I’M NOT CINDERELLA IV (Part 1)

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Lee / Cho Eunhye

Cho Kyuhyun

Support cast : Super Junior

Genre : Romance

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan gue, hanya imajinasi gue sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

POV : semua cerita gue ambil dari sudut pandang Eunhye

Poster and Thank’s To : Rara a.k.a cute pixie

“Cinta yang kupunya bukanlah cinta yang bisa dirampas dan dibuang begitu saja” Ocha Syamsuri

Baca dulu : Prolog, Part I, Part II, Part III

***

I’M NOT CINDERELLA

***

Aku mencintai suamiku itu dengan setulus hatiku. Aku mencintainya sebanyak udara yang kuhirup, bahkan melebihi batas yang ada. Cinta yang tak terbatas kadang suatu waktu membuatku lelah. Tapi bukan berarti aku lelah mencintainya, aku hanya lelah membuat ia sadar betapa aku mencintainya. Dengan semua pengorbanan dan ketulusan yang aku berikan selama ini apa tidak membuatnya sadar?

Kalian pasti bertanya apa yang membuatku bertahan dengan semua masalah yang mendera. Jawabannya hanya satu, karena aku masih menunggu. Aku masih menunggu kepastian dari hatinya, apa ia juga mencintaiku atau malah sebaliknya. Sebelum ada kepastian itu aku akan sabar menunggu dan tetap berada di sampingnya. Aku menderita? Ya, aku sangat menderita. Tapi aku menderita bukan karena sikapnya, sungguh. Dia dengan semua sentuhannya, dia dengan semua kebaikannya, dia dengan semua aturannya, dia dengan semua senyumannya, dan dia dengan semua sikapnya membuatku yakin kalau ia juga mencintaiku, tapi dengan kedekatannya bersama Victoria sedikit meruntuhkan keyakinanku. Namun selama ia belum menyakitiku secara langsung, aku akan sabar menunggu, menunggu sampai ia memandangku seutuhnya, tanpa ada Victoria dan tanpa ada siapapun. Dan aku menunggu sampai ia mengatakan jika ia tidak memerlukanku lagi, menunggu ia mengatakan aku hanya menambah beban bagi hidupnya. Dan aku akan menunggu sampai saat itu. Jika saat itu datang, aku dengan semua cinta yang kupunya akan menjauh dari hidupnya.

Aku baru saja mau membeli roti untuk makan siangku sampai sebuah suara memanggilku. Aku menoleh dan kudapati Krystal melambaikan tangannya. Apa dia menyuruhku untuk bergabung dengannya? Dengan rombongan sparKYU itu? Ohh tidak. Aku tentu akan menolak dengan jelas.

“Ahjumma, roti isi dagingnya dua ya.” Aku memesan makanan dan menaruh beberapa lembar ribu won. Tak lama kemudian roti pesananku datang, aku segera mengambilnya dan bersiap pergi dari sini. Tapi langkahku terhenti karena yeoja ini sudah berada di hadapanku dan menggelayutiku seperti anak kecil.

“Eunhye-ah, aku memanggilmu tadi. Kenapa kau tidak mendekatiku?” Celoteh yeoja ini sambil bergelayutan di lenganku. Aku heran dengan yeoja ini, selalu saja suka menggelayut di lengan orang. Mana memasang wajah sok imut lagi.

“Mianhae Krystal-ssi, aku hanya buru-buru untuk memesan ini.” Tunjukku ke arah bungkusan yang isinya roti daging.

“Kau memesan apa.” Serta merta yeoja ini merebut bungkusan itu dari tanganku dan melihat isinya. Astaga yeoja ini. “Kau memesan roti daging ya? Aigoo~ aku juga ingin makan roti daging. Ayo kita makan bersama!!” Ia menarik tanganku menuju ke suatu tempat.

***

Aku mencuci wajahku di wastafel dan cepat-cepat aku mengelap wajahku dengan sapu tangan yang selalu aku bawa kemanapun saat kudengar suara sekelompok yeoja memasuki toilet. Mereka langsung menghentikan tawa mereka dan menggantikannya dengan tatapan sinis saat melihat aku berada di sini. Seakan aku ini sebuah benda yang harus dibungkus karung dan di asingkan ke Afganistan. Astaga mereka ini!! Apa aku juga tidak boleh berkeliaran di toilet? kenapa mereka menatapku begini?

“Ehmm, sang Cinderella rupanya berada disini. Aku kira dia menempel terus dengan pangerannya.”

Aigoo~ lagi-lagi Cinderella. Mereka tidak bosan apa mengataiku begitu? Aku saja sampai mati kebosanan mendengar ungkapan itu. Memang tidak ada kata-kata lain yang lebih bermutu ya? Misalnya putri salju atau ikan duyung. Kan lebih keren dibanding Cinderella.

“Ya! Kenapa kau masih disini? Cepat pergi! Aku muak denganmu!” Bentak salah satu dari mereka.

Aigoo~ gak sakit apa itu tenggorokan? Teriak melulu. Lagian siapa juga yang mau lama-lama di toilet? walaupun cuma murid SMA, aku ini punya banyak kegiatan. Merajut misalnya -__-

“Ne, aku pergi. Nikmati saja sepuas kalian toilet busuk ini.” Gumamku dengan suara yang seminim mungkin. Tapi sepertinya salah satu dari mereka mendengar gumamanku. Dengan kasarnya ia menarik bahuku dan menghempaskanku ke dinding.

“Apa katamu?” Bentak yeoja itu sambil menarik kerah seragamku. “Kau berani melawanku huh?”

“A-ani.” Jawabku tergugup. Tentu saja aku tidak berani, badan yeoja itu kayak raksasa sedangkan aku bertubuh mungil, aku tidak mungkin melawannya sendiri.

“Terus apa maksudmu tadi huh? Mencoba melawan hah Cinderella kesiangan?”

“Ya-yang seharusnya bertanya itu aku, apa sih salahku sampai kalian bersikap kejam begini? Dan sampai kapan kalian akan berhenti menyiksaku? A-apa kita tidak bisa berteman saja?”

Yeoja itu makin menghempaskan tubuhku ke arah pintu dan membuat tubuhku terbentur ke pintu. Arghh~ pinggangku sakit sekali. Yeoja itu menarik kerah seragamku lagi dan memaksaku untuk berdiri. Baru saja aku berdiri ia langsung mencekikku dan menyudutkanku ke dinding.

“Mau berteman dengan kami? Itu hanya dalam mimpimu. Kecuali kau mau bercerai dengan Kyuhyun oppa.”

“A-aku tidak mungkin bercerai dengannya.”

“Kalau begitu rasakan saja penyiksaan dari kami setiap hari, nona Cinderella.” Yeoja itu melepaskan cekikannya, baru saja aku menarik nafas lega aku merasakan pinggangku sakit lagi tapi bukan sakit karena terbentur melainkan sakit karena di cubit oleh mereka. Aku memejamkan mataku menahan perihnya cubitan mereka. Tuhan, aku mohon kuatkan aku.

***

Dengan bersusah payah aku berjalan menuju ke kamarku. Setelah kejadian di toilet itu aku memutuskan untuk ijin pulang ke rumah. Aku tidak kuat jika aku berada di sekolah sepanjang hari. Pinggangku sakit sekali. Jangankan untuk berlari, bergerak sedikit saja perihnya terasa luar biasa. Rasa sakitnya seperti ada seribu jarum yang menusuk pinggangku.

Aku melemparkan backpack-ku lalu merebahkan diriku ke atas kasur. Aku memejamkan mataku menahan sakitnya, saking perihnya aku sampai mengeluarkan airmata. Aishh yeoja itu!! Andai saja bukan karena perjanjian mereka tidak akan membocorkan pernikahan ini, aku pasti akan menguliti mereka hidup-hidup!! Errr, sebenarnya aku ini yeoja yang ceria dan selalu tertawa. Aku juga bukan yeoja yang mudah di tindas. Prinsipku, nyawa dibalas nyawa, kebaikan dibalas kebaikan, dan kejahatan akan kubalas berkali-kali lipat. Itu prinsipku. Tapi itu dulu -____- sebelum aku menikah. Hufhh, jika bukan karena aku ingin melindungi suamiku dari serangan wartawan yang super buas, mereka pasti akan patah mematah di tanganku. Masa bodoh deh mereka itu anak pejabat atau anak pak lurah. Mereka pasti hancur aku injak-injak terus aku blender dan aku jual di daerah hongdae!!! Errr, liat saja mereka.

Ahh, gara-gara memikirkan itu pinggangku sakitnya bertambah jadi beribu kali lipat deh. Ya sudahlah, kuputuskan buat tidur saja. Tapi baru lima menit aku memejamkan mata suara demonstrasi yang berasal dari perutku berbunyi. Aishh~ rasa lapar ini mendera di saat yang tidak tepat deh. Gimana aku mau berdiri dan memasak sedangkan untuk bergerak saja rasanya sakit sekali. Aku bukan malaikat, jadi aku tidak bisa terbang ataupun muncul ke suatu tempat sesuka hatiku. Menelpon Kyuhyun? Aigoo mau taruh dimana mukaku?? Mukaku pasti semerah tomat jika melihatnya, apalagi mengingat kejadian saat di dormnya itu. Aishh~ tidak-tidak! Tapi….. arghh, rasa laparnya semakin parah. Ya sudahlah, aku harus menebalkan wajahku, demi rasa lapar aku harus rela menahan malu. Lebih baik malu sedikit daripasa mati kelaparan. Aku mengambil ponselku di saku seragamku lalu memencet sebuah nomor.

“Annyeong Donghae oppa…”

***

Aku menatap takjub semua makanan yang terpapar di meja. Ajegile, tidak percuma aku menebalkan wajah untuk menelpon Donghae oppa jika balasannya begini. Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi untuk meminta bantuannya. Hohoho..

“Oppa, kau mau membunuhku hahh? Kenapa banyak sekali makanan yang kau bawa?” ahh, tentu aku pura-pura saja. Gengsi dong kalau ketahuan mupeng dengan semua makanan ini.

“Kau tidak suka ya? Yasudah aku bawa pulang lagi.”

“Ahh, jangan…” serkahku saat ia mau mengambil kembali semua makanan. Ia sempat terdiam melihat posisiku yang menghalangi tangannya untuk mengambil makanan lalu sejenak kemudian ia mengekeh.

“Cihh, masih berpura-pura menolak padahal wajahmu jelas sekali terlihat kalau kau itu sangat tergiur dengan semua makanan ini.” Ia menyentil kepalaku dan membiarkanku tenggelam di lembah memalukan ini.

“Memangnya wajahku ini transparan ya? Kenapa semua orang bisa melihat aku bisa berbohong?”

Tidak Donghae oppa, tidak Kyuhyun. Kenapa mereka semua begitu mudahnya menebak kalau aku ini berbohong?

“Hahaha, pertanyaan bodoh. Tentu saja. Kau itu tidak bisa berbohong, kalau kau berbohong hidungmu akan memanjang.”

“Hahh? Jeongmalyo?” Refleks kupegang hidungku dan lagi-lagi Donghae oppa tertawa. Aigoo dia ini sering sekali membuatku terperangkap di lembah memalukan -___-

“Aishh~ sepertinya oppa puas sekali menertawakanku hari ini. Sudahlah, aku makan dulu.” Aku mengambil sumpit dan mulai melahap satu persatu makanan yang tersaji di depanku ini. Aku tidak peduli dengan tatapan Donghae oppa yang penuh keheranan melihatku melahap semua makanan seperti orang yang tidak makan beberapa ratus tahun.

“Aku baru tau ternyata uri maknae itu orangnya sangat pelit sampai-sampai kau tidak di beri makan beberapa hari. Ckckck, ternyata kau lebih rakus dari Shindong hyung Eunhye-ah.”

“Aku belum makan dari pagi tadi oppa.” Yeah, tentu saja aku belum makan. Roti daging yang kubeli tadi saat di sekolah di makan oleh yeoja menyebalkan itu.

“Sama saja. Intinya suamimu itu orangnya sangat pelit. Masa dia tidak memberimu uang untuk jajan sih? Keterlaluan sekali. Ceraikan saja dia, menikah denganku. Kujamin hidupmu akan penuh dengan makanan Eunhye-ah.”

“MWO??” Teriakku tanpa sadar. Masa seorang LEE DONGHAE menyukaiku?

Sekali lagi Donghae oppa menertawai sikapku. Aishh~ runtuh deh image-ku di hadapan lelaki tampan ini.

“Ya~ kau pikir Kyuhyun tidak akan membunuhku jika tau aku merebut istrinya? Dia saja tidak memperbolehkan kami mendekatimu, apalagi sampai aku menjalin hubungan denganmu. Aigoo~ aku masih sayang dengan nyawaku Eunhye-ah.”

“Kau penakut oppa.” Cibirku. Hahh!! Jeongmal!! Masa dengan seorang Kyuhyun saja sudah takut?

“Enak saja kau bilang. Aku tidak takut dengannya, aku hanya ingin hidup di dunia ini lebih lama. Suamimu itu lebih menyeramkan dari dewa kematian asal kau mau tau.”

“Cihh, bilang saja oppa takut dengannya.”

“Ya~ kau ini!! aishh sudahlah, aku pulang dulu. Kalau Kyuhyun tau aku menemuimu saat ia tidak ada, bisa-bisa aku di interogasinya seharian penuh. Mana interogasinya sambil bawa silet lagi, dia pikir aku mau nyukur bulu kaki apa.”

“Mwo? Silet?”

“Tentu saja aku bohong. Aigoo~ ternyata istrinya uri maknae ini mudah sekali dibohongi. Pantas saja Kyuhyun sangat over protektif kepadamu.” Donghae oppa mengacak rambutku sehingga membuat poniku yang tergerai indah menjadi acak-acakan.

“Oppa~ biaya rambutku ini mahal tau.” Aku mengembungkan pipiku kesal. Aishh ternyata Donghae oppa ini tidak sebaik yang kukira, ia seringkali menggodaku.

“Minta saja ke suami yang pelit itu. Hahaha.” Donghae oppa tertawa ngakak dan dengan sigap menghindar sebelum sendok ini melayang di wajahnya.

“Kalau kau perlu bantuan segera hubungi oppa ya. Aku bisa menegoisasikan hargaku kalau kau perlu bantuanku.”

“Kau materialistis sekali oppa.”

“Ya~ kau pikir gampang apa ketemuan dengan seorang artis terkenal sepertiku ini?” ujarnya dengan nada penuh penekanan. Ahh, kebanggaan -___-

“Shireo, lebih baik aku hubungi oppadeul yang lain saja. Oppa itu sangat materialistis dan juga menyebalkan.”

“Hahaha, aku hanya bercanda. Pokoknya hubungi aku kalau kau perlu bantuan. Janji?”

“Ne..” Ujarku bersemangat. Tapi, ahhh!! Sial!! Saking semangatnya sampai aku lupa kalau pinggangku ini terluka. Dan kini rasa sakitnya timbul lagi. Kali ini rasanya lebih menyakitkan. Aishh jinjja! Aku tidak mau Donghae oppa tau mengenai lukaku ini.

Tapi.. “Ahhh!!” Ringisku tertahan sambil memegangi pinggangku.

Donghae oppa yang baru beberapa langkah berjalan sontak menoleh saat mendengar ringisanku. “Eunhye-ah, gwaenchana?” tanyanya panik.

Aku mengangguk dan memegangi pinggangku lebih erat lagi. Sial!! Sakitnya malah makin menjadi.

“Ya~~ jangan membuatku panik. Kau kenapa Eunhye-ah?”

“Aku tidak apa-apa oppa. Aku hanya. Ahhhh” aku memegangi sisi dinding dengan tangan kiriku untuk menahan agar aku tidak terjatuh ke lantai sementara tangan kananku masih konsisten memegangi pinggangku.

“Pinggangmu terluka ya? Kenapa kau memegangi pinggangmu terus hahh? Eunhye-ah, jebal. Beritahu aku ada apa dengan pinggangmu? Atau aku telepon Kyuhyun saja?”

Aku menggeleng cepat. “Ani. Jangan hubungi dia. Aku tidak mau dia cemas dengan keadaanku lagian pinggangku tidak apa-apa oppa.” Aku berusaha tersenyum tapi rasa sakit di pinggangku ini tampaknya tidak mendukungku untuk berbohong.

“Kau berbohong lagi. Wajahmu tidak menampakkan kalau kau baik-baik saja Eunhye-ah. Singkirkan tanganmu, aku mau lihat lukamu.”

Aku menggeleng lagi dan mengeratkan peganganku. Aku tau segimana mengerikannya lukaku ini. Aku tidak mau Donghae oppa syok melihat luka ini. Aku tidak mau Donghae oppa mengusut siapa yang membuatku terluka seperti ini. Aku tidak mau pada akhirnya membuat Kyuhyun mengalami kesulitan. Aku tidak keberatan jika aku yang mengalami penderitaan ini semua asal Kyuhyun tidak apa-apa, asal dia tetap bisa bersinar, asal dia tidak menjadi santapan dari para wartawan, aku berani bersumpah jika aku tidak apa-apa. Aku hanya takut jika akan terluka.. Aku rela menanggung semuanya asal namja yang kucintai itu baik-baik saja. Hanya itu yang kumau.

“Singkirkan tanganmu!!”

“Ani..”

“KUBILANG SINGKIRKAN TANGANMU!!”

Aku tersentak mendengarnya. Bukan karena bentakannya tapi karena sikapnya. Selama ini Donghae oppa tidak pernah bicara sekeras ini ke siapapun tapi kali ini..

Dengan kasarnya Donghae oppa menepis tanganku yang masih bersikeras memegangi pinggangku. Setelah tanganku tidak lagi memegang pinggang, Donghae oppa membuka bajuku sampai ke atas pusar. Aku memejamkan mataku, aku tidak mau melihat bagaimana reaksinya saat melihat luka ini. Aku amat sangat tau pasti Donghae oppa jijik melihatnya. Melihat luka yang membiru dan sedikit membusuk. Karena selain kena pinggiran pintu akibat di dorong oleh yeoja gila itu, pinggangku juga memperoleh bonus cubitan dari mereka.

“Kau!! Kau gila hah? Luka separah ini kau bilang tidak apa-apa? Ini tidak seperti yang kau bilang baik-baik saja Eunhye-ah. Aku harus menelpon suamimu, dia harus tau keadaanmu. Dia harus tau kau terluka karena penggemarnya.”

Aku segera merebut ponsel Donghae oppa saat kulihat ia mau menghubungi seseorang yang ku yakini 100% pasti Kyuhyun.

“Kembalikan ponselku Eunhye-ah, aku harus memberitahu suamimu mengenai keadaanmu.”

“Ani.. Aku tidak akan mengembalikan ponsel oppa sebelum oppa berjanji tidak akan memberitahu ke Kyuhyun. Aku mohon oppa jangan beritahu dia. Jebal…” Aku memasang wajah memelas. Kali ini aku benar-benar sangat berharap jika Donghae oppa mau merahasiakannya dari Kyuhyun. Setidaknya ia berpura-pura tidak tau mengenai luka ini.

“Aishh~ jinjja!! Neo pabo-ah??” Donghae meremas rambutnya kesal. Maaf oppa, jeongmal mianhae. Tapi aku tidak mau Kyuhyun tau tentang lukaku ini. Aku hanya tidak ingin menambah bebannya. Aku tau jika akhir-akhir ini ia sangat kelelahan dengan pekerjaannya. Aku tidak ingin ia merasa bersalah. Aku tidak ingin ia mengasihaniku karena luka ini. Itu akan melukai harga diriku. Maka dari itu aku sangat momohon kepadamu oppa.

“Aishh~ sudahlah. Aku antar kau ke kamar saja. Lebih baik kau tidur saja.”

Aku menghela nafasku lega saat mendengarnya. Ternyata Donghae oppa mau merahasiakan ini semua.

“Aku hanya merahasiakan buat sementara ini Eunhye-ah, jika kulihat kau terluka lagi aku tidak akan sungkan-sungkan lagi untuk memberitahu suamimu.”

Aku mengangguk cepat dan memasrahkan diriku di papah Donghae oppa menuju ke kamar. Donghae oppa membantuku untuk berbaring di atas kasur, ia menaruh beberapa bantal di bawah kakiku, Donghae oppa bilang itu akan mengurangi rasa sakitku.

“Eotte? Apa sakitnya mengurang?”

Aku tersenyum tipis. “Ne oppa. Tidak menyakitkan seperti tadi. Oppa pulanglah. Aku tidak apa-apa.”

“Kalau sakitnya tambah parah, segera hubungi aku ya.. Yakso?”

“Ne..”

“Anak baik.” Donghae mengelus kepalaku. Lalu merapikan selimut yang membalut tubuhku. “Kalau tidur jangan lupa baca doa ya.”

“Aish~~ oppa!!”

Donghae oppa mengekeh lagi. Dia ini.. Masih sempat-sempat menggodaku di saat aku tengah terluka seperti ini. Donghae oppa mau mengacak rambutku lagi tapi tangannya berhenti di udara saat pintu kamarku terhempas. Aku dan Donghae oppa sontak melihat kearah pintu dan aku makin terkejut saat melihat sosok Kyuhyun berdiri di tengah pintu dengan wajah yang penuh amarah. Jangan bilang kalau ia salah paham dengan semua ini.

“Kyuhyun-ah kau sudah pulang.” Sapa Donghae oppa. Tapi Kyuhyun tidak menghiraukan sapaan dari hyung-nya ini dan malah mendekatiku.

“Kenapa hyung kemari? Maksudku kenapa hyung berada di ‘kamar kami’ ?” Tanya Kyuhyun dengan nada penuh penekanan.

“Ahh itu karena.” Donghae oppa menoleh kearahku tapi segera kuberi isyarat agar ia mengarang sebuah alasan yang bisa di terima oleh Kyuhyun.

“Ya~! Kenapa kalian saling lirik melirik? Apa jangan-jangan kalian berselingkuh di hadapanku hah?” tuduhnya.

“A-ani Kyuhyun-ah.” Jawabku cepat.

“Kau jangan sembarangan menuduh Kyuhyun-ah, walaupun aku sangat menyayangi Eunhye tapi aku tidak mungkin menggodanya.”

“Tapi kenapa hyung berada di kamar kami?”

“Hahh, sudalah aku tidak mau ikut campur lagi.” Donghae oppa mengendikkan bahunya malas. Ahh, maafkan aku Donghae oppa. Gara-gara aku Kyuhyun salah menuduhmu. “Eunhye-ah, ingat pesanku tadi.”

“Ne oppa.”

Donghae oppa mengalihkan pandangannya ke Kyuhyun, ia menepuk bahu Kyuhyun pelan dan bicara tepat di samping telinga Kyuhyun. “Jaga baik-baik istrimu. Pastikan dia tidak mengalami luka sekecil apapun.” Lalu Donghae oppa menghilang seiring dengan di tutupnya pintu.

“Aishh~ dasar ikan sialan!! Memusingkanku saja memakai bahasa penuh kiasan itu!!” Rutuk Kyuhyun. Ia menatapku tajam dan duduk di samping tempat tidur.

“Jangan salah paham dengan Donghae oppa, Kyuhyun-ssi.” Kataku pelan. Ahh, aku bahkan tidak berani menatap matanya.

“Tentu saja bodoh!! Mana mungkin aku cemburu dengan ikan pendek itu.” Ia mengekeh. Mungkin ia menertawai kata-kata ‘ikan pendek’nya itu. Astaga jika Donghae oppa tau Kyuhyun mengatainya ‘ikan pendek’ mungkin nasib Kyuhyun akan berakhir di panci penggorengan (?)

“Tapi, apa kau sakit?” Suaranya melembut, ia juga membelai lembut kepalaku. “Wajahmu pucat, apa kau sakit Eunhye?”

“Ani. Aku hanya kecapek’an saja.”

Aku memalingkan wajahku dari tatapan tajamnya. Pasti Kyuhyun tau kalau aku sedang berbohong.

“Aku tau kau berbohong.”

Tuh kan bener?? Besok aku mau ke dokter ahh, aku mau operasi muka. Perasaan semua orang bisa begitu mudahnya mengetahui aku ini berbohong atau tidak.

“Tapi aku mau kau bersikap lebih terbuka denganku. Aku ini suamimu Eunhye-ah. Kita menikah bukan karena paksaan walaupun kita menikah karena perjodohan. Tapi setidaknya aku menikahimu bukan karena terpaksa. Maka dari itu setidaknya perlakukan aku sebagai suamimu.”

Badanku serasa menegang mendengarnya. Aku tidak salah dengar kan? Dia sungguh mengatakan itu kan? Maksudku Cho Kyuhyun, apa benar-benar dia yang mengatakan itu? Aku bukan sedang bermimpi kan?

“Ne yeobo~” Kataku dengan nada super minim. Aku memejamkan mataku. Aishh~ mau taruh dimana wajahku?? Semoga ia tidak mendengar kata-kataku barusan yang memanggilnya ‘yeobo’.

***

TBC …

ehmm, ini adalah part penentuan diterusin atau nggaknya FF ini. Jadi kalau like+komennya sedikit, ya dengan sangat terpaksa FF ini akan aku stop sampai di sini..

Palingan aku post di WP pribadi aku tapi di protect dan lanjutannya hanya buat yang sering ngomen aja.. Jadi kalau kalian ingin lanjutan FF ini, ya komen+like atau FFnya..

Dan sekedar bocoran, part ini adalah awal dari konflik utama dari FF ini ..

215 responses to “I’M NOT CINDERELLA IV (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s