Wrong Effect

Title : Wrong Effect

Author : ilmacuccha

Cast : SHINee Choi Minho, f(x)Victoria

Support Cast : SNSD Kwon Yuri, SHINee Lee Jinki

Genre : Romance/Fluff

Rate : PG13

Length : Oneshoot

Poster and Thanks to : Fai 신이 Kevin

Disclaimer : Plotnya punyaku! Jonghyun juga! (gak ada Jjong disini)

Be a Good Readers Please …

Not For Silent Readers!!

TIDAK SUKA = JANGAN MASUK = JANGAN BACA !

Normal P.O.V

“Aigoo!! Telat!!!” Teriak seorang gadis berambut panjang yang baru saja terbangun dari dunia mimpinya. Gadis itu segera bergegas menuju kamar mandi setelah dia melihat jarum jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul 07.44. Dengan cepatnya dia menyelesaikan acara mandinya dan segera memakai seragam dan melihat pantulan dirinya di cermin sebentar.

“Sempurna,” ucapnya. Gadis itu segera turun ke ruang makan, mengambil roti yang masih tersisa di meja makan.

“Umma dan Appa belum pulang,” gumamnya. Lalu tanpa pamit dia berlari dari rumahnya menuju sekolah. Untungnya jarak sekolahnya tidak terlalu jauh, jadi dia bisa berlari dan hanya menghabiskan waktu lima menit.

Brugh

Gadis itu terjatuh sesaat setelah kakinya menyentuh sesuatu. Dia memegang lututnya yang tadi berusaha menahan berat badannya saat jatuh. Dia meniup lututnya yang kini sudah terlihat merah.

“Aigoo, sakit,” gumamnya. Dia mendongak mencoba melihat apakah yang membuatnya terjatuh tadi.

“Ya!!” Teriaknya saat melihat seorang lelaki sedang menutup matanya sambil selonjoran di kursi yang baru saja dia lewati. Lelaki itu terlihat lebih muda dari dirinya, dan wajahnya terlihat sedikit pucat. Apa dia mati? Pikir gadis itu takut.

“Ya, kau kenapa? Kau baik-baik saja? Aigoo~ wajahmu pucat sekali,” ucap gadis itu khawatir. Dan kini dia tak mempedulikan dia akan mendapat hukuman yang lebih dari Kim Songsaenim. Lelaki tadi tak menjawab apapun. Gadis itu semakin panik, dia pun duduk di sebelah lelaki itu mencoba membangunkan lelaki itu.

“Aigoo~ kau ini kenapa? Kau sakit? Uh, kau baik-baik saja kan?” Tanya gadis itu sambil memegang kening lelaki tadi. Lelaki itu tiba-tiba membuka matanya dia melihat kearah gadis itu sebentar.

“Kau sakit kan? Aku antar ke rumahmu ya? Rumahmu dimana?” Tanya gadis itu sambil tersenyum lembut.

“Ya, kau cerewet sekali sih! Dasar ahjumma-ahjumma!” Ucap lelaki itu. Gadis itu bangkit dari duduknya dan memandang wajah lelaki tadi kesal.

“Ya! Aku sudah mengkhawatirkanmu dan sekarang kau malah mengataiku ahjumma-ahjumma?! Huh, kalau seperti ini lebih baik aku biarkan saja kau! Menyebalkan!” Seru gadis itu sambil berjalan menjauhi lelaki tadi dengan perasaan kesal. Sementara lelaki yang tadi hanya tersenyum kecil.

“Victoria-ah!” Seru seseorang dari kejauhan saat gadis yang tadi dipanggil Victoria itu berhasil masuk ke lingkungan sekolahnya, walaupun harus dengan cara sedikit ‘kasar’.

“Eh, Yuri-ah, waeyo?” Tanya Victoria sambil berjalan mendekat kearah gadis yang memilik rambut panjang berwarna hitam itu. Yuri pun dengan segera menggandeng tangan Victoria.

“Eh?” Ujar Victoria aneh. sementara Yuri hanya tersenyum kecil.

“Kau kenapa? Sakit?” Tanya Victoria sedikit mengernyitkan dahinya. Yuri menggeleng. Dia semakin melebarkan senyumnya.

“Ya! Jangan bilang kau ehm,” Victoria tak melanjutkan perkataannya.

“Jangan bilang kau berpikir aku lesbian?” Tanya Yuri sedikit kesal.

“Memang,” jawab Victoria enteng. Yuri sedikit mengerucutkan bibirnya.

“Jadi, sebenarnya ada apa sih?” Tanya Victoria sedikit penasaran.

“Tim basket dapat anggota baru, kemarin aku melihatnya, dia lebih muda dariku, tinggi, dan jago sekali,” ujar Yuri sambil tersenyum-senyum.

“Maksudnya kau suka anggota baru yang lebih muda itu, yang tinggi, yang jago sekali, dan yang kau lihat kemarin itu?” Tanya Victoria mengulangi perkataan Yuri. Yuri terkekeh sebentar mendengar jawaban dari Victoria itu.

“Ya, aku suka dengan anggota baru yang lebih muda itu, yang tinggi, yang basketnya jago sekali, dan yang kulihat kemarin. Untungnya aku manager basket,” ujar Yuri sambil menghela nafas pelan.

“Jadi apa aku juga untung bisa melihat anggota baru yang lebih muda, tinggi, jago, dan yang kau lihat kemarin itu?” Tanya Victoria.

“Tentu saja, kau juga kan manager basket, jadi kau untung sekali melihat anggota baru yang lebih muda, tinggi, jago dan yang kulihat kemarin itu,” ujar Yuri. Victoria menggelengkan kepalanya melihat Yuri sangat aneh kali ini, atau lebih tepatnya isi percakapan mereka yang terus diulang-ulang. Victoria dan Yuri memang bersahabat, mereka selalu dekat, ditambah dua-duanya juga sama-sama manager tim basket putra.  Mereka terus berjalan sampai akhirnya berhenti di depan ruangan yang tak lain adalah ruang kelas mereka. Mereka membuka pintu kelas mereka sambil terus mengobrol soal anggota baru itu.

“Uhm, sangat bagus sekali, memasuki kelas saya dengan senyum seperti itu tanpa mempedulikan sekarang sudah pukul berapa,” ujar Kim Songsaenim sambil berkacak pinggang di depan Victoria dan Yuri.

“Kenapa tak bilang ada Kim Songsaenim?” Bisik Victoria pelan ke Yuri.

“Aku lupa karena memikirkan anggota baru itu,” jawab Yuri pelan.

“Bisik-bisik apa kalian?!” Tanya Kim Songsaenim dengan nada siap memarahi Victoria dan Yuri.

“Ini semua gara-gara anggota baru itu,” ujar Victoria.

“Jangan salahkan dia,” timpal Yuri pelan.

“KALIAN CEPAT KERJAKAN SOAL DI DEPAN DALAM WAKTU LIMA MENIT!!” Teriak Kim Songsaenim. Victoria menoleh kearah papan tulis, dan langsung menelan ludahnya saat melihat 20 soal sudah terpampang di papan tulis dengan rapi, seolah memang sudah disiapkan untuk mereka.

“Cepat kerjakan!! Hanya lima menit!!” Tegas Kim Songsaenim.

“Akan kubunuh Yuri dan anggota baru itu!” Teriak Victoria dalam hatinya.

***

“Sial sekali hari ini,” ujar Victoria sambil merenggangkan tangannya yang baru saja mendapat hukuman tambahan menulis ‘aku tidak akan kesiangan lagi’ 15 lembar penuh. Kali ini mereka pun harus segera datang ke lapangan karena hari ini ada jadwal latihan basket.

“Aku juga,” timpal Yuri ikut-ikutan merenggangkan tangannya.

“Oh ya, jadi kenapa kau terlambat hari ini?” Tanya Yuri heran.

“Ada anak kecil menyebalkan yang aku kira dia sakit dan setelah aku khawatir dia malah mengataiku cerewet, uh,” tutur Victoria. Yuri menoleh Victoria sebentar.

“Anak kecil? SD?” Tanya Yuri. Victoria menggeleng.

“Entahlah, tapi dia terlihat dewasa sih,” ujar Victoria.

“Memangnya siapa gant-Kyaaaa!!! Vico-ah itu! Itu anggota baru yang aku ceritakan!!” Teriak Yuri sambil menunjuk-nunjuk seseorang yang ada di lapangan basket.

“Mana?” Tanya Victoria sambil berjinjit agar bisa melihat siapakah anggota baru yang dimaksud itu.

“Ayo kita kesana saja! kajja!” Teriak Yuri sambil menarik tangan Victoria. Victoria tangannya digenggam pun mau tak mau harus ikut berlari agar langkahnya sama dengan langkah kaki Yuri yang sudah semangat ingin memperlihatkan wajah anggota baru itu padanya.

“Victoria-sshi, Yuri-sshi, perkenalkan anggota baru tim kami. Minho, Choi Minho,” ujar kapten basket sambil menyuruh anggota baru itu agar memperkenalkan dirinya pada manager tim basket putra.

“Annyeonghaseyo, chonen Choi Minho imnida,” ujar Minho sambil membungkuk kearah Victoria dan Yuri.

“Annyeonghaseyo, chonen Kwon Yuri imnida, manager tim basket,” sapa Yuri sambil tersenyum lebar. Minho membalas senyuman Yuri. Dia kemudian menoleh kearah gadis yang berada di samping Yuri itu.

“Vico-ah, kau kenapa? Dia tampan kan?” Tanya Yuri pelan. Victoria menggeleng, matanya masih terbelalak.

“KAU!! ANAK KECIL SIALAN YANG TADI PAGI!!” Teriak Victoria sambil menunjuk kearah Minho. Yuri mengernyitkan dahi heran, begitu pula dengan anggota basket yang mendengar perkataan Victoria.

“Kalian pernah bertemu?” Tanya Yuri penasaran kedua orang yang masih terdiam itu. Victoria mengangguk sementara Minho menggelengkan kepalanya.

“Dia-dia anak kecil sialan yang membuatku kesiangan hari ini!!” Ujar Victoria masih dengan tangan kanannya yang menunjuk Minho.

“Maksudmu yang tadi menyebutmu ahjumma?” Tanya Yuri semakin mengernyitkan dahinya.

“Ne!!” Seru Victoria keras. Yuri memandang Minho sebentar lalu memandang Victoria sebentar, dia kemudian menunduk dengan tangannya memegang dagunya seolah berpikir.

“Benarkah?” Tanya Yuri sekali lagi untuk memastikan.

“Tentu saja!!” Jawab Victoria.

“Tapi, maaf. Sebenarnya kita pernah bertemu dimana ya Noona?” Tanya Minho dengan wajah yang bingung. Victoria menganga melihat wajah Minho itu.

“Kau ingin berbohong?! Kau yang tadi tidur dipinggir jalan dengan wajah pucat, membuatku terjatuh, memanggilku ahjumma, dan membuatku kesiangan ini malah bertanya kita pernah bertemu dimana?!” Seru Victoria kesal.

“Tunggu, Victoria-sshi, apa maksudmu tidur dipinggir jalan? Tidak mungkin! Minho itu kan ayahnya memiliki banyak perusahaan, mana mungkin dia mau tidur dipinggir jalan,” timpal kapten basket pada Victoria.

“Tapi aku tidak mungkin salah! Dia memang si anak kecil yang menyebalkan itu!” Seru Victoria.

“Sudahlah Vico-ah, aku ke kantin dulu sebentar ya, kalian lanjutkan saja latihannya, annyeong!” Ujar Yuri sambil menyeret Victoria yang kini sudah sibuk mengeluarkan sumpah serapahnya soal Minho. Sementara Minho hanya tersenyum tipis.

“Menarik,” gumamnya.

***

Victoria menyeruput jus miliknya dengan kesal di kantin. Sementara Yuri masih sibuk mendengarkan sumpah serapah dari mulut Victoria yang tak lain ditujukan untuk Minho.

“Dia, ugh! Anak sialan itu! Menyebalkan!!” Teriaknya. Sementara Yuri hanya menggelengkan kepalanya, dia mempercayai ucapan Victoria karena dia tak akan sekesal ini jika dia berbohong. Tetapi masalahnya tak ada seorang pun yang mempercayai ucapan Victoria soal Minho tidur di pinggir jalan, yah, kecuali Yuri tentunya.

“Sudahlah, lagipula kita kan sudah mengerjakan hukumannya,” ujar Yuri mencoba menenangkan Victoria.

“Tapi, si anak sialan itu, dengan wajah innocentnya bertanya pernah bertemu dimana, kalau saja dia bukan anggota baru yang diharapkan tim basket kita, aku ingin sekali mencabik wajahnya yang sok polos itu!” Teriak Victoria berapi-api. Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Victoria yang kini lebih terlihat seperti anak kecil yang tak dibelikan mainan yang dia inginkan.

“Yuri-ah, boleh tidak aku tidak memantau latihan hari ini, aku sedang kesal, dan agak tak enak badan,” ujar Victoria. Yuri menautkan alisnya.

“Haah, kau ini. Ya sudah, pulang sana! Jangan sampai kau terus memenuhi telingaku dengan sumpah serapahmu itu,” ujar Yuri dengan nada mengusir. Victoria mencibir pelan, dia kemudian bangkit dari kursinya dan melambaikan tangannya pada Yuri.

“Sampai ketemu besok,” sapa Victoria. Yuri tersenyum ikut melambaikan tangannya.

“Oh, aku ingin segera menenangkan pikiranku,” ujar Victoria di perjalanan pulangnya. Dia menghela nafas sebentar, mencoba menenangkan pikirannya soal si anak sialan yang bernama Minho itu.

“Kau sakit Ahjumma?” Seseorang menyapa Victoria dan memberi penekanan lebih di kata ‘ahjumma’ yang dia ucapkan. Victoria menoleh.

“YA! Anak kecil menyebalkan!!” Seru Victoria. Orang yang disebut anak kecil menyebalkan yang tak lain adalah Minho itu hanya tersenyum meledek pada Victoria.

“Dasar anak kecil bermuka dua!!” Seru Victoria.

“Kau lucu sekali, ahjumma,” ujar Minho sambil terkikik pelan. Deg. Entah kenapa tiba-tiba jantung Victoria bekerja lebih dari biasanya saat melihat si anak kecil sialan itu tersenyum. Victoria menggelengkan kepalanya dan kali ini memandang Minho dengan tatapan tajamnya. Dia mencibir pelan kemudian melanjutkan perjalanan pulangnya.

“Pergi sana! Aku mau pulang,” ujar Victoria dengan nada mengusir.

“Aku juga mau pulang kok,” jawab Minho.

“Lalu kenapa mengikutiku?” Tanya Victoria sebal. Minho terkekeh.

“Ahjumma, bisakah kau berpikir kalau arah rumah kita sama?” Tanya Minho yang langsung membuat Victoria berhenti berbicara. Mulutnya masih bergerak menandakan dia masih mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya tanpa suara. Tiba-tiba Minho berjalan disamping Victoria. Victoria memandangnya sebal, dia terus berusaha menghilangkan efek kerja berlebihan dari jantungnya ini.

“Kenapa kau berjalan disampingku sih?” Tanya Victoria dengan sinisnya.

“Ingin saja,” jawab Minho sekenanya.

“Mundur satu langkah dan jangan pernah berjalan berdampingan denganku,” ujar Victoria sinis. Minho menautkan alisnya mendengar perkataan Victoria. Gadis aneh, pikirnya. Kenapa dia malah menolak aku yang jelas-jelas dipuja-puja sejak masuk sekolah ini sih? Minho pun melambatkan jalannya dan dia kembali berada di belakang Victoria. Setelah itu tak ada percakapan apapun lagi diantara mereka, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Anak sialan itu menyebalkan, tapi aneh. Ada sesuatu yang aneh dalam hatiku,”

“Ahjumma itu aneh, kenapa dia malah menjauhiku sih? Dia menarik, dia juga cantik,”

***

“Ya!! Kalian harus cepat latihan untuk musim panas ini!!” Teriak Victoria seolah memberi semangat pada tim basket yang akan menghadapi pertandingan di musim panas nanti. Para anggota basket pun semakim t semangat berlatih apalagi dua manager cantik yang mereka sukai mendukung mereka.

“Victoria!” Seru seseorang dari belakang Victoria. Victoria menoleh.

“Ah! Jinki!” Sapa Victoria saat melihat seorang lelaki sedang berlari mebghampiri dirinya.

“Eh, ada apa kau memanggilku?” Tanya Victoria. Jinki mengatur nafasnya terlebih dahulu. Kemudian menatap Victoria.

“Aku akan ikut kontes musik, hari Minggu. Kau datang ya?” Tanya Jinki berharap pada Victoria.

“Baiklah! Aku akan datang!” Jawab Victoria sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu, aku ke kelas dulu! Jangan lupa hari Minggu!” Teriak Jinki sambil berlari menjauhi Victoria. Kini Victoria tersenyum-senyum sendiri, dan terus melamun.

“Vico-ah, kau baik-baik saja? kau jadi aneh sejak berbicara dengan Jinki tadi,” ujar Yuri.

“Aniyo, aku baik-baik saja. Aigoo~ senyum Jinki begitu manis,” ujar Victoria agak keras. Tiba-tiba dari arah lapangan, sebuah bola meluncur dengan cepat kearah wajah Victoria. Victoria menangkis bola itu dan menatap geram semua anggota basket yang sedang berlatih.

“Menyebalkan!” Teriaknya smabil berlari menjauhi lapangan. Yuri melihat Victoria dengan tatapan bingung. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Minho melempar bola basket itu dari tengah lapangan saat dia baru saja mendapati Victoria sedang berbicara dengan Jinki.

“Apa anak itu–?” Pikir Yuri.

***

Victoria kini sedang berada di toilet. Dia menyumpah seseorang dengan keras di dalam toilet.

“Anak kecil sialan!!” Teriaknya. Dia benar-benar tak habis pikir jika si anak sialan yang tak lain Minho itu sengaja melemparkan sebuah bola basket padanya. Dia berpikir dia tak mempunyai salah apapun, dan dia juga sudah mulai mencoba melupakan kejadian dulu –yang membuat kesiangan– antara dia dan Minho.

“Argh!” Erang Victoria. Dia kemudian keluar dari toilet dengan wajah yang kusut.

“Ya, ahjumma! Wajahmu aneh,” ujar seseorang yang tak  lain adalah Minho. Victoria tak menggubris sapaan Minho. Dia malah semakin mempercepat langkahnya agar bisa cepat-cepat menjauh dari Minho.

“Siapa lelaki tadi?” Tanya Minho setelah dia berhasil memegang tangan Victoria.

“Bukan urusanmu,” jawab Victoria. Dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Minho, tapi sial, tenaga Minho lebih kuat darinya dan dia kini hanya bisa menatap Minho dengan sebal.

“Siapa dia?” Tanya Minho lagi. Victoria mendelik kesal.

“Kau kenapa sih? Kau kesal karena aku menyebutmu anak kecil bukan? Baiklah, aku akan memanggilmu Minho, dan sekarang biarkan aku pergi!!” Seru Victoria sambil kembali mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Minho.

“Aku tanya siapa dia?” Tanya Minho untuk ketiga kalinya.

“Dia Lee Jinki, mempunyai suara yang bagus, teman SMP-ku, dan sekarang aku menyukainya! Puas?!!” Ujar Victoria. Kini tangannya dilepaskan oleh Minho, Victoria sedikit menringis kesakitan karena genggaman Minho begitu kuat.

“Kau kenapa sih? Baru diputusin ya?” Tanya Victoria sedikit sinis.

“Dasar gak peka!” Seru Minho.  Victoria hanya memiringkan kepalanya melihat Minho yang kini sudah semakin jauh dari hadapannya.

“Dia itu berkata apa sih?” Tanya Victoria sambil mengerutkan keningnya.

***

‘I LOVE YOU’

Itulah kata yang tertulis dari setiap kertas yang dia temukan. Di mejanya, lacinya, lokernya, dibawah kursinya, di cermin toilet, di papan tulis, dan dimana pun!!

“Sebenarnya ini surat apa sih?” Tanya Victoria jengkel.

“Penggemarmu mungkin,” jawab Yuri. Victoria melirik kearah Yuri dengan dahi yang mengkerut, sedangkan Yuri hanya membalas raut wajah Victoria itu hanya dengan angkatan bahunya. Victoria menghela nafas pelan. Victoria menyeruput jusnya.

“Kau gak peka sih,” ujar Yuri tiba-tiba.

“Maksudmu? Kau tahu kemarin si Minho juga mengatakan itu padaku,” timpal Victoria. Yuri menoleh.

“Minho? Sejak kapan kau jadi sopan seperti itu?” Tanya Yuri heran.

“Yah, terkadang dia memang seperti anak kecil, tapi terkadang dia terlihat dewasa sih,” jawab Victoria.

“Jangan berkata kalau kau mulai menyukainya,” ujar Yuri.Victoria langsung terbatuk-batuk.

“Kau bercanda, dengan anak kecil seperti itu? Aigoo~ dia lebih cocok dengan anak kecil lagi Yuri-ah,” balas Victoria sambil terkekeh pelan.

“Tapi mungkin saja Minho menyukaimu, buktinya akhir-akhir ini dia selalu nempel terus padamu,” ujar Yuri. Victoria berpikir, memang akhir-akhir ini Minho entah kenapa selalu ada dekat dengannya, dengan berbagai alasan. Tapi tak mungkin kan dia menyukainya?

“Kenapa kau berpikir begitu sih?” Tanya Victoria.

“Mungkin juga kertas yang bertuliskan ‘I Love You’ itu buatan Minho,” ujar Yuri lagi.

“Aku berpikir mungkin itu fansku saja kok,” timpal Victoria.

“Kenapa tak berpikir seperti Yuri Noona sih?” Tanya seseorang dibelakang Victoria dengan suara yang cukup keras. Victoria menoleh.

“Minho?” Tanyanya. Minho hanya membalas kekagetan Victoria dengan senyum simpul.

“Ahjumma! Kenapa kau tak berpikir seperti Yuri Noona sih? Kau ini memang tidak peka!” Seru Minho. Yuri terkikik. Sementara Victoria dengan otak yang masih meloading itu malah mengerutkan dahinya.

“Maksudmu apa sih?” Tanya Victoria heran.

“Ya ampun! Kenapa namja tampan seperti aku menyukai ahjumma yang otaknya sungguh dibawah standar ini?” Keluh Minho yang langsung membuat Victoria tersedak.

“Ya! Maksudmu apa sih sebenarnya?” Tanya Victoria dengan muka yang kini cukup memerah.

“Aku menyukaimu Noona! Ahjumma yang tak peka dan otaknya dibawah standar ini!” Seru Minho yang langsung membuat Victoria dan beberapa orang yang sedang berada di kantin kaget.

“Tap-tapi, aku tidak menyukaimu sama sekali! Kau itu anak kecil menyebalkan! Kau itu selalu menyebalkan tahu!” Teriak Victoria yang tidak sesuai dengan kata hatinya.

“Lalu kenapa tak kau buang saja kertas itu kalau tahu itu dariku?” Tanya Minho dengan nada dingin.

“Aku akan membuangnya nanti,” jawab Victoria gugup.

“Lalu kenapa kau tak menjauh saat aku selalu mendekatimu? Kenapa kau tak marah saat aku mengejekmu? Kenapa kau selalu saja tersenyum padaku kalau kau tak menyukaiku?!” Tanya Minho dengan desikit sinis.

“Min-Minho, k-kau, engh a-aku,” tiba-tiba Minho berlari menjauh dari Victoria yang kini hanya bisa diam.

“Vico-ah? Gwenchana?” Tanya Yuri. Beberapa orang disana mulai mengetahui apa yang terjadi, mereka pun kembali meneruskan acaranya masing-masing.

“Yuri-ah, a-aku,” setetes air mata tiba-tiba mengalir dari mata Victoria. Dia menangis.

“Jangan-jangan kau bohong ya?” Tanya Yuri pelan sambil mengusap rambut Victoria.

“A-aku takut, kau pernah bilang padaku kalau kau menyukainya, jadi aku,” Victoria tak melanjutkan kata-katanya.

“Dasar bodoh!” Yuri menjitak kepalanya Victoria pelan.

“Ya! Sakit!” Teriak Victoria sambil mengusap kepalanya.

“Kau ini! Dasar! Aku kan hanya kagum! Kau itu kenapa terlalu mementingkan perasaan orang sih? Kau juga sebenarnya menyukainya kan?” Tanya Yuri yang langsung membuat Victoria menunduk.

“Ayolah, jujur saja padaku,” ujar Yuri.

“Ne, aku menyukainya, dia yang menyebalkan seperti anak kecil itu! Aku menyukainya!” Teriak Victoria.

“Kenapa tak bilang daritadi huh?” Ujar Minho sambil terkekeh pelan di belakang Victoria.

“Ya! Kenapa kau disini?!” Tanya Victoria sambil mengusap air matanya dan sedikit menunduk.

“Haha, kau malu! Aku kan berlari memutar, jadi aku masuk kantin ini lagi. Yuri Noona, gomawo,” ujar Minho sambil mengecup pipi Yuri kilat.

“Ya! Kau bilang menyukaiku tapi malah mencium yeoja lain!!” Seru Victoria kesal. Minho terkikik.

“Kau mau dicium juga?” Tanya Minho sambil tersenyum devil.

“Mesum!!” Teriak Victoria. Minho terkekeh pean. Dia kemudian memeluk Victoria dan mengecup kening Victoria.

“Saranghae,” bisiknya.

“Nado,” balas Victoria.

Wrong Effect status : END

Annyeong~ kembali lagi dengan author cantik error ini! #lambai-lambai

Mianhae FFnya gaje gini, gada ide jadilah FF aneh ini, Mianhe juga kalo ada misstypo~

Saya tak akan berpidato panjang, cuma ada note nih :

1. Jangan panggil saya thor, panggil aja mail oke?

2. Buat yang gak suka, please jangan baca aja, daripada komen aneh(?)

3. Please Leave a Comment !!

4. See You on Next Fanfiction !!

5. Ini note terakhir : BYE!!

-ilmacuccha-

Advertisements

23 responses to “Wrong Effect

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s