Endless Moment part 6

Authors: Minhye_harmonic feat Hotaru Yuhime

EM series: teaser, prolog, part 1, part 2, part 3, part 4&5

EM side story: friendship is eunhae

———————————————————————————————————-Part6

Part 5

“Minho! Minho! Minho!!”

“Ada apa kak?!” Minho langsung tiba di ambang pintu kamar Minhye menatap Minhye yang panik.

“Suratku hilang!”

“Surat apa..?”

Lanjutannnn,,,

“Yoori, sudah lama menunggu?” Hyukjae menghampiri gadis itu dari belakang.

“Tidak, aku juga baru tiba,” gadis itu berbalik. Hyuk menatapnya dengan tatapan tak biasa.

“Kau sepertinya…berbeda.”

“Eh? Apa wajahku terlihat aneh?”

“Aku memang belum pernah melihatmu tanpa seragam, tapi sungguh..kau terlihat berbeda.”

“Jelek, ya?”

Hyuk menggeleng cepat. Yoori menatapnya bingung.

“Jadi, kau masih mau pergi denganku atau tidak?”

Hyuk tersenyum dan menaiki motornya. Yoori menumpang di belakang.

“Jadi… kita mau kemana nih? Kafe? Restoran? Candle light dinner?” Yoori terlihat antusias. Masih dengan senyum yang sama, Hyuk mempercepat laju motornya.

“Lihat saja…”

===============================================================================

Rokkugo~ Rokkugo~~

“Maaf, aku jawab telepon dulu, ya,” Yoori meletakkan sendok dan garpunya, dan beranjak dari tempat duduknya sambil merongoh ponsel dari tas tangannya.

Hyukjae menatap punggung Yoori yang berjalan menjauh, menuju pintu keluar. Kemudian ia mengalihkan pandangannya, menyusuri tiap sudut ruangan. Restoran cina tempatnya berada itu merupakan restoran yang cukup terkenal. Menu andalannya, nasi goring Beijing, adalah kesukaan Yoori. Sesuatu yang baru ia ketahui saat Yoori mengajaknya—setengah memaksa—untuk mampir tadi.

“Aneh,” gumam Yoori yang baru kembali.

“Ada apa?”

“Ini, aku menemukannya di tas-ku. Sepertinya terbawa olehku sejak semalam,” Yoori menyodorkan sesuatu. “Dia pasti mencarinya.”

Hyukjae menaikkan alis melihat benda yang ditunjukkan Yoori itu.

===============================================================================

“Hari ini menyenangkan. Terima kasih,” ucap Yoori tulus sambil menyerahkan helmnya pada Hyuk.

“Yah, sama-sama. Aku juga senang ditemani,” Hyuk tersenyum. “Tapi, kalau boleh aku bertanya, kau siapa? Kim Yoori?”

Yoori terdiam.

“Sejak awal, aku sudah tahu.”

“Maksudmu?”

“Pertama, nada deringmu. Setahuku, Yoori tidak begitu suka lagu-lagu trot. Dia lebih suka ballad,” Hyukjae menatap gadis dihadapannya tajam. “Kedua, Yoori tidak akan menolak jika kuajak melihat matahari terbenam. Dia suka langit. Ketiga, ia tak suka tempat ramai. Keempat, ia tak akan memilih restoran sebagai tempat kencan. Kelima, ia tipe gadis sederhana. Bahkan baunya saja berbeda denganmu.”

Ekspresi wajah gadis itu mengeras, merasa agak tersinggung. “Hei, hei. Memangnya siapa yang mau kencan denganmu? Dasar pria playboy,” ucapnya. Masih dengan menahan emosinya.

“Aktingmu bagus, nona. Tapi kau tidak seharusnya berbohong,” Hyuk mengabaikan perkataan gadis itu.

“Aku terkesan kau bisa mengenaliku.”

“Tidak, aku tidak mengenalmu,” Hyukjae mendekatkan wajahnya pada gadis itu—yang kemudian memilih mundur dan menjaga jarak. “Jadi, kalau boleh tahu, kau siapa?”

Gadis itu tertawa. “Kau sudah tahu dari tadi kalau aku bukan Yoori, kenapa masih mau jalan denganku? Kau ini benar-benar playboy, ya.”

Hyukjae menghela nafas panjang. “Aku lelah sekali hari ini. Terlalu banyak yang kupikirkan. Kencan hari ini sangat kunantikan, kukira akan memperbaiki mood-ku. Tapi ternyata, bukan Yoori yang datang. Pantas saja kau meminta bertemu di luar sekolah. Karena kau bukan Yoori.”

Gadis itu membuang muka.

“Dan lagi, melihat visualisasi kalian yang begitu identik, aku pikir kalian masih kerabat. Kupikir akan lebih baik sekalian berteman saja denganmu. Yah, terima kasih sudah menemaniku hari ini. Nasi goreng yang kau rekomendasikan benar-benar enak,” Hyuk memakai helmnya dan mulai menstarter motornya.

“Selamat malam. Salam untuk Yoori.”

Dalam hitungan detik, Hyukjae telah melaju seiring deru angin malam.

Gadis itu menghela napas lega, dan berbalik untuk memasuki rumahnya.

“Aku pulang.“

“Kau bermain-main lagi, eh?”

Sesosok gadis—yang terlihat begitu identik dengannya—bangkit dari sofa. Bukannya menyambut kepulangannya, gadis itu malah menghujaninya dengan tatapan tajam menghakimi. Diangkatnya ponselnya tinggi-tinggi.

“Yoori, aku cuma—“

“Kau mempermainkan temanku? Kencan dengannya?!”

Kembaran Yoori itu mengumpat pelan. Bagaimana bisa ia lupa menghapus pesan terakhirnya pada Hyukjae tadi?

“Kau—aiiish, aku harus bagaimana besok?” keluh Yoori.

“Aku ketahuan.”

“Eh?”

“Dia tahu aku bukan kau. Kau ceritakan saja yang sebenarnya padanya.”

“Ha! Akhirnya kau kena karmanya,” ejek Yoori yang mulai terlihat lega.

“Dia titip salam untukmu.”

“Kembalikan saja salamnya.”

“Kembalikan salamnya atau salam balik?” gadis itu membuka pintu kamarnya.

Yoori malah tertawa. “Ngomong-ngomong, kenapa kau suka sekali kencan dengan temanku, sih? Kau kan…. Laki-laki.”

Gadis itu menarik rambutnya hingga terlepas—memperlihatkan sosok dirinya yang sebenarnya. Seorang lelaki cantik dengan kulit seputih susu.

“Iseng saja. Lagipula, aku tidak akan melewatkan kesempatan makan gratis di restoran Gege, restoran favoritku.”

Yoori langsung melempari saudaranya itu dengan bantal sofa. Sayang, pintu kamarnya keburu menutup.

===============================================================================

Tiiin… Tiiiinn…!!

Gerakan Yoori terhenti. Dilihatnya Hyukjae telah berada di depan rumahnya, menjemput seperti biasa, seolah-olah kejadian kemarin—acara ‘kencan’ yang diatur kakaknya—itu tak pernah ada.

Yoori menutup kembali pintu mobil yang sudah setengah terbuka.

“Pagi!” sapa Hyuk riang

“Pagi,” jawab Yoori gugup.

“Ayo naik!”

Tiiin!! Tiiiinn!! Tiiinnnnn!!!

“Tunggu sebentar,” Yoori berbalik, menghampiri kakaknya yang masih menunggu dalam mobil sambil memainkan klakson seperti anak kecil. “Apa?!” katanya ketus. Masih kesal dengan kelakuan kakaknya yang terkadang memang agak ‘unik’.

“Merasa terganggu, nih?”

Yoori hanya memutar bola mata.

“Iya deh, iyaa… aku salah, maaf. Aku cuma mau nitip ini,” cowok manis yang sekilas terlihat identik dengan Yoori itu mengulurkan sesuatu.

“Ponsel?”

“Iya. Punya teman satu sekolahmu. Dia gadis yang baik, kuharap kau bisa berteman baik dengannya.”

“Kau menyamar jadi aku..?!”

“Ckk..! Iyaa, maaf, tapi kali ini aku nggak maksud iseng, kok! Nanti kuceritakan selengkapnya. Pergi sana! Sudah ditunggu, tuh!”

Yoori masih hendak membantah, namun akhirnya diurungkannya niatnya. Dia tak enak membuat Hyuk menunggu lama. Setengah hati, ia mendengarkan deskripsi singkat kakaknya mengenai si pemilik ponsel baru kemudian berangkat ke sekolah.

==============================================================================

“Hei, Kak. Serius dengan gadis itu..?” tanya Kyuhyun di tengah aktivitasnya mengerjakan soal-soal latihan olimpiade matematika. Jam pelajaran telah usai. Siswa kelas 3 seharusnya ada jam tambahan, tapi Hyukjae malah kabur ke kelas olimpiade matematika. Niatnya sih untuk mencari Minhye—yang ia kira bolos pelajaran tambahan dan kabur ke tempat itu—tapi nihil. Minhye benar-benar tidak masuk sekolah. Akhirnya ia malah mojok bersama Kyuhyun. Untungnya pak Jungsoo, pembina klub, sedang sibuk, sehingga anggota klub lainnya—selain Kyu—meliburkan diri.

“Siapa..? Ah, Yoori, maksudmu?”

Kyuhyun mengangguk.

Hyukjae terdiam. Sejujurnya, ia tak berniat untuk tertarik atau dekat dengan gadis manapun saat ini. Di penghujung waktunya sebagai siswa SMA, ia ingin fokus dalam menyelesaikan tugasnya sebagai ketua dance-club dan mempersiapkan diri untuk ujian—seperti yang pernah Donghae katakan padanya dulu. Tapi…

Hyukjae memejamkan matanya, dan teringat saat pertama kali melihat gadis itu di dalam mobilnya. Matanya…

Mata gelapnya membuat Hyukjae tenggelam dalam bermacam emosi—kesakitan, sepi, putus asa, bingung, harapan, rindu, kebahagiaan… entah. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan itu.  Membuatnya penasaran.

“Kak? Yah, malah ngelamun,” Kyuhyun melirik Hyuk sejenak, lalu mengomel sendiri. Membuat Hyuk kembali ke alam sadar.

“Eh, itu dia orangnya.”

“Eh?” giliran Hyuk yang bingung. Tampak Yoori memandangi isi ruang klub dengan wajah seperti mencari sesuatu.

“Hei!” panggil Hyuk.

“Hai,” jawab Yoori, lega. Ternyata ada orang yang dikenalnya di ruangan itu. “Ada Choi Minhye?”

“Minhye? Dia lagi sakit, katanya. Ada apa memangnya?”

“Ah, aku ingin mengembalikan barang yang penting.”

“Sini, berikan padaku saja!” kata Hyuk. Yoori menatapnya ragu. Bukan apa-apa, hanya saja kakaknya berpesan padanya untuk berteman dengannya, dan entah mengapa ia jadi merasa harus bertemu dengan gadis itu.

“Titip sama Minho saja,” celetuk Kyuhyun. “… Adik kak Minhye,” lanjut Kyuhyun menanggapi pertanyaan yang tersirat melalui tatapan Yoori.

“Ah, boleh. Bisa aku bertemu dengannya?”

===============================================================================

“Aku sungguh-sungguh tak mengerti dengan pikiran keponakanmu itu, Hyeonjeong,” Jungsoo melepas kacamata bacanya, “Surat itu benar-benar tidak sampai ke tanganmu? Padahal sudah hampir seminggu lalu aku memberikannya.”

Hyeonjeong mendenguskan tawa miris. “Kau seperti tidak tahu watak anak itu.” Katanya seraya meneguk tea soda-nya.

Ya, mereka berdua sekarang sedang bertatap muka guna membicarakan perihal nasib Minhye.

“Anak itu…” Jungsoo menggantungkan kalimat sambil menengadahkan kepala, menatap sebaris awan berarak di langit biru, “…Berubah…”

Ucapan Jungsoo disambut anggukan lambat dari Hyeonjeong. “…Tapi, beberapa dari sifat aslinya masih ada, namun ia selalu sembunyikan. Anak itu…rapuh.” Hyeonjeong ikut menengadahkan kepala.

Jungsoo menelengkan kepalanya, menatap teman karibnya itu. “Apa dia masih mengingkari kenyataan?”

“Ya, sekarang lebih parah―aku tak tahu harus bagaimana lagi. Hei? Kau benar-benar akan mengeluarkan keponakanku, Teuki?” Hyeonjeong memberikan tatapan ‘awas-kalau-iya’, membuat Jungsoo—yang terkadang dipanggil Leeteuk atau Teuki—tertawa.

“Tampangmu seram sekali, Jeong.” Keluh Jungsoo, masih dengan tawa. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah serius, “Tentu saja tidak, kau pikir aku tega dengan murid kesayanganku?”

“Murid kesayangan? Bukannya―”

“Biar pun, nilai serta kelakuannya buruk. Dia tetap murid kesayanganku,” potong Jungsoo cepat.

Hyeonjeong tersenyum mendengar penuturan Jungsoo.

===============================================================================

“…Nomor yang anda tuju sedang berada di lu―”

Minhye segera menekan tombol reject sambil berdecak kesal. Ini sudah kesembilan kali dia menelepon Hyukjae dalam jangka waktu tidak lebih dari setengah jam―dan selalu disambut seperti itu. Padahal dia ingin Hyuk menjemputnya di supermarket. Uangnya kini habis untuk membeli semua benda-benda yang berada di dalam daftar belanjaan. Salah Minhye juga sih, lupa membawa uang lebih. Jarak rumah dengan supermarket cukup jauh. Sebenarnya dia sanggup untuk berjalan kaki sampai ke rumah, namun belanjaan Minhye tidak mengizinkan, terlalu berat. Perlahan dia meletakkan kantung-kantung belanja pada bangku halte dekat supermarket, mengencangkan tali sepatu dan bersiap ‘angkat beban’ sampai ke rumah. Tanpa atau adanya Hyuk, ia harus tetap pulang. Memasak makan siang untuk Minho, yang mungkin kini sudah pulang dan berteriak kelaparan.

Kepayahan dia membawa sekaligus semua kantung-kantung itu. Baru beberapa ratus meter, Minhye berhenti. Melemaskan otot-otot tangannya. Tak sengaja. Matanya menangkap sosok yang amat dikenalnya―Hyukjae, lewat dengan membonceng seorang gadis. Minhye tahu wajah itu. Yoori…

Sakit hati. Iya. Kecewa. Iya. Marah. Apalagi. Cemburu? Entahlah…

Masih dilingkupi semua perasaan itu, Minhye meraup kantung-kantung belanjaannya. Setengah berlari, pergi.

BRUK!

Dia tersandung. Terjerembab pada badan trotoar, semua belanjaannya berhamburan. Setengah menggerutu, dia membereskan semuanya. Minhye baru sadar, ternyata ada sepasang tangan lain membantunya memasukkan belanjaan ke dalam kantung.

“Terima―,” Kata-kata Minhye terputus, dia tak percaya sosok dihadapannya…

TBC

Hi…ini adalah postingan pengantar semi-hiatus… karena ada beberapa alasan:

1. Endless Momentnya masih dalam proses penulisan, dan ada beberapa side story yang mau dibuat jadi, kami berdua memutuskan untuk menyelesaikan lantas setelah itu kami tinggal meng-update saja

2. bulan ini adalah bulan-bulan sibuk bukan bagi saya saja tapi bagi qory-eonni aka hotaru-eonni juga, banyak tugas serta ulangan mengintai saya dan laporan yang mengejar qory-eonni

3. mungkin saya juga tidak bisa update dikarenakan sebentar lagi akan ujian akhir semester. Saya tidak mau mengorbankan nilai-nilai saya kayak kemarin2 =.=”v.. jadi saya putuskan masa hiatus berakhir pada pertengahan Juli atau minggu ketiga juli (tunggui aja), insya Allah Endless Moment akan segera dipastikan update part 7!

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya,

Jangan lupa untuk RCL (read, comment, like)

kalo tidak bisa comment di sini, mention saja di @hye09

Advertisements

15 responses to “Endless Moment part 6

  1. haalooo…saya reader baru ff ini , kalo di ff indo sudah lama..
    tertarik baca karna ada hyukjae nya….
    memang baru part ini komen,
    kayaknya konfliknya mulai muncul ya???? bareng breng gitu…jadi agak2 pusing di part ini
    tapi overall saya suka sama jalan cerita ff ini, mungkin karna baca tengah malem aja, jadi harus konsen penuh…
    okey, next part

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s