The Name I Loved

Title : The Name I Loved

Author : ilmacuccha

Cast : YOU, SHINee Kim Jonghyun, f(x) Luna

Genre : Romance/fluff

Length : Drabble/Ficlet

Poster and Thanks To : Fai blabla Kevin

Disclaimer : Plotnya punyaku! Jonghyun juga!!

Be a Good Readers Please

Not For Silent Readers !!

YOUR P.O.V

Aku terduduk di pinggir sungai, membiarkan ujung sepatuku terkena aliran air sungai yang mengalir dengan tenang hari ini. Mencoba menenangkan pikiranku sejenak, dan melepas kepenatanku. Aku menghela nafas pelan, mencoba merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa pipiku.

“Kau kenapa?”

Deg.

Aku menggelengkan kepalaku cepat, mengacak rambutku dan menggigit bibir bawahku. Aku terus menghela nafas dan memejamkan mataku. Kembali mencoba mengatur nafasku yang kini cukup tak terkontrol. Aku bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang berasal dari dada kiriku dengan cepatnya menjalar ke seluruh bagian tubuhku.

“Gwenchana?”

Deg.

Lagi-lagi suara itu. Aku kembali menggelengkan kepalaku cepat. Kenapa suaranya terus mengiang di telingaku? Kenapa kata-katanya yang lembut itu terus berada dalam pikiranku? Kenapa? Ini terlalu sakit untukku.

“Kau harus melupakannya! Harus!!” Seruku pada diriku sendiri. Tak terasa air mataku mengalir begitu saja dari mataku. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan agar aku tak menangis. Namun gagal, air mataku terus berjatuhan. Aku menangis, untuk dia. Untuk dia yang awalnya selalu ada di kehidupanku. Untuk dia yang awalnya selalu menjadi nomor satu dalam pikiranku. Untuk namanya yang awalnya selalu ada dalam hatiku.

“Ya!! Kim Jonghyun!! Kenapa kau pergi huh?! Kenapa kau tak memikirkan perasaanku?!!” Teriakku dipinggir sungai sambil melempar batu yang ada disampingku dengan sekuat tenaga ke tengah sungai. Aku pun berdiri dan berjalan meninggalkan pinggiran sungai tadi tanpa tujuan yang jelas. Aku terus berjalan dan berhenti ketika melihat tanjakan yang menghubungkan pinggiran sungai tadi dengan jalan raya.

“Kalau kugendong bagaimana?”

Deg.

Lagi-lagi suara Kim Jonghyun terngiang-ngiang di telingaku. Pinggir sungai memang tempat janjian kami  jika ingin kencan. Yah, Kim Jonghyun adalah pacarku sejak dua tahun lalu sampai seminggu yang lalu, dan sekarang dia malah meninggalkanku disini sendirian. Berusaha bertahan menahan rasa sakit pada dada kiriku saat berhalusinasi tentang wajahnya, saat suaranya yang merdu itu terngiang-ngiang di telingaku. Dia memang jahat, apa kau berpikir demikian? Aku menenangkan hatiku dan kembali berjalan dengan mencoba menahan pikiranku agar aku tak mengingatnya, mengingat Kim Jonghyun.

“Jagiya, ayo duduk dulu. Kau pasti capek kan?”

Dan untuk kesekian kalinya, sakit di dadaku semakin bertambah. Aku memandangi bangku yang ada di dekat taman. Dan lagi-lagi, aku mengingat kenangan ketika sedang bersama Jonghyun. Aku hanya bisa menunduk dan menghela nafas panjang sambil menahan air mataku yang sudah siap untuk terjun. Aku kembali berjalan, aku tahu aku bodoh, kenapa aku selalu melewati tempat yang dulu sering kulalui saat sedang berjalan-jalan dengan Jonghyun. Aku memang bodoh, dan bodohnya lagi aku malah selalu menangis saat menyadari kalau Jonghyun sudah meninggalkanku.

“Haha, kau lucu sekali! Aku jadi ingin memotretmu!”

“Kenapa kau cemberut seperti itu sih jagi? Apa wajahku tidak cukup untuk menentramkanmu?”

“Suatu saat nanti, aku yakin kita pasti bisa bahagia,”

Deg.

Aku berhenti di depan sebuah toko bunga. Aku memegang jari manis tangan kiriku. Aku masih bisa merasakan sebuah benda masih terselip di jariku. Aku kembali menatap toko bunga itu.

“_______-ah, maukah kau menjadi pacarku?”

Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana memalukannya Jonghyun saat meminjam bunga mawar putih yang ada di toko bunga itu untuk menyatakan perasaannya padaku. Dan bagaimana memalukannya juga dia saat hanya berkata terima kasih pada pemilik toko bunga itu, tanpa membeli bunga tersebut saat aku berkata ‘ya’ untuk jawab perasaannya.

“Haha,” aku terkekeh saat mengingat hal yang membuat aku malu itu. Aku tersenyum sambil terus menahan rasa sakit di hati ini.  Aku kembali berjalan, dan akhirnya berhenti di sebuah kedai es krim.

“Aku mau vanilla chocochip,” gumamku pada diriku sendiri. Baru saja aku mau membuka pintu kedai es krim itu. Seseorang menabrakku dari belakang dan akhirnya sukses membuatku tersungkur juga membuat keningku menyentuh pintu kedai es krim.

“Aigoo, sakit,” lirihku sambil memegang lutut dan keningku bersamaan. Sementara orang yang menabrakku tadi buru-buru jongkok dan ikut memegang lututku.

“Gwenchana?” Tanyanya dengan nada khawatir. Aku hanya mengangguk sambil terus mengusap-usap lutut dan kepalaku. Tiba-tiba orang tadi mengangkat kepalaku.

“_______-ah?” Tanyanya. Aku pun ikut terkejut saat menyadari siapa orang yang kini ada dihadapanku ini.

“Jonghyun-ah?” Ucapku juga. Tiba-tiba suasana canggung langsung menyelimuti kami berdua. Aku menunduk dan juga dengan Jonghyun. Aku memandangi jari manis tangan kirinya. Tidak ada cincin yang sama seperti yang tersemat di jari manis tangan kiriku. Padahal dia sendiri yang berkata kalau dia tak akan melepasnya tetapi dia malah melepasnya dan meninggalkanku.

“Emm, bagaimana kabarmu?” Tanya Jonghyun sedikit berbasa-basi. Aku bangkit dari dudukku begitu pula dengan Jonghyun dan langsung menepuk-nepuk bajunya.

“Ah, baik. Kau?” Tanyaku berusaha agar suasana canggung ini tak terus menyelimuti kami berdua. Jonghyun tersenyum tipis.

“Baik juga. Kau sedang apa disini?” Tanyanya.

“Mau membeli es krim,” jawabku.

“Kau masih saja seperti anak kecil,” gumamnya. Aku terkejut. Dia masih saja mengataiku seperti itu sambil tersenyum tanpa mengetahui apa yang aku rasakan saat dia mengatakan hal itu.

“Haha,” aku mencoba tertawa pelan. Jonghyun ikut terkekeh dan kami pun kembali diam. Kau pikir apa yang akan aku lakukan jika bertemu dengan mantan pacarmu sendiri? Yang sebenarnya dalam hatimu kau masih mencintainya?

“Kau besok ulang tahun kan?” Tanyaku. Jonghyun lagi-lagi tersenyum tipis, yang juga lagi-lagi membuat dada kiriku semakin sakit.

“Ah, ne. waeyo?” Tanyanya.

“Sangeil chukka hamnida. Mianhae, aku tak bisa memberikanmu hadiah,” ucapku.

“Gwenchana,” balasnya. Aku menggenggam jari manis tangan kiriku. Dan segera mencabut cincin yang sejak dua tahun lalu tersemat di jariku ini. Aku menggenggam tangan Jonghyun, memaksanya menadahkan tangannya dan menyimpan cincinku di telapak tangannya.

“_______-ah, ini?” Jonghyun terlihat kaget saat menerima cincin yang dulu menjadi tanda hubungan kami.

“Kita sudah tak punya hubungan apa-apa lagi, dan aku rasa cincin ini harus aku kembalikan padamu,” jawabku.

“Mianhae, _______-ah.” Gumamnya pelan. Aku menggigit bibir bawahku, dan mencoba menahan rasa sakit dan sesak di dadaku yang semakin menjadi-jadi.

“G-gwenchana,” balasku dengan nada sedikit gemetar. Jonghyun menatapku dengan tatapan menyesalnya padaku. Itu tak berarti lagi, aku sudah memutuskan untuk bisa merelakan dan tak akan pernah menangis untuk apa yang tak bisa kuraih.

“Oppa!” Teriak seorang perempuan berambut pirang sambil melambai-lambai kearah kami atau lebih tepatnya kearah Jonghyun. Jonghyun tersenyum mendapati perempuan itu sudah ada disampingnya kini.

“Ah, annyeong,” sapanya ramah. Aku tersenyum menimpali sapaannya itu. Jonghyun terus menatap aku dan pacarnya itu bergantian, seperti berpikir apa yang harus dia lakukan saat aku yang mantan pacarnya bertemu dengan pacar barunya itu.

“Luna-ah, ini _______, ________-ah ini Luna,” ujar Jonghyun memperkenalkan kami satu sama lain. Luna tersenyum kemudian membungkuk.

“Annyeong _______-ah, Park Luna imnida.” Ujarnya.

“Annyeong Luna-ah, Lee _______ imnida,” balasku sambil membungkuk juga.

“Mianhae, aku harus pergi, aku tak jadi membeli es krim. Oh ya, semoga hubungan kalian lancar ya, kau jangan menyakiti Luna, Jong. Hehe, annyeong Jonghyun! Annyeong Luna-ah” ucapku. Jonghyun hanya menatap kepergianku tanpa bisa berkata apa-apa. Sementara Luna hanya memandangku lalu menatap Jonghyun seolah meminta penjelasan darinya.

Kim Jonghyun. Namamu yang dulu selalu menghiasi pikiranku, menghiasi layar ponselku, dan menghiasi kehidupanku. Kau tahu aku tak akan bisa melupakanmu, karena namamu akan selalu aku ingat sebagai sebuah nama yang dulu pernah aku cintai.

The Name I Loved Status : END

 

Annyeong!! aku kembali, perkenalkan diri lagi, takut ada yang lupa.

Annyeonghaseyo (e)mail imnida, e-nya gak usah dibaca, hehe. Oh ya, soal FF ini aku sangsi ini disebut FF party buat KIM JONGHYUN?? Haha,

Sorry kalo gak nyambung sama Birthdyanya Jjong ya!!

Hehe, annyeong!!

Note :

Be a Good Readers Please

See You on Next Fanfiction!!

ilmacuccha

 

Advertisements

47 responses to “The Name I Loved

  1. hiks….sedihnya!!
    author tau banget! ff nih sama persis ma kisah cintaku!! hiks!! bedanya aku nggak dikenalin secara langsung! jadi nggak terlalu menyakitkan! hiks…

    but goood job author!!

  2. ceritnya sedih cuman sayang tak ada akunya jadi ajah tapi daebak bwt author bikin lagi dong yang ada Jongyunnya!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s