[FF/PG15/DR] You taught me what reliance is

Title                  : You taught me what reliance is
Author            : Erusadelune/Jovatha
Casts                 : Choi Siwon (Super Junior), Lee Hyukjae (Super Junior), Min Hyosung (OC)
Rating              : PG+15
Genre               : Romance
Length             : Drabble (1,698 words)
Themesong  : U-KISS – 0330
Disclaimer    : I don’t own the character of Choi Siwon and Lee Hyukjae  since they belong to themselves. However, i do own the plot. As it’s written as a fiction, the OC character  is only my imagination.
©erusadelune 2011 All rights reserved.

Erusadelune

***

Temaram pelita memancang tegak, menerangi tepi titian gantung tempat ia menanti. Pemuda itu menekur hampa, bersandar punggung pada untaian besi.

Hyosung menambat pandang, hatinya sesak memandang sang pemuda. Posisinya mengingatkannya pada masa itu, ketika perpisahan terucap—memisahkan keduanya.

Angin malam membuat dadanya semakin sesak, membekukan langkah yang hendak menghampiri sosoknya—Lee Hyukjae. Kegelisahan menyelimuti benaknya, perasaan rentan itu takut bersua kembali dengannya. Tak ada daya yang membawa langkah Hyosung mendekatinya, andai manik mata lelaki itu tak terperanjat—menangkap kehadirannya.

“Kupikir kau tak akan datang.” Tubuhnya menegak.

Hyosung menggeleng. “Tidak masalah. Persiapan pernikahan tak terlalu menyita waktuku.”

Hyukjae mematung, bibirnya bergetar seolah tak mampu berujar. “Ya, kau akan segera menikah.”

Gadis itu menjadi serba salah, buru-buru ia membenahi kalimatnya. “Maksudku—“

“—aku tak masalah dengan itu.” Potong Hyukjae cepat, teriring senyuman hangat. “Aku sudah mendapatkan undangan pernikahanmu, namun kurasa aku tak dapat hadir. Mian!

Wae?” Pertanyaan itu mencuat cepat, dalam rona kecewa. “Karena kau tidak suka melihatku menikah dengan laki-laki lain?”

Pemuda itu tak langsung menjawab, pandangannya menerawang jauh pada lampu-lampu jalan yang merajut indah di tepian sungai. “Jika aku harus jujur, aku akan berkata tidak.” Entah apa yang membuatnya candang, lelaki seolah dengan mudah berujar.

“Namun aku tak dapat mengutamakan keegoisan.” Ia berlanjut, ekor matanya melirik raut Hyosung.

Hyukjae-ya, naega—“

“—Ya, Hyosung-ah, apa kau tahu apa yang membuatku kembali ke sini?” Hyukjae mengubah alur pembicaraan, tak canda membahas masalah pernikahan yang hanya membuat dadanya sesak.

“Karena aku?” Hyosung tak yakin, namun intuisi memaksanya berujar.

Hyukjae mengangguk pelan. Ia terkikik geli. “Aku datang mengharapkanmu disaat kau tak lagi membutuhkanku.”

“Maksudmu?”

“Aku datang memintamu kembali disaat kau tak ingin bersamaku lagi.” Lelaki itu berujar datar, kendati hatinya bergemuruh. Berat baginya menghadapi kejujuran.

Hyosung mencacak tonggak, bibirnya mengatup tak mampu berlontar. Lelaki itu benar, andai hidupnya kosong tanpa kehadiran lelaki lain, mungkin ia akan kembali bersamanya.

“Aku ingin kau kembali—” Hyukjae menjeda kalimatnya sesaat. Pikirannya berkelit menguntai kata. “—karena aku masih menyukaimu.”

Pabo!” Tamparan keras sekonyong-konyong mendarat pada sisi muka Hyukjae. Lelaki itu mengangkat pandang, menatap rona gadis dihadapannya. Gulat emosi dalam dirinya tak dapat tersembunyi, sorot matanya yang menceritakan segalanya.

“Apa tujuanmu mengatakan hal itu padaku? Disaat seperti ini?” Hyosung meringking dalam amarah. Tangannya terkepal, seolah ingin menghantam lelaki di hadapannya.

“Kau ingin menghancurkan pernikahanku? Kau sungguh tak mengerti bagaimana perasaanku. Jika saja—“ Gadis itu menjeda kalimatnya, pikirannya meracau, gagap merangkai kata.

“Jika saja—“ Bulir air mata mengucur dari pelupuk matanya. Hyosung kebingungan. Terlalu banyak kata ingin terucap, namun pikirannya berkelik mengekang bibirnya membuka. “Jika saja—“

“Jika saja aku datang lebih awal.” Hyukjae menarik lengan sang gadis, meraihnya ke dalam cangkuman. Perasannya melega, tak canda Hyosung menangkapnya dalam makna lain. Ia hanya ingin menenangkan diri, sebelum membiarkan gadis itu lari.

***

Jalanan ini seolah tak berujung bagi Hyosung. Gadis itu melangkah gontai, tanpa asa mencapai akhir. Roman mukanya kusut, berlukiskan jejak air yang terhapus angin. Pikirannya sibuk berdebat, menimbang langkah pasti.

Tak seharusnya pendiriannya goyah. Pernikahannya hanya berhitung hari. Hyosung menjeda langkah, menarik napas dalam. Perasaannya tak tega kala bayangan Siwon terukir di benaknya. Dirinya bagai makhluk candala jika ia harus menyakitinya.

Hatinya memang menyimpan cinta baginya, namun gadis itu tak mampu membual, sekelumit bagian lainnya masih menyimpan rasa bagi Hyukjae.

Arau hujan menghujam kepalanya, Hyosung mencangak. Langit malam pekat, tak terduga jika ia menyimpan pokok hujan. Gadis itu ingin berteduh, namun kedua kakinya urung bergerak cepat. Tubuh mungilnya merongkok di tengah jalan, merelakan rintik hujan mangguyurnya.

“Kau akan mati kedinginan bila terus seperti ini.” Suara lembutnya tiba-tiba menggema, disertai kehangatan yang seolah memeluk tubuhnya.

Hyosung menengadah, mendapati sosok itu berdiri di hadapannya. Tangannya menggenggam tonggak pelindung, sebagai penghalau tetesan hujan yang hendak mengenainya.

***

Sayup-sayup angin malam menyapu sisi mukanya, menghapus jejak air mata. Sentuhan lembut telapak tangan Siwon menyapu tetesan air pada keningnya. Bibirnya menambat senyum, memandang wajah polos sang gadis yang tengah terlelap.

Hyosung terpejam dalam ketenangan, tanpa menyungginggkan kesan selempang. Kendatipun, pemuda itu dapat memahami jika gejolak emosi bergulat dalam benaknya. Ia tak ingin menambah beban, biarkan waktu yang membawa gadis itu pada penyelesaian.

Kecupan hangat di kening mengakhiri pertemuannya dengan Hyosung. Jendela telah tertutup kain pelindung, Siwon bergegas pergi.

Intuisinya tak henti menyelempang, takut menghadapi pilihan langkah. Namun sekelumit kekuatan menopang kerentanannya, kendati logika belum mampu mengidentifikasinya.

***

Desain latar pub itu tertata indah, penuh ornamen-ornamen antik yang memberikan kesan elegan.

Hyukjae menyapu pandang kesegala arah. Ia bukan terpana pada keindahan tatanan ruang yang sempurna, melainkan giat mencari sosok yang mengatur jadwal pertemuan dengannya.

Lambaian sebuah tangan membawa titik terang baginya. Hyukjae buru-buru menggeser langkah, menghampiri sosok yang terduduk di sudut ruang.

Mian, sedikit terlambat!” sapanya, menarik punggung kursi.

“Tak apa. Mau pesan sesuatu?” Siwon menyodorkan daftar menu padanya.

Hyukjae mengelak, lambungnya tak cukup kelaparan. “Ne, Siwon-ah, apa yang ingin kau bicarakan denganku? Raut wajahmu tak menunjukkan kebahagiaan. Apakah tentang sesuatu yang buruk?” Lelaki itu tak terlepas dari aksennya, penuh gurau.

“Tentang Hyosung.” Siwon berujar, kendati bibirnya gentar membuka.

“Dia.” Hyukjae menghela napas berat. Hatinya setengah kecewa, tak ingin membicarakan perihal gadis itu. “Kau meragukannya?”

Siwon menggeleng. Jemarinya sibuk mengitari bibir gelas. “Tidak. Maksudku, aku berusaha untuk tidak meragu padanya.”

“Lantas?”

Pertanyaan itu bagaikan meriam yang menghantam benak Siwon. Dirinya tak kuasa menceritakan kejujuran pada Hyukjae, namun beban hati kian kuat memaksa.

“Aku tak mengerti bagaimana mengungkapkannya. Namun—” Pemuda itu menjeda sejenak. “—ketika ia tak mampu menunjukkan keyakinannya padaku, kuharap kau mampu menjaganya.”

“Aku tak mengerti maksudmu.” Hyukjae bertukas cepat. Emosinya bergolak mendengar pernyataan lelaki itu. “Bagaimana bisa kau merencanakan sebuah pernikahan jika kau meragukan ketulusannya?”

“Aku berencana membatalkan semuanya.”

Paboya!” Hyukjae mendengus kesal. “Kau pikir ia cukup kuat jika kau melakukan itu padanya? Kau hanya—”

“—kau mengerti tentangnya lebih banyak. Kau mampu menjadi penenang baginya. Aku yakin, jika ia terluka karenaku, maka ia akan cepat berlari padamu. Aku sudah memikirkan itu.”

Mwo?” Kening Hyukjae berkerut dalam. “Kau pikir aku mau menjadi orang seperti itu?” Ia menyungging licik, mencibir kepelakan pemikiran lelaki itu.

“Tapi ia masih melihatmu. Tiap aku melihat pada kedua mata itu, sosokmu tak pernah terhapus dari sorotnya.” Siwon membalas cepat, setengah berkoak.

“Lantas itu berarti kau tak dapat menghapus bayangan itu dari matanya?” Hyukjae mengangkat sebelas alisnya, menunggu reaksi sang pemuda.

Siwon menggeleng, tanpa jawaban pasti. Benaknya sejatinya sibuk berkelit, kendati bongkahan kata tak mampu terucap guna menyangkal.

“Ya, berapa umurmu sekarang?” Hyukjae menarik napas dalam. Giginya berkeletuk, gemas menghadapi pria dihadapannya.

“Jika aku sebegitu berarti baginya, tak mungkin aku melepaskannya. Aku masih menyukainya hingga saat ini. Aku ingin ia kembali padaku. Namun aku tak sanggup memaksa, karena gadis itu tak sekalipun berniat kembali.”

“Tapi—“

“Kau sibuk mengelak? Baiklah, jika kau memang berniat melepaskannya, aku siap memasang sejuta perangkap untuk membiarkannya lari.” Ultimatum itu menggema, seiring sorot mata tajam yang bersiap menerkam.

Siwon bergeming dalam hampa. Otaknya tak berdaya memberikan reaksi. Kendatipun, hatinya berkoar keras, tak akan.

***

Tirai penutup sekonyong-konyong membuka, menyembulkan sesosok gadis mungil dari baliknya. Gaun putih berhiaskan aksen bunga yang terajut indah membalut tubuh langsingnya. Hyosung menggelak manis, bangga memamerkan kesempurnaan penampilannya.

Yeppeoda! Jeongmal!” Siwon mencangah, menatap gadis yang memancang di hadapannya.

Rona kemerahan mewarnai sisi muka Hyosung, gadis itu tersipu. “Jinja? Ah…aku menjadi grogi bagaimana diriku besok.” Gadis itu menepuk-nepuk pipinya yang menghangat.

Siwon mengangkat pandang, kalimat Hyosung menyadarkannya pada sebuah hal. Otaknya kembali berputar, memperdengarkan gaungan perbincangannya dengan Hyukjae.

Hyosung-ah, bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?” Bibirnya tak segan berujar, kendati hatinya tak yakin.

Hyosung memasang raut penasaran. “Mwoyo?”

Siwon menghela napas dalam. Terasa berat baginya guna membiarkan kalimatnya terlontar. “Apakah kau—apakah aku dapat mempercayaimu?”

Sebongkah batu besar bak menghantam benaknya. Gadis itu terperangah, bingung merangkai jawab.

“Apakah aku dapat mempercayaimu?” Pemuda itu mengulang, meminta jawaban cepat.

“Tentu.” Hyosung meringis, mencoba menghapus kegentiran. “Kita akan segera menikah. Kau—kau tak mau menikahi gadis yang tak dapat dipercaya, bukan?”

Siwon urung bersuara. Hatinya melega, kendati tak semata membuatnya percaya.

“Baiklah, aku akan segera berganti.” Tutur Hyosung, melibas keheningan. Gadis itu lekas melangkah mundur, memasuki bilik ganti.

Tatkala gadis itu hendak menarik tirai penutup, tangan Siwon mendadak mencegahnya. “Tunggu.”

Hyosung tak menurut. Tangannya makin kuat menarik tirai penutup, sadar suasana pembicaraan akan bertambah buruk.

“Aku memberimu kesempatan. Jika kau ingin lari, maka larilah padanya.” Kalimat itu berkumandang di telinganya, Hyosung merunduk tanpa daya.

Kedua matanya terpejam, tangannya menyentuh dada yang terasa ditiikam. Sekalipun lelaki itu tak menjelaskan secara gamblang, namun Hyosung memahami makna yang tersirat dibaliknya. Ia tak tahu harus berkata apa, dirinya tak mau disebut munafik.

“Aku dapat membatalkan semuanya.” Kalimatnya terjeda sejenak. “Kau bisa—“

“—apa yang sedang kau bicarakan?” Hyosung memekik, seiring dengan tamparannya yang mendarat pada sisi muka siwon. “Kenapa kau membicarakan orang lain? Ini pernikahan kita. Aku hanya ingin kau membicarakan soal kita berdua.” Manik mata gadis itu berkaca-kaca.

“Mian. Aku hanya berusaha melihat keyakinanmu.” Siwon merunduk penuh dosa.

Ne, Choi Siwon, dengarkan aku! Aku memang berharap dapat kembali padanya, pada Hyukjae. Namun itu jauh sebelum aku menemukanmu. Aku memiliki banyak kenangan indah bersamanya, namun tak seindah ketika aku bersamamu.

Sekelumit perasaanku memang masih mengharapkannya. Namun itu tak lebih besar dari harapanku padamu. Mungkin pada suatu ketika aku meragukan perihal pernikahan kita, tapi itu tak berarti aku tak siap menikahimu. Bukan berarti aku tak yakin padamu. Aku—“ Gadis itu menjeda tiba-tiba, tak kuasa menahan air mata yang memenuhi pelupuk mata.

Siwon terperangah, rahangnya tak sanggup bergerak. Kendati lengannya perlahan terangkat, menggapai sisi muka sang gadis. Jemarinya menyapu air mata yang berlinang.

Hyosung menggenggam erat tangan lelaki itu. Isaknya berhenti. Pandangannya mendongak, mengarah pada sorot mata Siwon. Perlahan kakinya menjinjit, kedua tangannya meraih pundak lelaki itu, mengalungkannya membentuk dekapan erat.

Samar-samar suaranya merisik, mengelukan kalimat terakhir yang mampu terangkai. “Jika aku ingin berlari, maka aku akan lari. Namun apa guna aku berlari menjauh jika aku telah mencapai titik kemenanganku? Aku percaya kau adalah titik itu. Karena itu aku akan berhenti berlari, ketika aku telah meraihmu.”

Kalimat itu membuatnya tak mampu bersanggah. Pemuda itu merunduk, mengendus pundak Hyosung. Tangannya memperat dekapan pada tubuh mungil itu.

Hatinya tersanjung. Hyosung berbicara dalam sisi kedewasaannya, membuat dirinya merasa bak anak kecil yang tak mengerti apa-apa. Mungkin bukan layaknya, ia memang seorang anak kecil yang menakuti apapun. Kendatipun, anak kecil tak selamanya tumbuh dalam ketakutan, tatkala dirinya memperoleh sebuah kekuatan, berupa kepercayaan.

***FIN***

A/N :  Seenak jidat ya saya ngasih themesong singlenya U-KISS, padahal castnya gak ada U-KISS U-KISSnya.XDDD Mian!

Advertisements

32 responses to “[FF/PG15/DR] You taught me what reliance is

  1. waduh… utk ukuran drabble ini mah panjang bgt. setau aku, drabble itu kurang dari 1000 kata. [apa aku yg salah? ntar coba cek lgi, ah. hehehehh]

    banyak bgt kata2 yg aku ga ngerti artinya. entah bahasanya yg tingkat tinggi atau aku nya aja yg emang ga tau.
    [tapi, slama ini mungkin udah lebih dari 100 novel yg aku baca. mulai dari terjemahan atau karya anak bangsa sndiri, yg tebalnya pun ratusan bhkan ada yg sampe lebih dari 1500 halaman. Dan aku ga ngalami kesulitan buat memahami kata2 yg ditulis si author.]

    selain itu, di ff ini tlalu banyak personifikasi sama hiperbola. bukan apa-apa, tapi kalo begini kan kesannya too much.

    Tapi… tiap penulis punya gaya menulis sendiri2 yg tentunya berbeda dgn penulis lain. and it’s ur own style. I appreciate it. mungkin aku cuma kurang dpt feel dgn penulisan yg seperti ini.
    Tetep smangat brkarya yaah. Hwaiting ^^

    • ^^ Berarti ini ficlet atau…saya juga bingung sendiri nentuinnya, tapi untuk ukuran oneshot terlalu pendek. TT

      Hahaha…gak tingkat tinggi juga lah. Bahasa tulis mah udah tingkat tinggi juga dibanding bahasa mesin. LOL.
      Hiperbola, memang sih. Saya lagi suka novel jadul, jadi mungkin bahasanya masih kebawa gaya bahasa yang mendayu-dayu. XDD

      Mungkin tipe kamu yang bahasanya lugas, jadi langsung nyampe. Tapi gak apa-apa, memang tergantung orangnya sendiri. Makasih cuma ya sama kritikannya. XD

  2. bagus banget
    tapi kalimatnya rada g mudeng aku
    yah aku emang masih kecil*smp#g nanya
    tapi bagus banget ff nya

  3. Bhasa nya indah,tapi syang sya mlah dpt feel kyak melayu jd agak aneh , jd mbayangke jaman2 penjajahan.*lol , bahasanya bkin suasana jd mencekam . Dan jadul bgt , tp unik sih .*bias sy tersiksa disini.*Plak

  4. Bahasanya bagus banget! (meski sempet bingung ngertiinnya hehe)nice ff, sering sering bikin yang kayak gini aja^^

  5. SUMPAH. . .
    Ak suka bAnget fF ini, ,je0ngmal chowaheyo. .
    , bAhasanya keren bAnget, ,
    pengembAngan bhsnya mantap bgt, sungGuh memikat. .hHa lebay. .tp emang keren og, ,
    bAru pertma kLi ini bCa fF yg bhsnya keren kyk gni. .
    Ak ksh 10 jempol dEh, , yg 6 pinjem pny tTanga. .hHA

    buat yg kyk gni lg dunk, , hHe

  6. kereeenlah !!
    gaya bhasanya jg , elegan :3
    uh , knp hyukjae yg sakid ati 😦
    aku bsedia kok jd pairingnya hyukjae kalo ada
    ksempatan /plak wkwk

    oia, devina imnida 16 y.o
    bangapseumnidaa^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s