[4 of 5] No! Name

AUTHOR: v3aprilia, dwiananing, @Fiensa_F

LEGTH: chaptered

GENRE: drama

RATED: SU

Main Cast: JYJ, No! Name, Eunhyuk & Donghae (Super Junior)

Minor cast: CN Blue, SNSD

PART IV

Iseul’s PoV

Mataku bahkan belum terbuka sepenuhnya di pagi itu ketika aku menyeret kakiku untuk mengambil air minum di dapur, aku melihat satu eksemplar koran sudah berada di atas meja. Aku melirik sedikit headline koran yang entah kebetulan atau memang bekas dibaca orang, terbuka tepat di bagian infotainment.

“Penampilan SNSD Mengecewakan”

Mwo? Aku berhenti melangkah ke dispenser dan berbalik menuju meja makan, dan membaca koran itu. Artikel di koran itu mengulas habis tentang comeback SNSD sunbaenim beberapa waktu yang lalu dan tentu saja, No! Name terselip di artikel itu karena kami debut bersamaan dengan SNSD sunbaenim. Disebutkan kalau penampilan SNSD sunbaenim dari hari ke hari semakin memburuk, lagu dan gerakan dance yang tidak maksimal membuat banyak orang menyimpulkan kalau sebenarnya SNSD sunbaenim tidak siap untuk comeback. Tudingan tidak siap itu ditambah lagi dengan kekalahan SNSD sunbaenim di acara-acara musik, SNSD sunbaenim selalu kalah dari No! Name, yang masih dibahas di koran ini, meskipun rookie tapi penampilannya semakin bagus bahkan ketika tidak didampingi JYJ. Tak satupun award yang diterima SNSD sunbaenim setelah comeback mereka.

Ini bukan hal yang membanggakan.

“Apa yang kau baca?” Geun Young onnie tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. Aku menoleh.

“SNSD sunbaenim?”

“Dan No! Name,” jawabku singkat. “Ini bukan berita yang menyenangkan, onnie, meskipun banyak pujian untuk No! Name belakangan ini…”

“Tapi tetap saja, terlepas dari kenyataan kalau SNSD sunbaenim itu senior kita,” Ji Young tiba-tiba sudah bergabung di meja makan, disusul Jiyoo, Eunhoon, dan Hye Ran. “Aku tetap merasa ada sesuatu yang aneh dibalik comeback SNSD sunbaenim. Kalau mereka memang benar-benar memutuskan untuk comeback, seharusnya mereka mempersiapkannya dengan maksimal kan?”

Hye Ran yang baru saja duduk tiba-tiba masuk kembali  ke kamar. Kami tidak terlalu memperhatikannya masuk ke kamar sampai akhirnya dia kembali ke meja makan sambil membawa laptop.

“Sepagi ini kau sudah mau online?” tanya Eunhoon.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu,” kata Hye Ran. Dia membuka link youtube yang ada di mention Twitter-nya.

“Siapa yang memberimu link itu?” tanya Jiyoo.

“Entahlah, dia hanya menyuruhku membukanya,” kata Hye Ran, yang jumlah followernya langsung meningkat drastis sejak pertama kali debut. Kami mengalihkan pandangan ke layar laptop, dan Hye Ran menunjukkan salah satu video SNSD sunbaenim saat special perform di Music Bank, dan saat itu kami juga ada di acara yang sama. Aku terkejut melihat perform SNSD sunbaenim ternyata memang benar-benar jauh dari sempurna.

Kami melihat Seohyun sunbaenim tiba-tiba jatuh terjerembap ke dasar panggung di tengah-tengah pertunjukkan, bahkan roknya robek. SNSD sunbaenim ternyata juga lip sync, hal itu terlihat ketika mereka berhamburan untuk menolong Seohyun sunbaenim yang terjatuh, suara pada lagu mereka masih terdengar.

Aku tidak percaya kalau yang kulihat itu SNSD sunbaenim, kupikir itu hanya video parodi atau apapun yang sejenis. Tapi tentu saja tidak, ini nyata. Aku masih ingat detail panggung itu, itu panggung di Music Bank. Tapi kenapa?

“Netizen mengungkit lagi kasus lama, tentang SNSD sunbaenim yang comeback bersamaan dengan No! Name, banyak yang yakin kalau ada sesuatu di balik comeback sunbaenim. Itu terlihat dari ketidaksiapan sunbaenim saat perform,” kata Hye Ran. “Banyak yang menduga kalau ini semacam permainan balas dendam…”

“SM dengan JYJ?” tebak Ji Young. Hye Ran mengangguk.

“Banyak juga yang tidak terima penampilan SNSD sunbaenim dianggap gagal, dan mereka justru memojokkan No! Name yang sukses karena berduet dengan JYJ. Kalau bukan karena JYJ, No! Name sama saja seperti rookie biasa yang tidak punya keistimewaan apa-apa…”

Saking frustasinya, Ji Young nyeletuk, “Apa ada yang sudah memikirkan nama untuk anti No! Name?”

“Ji Young-ah, itu tidak lucu,” tegur Eunhoon.

“Memangnya siapa yang sedang melucu? Aku mencoba untuk menghormati mereka yang membenci kita,” kata Ji Young ketus.

“Ji Young-ah,” kata Geun Young onnie sabar, dia menggenggam tangan Ji Young, lalu mengedarkan pandangan kearah kami semua. “Aku tahu ini berat untuk kalian, aku paham perasaan kalian yang harus menerima kenyataan kalau ada saja yang membenci dan memojokkan kalian, sementara kalian sudah bekerja keras untuk bisa sampai di titik ini. Tapi dengarkan aku, tidak semestinya kalian terlalu memerhatikan para antis, karena apapun yang kalian lakukan, sekeras apapun kalian berusaha untuk menjadi yang terbaik, antis akan tetap menganggap kalian jelek, buruk, benalu, atau apapun itu. Jangan hiraukan mereka, hiraukan mereka yang mencintai kalian, lakukanlah semuanya yang terbaik untuk Anonymous yang mencintai kalian, dan untuk JYJ sunbaenim yang menyayangi kalian. Kalian tidak perlu lagi merisaukan semua berita yang memojokkan No! Name karena kalian yakin kalau ada lebih banyak lagi orang yang menyayangi kalian, bahkan selalu membela kalian.”

Kami berlima saling berpandangan, aku yakin kami pasti merasakan hal yang sama sekarang. Dadaku seperti ingin meledak melihat betapa besarnya rasa sayang yang ditunjukkan Geun Young onnie kepada kami, dan terlebih lagi, kami seperti melihat Geun Young sahabat kami dalam diri manajer kami ini.

***

Kami berlima baru saja sampai di kantor, dan begitu kami masuk ke lobi suasana langsung gaduh karena belasan wartawan ternyata sudah memenuhi tempat itu. Kami yang awalnya ingin langsung masuk ke studio latihan jadi terhambat. Eunhoon yang berjalan paling depan seketika langsung dikerumuni para wartawan.

“Banyak yang menganggap persaingan No! Name dan SNSD semakin semakin memanas akhir-akhir ini. Apa ini salah satu cara untuk menaikkan popularitas? Tolong berikan pendapat Anda, Orchid-ssi!”

Pertanyaan apa itu? Langsung menohok tanpa basa basi, aku protes dalam hati. Eunhoon kulihat sempat tertegun mendengar pertanyaan wartawan ini. Dia kemudian menghela napas dan menjawab, “Popularitas apa yang Anda maksud? Popularitas No! Name atau popularitas SNSD sunbaenim? Kalau kami melakukan itu semua hanya demi popularitas, maka kami tidak akan lebih dari sekadar rookie yang tidak punya bakat dan keistimewaan apa-apa selain mencari sensasi.”

“Lalu Anda ingin mengatakan kalau SNSD-lah yang sebenarnya ingin menaikkan popularitas dengan persaingan kalian ini?”

Geun Young onnie menyeruak menghalangi Eunhoon menjawab pertanyan wartawan itu. “Apa kalian tidak punya pertanyaan yang lebih bagus dari itu?” tanyanya galak. Dia menarik tangan Eunhoon dan kami berusaha berjalan menembus kerumunan wartawan yang merapat mengelilingi kami dan menuntut jawaban.

“Itu semua tidak benar.”

Suasana mendadak sunyi ketika tiba-tiba ada suara seseorang di belakang. Kami menoleh dan Junsu oppa ternyata sudah berdiri tidak jauh dari kami. Para wartawan langsung mengerumuni Junsu oppa dan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Junsu oppa dengan tenangnya menjawab, “Anda semua pasti sudah melihat award-award yang diterima No! Name dari berbagai acara musik, Anda tidak bisa menuduh popularitas No! Name diraih hanya dari isu persaingan atau mendompleng nama besar seperti ini. Dan aku, Kim Junsu, mewakili Kim Jaejoong sebagai CEO JYJ Entertainment, menegaskan kalau kami tidak pernah mengajari artis-artis yang bergabung di bawah manajemen ini untuk sengaja membuat sensasi atau gosip yang tidak berguna. Kamsahamnida.”

Junsu oppa melewati para wartawan yang masih saja tidak puas dengan pernyataannya, oppa sedikit mendorong bahuku dan kami bertujuh segera naik ke lantai dua.

“Apa kataku,” aku mendengar Hye Ran berbisik pada Ji Young. “Lain kali kalau mau ke studio, langsung saja lewat pintu belakang!”

***

Sepanjang latihan itu, Eunhoon tampak murung. Kecuali diperlukan, dia sama sekali tidak bicara. Kupikir dia pasti masih kesal dengan pertanyaan wartawan tadi.

“Jangan murung terus, Eunhoon-ah. Latihan kita jadi buruk,” kata Ji Young.

“Bahkan Junsu oppa harus turun tangan untuk membela kita,” keluh Eunhoon. “Apa aku tidak cukup baik sebagai leader, apa kata-kataku kurang meyakinkan?”

“Bukan masalah Junsu oppa atau kau, tapi memang mereka saja yang terlalu cerewet,” kataku. “Kau lihat sendiri kan, bahkan ketika Junsu oppa sudah memberikan pernyataan, mereka masih saja mengejar kita…”

“Sudahlah, jangan rusak waktu istirahat kita dengan kejadian tadi. Melihat scrapbook jauh lebih baik daripada membicarakan hal itu,” Jiyoo menoleh kearahku dan aku mengerti maksudnya. Aku mengeluarkan scrapbook kesayangan kami dari tas, dan untuk beberapa saat lamanya kami asyik menempel foto-foto baru di scrapbook itu, saat kami memenangkan award di acara-acara musik, atau beberapa foto saat kami berpesta bersama JYJ.

“Hahahaha, kalian ingat yang ini?” aku membalik halaman scrapbook, memperlihatkan selembar kertas coklat yang pinggirannya diberi efek seperti terbakar, lalu ditempel di halaman scrapbook.

Ji Young cemberut, kami tertawa terbahak-bahak. Kami ingat sekali, dulu Ji Young pernah kami hukum karena dia telat mentraktir kami saat hari ulang tahunnya. Sesuai dengan perjanjian, siapapun yang pada hari ulangtahunnya tidak mentraktir kami, dia harus menerima hukuman. Saat itu kami menghukumnya menulis surat cinta untuk Yoochun oppa, yang kebetulan adalah biasnya, dan isi surat itu harus segombal mungkin.

“Hahahaha, Ji Young-ah, berikan saja surat ini pada Yoochun oppa!” ledekku.

“Oh, Yoochun oppa, maukah kau menjadi ayah dari anak-anakku nanti?” ledek Jiyoo. Hye Ran dan Eunhoon tertawa sampai berguling-guling.

“Diam kalian semua!” seru Ji Young, wajahnya memerah. “Awas kalau sampai ketahuan Yoochun oppa, aku tidak akan memaafkan kalian!”

Eunhoon tidak begitu mempedulikan omelan Ji Young, dia membalik halaman surat cinta itu, dan ketika melihat halaman di baliknya, tawanya mendadak terhenti. “Apa-apaan ini?!” serunya. Kami mendongak.

Kami kembali tertawa, bersuitan menggoda Eunhoon. Tentu saja Eunhoon tidak tahu apa-apa, itu semua kerjaanku. Aku yang memotong foto Jaejoong oppa dan Eunhoon, lalu membuat semacam pohon keluarga kecil, Jaejoong appa, Eunhoon omma, dan aku sebagai anak perempuan mereka.

“Onnie mau menjadi setan dalam hubungan mereka?” tanya Hye Ran geli. “Onnie jadi semacam istri kedua, begitu?”

“Babo! Bukan begitu, lihat baik-baik! Mereka kan suami istri,” aku menunjuk foto Jaejoong oppa dan Eunhoon. “Lalu aku jadi anak mereka. Lucu kan?”

“Cocok sekali, Iseul! Eunhoon cocok jadi omma-mu!” seru Ji Young. Eunhoon menekuk wajahnya yang memerah.

“Ya! Kapan kau membuatnya, Iseul?” tanya Eunhoon bingung sekaligus penasaran, mukanya masih memerah.

“Sudah lama, kau saja yang tak pernah melihatnya, kau kan yang paling jarang membuka scrapbook kita,” jawabku santai.

“Ah ya sudah biarkan saja, kita buka halaman berikutnya saja ya?” tanya Jiyoo yang diiyakan oleh yang lain. Jiyoo lalu membuka perlahan dan melihat foto-foto Junsu oppa yang penuh di kertas itu. Yah semua juga tahu Jiyoo fans berat Junsu oppa. Daripada menulis seperti teman-temannya yang lain, Jiyoo lebih memilih mengisi scrapbook dengan foto-foto, terutama foto Junsu oppa mulai dari Junsu oppa masih kecil sampai sekarang ini.

“Jiyoo, kenapa kau belum memasang foto Junsu oppa yang terbaru? Aku lihat fotonya banyak di hapemu,” godaku. Kini gantian muka Jiyoo yang memerah.

“Belum aku cetak sih,” jawab Jiyoo polos. Mereka lalu membuka lembar scrapbook berikutnya. Kali ini lebih banyak berisi cerita tentang Ji Young dan Geun Young, sahabat kami, tentang Yoochun oppa. Yah mereka berdua harus rela berbagi karena bias mereka sama, tidak seperti yang lain yang sendiri-sendiri.

Mereka seringkali berkelahi hanya gara-gara Yoochun oppa. Mereka bahkan sampai menulis hal aneh seperti ini.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kami semua hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka dulu. Ya dulu, sekarang Geun Young sudah tidak bersama kami. Aku sedih jika mengingatnya lagi. Mungkin kalau Geun Young masih disini, masih bergabung dengan No! Name, kami pasti akan selalu mendengar Geun Young dan Ji Young berdebat, melihat mereka berkelahi gara-gara Yoochun oppa, melihat mereka suka berebut majalah hanya untuk melihat Yoochun oppa. Jika Geun Young bersama kami, pasti dia akan merasakan betapa bahagianya kami.

Sekarang giliran halamanku mengenai Yunho sunbaenim dan Hye Ran dengan Changmin sunbaenim. Tentu saja, meskipun kami cinta setengah mati dengan dua namja itu, kami tidak bertindak sekonyol Ji Young dan Geun Young, hehehe. Tapi ketika melihat halaman ini, yang kami rasakan justru perasaan sedih, lebih-lebih ketika kami melihat salah satu foto DBSK ini. Dulu Hye Ran pernah satu kelas dengan salah seorang temannya yang ternyata anti fans DBSK, dan ketika dia melihat Hye Ran membawa foto DBSK, dia merebut foto itu dan berkata, “Mereka harusnya seperti ini!”, lalu merobek foto itu, memisahkan Jaejoong oppa dan Changmin sunbaenim yang berdiri di tengah. Hye Ran terus menerus menangis melihat foto kesayangannya rusak, lalu aku mencoba menghiburnya dengan merekatkan lagi foto itu dan menulis di bawahnya, “Always keep the faith.”

Dan bagaikan ramalan yang menyedihkan, foto itu robek dan sangat tepat memisahkan JYJ dan HoMin sunbaenim, dan itulah yang terjadi sekarang.

“Ingat tidak, waktu itu Geun Young selalu menyemangati kita kalau DBSK suatu saat nanti akan kembali berlima,” kataku.

“Ya, dia selalu yang paling optimis diantara kita,” timpal Eunhoon.

“Kira-kira Geun Young onnie sedang apa ya di Inggris?” tanya Hye Ran.

“Kapan aku ke Inggris?” tiba-tiba Geun Young onnie masuk studio, kami melihatnya menatap kami dengan tatapan heran. “Aku kan hanya keluar sebentar, masa kalian sudah sebegitu rindunya denganku?”

Kami saling pandang, dan melihat ekspresi Geun Young onnie yang kebingungan, kami tertawa.

***

Di dorm, kira-kira pukul setengah sembilan malam, Hye Ran masuk ke kamar dan memanggilku.

“Onnie, scrapbook-nya mana? Aku mau menempel foto lagi,” katanya.

“Ada di tasku, ambil saja sendiri,” sambil lalu aku menunjuk ke tas selempangku di atas meja. Aku tidak melihat saat Hye Ran membuka tasku, sampai akhirnya dia memanggilku lagi.

“Di mana, onnie? Tidak ada di tas,” katanya.

“Eh? Ada kok, carilah dengan benar,” kataku.

Hye Ran mengeluarkan seluruh isi tasku. “Mana? Tidak ada buku dalam tasmu, onnie. Dimana scrapbook-nya?”

Aku melompat dari kasur tingkatku. “Yang benar saja, seingatku sudah kumasukkan tadi saat di studio…”

“Kenapa?” tanya Ji Young.

“Onnie lihat scrapbook, tidak?” tanya Hye Ran.

“Mana kutahu, Iseul yang terakhir membawa, kau tanya saja padanya,” kata Ji Young. “Kau taruh dimana, Iseul?”

“Aku masukkan ke tas…” jawabku, ragu. Kalau kumasukkan ke dalam tas, mana mungkin bisa hilang?

“Kau ini bagaimana, sih? Benda sebesar itu bisa-bisanya kau lupakan?!” seru Ji Young emosi. Aku hendak membela diri, tapi kemudian Jiyoo dan Eunhoon masuk.

“Iseul menghilangkan scrapbook kita,” kata Ji Young dengan nada tinggi.

“Mwo?” seru Eunhoon, aku pucat. “Bagaimana mungkin kau bisa-bisanya menghilangkan scrapbook itu? Kalau seseorang menemukannya dan melihat isinya, mau ditaruh dimana muka kita?”

“A…aku yakin pasti ada di suatu tempat…”

“Kau saja lupa menaruhnya dimana, jangan berusaha meyakinkan kami!” hardik Ji Young. “Sekarang scrapbook-nya sudah hilang, dan ini semua salahmu!”

“Kalian ini kenapa sih?” tegur Geun Young onnie. “Kenapa kalian bertengkar?”

“Iseul menghilangkan scrapbook kami!” kata Jiyoo.

Sementara Jiyoo berbicara pada Geun Young onnie, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Jangan-jangan scrapbook-nya tertinggal di studio!

Aku langsung menyambar jaketku dan berlari keluar dorm.

“Iseul? Mau kemana?” teriak Geun Young onnie.

“Mencari scrapbook!” jawabku. Tanpa menghiraukan larangan Geun Young onnie, aku terus berlari keluar apartemen.

***

Dengan napas terengah-engah aku kembali ke kantor, masuk lewat pintu belakang dan langsung menuju studio. Untungnya studio masih terbuka dan tidak ada orang, aku langsung masuk. Tapi sebelum aku sempat mencari-cari scrapbook, tiba-tiba Yoochun oppa masuk ke studio.

“Iseul, sedang apa kau malam-malam disini?”

“Aku… mencari sesuatu,” jawabku sekenanya.

Yoochun oppa mengangguk-angguk, lalu sesaat kemudian dia menarik tanganku. “Kau ikut denganku. Ada sesuatu yang ingin kuberikan.”

“Tidak bisa sekarang, oppa. Aku sedang mencari sesuatu,” elakku.

“Sudah, ikut saja. Ini lebih penting,” kata Yoochun oppa, lalu menarikku lebih kuat lagi. Aku tidak bisa menarik tanganku, tenaga Yoochun oppa lebih besar dariku. Setengah terpaksa aku mengikuti Yoochun oppa.

Kami berjalan ke kafetaria, disana Yoochun oppa menekan bahuku supaya aku duduk, lalu dia duduk di depanku dan memesan dua cangkir teh.

“Apapun yang mau oppa berikan, berikan saja sekarang. Aku harus kembali ke studio dan mencari sesuatu,” kataku gelisah.

“Tunggu sampai tehnya datang,” kata Yoochun oppa tenang.

“Maaf oppa, tapi aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Ini penting.”

Yoochun oppa menatapku, lalu dia menjulurkan tangannya dan menaruh benda yang ternyata dari tadi dia bawa. “Maksudmu kau sedang mencari ini?”

Aku melongo menatap benda di hadapanku. Tidak mungkin, scrapbook yang kucari-cari!

“Bagaimana? Apa itu yang kau cari?”

Aku masih bengong, aku memegang scrapbook di tanganku. Perasaanku benar-benar campur aduk, antara lega tapi sekaligus malu.

“Untunglah…” kataku, dan tanpa terasa air mataku menetes.

“Ya, kenapa kau menangis?” tanya Yoochun oppa. Aku tidak bisa menjawab Yoochun oppa, tangisanku justru semakin kencang. Beberapa orang yang di kafetaria menoleh melihatku yang menangis kencang, sementara Yoochun oppa panik melihatku menangis.

“Aduh, kenapa tangisanmu malah semakin kencang?” tanya Yoochun oppa, orang-orang menatapnya dengan pandangan menyelidik, curiga kalau dialah yang membuatku menangis seperti anak kecil yang sedang diculik. Akhirnya, karena kehabisan akal, Yoochun oppa memasukkan permen ke mulutku lalu membekap mulutku dengan tangannya.

“Diam,” kata Yoochun oppa. Aku akhirnya menghentikan tangisku.

Petugas kafetaria datang mengantarkan teh, sambil melirik Yoochun oppa dengan pandangan menyelidik, pasti dia curiga setelah mendengarku menangis kencang. Yoochun oppa pura-pura cuek, dia sengaja mengeraskan suaranya dan bertanya padaku, “Kenapa kau menangis kencang seperti itu? Memalukan, kau tidak ingat umurmu berapa?”

“Habisnya…” aku sesenggukan. “Aku panik sekali saat tahu kalau scrapbook-ku tidak ada di tasku. Teman-temanku sudah marah sekali waktu tahu kalau aku menghilangkan scrapbook ini. Gomawo, oppa! Untung saja oppa yang menemukannya!”

Yoochun terkekeh sambil meminum tehnya. “Aku tahu kenapa kau bisa mengatakan itu…”

Aku bengong. “Maksudnya?”

“Aku tahu kenapa kau merasa lega sekali karena aku yang menemukan buku itu.”

Aku berpikir sebentar, dan melihat senyum jahil Yoochun oppa, mendadak aku mengerti maksud namja ini. “Kapan… oppa menemukannya?”

“Tidak lama setelah kalian pulang, kira-kira jam enam sore. Saat aku masuk ke studio dan aku menemukan ini tergeletak di sofa.”

“Berarti, selama selang waktu dua jam… Oppa membaca semuanya?”

Yoochun oppa kembali terkekeh. Wajahku pucat. “Yah, sebagian besar. Aku tidak menyangka kalian megidolakan kami sampai seperti ini. Aku suka surat cinta yang dibuat Ji Young untukku, dan aaaah… aku diperebutkan dua yeoja, senangnya…”

“Itu tidak lucu, oppa,” kataku. “Oppa, kumohon jangan sampai teman-temanku tahu kalau oppa sudah membaca scrapbook kami. Kumohon, oppa… ya?”

“Memang kenapa? Aku suka kok dengan scrapbook kalian.”

“Iya, tapi itu memalukan…”

“Oiya, aku penasaran,” Yoochun oppa memotong kata-kataku. “Aku melihat banyak nama Geun Young-ssi yang ditulis di halaman-halaman awal scrapbook kalian. Bukankah kalian bertemu Geun Young-ssi belum lama?”

“Yang kami maksud bukan manajer kami, tapi sahabat kami yang kebetulan namanya sama dengan Geun Young onnie. Dia dulu juga salah satu member No! Name dan dialah leader-nya, sebelum akhirnya dia memutuskan keluar dari band dan pergi kuliah ke Inggris. Dialah yang pertama kali membentuk No! Name, dia juga yang memberi nama band kami. Aku jadi mengingat mimpi No! Name dulu, kami bermimpi akan menjadi band yang sukses dan sekarang semua menjadi nyata. Bisa bertemu dengan JYJ, bergabung dengan JYJ Entertainment, merilis mini album dan MV, tampil di acara musik populer, bahkan kami bisa memenangi beberapa award di awal debut kami. Itu semua luar biasa oppa. Aku dan teman-temanku tidak pernah menyangka No! Name akan bisa seperti sekarang ini. Aku selalu berpikir kalau saja Geun Young ada disini bersama kami, mungkin…”

Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Pipiku mulai basah. “Aku… kangen sekali dengan Geun Young…”

Yoochun oppa mengelus kepalaku pelan. “Minum tehmu,” katanya. Aku mengusap air mataku dan mengangguk. Dia memperhatikanku sementara aku meminum tehku, lalu menatap keluar jendela di samppingnya.

“Setidaknya… meskipun kalian berpisah, kalian masih bisa tetap berhubungan kan?”

Aku tertegun. Apa maksud kata-kata Yoochun oppa tadi? Apa dia membandingkan keadaan kami dengan keadaan DBSK, dengan HoMin sunbaenim? Sebegitu parahnyakah mereka sekarang, bahkan mereka tidak bisa bertemu atau bicara sama sekali?

“Oppa… pernah bertemu lagi dengan mereka?” tanyaku ragu-ragu.

Terlihat jelas kalau wajah Yoochun oppa mulai mengkeruh, dia berpaling menatap jendela supaya aku tidak melihat matanya yang berkaca-kaca. Sesaat kemudian dia kembali menatapku sambil tersenyum.

“Mereka pasti sibuk,” katanya dengan suara bergetar. “Sudahlah, kau habiskan saja tehmu, lalu cepat-cepat pulang, ok? Teman-temanmu pasti menunggumu di rumah.”

Dia menepuk kepalaku pelan lalu beranjak dari kursi, lalu pergi meninggalkanku. Terkadang aku merasa, senyum Yoochun oppa itu bukan karena dia sedang bahagia, tapi untuk menutupi tangisannya.

***

Aku malas pulang. Alih-alih keluar kantor dan menyetop taksi atau menunggu di halte bus, aku naik ke atap gedung. Sudah lama aku tidak seperti ini, menatap langit-langit di malam hari di atas atap gedung. Geun Young onnie melarangku berdiam di atap gedung, karena jadwal kami yang padat belakangan ini, dia khawatir kami sakit.

Sambil mendengarkan lagu di iPod, aku menapaki tangga menuju atap gedung. Tapi begitu sampai di sana, aku melihat ternyata Jaejoong oppa sudah lebih dulu ada disana. Dia duduk membelakangiku.

“Annyeong,” sapaku. Jaejoong oppa menoleh lalu tersenyum.

“Sedang apa kau malam-malam disini?” tanya Jaejoong oppa.

“Aku… mencari sesuatu yang tertinggal di studio…” kataku. “Oppa sendiri kenapa ada disini?”

“Hanya merasa sedikit suntuk,” jawab Jaejoong oppa. Dia meminjam sebelah headset-ku. Beberapa saat lamanya kami hanya diam sambil mendengarkan lagu, sementara aku menatap langit mencari rasi bintang kesayanganku, Cassiopeia. Tapi malam ini sama saja, sinarnya masih redup.

“Oppa, apa aku boleh menceritakan sesuatu?” tanyaku.

“Apa?”

“Sebenarnya, member No! Name itu enam orang.”

“Eh? Benarkah? Kenapa kau tidak cerita dari dulu? Kemana teman kalian itu?”

“Dia keluar,” jawabku. “Orangtuanya tidak mengizinkannya bergabung di band dan menyuruhnya ke Inggris untuk kuliah. Entahlah, mungkin kuliah ke Inggris itu adalah cara supaya kami tidak bisa lagi bertemu dengan Geun Young. Ya, namanya memang sama dengan manajer kami. Meskipun kami sempat marah, tapi waktu itu kami juga tidak punya alasan untuk menahannya. Orangtua mana yang mau masa depan anaknya suram? Siapapun pasti akan menilai kalau band kami waktu itu tidak lebih dari sekadar proyek main-main, tidak akan berkembang. Tapi Geun Young selalu optimis, dia selalu meyakinkan kami kalau suatu saat nanti No! Name pasti akan sukses dan terkenal. Ironisnya, orang yang selalu menyemangati kami justru yang lebih dulu meninggalkan kami, dan dia tidak ada di samping kami ketika kami sukses seperti sekarang. Aku sangat merindukannya, dan inilah yang bisa kulakukan, menatap rasi bintang kesayangan kami di malam hari, kegiatan yang dulu sering kami lakukan.”

“Rasi bintang kesayangan?” tanya Jaejoong oppa tertarik. “Apa itu?”

“Cassiopeia,” jawabku. Aku lihat raut wajah Jaejoong oppa berubah, seperti teringat dengan sesuatu yang sangat dia rindukan.

Hayahge heuryeojin geurimgwa jiweojindeuthan nae hyanggiga
Nunbushin gureumsoge garyeojyeoyo…

Spontan kami saling pandang, suasana akrab diantara kami seperti menguap begitu mendengar suara Changmin sunbaenim di lagu Holding Back The Tears ini. Babo! Kenapa aku bisa lupa kalau sekarang Jaejoong oppa sedang meminjam sebelah headset-ku?

“Mi…mianhae oppa…” kataku gugup lalu buru-buru mengambil iPod-ku.

“Biarkan saja,” Jaejoong oppa mencegahku menekan tombol next. “Aku kangen dengan lagu ini.”

Aku menurut. Jaejoong oppa memejamkan matanya dan bersenandung kecil menyanyikan bagiannya di lagu itu.

babogatjiman neul hamkke isseoyo
biugo shipeun geu apeumi
onmomeuro heureuneun nae nunmureul mareuge hajyo.

Aku tidak berani menyelanya. Mungkin saat ini Jaejoong oppa memang benar-benar sedang merindukan Yunho sunbaenim dan Changmin sunbaenim.

“Aku…” kata Jaejoong oppa, matanya tetap terpejam. “Bertemu dengan Yunho.”

“Eh? Kapan?” tanyaku kaget.

Jaejoong oppa membuka matanya dan jujur saja, dadaku sakit melihat Jaejoong oppa memaksakan tersenyum. “Jadi Ji Young tidak cerita apapun?”

“Eh? Ji Young?” kataku kaget. “Tidak, dia sama sekali tidak cerita apapun. Kapan, oppa?”

“Waktu kalian debut di Music Bank. Saat aku aku sedang mencari Ji Young karena dia tidak ada di waiting room. Ketika aku menemukannya sedang bersama Tiffany dan Jessica, saat itu juga Yunho datang.”

“Lalu apa yang oppa katakan pada Yunho sunbaenim?” tanyaku. Apa kalian bicara banyak?

“Tidak ada.”

Hatiku mencelos. “Kenapa?”

Jaejoong oppa terdiam cukup lama, dia menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya. “Karena aku merasa bersalah dengannya.”

Aku tidak mengerti, perasaan bersalah apa?

“Aku merasa bersalah, dan aku juga tidak siap untuk bertemu dengan Yunho, atau Changmin, atau keduanya dalam waktu yang bersamaan. Aku merasa sangat egois karena aku sudah meninggalkan mereka berdua dan tidak memikirkan nasib DBSK dan perasaan Cassiopeia. Aku tidak siap bertemu mereka karena aku sendiri juga tidak tahu apa yang harus kukatakan di depan mereka, kenapa aku lebih memilih untuk meninggalkan mereka. Sakit rasanya ketika aku, Yoochun, dan Junsu mencoba untuk memperoleh apa yang memang seharusnya menjadi hak kami, tapi orang-orang malah menuduh kami manusia yang tidak tahu terima kasih. Sakit rasanya ketika kami merindukan mereka, tapi mereka menyatakan kalau “TVXQ! yang baru sudah dimulai”, padahal di saat yang sama kami selalu berdoa semoga suatu saat nanti kami bisa bersama lagi, berlima.”

Air mata Jaejoong oppa mulai mengalir, dan dia mulai menangis sejadi-jadinya. Aku tidak mencegahnya, aku tahu Jaejoong oppa sudah terlalu lama memendam perasaan sedihnya selama ini di depan kami semua. Aku tahu selama ini dia pura-pura bahagia hanya supaya kami tidak mengkhawatirkan keadaannya.

“Padahal aku sangat menyayangi mereka berdua…” isak Jaejoong oppa. “Siapapun tidak akan mengerti kalau meninggalkan Yunho dan Changmin adalah keputusan paling berat yang pernah kami ambil… Seandainya orang-orang tahu, mungkin mereka tidak akan pernah menyebut kami manusia tidak tahu terima kasih…”

Holding Back The Tears berhenti, dan berganti dengan W. Aku ingin mengganti lagu yang menyedihkan ini, tapi Jaejoong oppa kembali menggenggam tanganku. Dia mencegahku mengganti lagunya.

“Tapi, oppa…”

“Tidak semenit pun,” kata Jaejoong oppa, masih terisak. “Tidak semenit pun aku lewatkan tanpa merindukan mereka berdua, membayangkan apa yang kira-kira mereka lakukan disana, di dorm yang dulu pernah kami tempati bersama, apa mereka sehat-sehat saja, apakah Yunho masih selalu bermasalah dengan penyakit di perutnya…”

Jaejoong oppa menggenggam tanganku erat. “Tapi tidak ada satupun yang bisa kulakukan untuk bisa memastikan keadaan mereka sekarang…”

Aku menangis, aku tidak tahu cara apa yang bisa kulakukan untuk menghibur Jaejoong oppa karena aku juga merasakan rasa sakit yang sama. “Oppa pasti menderita sekali selama ini…”

Jaejoong oppa membenamkan wajahnya ke lengannya, menangis. Aku bersandar di bahunya, dadaku sakit melihatnya menangis seperti ini, aku marah dan kalau saja aku bisa, aku akan mencari semua orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap semua masalah yang dihadapi JYJ sekarang. Seandainya aku bisa, akan kulakukan apapun.

“Aku akan membuat oppa tersenyum lagi.”

Jaejoong oppa mendongak, dengan wajah sembap dia menatapku. “Apa?”

“Aku akan membuat kalian semua tersenyum lagi,” kataku. “Aku janji.”

Aku menatap Jaejoong oppa tepat di kedua matanya. Seumur hidupku, belum pernah aku berbicara seserius ini.

***

Hari ini No! Name menjadi bintang tamu di Sukira. Kali ini yang menjadi DJ adalah Eunhyuk sunbaenim dan Donghae sunbaenim. Leeteuk sunbaenim sedang berhalangan hadir karena sedang ada urusan penting, jadi Donghae sunbaenim yang menggantikannya. Kami tersenyum lalu membungkuk pada Eunhyuk sunbaenim dan Donghae sunbaenim, mereka membalasnya dengan tersenyum dan juga membungkuk. Beberapa menit kemudian kami mulai memasuki studio dan duduk melingkar lalu acara pun dimulai.

Eunhyuk sunbaenim mengawali acara dengan memperkenalkan seluruh member No! Name, dan meskipun Ji Young sudah mulai akrab karena sudah pernah bertemu sebelumnya, Ji Young tetap memanggil Eunhyuk sunbaenim. Karena mini album No! Name masih dalam masa promosi, jadi selama wawancara radio ini kami lebih banyak membahas tentang album dan awal-awal terbentuknya No! Name. Mereka juga menanyakan bagaimana awalnya kami bisa bertemu dengan JYJ dan juga bagaimana perasaan kami bisa bergabung dengan JYJ Entertainment.

“Oh, jadi sebenarnya member No! Name ada enam?” tanya Donghae sunbaenim, ketika dia tahu kalau No! Name adalah nama yang diberikan Geun Young, serta ucapan terima kasih kami pada Geun Young yang kami tulis di album.

“Ya, tapi karena dia harus melanjutkan studi di luar negeri, dia terpaksa keluar dari band,” jawab Eunhoon.

“Oiya, aku dengar saat dulu kalian mengikuti festival-festival musik, kalian sering membawakan lagu-lagu DBSK yang kalian aransemen ulang, benarkah itu?” tanya Eunhyuk sunbaenim.

“Ya, kami memang lumayan sering membawakan lagu-lagu DBSK, bahkan mungkin di hampir setiap festival,” kali ini Jiyoo yang menjawab.

“Apakah DBSK sunbaenim adalah musisi yang menginspirasi kalian?” tanya Donghae sunbaenim.

“Ya, DBSK sunbaenim adalah inspirator terbesar No! Name, itu semata-mata karena kami semua ini Cassiopeia,” kataku yang diikuti anggukan lagi oleh yang lain.

Acara lalu dilanjutkan dengan adanya telepon misterius, seorang namja menelepon kami dan menurut Eunhyuk seunbaenim, kami lumayan mengenal orang itu.

“Annyeonghaseyo,” sapa seseorang namja diseberang telepon sana.

“Annyeonghaseyo,” sapa kami berbarengan yang diikuti juga oleh Eunhyuk sunbaenim dan Donghae sunbaenim. Aku sempat terdiam sebentar, aku merasa suara namja ini sangat familiar.

“Apa kau ini Anonymous?” tanya Eunhyuk sunbaenim.

“Ya, bukan hanya aku, tapi teman-temanku juga,” kata orang itu, lalu tertawa kecil. Kami berlima saling pandang? Dia dan teman-temannya? Aku setengah berharap kalau yang menelepon ini adalah Geun Young, tapi 100% mustahil. Sejak kapan Geun Young pintar menirukan suara pria? Aku semakin curiga dengan namja ini.

“Aku yakin mereka pasti ingat dengan kata-kata ini, ‘Juara kedua itu bukan akhir, tapi awal dari segalanya’.”

“CN Blue?” jawab Eunhoon ragu. Namja di seberang telepon itu tertawa.

“Syukurlah, aku tidak dilupakan.”

Kami berlima tertawa lepas. Ternyata memang benar, yang menelepon kami sekarang ini Yonghwa CN Blue.

“Apa tadi Yonghwa sunbaenim mengatakan kalau dia Anonymous?” tanya Hye Ran.

“Ya,” jawab Donghae sunbaenim.

“Baiklah, salam kenal Yonghwa sunbaenim, aku Boice,” kata Hye Ran. Kami tertawa.

“Dimana kau bertemu dengan No! Name, Yonghwa-ssi?” tanya Eunhyuk sunbaenim.

“Kami bertemu saat Festival Myeong Dong, saat itu No! Name meraih juara dua, padahal itu pertama kalinya mereka tampil,” jawab Yonghwa sunbaenim.

Obrolan kami berlangsung dengan santai. Beberapa menit kemudian Yonghwa sunbaenim mengakhiri percakapan lewat telepon tersebut. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sesi santai. Kami mulai menyanyikan lagu Rhythm of Love yang dilanjutkan dengan penampilan solo Ji Young yang menyanyikan lagu My Love With You dan diiringi dengan permainan gitar akustik Eunhoon.

Giliran Jiyoo. Dia menyanyikan lagu yang dulu pernah dinyanyikan Junsu oppa, Beautiful Thing, sementara Hye Ran yang memainkan piano dan aku memainkan harmonika.

It’s feel like beautiful thing
Darui geurimja arae seon na
Gwitkka-e maemdoneun baram
Nareul eodiro deryeogalkka
Hayake bameul yuyeonghadeut
Gureumeul geonneun yeonghon
Saebyeogi chaja-ol ttaekkaji
Bami jamdeul ttaekkaji

Sementara Jiyoo menyanyi, aku beberapa kali melihat Eunhyuk sunbaenim menekan sudut matanya. Tak ada yang melihat itu kecuali aku, aku tahu betul kalau Eunhyuk sunbaenim sebenarnya sedang mengusap air mata. Entahlah, apa mungkin Eunhyuk sunbaenim diam-diam menangis? Apa yang dia tangisi?

***

Setelah acara selesai, Eunhyuk sunbaenim menghampiri kami.

“Aku… titip salam untuk Junsu ya,” katanya. Eunhoon mengangguk, Eunhyuk sunbaenim mengucapkan terima kasih dengan suara pelan, dan dia pergi.

Aku menatap punggung Eunhyuk sunbaenim, tiba-tiba saja ada suatu ide muncul di kepalaku. “Sunbaenim,” panggilku.

Eunhyuk sunbaenim berbalik. “Ya?”

“Bolehkah aku minta tolong?” tanyaku. Teman-temanku menoleh mendengar kata-kataku. Donghae sunbaenim juga menoleh.

“Ada sesuatu yang ingin aku lakukan, tapi aku perlu bantuan sunbaenim,” kataku. “Dan kalian semua,” aku menoleh kearah teman-temanku.

Eunhyuk sunbaenim dan Donghae sunbaenim saling pandang, lalu mereka menghampiriku. “Bantuan apa?”

Aku menghela napas, dan kemudian mengutarakan keinginanku kepada mereka. Saat mengatakan itu, berulang kali aku teringat dengan janjiku pada Jaejoong oppa.

Aku akan membuat kalian tersenyum lagi. Aku janji.

Eunhyuk sunbaenim dan Donghae sunbaenim terlihat antusias mendengar rencanaku, tapi juga sekaligus ragu. “Aku khawatir mereka akan mendapat masalah, meskipun sebenarnya aku juga ingin sekali membantu kalian.”

“Sunbaenim khawatir dengan mereka, atau khawatir dengan nasib sunbaenim sendiri?” tanyaku. Air muka Eunhyuk sunbaenim berubah, mungkin dia tidak menyangka aku bisa mengatakan hal seperti itu.

“Jangankan sunbaenim, kami sebenarnya juga takut akan terkena masalah, tapi… aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan melakukan apapun yang kubisa demi orang-orang yang aku sayangi. Bukankah mereka juga orang-orang yang sunbae sayangi?”

Eunhyuk sunbaenim terdiam mendengar kata-kataku.

“Iseul-ah, kau jangan terlalu memaksa…” Ji Young menekan pundakku.

“Sunbaenim…” aku memohon.

“Eunhyukkie…” kata Donghae sunbaenim. “Aku akan membantu mereka.”

Aku sumringah. Teman-temanku saling berpandangan dengan wajah bahagia. Aku menoleh ke Eunhyuk sunbaenim. Namja itu menatap Donghae sunbaenim beberapa saat, lalu dia menghela napas.

“Baiklah, akan aku usahakan.”

***

Beberapa hari kemudian, sepulang latihan, aku mendapat telepon dari Eunhyuk sunbaenim.

“Yobosaeyo.”

“Kiara-ssi?” kata Eunhyuk sunbaenim di seberang telepon. “Aku sudah berhasil.”

Aku tersenyum. “Kansahamnida, sunbaenim.”

“Siapa yang menelepon?” tanya Jiyoo.

“Eunhyuk sunbaenim,” jawabku dengan senyum merekah, aku lalu berbalik menghadap teman-temanku. “Mereka sudah berhasil.”

 

***TO BE CONTINUE***

Advertisements

40 responses to “[4 of 5] No! Name

  1. yaah, baru baca sekarang *baru nyadar uda pub*
    meski aku bukan cassie, tp sempet agak mewek2 lebay jg,
    hyaaah ngaduk2 perasaan -________-;
    rencana mempertemukan HoMin-JYJ bukan?
    ayo lanjuuut! :d

  2. awal aq bc prtama kykx g seru tiba2 aj dah nongol bag.4…..eh g taux stlh q paksain (d plototin author) trxta seru jg!
    Huaaa..g krasa 1 episode lg udh endingx…sedih T.T (macam sinetron aj..)

  3. Apakah homin akan bertemu jyj?? *penasaran stgh mampus*
    aku lanjut ke chapter slanjutnyaaa!
    Jummpp!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s