My Gadfly is My… – Part 6 [end]

Tittle : My Gadfly is My…

Cast :

  • Lee Jin Hyeon (Amyrra Bellazani)
  • Lee Tae Min
  • Lee Gi Kwang

 (perasaan marganya lee semua ya -_-’)

Author : Flameunrii

– FF ini ff balasan buat uri jinhyeon^^ Mianhaeyo, kalo tidak suka sama ff nya o.o-

Banzaii ╭(′▽`)╯akhirnya nyampe part akhirnya jugaaa ~

Huwaahh~ *sekakeringat*

Pertama, gumawo buat para readers yang berhasil baca nyampe part ini ^^

Kedua, gumawo buat jinhyeon (amyrra) yang sudah bersedia aku pinjem

namanya untuk dinistai di ff ini O.O *dipacul hyeon*

kwkwk, oh yaa… buat kemaren yang nebak sama siapa hyeon akhirnya…

silahkan di baca ampe selesai dan dikira-kira ya…

Jangan lupa kasi komennya =* (sogok pake cipokan)

*author senyum setan* Oh ya, mungkin habis ini saya bakal hiatus (Mungkin loh)

kalo ada readers yang mau marah, ngomel, maki-maki author

karna ending ff ini yang -authornya- minta ditabok, atau mau marah-marah karna ff series saya yang satu lagi ga diupdate-update

silahkan temui author di perempatan *plak* (bukan, author bukan reman ._.)

maksudnya disini @flameunrii

Happy reading =D (basa-basi ._. PLAK!)

^^-^^-^^-^^-^^

Aku menekan stok kontak hingga lampunya menyala. Ketika aku melirik jam dinding dikamar, aku mengernyit. Ini masih jam lima pagi dan ini akan jadi hari penting jika saja aku benar-benar terbangun sepagi ini, tetapi sayangnya tidak! Aku bukan terbangun, melainkan tidak tidur semalaman. Ya, jika kalian pintar menebak aku memang tidak bisa tidur karna memikirkan hari ini, pernikahan taemin.

Aku berjalan dengan langkah gontai kekamar mandi. Saat menggosok gigi, aku menatap cermin didepanku. Memperhatikan pernampilan ku yang tampak benar-benar kusut pagi ini.

“Panda” Aku bergumam ketika melihat lingkar hitam dibawah mataku.

Setelah selesai dengan urusan menggosok gigi. Aku berjalan keruang tv. Aku duduk disofa dan mulai menyalakan tvnya. Film pagi tentu saja tidak ada yang menarik. Meski jarang bangun sepagi ini. Tapi aku tau betul setidak-tidaknya acara pagi itu hanya kartun dan berita saja. “Pemirsa, hari ini merupakan hari besar putra seorang CEO management terbesar, Lee Taemin yang akan melaksanakan pernikahannya…” Aku menganga melihat berita pagi hari ini. Mataku yang tadinya masih segaris langsung membuka lebar mendengar nama lee taemin disebut-sebut. Lebih lagi ketika melihat foto taemin bersama yeoja bernama sulli sulli itu.

Pip! Dengan sedikit kasar aku menukar salurannya. Walau masih bingung kenapa pernikahan taemin bisa jadi berita tapi aku juga tidak tahan berlama-lama melihat acara itu.

“Pernikahan terbesar putra-putri keluarga Lee dan Choi…” Aku mengganti salurannya lagi.

“Dikabarkan mereka adalah teman sejak kecil dan…” Aku menggantinya sekali lagi.

“Mungkin ini dapat menjadi obat penyembuhan untuk tuan Lee yang dikabarkan masih terbaring tidak berdaya, mengingat pernikahan ini benar-benar keinginan…” Aku mengganti lagi, lagi dan lagi tapi tetap saja semua salurannya memuat berita itu. Aku sudah terlalu muak mendengar kata ‘pernikahan lee taemin dan choi sulli’ jadi aku mematikan tv nya dengan kasar sembari mengumpat “KENAPA SEMUA SUDAH DIRACUNI OLEH PERNIKAHAN ANAK ITU!”

“Lee Jinhyeon, kenapa berteriak-teriak.” Umma yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangku menatapku dengan pandangan bingung.

“Aigoo, panda. Kau tidak tidur semalam?” Ujar umma yang sudah berada dihadapanku. Mungkin sadar setelah melihat wajah kusutku.

Aku tidak berkata apa-apa malah menyerobot memeluk umma. umma juga tidak banyak bertanya ketika aku memeluknya lebih kencang.

“Wae? Tidak enak badan lagi ya. Libur sehari saja kalau begitu…” Setelah sepersekian menit membiarkan aku memeluknya barulah umma buka suara.

“Hari ini sekolah memang libur. Dan aku memang tidak enak badan.” Akhirnya hanya itu yang dapat kujawab.

Sekitar jam sepuluh pagi. Ketika aku sedang duduk menung diayunan taman didekat rumahku aku dikagetkan dengan getar ponselku.

From : Taemin
Upacaranya ternyata siang. Tau begitu sekolah tidak usah libur saja ya. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kamu lakukan?

Aku mendesah panjang membaca sms taemin barusan. Anak itu sudah akan menikah sempat-sempatnya meng-sms ku juga. Dalam diam, aku memikirkan balasan untuk taemin.

To : Taemin
Taman hiburan dibuka jam sepuluh. Aku ingin naik bianglala bersamamu. Sebentar saja. Mau kan? Aku tunggu disana.

Tanpa menunggu balasan dari taemin. Aku berdiri dan langsung berlari kehalte. Tujuanku saat ini adalah taman hiburan. Terserah dia akan datang atau tidak. Yang jelas aku akan menunggunya disana.

Aku berdiri didepan wahana itu. Menunggu taemin. Aku tahu ini terlihat bodoh. Menunggu sesuatu yang tidak pasti akan datang atau tidak. Tapi bolehkan kalau aku berharap banyak.

“Ya, agasshi apa yang kamu lakukan disini?” Seorang petugas taman hiburannya menghampiriku. Taman ini baru saja dibuka jadi masih sepi, wajar kalau dia merasa aneh.

“Kamu ingin naik?”

Aku mengangguk lalu berkata, “Tapi bersama seseorang. Sekarang aku sedang menunggunya.” Ujarku dan seketika tawa paman itu meledak.

“Ya, waeyo ajusshi?” tanyaku bingung. Kurasa tidak ada yang lucu sedikitpun dengan kalimatku tadi.

“Ani. Kau tau? Beberapa minggu yang lalu juga ada seorang pemuda berwajah cantik yang seperti kamu. Dia terus berdiri disini. Ketika ku tanya ingin naik atau tidak dia mengangguk lalu bilang ‘tapi nanti, sekarang aku sedang menunggu seseorang’ Bukankah itu lucu? Apa menunggu dibianglala adalah tren anak muda jaman sekarang?” Lagi lagi paman ini tertawa. Berusaha mengabaikannya, aku menerawang mengingat-ngingat kejadian beberapa waktu yang lalu.

Pemuda berwajah cantik? Menunggu dibianglala? Apakah yang dia maksud itu taemin!?

“Ajusshi! Apa namja yang menunggu itu pakai kaus biru?” Sahutku. Aku masih ingat sekali hari itu taemin pake kaus biru dan celana jeans.

“Ya, kalau tidak salah memang kaus biru. Dan kau tau? Dia menunggu sampai taman hiburan akan tutup tapi orang yang ditunggu tak kunjung datang. Dia baru mau pulang setelah kusuruh.”

Tidak salah lagi itu taemin. Dan dia menunggu ku selama itu? Ya tuhan, sekarang aku sadar betapa jahatnya aku.

Aku merasakan ponselku bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Buru-buru aku meraihnya, berharap kalau itu adalah pesan dari taemin tapi sayangnya dugaanku meleset. Bukan nama taemin yang tertera disana tapi Han seohyeo.

‘Hyeon, sungguh mengejutkan kami semua kehilangan mempelai prianya,’begitulah isi pesannya.

“Ya, agasshi. Apa yang kau tunggu itu seorang pemuda berwajah cantik?” Suara paman itu menyadarkanku. Aku hampir lupa kalau semenit yang lalu kami masih mengobrol.

“Iya. Bagaimana anda tau?”

“Kalau begitu aku harus pergi. Karna orang yang kau tunggu itu sudah datang.” Paman itu langsung menjauh meninggalkanku. Dia sempat tersenyum penuh maksud sebelum benar-benar melangkah pergi.

Tidak berapa lama kemudian aku mendengar derap langkah seseorang dari arah belakang. Kontan aku menoleh dan yang kudapati…

Seseorang yang aneh sedang berlari kearahku. Sebenarnya dia tidak aneh kalau saja dia tidak berlari dengan jas putih untuk pengantin pria.

“Lee Jinhyeon!” Panggilnya. Aku masih diam memandangnya tidak percaya. Tidak percaya kalau dia benar-benar akan datang.

“Hosh…hosh…Sudah lama menunggu?” Tanyanya sambil berusaha mengatur nafas.

“Aku tidak percaya kau benar-benar datang…”kataku lirih. Aku tersenyum menatap taemin yang sudah duduk dihadapanku. Kami baru saja naik bianglalanya.

“Aku sendiri tidak percaya kalau aku akan datang kemari.” Jawab taemin, kali ini sudah bisa bicara dengan senyum.

“Lama menunggu?”Sambungnya.

“Tidak juga.”

“Huft, syukurlah. Aku takut kamu menunggu lama.” Taemin menghela nafas lega. Dari wajahnya terpancar ketulusan yang selalu berhasil mengusir rasa kesalku setiap kali aku berpikir dia menyebalkan.

“Kenapa kamu bilang begitu…”

“Karna aku tidak suka menunggu. Waktu itu aku menunggu hyeon sampai sore tapi hyeon tak kunjung datang. Setelah itu perasaanku jadi aneh sekali. Antara sedih, kecewa dan sedikit marah.” Aku terdiam ketika taemin berkata seperti itu.

“Pokoknya setelah itu perasaanku jadi tidak enak sekali. Dan aku tidak mau hyeon juga merasakannya.” Hiks, ternyata aku benar-benar mencintai namja ini. Sebelumnya aku tidak pernah mengira kalau dia bisa sebijak ini, berpikir saja belum pernah.

“Mianhae taemin, hari itu aku…”

“Harus menemani gikwang hyung?” Jantungku seperti mau melompat ketika taemin bilang begitu. Aku mengangkat kepalaku dan menatap mata taemin. Bagaimana dia tau?

“Hehe, ketika lewat dari setengah jam aku menunggu, aku menyusul hyeon ketoilet. Takutnya terjadi sesuatu makanya hyeon tak datang. Tapi tanpa sengaja aku melihat hyeon sedang duduk bersebelahan dengan gikwang hyung. Gikwang hyung bahkan sempat menyenderkan kepalanya di pundak hyeon. Aku ingin panggil tapi takut merusak suasana. Jadi kuputuskan kembali ke sini untuk menunggu hyeon. Mungkin hyeon akan datang setelah urusan dengan dia selesai. Begitulah asumsiku waktu itu.” Rasa bersalahku semakin bertambah mendengar penjelasan taemin barusan. Jadi waktu itu dia melihatku?

“Taemin… Boleh aku tanya sesuatu?”

“Apa? :)”

“Kalau bukan karna ayahmu. Apa kau akan menikah dengan sulli?” Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku menanyakan hal macam ini.

“Sebenarnya aku hanya ingin menikah satu kali. Bersama orang yang benar-benar aku sukai…”

“Siapa dia, orang yang kamu sukai?” Taemin bahkan belum selesai bicara tapi aku sudah memotongnya. Sebenarnya pertanyaan inilah yang sangat ingin kutanyakan semenjak dia memberiku gelang ini.

“Seorang wanita.” Aku mendengus panjang. Bahkan disaat seperti inipun jawabannya masih saja membuatku menepuk jidat.

“Iya, aku tau kamu suka wanita dan tidak mungkin pria. Yang aku maksud, siapa wanita yang kamu sukai?” Tidak salah lagi, taemin ini benar-benar makhluk langka. Terkadang dia terlihat begitu polos dan ‘benar-benar’ tidak nyambung saat ditanya tapi sewaktu-waktu dia juga bisa jadi laki-laki bijak yang tanpa sadar mengucapkan kata² manis hingga mampu membuat penilaian awal tentangnya berubah sekaligus melenyapkan rasa kesalmu padanya seberapa parahpun itu.

“Aku suka yeoja cuek yang wajahnya langsung ditekuk ketika pertama kali melihatku. Aku suka yeoja pemarah yang senang sekali berteriak-teriak ketika dia kesal padaku. Aku suka sekali yeoja aneh yang menangis ditengah hujan agar tidak ada satu orangpun yang tau kalau dia menangis. Aku suka pada yeoja yang pernah menamparku tiga kali dalam sehari. Aku suka pada yeoja yang membenturkan dahinya ke dahiku ketika kami main drama. Aku suka pada yeoja yang mencintai binatang gendut dari cina lebih dari apapun. Yeoja yang tas, jam dan gelangnya semua berbentuk panda. Yeoja kusut yang wajahnya saat ini seperti panda karna lingkar hitam dibawah matanya. Yeoja yang suka menangis tapi sangat malu menunjukkan air matanya. Yeoja yang kukira masih menyukai mantan pacarnya dan ternyata aku salah.
Yeoja yang berteriak ‘kepalaku ada dikaki’ ketika aku menelponnya. Yeoja yang mabuk-mabukan dimalam sebelum pernikahanku. Yeoja yang memintaku menemaninya naik bianglala dihari pernikahanku. Yeoja yang…” Bahkan aku terus menatap taemin meski pandanganku benar-benar sudah buram karna air mata yang terus menerus mengalir. Perkataannya barusan benar-benar menguras perasaanku. Taemin yang sekarang benar-benar tidak terlihat seperti taemin. Dia begitu menyilaukan. Begitu tampan dengan jas pengantinnya. Dan begitu berkarisma dengan perkataannya. Aku tidak bisa melawan pesona taemin. Sedetikpun aku tidak ingin melewatkan waktu untuk tidak menatapnya.

Taemin beranjak mendekati ku. Perlahan tapi pasti, dia semakin mendekat dan langsung mengusap air mata dipipiku dengan kedua ibu jarinya.

“Aku suka sekali pada yeoja dihadapanku. Yang sedang menangis sambil terus menatapku. Yang terlihat berantakan dan tidak cantik sama sekali karna air matanya begitu banyak dan hidungnya benar-benar merah, aku yakin dia butuh dua kotak tisu hanya untuk membuang ingusnya.” Aku menjambak rambut taemin pelan sampai dia tertawa kecil lalu memelukku.

“Aku juga su…”

“Jangan bicara! Aku tidak mau dengar apa-apa darimu. Diam saja dan biarkan aku yang bicara hari ini. Kau harus mengalah untuk hari ini saja.” Aku hanya mengangguk dalam pelukannya. Tidak ingin membantah perkataanya lagi.

“Simpan kalimatmu untuk nanti. Nanti ketika hari dimana kita bertemu lagi dan kita sudah bebas untuk mengutarakannya. Karna kalau kau katakan sekarang, aku mungkin tidak akan bisa menuruti keinginan ayahku…” Taemin mengecilkan suaranya dikalimat terakhir. Aku semakin mengencangkan pelukanku pada taemin. Aku baru sadar betapa hangatnya pelukan taemin. Bahkan ketika aku bersama gikwang pun aku tidak pernah merasa sehangat ini.

Beberapa menit kemudian, taemin melepaskan pelukannya. Saat itu kotak dimana kami duduk sudah akan sampai kepuncak bianglalanya.

“Aku suka pada hyeon…” Setelah berkata begitu dia memejamkan matanya dan memajukan wajahnya kewajahku. Aku tau apa yang akan terjadi. Reflek aku memejamkan mataku.

Wajah taemin dekat, dekat dan semakin dekat. Aku sempat membuka mataku sepintas ketika jarak wajah kami tidak kurang dari lima senti lagi. Dan aku kembali memejamkan mata ketika bibir taemin mengecup bibirku lembut.

Kalian salah kalau berpikir aku akan membenturkan kepalaku lagi seperti didrama waktu itu.

Taemin melepas kecupannya ketika kotak kami sudah mulai kebawah. Dia bahkan memandangku takut-takut usai menciumku. Mungkin takut aku akan menonjok matanya.

Tapi wajahnya berubah lega dan kembali cerah ketika aku menatapnya dengan senyuman paling manis -menurutku-.

Kami tersadar dengan dering ponsel taemin. Tampaknya ada sebuah panggilan. Taemin melihat callernya ragu-ragu, lalu melirikku.

“Angkatlah” Ujarku. Taemin menurut, dia langsung mengangkat telfonnya dan walaupun jarak kami terpaut cukup jauh ditambah taemin tidak meloudspeaker panggilannya, aku bisa mendengar teriakan dari sebrang telfon.

‘LEE TAEMIN! KAMU DIMANA! UPACARA AKAN SEGERA DIMULAI! CEPAT KEMARI ATAU IBU POTONG JEMPOL KAKIMU!’ Mungkin saking kagetnya taemin memutus panggilannya. Wajahnya bergidik mengingat ancaman ibunya.

“Hyeon, aku…”

“Pergilah~” Ucapku masih sambil tersenyum. Taemin memasang tampang tidak yakin sampai aku kembali berkata,

“Sana pergi. Aku tidak mau melihat mu cacat kaki.” Taemin langsung tersenyum.

Dan ketika bianglalanya berhenti. Taemin segera berlari keluar. Meninggalkan aku yang masih duduk dikotak bianglalanya. Aku mau memutar satu kali lagi.

Taemin sekarang pasti sedang sibuk mencari taksi. Aku bisa bayangkan wajah paniknya saat ini. Tanpa sadar aku sudah tertawa kecil. Aku melihat jam diponselku. Ini sudah hampir jam dua, pantas saja dia dapat telfon seperti itu.

Oh, ya. Dan taemin sempat berkata begini sebelum dia pergi,

‘Aku yakin suatu hari nanti ayah dan ibu akan mengerti. Begitupun dengan sulli. Dia akan menemukan orang yang benar-benar menyukainya dan benar-benar dia sukai. Lalu kami akan berpisah dan bisa memulai kehidupan kami yang semestinya. Aku tidak minta hyeon menungguku atau apa. Hanya saja aku ingin pastikan pada hyeon, kalau perasaanku memang hanya untukmu dan aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun. Bahkan jika hyeon akhirnya membenci ku atau melupakanku sekalipun.’

Aku tersenyum lagi, ternyata dia memang semanis itu. Dan aku memang tidak pernah bisa membencinya sampai kapanpun juga.

Beberapa saat kemudian ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan masuk dari seohyeo.

From : Han seohyeo
Syukurlah akhirnya mempelai prianya ditemukan. Kau tau hyeon? Wajahnya berubah cerah sekali. Padahal tadi pagi wajahnya masih terlihat seperti orang yang akan dihukum karna terlambat delapan hari dalam seminggu.

Tawaku meledak membaca isi sms seohyeo. Asumsinya berlebihan sekali. Setauku satu minggu itu hanya tujuh hari dan kami bersekolah enam hari dalam seminggu.

Itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan taemin. Dari berita yang kudengar, taemin dan sulli pindah ke los angels setelah pernikahan mereka. Semenjak itulah, kehidupanku kembali kesaat dimana taemin belum pernah hadir dalam hari-hariku. Anehnya, aku menjalani hari² selalu dengan setengah hati. Mungkin karna setengahnya lagi sudah dibawa seseorang yang saat ini sudah berada dibelahan dunia yang jauh disana.

Soal gikwang? Aku baru akan menjawab pernyataan yang dia lontarkan tempo hari. Sebenarnya tidak wajib juga kujawab. Karna dia tidak memberikan pertanyaan, tapi penyataan. Tapi jika tidak kuselesaikan, aku jadi susah.

Saat ini aku menunggunya di belakang sekolah. Tempat dia menyatakan perasaannya padaku dulu.

“Jinhyeon-ah.” Suara gikwang oppa sudah terdengar. Aku menoleh dan tanpa ku persilahkan dia sudah duduk disebelahku.

“Ada apa memanggilku kemari? Kamu mau ngajak bolos sama-sama ya? Biar kutebak, choi songsaenim mengisi kelasmu jam ini?” Baru saja datang dia sudah melontarkan berbagai macam pertanyaan, aigoo orang ini…

“Iya, tebakan oppa masih saja tepat sekali.”

“Sudah pasti. Haha.”

“Oppa, aku minta kemari karna mau mengatakan sesuatu…” Aku menarik nafas sejenak sebelum menyambung,

“Mianhae, aku tidak bisa kembali seperti dulu.”

“Hh…” Dia mendengus kencang,

“Ternyata kau memang tidak pernah bisa suka padaku ya?” Ujarnya dengan nada datar.

“Oppa salah. Aku pernah menyukaimu.” Seketika dia menoleh padaku.

“Dulu…dan bodohnya aku baru sadar ketika oppa sudah bersama yeoja itu.”

“Aku selalu saja begitu. Selalu terlambat menyadari perasaanku sendiri. Tidak pada oppa saja. Pada orang lain juga begitu.”

“Orang lain yang kamu maksud itu pacarmu si namja cantik yang sudah menikah itu?” Aku menepuk lengannya pelan,

“Haruskah kukatakan sekali lagi kalau kami tidak pacaran?” Dan mendeliknya dengan tatapan horor. Dia malah menyeringai.

“Haha, tapi kau menyukai dia kan? Ayo ngaku! aku melihat itu didahimu.”

“J-jeongmal?”

“Nde. Sekarang katakan dulu. Kalau tidak aku tidak akan melepaskanmu dan akan terus menganggu hidupmu seperti namja cantik itu yang te…” Aku memukulnya lagi. Dia semakin tertawa.

“Nde, aku menyukainya. Sangat menyukainya. Finally, i realized that my gadfly is my love…

Five years later…

Aku melangkah lebih cepat mengingat aku sudah terlambat dua puluh menit dari waktu yang kujanjikan. Bisa kubayangkan betapa seohyeo akan mengamuk kalau tau aku terlambat dan tidak membawa pesanannya.

Aku masih berkeliaran di myeongdong sambil menenteng cake stoberi ini ditanganku. Menuju tempat mobilku diparkir. Hari ini aku dan seohyeo akan mengadakan reuni SMA. Sialnya aku kedapatan bagian komsumsi yang mengharuskan aku yang memesan makanan, minuman, snack bla bla bla sementara seohyeo bagian tempatnya. Semua tugasku sebenarnya sudah selesai jika saja seohyeo tidak memaksaku untuk membeli cake ini dan beberapa botol soju sebagai tambahannya. Err,

Seperti biasa, myeongdong tidak pernah sepi. Beberapa kali aku ditabrak pejalan kaki yang terburu-buru. Untungnya tidak sampai merusak cake ini.

Aku terus berjalan sampai dering ponsel menghentikan langkah kakiku. Dengan sedikit merungut aku mengambil ponsel dari tasku. Kalau yang menelpon ini seohyeo aku tidak akan angkat.

Aku mengambil ponselku yang belakangnya penuh dengan stiker panda. Kekanakan memang. Tapi sudah jadi hobiku.

Dan gantungan hape model kepala panda yang tidak akan kalian temukan dimanapun. Karna tidak ada gantungan hp seperti ini, habis ini kubuat sendiri. Lebih tepatnya kudaur ulang dari gelang pandaku. Saat aku dikelas tiga SMA gelangnya -yang sudah usang- putus. Dan tidak akan mungkin kubuang, lalu aku dapat wangsit untuk menyulapnya menjadi mainan hape yang cantik begini. Ok, itu tidak perlu dibahas aku tau.

Aku melirik display hapeku wallpapernya gambar animasi panda. Nama callernya tidak ada. Hanya nomor saja. Aku angkat tidak ya? Tidak lama menimbang-nimbang akhirnya aku menjawab panggilannya.

“Yeobosaeyo?”

‘…’

“Yeobosaeyooo?”

‘Ini aku…’ Jantungku serasa mau copot mendengar suaranya.

‘Hey, sejak kapan gelang itu berubah jadi gantungan hape. Dasar yeoja panda’

Bruk! Aku menjatuhkan cake stoberi ditangan kananku –yang dari tadi ‘mati-matian’ aku lindungi agar tidak lecet oleh orang-orang yang lalu lalang disini.

Aku berbalik. Menatap seseorang yang jaraknya terpaut dua meter dariku. Orang itu memakai sweater berwarna putih, celana jeans hitam, dan topi rajutan hitam. Tubuhnya masih kurus tapi tinggi sekali. Sekali lihat saja aku sudah tau kalau tinggiku hanya sepundaknya.

Aku menatap tidak percaya. Mataku membulat. Mulutku menganga. Aku bahkan tidak peduli pandangan jijik orang yang melihat tampang ku sekarang. Sedetik kemudian tanpa sadar aku sudah memekik,

“LEE TAEMIN!!” dengan telunjuk lurus mengarah padanya.


.:FIN:.

*author kabur duluan sebelum di amuk reader*

Advertisements

50 responses to “My Gadfly is My… – Part 6 [end]

  1. apa nih fbnya?

    eh iya, fyi, temen gue ada yang mirip minho kwkw asli ga boong #meragukan
    thanks 😀

  2. Lah endingnya –”
    Gini doank
    Gak ad kisah dy cerai gituu??
    Aq smpet nangis loh di part sblum ini
    T__T sedihhh
    Emosinyaa dpett bgtt…
    Terus berkaryaaaa

  3. Aduh itu bukan penyelesaian thor..itu ga seharusnya ada kata-kata fin. Pokoknya ga boleh tamat dulu! *maksa*

    Aku suka suka suka bnget sama ff ini, gara2 baca ff ini aku bisa ketawa-ketawa gaje + nangis dalam waktu bersamaan..

    Huaa, masa endingnya ktemu taemin trus udahan? Trus hyeon ama sapa? Trus hubunganx taemin ama sulli gmn stlah 5 th menikah? Trus..trus.. *digebuk author*

    Thor, bikin sequelnya yaaa ok ok! I’ll wait!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s