Chocolate Kiss

Title : Chocolate Kiss

Author : Summer Cho

Main Casts : Go Hyosun a.k.a author or readers, Kim Kibum a.k.a Key SHINee

Other Casts : Kim ahjumma, Woo Sunghyun a.k.a Kevin U-Kiss

Genre : romantic, comedy, AU

Rating : Teenager

Disclaimer : all casts isn’t mine, but the plot is mine

Length : Oneshoot

Thanks to : Coklat kecil-kecil yang ada dirumah, karena sudah memberiku inspirasi ^^

Cover by : cutepixie@bananajuice03

LIHAT DULU CERITANYA, JANGAN LANGSUNG BERANGGAPAN GA RAME BEGITU LIAT JUDUL, AUTHOR, DAN CASTS-NYA, RUGI KALO GA BACA ! #promosibesarbesaran
DON’T BE A SILENT READER, SIDER, MARI BERTOBAT BERSAMA SAYA, KEKEKEKEKKE~

~ ~ ~ ~

Hyosun POV

Coklat itu, manis, membuatku ingin tersenyum. Entah sejak kapan aku menjadi penggila coklat. Jika tidak ada coklat sehari saja, aku tidak akan semangat menjalani hari itu.

Aku punya toko coklat favorit, Choco House, letaknya didekat kampusku, Sangmyeong University. Aku akrab dengan pemiliknya, Kim Stephanie ahjumma, atau biasa kupanggil omonim. Mengingat eommaku yang sudah tiada dan Kim ahjumma yang mirip dengan eommaku.

Dan seperti biasa, aku datang ke Choco House.

Klining!

“Hyosun-ah,” sapa omonim dari balik meja kasir.

“Annyeong, omonim!” aku melangkah ke rak coklat batangan yang berisi kacang almond. Aku mengambil 3 batang ukuran sedang lalu melangkah ke rak coklat-coklat kecil. Aku mengambil beberapa biji lalu memasukkannya ke keranjang khusus yang disediakan toko. Aku mengambil satu lagi dan membuka bungkusnya, hap, coklat itu masuk ke mulutku.

“Mencoba bertindak kriminal, agasshi?” belum sempat aku berbalik, sebuah tangan menarikku ke arah kasir.

“Ya! Lepaskan aku!”aku meronta, namun cengkraman namja ini sangat kuat. “Ah!” aku meringis saat namja ini melepas cengkramannya. “Appuda..”

“Eomma, yeoja ini memakan coklat kita! Padahal ia belum membayarnya!” adu namja ini pada omonim.

Tunggu, eomma?

“Key-ah, gwaenchana. Eomma dekat dengannya dan eomma tau dia yeoja yang baik.”

“Dengerin tuh!” cibirku lalu meletakkan keranjang coklat dan bungkus coklat yang kumakan tadi.

“Kau baru memakan satu, Hyosun-ah?” canda omonim sambil tersenyum kecil.

“Keburu ditarik anakmu ini, omonim.”

“Mwo? Omonim?” tanya namja yang bernama Key itu bingung.

“Aku sudah menganggapnya eommaku sendiri! Wae?” tanyaku seraya memandangnya tajam.

“Eomma, mau-maunya kau menerima yeoja aneh sepertinya!” anak aneh? Kurang ajar!

“Ya! Kau mau ribut denganku?”

“Aku tidak takut dengan yeoja aneh sepertimu!”

“Yaa, kalian ini! Lihatlah, kalian menjadi tontonan pengunjung.” Lerai omonim lalu tertawa. “Ini coklatmu, Hyosun-ah. Sudah jam 8, bukannya ada drama yang selalu kau tonton?”

“Omo! Hampir saja aku melupakannya.” Aku segera membayar coklatku lalu berlari keluar toko.

~ ~ ~ ~

Klining!

“Annyeong, omonim! Omo!” aku tersentak saat melihat orang dibalik kasir.

“Lihat-lihat dulu sebelum menyapa, bodoh.” Minggu kemarin ia mengataiku aneh dan sekarang ia menagtaiku bodoh?!

“Ups, mianhanda, tuan sok waras dan sok pintar.” Balasku membuat matanya melotot. Aku berlari menuju rak coklat sebelum namja bernama Key itu mencekikkku.

“Aigoo, baru datang sudah panas!” komentar omonim yang sedang menata kotak-kotak coklat.

“Wow, bentuknya lucu-lucu!”

“Sebentar lagi kan valentine, pasti akan banyak yeoja yang dayang untuk membeli coklat!” mata omonim berbinar, nampak sangat bahagia. “Kau pasti juga kan? Membeli coklat untuk namjachingumu? Yang dua minggu lalu kemari bersamamu.”

“Namja? Anni! Itu Kevin, sahabatku, bukan namjachinguku.” Elakku. Kenapa omonim berpikir begitu sih?

“Bukan ya? Tapi kalian terlihat sangat serasi waktu itu!” goda beliau membuat pipiku panas. Aku memang mengagumi Kevin, namun hanya mengagumi keramahannya, ketampanannya, dan kepintarannya saja. Aku tidak memiliki rasa ingin memilikinya.

Aku dan omonim melangkah ke kasir yang cukup ramai itu. Mayoritas yeoja. “Biar eomma gantikan, Key-ah. Hyosun, sini, bantu omonim.” Aku mengangguk lalu berdiri disamping omonim, membantu memasukkan coklat ke kantung kertas. Sesekali aku memakan coklat kecil yang ada dikeranjangku.

“Ya! Tanganmu kena coklat, kantungnya jadi kotor!” Key merebut kantung kertas dari tanganku. Ish, menyebalkan. “Dasar yeoja bodoh, penggila coklat.” Mwo?! Sudah berapa kali ia mengataiku? Benar-benar keterlaluan!

“Ah, biarkan saja, Hyosun-ah. Dia sama sepertimu, tidak ada coklat sehari, maka dia tidak akan makan sampai mendapatkan coklat.” Aku etrtawa puas sementara Key berusaha menutupi rasa malunya.

“Haha, dasar bodoh!” ejekku. Ia mendorng kepalaku pelan.

“Kau berani emngataiku bodoh?”

“Siapa yang takut pada anak coklat sepertimu?”

“Ya! Sudah! Hyosun-ah, kau yang menghitung, Key-ah, kau yang membungkus.”

“Eomma?”

“Eomma mau ke belakang dulu.” Omonim pergi dari meja kasir meninggalkanku dan Key bersama beberapa orang yeoja yang mengantri.

“Aish, kenapa eomma meninggalkanku dengan yeoja aneh ini?”

“Apa kau bilang?!”

~ ~ ~ ~

“Hyosun-ah, igeo. Hot chocolate,” aku menerima mug yang diberikan omonim. Hmm, cocok untuk malam yang dingin ini.

“Gomawo, eomma.” Aku sengaja memanggilnya eomma, aku ingin tau reaksinya.

“Eomma?”

“Em, tidak boleh ya?” beliau tersenyum seraya mengelus kepalaku lembut.

“Tentu saja boleh.”

Tiba-tiba seorang namja melintas didepan kami. “Eomma, aku pulang dulu, annyeong.” Ia membuka pintu toko.

“Makan dulu.”

“Hajiman…”

“Makan atau jatah coklatmu eomma kurangi.” Namja itu menutup pintu lalu kembali ke bagian belakang toko.

“Kau juga Hyosun-ah, ayo makan.” Aku mengangguk lalu mengikutinya ke belakang.

“Key tidak tinggal disini?” tanyaku begitu mengingat kata ‘pulang’.

“Ne. Dia menyewa apartemen didekat sini. Dia bilang ingin mandiri, apanya yang mandiri, uang masih meminta, makan dan minum masih disini.” Aku cekikikan mendengar penjelasan eomma.

~ ~ ~ ~

“Hajiman, eomma…”

“Jatah coklatmu akan berkurang, Kim Kibum.” Terpaksa Key pulang bersamaku daripada jatah coklatnya dikurangi.

“Aish, ne, ne! Kajja, bodoh.” Lagi-lagi ia mengataiku bodoh! Aku membungkuk pada eomma lalu mengikuti Key keluar toko yang sudah tutup itu.

Sesekali Key menoleh ke arahku. Dia kenapa sih?

“Ya, cepat sedikit! Nanti kalau kau tiba-tiba diculik bagaimana? Aku tidak akan tau!” ia menarikku agar sejajar dengannya. Kami berjalan dalam diam lagi. “Dimana rumahmu?”

“Flat disamping CC Cafe.”

“Sama dong? Aku juga tinggal disana.”

“Lantai berapa?” tanyaku penasaran.

“Empat. Neo?”

“Tiga.”

Kami masuk ke gedung flat yang terlihat sepi itu. Maklum, sudah malam. Kami menaiki lift dan begitu sampai dilantai tiga, Key ikut keluar. “Eomma akan mengurangi jatah coklatku jika tidak memastikanmu sampai dengan selamat.” Aku tersenyum kecil menanggapinya. Ketika kami sampai didepan pintu flatku, aku berbalik.

“Um, gomawo.” Ujarku pelan. Ia tersenyum.

“Cheon.” Ia berbalik lalu melangkah kearah lift.

Aku diam mematung didepan pintu. Senyumannya membuatku terhipnotis *IDP*. Omona, tampan sekali! Melihat senyumnya seperti memakan coklat yang paling manis buatan eomma!

Aish, Hyosun-ah, apa yang kau pikirkan? Namja yang selalu mengataimu itu tidak usah kau kagumi!

~ ~ ~ ~

Key POV

“Key-ah, kemari sebentar.” Aku meletakkan pita dan gunting yang ada ditanganku lalu menghampiri eomma didapur.

“Waeyo, eomma?”

“Coba cicipi ini, coklat rasa jeruk.” Beliau menyuapiku sepotong kecil coklat bar. Hmm, terasa jeruknya.

“Mashita!

“Bisa kau antarkan ini pada Hyosun? Kau tau flatnya kan?” pinta eomma seraya memasukkan dua coklat bar kesebuah kotak.

“Keurae..” kalau aku menolak, aku yakin tidak ada lagi coklat untukku.

Aku melangkah keluar toko seraya menenteng kantung kertas berlabel Choco House. Pagi ini cukup dingin. Salju berserakan dipinggir jalan. Hanya beberapa orang yang nampak.

Ting Tong

“Nuguseyo?” tanya seorang namja lewat speaker disamping bel.

“Em, apa benar ini flat Go Hyosun?”

“Ne, tapi Hyosun sedang keluar. Ah, jamkkan.” Tidak lama kemudian pintu flat terbuka dan muncul seorang namja yang seepertinya seumuran denganku. “Kevin imnida!”

“Key.” Balasku seraya menjabat tangannya. Namja yang cantik.

“Ada pesan untuk Hyosun?” tanyanya, baru saja aku hendak memberikan kantung kertas ditanganku, seseorang menepuk bahuku.

“Hyosun?” seorang yeoja tersenyum padaku ketika aku berbalik.

“Annyeong, Key! Waeyo?”

“Mengantarkan coklat.”

“Masuk dulu, Key-ssi. Hyosun membuat chocolate pie.” Ajak Kevin seraya membuka pintu flat lebar-lebar.

“Kau mau?” tanya Hyosun, akupun mengangguk lalu mengikutinya masuk ke flat.

Aku duduk dikursi makan dan meletakkan kantung kertas di meja. Tidak lama kemudian, Hyosun datang dengan dua piring kecil yang berisi sepotong pie. “Igeo.” Ia memberikan satu padaku dan satu lagi untuk Kevin. Aku memotongnya dengan garpu lalu memasukkannya ke mulutku. “Otte?”

“Aneh.” Gumamku membuat Hyosun cemberut dan Kevin memandangku heran. “Aneh, kenapa bisa seenak ini.” Seketika wajah Hyosun menjadi cerah. Ia tertawa.

DEG

Ah, ada apa denganku? Kenapa detak jantungku menjadi lebih cepat saat melihat Hyosun tertawa?

~ ~ ~ ~

Aku meletakkan piring-piring yang sudah di lap. Aku membantu Hyosun mencuci piring. Kevin sudah pergi dari tadi, ada urusan mendadak. Kini, hanya ada aku dan Hyosun diflatnya.

“Aigoo, lucunya!” tiba-tiba ia meraih bandul kalung yang menggantung dileherku. Bandulnya berbentuk coklat batang yang digigit.

“Kau mau?” tanyaku dibalas anggukan darinya. Terlihat sekali kalau ia menginginkannya. “Enak saja! Ini kalung pemberian eomma sejak aku kecil.” Ia langsung muram dan berjalan keluar dapur. Aku jadi cemas. “Ya, Hyosun-ssi, masa gitu aja ngambek?”

~ ~ ~ ~

Hyosun POV

Aku menghampiri eomma yang sedang menata coklat disebuah kotak berbentuk hati. “Coklat valentine, eomma?” beliau mengangguk tanpa berpaling dari coklatnya.

“Aku mau satu eomma..” pinta Key yang berada disampingku.

“Satu saja.” Aku mengambil truffle bulat dan menyodorkannya pada Key. Ia membuka mulutnya. “Omo, romantis sekali.”

“Mwo?!”

“Haha, kompak pula!” sindir eomma sambil tertawa. Wajahku pasti merah sekarang. “Kalian pulanglah. Sudah malam.”

“Besok aku kesini lagi, eomma.”

Kamu berdua berjalan keluar toko yang dimatikan lampunya itu. Keadaan diluar cukup ramai malam minggu.

“Mau minum?” tawar Key saat kami hendak melintasi sebuah cafe. Aku mengangguk lalu kami masuk ke cafe tersebut. Aku ememsan hot chocolate, sedangkan Key memesan Vanilla Latte. Kami bungkam sampai pesanan kami datang.

“Bagaimana ceritanya sampai kali tergila-gila pada coklat?” tanyanya sambil mengangkat cangkir Latte-nya. Akupun bercerita.

Coklat yang kumakan pertama kali adalah coklat pemberian appaku. Sehari setelah itu, beliau meninggal karena kecelakaan pesawat. Eomma memberiku coklat untuk menenangkanku. Namun, sebulan kemudian beliau meninggal karena penyakit kanker otak yang dideritanya.

“Aku merasa appa dan eomma berada didekatku jika aku makan coklat. Aku selalu makan coklat jika aku rindu pada mereka..” perasaan sedih menyelimutiku. Appa, eomma…

“Uljima, mianhae. Seharusnya aku tidak bertanya.” Ujar Key seraya menyodorkan sapu tangannya padaku. Akupun menerimanya.

“Gwaenchana, bagaimana denganmu?”

“Nan? Sepertinya dipengaruhi oleh gen.” Aku cekikikan melihat wajah polosnya. “Eomma appaku menyukai coklat, aku juga menyukainya. Hey, dengar,” ia memajukan wajahnya membuatnya lebih dekat denganku. “Waktu aku kecil, eomma bilang, coklat lebih enak daripada lollipop. Dan waktu aku remaja, appa bilang, coklat lebih enak daripada Brandy, Whiskey, soju, dan minuman lainnya. Bahkan ia menawarkan coklat Brandy padaku. Dan kau tau? Rasanya pahit! Aku benar-benar kapok!” aku tidak bisa menahan tawaku mendengar ceritanya.

“Appamu hebat! Hahahaha!”

“Pokoknya, Brandy itu tidak enak!” kami mengobrol banyak setelah itu. Tentang kuliahnya di Tokyo dan ia harus rela kekurangan coklat. Ternyata Key tidak seburuk yang kupikirkan. Ia selalu membuatku tertawa, perhatian, dan kadang menyebalkan.

“Sudah jam 9, sebaiknya kita pulang.” Serunya begitu melirik jam tangan. Aku mengangguk dan mengikutinya keluar cafe.

~ ~ ~ ~

Key POV

“Annyeong!” yeoja itu datang lagi. Aku tersenyum tipis lalu kembali melayani para pembeli. Kulihat yeoja itu melangkah ke bagian belakang toko. Pasti mencari eomma.

Belakangan ini aku merasa jantungku berdetak dua kali lebih cepat jika bersama Hyosun. Saat melihatnya menangis, aku ikut sedih. Saat melihatnya tertawa, bahagia sekali. Sepertinya aku menyukai yeoja polos ini.

~ ~ ~ ~

Toko sepi. Hujan air diluar sana. Aneh, padahal sedang musim dingin. Seharusnya salju.

Aku melangkah kebagian belakang toko dan mengintip Hyosun dan eomma didapur. “Sudah matang!” Hyosun membuka oven. Aku berusaha mengintip lebih jelas. Mereka membuat cookie rupanya. Aku berbalik ke kasir, ada pembeli.

Jam di dinding menunjukkan pukul 19.00. Waktunya tutup toko. Aku melepas celemek yang aku pakai. Mengganti tanda open menjadi close. Lalu mematikan lampu toko.

Pintu belakang terbuka lalu muncul Hyosun dengan sebuah piring ditangannya. “Key-ah!” ia berlari kecil menghampiriku. “Kau mau? Ini buatanku dan eomma lho!” aku mengambil cookie yang ada dipiring itu lalu menggigitnya.

“Mashita!” ia tersenyum mendengarnya. Lalu Hyosun mengambil coklat kecil berbentuk hati dan hendak memakannya. Namun ponselnya tiba-tiba berbunyi dan iapun menjepit coklatnya dengan bibir.

“Kevin?” gumamnya tidak begitu jelas. Ia sibuk memandang layar ponselnya. Entah setan apa yang merasukiku, perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Mencium bibirnya sambil merebut coklat dibibirnya.

Setelah 10 detik berciuman, atau aku mencium Hyosun, ia mendorongku sekuat tenaga. “Keterlaluan!” ia mengambil kantung kertas yang tadi dibawanya lalu berlari keluar toko. Aku diam mematung.

Key pabo!

~ ~ ~ ~

Author POV

“Key pabo!” umpat Hyosun seraya mengusap bibirnya kasar. Hujan sudah berhenti dan ia terus berlari menuju flatnya dimalam yang dingin itu.

Sesampainya di flat, ia langsung mengurung diri dikamar. Ponselnya terus-terusan berdering namun ia tidak menghiraukannya. Hujan turun lagi, kali ini lebih deras.

Sedangkan Key, ia menerobos hujan dengan langkah gontai. Tatapannya kosong, ia terus memikirkan Hyosun. “Go Hyosun…”

~ ~ ~ ~

Hyosun POV

Aku terbangun oleh dering ponselku. Ada pesan masuk dari Kevin.

From : Kevin Woo

Esok valentine ^^

Akan kau berikan pada siapa coklatmu itu?

Valentine? Benar. Aku sudah mempersiapkannya. Coklat dan hatiku.

Aku melangkah ke kamar mandi. Selesai mandi aku berpakaian lalu melangkah keluar flat. Aneh, kenapa hujan air? Seharusnya kan hujan salju?

Aku sampai didepan pintu Choco House. Terlihat eomma sedang menata coklat yang dipajang dikasir. Aku mendorong pintu dan masuk. “Hyosun-ah! Kemana kau kemarin malam? Tidak pamit?”

“Mianhae, eomma. Aku ada urusan mendadak.” Aku melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda seorang Key ada ditoko ini. “Key dimana?”

“Key sakit. Tadi eomma telepon dia, suaranya serak. Sepertinya ia flu karena hujan-hujanan kemarin.” Rasa cemas menghantuiku. Key sakit?

“Aku mau menjenguknya, eomma.”

“Kalau begitu eomma titip coklat bubuk dan bubur untuknya.” Eomma berlari kecil ke bagian belakang toko lalu kembali lagi dengan tas bekal. “Dia suka hot chocolate jika flu. Kau bisa buatkan untuknya, kan?” aku mengangguk lalu berjalan keluar toko menuju flat.

~ ~ ~ ~

Key POV

Ugh, aku hanya bisa tiduran sambil memegangi kepalaku yang pusing. Flu berat.

Ting Tong

Siapa sih? Mengganggu istirahatku saja. Terpaksa aku bangkit untuk melihat siapa yang datang. Seorang yeoja dengan tas bekal ditangannya berdiri didepan pintu flatku. Aku langsung memeluk yeoja itu begitu sadar. “Mian…jeongmal mianhae…” bisikku didekat telinganya.

“Key…”

“Aku lancang sekali kemarin, I’m really sorry..” aku melonggarkan pelukanku, kami bertukar pandang cukup lama. Lalu Hyosun menempelkan punggung tangan kanannya ke dahiku.

“Omo, panas sekali!” ia mendorongku masuk ke flat. “Berbaringlah, aku akan membuatkanmu hot chocolate.” Kurasa Hyosun sudah memaafkanku atas insiden kemarin.

Ia masuk ke kamar dengan sebuah nampan ditangannya. Ia menyodorkan mug berisi hot chocolate, aku meminumnya sedikit. “Hati-hati, masih panas.” Lalu ia menyodorkan semangkuk bubur padaku.

“Suapi.” Pintaku dengan tampang memelas.

“Shirreo!”

“Jebal, Hyosun-ah..”

“Shirreo.”

“Sekali lagi kau menolak aku akan menciummu.”

“Aish! Ne, Kim Kibum!” ia mengangkat sendok lalu memasukkannya ke mulutku. Selesai makan, Hyosun memberikanku obat flu dan menyuruhku tidur. Ketika ia hendak pergi, aku meraih lengannya. “Jangan pergi…” ia duduk lagi disisi ranjang memandangku yang juga memandangnya.

“Em, Key-ah..”

“Ne?”

“Kemarin itu….” ia diam sejenak, pasti ia ingin membicarakan insiden kemarin. “apa alasanmu?”

“Eng.., itu… Bukan karena coklatnya.” Aku terdiam sejenak, mencari kata-kata yang cocok untuk suasaan canggung seperti ini.

“Lalu karena apa?”

“Saranghae..” aku duduk dihadapannya lalu menarik tubuhnya ke pelukanku. “Kemarin aku memang kelewatan, mianhae.” Aku menatap matanya. Perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajah Hyosun. Dekat, semakin dekat, dan…

CHU~

~ ~ ~ ~

Hyosun POV

Aku tersenyum melihat wajah polosnya yang sedang tertidur itu. Kucek panas tubuhnya. Mungkin tidak akan berbahaya jika aku meninggalkannya sendiri.

Aku membawa nampan keluar kamar lalu mencuci mangkuk dan mug. Selesai mencuci aku mengambil ponselku diatas meja makan. Ada pesan, masuk, dari Kevin lagi.

From : Kevin Woo

Persiapkan coklatmu sebelum ia membuka mata ^^

Kevin benar! Ia memberiku ide. Ah, gomawoyo, Kevin-ah!

Jam dinding menunjukkan pukul 6 sore. Aku mengambil tasku lalu melangkah keluar flat Key. Jamkkan Key-ah, aku akan mempersiapkan semuanya.

~ ~ ~ ~

Key POV

Sinar matahari memaksaku untuk membuka mata. Aku mendapati diriku sedang berbaring diatas ranjang. Aku menoleh ke kiri, dia tidak disana, tidak duduk disisi ranjang. Ia pergi, padahal kusuruh jangan pergi.

Aku bangkit dari ranjang. Sepertinya flu-ku sudah hilang.

Aku memandang sekeliling. Dia juga tidak ada. Mataku tertuju pada sesuatu berwarna pink diatas meja makan. Sebuah kotak merah berhiaskan pita pink. Kubuka kotak itu, isinya berbagai macam truffle. Lucu-lucu bentuknya.

Aku mengambil surat yang ada disamping kotak itu.

Dear my Key,

Sudah bangun? Kuharap flu-mu sudah hilang dan kau bisa bangkit dan membaca surat ini.

Kau tau? Jujur waktu kau bilang ‘saranghae’ padaku, rasanya seperti ingin terbang! Na do saranghae, Key-ah!

Coklat ini adalah hadiah valentine dariku. Happy valentine, dan semoga kau menyukai coklat buatanku itu. Aku tunggu balasannya di White Day nanti, kkk~

Jika kau sudah sembuh, datanglah ke flatku, aku akan membuatkanmu pancake untuk sarapan.

See you~

With Love,

Go Hyosun

Seperti ada yang masuk ke dalam diriku, aku jadi lebih semangat dan langsung melangkah ke kamar mandi.

~ ~ ~ ~

Author POV

March 14, 2011 06.00 a.m

Ting Tong

Bel flat Hyosun berbunyi. Yeoja itu langsung membuka pintu. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada sebuah kotak berwarna putih diletakkan didepan pintu. Hyosun mengambil kotak itu lalu membukanya.

“Omo! Bagaimana bisa?!” tanyanya pada diri sendiri saat melihat benda yang diketahui sebagai kalung dengan bandul coklat bar yang digigit. Ia memandang sekeliling. Tidak ada siapa-siapa.

Matanya tertuju pada surat dibawah kalung itu. Ia mengambil surat itu dan membacanya.

Dear my Hyosun,

Good morning, honey ^^

Kau sudah bangun, kan? Kuharap bukan aku yang membuatmu terbangun, hehe!

Ini balasan Valentine yang kau minta, hari ini White Day kan? Happy White Day, Go Hyosun. Kuharap kau menyukai hadiahku.

Kau ingat kalung yang kau inginkan itu kan? Sebenarnya kalung itu ada pasangannya. Dan pasangannya kuberikan padamu. Jaga baik-baik, jangan sampai hilang.

Bersiaplah, aku akan menjemputmu jam 8. Kita akan ke Lotte World, kita akan bersenang-senang seharian ini. Dan malamnya kita akan ke sungai Han. Jangan sampai saat aku menjemputmu kau belum siap.

Dan jangan lupa pakai kalungnya. Agar semua orang tau bahwa kita adalah pasangan. Dan juga…, aku akan menciummu dengan coklat saat kita di sungai Han. Siap-siap ya, hehehe ^^

With a lot of love,

Kim Kibum

Hyosun senyum-senyum sendiri saat membaca surat itu. Iapun masuk ke flatnya dan berganti baju. Jangan sampai saat Kibum datang, ia belum siap.

~ THE END ~

Mengecewakaaaan! XD

Tapi jangan lupa RCL ya, gomawo ^^

Advertisements

55 responses to “Chocolate Kiss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s