I’M NOT CINDERELLA VIII

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Lee / Cho Eunhye

Cho Kyuhyun

Victoria Song

Kim Soohyun

Support cast : Super Junior

Genre : Romance

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan aku, hanya imajinasi aku sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

POV : semua cerita di ambil dari sudut pandang Eunhye

Poster and Thank’s To : Rara a.k.a cutepixie

“Aku akan terus bersabar sampai kau melanggar dibatas yang telah kujanjikan.” Ocha Syamsuri

***

Baca dulu : Part VII

***

I’M NOT CINDERELLA

***

Aku memeluk ajuhssi secara erat.

“Kau yakin Eunhye-ah dengan keputusanmu ini?”

Aku melepaskan pelukanku lalu mengangguk mantap. Aku yakin dengan keputusanku ini. Aku sadar sekali dengan konsekuensinya, aku akan menanggungnya sendirian.

Ajuhssi menaruh kartu namanya di genggaman tanganku. “Ini kartu nama ajuhssi, kalau kau berubah pikiran kau bisa menghubungi ajuhssi. Ajuhssi akan selalu menunggumu.”

Aku menggenggam kartu nama itu dan tersenyum. “Aku yakin dengan keputusanku ajuhssi. Takdirku adalah hidup disampingnya.”

“Tapi takdir itu bisa diubah Eunhye-ah.”

“Tidak ajuhssi, aku senang dengan takdirku seperti ini.”

Ajuhssi membelai rambutku. “Pemikiranmu sudah dewasa sekali. Ajuhssi akan menghargai keputusanmu, tapi ingatlah Eunhye-ah, kau masih punya seorang ajuhssi. Ajuhssi adalah keluargamu satu-satunya yang masih ada di dunia ini.”

Aku melambaikan tanganku dan kembali menuju ke makam kedua orangtua-ku saat ajuhssi tidak terlihat lagi. Aku memandang foto eomma-appa. Aku tidak tahu apakah keputusanku untuk menolak tawaran ajuhssi itu benar atau tidak.

****

Aishh~ sial. Tiba-tiba saja hujan turun. Aku berjalan secepat mungkin menuju ke pinggir pohon yang cukup rindang. Aku memeluk tubuhku yang mulai merasa sedikit kedinginan. Kusenderkan badanku dibatang pohon, kakiku terasa menyut sekali, rasanya seperti di remas-remas dan di tusuk-tusuk. Aku merogoh ponselku yang berada di saku celanaku, arghh kenapa baterai-nya habis pada saat genting begini?

Hujan mulai mereda, aku tidak tahu ini sudah jam berapa, mungkin saja ini sudah sore sekali soalnya kulihat suasananya sudah mulai gelap. Perlahan aku mengayunkan kakiku untuk turun ke bawah, aku harus hati-hati sekali, sehabis hujan biasanya jalanan akan sangat licin. Tentu saja aku tidak mau mengambil resiko terjatuh ke tanah. Aku tidak mau kedua kakiku tidak bisa digunakan lagi untuk jangka waktu yang lama, aku sudah cukup repot dengan satu kaki yang patah dan aku tak mau di tambah dengan satu kaki lagi.

Aku menarik nafasku dalam-dalam, ternyata masih jauh sekali untuk bisa mencapai kebawah. Aishh~ sepertinya lain kali aku tidak akan menolak bantuan orang lain lagi, kalau tahu begini tentu aku mau pulang dengan ajuhssi. Hufhh, penyesalan memang datangnya terakhir.

Sejak kapan jalan menuju ke bawah bukit ini penuh dengan bebatuan? Ya, aku tahu ini mungkin pertanyaan bodoh. Tapi bagaimana aku bisa turun jika kondisiku begini? Aishh~ jinjja. Mana tidak ada satu pun orang yang lewat lagi. Aku tahu kalau makam ini pemakaman khusus, tapi kan setidaknya ada satu atau dua orang yang lewat, tapi kenapa disini sepi sekali seperti kuburan? *hening*

Aku mengeratkan peganganku ke tongkat dan sepelan mungkin aku melangkahkan kakiku. Aku berhasil melangkahkan kakiku turun ke batu pertama. Hufhh, tinggal beberapa batu lagi hingga aku bisa turun kebawah. Oke, hwaiting Lee Eunhye!

Aku melangkahkan kakiku sehati-hati mungkin tapi arghhh~ aku salah perhitungan. Batu yang kupijak terlalu licin sehingga membuatku kehilangan keseimbangan, dan pantatku pun sukses mencium tanah. Aishh~ jinjja. Sakit sekali. Kalau pantatku sampai tepos gimana? Pantatku pasti tidak seseksi pantat Kyuhyun lagi (?) Aku menggapai tongkatku yang terlempar tak jauh dari tempatku lalu menginjakkan kakiku kembali ketanah. Tapi, arghh~ aku kembali terjatuh lagi.

Kenapa kakiku? Kenapa kakiku tidak cukup kuat untuk menopang tubuhku?

****

Aku sampai di rumah malam sekali. Ini karena aku cukup kesulitan untuk berjalan, tadi saja untung ada petugas makam yang menolongku, kalau tidak mungkin aku akan menginap di pemakaman itu. Dan aku tidak bisa membayangkan jika aku benaran sampai menginap di pemakaman itu.

Aku membuka pintu dan masuk kedalam rumah, kulihat Kyuhyun sudah berdiri di ruang tamu. Wajahnya penuh dengan amarah, aku tidak tahu persis bagaimana mendeskripsikan wajahnya saat ini yang jelas ia menatapku tajam dan tanpa ekspresi. Aigoo~ kenapa aku seperti melihat seorang iblis ya?

“Darimana saja kau? Kenapa kau tidak bilang kalau kau tadi ke tempat latihanku? Dan kenapa kau baru pulang?” Cerocosnya tanpa henti.

“Aku tadi..” Aku menghentikan omonganku sejenak. Aku merasa kepalaku seperti berada di wahana Tornado yang berputar-putar dan memusingkan. Dan tiba-tiba semuanya terasa gelap. Kalau tidak salah sedetik sebelum semuanya menjadi gelap aku sempat mendengar Kyuhyun meneriakkan namaku.

****

Aku membuka mataku pelan dan kurasakan ada sesuatu yang besar menimpa kedua tanganku. Mataku terbelalak saat melihat benda yang menimpa kedua tanganku. Mereka ini!! Aishh~ mereka pikir tanganku ini bantal apa?

“Eunhyuk oppa, Donghae oppa! Bangunlah! Aigoo~ tanganku mati rasa nih.” Aku menggerakkan tanganku tapi mereka tetap tidak bergeming. Lagian kenapa mereka bisa kemari?

Dan kakiku, astaga -___- pantas saja aku merasa empuk dan kenyal. Rupanya kakiku berada di atas perutnya Shindong oppa. Tapi pertanyaannya, kenapa mereka bisa kemari? Dan Kyuhyun kemana? Bukankah semalam aku sempat mengobrol dengannya sebelum aku merasa semuanya gelap?

Eunhyuk oppa menggeliat dan ia tersenyum saat melihatku. Aisshh~ gummy-nya itu sangat menyilaukan mataku.

“Uri Eunhye sudah bangun. Shindong hyung, Hae-ya, irona! Uri Eunhye sudah bangun.” Eunhyuk oppa menendang kaki Shindong oppa, ia juga menggeplak kepala Donghae oppa. Tapi, aishh~ kenapa ia belum bangun juga dari atas tanganku?

“Aigoo~ uri Eunhye sudah bangun..” Donghae oppa mencubit pipiku.

Aishh~ jinjja mereka ini. Kesabaranku sudah habis. “Ya~ oppa, berdiri dari ta….”

“YAK~ HYUNG, KENAPA KALIAN SEMUA TIDUR DI TEMPAT TIDURKU?” Teriak Kyuhyun tiba-tiba yang langsung membuatku terdiam.

Kyuhyun naik ke atas kasur, ia mendorong oppadeul menggunakan kakinya. Aku melongo melihatnya. Astaga, dia ini.. Dia benar-benar maknae evil. Masa hyung-nya sendiri di tendang pakai kaki?

“Aishh~ Kyuhyun-ah, kau kasar sekali. Igo~ pinggangku nyeri sekali. Aishh~ kau ini, jinjja~” Gerutu Eunhyuk oppa sambil memegangi pinggangnya lalu keluar dari kamar dan diikuti oleh oppadeul yang lain. Kurasa mereka tidak mau mencari masalah dengan maknae mereka yang ‘evil’ ini.

Kyuhyun mengunci kamar lalu duduk di tepi kasur. Ia memegangi dahiku. “Syukurlah panasmu sudah turun.”

“Memangnya semalam aku demam?”

“Begitulah. Tapi syukurlah panasmu sekarang sudah turun. Kau kehujanan ya? Memangnya kemarin kau kemana seharian?”

Aku tersenyum lemah. “Kemarin itu aku kemakam kedua orangtuaku.”

“Ke makam abeonnim dan eommonim? Kenapa kau tidak bilang?”

“Ahh itu.” Aku membuang mukaku. Apa aku harus mengatakan semua yang terjadi kepadaku kemarin? Apa aku juga harus mengatakan tentang pembicaraannya dengan Victoria?

“Aku kira kau sibuk.” Lanjutku pelan.

“Aku tidak sibuk Eunhye-ah.” Suara Kyuhyun melembut tapi cukup bisa membuat hatiku teriris, terlebih lagi jika aku mengingat tentang perbincangannya dengan yeoja itu. “Aku akan selalu menyempatkan untuk menemanimu kemanapun. Jangan menghilang seperti kemarin Eunhye-ah, rasanya sangat tidak enak. Aku merasa seakan-akan kau akan terlepas dari tanganku.”

Cho Kyuhyun, kenapa kau mengatakan sesuatu yang bisa membuatku terbang tinggi lagi? Kenapa kau memberiku sebuah harapan lagi?

****

Beberapa hari ini Kyuhyun selalu menemaniku kemanapun. Aku senang sih, tapi juga ada tidak enaknya. Ternyata ia cerewet sekali, aku sampai pusing dibuatnya. Masa aku tidak diperbolehkan untuk beraktivitas? Aku kan bosan jika seharian hanya berbaring di tempat tidur.

“Ya~ Cho Eunhye, aku bilang jangan kemana-mana. Tetap di tempat tidurmu.”

Tuh benerkan? Dia berteriak lagi? Padahal aku hanya mau mengambil minum.

“Aku mau mengambil minum yeobo, apa itu juga tidak boleh?”

Ia menggeleng. “Tetap ditempat tidurmu, biar aku saja yang mengambilnya.”

Aishh~ jinjja.

****

Baru saja aku mau memejamkan mataku ketika suara ponselku bergema. Aku meraih ponselku yang berada di meja kecil samping tempat tidurku, aku mengernyitkan keningku saat melihat identitas pemanggilnya. Nomornya tidak kukenal. Tapi kuputuskan untuk menjawabnya, siapa tahu itu telepon penting.

“Yeoboseo Lee Eunhye-ssi, ini Victoria.”

Aku makin mengernyitkan keningku. Victoria? Ada apa ia menelponku?

“Besok kau ada waktu? Temui aku di café dekat gedung SMent.”

****

Suasana di café sore ini cukup lenggang, padahal ini adalah hari di penghujung minggu. Lagu Because of you dari Keith Martin mengalun indah melengkapi kenyamanan di café ini. Udaranya juga begitu hangat dan nyaman. Tempat yang sangat di rekomendasikan utnuk bersantai dan melepas lelah.

Aku menyesap teh hangatku menikmatinya secara perlahan. Kutaruh lagi cangkir teh diatas meja lalu menatap yeoja cantik yang berada didepanku ini secara seksama. Wanita itu juga melakukan hal yang sama sepertiku, ia menyesap minumannya secara perlahan lalu menaruh cangkirnya kembali. Ia mengelap mulutnya dengan sapu tangan yang berada di atas meja. Ia membalas tatapanku dengan senyuman, ani lebih tepatnya sebuah seringaian, karena kulihat tidak ada ketulusan disenyumannya itu.

“Aku dengar Kyuhyunnie sangat baik denganmu beberapa hari ini.” Ujarnya memulai pembicaraan. Ternyata ia pintar sekali memilah topik pembicaraan. Aku mengepalkan tanganku. Aku tidak boleh kalah, aku tidak boleh mengalah lagi.

Aku mengatur nada bicaraku agar terlihat sama elegan dengannya. “Keurom, dia kan suamiku. Tentu ia amat perhatian denganku.” ASA! Dia pasti mati kutu mendengar jawabanku.

Ia tersenyum lagi, kali ini beribu lebih sinis dan kecut. “Begitukah?” Ia mengibaskan rambutnya yang panjang. “Yeah, nikmatilah kesenanganmu sebagai istrinya seorang Cho Kyuhyun selagi kau bisa.”

Aku mendesis. “Tentu saja aku akan menikmati kesenanganku selagi aku.. Jankkaman, apa maksudmu dengan ‘selagi aku bisa’?” Aku menatapnya lekat-lekat.

“Bukankah kau sudah mendengar kalau Cho Kyuhyun menikahimu karena sebuah syarat?”

“Maksudmu?” Aku memicingkan mataku. Setahuku aku hanya mendengar Cho Kyuhyun yang awalnya terpaksa menikahiku, tapi aku tidak mendengar tentang syarat itu. Apa maksud yeoja ini?

Yeoja itu memegang mulutnya. “Opss, sepertinya aku kelepasan berbicara.” Lagi-lagi ia menyunggingkan seringaiannya. “Kau pasti tahu ada banyak orang yang tidak menyukaimu menyandang istrinya Cho Kyuhyun, dan kurasa kau juga tahu kalau suatu hari mau tak mau kau harus pergi dari sisinya.”

“Aku tidak akan pernah pergi dari sisinya Victoria-ssi.” Ucapku tajam.

Ia mengibaskan tangannya seolah berkata ‘terserah-apa-katamu’. “Aku punya dua pilihan untukmu. Pergi dari sisinya secara perlahan atau kuseret kau agar menjauh darinya.”

Aku meremas tanganku. Wanita ini… Kenapa ia begitu jahat? Apa aku pernah melakukan kesalahan dengannya?

“Aku pikir kau adalah sahabatnya, Victoria-ssi.”

“Tentu saja aku sahabatnya. Itu karena dia yang meminta, bukan aku. Dan kurasa aku bisa memutarbalikkan semuanya.”

“Kau…” Desisku geram. Kalau membunuh itu tidak dosa, rasanya aku ingin melemparkan garpu  ini ke wajahnya.

Ia mencondongkan badannya kearahku lalu membisikkan sesuatu. “Apa kau penasaran dengan siapakah yang lebih penting didalam hidupnya, Lee Eunhye-ssi?”

Aku mengangguk. Tuhan, semoga ini tidak menyakitkan hatiku lagi.

****

Ia menaruh sebuah handphone berlayar sentuh yang sedang tersambung ke nomornya Kyuhyun di atas meja. Ia menekan tombol loudspeaker agar aku dan ia bisa mendengar suara Kyuhyun bersama-sama. Nada sambung pun terdengar lalu tak lama kemudian muncullah suara yang sangat kukenal.

“Yeoboseo, ini aku yeobo.”

“Ahh, yeobo-ya, kau sedang apa? Dan ini nomor siapa?”

“Ini nomor baruku.”

“Ohh, begitu. Ada apa kau menelponku?”

Aku berdeham pelan. Sial! Jantungku berdetak sepuluh kali lipat dari biasanya.

“Neo eoddiga?”

“Aku sedang berada ditempat latihan. Wae? Kau kangen kepadaku?”

Aku tersenyum sumringah. Kulihat wanita yang berada didepanku ini mengendikkan matanya menyuruhku untuk cepat bicara ke intinya.

“Yeobo~ya, kakiku sakit sekali. Apa kau bisa mengantarku ke dokter sekarang?”

“Mwo? Kakimu sakit? Ne, tentu saja aku akan mengantarmu. Kau dimana sekarang? Aku akan menjemputmu.”

“Nanti aku akan mengirimkan alamatnya.”

“Ne, kau jangan kemana-mana sampai aku datang. Arra?”

“Ne.”

Yeoja jahat ini menekan tombol merah, memutuskan obrolanku. Aishh~ dia ini, bilang saja jika ia cemburu mendengar obrolan mesra kami. Tapi aku senang, setidaknya Kyuhyun langsung menyetujui permintaanku. Bukankah sudah jelas jika aku yang terpenting dihidupnya?

Victoria mengeluarkan sebuah handphone berbentuk flat ke atas meja. Kali ini giliran dia.

“Qiannie.” Terdengar suara itu lagi.

“Kyuhyunnie, neo eoddiga? Aku.. Ahh, tolong aku Kyuhyunnie. Tolong aku.. Palli.”

Aku mendengus. Cihh, dasar bermuka dua.

“Ya~ Kau kenapa?” Suara Kyuhyun terdengar sangat panik.

“Alergiku kambuh Kyuhyunnie. Cepat tolong aku..”

“Ne, ne, cepat katakan kau dimana sekarang? Aku akan menjemputmu..”

“Aku di café dekat SMent. Ahh, palli.. Aku sudah tidak tahan.”

Yeoja itu menyeringai lagi lalu menutup ponsel flatnya cepat. Dari wajahnya tampaknya ia merasa puas sekali. Tak selang dari satu menit ponselku berbunyi. Ia menyuruhku untuk menjawab panggilan itu. Hatiku sangat cemas sekarang.

“Eunhye-ah mianhae, aku tidak bisa mengantarmu ke dokter sekarang. Aku ada urusan penting. Tapi setelah aku urusanku selesai, aku akan mengantarmu.”

Badanku melemas sekarang. “Ani, tidak perlu Kyuhyun-ssi. Aku bisa pergi sendiri.” Dengan cepat aku memutuskan panggilannya. Tanganku bergetar. Ternyata….

“Omo~ eottoke Eunhye-ah? Ternyata aku yang terpenting dihidup Cho Kyuhyun.”

Dasar yeoja brengsek!! Ia bersikap seolah menyesal.

****

Pemandangan didepanku sungguh menyesakkan hatiku. Pemandangan dimana seorang namja yang statusnya masih sebagai suamiku kini sedang memapah seorang yeoja yang jelas-jelas sedang berakting seolah-olah dia sakit parah. Perhatian yang ia tunjukkan ke yeoja itu membuat hatiku sangat sakit, saking fokusnya ia memperhatikan keadaan yeoja itu sampai-sampai ia tidak lagi melihat kearahku. Padahal aku duduk tidak jauh dari tempat duduknya Victoria saat ini.

Cho Kyuhyun… Kenapa kau menggoreskan luka lagi?

Dengan sisa kekuatanku, aku mengambil tongkat yang kusenderkan di dinding dekat kursi disebelahku. Aku berjalan pelan walaupun sedikit terpincang-pincang. Aku tidak berbohong tadi. Kakiku benar-benar sakit.

****

“Anda benar-benar harus menjaga kaki anda Nyonya Cho, sekali lagi anda terjatuh kemungkinan kaki anda tidak akan bisa digunakan lagi untuk jangka waktu yang sangat lama.”

Aku menatap dokter setengah tidak percaya. Apa kakiku sampai begitu parah? Apa ini karena aku terjatuh waktu itu?

“Kaki kiri anda itu pernah patah, dan sangat riskan sekali jika sampai terluka lagi. Apalagi sampai terjatuh.” Lanjut dokter itu lagi.

“Ne~”

Aku berpamitan lalu berjalan keluar dengan menggunakan kedua tongkat, karena kakiku tidak mampu lagi untuk menopang tubuhku terlalu lama jika hanya menggunakan satu tongkat seperti biasanya. Aku berjalan dengan pelan sekali, aku tidak mau kakiku terluka lagi.

“Kau berjalan seperti siput agashhi.”

Aku menoleh dan senyumku mengembang setelah tahu siapa yang menegurku. Kim Soohyun.

“Kakimu terluka?” Ia melirik ke kakiku yang digips. Aku mengikuti arah matanya dan tersenyum kecil.

“Kakiku patah.”

“Patah? Jinjja? Karena apa? Dan kemana suamimu? Kau datang sendirian?”

Aku menggeleng. “Ani, dia sedang ada urusan penting.”

“Melebihi dirimu?”

Aku tersenyum lirih. “Ya, melebihi diriku.”

“Semoga saja bukan karena yeoja lain.” Ucapnya pelan namun masih dapat kutangkap.

“Ah~ ye?”

“Ahh ani. Kau tunggu disini sebentar.”

Secepat kilat ia berlari lalu tak lama kemudian ia kembali dan ia membawa sebuah kursi roda.

Ehh, buat apa dia membawa itu?

“Duduklah, aku akan mengantarmu pulang.”

“Ee? Jangan Soohyun-ssi. Nanti merepotkanmu.”

“Aku paling benci ditolak. Duduklah.”

Ia membantuku untuk duduk di kursi roda itu lalu ia mendorong kursinya sementara tongkatku ia taruh di sisi samping kursi roda ini.

Soohyun menekan tombol lift tidak sabaran. “Aishh~ kenapa lama sekali sih lift ini?”

Aku tertawa kecil melihat kelakuannya. Dasar tidak sabaran!

Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka. Perasaan sakit dan perih menyeruak begitu saja saat aku melihat dua orang yang berada didalam lift. Walaupun namja itu memakai pakaian serba tertutup, aku masih dapat mengenalinya. Cho Kyuhyun, inikah urusanmu yang sangat penting itu? Victoria he?

Soohyun mendorong kursi roda masuk kedalam lift. Aku menundukkan kepalaku. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku.

“Kau harus menjaga kakimu dengan baik Eunhye-ah.” Ujar Soohyun memecahkan kesunyian didalam lift.

“Maksudmu?”

“Aku mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tadi. Aku tahu kalau kau sampai terjatuh lagi maka kau tidak akan bisa menggunakan kakimu lagi.”

“Kau mendengarnya? Kapan?” Pekikku tak percaya.

“Aku berada diruangan itu juga tadi.” Jawabnya.

“Apa kakimu benar-benar terluka Cho Eunhye?” Ujar sebuah suara.

Aku meremas sisi kursi rodaku. Cho Kyuhyun.. Masih menganggapku ada he?

“Kakiku tidak apa-apa. Apa ini urusanmu yang penting itu Cho Kyuhyun-ssi?” Sindirku.

“Ye~ ahh ini..” Ia menghentikan omongannya.

Wae? Tidak bisa menjelaskannya hah?

“Hei, kalian saling mengenal?” Ujar Soohyun. “Dan kau tuan, sepertinya aku mengenalmu. Ahh, kau Cho Kyuhyun kan? Maknaenya Super Junior. Dan bukankah kau itu suaminya Eunhye?”

Pintu lift pun terbuka. Aku segera menarik tangan Soohyun untuk cepat mendorong kursiku keluar dari tempat ini. Soohyun menurut ia mendorong kursi rodaku.

“Tunggu..”

Soohyun berhenti mendorong kursi rodaku, ia membalikkan kursi rodaku.

“Biar aku yang mengantar istriku pulang Soohyun-ssi.” Ujar Kyuhyun.

Aku mendelik tajam. Masih ingat aku sebagai istrimu he?

“Ani. Khamsahamnida Kyuhyun-ssi atas bantuanmu. Tapi bukankah kau sedang ada urusan penting? Aku tidak mau menganggu urusanmu.” Aku mendongak menatap Soohyun. “Soohyun-ah, antar aku cepat.”

“Tapi..” Ujar Soohyun ragu.

“Palli!” Bentakku.

Aku tahu Soohyun masih agak ragu tapi ia tetap menurutiku dan mendorong kursi rodaku. Cho Kyuhyun, sampai kapan kau akan berhenti menyakiti hatiku?

****

“Kau ingin langsung pulang atau bagaimana?” Tanya Soohyun. Kini kami sedang berada ditengah perjalanan.

“Bisakah kita makan dulu? Aku lapar.”

Soohyun menganggukkan kepalanya paham lalu ia segera membelokkan stir mobilnya. Aku bersyukur Soohyun tidak banyak bertanya soal tadi.

****

“Ya~ Eunhye-ah, kau mengerikan sekali. Kenapa kau melampiaskan kemarahanmu ke makanan yang tidak bersalah itu?” Ujar Soohyun ngeri. Aku tidak peduli dengan teriakannya yang menyuruhku untuk berhenti, aku malah makin menusuk-nusuk makanan dengan garpu.

“Nappeun yeoja! Jeongmal nappeun yeoja!”

“Ya~ Lee Eunhye, kau membuat ajuhssi pengembala sapi menjadi sedih. Kau tega sekali melampiaskan kemarahanmu ke sapi-sapi lucu yang bentuknya berubah menjadi steak itu.”

“Aish~ diamlah.” Bentakku. “Aku lagi kesal sekali saat ini!!”

“Ne~ arra, arra. Tapi jangan menusuk-nusuk makananmu seperti itu. Aku ngeri melihatnya. Kau seperti ingin membunuh seseorang.”

“Ne~ aku memang ingin membunuh dia. Aishh~ jinjja.” Aku membanting garpu keatas meja dan menyenderkan badanku kepinggir kursi.

Soohyun dengan cepat menyingkirkan semua barang yang berada didepanku. Entah apa maksudnya melakukan itu.

“Kau kesal karena suamimu lebih memilih yeoja itu ya?” Tanyanya.

Aku mendeliknya tajam. Soohyun mengangkat tangannya.

“Dari yang kulihat tadi sepertinya suamimu sangat perhatian dengan yeoja itu. Apa kau tidak merasakan jika sebenarnya suamimu itu sangat mencintai yeoja itu?”

Aku mendengus. “Jangan mencoba untuk menghasutku Soohyun-ssi.”

Soohyun malah menyunggingkan senyumannya. “Apa kau sangat mencintai suamimu sampai matamu segitu buta? Apa kau tidak bisa melihat perhatian yang suamimu berikan ke yeoja itu?”

“Aku bilang jangan mencoba untuk menghasutku Kim Soohyun-ssi.” Desisku geram.

“Kira-kira apa ya hubungan mereka? Sahabat atau malah mereka saat ini sedang berpacaran?”

“KIM SOOHYUN!!”

Soohyun tertawa terbahak-bahak.

****

Setiba dirumah aku langsung menuju kedalam kamar tanpa menghiraukan panggilan Kyuhyun. Aku tidak cukup kuat untuk menatap wajahnya terlebih lagi harus berhadapan dengannya. Aku takut pertahanan diriku jatuh.

“Ya~ Cho Eunhye, dengarkan aku dulu!”

Aku menepis tangannya yang mencengkram erat tanganku.

“Tidak ada yang perlu didengarkan Kyuhyun-ssi. Aku mau tidur dulu. Dan kuharap kau mau berbaik hati untuk tidur dikamar satunya.”

“Eunhye-ah, aku bisa menjelaskan semuanya.”

“AKU BILANG TIDAK ADA YANG PERLU DIJELASKAN KYUHYUN-SSI!!” Pekikku. Kulihat ia terdiam. Aku mengambil kesempatan ini untuk mendorongnya keluar dari kamar lalu dengan cepat mengunci kamar. Aku duduk merosot kelantai. Aku memegangi mulutku agar isak tangisku tidak terdengar olehnya. Aku tahu saat ini ia masih berdiri didepan pintu.

****

Pagi harinya Kyuhyun sudah tidak berada dirumah lagi. Ia meninggalkan sebuah notes yang mengatakan jika ia sekarang sedang berada didorm dan secepatnya akan pulang kerumah. Tapi buat apa ia mengatakan itu?

Aku mau menonton televisi saat bunyi bel berbunyi. Aku meraih tongkatku lalu berjalan menuju pintu. Aku sangat terkejut saat melihat siapa yang berdiri didepan pintu rumahku. Victoria, mau apa ia kemari?

“Boleh aku masuk?” Tanyanya lalu tanpa menunggu jawabanku ia menerobos masuk. Aku menutup pintu dan berjalan mendekatinya. Ia duduk di sofa seakan-akan ia adalah pemilik rumah ini.

“Apa kau tidak diajarkan cara menjamu tamu yang baik Lee Eunhye?” Ujarnya dan tersenyum sinis.

Sabar Eunhye. Sabar.. Aku menuju dapur dan membuatkannya minum. Aku melirik kearah garam. Hufh, kalau aku jahat aku bisa mencampurkan garam ini keminumannya. Tapi karena hatiku terlalu baik aku memutuskan untuk tidak mencampurkannya. Kalau aku membalas kejahatan dengan kejahatan bukankah itu sama aja aku seperti dia? Dan kurasa aku tidak mau berhati jahat seperti dia.

“Silahkan minum Victoria-ssi.” Aku menaruh minuman keatas meja. Aku sengaja menaruhnya sedikit kasar sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. “Silahkan dinikmati sepuasmu. Aku mau kekamar dulu.” Ujarku dan menuju kekamar.

Tapi baru saja aku mau mendaratkan pantatku keatas kasur tiba-tiba aku mendengar suara Kyuhyun yang berteriak panik. Aku memutuskan untuk keluar kamar dan melihat apa yang terjadi.

Mataku terbelalak saat melihat Victoria yang sepertinya sedang kesusahan bernafas. Ada apa dengannya? Pas aku tinggal tadi dia masih baik-baik saja. Kenapa ia bisa begini?

“Qiannie, kenapa denganmu?” Tanya Kyuhyun panik.

“Nafasku sesak Kyuhyunnie, sepertinya alergiku kambuh lagi.” Ujar Victoria dengan nafas yang tersengal-sengal. Heii, apa dia serius kesusahan bernafas? Aku mendekati mereka.

“Eonni kau kenapa?” Tanyaku. “Kyuhyun-ssi apa yang terjadi dengan Victoria eonni? Kenapa dia menjadi seperti ini?”

“Alerginya kambuh lagi.” Jawab Kyuhyun tanpa menoleh kearahku. “Qiannie, apa yang terakhir kau minum atau makan?”

“A-aku.. Ha-ha-hanya meminum itu.” Tunjuk Victoria ke minuman yang berada diatas meja. Ehh, bukankah itu minuman yang aku buat untuknya? Itu kan hanya minuman biasa, kenapa ia sampai begini?

Kyuhyun mengambil minuman itu dan mencicipinya. Wajahnya berubah kecut saat meneguk minuman itu. “Siapa yang membuat minuman ini?” Katanya.

“I-itu aku yang membuatnya.” Kataku. “Tapi itu hanya minuman biasa.”

“Minuman biasa katamu? Kau sudah meracuni Victoria tau!!” Bentaknya. Aku terdiam. Kenapa dia sampai semarah ini? Apa salahku?

Kyuhyun mendekatiku. “Kau.. Kenapa kau bisa sejahat ini Lee Eunhye? Kenapa kau tega meracuni Victoria?”

Aku? Aku meracuni Victoria? Ya Tuhan… Bahkan untuk memukulnya saja aku tidak tega apalagi sampai meracuninya.

“Apa maksudmu? Kau menuduhku Kyuhyun-ssi?” Aku meremas tongkatku. Aku tidak peduli lagi dengan airmataku yang membanjiri wajahku.

“Kau.. Kau jangan kemana-mana, kau masih berurusan denganku.” Ia berkata seolah aku ini musuh terbesar dihidupnya. Aku memegang tangannya saat ia mau mendekati Victoria. Ia mendelikku kasar meminta agar aku melepaskan cengkramanku. Aku menggelengkan kepalaku menandakan jika aku tidak mau.

“Lepaskan tanganku.”

Aku menggeleng lagi. “Dia.. Dia sedang berbohong Kyuhyun-ah, kau harus percaya denganku.”

Kyuhyun menepis tanganku dengan kasar sehingga membuat keseimbanganku terganggu dan aku pun terjatuh ke lantai.

“Kau sudah gila Eunhye-ah.” Desisnya dan mendekati Victoria.

Aku menghimpun semua kekuatanku dan berdiri tanpa bantuan tongkat. Aku mendekatinya dan memegang tangannya lagi. Aku tidak tahan lagi. Aku harus mengungkapkan semuanya.

“Kenapa kau teganya menuduhku? Dan kenapa kau harus sekhawatir ini? Ia hanya alergi dan aku patah kaki. Kenapa kau malah lebih mengkhawatirkannya Cho Kyuhyun? Kenapa yeoja itu yang selalu menarik perhatianmu? Aku istrimu, kenapa kau malah lebih mementingkannya? Apa artiku dimatamu? APA?”

Plakk! Sebuah tamparan sukses mendarat di pipiku. Aku memegangi pipiku. Aku mencoba untuk tersenyum walaupun hatiku terasa sangat perih.

Aku menghela nafasku sembari menahan isak tangisku yang semakin menjadi. “Inilah batas akhir kesabaranku Cho Kyuhyun-ssi. Inilah batas dimana aku bertahan disampingmu. Kau tega menamparku demi yeoja itu. Terima kasih atas tamparanmu. Sampai jumpa di pengadilan.”

Aku berjalan terpincang-pincang dan mengambil tongkatku. Secepat mungkin aku keluar dari rumah. Aku.. Aku tidak bisa lagi bertahan dan mempercayainya. Seperti janjiku sejak awal. Aku akan tetap terus berada disampingnya sampai ia yang menyakitiku secara langsung. Dan tamparan ini adalah akhir dari kesabaranku. Aku tetap mempercayainya dan menahan semua perlakuan jahat dari fans-nya, tapi karena tamparan ini aku tidak mau lagi bertahan disampingnya. Ia sudah banyak menyakitiku. Dan tamparan ini menyakiti harga diriku sebagai seorang wanita.

Kurasa perpisahan adalah jalan yang terbaik untuk mengakhiri semua penderitaanku.

****

Aku berjalan sambil memukul dadaku yang terasa nyeri. Aku tak menghiraukan tatapan aneh dari orang lain. Otakku tak mampu memikirkan hal in kecuali memikirkan bagaimana caranya menghilangkan rasa sakit ini minimal agar bisa menahannya.

Harusnya aku menahan diri agar tidak terlalu terbuai oleh pesonanya. Harusnya aku tidak terlalu cepat jatuh cinta kepadanya. Harusnya aku tidak terlalu menggantungkan harapan dengannya. Harusnya…

Udara yang dingin sangat menusuk tubuhku. Entah sudah berapa lama aku duduk disini sambil menelungkupkan wajahku. Aku merogoh ponselku yang bergetar terus dari tadi. Aku sengaja mendiamkannya karena aku tahu itu pasti Kyuhyun. Ck, buat apalagi ia menelponku? Meminta maaf he?

Baru saja aku mau mematikan ponselku saat kulihat Kim Soohyun yang menelponku.

“Yeoboseo Soohyun-ssi.” Ujarku dengan suara bergetar.

“Apa duduk disitu sangat menyenangkan Lee Eunhye?” Tanyanya dan membuatku sedikit terkejut. Ia tahu keberadaanku? Apa dia disekitar sini? Aku menorehkan pandanganku kesekeliling dan aku berhenti saat melihat Soohyun sedang berdiri tak jauh dari tempatku. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Wajahmu sangat menyeramkan kalau sedang terkejut seperti itu.” Kekehnya lalu memutuskan panggilannya. Ia mendekat dan duduk dihadapanku. Ia memegang wajahku dan memaksa agar menatapnya. “Wajahmu sangat dingin. Bibirmu juga pucat. Sudah berapa lama kau duduk disini?”

Aku menggeleng dan malah menangis.

“Kenapa kau menangis? Ya~ kau membuatku takut.”

Aku memeluk tubuhnya dan menangis sesengukan di tubuhnya. Awalnya ia sempat kaget tapi dengan cepat ia menguasai dirinya dan membalas pelukanku. Ia menepuk kepalaku.

“Bawa aku pergi Soohyun-ah, bawa aku pergi. Aku tidak punya tempat lagi. Terserah padamu ingin membawaku kemana. Aku percaya denganmu.”

“Kau ada masalah dengan suamimu ya?”

Aku tidak menjawab dan malah makin memperkeras tangisanku. “Dia menamparku.”

****

TBC ..

*deep bow* maaf kalau FF ini semakin nista dan feelnya semakin jelek. Aku lagi banyak tugas dan kerjaan, ini aja untung sempat nulisnya.

Kepanjangan gak? Sebenarnya aku mau jadiin jadi dua part. Tapi aku tidak mau jadi bulanan readers yang mengamuk karena aku selalu menTBC-kan pada bagian yang tidak tepat. Yang nanyain kemana Kim Soohyun, nohh di part ini aku masukin dia lagi.

Sorry for typo…

Keep RCL …

292 responses to “I’M NOT CINDERELLA VIII

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s