Lifetime [part 1]

AUTHOR: Avyhehe / Avy

LEGTH: Series

GENRE: Romance/Friendship, Supranatural

RATED: PG-13

Tokoh: Jonghyun & Key SHINee, Kim Bum, Kang Hyewon (OC)

others will revealed soon.

Disclaimer: Me

DON’T BE A SILENT READERS, PLEASE


avy present

~LIFETIME~

Part 1

Hidup di dunia tanpa menyadari arti dunia

Ibarat berkunjung di perpustakaan besar

Tanpa menyentuh buku-bukunya

Aku hidup dalam kegelapan. Umurku masih tergolong muda, namun sudah berbuat banyak kejahatan. Semua itu berawal dari kejahatan kecil , dan lama kelamaan sampai ke kejahatan yang besar. Mulai dari mencuri sesuatu yang kecil, seperti mencuri uang milik orang tuaku, hingga berlanjut ke tingkatan mencuri yang lebih besar—mencuri nyawa orang lain. Pertama kalinya adalah ketika aku kalap dan membunuh teman sebangkuku sendiri, karena dia menghinaku dan membuatku sebal. Itu awalnya. Lama-kelamaan, aku menjadi terbiasa. Aku membunuh siapapun yang aku mau, tawuran di tempat mana saja yang aku mau, menyiksa orang, memutilasi orang, sampai membobol bank. Aku menjadi buronan yang paling dicari di negaraku. Entah, menjadi kriminal seperti mempunyai kepuasan tersendiri.

Mungkin kalian ingin bilang, kalau aku ini seperti iblis? Tidak. Aku bukan hanya seperti iblis.

Karena akulah iblis itu sendiri.

Namun kejahatanku itu tidak bertahan lama. Sepertinya Tuhan sudah marah padaku.

Suatu saat, kurasakan jiwaku seakan terlepas dari ragaku. Hal terakhir yang bisa kuingat, aku mati karena overdosis.

Iblis yang terlahir dari neraka pun, pasti akan berakhir di neraka pula.

Aku memijakkan kakiku ke sebuah dataran yang panas. Panasnya seperti bara api dan bahkan bisa melelehkan telapak kakiku dalam waktu sepersekian detik. Aku mendongak ke atas dan melihat ke sekeliling. Gelap. Hmm… mungkinkah ini adalah kehidupan setelah kematian? Huh, percayakah kau akan hal itu?

Aku mendengar seseorang memanggilku. Entah kenapa kakiku bergerak sendiri ke arah suara itu berasal. Aku merasa terpanggil. Kulangkahkan terus kakiku yang terasa terbakar ini ke arah depan, menuju ke sebuah titik cahaya di antara kegelapan yang menyelimuti sekelilingku.

Deg. Perasaan apa ini? Bulu kudukku langsung merinding.

Tiba-tiba saja, kegelapan yang menyelimuti itu tersibak begitu saja dan aku disuguhi pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Teriakan-teriakan miris yang belum pernah kudengar sebelumnya. Jeritan-jeritan yang memekakkan telinga. Kakiku bergetar. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisku. Bahkan, seorang iblis pun bisa takut luar biasa jika melihat…

“Welcome to Hell.”

Seseorang berwajah mengerikan yang mengenakan jubah hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya, berjalan mendekatiku. Er—aku tak yakin dia berjalan atau melayang karena kakinya yang tak menyentuh tanah sama sekali.

“Selamat datang di neraka. Kau adalah tamu kehormatan di tempat ini, blacklist utama kami. Dan itu artinya…” orang berjubah hitam itu menyeringai, “Kau akan selamanya menghuni tempat ini.”

Glek. Aku menelan ludahku. Tidak! Tolong, dimanapun lebih baik daripada disini. Ya Tuhan! Aku menyesal! Tolong ampuni aku!

Kakiku yang bergetar tidak sanggup lagi menopang berat tubuhku, dan akhirnya aku jatuh terduduk di tanah yang panas. Aku menangis tanpa suara. Sebenarnya aku tahu, semua itu hanya sia-sia.

Tolong, siapa saja, keluarkan aku dari sini!

“Kau yang memilih jalanmu, dan kau sendiri yang menuai perbuatanmu,” orang berjubah itu terkekeh—dan itu membuat wajahnya semakin seram. Kemudian dia mengangkat sebuah gada besi yang kira-kira sebesar bola voli dan mengayunkannya ke arahku.

PRAK!!

Aku bisa merasakan otakku hancur berkeping-keping.

“AARRRGH!!”

“UWAAAHH…!!”

“TIDAAAK…! AAAKH—!”

Teriakan-teriakan yang tak pernah berubah dari pertama kali aku menginjak tempat ini. Rintihan-rintihan yang tak pernah berubah. Orang-orang kesakitan yang tak pernah berubah. Siksaan dimana-mana. Ceceran darah dimana-mana. Dimanapun yang terlihat hanya api membara yang tingginya hampir menyaingi tinggi rumah, menyelimuti tempat ini.

Pemandangan yang kujamin bisa membuatmu bergidik. Datarannya sepanas bara api. Juga terdapat kolam berisi lava yang bisa meledak-ledakkan bola api. Sejauh mata memandang, yang ada disekeliling hanyalah warna orange dan merah yang mendominasi.

Beragam siksaan bisa kau lihat disini. Aku bisa melihat tetangga di sebelahku. Dia adalah orang yang suka menyiksa binatang, dan sekarang dia disiksa oleh binatang itu sendiri. Aku bisa melihat dagingnya dikoyak oleh seekor anjing sebesar beruang, dan anjing itu menelan potongan dagingnya tanpa merasa berdosa. Orang itu berteriak-teriak kesakitan. Anjing itu kini menusuk mata orang itu dengan kuku tajamnya, kemudian menarik  cakarnya itu hingga mata orang itu tercabut keluar. Anjing itu pun memakan mata yang tertancap di kukunya itu seperti memakan sebutir anggur. Ugh! Kurasa aku benar-benar ingin muntah.

Lalu, persis di depanku, terdengar sebuah rintihan yang sangat nyaring. Seorang perempuan—yang entahlah, aku tidak tahu dosa apa yang diperbuatnya—digantung dengan rantai lalu tubuhnya dicelupkan ke dalam kolam lava yang sangat besar dan dalam—hingga ketika tubuhnya diangkat lagi, daging-daging sudah tidak melekat di tempatnya semula. Daging-dagingnya lumer ke dalam kolam itu saking panasnya.

Crek! Tubuhku sendiri pun dirantai dengan kuat dan ujung rantai itu terpasak kuat di tanah. Melarikan diri jelas tidak mungkin. Sekelebat aku melihat sebuah pedang raksasa mengarah ke arahku, dan sedetik kemudian… kepalaku tertebas dan jatuh ke atas tanah begitu saja. Bahkan berteriak saja aku tidak sempat.

Lalu, kepalaku tumbuh lagi. Dan dalam sekejap mata, kepalaku tertebas lagi oleh pedang itu diikuti oleh rasa nyeri yang tidak bisa kudeskripsikan.

Semua siksaan itu terjadi berkali-kali. Berhari-hari. Bertahun-tahun. Hingga aku bahkan tak bisa menghitung waktu lagi.

‘Kim Jonghyun.’

Aku membuka kedua mataku. Sebuah suara memanggil namaku.

‘Kim Jonghyun, aku akan memberimu kesempatan.’

Tuhan, kau-kah itu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Hatiku serasa mencelos.

‘Ya. Angkatlah wajahmu. Kau tak ingin selamanya berada disini kan?’

Tentu saja aku tak ingin! Siapa juga yang mau disini.

‘Kau akan hidup kembali. Dalam masa yang berbeda ,dan wujud yang berbeda. Namun kesempatan yang kuberikan hanya sekali. Jika kau tak bisa merubah dirimu, kau akan kembali lagi ke tempat ini.’

Benarkah itu, Tuhan? Aku bertanya-tanya was-was dalam hati.

‘Ya. Tapi aku tidak memberimu banyak waktu. Lakukan yang kau perlu dalam jangka waktu itu.’

Dalam sekelebat mata, aku melihat ledakan cahaya di depanku. Reflek aku menyipitkan mataku untuk mengurangi rasa silau.

‘Ingatlah, jangan biarkan kegelapan mengekangmu. Justru berusahalah mengekang kegelapan.’

——–

KRRIIIINGG…!!!

Dasar! Mengganggu saja. Mimpi indahku langsung lenyap seketika.

KRRIIIINGG…!!!

“Berisik! Diam saja kau!” aku memukul keras-keras jam beker itu dan kembali membenamkan diri ke dalam selimut. Oh, betapa hangatnya…

“BANGUNN! KIM—JONG—HYUUUN…!!!’

Ahh… baru saja aku menemukan kenikmatan kembali di dalam selimut, tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam tubuhku.

DUAGH! Lelaki itu menendangku hingga aku terlempar dari tempat tidur dan menabrak dinding kamar.  “Aaarggh!” aku mengerang kesakitan dan mengusap-usap pinggangku yang nyerinya bukan main karena menabrak dinding. Beberapa saat kemudian, aku langsung bangkit berdiri dan memberi tatapan tajam pada lelaki itu.

“Kim Sang Bum… lain kali carilah cara yang menyenangkan untuk membangunkanku!” suaraku bergetar. Aku mengatupkan rahangku keras-keras dan langsung menerjang tubuhnya. Dia malah tertawa.

“Tidak ada cara membangunkan yang menyenangkan selain ini. HAHAHA.”

“Dasar kepala batu!!” aku langsung menyemburnya dengan kesal. Dia malah tertawa semakin keras.

Benar-benar menyebalkan. Aku tidak pernah bermimpi punya saudara seperti dia.

“Mukamu kucel sekali Jjong.” Key melemparkan tasnya persis di sebelahku ketika bel masuk berdering. Aku menatapnya malas.

“Oh, aku tahu. Pasti kau tadi dibangunkan oleh Hyung-mu, kan?” dia terkekeh geli dan mencubit pipiku. Aku menepisnya. “Ya! Apa-apaan kau ini!”

“Ih, PMS ya?” Key tertawa. Aku jadi makin sebal.

“Kalau kau seperti itu aku pindah tempat duduk saja.”

“Ya, jangan marah dong Jjong! Kau ini darah tinggi ya.”

Aku mendecak. “Hari ini aku sedang tak ingin diganggu, Key. Jadi diamlah saja dan duduklah dengan tenang.” Aku menyenderkan tubuhku ke kursi. Key memanyunkan bibirnya.

“Mau apa kau? Se-manyun apapun bibirmu, jangan harap aku akan menciummu.”

“Aishh!” Key memukul pundakku sebal. Aku tertawa tanpa suara. Haha… dasar Kim Kibum.

Sudah seminggu aku menjadi murid di SMA Seuta. Namaku adalah Kim Jonghyun, 16 tahun. Baru duduk di kelas 1.

Aku memiliki seorang Hyung yang sangat menyebalkan. Dia sering sekali menggangguku seolah-oleh dia tidak punya pekerjaan selain itu. Namanya adalah Kim Bum, dia lebih tua tiga tahun dariku dan sekarang sudah menjadi anak kuliahan—cih, dasar oom-oom.

“BANGUUUN… KIM—JONG—HYUUUN…!!”

Dan beginilah rutinitasku sehari-hari. Setiap pagi selalu dibangunkan oleh orang yang sama dan cara yang sama. Dan menabrak dinding dengan cara yang sama pula. Akh! Lama-lama hidungku bisa maju ke dalam jika dia terus membangunkanku dengan cara seperti ini.

Dengan sebal, aku mengganti piyamaku dengan sehelai kaos oblong dan langsung turun ke lantai bawah. Di sana aku bisa melihat Kim Bum yang sudah siap di meja makan sambil meratakan gel ke rambutnya.

“Pagi, honey.” Sapanya.

“Norak! sudah kubilang jangan panggil aku dengan panggilan sayangmu itu!” sungutku dan segera membuka tudung saji. Kim Bum terkekeh pelan.

“Apa ini?!!” seruku begitu melihat sebakul nasi gosong di balik tudung saji dan telur dadar yang terlihat acak-acakan.

“Karyaku.” Jawab Kim Bum polos. Dia menyidukkan nasi ke piringku namun aku segera menepisnya. “Andwae!!” teriakku, “Kenapa kau yang memasak? Mana Han Ahjumma??” ya, Han Ahjumma adalah pembantu di rumah kami.

“Oh, kau belum diberitahu ya. Tadi subuh-subuh sekali Han ahjumma minta izin pulang kampung, sepupunya ada yang meninggal.” Kim Bum berusaha mengunyah nasi buatannya dengan berat hati. Dia terlalu malu untuk mengakui bahwa rasa masakannya benar-benar hancur.

Aku mendengus, “Cih. Berarti aku harus bertahan dengan memakan masakanmu? Beri saja aku uang! Aku mau makan di luar!” tanpa menyentuh sesendok nasipun, aku langsung menenggak susuku secepat kilat. Lantas menyambar ransel hijauku dan berjalan keluar.

“Hei,” panggil Kim Bum.

“Apa lagi?!” aku menoleh malas.

“Kau bahkan belum memakai seragammu.”

“…”

Sialan. Jonghyun mengumpat dalam hati. Kalau saja Hyung-nya mengigatkannya untuk memakai seragam lebih awal, dia pasti tidak akan menemukan gerbang sekolah yang ditutup persis di depan matanya. Barusan, sedetik setelah Jonghyun sampai di depan sekolah, satpam penjaga gerbang langsung menyeringai dan menutup gerbang persis di depan mukanya. Bayangkan, di depan mukanya!

“Park ahjussi! Tolong bukakan!” teriak Jonghyun dari luar sambil menggoyang-goyangkan jeruji gerbang. Satpam sekolah, Park Ahjussi, hanya melempar tatapan prihatin pada murid terlambat itu. “Maaf Jjong, tapi lima menit setelah bel masuk pintu ini sudah harus ditutup.” Lalu dia kembali ke pos jaganya di samping gerbang dan duduk menyeruput kopi sambil membolak-balik Koran.

Jonghyun menendang pintu gerbang kokoh itu dengan kesal. Kemudian dia bersandar di tembok di samping gerbang itu. Keringat menetes dari dahinya. Sia-sia saja dia berdesak-desakan di dalam bus, dan berlari-lari setengah mati dari halte ke sekolah untuk mengejar bel masuk. Toh hasilnya sama saja, dia tetap terlambat.

Tap. Tap. Terdengar suara langkah kaki yang berat mendekat. Jonghyun menoleh. Dilihatnya Rain songsaenim sudah berada di balik gerbang sekolah dan menatapnya, sambil memelintir kumisnya.

“Kim Jonghyun… siswa dari kelas 1-B. Dan satu-satunya murid baru yang sudah berani terlambat!” Rain memasang tampang mengerikan dengan petir sebagai backgroundnya. “Ayo, ikut saya sekarang!!”

Menyebalkan. Dikala semua orang sedang menghadiri proses belajar mengajar saat ini, aku malah terperangkap di toilet bau ini!

Namja itu melemparkan tongkat pel yang digenggamnya dengan kesal. Kemudian dia membungkuk untuk meraih botol karbol yang diletakkan di sudut kamar mandi.

Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh.

Dengan separuh hati, dia kembali mengepel lantai dengan asal-asalan. Mulai dari lantai dekat deretan wastafel, sampai ke lantai di dalam bilik-bilik kamar mandi yang totalnya berjumlah empat buah itu. Rain songsaenim memang terkenal tak memiliki belas kasihan pada murid-murid yang melanggar aturan. Tidak salah dia diangkat sebagai guru tatib oleh kepala sekolah.

Brak!

Pintu kamar mandi menjeblak terbuka dan seseorang nyelonong masuk ke dalam. Ketika melihat sosok Jonghyun yang mengepel sambil membelakanginya, mata orang itu langsung membelalak.

“JJONG?!” teriaknya.

“Key?”

“Sedang apa kau disini?”

“Menjalani hukuman karena aku datang terlambat!”

Key tertawa gegulingan melihat muka Jonghyun yang sangat lecek dan mengenaskan itu. Jonghyun sebal dan langsung memukul temannya itu mengenakan ujung tongkat pel. “Kau sendiri sedang apa di sini?!”

“Ah, pertanyaan yang bagus. Aku sedang bosan dengan pelajaran biologi dan akhirnya aku kabur kesini.” Key mengusap pundaknya yang sakit karena dipukul, kemudian beralih ke arah wastafel dan membasuh mukanya sambil menatap cermin. “Ada yang ingin dibantu, Jjong? Aku malas kembali ke kelas.”

Jonghyun membuang tongkat pelnya. “Ada. Bantu aku keluar dari sini! Di sini bau sekali!”

“Wah, kalau itu aku tidak bisa, teman. Rain songsaenim sedang berjaga di luar kamar mandi. Sepertinya dia mengawasimu.” Key menyisir rambutnya dengan jari, merapikan tindik di telinga kanannya, kemudian membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. Dia lalu berbalik ke arah Jonghyun. “Jam pelajaran kedua, aku tunggu kau di kelas. Sudah kujagakan tempat untukmu. Adios!” Key melemparkan blowkiss-nya ke arah Jonghyun dan terkikik geli lalu keluar kamar mandi.

“Awas kau, Kibum!” setelah mengumpat-umpat karena Key tidak mau menolongnya, Jonghyun kembali mengepel lantai kamar mandi yang kembali kotor karena ulah jejak sepatu Key. Dia bersumpah akan mencekik temannya itu sekembalinya ke kelas nanti.

Tap…tap… terdengar suara langkah kaki ringan yang mendekat. Sepertinya orang itu sedang tergesa-gesa. Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi kembali menjeblak terbuka dan…

“Ugh…!”

“Kyaaaaa…!!!”

BRAKK!

yeoja tak dikenal itu langsung bangkit setelah sebelumnya terjatuh karena bertabrakan dengan Jonghyun, setelah itu dia memukuli Jonghyun dengan map yang dibawanya. Buk! Buk!

Jonghyun berjalan mundur. Dia meringis sambil melindungi kepalanya, “Astaga! santai saja nona!” sedangkan yeoja itu terus memukulinya dengan map tanpa henti. Lima menit kemudian barulah dia berhenti memukul.

“Sudah selesai?” Tanya Jonghyun kesal.

“Aigoo… maafkan aku, aku kira kau hantu.” Yeoja itu hanya meringis.

“Dan apakah hantu bisa merasa kesakitan saat dipukuli?!” Jonghyun marah-marah tidak jelas dan meraih kembali kain pelnya. Lengkap sudah kesialannya hari ini. Terlambat, disuruh mengepel toilet, dan mendapat pukulan dari seseorang yang tidak dikenalnya—yang menurutnya sangat pahit itu.

“Maaf, aku benar-benar minta maaf,” yeoja itu menundukkan kepalanya berkali-kali, “Kau juga dihukum disini?” tanyanya tiba-tiba. Jonghyun menaikkan alisnya bingung.

“Eh—maksudku, aku juga terlambat sepertimu dan disuruh menggosok toilet oleh Rain songsaenim.” Yeoja itu langsung memberikan penjelasan begitu melihat raut muka Jonghyun. “Namaku Kang Hyewon , senang berkenalan denganmu.” Dia mengulurkan tangannya. Jonghyun tidak menggubrisnya.

“Kim Jonghyun.” Balasnya pada akhirnya karena yeoja itu tidak kunjung menarik kembali tangannya. Yeoja bernama Hyewon itu tersenyum.

“Sini aku bantu.” Hyewon merebut pel yang dipegang Jonghyun dan menggosok sisa-sisa lantai kotor dengan tulus. “Dan kau, ambil penggosok itu lalu bersihkan semua toilet di dalam bilik!”

“Hey, siapa yang mengijinkanmu menyuruhku ?!” Jonghyun melotot, namun seketika itu juga kakinya diinjak oleh Hyewon. Mau tak mau, akhirnya dia menuruti juga perintah gadis itu.

‘Huh, sial sekali nasibku.’

Bel pulang sudah berdering. Semua anak berhamburan keluar gerbang tanpa perlu dikomando, membuat Park ajusshi kewalahan mengatur mereka, dan akhirnya dia sendiri malah tertabrak-tabrak oleh segerombolan murid yang sudah gatal ingin pulang itu.

Namun ada beberapa murid yang masih bertahan di dalam sekolah. Mereka adalah anak-anak rajin yang mengikuti pelajaran tambahan dan ekskul. Atau hanya sekedar nongkrong-nongkrong saja di pinggir lapangan karena malas pulang.

“Hei, Key, bisa cepat sedikit tidak?” Jonghyun memandangi jam tangannya dengan kesal sambil sesekali melirik ke arah Key yang masih sibuk merapikan tasnya. Kelas 1-B saat itu benar-benar lengang. Teman sekelas mereka sudah pulang dan yang tersisa hanya mereka berdua.

Key mendongak dan sesaat menghentikan pekerjaannya membereskan buku, “Sudah kubilang kau pulang duluan saja! ah ya, aku lupa memberitahumu kalau hari ini aku ikut tambahan dan ekskul. Jadi kau pulang saja sana.”

Jonghyun mendecak. Tega sekali temannya itu mengusirnya. Yah, sebenarnya dia masih disini bukan karena ingin menunggui Key, tapi karena tidak mau cepat-cepat pulang. Entah kenapa, hari ini dia benar-benar malas melihat muka hyungnya yang suka mengerjainya itu.

“Ya sudah, aku pulang dulu. Besok masuk pagi ya! aku mau menyalin PR-mu.” setelah mengatakan itu, Jonghyun beranjak pergi.

“Huu! kerjakan saja sendiri!” sahut Key dari dalam kelas. Dia sudah selesai merapikan buku-bukunya dan hendak menyusul keluar.

Baru beberapa langkah Jonghyun menjauhi kelas, seorang siswa terlihat berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya. Peluh menetes deras dari dahinya. Dia memegangi lututnya dan berusaha mengatur nafasnya. Jonghyun mengangkat alisnya heran, “Ada apa?”

“Jjong… gawat…” siswa namja itu kembali panik dan menatap Jonghyun lekat-lekat, “Sekolah kita diserang!”

______________

To Be Continued

______________

buat readers, tolong kasih komen ya buat kelangsungan ff ini… masih belum tahu mau dilanjutin atau nggak…

oh ya, bagi yang mau baca kelanjutannya lebih cepet bisa berkunjung ke blog saya, http://lazywonderland.wordpress.com/ << jangan lupa komen… dan yang mau rekues cover FF d blog saya juga bisa kok~

last, komen?

35 responses to “Lifetime [part 1]

  1. HOI MALE!!!
    aku tiba2 datang lho.. soalnya habis bertugas (?) jd admin td.. -___- wkwkwk
    knp ga bilang2 klo kmu punya ff baru? padahal aku mo baca.. .___.
    seperti biasa di ffmu klo ada jjong biasanya muncul kimbum.. hahaha😄 asli saya pengen ketawa bgt setiap baca adegannya kimbumXjjong, ga tau juga knp.. kkk~
    itu di covernya ekspresinya key jelek banget tuh.. sengaja ya? hahaahha😄
    oh ya, ini ada lanjutannya kan? aku mo baca di blogmu dulu ya.. okok MALE!

    • HOI JUGA MALE!! *aih~
      wah.. dah kombek jadi admin nih male… hahaha… kacian deh..~
      ya kan male nggak tanya… TuT
      he’eh… kpn2 aku jg mo bikin couple jjongbum ah… Wakakak
      eee… imut itu nama’a!! ih male koq doyan ngejek my bumbum sih… (bumbum? ktularan nisa un hahaha)
      ada kok… gomawo un^^

  2. Nerakanya- OMG
    Hahahaha aku agak bingung pas part dia dikasih kesempatan kedua
    Trus tba2 ada jjong lgi bangun tidur..
    Soalnya, deskripsi jjong yng ‘baru’nya itu baik.. Gag jahat a.k.a ‘buronan’
    Apa hubungannya jjong yng bru sma yng di neraka? Mrka orng yng sama?
    Hmmmmmm~ lanjut yah🙂

    • hahaha…knp ama nerakanya? asyik ya? /plak
      aku sendiri jg bingung kok chingu… (lho?) tpi ntar di part2 selanjutnya ada penjelasannya. sip, gomawo y~

  3. Pendeskripsian nerakanya mengerikan skali…bkin reader cpt” tobat…

    Jjong adeknya kim bum…jauh amat hhe…tp seneng ada kim bum disini…
    Part 2 ditunggu..

  4. Neraka serem ah
    *larikepelukankey*😄

    makanya jjong cepetan tobat, mesum sih *ditabokblinger*😄

    lanjutannya ditunggu😀

  5. Pingback: Lifetime [part 2] « FFindo·

  6. kok gak nyadar ya da ni FF haha #matanyaudahrusak

    si ojong masuk neraka?? sekarang dia idup lagi?? ckck beruntung banget si ojong??

    hahaha hari-harimu yang menderita membuatku bahagia /plak #senengbangetsihnianak *kaboooor

    aku lanjut ke part 2 yoo~, daaaah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s