When You’re Gone

Title : When You’re Gone

Author : kyo lee a.k.a zeya

Genre : romance, angst

Rating : PG-13

Length : oneshoot

Cast :

–          Park Sanghyun as Thunder Park

–          Lee Raerin as Sky Lee

–          Lee Sungmin as Raerin’s appa

Backsong : Avril Lavigne – When You’re Gone

Summary : The words I need to hear to always get me through the day and make it ok, I miss you..

Disclaimer : YAK! THUNDER MILIK SAYA SEUTUHNYA, DARI ATAS SAMPE KAKI, SAMPE APAPUN (?) OKE! Wkwkwk… Ini bukan SongFic, hanya saja.. Saya pengen buat FF, trus tiba-tiba yang keputar lagu ini.. Jadi, saya ambil ini deh..

 

 

~~

 

*Author POV*

 

Mata Raerin terbuka lebar. Napasnya tidak beraturan, badannya berkeringat, tubuhnya bergemetar hebat. Akhirnya, secara perlahan airmata jatuh dari pipinya. Isakan tangisnya membahana diruangan yang lumayan luas itu.

“THUNDER!” teriaknya. Raerin menundukkan kepalanya, menutup mukanya dengan lengannya. Di meja kecil sebelah tempat tidur itu, terpampang pasangan yang tersenyum manis kedepan kamera.

‘Aku mau kau disini sekarang… Aku mau kau yang memelukku saat aku ketakutan sekarang.. Kau kemana?’ bisik Raerin.

“Thunder.. Neomu bogoshippeoseo..” katanya. Ia membiarkan dirinya tetap seperti itu, hingga saat ia bangun pagi harinya.

 

~~

 

*Sungmin POV*

 

Aku bisa mendengar teriakan putriku dari kamarku. Aku tau, itu berarti namja itu kembali dalam mimpinya. Ia masih belum bisa merelakannya.

 

“Appa..” panggilnya saat ia bangun pagi harinya. “Mianhae…” katanya.

“Untuk apa?” tanyaku. Ia duduk disebelahku.

“Untuk semuanya..” katanya, lalu meminum tehnya.

“Bukan salahmu, Sky..” kataku mengelus rambut panjangnya. Ia mendesah kecil.

“Aku… Ingin bersamanya, appa…” katanya. Airmatanya kembali jatuh. “Aku ingin ia disini..” katanya. “Appa.. aku mencintainya..” lanjutnya. Detik berikutnya, ia jatuh pingsan dipelukanku.

 

 

“Dokter.. Putriku?” ujarku. Dokter mendesah kecil.

“Tingkat stressnya sangat tinggi. Saya anjurkan ia istirahat disini selama satu atau dua hari.. Tampaknya, ia sedang banyak pikiran?” ujar dokter itu.

“Ia baru kehilangan namjachingunya, dokter..” kataku. “Gomawo, dokter..” kataku, lalu masuk keruangannya, melihatnya tidur pulas.

“Hey.. Putri appa..” kataku, menggenggam tangannya. “Kau harus kuat, ya? Appa janji akan selalu disisimu..” kataku. Aku bisa melihat matanya sangat bengkak.

‘Kau menangis tiap hari ya?’ kataku dalam hati. Kejadian itu sudah 11 bulan berlalu, tapi ia masih belum bisa melupakannya.

“Saranghae..” kataku mengecup keningnya dan keluar.

 

~~

 

*Author POV*

 

(Raerin’s dreamland..)

 

“Kau kemana saja sih?” ujar seorang namja padanya. Raerin tersenyum.

“Selama ini aku yang menunggumu, tau!” ujarnya. “Yeobo..”

“Hmm..”

“Saranghae..” katanya. Namja itu tersenyum kecil. “YA! THUNDER PARK!” katanya jengkel.

“Wae?” tanya Thunder.

“Jawab aku..” rengeknya dengan aegyo. Thunder tersenyum.

“Na do..” jawabnya. “Puas?” ujarnya. Raerin mengangguk dan mencium pipi Thunder cepat.

(Present..)

 

 

(Flashback)

“Apa kau akan selalu mencintaiku?” tanya Raerin. Thunder mengangguk. “Sampai kapanpun?” tanya Raerin lagi.

“Sampai aku tidak ada disisimu. Eh, anii.. Sampai kapanpun, walaupun aku sudah tidak ada disisimu lagi.. Aku tetap mencintaimu..” kata Thunder.

“Yakssokie?” ujar Raerin seraya memberikan kelingkingnya. Thunder mengangguk, dan membalas dengan memberikan kelingkingnya.

**

“Hey! Kau mau apa?” tanya Raerin.

“Kau..” jitakan berhasil mendarat mulus dikepala Thunder. “Aigoo… Appo..” katanya. Raerin segera merasa khawatir dan mendekati Thunder.

“Yeobo.. Yang mana yang..” Thunder mencium bibir Raerin cepat dan tersenyum jahil padanya. “YAAA!!” katanya dengan pipi yang bersemu merah.

“Saranghae..” ujar Thunder.

**

“Kau harus berjanji satu hal padaku..”

(End Flasback)

 

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” teriak Raerin. Sungmin berlari dan mendapati putrinya menangis dan terisak-isak.  “ANDWAE!! STOP!!” teriaknya. Tubuhnya bergetar dengan sangat hebat. Sungmin segera memeluk putri tunggalnya itu.

“Sky… Gwaenchana, gwaenchana.. Appa ada disini..” hal itu tidak berhasil. Raerin menarik rambutnya, menjatuhkan vas bunga yang ada disebelah ranjangnya, memukul dada Sungmin.

“Pukul appa… Pukul sampai kau puas..” kata Sungmin. Raerin terdiam, lalu memeluk Sungmin.

“Appa.. Aku mau Thunder.. Aku hanya ingin dia!!” katanya memeluk Sungmin erat. Sungmin bisa merasakan tubuh putrinya itu gemetar sangat hebat. “Aku rindu dia.. Appa..”

 

~~

 

*Raerin POV*

 

Sudah 11 bulan berlalu.. Seakan sudah 10 tahun aku kehilangannya. Wajah manisnya, sikapnya yang agak membingungkan. Kecupannya yang membuat pipiku memerah. Semuanya hilang.

“Kau tau.. Sudah 11 bulan semenjak kejadian itu.. Kenapa kau tidak mengajakku?” kataku pada foto yang berjejer rapi di dinding kamarku. Fotoku dengan Thunder. Saat kami pertama kali kencan, hari jadi kami, hingga hari terakhir aku bersamanya.

 

(Flashback)

“Hwaiting! Aku akan merindukanmu hari ini.. Hati-hati dijalan ya? Saranghae.. Kisseu..” katanya ditelepon. Aku tertawa kecil.

“Ne… Kau juga, ya? Kisseu..” lalu, aku memutuskan hubungan telepon kami.

(End Flashback)

 

Kata-kata itu.. Seakan membantuku untuk bertahan satu hari lagi. Membantuku membuat satu hari itu menjadi hari baik untukku dan untuknya.

“Aku merindukanmu..” kataku sambil meneteskan airmataku. Aku melangkahkan kakiku keluar kamar, melihat sofa krem, dan mengingatkanku saat aku membeli sofa itu dengannya, untuk ulangtahun appa.

 

(Flashback)

“Yang hitam saja!” katanya. Aku menggeleng.

“Aniii.. Krem!” kataku sambil menggembungkan pipiku jengkel. Ia mencubit pipiku.

“Memangnya.. Kenapa kalau yang krem?” tanyanya. “Hitam kan lebih bagus.. Tidak terlalu terlihat kotor..” katanya.

“Krem itu indah… Tidak terlalu gelap ataupun terang..” kataku. Ia tertawa dan mengacak rambutku.

“Ne.. choayo.. Ambil yang krem saja kalau begitu..” katanya sambil tersenyum padaku. Aku tertawa.

“Gomawo, yeoboo..” kataku mengecup pipi kirinya cepat. “teheee..”

(End Flashback)

 

Aku menghapus airmata yang sudah jatuh, dan berjalan kedapur. Ingatan itu kembali muncul, saat kami sedang berduaan didapur.

 

(Flashback)

“Mau makan apa?” tanyaku. Ia tertawa.

“Kau..” candanya.

“Yaa.. Aku serius yeobo.. Apa?” tanyaku. Ia memelukku dari belakang.

“Ayo, kita sama-sama masak ramyeon.. Bagaimana?” tanyanya. Aku tertawa.

“Kau kan tidak jago masak..” ejekku.

“Hey! Jangan salah! Dulu aku pernah diajari memasak mie!” katanya bangga. Aku terkekeh pelan.

“Yasudah.. Ambil ramyeonnya dilemari atas ya..” kataku, lalu menyiapkan bahan-bahan memasak.

10 menit kemudian, kami berdua duduk dimeja makan dan makan berdua. “Kau suka?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Tentu.. Masakan yeojachingu ku lah yang terbaik!” godanya. Aku tersenyum kecil.

(End Flashback)

 

Aku memasak ramyeon instan yang sudah disiapkan appa, dan duduk dimeja makan. Airmata jatuh perlahan-lahan tanpa aku sadari, daritadi aku hanya menangis terus menerus.

 

 

Aku duduk dimeja belajarku, mengambil 1 foto yang dibingkai dengan indah. Saat itu, aku dan Thunder berada di prom sekolah. Aku tersenyum kecil dan memeluk foto itu.

‘Saat ini.. Hanya kau yang aku butuhkan… Kalau bukan kau yang ada disisiku.. Siapa lagi yang bisa?’ bisikku. Aku mengambil 1 foto lagi. Tanganku bergemetar sangat hebat saat menggenggamnya. Foto ini..

Foto itu.. Adalah hari dimana Thunder direbut dariku. Foto saat ulangtahun hari jadi kami, yang bertepatan dengan White Day. Dimana aku ingin akulah yang diambil, bukan dia. Dimana aku tidak bisa melindunginya. Dimana disitu saat ia melamarku. Dimana, hari itu adalah esok.

 

(Flashback)

“Yeoboseyo?” sapaku. “Yeobo?” panggilku.

“Mianhae, yeobo. Aku sedang flu..” katanya. Aku tersenyum.

“Gwaenchana.. Besok saja perginya.. Tidak papa..” kataku. Walaupun aku sedikit kecewa.

“Anii.. Hari ini saja.. Aku datang ya?” ujarnya. Aku berjalan menuju jendela kamar, dan menyibakkan tirai jendelaku.

“Anii.. Yeobo… Gwaenchana..” aku tertegun saat melihat kebawah jendela. Thunder berdiri sambil menatap keatas sambil melambaikan tangan. “YAAAA!” kataku.

“hahahaha… Sudah siap?” tanyanya. Aku mengangguk. “Turunlah kalau begitu..” katanya. Aku menutup telpon dan segera turun.

“Appa.. Aku pergi ya!!” pamitku. Appa tersenyum dan mengangguk.

“Nee.. Hati-hati.. Ara?” aku terkekeh pelan dan mengangguk.

“Kita mau kemana?” tanyaku. Thunder menggenggam tanganku dan kembali menyetir mobilnya.

“Kau mau kemana memangnya?” tanyanya. Aku mengangkat bahu. “Kita makan saja ya?” usulnya. Aku mengangguk. “Dimana? Pizza?” tanyanya.

“Ditempat makan kimchi ramyeon biasa saja ya?” ujarku.

“Yang jauh itu?” tanyanya. Aku mengangguk. “Tapi,, aku tidak ngebut.. Okay? Deal?” ujarnya. Aku mengangguk.

“Boleh..” ujarku. “Yeobo..” kataku.

“Mmm?” ujarnya seraya memperhatikan jalan didepan.

“Happy Anniversary..” ujarku mencium pipinya. Ia terkekeh kecil.

“Neo do..” katanya. “Kita sampai..” katanya. Aku turun sambil merapatkan badanku pada Thunder karena tempat yang kami kunjungi sangat ramai. “Hey.. hati-hati..” katanya merangkul dan mendekapku.

“Mmm..” ujarku. Aku mendesah senang saat kami sampai direstoran terkenal didaerah itu. “Kau mau makan apa?” tanyaku.

“Mm.. Kau saja yang pilih..” katanya tersenyum, lalu memainkan tanganku. “Jangan yang pedas ya…” katanya mengingatkanku. Aku terkekeh pelan.

“Tenang saja..” kataku. “Sillyehamnida.. Eum.. Kimchi ramyeon yang tidak pedas 2.. Err… Yeobo.. Minum apa?” tanyaku.

“Cola..” ujarnya masih memainkan tanganku.

“Cola 2.. Kamshahamnida..” kataku. Pelayan itupun pergi. Aku menatap Thunder. “kau kenapa sih?” tanyaku.

“Anii… Aku takut pelayan itu suka padaku..” candanya.

“YA! Haishh…” kataku. Ia menggenggam tanganku erat. Mungkin hanya kami berdua yang terlihat terlalu mesra ditempat ini.

“Yeobo.. Kau mencintaiku?” tanyanya. Aku mengangguk mantap.

“Tentu saja! Kalau tidak.. Untuk apa aku bertahan 2 tahun pacaran denganmu?” candaku. Ia tersenyum.

“Eum… Nawa kyeoreonaejullae?” secara spontan aku kaget dan menatapnya. “Sky?” panggilnya.

“Jinjja?” tanyaku tidak percaya. Ia mengangguk mantap. Aku menatapnya dan mengangguk. “I do..” jawabku dan memeluknya erat.

(End Flahback)

 

“Harusnya aku tidak menerimanya.. Harusnya saat itu aku tidak mengajaknya makan ditempat yang jauh. Harusnya saat itu aku tidak egois..” aku menjatuhkan buku-bukuku yang berada dimeja belajar, dan menundukkan kepalaku, lalu mulai menangis.

“Harusnya saat itu kita makan pizza ditempat yang kau usulkan pertama kali..” kataku dalam isakan.

 

(Flashback)

“Lihat!! Bulan purnama!!” kataku. Taman bermain sudah sepi 2 jam yang lalu, membuat kami berdua bisa berlama-lama disana tanpa gangguan anak kecil.

“Yeobo..” panggilnya. “Apa kau percaya padaku?” tanyanya. “Sampai kapanpun akan percaya padaku? Selamanya akan percaya padaku?”

“Tentu saja… Aku akan mencin..” kalimatku terputus saat Thunder mengecup bibirku lama. Aku hanya bisa menutup mataku, memeluknya erat, dan tiba-tiba, airmataku jatuh.

“Hey.. Kenapa menangis?” ujarnya. Aku tersenyum.

“Na? Anii.. aku hanya bahagia… kau yang akan menjadi pasanganku kelak..” kataku. “Hey.. Sudah larut malam. Kita pulang?” tanyaku. Thunder mengangguk.

Jalanan sangat ramai saat itu. Benar saja, hari ini hari sabtu. Aku bisa melihat Thunder sangat khawatir. Aku menggenggam tangannya.

“Waeyo?” tanyaku.

“Anii…” jawabnya. Lalu, Thunder mulai mengebut, membuatku takut.

“PARK CHEUNDOONG! AWAS!!!!!!!” pekikku saat melihat ada mobil truk didepan kami yang akan menabrak kami.

‘CIITTTT….’ Thunder membalikkan setirnya, kehilangan keseimbangan dan fokus, membuat kami berdua hanya berpegangan tangan dan Thunder memelukku, seakan ingin menyelamatkanku.

“Saranghae..” bisiknya padaku.

(End Flashback)

 

“Kenapa kau yang melindungiku? WAE? WAE!??!?!!?!” pekikku. Aku melempar boneka pokemon yang ia belikan untukku. “KENAPA KAU YANG MELINDUNGIKU?! KENAPA BUKAN AKU?!” pekikku. Aku melempar semua boneka yang ada disampingku.

“AKU MAU KAU DISINI! PABOYA!!!!!!!!!!!!!”

 

(Flashback)

“Andwae…” kataku sambil menangis. “Andwae..”

“Gwaenchanayo.. Saranghaeyo, Lee Raerin..” katanya. “Aku a-akan tenang disana nantinya.. A-aku akan… Menunggumu..” katanya. Lalu, kami berdua sama-sama tertidur.

“THUNDER!” kataku saat terbangun. “hhhh…” napasku tidak teratur. “Thunder.. Mana Thunder?!” appa memelukku. “APPA! MANA THUNDER! AKU MAU THUNDER!” pekikku.

“Sudah… Tenangkan dirimu dulu…” kata appa. Aku menepis tangan appa.

“LEPASKAN AKU! AKU TIDAK BUTUH ITU! AKU BUTUH THUNDER!” pekikku. “Dia mana appa?” tanyaku masih sambil menangis. Appa menunjuk langit. “Andwae…” kataku. “Andwae..” aku melepaskan selang-selang ditubuhku, berlari keluar.

“THUNDER! KAU DIMANA?” aku berteriak disepanjang lorong rumah sakit.

“SKY!” aku mendengar appa berteriak memanggil namaku. “KEMARI!” katanya. Katanya menahanku dari belakang.

“Lepas! THUNDER!” kataku. Aku menangis dipelukan appa. Aku memeluk appa erat. Appa mengelus rambutku. “Dia. Dimana. Appa?” tanyaku.

“Dia sudah tenang, Sky.. Ia sudah bahagia..” kata appa. Aku memejamkan mataku.

“Appa.. Aku ingin bersamanya disana..” bisikku.

(End Flashback)

 

‘PRANG!’ aku memecahkan vas bunga, keramik yang ada dikamarku.

“BESOK SETAHUN KAU MENINGGALKANKU! KAU SUDAH MELANGKAH TERLALU JAUH, PARK CHEUNDOONG! SUDAH TERLALU JAUH! APA KAU TIDAK TAU BAHWA AKU MEMBUTUHKANMU DISINI?! HAH?! APA KAU TIDAK TAU?!” aku berteriak sekeras-kerasnya. Aku memandang kecermin. Rambutku terlihat sangat berantakan. Mataku sangat sembab, wajahku sudah sangat tidak terurus. Aku meninju cermin sehingga cermin itu retak, dan tanganku berdarah.

“THUNDER!!” teriakku.

 

~~

 

*Author POV*

 

Raerin berlari keluar rumah. Sungmin menahan tangan Raerin dan menatapnya. “Kau mau kemana?” tanya Sungmin.

“Lepaskan aku!” katanya menepis tangan Sungmin, lalu kembali berlari entah kemana.Sungmin berjalan masuk kedalam kamar Raerin, dan menemukan kamar Raerin seperti kapal pecah. Semuanya berantakan dan pecah.

 

 

Raerin berjalan menghampiri makam yang sangat bersih dan berlutut. “Aku lelah, yeobo…” katanya. “Aku lelah dengan semua ini. Aku merindukanmu. Saat kau pergi, bagian dari hatiku merindukanmu, wajah yang aku inginkan untuk datang.. aku merindukanmu..” katanya.

“Aku ingin bersamamu..” katanya memeluk nisan yang bertuliskan ‘THUNDER’ diatasnya. “Bukankah kita berdua ditakdirkan bersama? Aku butuh kata penyemangatmu untuk membuatku bisa melewati hari-hari berikutnya. Kau sekarang tidak ada. Untuk apa lagi aku hidup?” ujarnya sambil menangis.

“Yeobo.. Choneul neomu geuriwo..” katanya sambil mengelus foto Thunder. “Besok 3 tahun hari jadi kita.. setahun kepergianmu. Seharusnya besok kita menikah kan?” tanyanya. “Semuanya kau ingin gabungkan menjadi satu..” katanya.

“Aku rindu kulit putihmu, senyuman indahmu, sikap manismu padaku, selalu membelaku. Pelukanmu yang erat untukku saat aku khawatir akan appa…” kata Raerin.

Raerin melangkahkan kakinya menuju jalan raya. Dengan langkah gontai ia menyebrangi jalan raya.

“HEY KAU! AWAS!” pekik seorang supir. Lalu, Raerin terjatuh dan seluruh tubuhnya berlumuran darah. Ia menatap kelangit yang sudah mulai kabur dan tersenyum saat melihat bayangan Thunder diawan.

‘Apa kali ini.. Aku bisa bersamamu?’ ujar Raerin dalam hati.

 

~~

 

*Sungmin POV*

 

“Yeoboseyo?” sapaku saat mengangkat telpon yang berdering. “Eh? Sky… Ne, aku kesana sekarang… Jaga dia ya, Donghae-ya.. Ne.. Annyeong..” aku segera berlari menuju mobilku, dan mengebut menuju rumah sakit.

 

 

“Mana dia, Donghae?” tanyaku. Donghae mendesah kecil.

“Sungmin-ah… Dia sekarat..” kata Donghae. Aku jatuh terduduk. “Mianhae..” kata Donghae.

“Boleh aku kedalam?” tanyaku. Donghae mengangguk. Dengan langkah perlahan, aku masuk keruang rawat putriku.

Ia tertidur lelap disana. Aku bisa melihat kepalanya diperban, selang-selang bertempelan ditubuhnya.

“Sungmin-ah…” panggil Donghae. “Ia tidak merespon rangsangan obat..” aku terdiam.

‘TIIIIIIIIIIIIIIIIIT…’ bunyi dengungan itu membuat tubuhku bergetar.

“Yeoboseyo.. Ambilkan alat pengejut jantung keruang ICU.. SKARANG!” aku bisa mendengar Donghae memanggil suster. Aku berlutut dihadapan putriku, dan menangis.

“Sky! Bangun! Jangan permainkan appa!” kataku. Donghae menarikku. “Lepas!” kataku.

“Sungmin-ah.. Kami akan berusaha mengembalikannya..” kata Donghae. Aku hanya bisa mengangguk pasrah, dan melihat 3 dokter berusaha mengembalikan denyut jantung putriku.

Tiba-tiba, mereka semua mundur. Aku masih mendengar suara itu. Mereka berhenti menyelamatkan putriku.

“Jam berapa?” tanya Eunhyuk.

“14 Maret. 00.00..” tiba-tiba, aku teringat pernyataan Raerin 2 bulan yang lalu saat kami makan malam berdua.

 

(Flashback)

“Appa..” panggilnya.

“Ne?” jawabku.

“Aku ingin mati saat setahun kematian Thunder. Aku ingin bersamanya..”

“Jangan bicara seperti itu..”

“Appa… Saat aku pergi.. Hiduplah seperti biasa.. Ara?” katanya. “Appa harus janji padaku..” katanya lagi.

“Appa janji..” kataku.

(End Flashback)

 

Ia benar. Ia pergi setelah setahun kepergian Thunder. Ia meninggalkanku dan sekarang ia bersama Thunder. Aku sekarang sendirian.

“Sungmin-ah… Mianhae…” kata Donghae menepuk pundakku.

“Ia sudah pergi, Hae-ah.. Dia… Dia benar-benar melakukan sesuai dengan ucapannya!” kataku. “Dia bersama Thunder sekarang..” kataku.

 

~~

 

*Author POV*

 

Angin berhembus lembut, membuat seorang namja merapatkan jaketnya dan tetap berjalan melewati langit yang sudah gelap.

‘Sudah setahun…’ batinnya sambil menatap kelangit. Dengan langkah cepat, ia memasuki sebuah restoran mie, dan memberi salam.

“Sudah lama?” tanyanya.

“Ah! Sungmin-ah! Belum.. tenang saja..” ujar seseorang. Sungmin tersenyum.

“Donghae-ah… Sudah setahun ya?” ujarnya.

“Ne… Bagaimana kabarmu?” tanya Donghae. Sungmin tersenyum.

“Sudah lebih baik.. Walaupun aku masih sering merindukannya..” kata Sungmin seraya duduk berhadapan dengan Donghae.

“Ohya, besok kan setahun…” ujar Donghae lambat-lambat. “Kau tidak ingin pergi?” tanyanya.

“Aku?” tanya Sungmin. Donghae mengangguk. “Aku akan pergi.. Kenapa? Kau mau ikut?” tanyanya.

“Boleh?” tanya Donghae.

“Tentu saja…” jawab Sungmin.

 

 

“Appa rindu padamu..” ujar Sungmin. Donghae menepuk pundak Sungmin pelan.

“Yang sabar, ya…”

“Sky… Appa sudah merelakanmu… Apa kau bahagia disana?” tanya Sungmin. “Appa yakin, kau senang kan, bertemu dengan Thunder? Bagaimana? Apa dia baik-baik? Sama sepertimu?”

“Appa kangen pada kalian berdua.. Neomu bogoshippeo..” kata Sungmin.

“Sungmin-ah! Kita harus pergi..” kata Donghae. Sungmin mengangguk pelan. Ia berdiri, dan menghapus airmatanya yang jatuh.

“Kajja…” kata Sungmin. Ia menatap nisan yang bertuliskan ‘Sky’ diatasnya sekali lagi, dan berjalan bersama Donghae, ditemani dengan angin yang berhembus dengan sepoi-sepoi.

 

~~

 

When you’re gone

The pieces of my heart are missing you

When you’re gone

The face I came to know is missing too

When you’re gone

The words I need to hear to always get me through the day and make it ok

I miss you…

Advertisements

18 responses to “When You’re Gone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s