I’M NOT CINDERELLA VII

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Lee / Cho Eunhye

Cho Kyuhyun

Support cast : Super Junior

Genre : Romance

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan aku, hanya imajinasi aku sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

POV : semua cerita di ambil dari sudut pandang Eunhye

Poster and Thank’s To : Rara a.k.a cutepixie

“Kepercayaan suatu waktu akan luntur jika selalu dilukai dan dikhianati.” Ocha Syamsuri

Baca dulu : Part VI

***

I’M NOT CINDERELLA

***

Kutarik kalender yang berada disamping tempat tidur lalu kutaruh diatas pangkuanku. Besok tanggal 28 Maret, bertepatan  dengan setahun meninggalnya kedua orangtuaku sekaligus dengan sepuluh bulan pernikahanku dengan Kyuhyun.

Aku menikah dengan Cho Kyuhyun memang karena perjodohan. Sekitar satu bulan dari pemakaman kedua orangtuaku, pengacara keluargaku datang dan membacakan surat wasiat dari mendiang kedua orangtuaku. Di dalam surat wasiat itu tertulis jika aku harus menikah dengan putra bungsu dari keluarga Cho, dan jika aku menolak, maka aku tidak diperbolehkan untuk mengunjungi makam kedua orangtuaku untuk selamanya. Yang artinya aku akan dicoret dari keluarga Lee. Egoiskah kedua orangtuaku? Awalnya aku pikir juga begitu. Bagaimana tidak, aku baru berumur 18 tahun -saat itu- , aku juga baru kehilangan kedua orangtuaku, dan tiba-tiba pengacaraku bilang aku harus menikah dengan seseorang yang bahkan aku sama sekali tidak tahu bentuknya. Aku juga sempat marah dengan kedua orangtuaku. Apa mereka tidak memikirkan perasaanku? Atau apakah mereka tidak memikirkan apa aku setuju atau tidak.

Apa aku sempat berontak dan mencoba menggagalkan perjodohan konyol itu? Jawabannya adalah ya.

Sejam setelah pengacara-ku pulang dari rumahku, aku segera memikirkan beribu cara agar dapat terlepas dari perjodohan itu. Aku memikirkan cara ‘licik’ sehalus mungkin. Aku tidak mungkin mentah-mentah menolak perjodohan -aneh- itu. Tentunya aku tidak mau menerima konsekuensinya, yaitu tidak diperbolehkan menjenguk makam kedua orangtuaku.

Aku merencanakan cara ‘licik’ itu semalaman dan membuatku tidak tidur. Dan kupikir rencanaku untuk menggagalkan perjodohan itu sudah sangat sempurna dan tanpa cacat sehingga aku bisa bebas dari perjodohan itu tanpa menerima konsekuensinya, namun sepertinya aku salah perkiraan. Aku tidak menyangka jika namja yang dijodohkan denganku itu adalah Cho Kyuhyun, namja yang tanpa aku sadari telah menguasai disetiap rongga-rongga hatiku, namja yang bisa membuat waktuku seakan terhenti, namja yang selalu berputar-putar di seluruh pikiranku. Aku sama sekali tidak memperkirakan siapa namja yang akan dijodohkan denganku karena semalaman aku hanya memikirkan bagaimana cara menggagalkannya tanpa memikirkan yang lainnya. Dan bodohnya lagi ketika tahu bahwa aku akan dijodohkan dengannya, tanpa berpikir lagi aku langsung meng-iya-kan. Ck, sepertinya cinta lebih dominan dibanding akal sehatku.

****

Aku menimang iPhone yang berada ditanganku, aku sedikit ragu untuk menghubungi Cho Kyuhyun. Aku takut menganggu kegiatannya karena setahuku saat ini ia sedang melakukan recording lagu FLY untuk sub grup Super Junior KRY-nya. Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Astaga kenapa aku jadi gugup begini? Aku hanya tinggal menekan tombol, berbicara dengannya dan beres. Tapi kenapa jantungku debarannya begitu berat? Heyy, ini kan cuma menelpon saja?

Sejenak aku menjernihkan pikiran dan hatiku. Dan astaga kenapa debarannya malah makin kencang?

Akhirnya setelah sekian lama bergelut dalam pikiranku aku memutuskan untuk menaruh iPhone-ku kembali. Ternyata aku tidak cukup mental untuk menghubunginya langsung.

Tapi jika aku tidak menghubunginya, besok aku mau pergi dengan siapa? Kakiku tidak mungkin cukup kuat untuk menopang tubuhku. Apalagi makam kedua orangtuaku berada diatas bukit -sesuai dengan permintaan mereka sebelum meninggal-. Atau aku menghubungi oppadeul yang lain? Ahh, ani. Mereka juga super sibuk. Lagian Kyuhyun pasti marah besar jika ketahuan aku meminta tolong orang lain.

Ku taruh kembali kalender ketempat semula lalu aku berbaring lagi dan menarik selimut sampai batas dada. Kupikir besok saja aku langsung menemuinya di gedung SMent. Jika Kyuhyun tidak bisa menemaniku, aku bisa meminta tolong dengan oppadeul yang lainnya. Yeah, itu ide yang lumayan juga. aku merapatkan selimutku dan memejamkan mataku. Besok aku harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan segalanya.

****

“Khamsahamnida ajuhssi..” Aku menundukkan badanku dan memberi beberapa lembar won ke supir taksi. Supir taksi itu menundukkan badannya lalu masuk kedalam taksinya setelah menurunkan barang bawaanku dari dalam bagasi.

“Agasshi, kau tampaknya kerepotan sekali, apa aku bantu kau membawakannya sampai kedalam saja?” tanya supir taksi itu.

“Ani, aniyo ajuhssi. Gomawo atas pertolongannya. Aku bisa sendiri kok.”

“Ne, kalau gitu hati-hati ya agasshi.”

Aku hanya tersenyum dan tak lama kemudian taksi itu melesap ke jalanan. Aku melirik ke barang bawaanku dan mendesah saat kusadari aku mungkin ‘cukup’ kerepotan membawa ini semua. Tangan kiriku berpegang erat di tongkat -penyanggah tubuh- , sementara tangan kananku yang terbebas memegang barang bawaanku. Sebenarnya aku hanya membawa satu keranjang makanan dan juga satu buket bunga lili -kesukaan ibuku- , namun sedikit repot karena aku harus memegangnya dengan tangan satu sementara tanganku yang lain harus berkonsentrasi agar tongkat-ku tidak goyah.

Aku membalas senyuman dari pegawai dan beberapa staff yang berpapasan denganku. Dulu sebelum aku menikah, aku sering kemari. Kata appaku, pemilik perusahaan ini adalah teman akrabnya, makanya beliau sering sekali main kemari dan juga sering mengajakku bertandang kemari. Aku juga sempat ditawari menjadi trainee disini, tapi dengan sigap aku menolaknya. Alasannya hanya satu, aku merasa tidak secantik yang lainnya, bahkan dengan Victoria pun aku merasa jauh dari kata cantik. Dan juga aku tidak cukup percaya diri untuk menjadi artis.

“Ahh, Lee Agasshi, annyeong.” Sapa salah satu staff. Aku menoleh dan tersenyum.

“Annyeong Park eonni.” Kataku setelah melihat name tag-nya.

“Kau mau menemui suami-mu ya? Dia ada di lantai 3, sedang latihan.” Kata Park eonni dengan nada yang menurutku sedikit mengejek.

“Khamsahamnida eonni. Aku keatas duluan ya.” Aku menundukkan badanku dan bersiap pergi namun suara Park eonni menahanku.

“Kakimu kenapa?”

Aku melirik ke kakiku lalu tersenyum tipis. “Ani, hanya terjatuh.”

Park eonni hanya meng-oh-kan lalu menundukkan badannya dan pergi. Aku mengendikkan bahuku lalu berjalan ke lantai 3.

Semua staff dan pegawai disini mungkin sangat mengenalku. Ya mungkin saja. Karena appa dulu sering sekali mengajakku kemari, namun sering lupa kalau ia membawaku kemari saking keasyikan mengobrol dengan sahabatnya itu. Daripada aku manyun sendirian di ruang tunggu makanya aku memutuskan untuk beredar ke penjuru gedung, dan kadang-kadang aku juga ikut membantu. Awalnya aku sempat dimarahi oleh salah satu staff karena masuk tanpa tanda pengenal, tapi setelah dijelaskan aku adalah putri dari sahabatnya pemilik perusahaan ini, mereka tidak berani banyak bicara lagi. Malah mereka semakin ramah kepadaku.

****

“Ya~ Kyuhyun-ah, latihan saja sendiri. Aku capek mengajarimu.”

Ahh, itu suara Yesung oppa. Dan tadi aku mendengar Yesung oppa memanggil nama Kyuhyun, berarti tidak salah lagi, Kyuhyun pasti berada disini.

Aku mendengar suara pintu tertutup dengan sangat keras. Yesung oppa keluar dari pintu satunya. Dan tak lama kemudian aku mendengar gerutuan dari Kyuhyun. Ck, dasar bocah itu. Pasti ia membuat Yesung oppa kelelahan mengajarinya teknik vocal yang baik dan benar.

Aku menaruh barang bawaanku ke lantai lalu dengan tangan yang terbebas aku meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Aku melebarkan senyumku saat melihat Kyuhyun sedang duduk dilantai, ia duduk dengan posisi memunggungiku. Aku mengangkat barang bawaanku dan bersiap mendekatinya namun langkahku terhenti saat kulihat yeoja itu datang mendekati Kyuhyun. Kuputuskan untuk menunggunya sejenak.

Mereka -Kyuhyun dan Victoria- terlibat pembicaraan mengenai teknik vocal yang baik. Setelah aku mendengar pembicaraan mereka, kupikir mungkin aku terlalu salah menafsirkan kedekatan mereka. Victoria tampaknya tidak memiliki hubungan khusus dengan Kyuhyun, buktinya saat ini mereka hanya mengobrol soal teknik vocal. Yeah tidak lebih. Mungkin.

Aku menyunggingkan senyumku saat ia tidak sengaja melihatku. Tapi aku segera melipat senyumku kembali saat melihat tanggapannya yang menurutku sangat tidak sopan. Dia, maksudku Victoria, ia langsung membuang wajahnya dan berpura-pura tidak melihatku. Ck, etika macam apa itu? Bukankah selama ini ia terkenal dengan image ‘malaikat’nya?

Aku menaruh barang bawaanku kembali dan mengambil iPhone-ku. Lebih baik aku menelpon Kyuhyun saja. Ini lebih baik dibanding aku harus mendatanginya secara langsung.

Suara nada tunggu-pun terdengar lalu tak lama kemudian aku mendengar suara Kyuhyun.

“Yeoboseo.”

Hepphh, aku menahan tawa-ku. Rasanya agak aneh ya menelpon seseorang yang jelas-jelas hanya berjarak tak lebih dari 10 meter.

“Yeoboseo yeobo-ya.” Aishh, kenapa jantungku berdebar saat aku memanggilnya ‘yeobo’?

“Ada apa menelpon-ku? Apa kau kangen kepadaku? APA? Kau ingin aku segera pulang? Aigoo~ aku tak menyangka kau merindukanku secepat itu.”

Aku mendesis geram. Aishh~ namja ini. Dia menyerocos tanpa henti. Tapi tak apalah setidaknya kulihat wajah Victoria jadi bertekuk begitu. Pasti dia cemburu. Ck, dasar.

“Kau dimana?”

“Aku sedang latihan. Wae? Apa kau perlu bantuanku?” Tebaknya langsung.

“Ani, aku hanya bertanya. Ya sudah, annyeong.” Aku segera memutuskan panggilanku dan menaruh ponselku kedalam saku.

Aku mengangkat barang bawaanku kembali dan bersiap mendekatinya. Namun lagi-lagi langkahku terhenti saat Victoria menyebut namaku.

“Dari istrimu?” Tanya Victoria.

Oww, okelah. Sepertinya mereka ingin membicarakan tentang aku. Aku jadi penasaran dengan apa yang kira-kira mereka bicarakan.

“Ne.”

Aishh~ aku tidak bisa melihat ekspresi K                yuhyun. Padahal aku ingin melihat bagaimana raut wajahnya saat membicarakan aku.

Sebenarnya tidak baik sih menguping pembicaraan orang, tapi untuk satu ini sepertinya harus di kecualikan.

“Akhir-akhir ini kau jadi perhatian ya dengan istrimu, Kyuhyunnie?”

Aishh~ aku tidak suka dengan cara yeoja itu memanggil Kyuhyun.

“Benarkah? Kurasa dari dulu aku perhatian dengannya.”

Yeoja itu tertawa pelan. Zzz, kenapa dia tertawa? Apa yang lucu dari ucapan Kyuhyun?

“Ya~ Kau ini.”

Grr, itu apa sih? Kenapa Kyuhyun mengacak-ngacak rambutnya yeoja itu?

“Aku tidak menyangka kau sangat menikmati pernikahanmu. Kupikir kau terpaksa menikahinya karena kau tidak ingin meneruskan perusahaan appa-mu.”

“Ya, awalnya begitu. Tapi tidak salahnya kan menikmati apa yang kupunya sekarang? Lagipula yeoja itu sangat menarik.”

“Sangat menarik? Kenapa aku menafsirkannya berbeda ya?”

“Maksudmu Qiannie? Ya~ kau tidak berpikir macam-macam kan?”

Yeoja itu tertawa lagi. “Hahaha. Ani. Aku hanya terkejut kau bisa menikmati pernikahanmu. Seingatku bukankah kau pernah bilang jika kau sangat terpaksa menikahinya dan bahkan kau berencana untuk bercerai dengannya setelah setahun pernikahan kalian?”

Apa? Aku tidak salah dengar kan? Yeoja tadi mengatakan apa? Apa perkataannya sama dengan apa yang aku dengar sekarang? Kyuhyun, kumohon bilang sesuatu. Kumohon bilang sesuatu yang membuatku tenang. Kumohon katakan semua perkataan itu tidaklah benar. Kau tidak mungkin terpaksa menikahiku kan?

“Ya, aku dulu memang berpikir begitu.” Jawab Kyuhyun pelan, namun masih dapat kudengar walaupun jarak kami terpaut 10 meter.

“Jadi kau memang terpaksa.” Yeoja itu menoleh kearahku. “Menikahinya?” Lanjutnya.

“Qiannie, kenapa kau bertanya seperti itu? Kau sudah tahu semua kan kalau dulu aku memang sempat merasa terpaksa menikahinya tapi…”

Oke.. Cukup sampai disini saja aku menguping pembicaraan mereka. Kurasa hatiku tidak lah sekuat baja untuk mendengar pembicaraan yang sangat menyakitkan itu. Tapi aku tetap percaya dengan Kyuhyun. Ia ‘mungkin’ tidak bermaksud untuk mengatakan itu. Seperti janjiku semula, aku akan terus bertahan dan tetap mempercayainya selama ia belum menyakiti -fisik- ku secara langsung.

Aku menutup pintunya perlahan. Lebih baik aku pergi sendiri saja. Dan soal barang bawaanku, aku tidak peduli lagi. Aku pasti tidak cukup kuat untuk membawa semuanya. Bisa menopang tubuhku untuk tetap berdiri seperti ini saja, aku sudah sangat bersyukur.

****

Petugas yang menjaga makam mempersilahkanku masuk setelah melihat wajahku. Ini memang pemakaman khusus, tidak sembarang orang bisa masuk kemari. Aku senang karena dengan begini tempat peristirahatan terakhir appa dan eomma-ku tidak lah terganggu, mengingat sifat appa yang tidak suka diusik oleh orang lain. Kurasa inilah alasannya memilih tempat ini sebelum ia meninggal. Tapi ini juga cukup merepotkan, setiap aku kemari aku harus menjalani tes sidik jari untuk mencocokkannya. Ck, seperti hotel bintang tujuh saja.

Aku menyeka keringat yang membanjiriku. Udara di musim semi seperti ini sudah mulai panas. Padahal ini baru akhir maret, tapi udaranya sudah sangat menyengat. Tahu begini mending aku terima saja tawaran dari petugas untuk menemaniku sampai keatas bukit.

Aku menaruh buket bunga Lili -kesukaan eomma- di depan batu nisan yang bertuliskan,

MR and MRS LEE

Ck, dasar appa. Sampai meninggal pun ia tetap bersikukuh dengan nama western-nya. Sejak dulu ia memang tidak suka dipanggil dengan nama apapun kecuali Mr Lee.

Aku memberi salam formal dihadapan makam kedua orangtuaku lalu menundukkan badanku.

“Eomma, appa, annyeong. Tak terasa kita sudah setahun berpisah. Selama ini kita berpisah paling lama sekitar lima hari, itupun jika appa mempunyai pekerjaan di luar negeri yang tidak bisa ditinggal. Eomma, appa, aku tumbuh dengan baik, kalian tenang saja. Dan soal suamiku, maaf eomma-appa, dia sedang sibuk dengan grup-nya. Tapi lain kali pasti aku akan mengajaknya kemari untuk menemui kalian…”

Aku pun terlarut dengan semua keluh kesahku. Orang-orang yang melihatku mengoceh sendiri didepan makam pasti akan mengernyitkan keningnya, tapi aku tak peduli. Aku juga tak peduli dengan tanggapan orang-orang yang melihatku menangis kencang didepan makam.

“Eomma-appa kalian tahu, terkadang aku ingin ikut kalian saja daripada aku sendirian disini. Tapi aku tidak bisa, aku terlalu mencintai namja itu. Dia oksigenku saat ini eomma-appa. Dia..”

Ocehanku terhenti ketika kudengar seseorang memanggil namaku. Aku segera menghapus airmataku dan memasang ekspresi seperti tidak ada apa-apa. Dan senyumku melebar saat aku melihat siapa orang yang memanggilku itu. Itu Lee ajuhssi, adik kandungnya appa-ku.

“Eunhye-ah, aigoo~ ajuhssi tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini.” Lee Ajuhssi memelukku erat.

“Ajuhssi.” Aku membalas pelukannya.

****

“Bagaimana pernikahanmu?” Tanya Lee ajuhssi. Kini kami duduk di sebuah bangku panjang tak jauh dari makam kedua orangtua-ku. Kami duduk menghadap ke depan, pemandangan dari atas sini sangat indah. Semuanya isi kota bisa terlihat dari atas sini.

“Ajuhssi tahu tentang pernikahanku?” Tanyaku terkejut. Aku tidak menyangka Lee ajuhssi bisa tahu tentang pernikahanku, karena seingatku Lee ajuhssi tidak menghadiri pernikahanku. Ia juga menghilang sehari setelah pemakaman kedua orangtua-ku.

“Mianhae Eunhye-ah, ini mungkin semua karena ajuhssi.” Kulihat ajuhssi menundukkan kepalanya. Aku menatapnya heran.

Ajuhssi membalas tatapanku dan tersenyum kecil, lalu ia mengalihkan pandangannya melihat pemandangan didepan kami. “Kalau bukan karena kecerobohan ajuhssi, kau mungkin tidak harus menikah dengan orang yang tidak kau cintai.”

“Maksud ajuhssi?”

“Tepat dihari pemakaman kedua orang tuamu, harga saham perusahaan menurun drastis, banyak pemegang saham yang tiba-tiba ingin menjual sahamnya kembali. Ajuhssi sibuk mengurusi perusahaan sampai melupakan kehadiranmu. Di surat wasiat itu tertulis kau tidak harus menikah cepat jika ada anggota keluarga yang mengurusimu, tapi karena aku sibuk mengurusi perusahaan, pengacara itu memutuskan untuk mempercepat pernikahan itu agar ada yang bisa mengurusimu. Ajuhssi baru tahu tentang pernikahanmu dipercepat 3 hari sebelum pernikahanmu di gelar. Ajuhssi sempat mengamuk dan berencana untuk membatalkan pernikahan itu, tapi karena perusahaan yang berada di Jepang mendadak mendapat masalah, ajuhssi berangkat ke Jepang dan melupakanmu lagi. Sepulang ajuhssi dari Jepang, ajuhssi mendengar kau sudah menikah. Ajuhssi sangat mengamuk sekali saat itu, apalagi melihat kau tidak lagi tinggal di rumah itu. Ajuhssi juga meminta alamat barumu dari keluarga Cho itu, tapi entah kenapa mereka seperti ingin menutupi jejakmu. Ajuhssi juga tidak diperbolehkan untuk menghubungimu.”

Ajuhssi menghela nafasnya berat. “Dan akhirnya ajuhssi putuskan untuk menjagamu secara diam-diam. Ajuhssi juga menyewa seorang detektif untuk mengikutimu dan memberikan informasi tentang keadaanmu. Ajuhssi juga tahu kalau kau sangat tersiksa karena perlakuan fans-nya suami-mu itu.” Ajuhssi membelai rambutku.

“Ajuhssi tahu kau sangat tersiksa karena pernikahan ini Eunhye-ah. Mumpung ajuhssi bertemu denganmu disini, ajuhssi ingin bertanya apa kau mau ikut ajuhssi ke Amerika? Lupakan namja itu Eunhye-ah, kau masih punya ajuhssi.”

Aku terdiam memikirkannya.

****

TBC …

Aku rasa part ini datar banget deh -___- Ck, gak tau deh. Yang jelas silahkan caci maki FF nista ini.

Thanks buat mention kalian ke twitter aku. sorry klo gk bisa aku bles satu2. dan thanks jg buat yg rajin nagih kelanjutan FF ini. berkat tagihanny, aku jd semangat buat ngelanjutin ini. kekeke

Keep RCL …

Advertisements

214 responses to “I’M NOT CINDERELLA VII

  1. jadi apa maksud kyuhyun sih? kan bener tu namja php banget sih /acak-acak rambut kyuhyun/ /diamuk sparkyu/
    udahlah eunhye ikut ajushi aja biar tenang /panas-panasin eunhye/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s