[Oneshot] Catch Me If You Can

Title: Catch Me If You Can

Author: Yuminsshi

Length: Oneshot

Genre: Romance, Comedy, Action

Raiting: PG-15

satu langkah, dua langkah . .

hembusan nafasku mulai menyamai detak jantungku.

tiga langkah, empat langkah

Seharusnya aku sudah terbiasa dengan adrenalin-rush ini

tarik nafas, keluarkan. tarik lagi, keluarkan.

akhirnya detak jantungku bisa kembali normal.

Mataku meneliti ke segala arah. Di dalam cafe itu terdapat banyak orang, tapi tidak menghalangiku untuk menemukan target yang kucari. Kupastikan itu orang yang sama dengan yang ada di dalam foto di tanganku. Siapa sangka, di tengah kota Paris yang padat ini, aku bisa berhasil menemukan satu orang itu. Kata orang seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tapi bagiku, ini seperti permainan puzzle. Dengan bantuan teknologi internet dan beberapa sistem yang harus di hack, aku bisa mendapatkan segala informasi mengenai orang ini, sampai akhirnya aku bisa mengetahui keberadaan dia.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 15.59, yang berarti beberapa menit lagi orang itu akan berjalan keluar dai cafe, kembali ke tempat kerjanya. sepuluh detik. Sembilan detik. sebentar lagi dia akan berjalan ke arahku. delapan. tujuh enam. dia semakin mendekat. sebentar lagi saatnya aku beraksi. tiga. dua satu.

“Aw, maaf, apakah anda baik-baik saja?” tanyaku pada orang itu setelah dengan ‘tidak sengaja’ menabrak tubuhnya sampai tas kerja yang dia bawa jatuh dan isinya berserakan di lantai. Dengan sigap kubantu laki-laki paruh baya itu membereskan barang-barangnya sambil dengan hati-hati mengambil sebuah flash disc yang sudah kuincar sejak minggu lalu.

“Ah, Merci beaucoup” ucapnya dengan bahasa Perancis yang fasih. diapun segera pergi setelah yakin semua barangnya sudah kembali berada di dalam tas nya tanpa menyadari ada sebuah flash disc kecil yang kumasukkan ke dalam saku jas ku. Mission accomplish.

***

Mataku tidak bisa kulepas dari flash disc kecil di tanganku. Entah apa yang ada di dalamnya sampai seorang pengusaha besar berani membayarku untuk mencuri barang sekecil ini. Dilihat dari bentuknya, tidak ada yang spesial. Apalagi jika dilihat dari penjagaannya yang sangat tidak ketat. Tapi karena perjanjian yang sudah kubuat dengan klien itu, aku tidak bisa melihat isi flash disc ini.

Namaku Choi Seung Hyun. Pekerjaanku tidak menentu. Kadang aku menjadi Seung Hyun si pencabut nyawa, kadangg aku menjadi Seung Hyun si pencuri ulung. Semua tergantung permintaan klien. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas. Maka dari itu, tidak murah untuk bisa menggunakan jasaku.

Di bar hotel ini aku masih termenung memperhatikan flash disc di tangan. Ditemani segelas whisky, aku menikmati malam terakhirku di Paris. Besok aku harus kembali ke Seoul dan memberikan benda kecil ini pada klienku dan menerima bayaranku. Bisa dibilang ini adalah tugas termudah yang pernah kulakukan. biasanya aku harus menerobos berlapis-lapis penjagaan ketat atau membunuh beberapa orang untuk mendapatkan barang yang diincar. tapi kali ini, aku hanya perlu sedikit mengelabuhi bapak-bapak tua untuk mendapatkan benda ini. Terlalu mudah.

kutegak habis whisky di depanku dan kusimpan kembali flash disc itu di dalam kantung jasku. Malam ini bar itu terlihat sepi. hanya ada beberapa businessmen yang bersosialisasi dengan rekan kerjanya sambil menikmati minuman di tangan. Sampai seorang wanita dengan dress merah darah menarik perhatianku. Bagaimana mungkin aku tidak melihat ke arahnya kalau seisi bar dipenuhi oleh bapak-bapak tua, dan tiba-tiba ada seorang wanita cantik berdiri di antara mereka. Seperti mutiara  diantara babi-babi.

Kulitnya yang putih terlihat sangat mencolok kontras dengan dress merah yang dia kenakan. Wajahnya sangat oriental yang membuatku semakin tertarik padanya. dan ketika dia duduk de sebelahku, naluriku langsung mengajaknya berbicara.

“Tidak baik bagi seorang wanita untuk duduk sendirian di Bar pada malam hari. apalagi kalau wanita itu secantik kamu” ucapku mengeluarkan aura Casanova yang sudah tertanam di diriku.

“Kalau begitu, maukah kau jadi pendampingku malam ini?” ucap wanita itu sambil tersenyum menggoda. Tubuhnya yang ramping membalik ke arahku, membuat tubuh kami saling berhadapan satu sama lain. Perbincanngan kecil dan beberapa gelas minuman membuatku lupa bagaimana malam itu berakhir.

***

Aku terbangun dalam keadaan tertidur di meja bar. Jas lengkap beserta kemeja dasi dan celana masih dengan rapih membalut tubuhku. Kepalaku terasa begitu pening. Entah apa yang terjadi semalam, tidak dapat kuingat. Tapi satu hal yang terngiang di kepalaku bahkan sebelum aku berhasil merangkai puzzle ingatanku. Flash disc.

Kuraba-raba setiap kantong yang ada di tubuhku. Tidak ada. Damn! Sekarang ingatanku mulai pulih. Wanita itu. Ya, wanita itu adalah orang yang terakhir kulihat sebelum kesadaranku hilang. Damn! pasti dia yang mengambil flash disc itu. Note-to-self: NEVER trust a woman in red.

Tanganku mengapai ke arah kantong jasku yang paling dalam. Sebuah pasport yang berhasil kucuri dari wanita itu semalam. Sandara Park. Seringai kecil muncul di bibirku ketika melihat foto wanita yang semalam memberiku obat tidur. Ya, tinggal menunggu waktu sampai wanita itu datang sendiri untuk mengambil pasportnya yang tertinggal.

***

Di sisi lain kota Paris

Tas jinjing di tanganku sudah mulai terasa berat. Sebentar lagi pesawat yang akan aku tumpangi untu kembali ke Seoul akan berangkat. Kupastikan barang-barang bawaanku sudah lengkap. Baju, check. Dompet, check. Flash disc. Benda kecil inilah yang membawaku ke kota yang disebut-sebut sebagai kota paling romantis di dunia ini. Hanya untuk benda sekecil ini, pejabat itu meminta jasaku dengan bayaran yang cukup tinggi. Entahlah apa yang membuatnya menginginkan benda kecil ini.

Panggilan tanda pesawat akan segera berangkat sudah bergema di seluruh airport. Kusiapkan tiket dan pasport yang ada di tas kecilku. Tunggu, pasportku. Seingatku semalam masih ada di dalam tas kecilku ini. Kukeluarkan semua isi tasku, dan tetap tidak menemukan buku kecil yang sangat penting itu. Oh, shit! Kutepuk kepalaku karena frustasi. Ternyata memang tidak semudah itu mengelabuhi seorang profesional seperti Choi Seunghyun. Dan sekarang aku tidak tahu harus bagaimana agar bisa kembali ke Seoul tanpa harus berhubungan dengan laki-laki itu. I’m stuck in this city of love.

****

Siang hari, aku duduk di sebuah cafe dekat hotel tempatku bermalam. Secangkir kopi tergeletak manis di meja kecil di hadapanku. Tanganku memaikan pasport milik Sandara, memutar-mutarnya diantara dua jaritanganku. Sebentar lagi pasti wanita itu akan datang untuk mengambil pasport ini.

Dan benar saja. Beberapa menit kemudian, wanita itu datang. Dia mengenakan biker jacket putih dengan jeans dan lace-up boots yang menutupi aura anggun yang dipancarkannya semalam, membuatnya terlihat lebih garang. Wajahnya memancarkan senyum ramah. tas jinjing di tangannya menandakan bahwa dia sudah siap untuk pergi. Tapi sepertinya dihalangi oleh benda yang ada di tanganku ini.

“Hai, eumh, maaf semalam aku meninggalkanmu tanpa bilang apa-apa” ucapnya berbasa-basi sambil duduk di kursi di seberangku. Sikapnya masih menunjukkan keramahan yang kuyakin sebentar lagi akan hilang.

“Ah tidak apa. Aku yakin kau pasti memiliki alasan tersendiri sampai harus pergi tiba-tiba seperti itu” balasku ikut berbasa-basi.

“euhm, maaf, tapi sepertinya semalam aku meninggalkan sesuatu. apakah kau menemukannya?” tanyanya dengan nada manis.

“maksudmu ini?” ucapku sambil menunjukkan pasportnya di tanganku.

“ah iya, untunglah kau menemukannya. Terimakasih” ucapnya sambil berusaha menggapai pasport di tanganku. Tapi aku menjauhkan pasport itu darinya, dan membuka tanganku ke arahnya, memberikan gesture meminta.

“Tidak semudah itu, mademoiselle. Kau harus mengembalikan dulu milikku yang ada padamu” dan mimik wajahnya berubah, seolah-olah dia kebingungan. Mungkin dia tidak sebodoh yang kukira.

“Maksudmu? Apakah kau menuduhku sebagai seorang pencuri? Kau tahu, menuduh itu lebih parah dari pembunuhan. Dan itu tidak sopan, terutama jika yang kau tuduh adalah orang yang baru saja kau kenal” ucapnya lagi masih berakting dengan sempurna.

“Sudahlah miss park, berhenti berakting. Aku tahu kau yang memasukkan obat tidur ke dalam minumanku dan mencuri flash disk yang ada di dalam kantung jasku. Atau perlu kurobek pasport ini agar selamanya kau terpenjara di kota ini sebagai seorang imigran gelap?” ancamku akhirnya.

“Fine-fine, you caught me” ucapnya akhirnya menurunkan pertahanannya. “Jadi, apa yang kau mau?” kali ini mimik wajahnya berubah menjadi lebih sombong dan tanpa senyum.

“Kau tahu apa yang kumau. Flash disc”

“Hah, not gonna happen, mister. Tidak adakah hal lain yang kau inginkan? Uang, mobil, baju? atau kau mau tubuhku?” ucapnya menggoda sambil mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku. Memang Paris ini kota cinta dan romansa. Cafe yang bertebaran di segala penjuru kota membuatnya menjadi tempat yang sempurna bagi pasangan-pasangan untuk bercumbu. Setiap cafe memiliki meja yang sangat kecil dilengkapi dengan sepasang kursi, yang membuat jarak antara dua orang yang duduk di sana semakin dekat, seperti jarakku dengan Sandara saat ini. Meja yang kecil membuat kaki kami saling menyentuh dan sangat mudah untuk semakin mendekatkan diri. personal space pun menjadi semakin intim karena jarak yang dekat, membuat perasaanku semakin tergoda.

“Yang aku inginkan hanya flash disc yang kau curi itu” ucapku sambil merebahkan tubuhku pada sandaran kursi dan melipat tanganku di depan dada.

“Memang apa istimewanya flash disc itu sampai kau menginginkannya melebihi apapun?” tanyanya mengulur waktu.

“Bukankah seharusnya kau juga tahu apa istimewanya flash disc itu sampai-sampai kau nekat mencurinya dariku?” balasku membuatnya terdiam.

“Benda sekecil ini. Bisa membawa banyak masalah.” ucapnya sambil mengeluarkan flash disc itu dari saku jeansnya.Tanganku pun reflek mengambilnya tapi, dengan sigap dia menjauhkannya dariku.”Tidak semudah itu Mr. Choi. Kembalikan pasportku”

“Hah, baiklah” kuarahkan pasport miliknya padanya, dan dia mengarahkan flash disc itu padaku. Tetapi tubuh kecilnya dapat bergerak dengan sangat lihai, mengambil pasport yang ada di tanganku dan menarik kembali flash disc yang sempat kusentuh. Dan tanpa berkata apa-apa, dia sudah berlari kabur dari cafe itu. Hah, wanita itu. Tidak semudah itu untuk kabur dari seorang Choi Seung Hyun. Dan akupun mengejarnya menerobos kerumunan manusia menelusuri jalan-jalan sempit di kota Paris.

Pengejaranku berakhir pada sebuah jalanan kecil dengan bangunan-banngunan bergaya Renaissance di sepanjang jalannya. Setelah berlarian mengitari kota Paris selama hampir satu jam, akhirnya aku berhasil menghentikan wanita itu dan mendekapnya sampai dia tidak bisa bergerak. Tubuh mungilnya terus berusaha memberontak, tapi kekuatanku berhasil mengalahkan kekuatan wanitanya.

“Yah! lepaskan aku! atau aku akan berteriak” ancamnya yang hanya membuatku tertawa.

“Dan apa? kau akan bilang bahwa kau telah memberiku obat tidur dan mencuri flash disc itu dariku? Kau hanya akan membawa dirimu ke penjara, miss” ucapku, sarkastik. Dan akhirnya dia berhenti memberontak. Kumanfaatkan saat-saat itu untuk mencari keberadaan flash disc itu, yang ternyata disimpangnya di kantung jaket yang dia pakai. Dan sebelum dia kembali memberontak, kuambil flash disk itu dengan hati-hati, sehingga, ketika akhirnya dia mengerluarkan seluruh tenanganya, dan melepaskan cengkramanku, lalu kabur belari menjauh dariku, flash disc itu sudah kembali berada di tanganku. Ya, tidak semudah itu untuk kabur dari Choi Seunghyun.

***

Hah hah hah. Nafasku masih belum teratur setelah aku berusaha kabur dari laki-laki itu dengan sekuat tenaga. Ya Tuhan, cobaan apa yang kau berikan pada hambamu ini. Arggghh. erangku tanpa sadar. Aku hanya ingin uang agar bisa bertahan hidup. Tapi kenapa harus ada laki-laki itu yang menhancurkan semua rencanaku? Sejak awal aku akan menjalankan tugasku, dia sudah mendahuluiku mencuri flash disc itu dari si bapak-bapak tua di cafe. Dan sekarang, dia masih terus mengejarku untuk mendapatkan flash disc ini.

Kujabak rambutku dengan frustrasi. hah, setidaknya aku sudah lepas dari jeratannya, dan sekarang aku hanya harus kembali ke Seoul dan menyerahkan flash disc ini. Kuraba kantong jaketku untuk mencari flash disc itu. FUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU**! flash disc itu tidak ada di dalam kantongku. That basta*d!

Dan akupun berlari kembali, mengejar laki-laki yang sudah menghancurkan rencanaku. Choi Seunghyun.

***

Flash disk kecil itu kuputar-putar di jariku. Hah, wanita itu, benar-benar. Dia kira dia bisa dengan mudah mengelabuhiku. Tapi harus kuakui, dia cukup cerdik. Dan cantik. Dan harus kuakui juga, aku cukup tergoda dengan rayuan manisnya. Walau kutahu itu hanya bohong belaka. Tapi senyuman menggodanya tidak bisa terlepas dari pikiranku.

Kulangkahkan kakiku nmemasuki sebuah restoran. Restoran itu tidak terlalu ramai. Mungkin karena saat ini bukanlah jam makan. Aku duduk di salah satu kursi dan mulai memilih-milih makanan di dalam buku menu. Suara bel pintu membuat pandanganku teralih dari buku menu. Sandara berdiri di depan pintu dengan wajah merah menahan amarah. Akhirnya dia menyadari bahwa flash disc itu sudah ada di tangaku. Instingku mengatakan untuk kabur, tapi kakiku tidak bisa digerakkan karena aku ingin melihat apa yang akan dia lakukan sekarang.

Masih dengan wajah penuh amarah, dia menghampiri mejaku. Beberapa pengunjung yang ada di restoran itu mulai memperhatikan ketegangan yang terjadi diantara kami. Kupasang ekspresi tenang di wajahku, menunggu emosi wanita itu meledak.

“Kau!” teriaknya, dan berhasil membuat seisi restoran melihat ke arah kami. Teriakannya membuatku panik. Aku tidak mau membuat keributan di tempat umum seperti ini.

“Bisakah kita berbicara di tempat lain?” bisikku padanya.

“Kembalikan barang itu!” teriaknya lagi, yang membuatku terpaksa harus mendekap mulutnya dan menariknya ke sebuah ruang di sisi restoran. Ruang manager.

“Bisakah kau tidak membuat keributan?” ucapku padanya sambil menutup pintu. Untungnya saat itu rangan sedang kosong. Hanya ada sebuah komputer yang menyala.

“Cepat berikan padaku flash disc itu. Aku sedang tidak ingin berbasa-basi ataupun adu mulut denganmu” ucapnya kasar dengan wajah marah.

Kukeluarkan flash disc itu dan menunjukkannya padanya. Tetapi ketika dia akan mengambilnya, flash disc itu kembali kujauhkan dari jangkauannya.

“Sebelumnya, beri tahu dulu siapa yang menyuruhmu mencuri flash disc ini?” tanyaku penasaran.

“Maaf, tapi sudah menjadi kode etik ku untuk tidak membuka informasi mengenai klienku pada siapapun” jawabnya tegas dengan sikap angkuh. “Sekarang, berikan benda itu padaku, atau..”

“atau apa?” tantangku

“atau aku. harus. melakukan. ini” bisiknya perlahan sambil mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Bibirnya dengan lembut mengecup bibirku yang membuat sekujur tubuhku serasa disengat listrik. tangannya merambta ke arah belakang tubuhku, mengambil flas disc yang kugenggam dengan lemas di tanganku. Dia mencabut ciumannya ketika flas disc itu sudah aman di tangannya. tubuh mungilnya langsung melangkah dengan sigap menuju pintu, tetapi terhenti ketika pintu ruang manager tidak bisa dibuka.

“Kau pasti mengunkinya kan? cepat buka!” ucapnya marah. Rasa shock akibat ciumannya masih bersisa di tubuhku yang membuat jalannya otakku agak melambat.

“Tidak, aku tidak menguncinya” jawabku jujur, karena aku memang benar-benar tidak menguncinya.

“Bohong. Cepat buka pintunya” marahnya lagi. Ya tuhan, wanita ini benar-benar keras kepala.

“Aku serius. Mungkin kau tidak tidak punya tenaga untuk membuka pintunya” ucapku mulai sedikit emosi. Akupun mencoba untuk membuka pintu itu. Tetapi, seberapa keras aku mecoba untuk membukanya, tetap tidak berhasil.

“We’re stuck” ucapku akhirnya. “Help, anyone” teriakku sambil menggedor-gedor pintu, tapi tida ada jawaban dari luar. Letak ruangan ini memang agak di tepi restoran, jauh dari keramaian dan jarang dilewati orang. berkali-kali kugedor pintu itu, tetap tidak ada jawaban, sampai akhirnya aku menyerah dan memilih untuk menunggu sang manager kembali ke ruangannya.

“Apakah kau selalu menggunakan seks untuk mendapatkan apa kau mau?” ucapku memulai pembicaraan.

“Sensualitas adalah talenta yang diberikan Tuhan bagi seluruh wanita, so why waste a talent’ jawabnya jujur.

“Tidakkah kau takut, menjalankan pekerjaan yang bisa dibilang cukup berbahaya? apalagi kau seorang wanita” tanyaku penasran.

“Aku hidup untuk diriku sendiri, dan mati juga untuk diri sendiri. I’m alone in this world. I have nothing to lose” ucapnya murung. Dan aku merasa sedikit menyesal karena sudah menanyakan hal yang sedikit sensitif.

Hening menyelimuti kami untuk sementara

Suara mesin komputer yang menyala membuatku tersadar akan sesuatu.

“Oh ya, apakah kau tahu apa yang ada di dalam flash disc itu?” tanyaku menghancurkan keheningan.

“Hem, tidak. Klienku tidak pernah mengatakan apa-apa. Dia hanya memintaku untuk mencuri flash disc ini bagaimanapun caranya, dan dia akan memberikanku bayaran tinggi” jelasnya padaku. “Apakah kau tau apa isinya?” tanyanya balik padaku.

“Tidak juga” jawabku, “Hem, apakah kau tidak penasaran dengan isi dari benda yang kita perebutkan ini? Bagaimana kalau kita lihat dengan komputer itu. Mungkin tidak ada salahnya jika kita mengintip sedikit” ucapku sambil tersenyum penuh arti yang dijawabnya dengan anggukan mantap.

Sandara menyambungkan flash disk itu ke komputer milik manager restoran yang sejak tadi menyala. tidak lama kemudian, terlihat folder-folder yang terdapat di dalam flash disc itu. Semuanya berisi foto. Foto-foto pengusaha yang merupakan klienku itu, beberapa orang dan seorang  pejabat yang aku tahu sedang naik daun du Korea. Mereka semua terlihat berpose dengan beberapa hostest berpakaian minim di sebuah club. Sepertinya diambil di salah satu club cabaret terkenal di Paris.

Melihat isi Flash Disc ini hanya membuatku dan sandara tertawa terbahak-bahak. Jadi yang membuta klien kami begitu antusias untuk memiliki benda ini karena isinya merupakan foto-foto aib mereka yang jika tersebar, akan menyebabkan scandal.

“Kukira isinya sesuatu yang penting, seperti kode atau rahasia negara. Ternyata hanya foto kenang-kenangan liburan mereka. hahahahaha” dan Sandara kembali terbahak-bahak melihat foto-foto itu, sampai suara pintu dibuka membuat tawa kami berhenti. Sang manager akhirnya kembali ke ruang kerjanya. Dan matanya membelalak kaget ketika melihat aku dan wanita itu ada di dalam ruangan. Untuk mencegah keributan, aku dan Sandara segera bergegas keluar dari ruangan, meninggalkan sang manager dalam keadaan bingung. Tidak lupa, aku mencabut flash disc itu dari sisi komputer dan membawanya berlari keluar dari restoran.

“Ahahahah, hampir saja kita harus menjelaskan mengapa kita ada di dalam ruangan itu pada si manager” Ucap Sandara masih mengingat kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu. Melihatnya tertawa membuat bibirku ikut tersenyum. Flash Disc itu masih kugenggam erat di tanganku.

“Untukmu” ucapku sambil menyerahkan flash disc itu padanya.

“Ah, untukmu saja. Kalau aku tahu isinya hanya foto-foto seperti itu, aku tidak akan menerima pekerjaan ini” ucapnya smabil mengembalikan flash disc itu padaku.

“You know what? Screw this!” kulempar flash disc itu jauh-jauh. “We’re in the city of love. Paris. Seharusnya kita bersenang-senang. Bukan malah memperebutkan foto liburan mesum milik bapak-bapak tua” ucapku sambil tertawa.”Jadi, maukah kau menjadi pendampingku malam ini?” tanyaku sambil mengulurkan tangaku pada Sandara.

Senyum lebar mengembang di wajahnya. “Tetapi aku masih menginginkan uang bayaran dari pejabat itu” ucapnya, lalu pergi ke arah Flash Disc yang kulempar tadi.

Dan untuk yang kesekian kalinya, aku berlari. Bukan untuk mengejar flash disc curian itu, tetapi untuk mengejar wanita yang sudah mencuri hatiku.

FIN

Another oneshot form me. hope you liked it. Love comments and rude critics are welcomed. buat yang mau request, silahkan comment di bawah. Thank you and *hopefully* see you next week

Advertisements

33 responses to “[Oneshot] Catch Me If You Can

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s