ya, Dewan sudah mengetahui akan hal itu dan memberikan buku ini”, tiba-tiba saja sebuah buku bersampul putih susu terdapat di tanganku.

“Apa ini?”, tanyaku bingung.

“Kata Dewan itu adalah buku panduan untuk membantumu menyelesaikan semua ini”, jawabnya. Aku mengangguk cepat. Tak lama kudengar suara kaki berjalan menjauhi kami.

“Kau sadar tidak Ran, manusia itu mengawasi kita dari tadi!”, ucapnya penuh penekanan.

“Aish biarkan saja, toh dia tidak tau apa yang kita bicarakan”, ujarku santai.

“Baiklah Ran selamat menjalankan tugasmu kembali, ingat jangan buang-buang waktu, manusia itu adalah target utama kita, Araseo?”.

“Ne”, jawabbku singkat. Dan seperdetik kemudian cahaya itu kembali meninggalkanku.

 

End Of Ran-Ran P.O.V

Taemin P.O.V

“Ran-Ran~ah”, aku memanggil namanya pelan, berharap Yeoja di hadapanku ini akan berhenti dan menatapku bak sejenak. Dan huala!!

“Wae Taeminie?”, tanyanya dengan wajah datar, TANPA SENYUMAN!

“Kau kenapa? Marahkah padaku?”, tanyaku ragu.

“Ani, aku tidak marah kok”, jawabnya lagi dengan ekspresi datar.

“Apa soal kalung Cross ini?”, ucapku seraya menunjukkan kalung Cross tersebut.

“Molla”, begitu singkat jawaban dari mulutnya.

“Aish Ran, jangan begini terus kau tau! Jika aku salah tolong berikan alsanmu Ran, aku benar-benar tidak mengerti, kau tau!!”, ujarku sedikit berteriak.

“Jadi, kau mau tau alasannya?”, tanyanya. Aku mengangguk. Ia tersenyum tipis kemudian menarik tanganku menuju suatu tempat.

***

 

“Ini dimana Ran?” tanyaku bingung.

“Rumahku”, jawabnya santai.

“Kau tinggal sendirian?”, tanyaku lagi. Ia mengangguk.

“Kau tinggal sendirian di tempat semegaah ini?”, tanyaku tak percaya, karena kulihat rumahnya besar, mungkin sama besarnya dengan rumahku, bedanya hanya di sini ia tinggal sendirian, bayangkan saja SENDIRIAN!

“Yup, memangnya kenapa?”, tanyanya datar. Aku menggeleng.

“Oya kita langsung ke topik saja ya Taeminie, kau mau tau kan alasanku?”, tanyanya. Aku terdiam sejenak.

“Oke, aku akan To The point saja ya, aku sebenarnya tau kau keturunan Lucifer, benar?”, Aku membulatkan mata mendengaar ucapannya.

“Da..Darimana kau..”.

“Aku tau karena aku juga bukan manusia biasa, ya setingkat dengan Lucifer lah, hanya saja aku lebih suci”, jelasnya. Aku makin terdiam mendengarnya.

“Aku tau bahwa Lucifer akan mengambil jiiwamu saat umurmu menginjak 17 Tahun, dan aku bertugas untuk menyelamatkanmu!”, jelasnya.

“Maksudmu?”, aku mengerenyitkan dahi.

“Ya, aku ditugaskan oleh pimpinanku untuk menyelamatkanmu dari dunia ini”, ujarnya kemudian.

“Ba..bagaimana caranya?”, kurasa aku tak percaya padanya saat ini.

“Hmm, ya dari buku panduan yang kubaca aku harus membunuhmu tepat di umurmu yang ke 17 Tahun”, Aku terdiam tak bergeming. Membunuh? Hei, apa maksudnya, bukankah kalau membunuhku berarti sama saja dia membantu Lucifer itu untuk mengambil nyawaku!! Benar kan??

“KAU GILA! Jika begitu berarti sama saja kau membantu Lucifer itu untuk mengambil nyawaku!!!”, teriakku kemudan berlari keluar dari rumah tersebut dan berusaha secapat mungkin menuju ke rumah. SIAL!!
Benar-Benar sial jika hidup sebagai diriku!!! ARRRGHH!!!

End Of Taemin P.O.V

Ran-Ran P.O.V

 

Aish, kenapa anak manusia itu harus lari! Aku bahkan belum sempat menjelaskan setengahnya!!

Baiklah jika dia tidak mau mendengarku apa kalian mau mendengarku?

Hmm, memang benar kok cara untuk menyelamatkaannya hanya dengan cara Membunuhnya!

Eits jangan salah paham dulu, aku membunuhnya karena memang dia harus mati dari dunia Lucifer ini!

Masih belum pahamkah?

Dunia ini, dunia yang lagi kupijak dan Taemin pijak adalah dunia Lucifer, bukan dunia manusia.

Apa kalian paham?

Taemin dan Aku juga sebenarnya hidup di sini dengan tidak memiliki raga asli, bingung?

Ok aku jelaskan.

Taemin merupakan anak manusia yang menjadi salah satu ‘milik’ Lucifer, dari kecil ia harus menanggung kenyataan tersebut, karena Ibunya telah dijebak oleh Lucifer, Tapi Lucifer yang terlalu serakah langsung mengambil Jiwa Taemin dari raganya dan membuat Taemin terombang ambing di dunia, antara hidup dan mati. Hal itu yang menyebabkan Tuhan tidak menyukai hal ini, sebab pada intinya Lucifer sudah melanggar janjinya bahwa ia tidak akan mengambil Jiwa seorang anak bayi (ingat yang di part 2 kan? Waktu Taemin buka buku Lucifer Life itu).

 

Nah, oleh karena itu aku diutus oleh Dewan Malaikat Pelindung untuk melindungi Taemin dan mengembalikannya kepada raga aslinya di dunia manusia, maka benarlah tugasku yang harus membunuhnya, karena jika statusnya di dunia Lucifer ini mati, maka ia akan hidup di dunia manusia kembali, tapi aku harus segera membunuhnya saat umurnya 17 tahun, dan itu tinggal 5 hari lagi.

 

Namun, hal yang paling sulit saat ini terletak pada cross itu yang sialnya dipakai oleh Taemin, kalung itu berfungsi untuk melindungi Taemin dari kematian dan membuat Taemin tetap hidup, sehingga jika aku ingin membunuhnya aku harus menyingkirkan kalung itu, makanya dari kemrin sudah kukatakan pada Taemin bahwa kalung itu harus dilepasnya, tapi ia menolak, kurasa suruhan Luicfer itu sudah memberikan sebuah pemikiran yang benar-benar membuat Taemin percaya akan semua kebohongan yang terjadi. Menyedihkan!!

 

Nah apa kalian sudah mengerti sekarang? Kalau belum ya nanti akan kujelaskan, yang pasti aku harus menyusun rencana untuk menyelesaikan tugas berat ini.

 

End Of Ran-Ran P.O.V

Author P.O.V

Kini 3 Hari sudah berlalu, Ran-Ran dan Taemin kembali terdiam sattu sama lain, bahkan akhir-akhir ini terkesan seakan-akan Taeminlah yang takut akan kehadiran Ran-Ran di sampingnya. Setiap Ran-Ran akan mendekatinya, entah apapun alasan ia keluarkan agar mereka tak saling bicara. Kedua makhluk ini sekarang benar-benar bergumul dengan perasaan masing-masing. Ada yang takut, gelisah, sedih, tidak nyaman, semuanya bergabuung dalam hati mereka berdua, menyebabkan suatu gumpalan rasa yang benar-benar tidak tertebak.

 

“Taemin~ahh, jebal dengarkan aku sebantar saja”, Ran-Ran kembali mencoba memanggil Taemin.

“Mianhe Ran aku harus…”.

“Jebal Taeminie, sebentar saja, aku mohon”, Ran-Ran mengeluarkan sebuah nada memohon yang membuat Taemin kehilangan semua alasan-alasannya kali ini.

Terdiam… mereka saling terdiam sejenak.

“Taeminie, bisakah kau percaya pada perkataanku beberapa hari yang lalu?”, tanya Ran-Ran sedikit ragu, ragu dengan apa yang ia tanyakan.

“Molla”, jawab Taemin singkat.

“Aku harap kau percaya Taemin, sebab nanti malam tepat pukul 12 kau akan menginjak umur 17 tahun”, ucap Ran-Ran gugup.

“Lalu, jika tujuanmu hanyalah untuk membunuhku, bukankah itu sama saja membuatku meninggalkan dunia ini dan menyerahkan jiwaku pada Lucifer  kan?”, tanya Taemin dengan nada dingin. Ran-Ran menatap Taemin dengan tatapan dalam.

“Aniyo Taemin~ah, jika kau bisa percaya padaku maka aku akan mempertemukanmu dengan Appa juga Ummamu”, jelas Ran-Ran.

“Mempertemukan kami dalam kematian maksudmu? Appa dan Ummaku sudah meninggal Ran!”, nada suara Taemin mulai meninggi.

“Siapa yang bilang? Apa kau benar-benar sudah membuktikan bahwa Umma dan Appamu sudah meninggal? Apa kau tau penyebabnya? Bahkan makam mereka saja kau tidak tau sampai sekarang, iya kan??”, Ran-Ran nampaknya kini sudah naik darah. Namun, bagaikan beku, Taemin tidak mengindahkan perkataan Ran-Ran.

“Jika kau hanya ingin membentakku dan menanyakan hal-hal tidak penting, lebih baik aku pulang saja”, ucap Taemin dingin seraya melangkah pergi.

“Taeminie, aku akan menunggumu nanti malam, Jika pemikiranmu tiba-tiba berubah, aku ada di sekolah, menantimu untuk memberikan hidup baru! Tanpa ketakutan! Dan tanpa bayang-baayang Lucifer!”, teriak Ran-Ran frustasi, namun benar-benar tak diindahkan oleh Taemin yang masih juga melangkahkan kaki menjauh.

 

End Of Author P.O.V

Taemin P.O.V

“Siapa yang bilang? Apa kau benar-benar sudah membuktikan bahwa Umma dan Appamu sudah meninggal? Apa kau tau penyebabnya? Bahkan makam mereka saja kau tidak tau sampai sekarang, iya kan??”.

Kenapa ucapan Ran-Ran tadi siang masing terngiang di kepalku ya? Entah kenapa mulai membuatku sedikit berfikir bahwa Ran-Ran ada benarnya juga, SEDIKIT loh!

 

“Tuan Muda, ayo makan malam”, suara Bibi Han membangunkanku dari alam pemikiran yang tadi sempat kujelajahi.

“Ne bi”, ucapku singkat lalu berjalan menuju meja makan.

 

Setelah makan malam aku kembali menuju ke kamarku, kemudian berkutat sendiri dengan pikiranku yang lagi-lagi memunculkan suatu pertanyaan besar “APA TUJUAN RAN-RAN SEBENARNYA?”. Sebab kalian tau dari awal kemunculannya di hadapanku selalu membawa hal-hal yang aku tidak mengerti sampai sekarang. Dan nanti malam adalah puncaknya, puncak dimana nyawaku akan benar-benar dipertaruhkan.

 

 

 

Jam kini menunjukkan pukul 11.00 waktu setmpat (???), sudah sejak 3 jam yang lalu aku berdiam diri, mencoba untuk tidur tapi tidak bisa, perasaan kalut hinggap begitu saja dalam hatiku. Padahal seharusnya aku tidak usah gelisah, toh aku sudah dilindungi oleh kalung Cross itu.

Kulepas kalung tersebut dan kuperhatikan secara saksama, perlahan aku mengerutkan kening saat melihat kalung tersebut. Awalnya kalung tersebut berwarna hitam dengan lilitan benang merah, bukan?

Tapi kini, cross tersebut terlilit benang berwarna hitam! HITAM!!

Kenapa bisa berubah?

Niatku ingin sekali mempertanyakan hal ini dengan bibi Han. Aku melangkahkan kaki menuju Dapur, hendak mendatangi kamar Bibi Han.

Namun, mataku melebar seketika, saat melihat Bibi Han di dapur tengah melahap sesuatu dengan keadaan  sesuatu yang lembek dan berwarna merah, OMO! Itu daging! Daging mentaaaah!!!

Betapa kaget dan takutnya aku saat ini, tanganku bergetar, kalung cross tersebut terjatuh dari tanganku sehingga membuat Bibi Han beralih menatapku. Ia menyeringai sangat seram sehingga membuatku bergidik ngeri.

 

“Tuan Muda, ada apa anda ke sini malam-malam? “, ia kembali menyeringai sambil berjalan mendekatiku.

“Men..Menjauh, Si..Siapa kau sebenarnya eoh?”, tanyaku penuh ketakutan, ia kini malah terkikik nyaring, membuat bulu kudukku berdiri.

“Saya adalah pengabdi anda Tuan, kenapa anda jadi aneh begini? Hihihihihi”, Aku tak sanggu lagi, segera aku melangkahkan kaki jenjangku ungtu berlari, keluar dari pekarangan rumah yang luas ini, namun saat di gerbang aku kembali melihat sosok bibi Han kini ditemani dengan Pak Kim. Sosok mereka berdua perlahaan berubah, dari yang tadinya bersosok manusia, kini berubah menjadi sosok Makhluk menyeramkan, dengan bola mata kemerahan dan bulu lebat di tubuh mereka, serta dua tanduk di kepala mereka.

 

“Mau kemana kau Lee Taemin!!”, suara mereka pun tiba-tiba menjadi berat dan begitu bergema, itu bukan seperti suara manusia.

“Ming..Minggir, Minggiiiiirrr!!!”, teriakku seraya mencoba menerobos mereka. Namun, tentu saja hal itu sia-sia, malah aku yang dengan mulusnya terlempar ke belakang.

“Kau tidak akan bisa kemanapun Taemin! Kau akan menjadi bagian dari kami”, ucap mereka kemudian. Perlahan tubuhku bergetar, air mataku mengalir keluar dari pelupuk mataku, aku sudah benar-benar tak tau harus bagaimana sekarang.

“Taeminie, aku akan menunggumu nanti malam, Jika pemikiranmu tiba-tiba berubah, aku ada di sekolah, menantimu untuk memberikan hidup baru! Tanpa ketakutan! Dan tanpa bayang-baayang Lucifer!”. Tiba-tiba saja aku teringat akan ucapan terakhir Ran-Ran. Baru aku sadari sekarang, ia benar, semua yang ia katakana harusnya kuturuti sejak awal!!

“Tuhan, Bantu aku, bawa aku kembali ke umma dan appaku”, batinku kemudian kembali berdiri dan menatap dua makhluk menyeramkan di depanku. Dengan perasaan bimbang aku kembali mencoba menerobos dua makhluk tersebut.

1….

 

2….

 

3….

 

Aku berlari sekencang mungkin menabrak kedua makhluk itu, entah ada kekuatan apa aku bisa menerobos mereka dan berlari sekencang mungkin. Tujuanku saat ini adalah sekolah! Aku ingin bertemu Ran-Ran, aku ingin mengikuti semua perkataannya, aku ingin bertemu appa dan ummaku! Aku ingin bahagiaaa!!

Tunggu aku Ran!

End Of Taemin P.O.V

Ran-Ran P.O.V

 

Tap…

Tap…

Tap…

 

Kudengar suara langkah mendekat, sebuah senyum kecil merekah di bibirku. Apakah itu Taemin? Apa ia berubah pikiran?

 

“Berhentilah menunggui bocah itu malaikat bodoh!”, sebuah suara bass yang menggema tiba-tiba saja mengagetkanku. Aku menoleh dan mendapati bahwa sosok tersebut bukanlah Taemin, melainkan LUCIFER!

“Apa maksudmu?”, aku memincingkan mata ke arahnya, ia menyeringai kecil.

“Ya, manusia itu sudah kuamankan di kawasanku, dan ia tak akan ke sini, sebab dua suruhanku tengah menjaganya di sana, jadi jangan bermimpi kau akan bisa menyelamatkan nyawa suci itu!”, jelasnya angkuh.

“Aku yakin ia akan datang! Dan aku yakin Tuhan akan membimbingnya kepada kebahagiaan! Bukan ke tanganmu yang penuh dengan kebusukan itu!”, makiku. Ia terkekeh mengerikan.

“Kau tidak pantas mendapatkan nyawa suci sepertinya Lucifer! Karena itu berdasarkan perjanjian yang curang! Kau menjebak keluarganya, itu sudah melanggar kewajibanmu sejak awal!”, ucapku lagi.

“Lalu, kalau aku memang begitu kau mau apa eoh?”, ia kemudian mengambil ancang-ancang untuk menyerangku.

“Aku tak akan membiarkan itu terjadi!”, lanjutku.

“Kalau begitu, aku harus menyingkirkanmu”, ucapnya lalu mulai menyerangku secara bertubi-tubi.

Awalnya aku bisa menghindar dan menangkis serangan kasarnya itu, namun beberapa saat kemudian aku mulai kewalahan menghadapinya.

“Argghh!”, pekikku saat serangannya mengenai lengan kananku.

“Hahahaha, sudah kuduga kau bukan ahlinya! Sebentar lagi kau akan kusingkirkan! Dan akan kubuktikan kepada Tuhanmu bahwa aku lebih hebat daripada IA! Hahahahaha”, SIAL! Dia mengumpat dengan kata-kata yang membuatku benar-benar tidak terima! Namun belum juga aku membalasnya ia langsung menghantamkan kekuatannya kea rah perutku, hingga kini cariran merah pekat mengaalir keluar dari mulutku.

“Dengan satu hantaman lagi, kau akan MATI! Hahahahahaha”, Sang Lucifer kembali akan menghantamku untu yang ketiga sekaligus yang terakhir untukku.

“Maafkan aku Tuhan, aku memang tidak pantas menjadi abdimu”, batinku penuh sesal. Aku menutup mataku, berusaha tidak merasakan apapun.

3….

 

2….

 

1…

 

“Arrrrrrrrgggghhhh!!”, suara teriakan mengagetkanku. Aku membuka mataku perlahan dan menemukan Taemin tengah tersungkur di hadapanku dengan darah bercucuran keluar dari muulutnya.

“Taeminiee!!”, teriakku lemah ke arahnya.

“Mianhe Ran, aku tidak mempercayaimu, mianhe, sekarang aku sudah mengikuti saranmu kan, aku harus mati!”, ucapnya lemah, matanya sayu dan hampir tertutup. Kurasakan nafasnya tersengal, pertanda ia akan meninggalkan dunia ini sebentar lagi.

“Gomawo Taeminie, aku akan mennepati janjiku, kau akan bahagia setelah ini”, bisikku pelan di telianganya. Ia mengangguk kecil kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di dunia ‘Mengerikan’ ini!  Aku beralih menatap sang Lucifer, ia terperangah, matanya melotot tajam ke arahku dan Taemin yang kini sudah meninggal dari dunia ini.

“Nah Tuan Hebat, bahkan anda sendiri yang sekarang telah membantuku, Gomawo atas semuanya”, ucapku seraya terkekeh ke arahnya.

“KUURANG AJAAARRRR!!!!”, teriaknya saat ragaku mulai terangkat dan sayap putihku mulai terkembang.

“Misi Selesai”, gumamku bersyukur.

End Of Ran-Ran P.O.V

Author P.O.V

 

Tit…

Tit…

Tit…

 

“Dokter, detak jantungnya mulai teratur”, teriak seorang suster rumah sakit kepada seorang dokter paruh baya, sang dokter langsung memeriksa denyut nadi si pasien yang setelah sekian tahun memiliki detak jantung yang lemah kini kembali normal.

 

“Benar, coba panggilkan keluarga pasien”, ucap sang dokter, sebuah senyum simpul menghiasi wajahnya.

“Ada apa dengan anak kami dok?”, tanya sebuah suara namja paruh baya pada dokter tersebut.

“Tuan Lee, Ny. Lee, anak anda sudah menunjukkan tanda-tanda membaik, detak jantungnya kembali normal”, ucap sang dokter bahagia.

“Benarkah dok?”, tanya yeoja yang dipanggil Ny. Lee itu. Ia segera menghampiri si Pasien yang berwajah pucat namun kini sudah menunjukkan tanda-tanda membaik.

“Ia Nyonya, Tuan, saya rasa Taemin sebentar lagi akan membaik”, jelas sang dokter.

“Akhirnya, Taemin anakku”, Nyonya Lee menggenggam jemari anaknya yang kini telah genap berusia 17 Tahun, selama itu pula sang anak tak pernah sadarkan diri.

Tuhan memang baik, dengan mukjizatnya akhirnya Taemin membuka matanya perlahan dan mengerjapkannya beberapa kali. Nyonya dan Tuan Lee yang melihat hal itu langsung terkejut dan memeluk Taemin erat.

“Taemin! Akhirnya kau sadar nak, ini Umma hiks, ini umma nak”, ucap nyonya Lee sambil menitikkan air matanya, bukan air mata kesedihan, namun air mata kebahagiaan, kebahagiaan yang ia tahan selama 17 tahun.

“Ini Appa nak, ini Appa”, teriak tuan Lee tak kalah senangnya, putra yang ia nanti-nanti akhiirnya diselamatkan juga oleh Tuhan, semua doanya telah dikabulkan.

“Appa, Umma”, gumam Taemin pelan, nyonya serta tuan Lee menatap Taemin lekat-lekat.

“Iya nak, selamat datang kembali”, sambung Nyonya Lee.

End Of Author P.O.V

Taemin P.O.V

“Taemin! Akhirnya kau sadar nak, ini Umma hiks, ini umma nak”, ucap seorang Yeoja paruh baya saat aku membuka mataku perlahan. Dan ia berkata bahwa ia Ummaku! Benarkah? Benarkah ia ummaku?

“Ini Appa nak, ini Appa”, sahut seorang namja di sebelahnya, dan ia bilang dia appaku! Benarkah? Benarkah ia appaku?

“Appa, Umma”, gumamku pelan.

“Iya nak, selamat datang kembali”, ucapnya kemudian.

Selamat datang kembali? Benarkah? Aku sudah kembali! Setelah perjuangan yang keras, inikah kebahagiaanku?

Tak terasa setetes cairan bening mengalir begitu saja di pipiku.

“Wae Taeminie? Kenapa menangis? Uljima chagiya”, ucap Ummaku sambil memelukku erat, erat namun tetap hangat, pelukan khas seorang ibu yang selama ini aku rindukan. Aku membalas pelukannya perlahan.

“Umma Bogoshippo”, bisikku di telinganya.

“Nado baby, nado”, umma masih terisak di pelukanku, dan aku kembali tak bisa membendung air mata ini, air mata kebahagiaan.

Terima Kasih Tuhan, Terima kasih, kau telah mengirimkan Ran-Ran untuk menolongku, Gomawo Ran, jeongmal….

 

3 hari kemudian….

 

“Taeminie, ayo ceritakan pada umma apa yang kau alami selama ini?”, tanya umma saat aku dan kedua orang tuaku berada dalam perjalanan ke rumah, ya hari ini aku baru diperbolehkan keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah.

“waah, panjaaaanggg ceritanya umma”, ucapku sambil tertawa.

“Ayo ceritakan saja Taeminie, appa dan umma penasaran”, lanjut appa semangat.

“Baiklah”, ucapku dan akhirnya menceritakan semua pengalamanku dari awal, lalu tentang bibi han, lalu tentang Minchi, Sulli, Mi Kyong sampai Ran-Ran aku ceritakan semua, umma dan appa yang mendengar ceritaku sungguh tercengang, dan appa juga mengaku bahwa beliau tidak pernah menuliskan agenda apapun semasa hidupnya, jadi agenda siapa yang kubaca waktu itu?

 

“Nah, ya sudah, pas terakhirnya aku merasa meninggal, eh tau-taunya pas sadar aku langsung bertemu umma dan appa”, ucapku mengakhirir semua cerita panjang selama aku hidup di dunia mengerikan itu.

 

“Oya umma, bolehkah aku bertanya sesuuatu?”, tanyaku ragu.

“Ne, memang kau mau tanya apa?”, umma menatapku lembut.

“Hmm, aku mau tanya, kenapa sampai umma dan appa bisa berurusan dengan Lucifer, dan kenapa aku bisa masuk ke dalam kehidupan Lucifer? Apa kalian menjadikanku, err tumbal?”, tanyaku gugup. Umma dan appa berpandangan satu sama lain, kemudian , menghela nafas panjang.

 

“Apa aku salah bertanya?”, tanyaku lagi. Umma menggeleng kemudian mensejajarkan matanya dengan mataku.

“Mianhe Taemin, ini salah umma”, ucap umma pelan.

 

Flashback (Author P.O.V)

“Chagi aku pergi dulu ya, kau baik-baik di rumah, jangan terlalu lelah, ingat kondisimu ya”, Tuan Lee mencium kening Nyonya Lee lembut.

“Ne chagi, sekali lagi Mianhe”, ucap Nyonya Lee lirih. Tuan Lee mengangkat alisnya bingung.

“Untuk apa chagi?”, tanya Tuan Lee.

“Karena kepositifan bahwa aku mandul, kau jadi tidak bisa memiliki keturunan, seharusnya kau tidak menikahiku sejak awal”, suara Nyonya Lee terdengar sedikit bergetar, disusul dengan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.

“Ssstt, chagi uljima, ini sudah takdir, jangan terlalu siksa dirimu ne, aku tidak apa-apa kok, nanti kan kita bisa mengadopsi anak, uljimma nee”, Tuan Lee berusaha menenangkan istrinya.

“Gomawo”, ucap Nyonya Lee pelan.

“Ne, cheonmananyeo”, balas Tuan Lee kemdian mengecup keniang istrinya kembali.

“Baik-baik di rumah ne”, Tuan Lee mulai berpamitan pergi.

“Ne, hati-hati chagi”, balas Nyonya Lee saat suaminya mulai berangkat menggunakan mobil pribadinya untuk pergi ke luar kota. Ya, Tuan Lee memanglah seorang pengusaha hebat yang sering keluar kota bahkan keluar negri. Itulah makanya nyonya Lee sudah sedikit terbiasa untuk hal ini.

 

Malam Harinya….

 

“Andai saja aku tidak mandul”, batin nyonya Lee lagi. Ia kembali menyesali kekurangannya tersebut.

“Hai manusia, mengapakah engkau bersedih?”, sesosok makhluk yang diselimuti cahaya merah tiba-tiba saja dang menghampiri nyonya Lee yang saat itu tengah menangis.

“K..kau siapa?”, tanyanya gugup.

“Tenanglah manusia, aku bisa menolongmu untuk mengatasi semua masalahmu”, ucap cahaya asing itu lagi.

“Maksudmu apa eoh?”, nyonya Lee masih tidak mengerti dengan apa yang makhluk tersebut ucapkan.

“Aku tau kalau kau sedang sedih karena tidak bisa memiliki keturunan, dan aku bisa membantumu untuk memiliki keturunan, walaupun pada kenyataannya kau memang mandul”, jelas cahaya asing itu.

“Jadi kau bisa? Bagaimana caranya?”, Nyonya Lee terdengar begitu antusias, sampai-sampai sepertinya ia tak mempermasalahkan apa dan siapa sosok itu sebenarnya.

“Tentu saja aku bisa, aku mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia awam seperti kalian, aku akan membantumu dengan satu syarat!”, Nyonya Lee mengangkat alisnya mendengar perkataan tersebut.

“syarat apa?”, tanya Ny. Lee bingung.

“Kau ingin seorang aegya Namja atau Yeoja?”, tanya Cahaya itu kemudian.

“Yeoja”, jawab Ny. Lee

“Kalau begitu syaratnya, apabila anakmu Yeoja maka ia akan menjadi milikmu, tapi jika anakmu namja maka ia akan menjadi milikku, bagaimana?”, tanya cahaya itu dengan nada yang angkuh.

“Maksudmu jika nanti anakku namja maka kau akan mengambilnya?”, ;ujar Ny. Lee tidak percaya.

“Ne”, jawab chaya itu tegas.

“Aku tidak yakin kalau…”.

“Kalau kau ragu aku tidak akan membantumu”, potong cahaya tersebut.

Ny. Lee benar-benarr sedang berfikir sekarang, berfikir apa ia harus mengiyakan kata-kata dari Cahaya asing itu atau memilih tidak memiliki keturunan selamanya!

“Baiklah aku mau!”, entah apa yang terjadi sehingga Ny. Lee sampai berbicara demikian kepada cahaya asing itu.

“Baik Ny. Lee, perjanjian sudah terjadi”, ucap suara itu lalu pergi sambil tertawa puas. Puas karena satu mangsanya kembali masuk ke dalam peranggkap, dengan demikian maka akan bertamabah satu abdi suci baginya dan kerajaaan gelapnya!

 

9 bulan kemudian…

 

Setelah Ny. Lee sembilan bulan yang lalu dinyatakan hamil akhirnya waktu yang dinanti-nanti pun tiba, saat dimana Ny. Lee akan berjuang antara hidup dan mati untuk sebisa mungkin membawa anak yang ada di dalam kandungannya untuk hidup di dunia ini.

Namun, di lubuk hatinya yang terdalam sebenarnya Ny. Lee sedang dilanda oleh sebuah ketakutan, sebab ia takut apabila anaknya adalah Namja, sebab itu akan sama saja ia kehilangan anak yang selama 9 bulan ia kandung dan ia inginkan agar bisa menjadi anaknya dan penerus dari keluarganya kelak.

Dalam hati Ny. Lee berdoa semoga keberuntungan Tuhan  masih berpihak padanya, namun…….

 

“Hoooeeekkkk”, suara  bayi menggema keras di dalam ruangan.

“Selamat Ny. Lee aegya anda seoran namja yang sangat luuci dan sehat”, ucap sang dokter dengan penuh rasa bahaagia.

“Namja? Aegyaku namja!”, batin Ny. Lee kaget.

“Anakmu namja, berarti dia milikku”, samara-samar terdengar suara berbisik yang angkuh seraya tertawa penuh kemenangan. Dan tiba-tiba saja sang anak berhenti menangis, lantas membuat dokter dan segenap suster yang berada di ruangan tersebut menjadi terkejut.

“Ada apa ini?”, sang dokter coba mengecek denyut nadi si anak.

“Ny. Lee, detak jantung anak anda tiba-tiba saja melemah, sepertinya ada yang tidak beres!”, ucap sang dokter lagi. Ny. Lee yang  masih lemah langsung menitikkan air matanya, menyesal! Sungguh menyesal dengan semua yang sudah terlanjur terjadi!

“ANNNNNDDWWEEE!!!”, teriak Ny. Lee frustasi.

End Of Flashback (Taemin P.O.V)
”Jadi semua itu hanya jebakankah umma? Sehingga aku jadi bagian dari Lucifer itu?”, tanyaku saat umma selesai menceritakan semuanya.

“Ne, umma berharap kau tidak membenci umma akibat kejadian ini, umma menyesal Taemin, sangat menyesal, untung saja Tuhan masih mau mendengarkan doa Umma dan Appamu”, ucap Ummaku, matanya mulai berkaca-kaca dan akhirnya ia kembali menangis. Kuusap air matanya lembut.

“Sudahlah umma, aku tidak akan membenci umma ataupun appa, yang jelas ini semua membuktikan kalau umma dan appa memang menyayangiku”, ucapku seraya tersenyum manis kepada mereka.

“Tentu, ayo kita sudah sampai di rumah, wellcome home baby”, ucap appa sambil memandang ke arahku.

“Ne”, balasku dengan senyum, senyum untuk awal hidup baruku bersama umma dan appaku.

 

Beberapa Minggu Kemudian….

 

KKKRIIINGGGG!!

Bunyi bel masuk membuatku duduk rapid an siap menjalani sekolah hari ini.

Hhaaahhh, satu lagi hari baruku sebagai manusia normal, ne hanya manusia normal yang bahagia.

 

“Anyyeong semua”, sapa Jung songsaengnim pada kami.

“Pagi Sam”, jawab kami serempak.

“Pagi ini Sam bawakan siswa baru sekaligus teman baru bagi kalian”, seketika suasana menjadi agak riuh, banyak yang berbisik dan mencoba menebak anak baru tersebut, selagi semuanya berbisik aku memperhatikan gerak langkah seorang yeoja yang memasukki kelas ini. Mataku membulat memandang yeoja tersebut.

 

“Anyyeong, Park Ran-Ran imnida, saya pindahan dari Jepang, Salam kenal semuanya”, Itu Ran-Ran!! Ran-Ran yang kurindukan! Yeoja yang membuatku jatruh cinta untuk yang terakhir kalinya di dunia Lucifer, sekaligus Yeoja yang menolongku dari dunia mengerikan itu!

 

“Silahkann Ran-Ran duduk di sebelah TAemin”, ucap Jung Sam. Ia kemudian mengangguk dan berjalan ke arahku.

 

“Anyyeong, Park Ran-Ran imnida”, ucapnya ramah.

 

“Lee Taemin imnida, salam kenal, semoga kita bisa jadi teman nantinya”, balasku.

 

“Ne”, balasnya penuh dengan senyuman.

 

Dan, tak akan ada lagi sesuatu yang dapat melarangku untuk mencintai kan di dunia ini? Dunia manusia yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan. Sungguh, aku akan benar-benar memulainya sekarang….

^_^

 

Semuanya Akan terungkap, Misteri dibalik semua kejanggalan ini akan segera timbul dari permukaan, Tirai kebenaran akan terbuka, dan semuanya akan terjai tanpa kau duga sama sekali…

 

The End

YEeeeeeeyyyyyy….

Ending juga akhirnya….

Buat reders yang udah baca koment ya, kalo gak koment ntar ran gak mau nulis lagi lho!(siapa yang peduli?) =___=

 

Akhir kata saya ucapkan Gomawo dan Annyyeeooonnnggg…. *ngelambai pake bendera kuning*

Advertisements

30 responses to “Lucifer Life (Lucifer In My Soul) Part 3-end

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s