Lifetime [part 2]

previous: [part 1]

AUTHOR: Avyhehe / Avy

LEGTH: Series

GENRE: Romance/Friendship, Supranatural

RATED: PG-13

Tokoh: Jonghyun & Key SHINee, Kim Bum, Kang Hyewon (OC)

others will revealed soon.

Disclaimer: Mine.

DON’T BE A SILENT READERS, PLEASE


avy present

~LIFETIME~

Part 2

“Jjong… gawat…”

“Ada apa?”

“Sekolah kita diserang!”

Setelah Minho memberi penjelasan pada Jonghyun, kedua orang itu bergegas lari ke arah gerbang. Key ditinggal begitu saja di depan kelas tanpa tahu apapun. Mulutnya masih menganga. Namun sedetik kemudian Key mengerti apa yang tengah terjadi. Dia mengangkat kedua tangannya ke depan mulutnya dan membentuknya seperti corong, lalu berteriak.

“Good luck!”

Setelah meneriakkan kedua kata itu, dia berbalik dan menuju ke sebuah kelas dimana tempat berlangsungnya tambahan pelajaran Bahasa Inggris.

—-

Pukul tiga sore. Hanya orang gila yang masih mau bertahan di sekolah dikala hari sedang terik begini. Yah, tapi itu semua tidak berlaku untuk segerombol siswa yang tengah berjaga di gerbang depan SMA Seuta. Panas matahari yang menyengat tidak mereka acuhkan. Justru itu membuat mereka semakin bersemangat.

“Hahh… hhah…” Jonghyun dan Minho yang sudah sampai di ambang pintu gerbang, segera menarik nafas mereka dalam-dalam. Kemudian mereka berbaur di antara siswa kelas dua dan tiga yang berkumpul di dekat gerbang.

“Bagaimana keadaannya, sunbae?” Tanya Jonghyun pada seorang siswa kelas tiga yang berpenampilan urakan. Nama lengkap siswa itu terpampang jelas di badge seragamnya, Lee Donghae.

“Buruk. Info terakhir yang kudengar, mereka dalam perjalanan kemari dan membawa banyak pasukan serta senjata yang lumayan lengkap. Kita harus bersiap.” Donghae memutar-mutar pentungan yang dibawanya, “Jangan bilang kau tidak membawa apa-apa, Jjong…”

Jonghyun menyeringai. Dia melepas sabuk yang melingkar di celananya. “Tenang saja, aku selalu siap.” Jonghyun memamerkan gesper sabuknya yang terbuat dari besi— dengan aksesori gerigi tajam di beberapa bagiannya—Kemudian dia maju ke barisan terdepan yang sudah dalam kondisi siaga.

Drap… drap… terdengarlah derap langkah dari tikungan jalan yang berada dekat dengan sekolah mereka. Dari suara langkah yang bersahut-sahutan itu, bisa dipastikan ada segerombolan orang berjumlah lumayan banyak menuju kemari.

‘Datang!’

Seluruh siswa Seuta yang berjumlah dua puluhan itu mengambil ancang-ancang begitu mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Jonghyun meremas sabuknya. Donghae bersiap dengan pentungannya. Sedangkan Minho meraih balok kayu yang berada di dekatnya.

Dari balik tikungan jalan, muncullah segerombol siswa SMA Shinhwa yang berjumlah kira-kira tiga puluhan orang—dari segi jumlah, SMA Seuta jelas kalah—dan beberapa dari mereka membawa balok kayu yang lumayan besar dengan sebuah paku panjang yang tertancap di ujung balok. Ada juga yang membawa tas kresek hitam dan isinya kelihatan berat. Tak perlu diragukan lagi, isinya pasti batu.

‘God, please save us!’  Siwon mengecup kalung Rosario-nya, lalu meraih batu bata yang disodorkan Kyuhyun.

Siswa SMA Shinhwa dan SMA Seuta berhadapan. Semilir angin berhembus kencang diantara kedua kubu, memberi efek dramatis seperti yang sering ditemui di film-film action atau koboi.

Donghae mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di udara.

“SERAAAAANG…!!!”

‘Oh, astaga… aku bosan setengah mati!’ Key nyaris tertidur di atas meja kelas kalau saja dia tidak mendengar ribut-ribut dari arah luar. Memang samar-samar, namun telinganya bisa menangkap dengan jelas suara berisik itu.

Hello ghuys! Guess what! do yhou khnow who I met yesterdhay…??” Jungri seonsaeng, guru tambahan bahasa inggris, terus mengoceh dengan logat anehnya di depan kelas sambil menerawang ke arah muridnya yang sudah banyak mengantuk. Penyakit ngantuk memang gampang menular.

I guess? Dedemit, kali…” celetuk salah satu siswa, dan membuat seisi kelas tertawa. Key meringis.

Key menguap berkali-kali. Beberapa saat kemudian, dia bangkit dari bangkunya.

“Kau mau kemana?” Tanya teman sebangkunya yang bernama Lee Taemin.

“Ke kamar mandi sebentar. Jangan menyusulku!” ancam Key. Taemin hanya mengangguk.

Setelah meminta izin pada Jungri seonsaeng, Key melangkah keluar kelas dan berlari ke arah keributan berasal. Izin ke kamar mandi tadi hanyalah sebagai alasan saja.

Sesampainya di dekat gerbang, mulut Key kontan menganga melihat pemandangan di depan matanya. Tawuran yang hebat. Tidak sehebat perang di jalur Gaza, tapi tetap saja hebat. Sebenarnya dia sudah sering melihat kejadian seperti ini. Namun sekarang agak sedikit berbeda.

Oh my God…’ Key mendesah pelan. ‘Banyak sekali musuh dari Shinhwa!’

Tiba-tiba, sebuah batu sebesar kepalan tangan melesat ke arahnya. Dengan sigap Key melompat ke samping dan batu itu tidak jadi mengenainya. Setelah mengusap-usap dadanya karena shock, dia kembali melanjutkan kegiatannya semula; yaitu celingukan mencari seseorang.

Akhirnya, di tengah kekacauan itu, dia menemukan sosok Kim Jonghyun yang sedang memutar-mutar sabuknya dan memukulkannya ke kepala seorang siswa Shinhwa, membuat siswa itu jatuh pingsan dalam sekejap.

“Haah, dasar…” Key menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin. “Jjong! jangan sampai mati!” serunya.

Key kembali ke dalam kelasnya dan duduk di bangkunya. Dia tidak sadar bahwa sejak tadi mata Taemin memperhatikannya.

“Tawuran lagi? dengan Shinhwa?” Taemin yang sudah tidak bisa menghentikan rasa penasarannya, langsung bertanya padanya.

Key mendesah dan mengangguk, “Nde.”

Dunia memang aneh. Bahkan sahabat pun kelakuannya bisa berbeda 180 derajat. Jika yang satunya tengah duduk tenang di kelas dan mendengarkan dengan seksama ocehan-ocehan guru—meskipun dengan muka mengantuk—, yang satunya lagi…

“YA! cepat bentuk formasi!”

Jonghyun, salah satu panglima perang tawuran, tengah berdiri di garis depan bersama  siswa-siswa kelas tiga. Hujan batu, kerikil, bahkan lemparan kaleng bekas tidak dihiraukannya. Dengan sangat berani dia meringsek maju, dan menghampiri seorang siswa Shinhwa yang membawa belati di tangannya.

Nyalinya sangat besar. Hanya dengan bermodalkan ikat pinggang, Jonghyun malah menantang siswa berbelati itu bak superhero. Tanpa banyak bicara lagi, siswa itu langsung menerjang ke arahnya. Namun ketika dia hendak menghunuskan belatinya ke perut Jonghyun, Jonghyun memelintir lengannya dan mengambil paksa belatinya, kemudian memukul punggung siswa itu dengan sikutnya keras-keras sehingga siswa Shinhwa itu terjerembab di aspal jalanan.

“Huh,” Setelah memastikan lawannya tidak bergerak lagi—alias pingsan, Jonghyun melempar belati itu ke dalam tong sampah yang ada di dekatnya.

Tiba-tiba, telinganya mendengar sebuah teriakan yang asalnya tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

“Uwwaaaa…!”

‘Hah?!’ Jonghyun mengangkat sebelah alisnya. Kenapa ada suara perempuan disini? Setahunya, mereka sama sekali tidak merekrut siswi untuk terlibat tawuran. Kecuali…

Uwwaaa…!”  gadis itu terus berteriak sambil melindungi diri dari lemparan batu nyasar dengan map yang dibawanya. Tiba-tiba, sebuah tangan yang lumayan berotot meraihnya dan menariknya dengan paksa ke suatu tempat.

“Aduh!” teriak gadis itu ketika orang yang menariknya itu mendudukkannya di balik sebuah pohon besar di pinggir trotoar dengan kasar. Dia menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang menariknya tadi, dan…

“KAU?!” teriak gadis itu dan si penarik bersamaan. Gadis bernama Hyewon itu membelalak ketika mengetahui yang membawanya paksa kesini barusan adalah Kim Jonghyun, namja yang ditemuinya di kamar mandi tempo hari.

“Sedang apa kau, perempuan!” teriak Jonghyun, “Ini bukan arena permainan tahu!”  dia memandang Hyewon dan jalanan di depan sekolahannya—yang digunakan sebagai arena tawuran—secara bergantian. Agak kaget juga. Dia tak menyangka perempuan yang terjebak ditengah area pertempuran tadi adalah si Hyewon ini. Lagi-lagi dia bertemu perempuan ini.

“A—Ada apa ini sebenarnya?!” Hyewon terlihat frustasi. Dia merapatkan tubuhnya di pohon dengan takut-takut.

“Haah…” Jonghyun menghela nafasnya, “Kau belum pernah melihat hal seperti ini? Ini namanya tawuran. T-A-W-U-R-A-N.”

“Kalau itu aku sudah tahu!” potong Hyewon sebal.

“Lalu?!”

“Maksudku untuk apa kalian tawuran disini!”

“Heh, dengar ya perempuan, kalau bukan karena sekolah Shinhwa yang menyerang sekolah kita duluan, tidak akan terjadi hal seperti ini.”

“Jangan panggil aku ‘perempuan’, aku punya nama! namaku Kang Hyewon!”

“Ok, ok, Hyewon. Sekarang aku ingin bertanya padamu, sedang apa kau disini?” Jonghyun berusaha setenang mungkin, “Jam pulang sekolah kan sudah dari tadi! Kau tahu kan, berada di tengah keadaan seperti ini benar-benar berbahaya? kau bisa mati disini! Atau kau bisa diculik dan dijadikan sandera oleh Shinhwa. Pada akhirnya, yang repot itu kami!” ceramah Jonghyun membabi-buta, tidak santai sama sekali.

Hyewon terdiam. Dia masih agak was-was dengan keadaan di sekelilingnya. Setelah tenang, dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Aku tadi minta izin pulang dari pelajaran tambahan karena kepalaku sakit. Dan sekarang, kepalaku jadi makin sakit melihat tawuran ini!”

Jonghyun tertawa mendengarnya. Tapi kemudian tawanya terhenti ketika dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.

“Jonghyun! Awas!” teriak Hyewon.

Dengan sigap, Jonghyun menghindari ayunan pentungan dari arah belakangnya. Dia membalikkan badan dan menatap tajam ke arah orang yang baru saja ingin membunuhnya dengan pentungan itu. Wajah orang itu tidak kelihatan, karena tertutupi oleh topi dan orang itu jelas-jelas mengenakan seragam sekolah Shinhwa.

“Berani sekali kau!” amarah Jonghyun meledak, “Apa kau tahu kalau memukul dari belakang adalah tindakan yang pengecut! kalau mau, ayo kita selesaikan secara gentleman!”

Baru saja Jonghyun mengambil ancang-ancang untuk membalas serangannya, orang itu mengangkat topi yang menutupi wajahnya, kemudian tersenyum sinis.

“Halo, Kim Jonghyun. Senang berjumpa denganmu.”

Jonghyun membelalak begitu tahu siapa orang itu. “Sial… Mati saja kau, Son Dongwoon!” dia langsung melayangkan bogemnya ke pipi si orang bertopi yang bernama Dongwoon itu, membuat tubuh Dongwoon terhuyung ke belakang dan nyaris terjungkal. Namun dia berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan berbalik menyerang untuk Jonghyun. “Heh… kau yang mati!!” teriaknya.

Dengan cekatan Jonghyun memasang kuda-kuda dan bersiap untuk melakukan atraksi yang keren, namun sebuah balok kayu sudah menghantam tengkuk Dongwoon terlebih dahulu. Dongwoon langsung jatuh pingsan dengan posisi tertelungkup.

“Hai, maaf kalau aku mengganggumu.” Minho menyeringai dan mengayun-ayunkan balok kayunya yang baru saja dibuat memukul Dongwoon. Dia menendang-nendang tubuh Dongwoon yang sudah tergeletak tak berdaya di atas tanah. Setelah itu dia memandangi Jonghyun dan Hyewon bergantian.

“Kau bawa lari saja perempuan itu, Jjong. Biar bagian sini kami yang mengurusi.”

Jonghyun mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi dia menyambar lengan Hyewon dan menariknya pergi sebelum gadis itu sempat berkata apa-apa.

“Eh—kau mau membawaku kemana?!” protes Hyewon.

“Sudah jangan banyak bicara! Aku sedang menyelamatkanmu, tahu.”

Mereka berdua terus berlari dan berlari, melewati jalanan, hingga akhirnya sampai ke sebuah jalan yang terletak di belakang sekolah mereka. Jonghyun mendudukkan tubuhnya di atas trotoar dan mengatur nafasnya.

“Siapa itu tadi?” Tanya Hyewon dengan bibir yang sudah mulai memucat karena kecapekan sehabis berlari.

“Hah? Kau bertanya tentang siapa?”

“Itu, anak yang menyerangmu dari belakang tadi. Kau mengenalnya?”

“Oh, Dongwoon? Tentu saja kenal! Dia pentolan sekolah Shinhwa, anak kelas dua.” Jonghyun mencibir, “Juga musuh bebuyutanku…” Volumenya dikecilkan ketika mengatakan hal yang terakhir itu.

“Oh, ya ampun!” Hyewon memasang tampang takjub, “Hello…, kau tahu? kau baru sebulan resmi menjadi murid sekolah ini dan kau pun masih duduk di kelas satu, tapi sudah berani terlibat tawuran seperti tadi! Setidaknya bersikaplah layaknya pelajar normal sepertiku.”

Jonghyun mendengus, “Sudah, jangan menceramahiku!” kemudian, karena penasaran dia melirik badge yang dikenakan Hyewon, “Kau anak kelas 1-A?”

Hyewon mengangguk. “Ya, dan kau anak kelas 1-B ‘kan? asal kau tahu, kelasku itu persis di sebelah kelasmu. Benar-benar sial!”

Jonghyun baru saja ingin membalas perkataan Hyewon, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. Jika Minho baru saja membuat Doongwon, si pentolan Shinhwa— jatuh pingsan, itu artinya…

“Hyewon! Cepat sembunyi disitu!” teriak Jonghyun tiba-tiba sambil menunjuk ke arah bak sampah berukuran besar di pinggir jalan.

“Hah? Wae?” Tanya Hyewon heran.

“Sudah, jangan banyak protes! Cepat!” Jonghyun mendorong gadis itu ke balik bak sampah, begitu juga dirinya. Mereka terus bersembunyi disana sampai mereka bisa mendengar langkah-langkah kaki yang mendekat. Beberapa detik kemudian, Siswa-siswa Shinwa muncul dari balik tikungan dan berjalan melewati tempat persembunyian mereka dengan tampang kusut.  Beberapa orang terlihat sedang memapah temannya yang luka-luka.

Sorak-sorakan riuh pun terdengar dari gerbang depan SMA Seuta.

“Apa yang terjadi?” Tanya Hyewon setengah berbisik ketika orang-orang Shinhwa itu sudah berlalu, takut kehadirannya diketahui.

“Sekolah kita menang tawuran. Mereka pergi—mungkin gara-gara si Dongwoon pingsan. Yeaaah… kita menang! Woohoo…!!” Jonghyun langsung berdiri dan berteriak lantang-lantang, seolah ikut merayakan kemenangan teman-temannya. Hyewon hanya memandang heran ke arahnya.

“Ya sudah, Aku pulang ya. Sudah sore!” Hyewon bangkit, membersihkan debu di roknya dan berbalik pergi. Dia berjalan meninggalkan Jonghyun yang masih lompat-lompat kegirangan.

“Hei! Kau tak berterimakasih padaku? aku kan baru saja menyelamatkanmu!” Jonghyun berteriak ke arah Hyewon. Sebal juga karena dia ditinggalkan begitu saja.

Hyewon berbalik dan memutar matanya, “Biang keladinya kan kau! untuk apa aku berterimakasih?” dan setelah itu, dia melanjutkan langkahnya dan pergi begitu saja.

Jonghyun hanya mengangkat bahu. Lalu dia memutuskan untuk kembali ke sekolah, dan menghampiri teman-temannya yang tengah merayakan kemenangan mereka di depan gerbang sekolah.

______________

To Be Continued

______________

wow… masih bikin bingung n nggak nyambung ya? tunggu aja part berikutnya~

jgn lupa kunjungi blog saya ya, ‘lazywonderland.wordpress.com’ atau klik  disini (ya ampun, promosi… khukhukhu)

komen, please?

biar saya cepet ngelanjutinnya nih… haha…

Advertisements

10 responses to “Lifetime [part 2]

  1. Ya Jjong! bener2 badboy kamu disini ckckck
    lanjutkan!! awas kalo mpe kalah gua gebuk ntar /dzig
    eh tapi cepet tobat denk, daripada ntar masuk neraka, mending jadi playboy aja Jjong #samaajajeleknya haha

    Lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuut hehe 🙂

  2. wah wha, jjongpa =,=”
    baru juga kelas 1 sma udah berani2nya ikut2an tawuran, ckckckckck
    tapi untung dirimu kagak apa2, kalo kagak aku yang repot #lah? XDDD
    nice part 🙂
    ayo lanjut ;), kkk

  3. huwaaa tawurannya ngeri amat
    untung jjong ama yg laen gak knapa” #bersyukur

    wakaka jjong debat teruz ama si hyewon
    hyewon bertrima kasih dong dah diselamatin!

    naiz part unn!!

  4. waduuhh itu yang tawuran kok cakep” semua..
    ada donghae,kyuhyun,siwon,jonghyun,minho..masih jg ketambahan dongwoon..
    aaahhhh mubazir bgt kLo mereka sampe kenapa” haha Lebay dhe…>,<
    Gud Job thor…seru..^^

  5. wekeke- aku waton baca pdhl part 1nya aja belum baca :p
    kayakny ceritanya asik– knp jjong pasti jadi anak badboy ya di ff, gr2 muka bengalnya kah (?) wakakaka-
    lanjut yaaaa 😉

  6. Mianhae baru comen, author.. 🙂
    Karna aku ol di hp dan susah coment..

    Keren..!
    Tapi si jjong kan dikasih kesempatan agar dia bisa ngerubah sifat dia..
    Kok jadi berandalan lagi..
    Tapi, menurut tebakan aku, nanti dia tobat.. *sok tau*

    Lanjut, author..
    Jangan lama-lama, thor.. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s