Endless Moment part 2

Tittle                : Endless Moment

Author             : Minhye_harmonic aka Fie ft Hotaru Yuhime aka Dyanita Baharti Putri

Genre              : fluffy, angst, friendship

Status              : dalam proses

Rating             : General

Casts               : Super Junior_Lee Hyukjae aka Eunhyuk, Lee Donghae, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Kim Heechul, Park Jungsoo; SHINee_Choi Minho, Lee Taemin ; JYJ_Micky Yoochun ; miniDBSK Kim Inhwan ; Actres_Go Hyeonjeong; and many more~

OC : Kim Yoori, Choi Minhye

Bahasa             : Indonesia campur (?)

Theme song     : —

makasih buat nadd tersayang, udah mau buatin saya cover ini XD XD XD XD sayang nadd deh… *peluk erat nadd

This story is only a fiction. We don’t make money from this, so please, don’t sue us. Do NOT copy-paste without permission. NOT for SILENT READERS. Comments are needed ^^d

ok… ini link episode2 kemaren~~~~ *nunjuk2 bawah*

teaser, prolog, part 1

——————————————————————————————————————————-part 2

==================Part.1==============

“Choi Minhye. Memang benar, ya, kau suka padaku?”

Kyuhyun, Siwon dan Donghae membeku di tempat—penasaran.

lanjutan

“Hm? Kau bilang apa?”

Gubrak! Hyuk memutar bola mata.

“Tak mungkin. Sudahlah lupakan. Ayo pulang. Sudah sore banget nih,” Hyuk beranjak pergi, membuat 3 penonton lainnya kecewa.

“Dia bilang apa, sih, barusan?” tanya Minhye bingung. Baik Donghae, Siwon maupun Kyuhyun serentak angkat bahu—takut salah bicara.

===============================================================================

Hari makin gelap. Minhye mempercepat langkahnya, menyusuri trotoar. Berulang kali diliriknya jam tangannya cemas. 07.03 pm. Sebentar lagi shift kerjanya dimulai dan jarak tempat kerja paruh waktunya masih beberapa blok lagi.

Nafasnya memburu begitu juga dengan langkahnya. Makin lama makin cepat, hingga Minhye mendapati dirinya tengah berlari kencang menuju tempatnya bekerja.

07.45 pm. Minhye berdiri di depan sebuah cafe. Papan nama cafe itu memberikan ucapan selamat datang pada Minhye melalui cahaya berpendar-berkedap-kedip dari lampu yang dililitkan di sekitar huruf-huruf besar yang menempel kokoh di atas pintu masuknya. Minhye mendorong pintu cafe dan langsung nyengir mendapati manager cafe tengah memelototinya.

Minhye terkekeh. “Maaf….” Ia menggaruk kepalanya. Bingung alasan apa yang harus ia utarakan.

Manager cafe itu tersenyum. “Tak apa Nona Minhye. Ini kali pertama kau telat. Bisa dimaafkan.”

“Ah, terima kasih, manager Park,” Minhye membungkuk. “Saya permisi.”

Minhye masuk areal kerjanya―bagian cuci piring―lengkap dengan seragamnya.

“Hai.” Sapanya pada setiap karyawan di dapur ―yang langsung disambut senyuman hangat― sambil menyisingkan lengan kemejanya, memakai sarung tangan karet dan mulai menyabuni piring-piring kotor.

===============================================================================

Lewat tengah malam, Minhye baru selesai. Harusnya shiftnya berakhir tepat tengah malam, namun dikarenakan keterlambatannya, manager Park sedikit memberinya jam lembur―pengganti waktu yang tadi terbuang. Padahal Minhye hanya terlambat lima belas menit.

Begitu sampai di rumah, ia melompati pagar dan memanjat pohon besar di depan kamarnya—pohon yang sama yang biasa dipanjat Hyuk untuk membangunkan Minhye setiap pagi. Minhye membuka jendela kamarnya lebar-lebar, sehingga ia leluasa untuk melompat dan masuk—tanpa harus berjingkat-jingkat lewat pintu depan seperti maling.

“Pulang telat?” Sebuah suara berat mengagetkan Minhye. Ia menoleh. Seorang cowok jangkung bermata besar dan berpiyama tengah menatapnya.

Minhye mengelus dada, lega. Ternyata itu suara adiknya―Choi Minho.

“Kenapa pulangnya telat?”

“Kamu nggak tidur?” Minhye mengalihkan pembicaraan.

Si cowok berpiyama―Minho—menggeleng. “Gimana mau tidur? Aku nungguin Kakak. Kakak udah makan?” Ia menguap lebar. Lalu menyusut sudut matanya yang basah. “Bibi Hyeonjeong tadi datang. Aku sudah menyimpankan jatah makan malam untuk Kakak.”

“Nggak ah.” Sahut Minhye ogah-ogahan. Ia mengeluarkan beberapa buku paket dari dalam ransel, meletakannya di atas meja belajar, menyalakan lampu meja, dan mulai menekurinya. “Kamu sudah makan?”

Minho mengangguk. “Sudah.”

“Ya udah, ngapain kamu di sini? Sana pergi tidur!” Usirnya, sok galak. Minho mengeluh pelan, mengucapkan selamat tidur lalu menutup pintu kamar Kakaknya.

Merasa Minho benar-benar telah pergi dan masuk ke kamarnya, Minhye menarik laci teratas meja belajarnya—mengeluarkan sebuah foto berpigura kayu, lalu menggosok-gosok permukaan kaca bingkainya dengan telunjuk. Suasana berubah sedih. Didekapnya foto yang menampakkan sebuah keluarga kecil yang bahagia: Ayah, Ibu, Kakak dan Adik tersebut. Foto keluarganya.

===============================================================================

“Ibu… Ayah… haruskah kalian pergi?” keluhan Minho membuat Minhye terjaga. Perlahan Minhye bangkit dari tempat tidur, dan keluar dari kamarnya. Di lihatnya Minho tengah bertopang dagu di puncak tangga—mengamati aktivitas ibu dan ayah-nya yang tengah berbenah—packing—di lantai bawah.

“Terulang lagi,” bisik Minhye pada dirinya sendiri.

“Jangan manja ah, kami cuma pergi sebentar, kok,” jawab Ibu dari bawah tangga.

“Tapi hari Minggu nanti aku ada pementasan… Ibu dan Ayah harus datang!” rajuk Minho lagi.

“Hari Minggu? Ah, 3 hari lagi, ya? Kalau begitu kami akan mengusahakan untuk pulang besok lusa.”

Jawaban Ayah membuat Minho langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Sungguh? Ayah harus datang. Janji?!”

“Iya, iyaaa…sekarang ayo turun! Kita sarapan bersama dulu.”

“Ibu… Ayah… Bisakah kalian tak usah pergi?” giliran Minhye yang merajuk. Tapi tak seorangpun merespon.

“Kak. Ayo kita sarapan,” ajak Minho.

“Ibu… Ayah..,” nada bicara Minhye terdengar putus asa.

“Kak Minhye… Minhye… Minhye… Hei, Choi Minhye!”

Minhye tersentak, seiring guncangan di bahunya yang menyadarkannya. Keringat dingin membasahi tubuhnya—membuatnya gemetar.

“Kau tak apa? Mimpi buruk?”

Minhye mengusap wajahnya—frustasi. Mengumpulkan separuh nyawanya yang masih di alam mimpi. Dan sejenak ia benar-benar tersadar.

“Ya! Lee Hyukjae si monyet kunyuk—sedang apa kau di kamarku?!” tuding Minhye. “Tunggu—ya ampun, jam berapa nih?” kekagetan Minhye berubah jadi kepanikan luar biasa menyadari Hyuk yang berada di kamarnya itu telah memakai seragam sekolah lengkap—kecuali sepatu.

“Jam 6 pagi.” Hyuk menjatuhkan diri di atas tempat tidur Minhye yang empuk, sambil memandangi foto keluarga Minhye yang entah sejak kapan berpindah tangan.

“Aku masih bermimpi, ya?” Minhye terlihat makin linglung. Seorang Lee Hyukjae bangun pagi? Apa kata dunia?!

“Aku semalaman nggak bisa tidur, pas mau tidur udah pagi. Daripada ntar kalau tidur keterusan lebih baik aku kemari, kan?” jawab Hyuk sambil menguap. “Dan lagi, kau ceroboh sekali. Tidur di meja belajar, jendela kamar sama sekali nggak di tutup. Kalau ada maling gimana?”

Minhye menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Cepat siap-siap sana. Kalau sudah, bangunkan aku,” perintah Hyuk sambil menyodorkan foto di tangannya. Minhye merebutnya dengan kasar. Dan sebelum Minhye protes, terdengar dengkuran halus dari Hyuk.

Dia benar-benar tertidur.

“Cepat amat,” gerutu Minhye, namun ia bergegas bersiap ke sekolah.

===============================================================================

“Eh? Kakak sudah bangun?” tegur Minho—yang hendak membuat sarapan untuknya dan kakaknya—saat melihat Minhye memasuki ruang makan.. Tapi keheranannya berangsur menghilang ketika melihat Hyuk mengekor di belakang Minhye. Pasalnya, Minhye sudah kebal jika Minho yang membangunkan—dia akan segera tidur lagi meskipun sempat ia bangunkan. Tapi kalau dengan Hyuk ia pasti bangun—karena kalau Hyuk sudah muncul, biasanya itu tanda-tanda keterlambatan.

“Eh, ada kak Eunhyuk. Kak Eunhyuk, masuk lewat mana?”

“Jendela kamar. Hehe.”

“Kakak tidur tanpa menutup jendela? Ceroboh sekali! Kalau ada maling gimana? Kalau kakak sakit gimana? Bisa masuk angin atau digigit nyamuk demam berdarah, kakak!”

Minhye—yang tengah menuangkan air ke gelas—menatap adiknya heran.

Minho ternyata lebih ‘aneh’ daripada Hyukjae. Kekhawatiran yang berlebihan.

“Nih, tadi aku minta bibi di rumah nyiapin ini untuk sarapan—Minhye, airnya!!” sentak Hyuk.

“Eh? Ya ampun!”

Dengan cepat Minho mengambil alih keadaan—mengambil lap dan membersihkan genangan air yang membasahi hingga lantai.

“Kakak duduk aja,” Minho menarik kursi dan mendorong kakaknya terduduk. “Kak Eunhyuk juga duduk aja. Ini,” Minho beralih pada kotak bekal Hyuk, “…untuk sarapan?”

“Iya. Kupikir akan lebih efisien kalau sarapannya disini sekalian.”

“Wah, banyaknya,” Minho bergumam.

“Hehe. Sekalian untuk makan malam kalian. Kan bisa di simpan di kulkas.”

“Makasih banyak, ya kak! Wah, makan enak…”

“Memang kalian biasanya makan apa?” tanya Hyuk heran

Baik Minho maupun Minhye terdiam sejenak.

“Ya ampun, udah hampir jam 7! Minho buruan, ntar kamu telat, lagi!” seruan Minhye berhasil membuat Minho panik—sekaligus sebagai pengalihan perhatian.

===============================================================================

“Penasaran? Dengan nona Minhye?” Donghae menautkan alis. “Kau bilang dia sahabatmu. Sahabat macam apa yang mencurigai sahabatnya sendiri?”

“Entahlah… Pagi ini aku menemukannya tertidur di meja belajarnya dengan pakaian formal lengkap. Agak aneh, menurutku. Ia bahkan tidak menutup jendela kamarnya. Dan aku sempat mendengar Minho mengatakan sesuatu seperti ‘pulang telat’ dan ‘jangan memaksakan diri’ sebelum ia berangkat tadi pagi. Aku rasa….mereka menyembunyikan sesuatu dariku.”

Donghae menatap Hyukjae dengan tatapan aneh.

“Iya, iya, kau benar! Harusnya aku tak perlu mencurigainya, kan? Akan kutanyakan langsung saja padanya nanti!” tukas Hyuk

“Kurasa itu lebih baik.”

“Lalu kenapa kau masih saja menatapku seperti itu?!”

Semilir angin menciptakan suara gemerisik dari dedaunan di tempat mereka berpijak—sebuah pohon di halaman belakang sekolah, seperti biasa.

“…hanya saja kau perhatian sekali padanya,” goda Donghae.

“Kau—“ Hyuk ingin sekali mencekik Donghae sekalian, tapi urung. Tiba-tiba sebuah pemikiran lain terlintas—pemikiran yang membuatnya terhenyak sendiri. “Kau, jangan-jangan menyukai Minhye, eh?”

“Kenapa kau jadi menimpakannya padaku?!” tuntut Donghae.

“Kau bahkan memanggilnya nona!”

“Tentu saja! Dia kan wanita! Masa’ aku memanggilnya Tuan atau Paman?” Donghae mencoba bercanda, namun Hyukjae tak menanggapi. Perhatiannya tiba-tiba telah berpindah fokus.

“Eunhyuk?” panggil Donghae. Diikutinya arah tatapan Hyuk, mencari tahu apa yang membuat sahabatnya ini teralihkan. Tiba-tiba Hyuk melompat turun dari pohon itu.

“Aaissh..dasar playboy,” sungut Donghae kesal. Tapi daripada mencampuri urusan sahabatnya itu, ia memilih mengikuti instingnya saat dilihatnya gadis itu melintas. Minhye.

“Yang disembunyikan? Apa, ya?” gumam Donghae.

===============================================================================

“Kim Yoori..?”

Gadis itu menoleh.

“Ya? Ada yang bisa kubantu..?”

“Hai. Kau murid baru, kan? Aku Lee Hyukjae.”

Yoori menatap Hyukjae. Bingung. Namun tetap dibalasnya uluran tangan Hyuk.

“Senang berkenalan denganmu.”

“Ya, sama-sama,” jawab Yoori canggung.

“Sudah berkeliling sekolah? Kalau belum, aku akan mengantarmu.”

“Oh, tidak usah, aku—“

“Kau mau kemana? Biar ku antar.”

“Eh?” Sejujurnya Yoori ingin menolak tawaran Hyukjae—orang yang baru dikenalnya itu. Tapi dipikir-pikir, daripada ia tersesat, mungkin sedikit bantuan darinya akan membantu.

Lagipula…berdua rasanya lebih baik…

==============================================================================

Hyuk tersenyum sumringah melihat Minhye tengah berjalan ke arahnya. Ia melambai sambil berseru, memanggil nama gadis itu.

“Maaf, Hyuk. Aku nggak bisa sama kamu. Pak Jungsoo―aish…aku telat! Maaf Nyet! Lain kali saja!”

Sekejap Minhye telah menuruni tangga menuju pelataran sekolah. Hyukjae bengong. Padahal ia hanya mau berkeluh kesah tentang kekakuan tubuh anggota baru klubnya, Cho Kyuhyun. Dan juga…mengenai si anak baru, Kim Yoori.

Hyuk berjengit kala sebuah tepukan keras mendarat di bahunya. Dalam hati ia berdoa, semoga bukan wajah Guru BK yang menyambutnya begitu ia menolehkan kepala. Hyukjae menoleh dan cengiran Kyuhyun langsung menyambutnya.

“Ya! Kupikir kau itu Pak Jungsoo!” Tangan Hyuk langsung beraksi, menoyor kepala Kyuhyun.

“Ya! Hentikan Kak! Isinya sangat berharga tahu!!” Protes Kyuhyun seraya menangkupkan kedua belah tangannya ke kepala. Melindungi dari aksi tangan nakal Hyukjae.

“Kakak pacaran ya dengan Kak Minhye?”

“Aw!” Lagi-lagi Hyuk menjitak kepala Kyu.

“Bicara apa kau ini? Suka dengannya pun aku tidak!”

Tanpa Hyuk sadari, seseorang mendengar percakapannya—cukup jelas walaupun jaraknya agak jauh. Orang itu―Minhye, yang bemaksud kembali untuk mengatakan sesuatu—cukup tersentak mendengar lontaran pertanyaan Kyu, namun lebih terkejut lagi dengan jawaban Hyuk.

===============================================================================

Minhye memperlebar langkahnya, seiring nafasnya yang juga makin memburu. Dilihatnya pintu dengan hiasan lampu selamat datang yang seolah berkedip padanya, yang kini hanya berjarak beberapa meter darinya. Ia merasa agak lega—namun urung memperlambat langkahnya yang setengah berlari. Dengan kasar ia mendorong pintu itu hingga menjeblak terbuka.

“Selamat da… ah, kau rupanya.”

Minhye nyengir sambil melirik jam tangan sang manager yang perfeksionis itu—ia selalu ikut terlibat dalam mengawasi kafe, setiap hari. Jam 7.15. Syukurlah. Kali ini ia tidak terlambat.

Cepat-cepat ia menuju posnya di dapur.

“Kau terlihat gugup. Ada apa?” tanya manager sesaat sebelum pintu terbuka.

Minhye menggeleng. “Tak apa. Hanya..saya merasa ada yang mengikuti saya tadi, tapi… saya rasa hanya perasaan saja,” jawab Minhye sambil tersenyum, berusaha meyakinkan bahwa ia memang baik-baik saja.

===============================================================================

“Kak Minhye.”

Minhye mengangkat wajahnya dari kotak bekalnya. Menatap wajah Kyuhyun. “Hmm?”

“Kakak di panggil Pak Jungsoo. Disuruh keruangannya.”

Lidah Minhye langsung berdecak kesal. Sambil mengomel ia membereskan kotak bekalnya lalu berjalan menuju ruang Pak Jungsoo.

“Anda memanggil saya pak?” Tanya Minhye sopan setelah dipersilahkan masuk.

Jungsoo mengangguk. Menutup map kuning yang terbuka di meja kerjanya. Melambaikan tangan ke arah kursi, isyarat menyuruh Minhye untuk duduk.

“Bagaimana kabarmu?”

Yang ditanya hanya mengernyit heran. Merasa aneh. “Maaf, Pak. Sebaiknya Bapak katakan saja.” Kata Minhye mencoba sopan.

“Kau tahu peraturan sekolah??”

“Ya.” Perasaannya sudah tidak enak.

“Bisa menjelaskan apa ini?” Jungsoo menyodorkan selembar foto ke hadapan Minhye.

*TBC*

hohohoho…saya nepatin janji kan???? kkk~~…
oh iya, saya sempat kecewa, part kemarin yang komen sedikit sekali, jadi males.. tapi berkat hiburan qory-eonni aka author kedua, saya jadi bersemangat lagi…
silent reader banyak banget di sini, tapi saya mencoba berpikir positif, mungkin para silent reader speechless dengan ff.saya dan qory-eonni, sampe nggak bisa ngomentari X)

tapi, kami berdua minta tlong dengan sangat, berikanlah kami sebuah komentar, biarlah hanya sepatah atau dua kata, karena dengan komentar kalian, kami tahu, bahwa ternyata ff kami bisa menghibur kalian semua….lalu mengapa kalian harus memberi komen? karena, komen kalian adalah suatu hiburan bagi kami, jadi simbiosis mutualisme kan??? nggak ada yang dirugiin kalo kalian komentar di ff ini….*makin ancur bahasanya XD*

saya selaku author 1 aka Minhye_harmonic aka Fie (15 y.o) dan mewakili author 2 aka Hotaru Yuhime aka Dyanita (pippppp *sensor, takut ditodong golok sama qory-eonni*) mengucapkan trima kasih sebesar-besarnya untuk para reader endless moment karena sudah membaca.. dan jangan lupa komentar ok?!

dan terakhir… kami sangat membenci plagiat.. mohon jangan seenak jidat copy-paste karya kami, karena ini dibikin dengan banting lipat strika imajinasi 😛
ara?!

ok, sampai jumpa part selanjutnya~~.. ingat weekend~~ 🙂

 

Advertisements

42 responses to “Endless Moment part 2

  1. Pingback: Endless Moment part 7! « ♥ Daily Rune ♥·

  2. Pingback: Endless Moment part 7! « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s