Mannequin girl (Cold as You) Part 8

Author : mumuturtle

Title     : Mannequin girl (Cold as You)

Genre  : romance

Rating : G

Length : on going…..

Cast     :

  • Kim Min Hwa
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Choi MinHo (SHINee)
  • Kim Ki Bum (SUJU)

Other casts      : temukan sendiri…!

Disclaimer       : cerita ini hanya fiksi, apabila ada character atau plot yang sama, saya                                  mohon maaf. But, this is pure my imajination. Hope you enjoy this story…

Hadehh… sub judulnya (nunjuk-nunjuk judul diatas) kayaknya maksa banget ya… biarlah.. yang penting ceritanya. Sebelumnya author minta maaf kalo disini latar waktunya dicepetin…

annyeong reader…ff series ini kembali lagi. jujur author agak kecewa karena comment yang kemarin sedikit.. author minta banget apresiasi dari kalian karena jujur akhir-akhir ini author agak males bikin ff..jadi biar mengembalikan semangat author mohon commentnya ya…well happy reading..

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Taemin POV

Aku berjalan dengan santai hendak menuju kelasku. Ditanganku kini terdapat beberapa buku yang Park seongsaenim suruh tadi.

Aku berlalu begitu saja dihadapan segerombolan namja dan juga yeoja yang sedang membicarakan entah apa. lalu aku mendengar mereka menyebut minhwa. Aku menghentikan langkahku dan berusaha memfokuskan pendengaran ku. sebenarnya aku tak bermaksud untuk mengupin pembicaraan mereka. aku hanya penasaran saja, apa yang mereka bicarakan tentang minhwa.

”ne, aku benar-benar tak percaya jika ternyata minhwa itu memang seperti itu. kurasa hanya gosip karena wajahnya yang memang cantik, tapi ternyata… dia busuk.” ujar seorang yeoja yang disambut dengan anggukan persetujuan dari teman-teman lainnya.

Mwo? Ada apa dengan minhwa?

”er… chogi, ada apa dengan minhwa?” tanyaku pada mereka. mereka menatapku heran.

”itu ada berita bahwa minhwa itu oplas.” jawab namja yang berdiri disampingku.

”ya! lee taemin, untuk apa kau menanyakan itu? kau ada hubungan dengan minhwa? Kau kan terkenal di sekolah ini kau bisa mencari wanita yang jauh lebih baik dari dia.” ujar namja lain didepanku yang ku tak tahu siapa itu.

”ahaha… aniyo. Err… keundae, dimana berita itu?”

”di mading utama sekolah ini.”

Aku manggut-manggut mengerti dengan jawaban mereka. setelah itu aku langsung berterima kasih pada mereka atas informasi yang mereka berikan dan melanjutkan perjalanku.

Aku jadi ingin melihat sendiri berita itu.

MWO??!!

Mataku membelalak saking terkejutnya saar membaca berita itu. siapa yang tega menyebarkan fitnah keji seperti itu? minhwa pasti sedih sekali mengetahui berita ini. apa lagi semua siswa kini jadi membicarakannya.

Aku berbalik dan meninggalkan papan masing itu. aku harus ke kelas sekarang mungkin nanti pulang sekolah aku bisa menemuinya.

”apa kau tak cukup membuatku menderita dengan boneka busukmu itu? memang aku salah apa padamu? Apa kau sebegitu membenciku, sampai kau menyebar fitnah itu? huh?”

”mwo? Apa maksudmu?”

”cih… kau pura-pura tak tahu? Nappeun namja!”

”tentang boneka itu. mianhae, aku benar-benar lupa soal itu. tapi fitnah itu, bukan aku yang melakukannya.”

Ditengah perjalanan aku mendengar ribut-ribut. Kulihat hal itu juga sampai menyita perhatian banyak orang. Aku berjalan mendekat ke arah sumber keributan itu. aku berjinjit berusaha melihat siapa yang sedang bertengkar.

Minho hyung? Minhwa? Apa yang sedang mereka pertengkarkan?

”simpan saja maafmu itu. aku tak membutuhkannya.”

Kulihat minhwa berjalan cepat meninggalkan minho hyung yang masih terpaku ditempatnya. Minhwa merobos begitu saja kerumunan siswa-siswa yang semula menikmati pertunjukan itu.

”fitnah apa sebenarnya?” kudengar minho hyung menggerutu sendiri. Aku berjalan mendekatinya.

”seperti yang kuduga, fitnah itu sangat nyakitkan untuknya.” ujarku yang kini berada dibelakangnya. Ia lantas memutar kepalanya menatapku. Aku balas menatapnya, dan kini mata kami beradu pandang.

”kau tahu?” tanyanya dengan nada yang datar seperti biasa, atau mungkin tak biasa sekarang karena semenjak ada minhwa ia seperti bisa menunjukkan ekspresinya.

”sudah tersebar diseluruh siswa. Ada di mading utama, kau bisa melihatnya hyung.” ujarku dan menunjuk kearah belakang.

Ia masih menatapku dengan tajam. Aku menyunggingkan senyumku padanya dan berlalu dari hadapannya.

Mungkin aku terlihat sangat serakah dan egois karena aku merasa sedikit senang saat melihat kemarahan minhwa pada minho hyung. Walaupun aku sering melihat mereka bertengkar, tapi aku bisa melihat dari mata minho hyung bahwa ia mencintai minhwa. Tapi akan tak seru juga jika tak ada saingan kan?

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Minhwa POV

Aish… pikiranku benar-benar kacau saat ini! belum selesai aku mengatasi satu hal, masalah lain sudah datang begitu saja. Choi minho! Aku tak akan memaafkanmu atas perbuatanmu yang sudah keterlaluan itu.

Aku menaiki beberapa anak tangga hendak memasuki toko buku tempatku bekerja.

Krriiinnggg…

Bel berbunyi saat aku membuka pintu toko tersebut. Aku menghela nafas panjang dan berjalan menuju ruang ganti.

”annyeong ahjuma!” sapaku dengan lesu pada ahjumma yang baru saja keluar dai gudang tempat penyimpanan stok-stok buku. Aku tak menghiraukan jawabannya dan langsung saja berjalan menuju ruang ganti.

Setelah aku berganti dengan seragam toko ini, aku lantas menuju sederetan rak untuk merapikan buku-buku yang tampaknya tidak beraturan.

”huffttt…” kembali kuhembuskan nafas untuk sekedar meredam perasaanku yang memang sedang bercampur aduk ini.

Tiba-tiba saja terbrsit dipikiranku tentang wanita bernama Marisha yang kuakui menjadi penyebab kehancuran keluarga ku. aku harap aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Entah sekarang perasaan kesalku pada appa juga meningkat, mengingat omma yang terus menangis karena kelakuan appa.

Aishh… ya! minhwa~ya, lupakan hal itu! kali ini kau harus fokus terhadap pekerjaanmu.

Tapi aku tak bisa! Kenangan itu masih saja mengelilingi otakku.

”omma, dua hari lagi aku berulangtahun omma!” kudengar suara anak kecil yang sepertinya tak jauh dari tempatku berdiri. Aku menolehkan kepalaku dan mendapati seorang anak yang sepertinya berumur 8 tahun sedang menarik-narik ujung baju ommanya.

Aku tersenyum melihat kelakuan anak itu. dulu aku juga seperti itu dengan omma.

”ne, kau mau minta apa sebagai kado ulangtahunmu?” tanya wanita paruh baya, atau lebih tepat ommanya.

Kulihat sang anak seperti sedang berpikir. Menimbang sesuatu yang tepat untuk dijadikan sebagai hadiah ulangtahunnya, sedangkan sang ibu sedang melihat-lihat barisan buku-buku yang ada dihadapannya.

”boneka! aku ingin teddy bear yang besar omma!” ujar sang anak dengan semangat. Ia membentuk lingkaran besar dengan kedua tangannya seakan melambangkan sebesar apa boneka yang ia inginkan.

Boneka?

”ne, omma akan mencari uang untuk membelikanmu. Otte?” sang ibu berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anaknya.

”hmm… gomawo!” sang anak mengangguk dengan samangat dan tersenyum lebar saking senangnya.

Tak terasa, ternyata aku sedari tadi memperhatikan sepasang anak dan ibu tersebut. Aku pergi menghindar dari mereka. aku mencari pojokan yang sepi untuk menyendiri.

Aku duduk dipojokan yang kurasa sepi. Aku memeluk kedua lututku dan mulai melayang ke alam bawah sadarku.

”Omma… bogoshipo!” gumamku dan air mata mulai mengalir dari sudut mataku.

*flashback mode on

Aku duduk disamping omma yang sedang asyik membaca sebuah tabloid. Aku menatap omma. Hufftt… sepertinya ia tak ingat jika beberapa hari lagi aku akan berulang tahun yang ke 13.

 

Aku hendak mengatakan beberapa kalimat untuk mengingatkannya pada ulangtahunku. Tapi kuurungkan niatku,melihat omma yang sudah sangat tenggelam dengan bacaannya.

 

”omma!” panggilku dengan suara yang pelan.

”hm?” belasnya dengan sebuah gumaman singkat.

”beberapa hari lagi aku akan ulangtahun.” ujarku dengan ragu. Kulihat ia menutup tabloid yang ada ditangannya dan menatap kearahku.

”ne, wae?” tanyanya dan tersenyum padaku. Ia mengusap lembut rambut panjangku. Aku mengerucutkan bibirku.

 

Kupikir ia akan bertanya apa yang kuinginkan. Ternyata ia memang benar-benar lupa akan ulangtahun anaknya.

 

Sesaat kemudian ia terkekeh. Aku melihatnya heran.

”araseo! Apa yang kau inginkan?” tanyanya. senyum lebar lantas mengembang diwajahku. Aku memutar bola mataku menatap langit-langit kamar. Memikirkan apa yang tepat.

 

”boneka, aku ingin boneka barbie yang cantik!” jawabku padanya. Ia mengangguk seraya mengerti permintaanku. Aku lantas memeluknya erat dan mengecup kedua pipinya.

 

*flashback mode off

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Air mata sudah mengalir deras dari pelupuk mataku. Aku menggigit bibir bawahku menahan agar isakan tangisku tak terdengar.

Aku melihat sepasang kaki yang berdiri dihadapanku. dan sebuah sapu tangan tersodorkan didepan wajahku. Aku mendongak menatap sosok yang berdiri dihadapanku ini. aku membelalakkan mataku terkejut melihatnya.

”taemin~ah!” lirihku. Ia hanya tersenyum dan kembali menyodorkan sapu tangannya lebih dekat dihadapan wajahku agar aku menerimanya.

Aku mengulurkan tanganku meraih sapu tangan itu.

”gomawo!” aku berterima kasih padanya dan mengusap air mata yang membasahi hampir seluruh wajahku.

Ia berjongkok menyamakan posisinya denganku. Aku menatapnya heran. Kenapa ia bisa ada disini? ya mungkin ia akan membeli buku, tapi bagaimana ia tahu jika aku sedang ada dipojokan sini? Ahh.. mungkin hanya kebetulan.

Lagi-lagi taemin harus melihat wajahku yang menangis.

”mengapa kau ada disini?” ujarku membuka pembicaraan karena sedari tadi ia hanya diam dan tersenyum menatapku.

”mwolla, aku hanya tiba-tiba merasa khawatir. Kau bisa menjelaskan kenapa aku bisa khawatir seperti ini?” tanyanya dengan mimik yang dibuat seperti sedang kebingungan.

Aku terkekeh melihat mimik wajahnya yang menurutku lucu. Ia juga tertawa kecil bersamaku. Aku merasa lebih baik sekarang.

Taemin~ah, bisa kau jelaskan kenapa aku selalu berdegup kecang saat berada bersamamu? Kenapa aku merasa jadi senang dan lebih baik saat melihat senyummu?

”ya! sudah merasa baikan?” tanyanya dengan nada yang lembut. Aku menganggukan kepalaku seraya tersenyum padanya.

”ya! tadi kau bilang baik-baik saja, tapi sekarang kau malah menangis seperti itu, huh? Lebih baik kau berbagi sedikit kesedihanmu padaku!” ujarnya.

Aku memalingkan wajahku. Berpikir apa aku memang harus bercerita padanya? Tapi selama ini ia selalu bisa menjaga setiap rahasiaku.

Berbagi sedikit kesedihanku?

Entah mengapa saat aku mendengar ia berkata seperti itu, seperti ada angin yang berdesr lembut disekitarku.

”aku… aku merindukan ommaku.” ujarku pada akhirnya. Aku ternyata memang tak bisa memendam semua ini sendirian.

”mworago?”

”ommaku meninggal dua tahun lalu.” aku tersenyum masam padanya. Raut wajahnya berubah seketika. Ia seperti merasa menyesal setelah menanyakan itu.

”mianhae.” ujarnya.

”gwenchana!” aku kembali menundukkan kepalaku dan menopangnya diantara kedua lututku.

”ya! tapi kau jangan bersedih seperti ini terus. Ommamu pasti akan ikut sedih. Kau harus tersenyum, agar ommamu tenang disana, karena kau baik-baik saja disini. araseo!” nasehatnya padaku.

Aku menatap matanya lekat. Saat ini kami sedang beradu pandang. Jantungku kembali berdegup kencang. Semoga saja ia tak bisa mendengarnya.

Aku sedikit heran padanya. Terkadang ia bisa bertingkah seperti anak kecil, kadang juga ia bisa sangat dewasa dan mengerti perasaan orang lain. Kurasa dia sangat peka terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini membuatku semakin mengangguminya.

”tersenyumlah!” ia menyentuh kedua pipiku dan menarik setiap ujung bibirku agar tersenyum.

”ehem!!” kami berdua dikagetkan dengan suara dehaman seseorang. Kami berdua melemparkan pandangan kami pada sosok paruh baya yang sedang berdiri sejauh satu meter dari tempat kami. Taemin lantas menarik kembali tangannya dan kami berdua berdiri seketika.

”mianhae, ahjumma!” aku menundukkan kepalaku takut jika nanti ahjumma akan memarahiku.

”taemin~ah, aku harus kembali bekerja. Gomawo!” aku langsung bergegas pergi meninggalkannya dan kembali ke pekerjaanku yang masih menumpuk.

Kulihat juga banyak para pengunjung yang sedang melihat-lihat buku. Dan tampaknya para karyawan lain sedikit kewalahan.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Aku memasukkan seragam toko ini ke dalam tasku. Yah, jam kerja sudah berakhir dan ini saatnya untuk pulang ke rumah dan beristirahat.

”dia pacarmu?” tanya ahjumma yang kini sudah berdiri didepanku. Ia berdiri tersenyum padaku dengan tangan yang terlipat.

”ahh… aniyo ahjumma. Ia hanya temanku.” sanggahku.

Ahjumma ini kenapa bisa menyimpulkan jika taemin itu pacarku? Memangnya terlihat seperti itu? aigoo…. pasti karena tadi sewaktu taemin bersamaku.

”jika pacar sudah tak masalah. Sepertinya ia anak yang baik.”

”gomawo ahjumma!” aku langsung menolehkan kepalaku ke arah kiri dan mendapati taemin yang sudah berada di sampingku.

Sejak kapan ia ada disini? kenapa ia masih ada disini? kupikir ia sudah pulang tadi. apa ia menungguku? Ah… minhwa~ya, jangan kegeeran dulu. tak mungkin jika taemin menunggumu. Hanya akan buan-buang waktunya saja.

”kau sudah mau pulang?” tanya taemin padaku. Aku hanya menganggukan kepalaku tak tahu harus berkata apa. Lalu entah untuk ke berapa kalinya taemin menyunggingkan senyumnya padaku hari ini.

”kami pulang dulu, ahjumma! Annyeong!” sapa taemin dan mulai menggandeng tanganku.

”annyeong ahjumma!” sapaku. Kulihat ahjumma hanya tersenyum tapi seperti menahan ketawanya. Aishh… ia pasti ingin sekali tertawa melihat taemin yang tiba-tiba datang menjemputku. Pasti besok ahjumma akan meledekiku habis-habisan. = =”

”taemin~ah, kenapa kau bisa ada disini?” tanyaku saat kami sudah sampai di hadapan motor yang ia parkir tepat didepan toko buku ini. ia memandangku dan menyerahkan helm nya padaku.

”menjemputmu!” ujarnya singkat dan tersenyum. kemudian ia menyalakan mesin motornya.

Aish… aku sangat heran dengan taemin. kenapa ia selalu tersenyum seperti itu setiap harinya? Apa ia tak pernah merasa sedih sekalipun? Mungkin taemin memang dilahirkan hanya untuk tersenyum.

Tapi tak bisa kupungkiri juga. Meski aku sudah berkali-kali melihat senyumnya itu, aku tetap saja akan terpesona.

”jadi… kau menungguku?” tanyaku lagi dengan ragu-ragu.

”sudahlah! Ayo cepat naik.” perintahnya.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

”gomawo taemin~ah!” ujarku berterima kasih pada taemin saat kami sampai didepan rumahku.

”cheonmaneyo!”

Aku hendak berbalik dan memasuki rumah karena kupikir taemin akan langsung pulang. Tapi ternyata tidak. ia memanggilku. Aku berbalik dan menatapnya dengan tatapan ’mworago?’.

”er.. soal berita disekolah, gwenchana?” tanyanya sambil mengusap bagian belakang lehernya.

Aku mendesah.aku sendiri tak tahu bagaimana perasaanku setelah berita-berita fitnah itu.

”mwolla, aku tak ingin membahasnya!” ujarku. Kulihat ia hanya tersenyum masam. Seperti ada perasaan kecewa karena telah menanyakan hal itu padaku.

”baiklah, aku pulang! Annyeong, jalja!” sapa taemin dan kemudian ia menyalakan mesin motornya. Ia menutup kaca helmnya dan tersenyum padaku.

”annyeong, jaljayo!”

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Aku memasuki rumah dengan lesu. Berkali-kali aku menghembuskan nafas, dan berkali-kali aku berdecak kesal. Kulihat ruang tamu yang kosong. Tak ada orang sama sekali disana kecuali aku. Apa semuanya sudah tertidur?

Aku lantas memutuskan untuk langsung kekamar.

Clekk…

Aku membuka pintu kamar itu.

Lalu aku dikejutkan saat sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku langsung menoleh ke arah belakang dan melihat oppa yang sudah berdiri dihadapanku.

”oppa! Kau mengagetkanku!” bentakku padanya. Ia menyeka matanya dengan punggung tangannya sembari menguap lebar.

”ya! berita disekolah itu, benarkah?” tanyanya kemudian.

Aku membelalakkan mataku seketika. Apa-apaan oppa ini? apa ia lebih percaya dengan fitnah itu ketimbang dengan adiknya sendiri?

”mwo?! Kau tak percaya dengan adikku sendiri, huh!” bentakku dengan suara yang sedikit kutahan, mengingat nenek pasti sudah tidur jam segini.

”ani, bukan begitu! Hanya saja, semua orang membicarakanmu. Bahkan guru juga. Tapi kau tak apa kan?” jelasnya.

”ne, gwenchana!” ujarku dan langsung memasuki kamarku. Aku menutup pintu itu segera dan segera merebahkan tubuhku ke ranjang yang sudah menungguku.

Aishh… apa-apaan hari ini? kenapa aku sangat sial hari ini? hari terburuk yang pernah kutemui!

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

”ya! ternyata dia masih berani bersekolah disini!”

”ne! Dasar wanita jalang!”

”dasar boneka! apa bisa aku membelinya? Untuk hadiah adikkku yang berumur satu tahun!”

”hahahahahaha!!!”

Kudengar suara-suara yang terus saja mencemoohku. Setiap kali aku berjalan di bangunan sekolah ini, siswa lain pasti langsung saja melemparkan cemoohannya padaku.

Dan lebih parahnya, sudah seminggu berturut-turut hal ini berlangsung.

Sebenarnya apa mau mereka sih?

Terlebih lagi minho, ia seperti seakan pura-pura tak tahu kejadian ini. ia terus saja meminta maaf atas kiriman bonekanya itu. tapi kejadian yang satu ini? ia bahkan tak mau mengakuinya. Cih… memang namja menyebalkan.

”minhwa~ya!” seseorang menepukku dari belakang. Aku berbalik dan mendapati taemin dihadapanku.

”mau kekantin?” tanyanya.

Aku berpikir sejenak. Tak memungkinkan bagiku untuk ke sana. Yang ada mungkin telingaku semakin dipenuhi dengan cemoohan mereka.

”aku tak yakin akan kesana.” ujarku datar. Aku menatapnya sayu. Ia juga menatapku dan sepertinya ia kasihan padaku.

Ya, memang aku pantas sekali di kasihani. Aku merasa seperti besi berkarat yang berjalan ditengah-tengah kerumuanan berlian yang bersinar indah. Aku hanya seperti bunga layu yang bertengger ditengah bunga-bunga yang baru saja bermekaran.

”kajja!” ia menarik tanganku agar aku mengikutinya.

Aku tak memberontak dan hanya mengikutinya. Kami memasuki kantin yang ramai oleh siswa-siswa yang sedang kelaparan atau hanya sekedar mencari tempat untuk bergosip ria.

Saat aku memasuki kantin itu, tiba-tiba semua mata tertuju padaku. Aku merasa seperti aku ini domba yang dengan beraninya masuk ke kandang harimau. Salah satu dari mereka mulai mencemoohku.

Kurasakan tangan taemin yang menggenggamku semakin erat, seakan berusaha membuatku agar aku tetap tegar. Tapi aku tak bisa memungkiri jika aku memang sangat kesal dan marah dengan perlakuan mereka. mereka sudah sangat keterlaluan.

Aku mengepalkan tanganku yang lain sembari menahan emosiku.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Minho POV

Kantin yang semula ramai tiba-tiba menjadi hening saat seseorang memasuki kantin ini. aku mengedarkan pandanganku menatap orang itu. aku melihat taemin dan minhwa yang baru saja masuk dan berdiri mematung di ambang pintu. Mereka bergendengan tangan.

Aku merasa seperti aku terbakar api. Sangat panas rasanya.

Kudengar salah seorang murid di sini mulai melontarkan cemoohannya pada minhwa seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini. aku menatap lelaki yang mencemooh minhwa itu dengan tatapan kesal.

Aku menggenggam sumpit yang ada ditanganku semakin erat. Kurasakan rahangku juga mangeras menahan setiap emosiku.

”kau ingin membantunya?” tanya jonghyun yang duduk dengansantai dihadapanku. aku menatapnya tajam.

”percuma. Ia selalu menghindar dariku dan tak mau menerimaku di dekatnya.” ujarku.

Sebenarnya aku sangat ingin melangkah mendekati lelaki itu dan menghajarnya karena telah melecehkan minhwa. Tapi aku tak bisa. Minhwa selalu saja menghindariku. Setiap aku mencoba berbuat baik padanya, ia pasti hanya akan menyindirku dan menuduhku yang tidak-tidak.

”YA!!” kudengar minhwa berteriak. Aku sontak menatapnya yang kini berada dua langkah didepan taemin.

”sebenarnya apa yang kalian mau, huh? Apa kalian tak puas selalu mengejekku? Apa yang kalian inginkan?” teriak minhwa dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Apa yang ia lakukan sekarang? apa ia benar-benar akan menyerahkan diri pada harimau yang sedang kelaparan?

”jika kami ingin kau berdiri di toko-toko, kau mau?”

”jika kami ingin membuang boneka jelek sepertimu, kau mau?”

”kau ingin menarik perhatian setiap namja, kan? Bagaimana jika aku ingin menghabiskan malam denganmu? Kau mau?”

Mendengar perkataan seseorang yang terkhir tadi membuatku semakin geram. Aku sudah takbisa menahan emosiku. Aku menghentakkan kepalan tanganku ke meja dan berhasil membuat suara gaduh. Aku berdiri dengan cepat, dan semua mata tertuju padaku termasuk minhwa.

”ya! minho~ya, tenanglah! Kau hanya akan membuat masalah semakin besar!” ujar jonghyun yang berusaha menenangkanku.

”aku tak bisa!” ujarku pada jonghyun, namun mataku beradu pandang dengan minhwa.

”jika kalian ingin aku menjadi boneka seperti yang kalian inginkan…….” minhwa menggantungkan kalimatnya. Aku menatapnya tajam, kulihat ia menghela nafas. Apa yang akan ia lakukan?

”AKU AKAN MELAKUKANNYA!!” ujar minhwa pada semua orang yang ada disini. tapi ia seakan hanya berbicara padaku. Karena matanya terus menatapku menusuk.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Minho POV

Aku memasukkan bola basket dengan kesal ke dalam ring.

Wushh….

Bola itu dengan mulusnya masuk ke dalam lubang diatas. Aku masing kesal dengan kejadian di kantin tadi. bukan apa-apa. hanya saja, aku tak habis pikir dengan apa yang ada dijalan pikirannya boneka itu.

Apa benar ia akan melakukan itu? apa ia sudah gila? Apa ia tak punya otak seperti halnya boneka yang sesungguhnya?

Haish… kurasa dia sudah gila. Tak hanya atas kejadian tadi. aku juga sudah tak nyama terus seperti ini dengan minhwa. Ia yang selalu menghindariku dan menuduhku atas perbuatan yang sama sekali bukan perbuatanku. Minhwa selalu saja diam padaku sementara ia selalu bisa tersenyum manis dan melepaskan penatnya bersama taemin. apa memang aku sama sekali tak ada dimatanya?

”wae geurae?” tanya jonghyun sembari menepuk bahuku.

”ani!” aku berlari untuk mendribel bola kemudian melakukan lay out.

”ya! aku tahu dari permainanmu itu kau sedang kesal.” ujar jonghyun.

Aku tak menggubrisnya. Aku tetap fokus pada bola basket yang kini ada ditanganku. Berkali-kali aku melempar bola basket itu ke dalam ring, dan berkali-kali pula suara berdencit terdengar saat bola itu menyentuh ring.

Jonghyun tiba-tiba datang dan merebut bola yang sedang kudribel dengan mudah. Ia membanting bola itu keras ke lantai.

”ya! marah-marah seperti ini tak akan bisa membantunya! Ingat! Kau ini kapten basket choi minho, kau mau menelantarkan tim-mu?” bentaknya padaku.

”mianhae! Aku pulang duluan, urusan tim kuserahkan padamu.” ujarku dan berjalan gontai. Aku mengambil tasku yang ada ditepi lapangan dan keluar dari indoor ini.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Minhwa POV

Aku membuka perlahan mataku dan mengerjapkannya dengan cepat. kusibakkan selimut yang menutupiku dengan kasar. Aku menyeka mataku dengan punggung tanganku. lalu aku beranjak menuju kamar mandi.

Aku menyalakan keran air yang ada diwastafel. Ku basuh wajahku dengan kasar berkali-kali. Lalu kutatap bayangan diriku pada cermin di atas wastafel.

”minhwa yang baru telah datang.” gumamku pada bayangan diriku seraya menyeringai setelah itu. aku mengeringkan wajahku dengan handuk yang tersampir di dekat wastafel dan segera bersiap untuk ke sekolah.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Taemin POV

Setelah kuparkirkan motorku, aku lantas berjalan menuju gedung sekolah. aku membenahkan posisi tas yang menyampir di bahuku.

Seorang yeoja berjalan cepat disampingku. kini ia sudah berada satu meter dihadapanku. aku menatap gadis itu meneliti.

Apa itu minhwa? Kenapa ia berlalu begitu saja melewati ku?

Kupercepat langkahku berusaha menyusul minhwa yang sudah jauh didepanku.

”annyeong minhwa!” sapaku saat aku telah berada disampingnya. Ia menghentikan langkahnya sejenak begitu juga denganku. Ia menatapku tajam, sementara aku tersenyum padanya seperti biasa.

Ia tak memjawab sapaanku dan malah melanjutkan jalannya dengan lebih cepat meninggalkanku.

Ada apa dengannya? Kenapa ia terlihat sangat ketus? Tatapannya itu tak seperti yang biasanya.

Atau jangan-jangan ia serius dengan perkataannya kemarin?

”jeongmalyo?”

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Minho POV

Aku mengambil buku kimia yang ada didalam tasku. Membuka halaman buku tersebut dan membacanya. Jika saja nanti tak ada ulangan, aku akan sangat malas untuk membaca buku ini. terlebih lagi semalam aku tak bisa belajar karena rumah sangat ramai dengan teman-teman omma.

Ceklekk…

Pintu kelas terbuka. Pandanganku teralih pada sosok yeoja yang memasuki kelas ini. aku menatap yeoja itu, atau lebih tepatnya minhwa. Seperti biasa ia langsung duduk disampingku. ia mengambil buku kimia dan langsung membacanya, sama seperti yang kulakukan tadi.

Mungkin ini saat yang tepat untukku meminta maaf padanya dan mengklarifikasi tentang fitnah itu.

”minhwa~ya!” panggilku. ia tak bergeming dan tetap fokus pada buku dihadapannya. Kurasa ia memperbolehkanku untuk melanjutkan perkataanku.

”mianhae, aku tau aku salah karena telah mengirimimu boneka itu dan soal fitnah itu… aku berani bersumpah jika yang menyebarkannya bukan aku.” ujarku sambil membentuk tanda V dengan kedua jariku.

Ia masih tak bergeming dan hanya menatap bukunya.

”minhwa~ya!” panggilku lagi.

”minhwa~ya, mi……”

”kau berisik sekali.” ujarnya dingin memotong pembicaraanku. Ia menutup bukunya dan bergegas pergi keluar dari ruang kelas ini.

Aku menatap kepergiannya.

Ada apa dengannya? Kenapa ia jadi seperti itu padaku? Bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Dan juga, sejak kapan ia jadi lebih dingin dari pada aku?

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Donghae POV

Dimana ya buku itu?

”sastra korea, sastra korea, sastra korea…” aku terus menyebutkan buku yang ada cari sambil menelusuri deretan rak buku diperpustakaan ini.

Aish… kemana buku itu.

”auww!!” pekikku ketika seseorang menginjak kakiku. Aku mengerang kesakitan. Kutatap orang yang menginjak kakiku tadi.

”minhwa?” panggilku ketika mengetahui bahwa yang menginjak kakiku adalah minhwa. Apa yang ia lakukan diperpustakaan sepagi ini? kulihat ditangannya ia membawa sebuah buku kimia.

”kau mau belajar? Mau kubantu?” tanyaku padanya. Ia diam seperti sedang berpikir. Mungkin menimbang-nimbang tawaranku barusan.

”kau bisa menjamin nilaiku sempurna?” tanyanya sambil menarik salah satu ujung bibirnya. Aku menautkan kedua alisku. Aku tak pernah melihat minhwa tersenyum licik seperti ini. ada apa dengannya?

”er… itu…”

”jika kau tak bisa menjamin sebaiknya kau tak usah menawariku!” ujarnya ketus dan berlalu begitu saja dari hadapanku.

Aku menatapnya yang sedang berjalan dan duduk di sebuah meja. Aku benar-benar heran dengan sikapnya. Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya sangat ketus seperti itu?

Apa jangan-jangan gosip yang tersebar itu benar?

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Hye Jin POV

Saat istirahat…

”ya! jonghyun~ah, bagaimana jika nanti kita jalan-jalan?” tanyaku pada jonghyun yang kini tengah membelai rambutku. Ia menatapku dan berpikir sejenak.

”ok! Mau kemana?” tanyanya sembari menyunggingkan senyumnya. Hah, entah mengapa aku selalu meleleh dibuatnya jika melihat senyuman mautnya itu.

”er… terserah kau saja, asal bersamamu!” ujarku yang kini balas menggombalinya. Karena biasanya ia yang selalu menggombaliku.

”minhwa~ya! mau bergabung?” ujarku saat melihat minhwa yang tengah berjalan didepan kami, (aku dan jonghyun). ia menghentikan langkahnya dan menatapku. Ada apa dengan dirinya. Tatapannya sinis sekali.

”tapi aku tak mau menjadi setan diantara kalian.” ujar minhwa ketus dan berlalu begitu saja.

Aku mengerutkan dahiku dan menatap jonghyun. jonghyun juga menatapku dengan tanda tanya besar.

”ada apa dengannya?” tanyaku sembari menggelengkan kepalaku.

”ternyata benar yang dikatakan minho barusan.”

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Minhwa POV

Aku mengambil tempat duduk di pojok. Tempat duduk yang kosong dan sepi.

”kau sendirian minhwa~ya?” tanya seseorang yang tiba-tiba datang. Aku mendongak dan menatap ki bum oppa dan donghae oppa yang sekarang sudah mengambil tempat dihadapanku.

”apa aku sudah bilang kalian boleh duduk disini?” tanyaku berusaha ketus pada mereka.

”eung? Minhwa~ya, kau kenapa?” tanya ki bum oppa. Sepertinya ia baru menyadari jika ada yang berbeda dengan adiknya hari ini.

”ne, sikapmu tadi terhadapku juga….”

”dingin?” aku memotong perkataan donghae oppa. Ia mengangguk diiringi dengan seringaianku.

”ada apa dengan mu? Apa gosip itu memang benar? Kau ingin mengikuti mereka? apa kau juga mesti melakukan ini dengan oppamu?” tanya ki bum oppa bertubi-tubi padaku.

Aku melayangkan tatapan menusuk padanya. Ya, memang benar oppa. Aku ingin mengikuti mereka, karena aku tak ingin mereka terus melecehkanku. Jika dengan ini bisa membuat mulut mereka bungkam, aku akan melakukannya meski kenyataannya sungguh menyakitkan. Sangat menyakitkan harus menjadi sesuatu yang sangat kubenci.

”bukan urusanmu oppa!” jawabku singkat.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Aku meletakkan buku-buku baru di sederetan rak-rak yang menyimpan buku new release dan melayani pembeli dengan sebaik mungkin. Meski aku harus mendapat celaan beberapa kali oleh para pelanggan karena aku tak bisa dengan ramah melayani pembeli.

Tapi mau apa lagi? Seperti inilah hidupku sekarang. harus menjadi seseorang tanpa hati dengan terpaksa. Tentu saja aku terpaksa. Jika tidak tentu saja aku tak mau melakukan ini. tapi aku juga tak mau mendengar setiap cemoohan mereka lagi. Hal itu sudah sangat menyakitkan ditelingaku.

”minhwa~ya, apa kau sakit?” tanya ahjumma saat aku hendak pulang.

”ne.” jawabku singkat. Dan melangkan pergi meninggalkan taoko buku itu.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Aku memasuki rumah dengan gontai. Badanku capek sekali. rasanya seperti tulangku patah semua.

Aku melihat oppa yang sedang duduk di ruang tamu. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Aku tak mempedulikannya dan langsung berjalan menuju kamarku.

”ya!” ia menarik tanganku saat aku hendak membuka pintu kamarku. Aku menoleh dan menatapnya.

”kau serius akan melakukan ini?” tanyanya. apa maksudnya melakakukan keinginan mereka itu? untuk apa sih dia menanyakan hal ini lagi. Kurasa tadi sudah cukup jelas untuknya.

”ne. Wae?”

”ya! jika kau muak mendengar setiap celaan mereka, jika kau ingin mereka tak lagi mncemoohmu, kau tak harus melakukan ini! kau pikir dengan ini kau bisa menyelesaikan semuanya?” bentaknya padaku.

”kau tak usah repot-repot mengkhawatirkanku oppa.” ujarku datar dan berusaha melepaskan genggamannya. Namun ia malah memperkuat genggamannya dan berhasil membuatku meringis kesakitan.

”aku ini oppamu! Sampai kapan kau akan seperti ini? kapan kau akan berhenti? Aku tahu ini semua justru semakin menyiksamu kan?” bentaknya lagi. Aku menghela nafas panjang.

”mwolla, mungkin aku tak akan berhenti. Tersiksa atau tidaknya diriku, itu masalahku oppa!” ujarku dan tersenyum sinis pada oppaku. Aku menghempaskan tanganku ke udara. Setelah tanganku berhasil terlepas dari genggaman kuat oppa, aku lantas membuka pintu kamar dan membantingnya.

TBC

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

p.s        : aigoo!!! Ceritanya semakin gak jelas kayaknya. Bagian akhirnya gj…Mianhae!! *deep bow… tapi aku berharap kalian gak akan bosen sama ceritanya dan terus mengikuti cerita yang gak jelas ini. dan semoga part selanjutnya dapat memberi kejutan untuk para readers… jangan lupa untuk COMMENT ya!! apapun kritikan, saran, keluhan akan ditampung disini… gomawo

Advertisements

19 responses to “Mannequin girl (Cold as You) Part 8

  1. Aishhh…minhwa kenapa jadi dingin gitu? Sebenernya siapa sii yang nyebarin klo minhwa itu oplas???
    Penasarannnn!! Lanjut chinguu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s