[Twoshot] His Little Pet

Entahlah apa yang membuatku terdampar di tempat ini. Hal terakhir yang kuingat hanyalah tubuhku yang dilempar keluar dari gedung apartemenku sendiri. Pemilik gedung apartementku itu dengan kasar membuangku ke tengah jalan ketika aku lagi-lagi tidak membayar uang sewa untuk yang kesekian kalinya. Dia bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk mengambil barang-barang milikku. Dan sekarang disinilah aku terdampar, duduk di tepi trotoar, menunggu jawaban dari bulan yang hanya membisu. Entah bagaimana nasibku setelah malam ini berlalu. Mungkin aku bahkan harus tidur dibawah temaran rembulan malam ini. Ditemani kaus berwarna biru muda, hoodie hitam, dan celana training hitam yang memang sejak tadi melekat ditubuhku. Uang? Bahkan sepeserpun tidak ada yang melekat di tubuhku. I’m broke. Tidak, aku tidak miskin. Tingkatanku saat ini berada jauh dibawah kata miskin. Aku tidak punya apa-apa. Yang tersisa hanyalah jiwa yang masih berniang dalam tubuhku. Hah, Ayah, Ibu, kalau perlu kalian ambil saja jiwaku ini sekalian. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan hidup dengan keadaan seperti ini.

“aaaaaarrgggh” teriakku melepas rasa frustrasi sambil bangkit berdiri dari trotoar. Dan rasa frustrasiku pun semakin menjadi-jadi ketika tetesan air yang dingin mulai turun dari langit, perlahan-lahan membasahi tubuhku yang sudah lemas sejak awal. Kubiarkan tubuhku tersiram oleh air hujan yang turun semakin deras. Siapa tahu jiwaku bisa ikut terbawa hanyut oleh berliter-liter air yang sudah membasahiku ini. Kuangkat kepalaku, membiarkan hujan semakin membasahi wajahku yang sudah tidak berbentuk. Kakiku melangkah sedikit demi sedikit menyeberangi jalanan yang sepi karena jam sudah menunjukkan pukul 2.oo pagi. Pikiranku mulai melayang ketika akhirnya aku disadarkan oleh suara klakson dan cahaya terang dari sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Untuk beberapa saat kukira aku sudah mati. Tetapi ternyata reflekku cukup baik sehingga aku masih bisa merasakan setiap tetes air hujan yang mengenai tubuhku. Hanya saja, akibat gerakan yang terlalu cepat, kakiku tersandung dan tubuhku terjatuh ke tepi jalanan. Punggunggku dapat merasakan kasarnya aspal yang mengesek tubuhku. Suara decitan rem mobil tetap tidak berhasil membuatku mau bangkit dari tempatku saat ini. kubiarkan tubuhku tetap dalam keadaan terkulai di tepi jalan. Mataku hanya menatap kosong ke arah langit. Pikiranku kembali melayang, yang membuatku bahkan tidak sadar ketika seseorang memukul pelan pipiku, berusaha membangunkanku.

“Hey, nona, apakah kau baik baik saja? hey, nona, sadarlah!” teriak orang itu sambil masih memukul-mukul pipiku. “NONA!” teriaknya yang membuatku tersadar.

“Ah. ya, ya aku sadar, aku sadar” ucapku sedikit terkaget sambil mengangkat tubuhku dengan kedua lenganku yang sedikit bergetar akibat shock.

“Nona, apakah kau baik-baik saja?” ucap orang itu yang ternyata adalah seorang laki-laki.

“Ya ya, sepertinya aku baik-baik saja” ucapku sambil berusaha untuk berdiri. Laki-laki itu membantuku untuk berdiri, tetapi rasa sakit tiba-tiba memenuhi pergelangan kaki kiriku yang membuatku sedikit merintih.

“aaw” pekikku ketika rasa sakit menerjang dari kakiku.

“apakah kau terluka?” tanya laki-laki itu sambil membantu menopang berat tubuhku.

“sepertinya kakiku terkilir” ucapku sambil berusaha menahan rasa sakit.

“mari, biar kuantar ke rumah sakit” ucap laki-laki itu sambil membopongku ke dala mobil BMW miliknya. This day couldn’t get any worse.

***

“Kakinya hanya terkilir sedikit. Kau sudah boleh langsung pulang” ucap dokter yang memeriksaku. Kaki kiriku sudah diperban oleh dokter itu, walaupun masih terlihat bahwa kakiku sudah mulai membengkak dengan warna biru mengeramkan di sekitar perban itu. Laki-laki pengendara BMW itu membantuku turun dari ranjang tempatku diperiksa dan membantuku berjalan keluar dari ruang dokter. Sejak hampir menabrakku tadi, dia tidak pernah pergi dari sisiku, menemaniku ketika aku sedang diperiksa, dan membantuku berjalan kemanapun. Dan untunglah dia juga yang membayar biaya pengobatanku. Kalau tidak, mungkin aku harus menjual jantungku agar bisa membayar biaya pengobatanku.

“Dimana alamat rumahmu?” tanyanya ketika kami sudah kembali berada di dalam mobilnya.

“hemm, itu…” gumamku tidak jelas.

“maaf, bisakah kau berbicara sedikit lebih keras? aku tidak bisa mendengar suaramu” ucapnya sambil menstarter mobil.

“ehhmmm, aku…..” gumamku lagi. Jujur saja, aku tidak tahu harus menjawab apa.

“maaf?” ucapnya lagi sambil mendekatkan telinganya ke arahku.

“Aku.. tidak punya tempat tinggal” ucapku sedikit berbisik, malu untuk mengutarakan keadaanku saat ini.

“oh, ehm, begitu, ehm……… Apakah kau mau kuantarkan ke hotel?” tanyanya lagi. Kali ini dia menghentikan mobilnya di tepi jalan.

“ehhhhmm, aku juga… tidak punya… uang” ucapku sambil menunduk.

“ohhh, ok ok” ucapnya agak shock. Dia menghela nafasnya lalu melanjutkan perkataannya, “hem, bagaimana kalau kau tinggal di rumahku dulu untuk sementara? setidaknya sampai kau mendapat pekerjaan dan bisa mencari tempat tinggal sendiri”

Mendengar tawarannya aku hanya bisa mengangguk lemas. It’s not like I have any other choice. Bisa tidur dibawah atap saja sudah bagus. Kalaupun nantinya dia berbuat jahat padaku, aku tidak peduli. Dengan keadaan seperti ini aku hanya bisa pasrah mengikuti apapun kehendeak yang diatas.

Melihat jawabanku, diapun menjalankan kembali mesin mobilnya dan mulai memacu mobil silvcer itu menerobos jalanan kota Seoul.

Baru kusadari sejak awal aku tidak pernah memperhatikan wajah laki-laki itu. Yang kuingat darinya hanyalah rambutnya yang dipangkas dengan model mohawk. Laki-laki itu memiliki wajah yang keras dengan hidung mancung dan mata sipit yang khas. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi cukup besar untuk tinggi badannya. Dia mengenakan jaket army berwarna hijau tua, dengan tank top putih di dalamnya dan jeans berwarna gelap. Tatapan tidak pernah lepas dari jalanan di depan.

Bangunan-bangunan tinggi mulai tidak terlihat di sekeliling kami. Mobil sudah melaju ke bagian tepi kota, dimana terdapat banyak perumahan yang dibangun di daerah itu. Laki-laki itu menghentikan mobilnya di sebuah rumah kecil bermodel minimalis. rumah itu memiliki halaman depan yang cukup luas, walaupun bangunannya sendiri bisa dikatakan cukup kecil. Walaupun ukurannya tidak sebanding, rumah itu tetap memberikan kesan mewah yang membuatku terpana melihatnya.

“Ayo masuk” ucapnya sambil mempersilahkanku masuk ke dalam.Seperti bangunannya, interior rumah itu juga bermodel mimalis yang dipadu dengan kayu-kayu di beberapa tempat. Dia mempersilahkanku duduk di sofa ruang tamu yang berwarna abu-abu.Dia berjalan menaiki tangga ke lantai atas meninggalkanku sendirian di bawah. Tidak berapa lama kemudian, dia kembali dengan sebuah handuk dan kemeja yang terlipat di tangannya.

“sebaiknya kau ganti dulu bajumu yang masih basah. untuk sementara pakailah dulu ini. Kamar mandi ada di sebelah sana” ucapnya sambil menunjuk pada pintu kamar mandi di ujung rumah. Akupun mengangguk dan berjalan ke arh sana.

Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaianku dengan kemeja yang agak kebesaran yang dia berikan, aku kembali ke ruang tamu dimana kulihat sofa abu-abu itu sudah diberi sebuah bantal dan selimut. Kemeja yang kukenakan jatuh tepat di atas lututku. Kugulung tangannya yang pangjang sampai melewati sikuku. Laki-laki itu sekarang sudah duduk di sofa itu sambil menggenggam sebuah gelas.

“Let’s talk rules” ucapnya sambil menyambutku dengan segelas susu panas. “#1, kau boleh memakai semua barang yang ada di sini, memakan smeua makanan yang ada di sini. Intinya, kau boleh menganggap rumah ini rumahmu sendiri. Yang terpenting adalah #2, kau tidak boleh, sekali lagi kujelaskan, TIDAK BOLEH menyetuh atau bahkan menginjakkan kakimu di lantai dua rumah ini. mengerti?” jelasnya padaku dengan menekankan beberapa kata yang menurutnya sangat penting.

“em!” jawabku sambil mengangguk, “itu saja?”

“Ya, itu saja. Sekarang tidurlah. Sudah hampir pagi dan besok aku ada urusan penting” ucapnya sambil berlalu meningfgalkanku. “Oh ya, siapa namamu?” dia menghentikan langkahnya dan beralih menatapku.

“It’s Suzy” ucapku sambi tersenyum.

“Suzy? Aku Dong Young Bae. Senang berkenalan dengamu” ucapnya lalu berpaling dan kembali meninggalkanku di ruang tamu. Dan malam itu aku tidak perlu tidur dibawah temaran rembulan. Mungkin peruntunganku tidak seburuk yang kukira.

***

Cahaya terang dari arah jendela membangunkanku dari tidur. Rasa sakit dari kakiku masih terasa ketika aku berusaha untuk mengangkat tubuhku. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Sepertinya Young Bae sudah pergi karena aku tidak merasakan tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Kuputuskan untuk meneliti rumah untuk mengisi kegiatan. Paertama, kuhampiri ruang makan yang terletak tepat di belakang ruang tamu tempat aku tidur. Bisa dibilang rumah ini sangat memanfaatkan space yang kecil. Rumah ini sebenarnya tidak memiliki ruang tamu khusus. Ketika masuk dari pintu utama, hanya terdapat ruang kecil sebagai perantara antara isi rumah dengan pintu utama. Sebagian besar bangunan rumah didominasi oleh ruang duduk yang juga difungsikan sebagai ruang tamu, dimana aku tidur semalam. Di belakang ruang duduk terdapat dapur kecil dengan sebuah meja yang bisa diduduki oleh 4 orang. Di samping kanan ruang duduk terdapat pintu kaca yang langsung mengarah ke taman belakang rumah. Rumah ini memang memiliki halaman yang sangat luas, dibandingkan dengan bangunannya sendiri, sehingga memberikan kesan nyaman dan asri.

Krrrruuuuukkkkk. Suara dari perutku menunjukkan sudah waktunya makan. Aku memang belum mengisi perutku sejak kemarin siang. Salahkan ibu-ibu pemilik apartemen itu yang mengusirku seenaknya. HUH! dasar ahjjuma tua! Masa hanya karena uang sewaku menunggak tiga bulan, dia langsung menyeretku keluar seperti itu. Dia bahkan tidak mengijinkanku untuk mengambil barang-barangku, walaupun sebenarnya ku tidak punya apa-apa juga. Ayah, Ibu, kenapa kalian meninggalkanku seperti ini? Kalau saja kalian tidak mengalami kecelakaan itu. Mungkin sekarang hidupku akan baik-baik saja. Tanpa kusadari setetes air mata turun di pipiku. Rasa lapar kembali kurasakan, membuatku tersadar dari lamunanku. Kubuka lemari dapur, mencari mie instan yang bisa segera kumakan. Siang itu kuhabiskan dengan memakan ramyun sambil menonton TV yang ada di ruang duduk.

Langit akhirnya kembali menjadi gelap. Aku hanya duduk di atas sofa dengan mata yang masih tertuju pada layar TV. Ssejak tadi aku terus menganti channel sampai menemukan acara bagus yang bisa kutonton. Tubuhku tidak pernah terlepas dari sofa abu-abu ini.

Sampai akhirnya suara pintu terbuka membuatku baa=ngkit dari sofa itu, untuk menyambut si pemilik rumah yang baru saja pulang.

“Kau sudah pulang” ucapku sambil tersenyum menyapa Young Bae yang baru saja masuk.

“Uhm” jawabnya singkat tanpa melihatku sedikitpun.

“Bagaimana harimu?” tanyaku basa-basi sambil mengikutinya ke arah dapur.

“Biasa saja” jawabnya lagi, masih tidak melihat ke arahku.

“Apakah pekerjaanmu melelahkan?” Tanyaku lagi, berharap dia melihat ke arahku.

“Biar kuambilkan kau baju ganti. Maaf, untuk sementara kau harus mengenakan baju-bajuku. Biar nanti kucarikan baju dari saudaraku untukmu” ucapnya. Kali ini dia melihat kearahku sebentar walaupun lalu dia kembali ke kesibukannya sendiri. meneguk air dari botol yang dia ambil di dalam kulkas. Diapun berjalan ke lantai dua, meninggalkanku sendirian di dapur. Baru kali ini aku merasa kesepian walaupun ada kehadiran orang lain di dekatku. Mungkin memang sudah menjadi takdirku untuk sendirian selamanya.

To Be Continued

Hellloooooooooo~ I’m back ! Maaf udh 2 minggu enggak update *bungkuk* Apakah ada yg kangen sama saya? *kayaknya enggak*. Setelah melalui masa-masa paling menegangkan untuk semester ini, akhirnya saya kembali menuli fanfic lagi. Kali ini saya bikin twoshots karena bosen bikin oneshot terus. Semoga yang kali ini bisa cukup menghibur.  Untuk part selanjutnya, mungkin besok/minggu depan baru saya post.

20 responses to “[Twoshot] His Little Pet

  1. @nubhul Dong Yong Bae itu nama aslinya Taeyang BigBang kekeke~
    lanjutnya besok ajaaaaa yayaya? iya pokoknya #maksa

  2. author kayaknya aq muleh ngeeh
    itu yg di lante 2 piaraan a kan?
    *kedengaran keak gmn gitu ya?

  3. Couple yg imut! Yg satu kyk binaraga yg satunya kayak boneka porselen = binaraga porselen (?) #plaaak *abaikan*
    yg pasti ditunggu sekuelnya eooonnn!! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s