[FREELANCE] HANDSOME or STUPID (?) [forgive me oppa] part 1


Tittle: Handsome or Stupid ? forgive me oppa (sequel of without electric)

Author: Gija Park/Park Eunhye

Main Cast: Park Eunhye (Ocs), Onew (shinee), Minho (shinee)

Genre: Romantic

Rating: PG+13

Length: ficklet n oneshoot gak jadi, jadinya short story haha

Disclaimer: cerita ini keluar dari otak erorku, yang ngetik aku, jadi semuanya punyaku kecuali SHINee

NB: ini janji aku buat bayar utang gara-gara kebingungan kalian pas baca FF yang kemarin (WITHOUT ELECTRIC), tadinya Cuma mau jelasin doank eh ternyata malah bikin konflik yang baru hehe/plak.

Judulnya aku ganti juga, klo pake judul itu harus ada NC lagi (pikiran yadongku ketinggalan di hutan haha).

Yang belum baca WE bisa baca disini

http://blingblingeunhye.wordpress.com/2011/01/07/without-electric/#more-75

Ok! Langsung baca aja ya, mianhamnida klo ceritanya garing dan ngbosenin hehe.

___________________________

Onew POV

Malam ini eunhye masih berada dalam dekapanku, ia tertidur lelap sekali wajahnya terlihat bahagia seperti putri salju yang mendapatkan pangeran impiannya tentunya aku keke. Aku terkekeh kecil hingga aku sedikit mengusik tidurnya, kemudian aku menenangkannya lagi. tapi aku harus meninggalkannya lagi besok, sulit untukku meninggalkannya dalam keadaan seperti ini ketika ia tau bahwa aku bukan oppanya.

~flashback~ [tetep onew pov]

Hari ini appa dan umma mengantarku kesekolah, biasanya hanya ummaku atau appaku saja yang mengantar tapi kali ini tidak. Maksud tujuan mereka kesekolah ialah ingin menitipkanku beberapa hari di asrama (anggap sekolah ini ada asramanya) hawatir karna aku masih kelas 5Sd. Tentunya karna mereka sayang padaku. Appa dan umma harus menghadiri acara penting dan beberapa pertemuan dengan relasi mereka di luar kota untuk beberapa hari. Mereka mengecup keningku dan berjanji akan menjemputku ketika mereka tiba di seoul.

***

“huaaaah asiiiik hari ini appa dan umma pulang, mereka akan menjemputku sebentar lagi” teriakku setelah pulang sekolah. Aku segera bergegas kembali ke asrama untuk membereskan bajuku, aku tidak sabar untuk memeluk mereka berdua. Aku benar-benar rindu pada mereka.

Aku merasa seperti pangeran kecil yang bahagia. Keluargaku lengkap, kami juga hidup berkecukupan (lebih malah) itu yang sering orang katakan. Teman-temanku juga banyak, orang tuakupun tak pernah mengacuhkanku bahkan sesibuk apapun mereka. Maka tidak ada beban sama sekali dalam hidupku hingga sejak pertama masuk sekolah aku selalu menjadi juara umum, dan orang tuaku semakin bangga padaku.

“AAAAAARRRRGHHH” ketika aku sedang asik berjalan menuju asrama aku mendengar seorang yeoja yang berteriak, tepat didalam toilet yang baru saja aku lewati. Aku segera bergegas ke toilet. Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling, tidak ada seorangpun.

“arrrgh tolooong” suara itu ada lagi, aku mendengar di pintu paling ujung. Aku membukanya pelan dengan perasaan was-was. Yeoja itu berdiri diatas toilet duduk dengan gemetar dan ketakutan. Ternyata ini masalahnya? Gumamku dalam hati. Aku menginjak kecoa itu sampai mati.

“sekarang dia sudah mati saengi” kataku lembut dan membantunya turun. Dia memelukku erat dan mengucapkan terima kasih padaku. Apa ini rasanya punya seorang adik? Tanyaku begitu saja. Aku tidak bisa mengeluh, tidak ada yang sempurna didunia ini. Wajar jika aku tidak punya dongsaeng karna aku sudah mendapatkan segalanya.

Ketika aku mengantarnya kegerbang sekolah aku mengjaknya mengobrol. Namanya park eunhye, kelas 2SD, keluarganya bisa dibilang kurang mencukupi. Aku mempunyai ide cemerlang. “eunhye, kau mau tidak jadi dongsaengku?” tanyaku polos tanpa basa-basi.

Ia mengangguk tanda mengiyakan. “itu artinya aku bisa memanggilmu oppa?” tanyanya semangat. Aishh senyumnya lucu sekali, “tentu!!” jawabku tegas sungguh-sungguh.

“asik ahirnya aku punya oppa, aku berjanji tidak akan pernah lupa denganmu” tiba-tiba senyum dipipinya menghilang.

Eunhye tertunduk dan aku semakin bingung “kenapa kau jadi murung?” tanyaku pada akhirnya.

Keraguan untuk menjawab terlihat diwajahnya, tapi ia segera menepisnya dengan menggelengkan kepalanya “oppa kau berjanji tidak akan melupakanku kan? Kau akan terus menjaga dan melindungiku seperti tadi kan?” aku semakin bingung dan kujawab dengan anggukan tanda mengiyakan.

“aku akan pindah keluar kota hari ini.” Aku tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Baru saja aku mendapatkan seorang adik dan dalam sekejap aku harus berpisah dengannya.

***

Baru saja aku berpisah dengan adikku, sekarang aku harus dipisahkan lagi dengan orang-orang yang aku sayangi, tidak! Mereka adalah orang-orang yang paling aku sayangi.

Aku mengucurkan airmataku tanpa ada isak tangis sedikitpun, mataku melihat kedepan dengan tatapan kosong. Entah apa yang menimpaku saat ini, aku tidak bisa menerima semuanya secara langsung dalam satu waktu seperti ini.

Sekarang aku duduk diruang tunggu UGD untuk melihat mayat kedua orang tuaku keluar. Aku melihat (sangat jelas) kedua orang tuaku tertabrak truk besar ketika hendak memelukku di sebrang sana.

Aku sudah menghentikan air mataku yang tadi mengalir. Aku berjalan sempoyongan melewati kamar-kamar rawat inap setelah ini apa lagi yang akan hilang pada diriku? Tema-temanku? Hartaku? Guru-guruku? Kebahagian apa lagi yang akan hilang?. Pikiranku kosong seketika hingga ada seseorang yang memanggilku oppa! Pelan sekali, mungkin hanya halusinasi. Oppa!

Aku masuk kesebuah kamar pasien yang aku yakin suara itu berasal dari sana. Mulutku dibekam oleh kedua tanganku, seketika tanganku basah oleh air mataku yang kembali mengalir. “eunhye..” lirihku pelan tidak percaya. Ia terbaring dikasur dengan luka yang cukup parah. Aku tersenyum kecil penuh arti selanjutnya dongsaengku?

Aku memegang tangan eunhye lembut penuh harap, “tuhan apa kau tidak lihat umurku baru 10 tahun? Kenapa kau memberikan semua ini padaku? Padahal aku kan juga belum menikah, orang tuaku saja bahagia sampai mereka menutup mata” aku menggembungkan pipiku polos.

“oppa pabo” lirih eunhye pelan dan tersenyum tipis, tapi aku masih bisa mendengarnya. Ia sadar. Aku memanggil dokter, karna itu yang sering dilakukan di film yang aku tonton.

Eunhye tidak bisa mengingat kenapa ia bisa mendapatkan kecelakaan ini, bahkan ia lupa dengan namanya sendiri. Yang ia ingat hanyalah kecoa, sekolah, dan aku. Bahkan dia mengatakan pada dokter bahwa aku adalah kakak kandungnya. Dokter menyarankanku untuk menjaganya karna orang tuanya ikut tewas bersama para korban kecelakan lalulintas lainnya. Ada sebersit keraguan yang terpancar dimata dokter itu, mungkin karna aku masih kecil, tapi pikiran itu seketika dihapus olehnya.

Aku mendapat pesangon yang cukup besar dari perusahaan tempat appa dan ummaku bekerja karena appa seorang manager dan umma adalah sekertaris appaku. Orang tuaku sering menceritakan kepada bawahan dan atasannya bahwa aku anak yang pintar hingga aku mendapat beasiswa dari perusahaan dengan syarat hasil gemilang dan mengabdi di pabrik sebagai manager. Akupun menyetujuinya.

***

Aku lulus 2tahun lbih cepat, dan lulus dari universitas 1tahun lebih cepat, hingga orang-orang pabrik tidak mengucilkanku ketika aku menjadi manager muda karena mereka tau kemampuanku. Aku seperti sudah tua enam tahun dengan dongsaengku.

Sampai sekarang ia masih mengingatku sebagai keluarga aslinya dan ia tidak ingat kecelakaan tragis itu.

~flashback end~

Entah kenapa sikapku selalu bodoh dihadapan eunhye, padahal dipabrik aku disegani semua bawahanku. Aku tidak bisa tidur sampai pagi, sampai akhirnya aku beranjak dari tempat tidurku, mandi, mengepak barang, dan membuat sarapan untuk kami –aku&eunhye-

***

Eunhye POV

Sejak hari ulang tahunku oppa selalu berada didekatku walaupun hanya untuk beberapa hari. Ia akan berangkat lagi ke Jepang besok dan aku kesal karna oppa tidak bisa menolak perintah atasannya itu.

Ketika aku bangun aku kaget oppa tidak ada disampingku apa ia pergi lagi? Tapi aku mencium bau yang wangi. Aku mengendus-ngendus hidungku [emang anjing /plak] “ayam goreng, dan.. dan bibimbap? Aku hafal wangi daging asapnya, aah oppa belum pergi” aku kegirangan hingga tak sempat cuci muka dan gosok gigi lalu pergi ke dapur.

“aaa ternyata benar, bibimbap [klo salah nulis maaf ya]” senyumku mengembang ketika melihat makanan itu sudah jadi. Beberapa hari ini kami makan diluar terus karna oppa ingin jalan-jalan terus sebelum ia kembali ke Jepang.

Oppa menghetikan acara memasaknya “bau apa ini?” oppa mengenduskan hidungnya ia berbalik menghadapku yang tadi aku berada dibelakangnya. Aku tersentak melihat oppa, ia semakin mendekat ke arah mulutku “saengie-ah kau belum gosok gigi ya? Pantas saja dari tadi aku mencium bau tidak enak, aku kira ada yang salah dengan masakan yang kumasak” aku melongo ketika oppa bertanya seperti itu.

Ia membalikan badannya dan melanjutkan masaknya lagi, tapi ia berhenti lagi “saeng sebaiknya kau mandi sana, wajahmu terlihat kusam dan mulutmu bauu” kemudian ia menutup hidungnya. Aku benar-benar kesal, aku menendang kaki oppa sekuat tenaga. Ia meringis kesakitan, tapi aku tidak peduli dan pergi ke kamar mandi.

***

Aku akan merindukanmu oppa. Sangat. Cepatlah kembali.

Aku merasa kesepian lagi sejak oppa kembali ke Jepang. Tidak ada yang bisa kupukuli lagi, jika minho yang ku pukul dia pasti marah. Sekarang perasaanku tidak berwarna datar-datar saja, senang marah kesal sedih tertawa, itu semua kurasakan karna ada oppa.

***

Beberapa hari ini hubunganku dengan minho mulai membaik lagi, karna oppa tidak suka aku punya musuh, dia atasanku, dan sebenarnya aku juga tidak terlalu membecinya karna itu hal wajar. Dia cemburu. Aku terkekeh pelan mengingat hal itu. Tapi yang aku ingin tau darimana ia mendapatkan semua informasi tentangku dan oppa (?).

“minho tunggu!” teriakku dan semua orang kantor melihat kearahku, ah eunhye pabo “mianhamnida maksudku, sajangnim boleh aku bicara denganmu sebentar?” aku langsung membungkukan badanku tanda permintaan maaf. Aku lupa ini kantor.

Setelah kami berdua masuk keruang kerja minho aku tidak basa-basi lagi “minho ada yang ingin aku tanyakan padamu” aku berhenti dan menundukan kepalaku, enggan untuk melanjutkannya “mianhae minho-ssi aku tidak jadi, maksudku lain kali saja”

Ketika aku beranjak pergi minho menghentikan langkahku dengan memegang tanganku “hey bukankah sekarang kita teman? Kenapa kau canggung bertanya padaku?” aku terhenyak mendengar ucapannya secepat itukah ia melupakanku? Eunhye kenapa kau berpikir seperti itu? Dia itu temanmu sejak DULU dan TIDAK PERNAH berubah.

“ah iya, sekarang aku ingat. Mian tadi aku lupa” aku tersenyum padanya dan ia membalas senyumku. Kyaaa minho kau semakin tampan. Apa yang aku pikirkan?. Aku melanjutkan pembiraanku sebelum warna wajahku berubah. “aku hanya ingin tau darimana kau mengetahui segalanya tentang aku dan oppaku?”

Ia tidak menjawab beberapa detik, tapi kemudian ia membuka mulutnya “aku atasanmu kau ingat? Sebagai atasan yang baik, tentu saja aku harus tau semua latar belakang para pegawaiku sebelum ia diterima disini.”

“tapi darimana..” sebelum aku melanjutkan ia memotong kata-kataku “darimana aku mendapatkan informasinya, itu rahasia perusahaan cantik” dia tersenyum dan mengacak rambutku pelan. Aigooo kenapa rasanya sulit sekali aku keluar dari ruangan ini. Tapi aku ingat onew oppa.

Aku kembali beranjak untuk keluar, “oh iya, kau juga harus berterimakasih padaku, karna aku, sekarang kau tau dia bukan oppamu dan tidak ada lagi yang menghalangi kalian kan?”

***

Arrgh kenapa aku bisa berkata seperti itu pada minho? Aku telah membohonginya dan menyakiti oppa jika ia tau apa yang tadi aku katakan padanya –minho-. Mianhae oppa.

Minho POV

Sakit memang, tapi aku tidak bisa memaksakan kehendakku untuk bersama orang yang aku cintai.

“oh iya, kau juga harus berterimakasih padaku, karna aku, sekarang kau tau dia bukan oppamu dan tidak ada lagi yang menghalangi kalian kan?” aku berusaha mencari informasi tentang hubungan mereka, aku belum sepenuhnya rela akan kenyataan ini.

Ia tersenyum kecil dan itu artinya “hey minho-ssi dia tetaplah oppaku yang paling aku sayang sejak dulu” dia keluar dan menutup pintunya dengan rapat, sementara aku masih tetap berdiri mematung diruanganku sendiri.

Kata-kata itu ambigu untukku, tapi aku terlihat senang dengan pernyataan eunhye tadi dan sebuah senyuman muncul dibalik lamunanku.

***

Author POV

Eunhye dan onew tidak pernah lose contact, mereka terus saling mengirim kabar. Tidak ada yang disembunyikan oleh onew pada eunhye kecuali yeoja itu, ia takut eunhye marah-marah padanya dan tidak ada yang disembunyikan oleh eunhye pada onew bahkan tetang minho, kecuali tentang perasaannya pada minho. Ia merasa bersalah ketika mengingat hal itu lagi. Mianhae oppa tegur eunhye selalu dalam hatinya.

***

“eunhye, bisa kau temani aku makan siang hari ini?” tanya minho tiba-tiba dengan menekan meja eunhye dengan satu tangannya

“tapi masih banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan minho-ssi” tolak eunhye yang masih tetap dengan pandangannya tertuju pada kertas-kertas penting itu.

“baiklah aku akan menunggu disini sampai kau menyelesaikan pekerjaanmu”

“tapi minho” eunhye diam sejenak karna kesal, “baiklah terserah kau saja” eunhye melanjutkan pekerjaannya dengan membiarkan minho menunggunya.

Minho terus saja mondar-mandir di depan meja eunhye dengan sesekali ia -minho- duduk diatas meja sekertarisnya itu, dan itu membuat eunhye merasa terganggu. Sampai akhirnya sebuah suara membuat eunhye menyerah untuk menerima ajakan minho.

KRRrrrrrrr KRRrrrr KRRrrrr suara perut minho berbunyi keras memecah keheningan kantor yang notabene semua sedang diam melakukan pekerjaan mereka masing-masing hingga hampir beberapa orang yang lewatpun cekikikan karna mendengar suara aneh itu.

“aku lapar eunhye, ayo kita cari makan” rengek minho pada eunhye.

Eunhye merasa kasian dengan suara gemuruh para demonstran dalam perut minho itu. Akhirnya ia beranjak dari kursinya dan mengajak minho keluar kantor untuk mencari makan.

***

Minho sengaja tidak sarapan pagi agar siangnya ia benar-benar lapar dan eunhye tidak bisa menolak ajakan para anak buah dalam perutnya itu. Ia senang karna bisa dekat dengan eunhye lagi, walaupun ia tidak tau bagaimana perasaan eunhye padanya saat ini.

Minho memandang eunhye terus yang sedang makan dihadapannya dan itu membuat eunhye memalingkan mukanya “kenapa kau melihatku terus? Bukankah kau lapar?” ia –eunhye- tidak ingin wajah merah-padamnya terlihat oleh minho.

“eunhye, bagaimana dengan onew sekarang?” tiba-tiba pertanyaan minho memecah keheningan “maksudku bagaimana keadaan onew sekarang di Jepang? Apa ia betah disana?” sebenarnya pertanyaan minho yang pertamalah yang ingin minho dengar jawabannya.

“dia baik-baik saja” jawab eunhye ragu, “hanya saja ada beberapa wanita yang selalu mengodanya dan itu membuat oppa menjadi sedikit risih” jawab eunhye sedikit kesal dan minho menyadari bahwa eunhye sedang cemburu pada wanita itu.

“ya, wajar saja jika banyak yang menyukai, dia seumuran denganku tapi pengalaman bekerjanya sudah jauh dariku. Aku saja hanya baru setengah tahun menjabat sebagai manager, sementara onew ketika lulus ia lngsung mendapat jabatan itu dengan mudah, bahkan sampai sekarang ia tetap menolak ketika dipromosikan menjadi direktur karna ia tidak ingin terlalu sibuk. Maka dari itu wajar jika banyak yeoja yang mengejarnya” jelas minho panjang lebar yang membuat eunhye mendelik tajam kearah minho dengan tatapan ingin tahunya lagi-lagi ia tahu segalanya tentang oppa melebihiku gumamnya dalam hati [baca:eunhye]

Minho menepis tatapan eunhye dengan senyumnya lalu menjawab apa yang ada dibenak eunhye saat ini, “tentu saja aku tahu tentang hal itu, apa kau tidak baca majalah STAR (anggap nama majalahnya ada) bulan ini?” tanya minho membalikan fakta padaku. Tapi yang eunhye perhatikan saat ini hanya senyuman minho bagaikan aliran listrik yang memacu jantungnya untuk berdetak lebih cepat. Eunhye benar-benar bingung dengan perasaannya.

***

Eunhye langsung merebahkan tubuhnya disofa setelah pulang dari kantor, ia pulang terlalu larut malam karna tadi siang yang rencananya ia dan minho hanya akan makan siang saja ternyata mereka lanjutkan dengan mencari pencuci mulut yang biasa disebut dengan ice cream, hingga akhirnya pekerjaan yang seharusnya selesai sekitar pukul empat sore karna itu ia menjadi pulang malam.

Ia teringat pertanyaan minho tadi siang tentang majalah STAR bulan ini. Ia memang berlangganan majalah tersebut tapi ia tidak sempat membaca karna banyaknya pekerjaan kantor.

Lalu ia keluar apartemen dengan hanya mengeluarkan kepala dan tangannya saja untuk mengambil majalah yang tersimpan diranjang dekat pintu apartemennya. segera tanpa membuka halaman ia melihat foto namja muda tampan terpampang dihalaman terdepan, manager muda Korea yang digandrungi para yeoja di Jepang karena kecerdasan dan ketampanannya. Baca eunhye dalam hati sambil terus berjalan dan duduk disofa.

Namja muda tampan dari korea ini tidak hanya menjadi perbincangan hangat dikalangan para petinggi perusahan ternama di Jepang, tapi ia juga menjadi buah bibir dikalangan intertaint terutama para yeoja. Kecerdasan yang dimiliki namja bernama lengkap Lee Jinki ini membuat beberapa perusahaan menawarkan kedudukan tinggi sebagai direktur di perusahaan mereka, tapi itu semua ditolak onew sapaan akrabnya. Para wartawan menanyakan langsung pada onew alasannya. Sebelum ia menjawab pertanyaan ia memperlihatkan gigi kelincinya yang membuat para yeoja jatuh pingsan “aku hanya tidak ingin bekerja terlalu banyak karna aku ingin hidup layaknya orang biasa yang selalu makan ayam tiap hari hehe” jawabnya polos dan santai tanpa beban, dan itu semakin membuat semua yeoja Jepang menggilainya karna kecerdasan dan kerendahan hatinya, terutama ia “sangat tampan” teriak seorang yeoja ketika onew-ssi sedang diwawancarai.

Tanpa sadar eunhye mendengus kesal dengan apa yang telah dibacanya karna sekarang banyak yeoja yang mengejar oppanya tersebut. Awalnya eunhye tidak percaya dengan perkataan onew ketika ia –onew- bilang semakin hari banyak yeoja yang mengganggunya, eunhye pikir itu hanya kerjaan oppanya yang ingin membuat dirinya cemburu, tapi setelah membaca majalah itu ia menjadi marah-marah tidak karuan dan melempar majalah tersebut karna kesal.

~TBC~

Akhirnya beres juga, buat part satu

Tapi gak tau ni akhirnya mau jadi ma sapa, masih bingung haha /plak #membuat perkara saja dirimu nak *bow

Butuh komen jujur ni, kaya kemaren, klo ada kurang sebut ja kurangnya dimana

Tapi klo bagus sih gak usah dicari-cari kurangnya dimana hehe /ngarep

Advertisements

23 responses to “[FREELANCE] HANDSOME or STUPID (?) [forgive me oppa] part 1

  1. Aku mau sama Jinki oppaaa…..!!!!!
    *plak…
    Maksudnya, aku mau Eunhye sama Jinki oppa…
    Part 1 asik dibaca.
    Walau ada sih beberapa diksi (pilhan kata)
    yang kurang baku/tepat,
    tapi lupa dimana…
    Overall, asik dan menarik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s