Like a Dust When I Look Back (Doa Untuk Ibu)

Author : mumuturtle

Tittle    : Like a Dust When I Look Back (Doa Untuk Ibu)

Length : Oneshoot

Genre  : Family, a half songfic

Rating : General (everybody should read this)

Cast     :

  • Victoria (fx)
  • Her mother

Songs  : Ungu~Doa Untuk Ibu

P.S       : Lebih menyentuh jika dibaca sambil mendengarkan lagunya. Happy Reading, Guys!!

~ æ~æ~æ~

Karena ia, seperti pelita saat kita berada di tengah kegelapan. Kegelapan yang sangat hitam. Meski ia hanya sebuah lilin kecil, dengan sinarnya yang teramat redup. Meski ia terkadang diabaikan, tapi ia akan terus bersinar untuk kita. Ia tetap setia menunjukkan sinarnya, menuntun kita di jalan kehidupan ini. ~mumuturtle

~ æ~æ~æ~

 

Aku membuka pintu rumah dengan tangan yang lemas. Badanku seperti remuk berkeping-keping. Tulangku serasa seperti pecah sampai ke sumsumnya. Aku lelah sekali setelah seharian aku berkutat disekolah. Entah, tapi tak seperti biasanya aku bisa selelah ini.

Aku melangkah gontai memasuki rumahku yang sederhana ini. Rumah dengan ukuran yang bisa dibilang kecil. Aku memandang seluruh sudut ruang tamu. Kosong. Tak ada siapapun disini. Mungkin Omma ataupun Appa belum pulang.

Aku lekas berjalan ke kamarku. Sesampainya di kamar, aku meletakan tas sampirku ke sembarang tempat. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjangku. Aku menatap langit-langit kusam di atas. Lalu mulai memejamkan mataku.

~~

“Victoria, kau sudah pulang, nak?” ujar seseorang membangunkanku.

Aku menggeliat. Aku bangun dari tidur nyenyakku. Ku seka mataku dengan punggung tanganku lalu berjalan pelan menuju ke sumber suara. Saat ku buka pintu kamar, Aku melihat sosok paruh baya tengah duduk meregangkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Ommaku.

“ne, omma.” Ujarku singkat tanpa memperdulikan reaksi ommaku selanjutnya. Aku kembali ke kamarku.

~~

“aish… aku lupa aku harus memfotokopi tugas ini. Aigoo, bagaimana ini?” umpatku sembari membolak-balik lembaran-lembaran kertas yang bertumpuk di meja kecil di kamarku yang kujadikan sebagai meja belajar.

Bagaimana ini? Tugas ini memang dikumpulkan tiga hari lagi, tapi aku segera mengembalikannya pada temanku. Sedangkan dari sudah larut malam.

Dengan cepat aku keluar dari kamar dan segera mencari keberadaan ommaku. Aku mendengar suara detingan gelas dan percikan air. Kurasa omma sedang mencuci piring di dapur.

“omma, bisakah kau membantuku?” ujarku dengan nafas yang tersengal.

Ia menghentikan aktivitas mencuci piringnya dan menoleh ke arahku. Ia menatapku seraya bertanya, bantuan apa yang bisa ia berikan. Aku menunjukkan lembaran kertas yang kubawa.

“bisakah kau memfotokopikannnya?”

Ia membalikkan badannya. Ia mencuci tangannya dengan cepat kemudian kembai menghadapku. Ia menatap jam dinding yang ada lalu beralih menatapku.

“ini sudah malam, nak.” Ujarnya lembut padaku.

Tak perlu diberitahupun, aku juga tau jika ini sudah malam. Aku bisa melihat jam dan juga keadaan diluar. Tapi aku benar-benar tak enak pada temanku jika aku tak segera mengembalikannya. Dengan kata lain, bagaimanapun caranya tugas ini harus selesai sekarang!

“omma, carikan tempat yang masih buka dong! Pasti adakan yang buka 24 jam.” Seruku sembari mengayunkan kertas-kertas itu.

“lagian kan masih ada waktu besok, nak!” timpalnya. Aku mendengus kesal mendengar jawaban itu.

Aku berjalan menuju ruang tamu. Ku dudukkan diriku diatas sofa dengan kasar. Aku mengerucutkan bibirku kesal. Dan aku yakin, raut mukaku sudah sekusut pakaian-pakaian yang ada di lemariku.

“besok akan omma fotokopikan.” Ujar omma seraya berjalan mendekatiku. Ia duduk di kursi di depanku.

Aku memalingkan pandanganku. Kesal. Itu yang kurasa. Aku sangat kesal jika permintaanku tak bisa dipenuhi. Kenapa omma tak berusaha? Aku ini butuhnya sekarang bukan besok! Gerutuku dalam hati.

Omma memandangku lembut, sedang aku sama sekali tak menatapnya. Luap amarah masih memuncak diubun-ubunku. Mungkin memang sangat kekanak-kanakan.

“baiklah, akan omma carikan.” Katanya.

“andwe!”

“kemarikan kertasnya, akan omma carikan tempat yang buk….”

“ANDWE!! Jika aku bilang tidak ya tidak. Dengar kan?” bentakku.

Aku menghentakkan kakiku kesal dan segera berjalan cepat menuju kamarku.

~ æ~æ~æ~

 

Kau memberikanku hidup

Kau memberikanku kasih sayang

Tulusnya cintamu, putihnya kasihmu

Tak kan pernah terbalaskan

 

Aku sedang menonton televise saat kulihat ommaku yang berjalan dengan gontai memasuki rumah kecil ini. Mukanya tampak sangat letih. Kulihat ia juga memijat pelan pelipisnya, mungkin menghilangkan sedikit rasa pusing yang menderanya.

“kau sudah pulang?’ ujarnya dan senyum hangat selalu tersungging untukku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

Lalu ia kembali berjalan menuju kamarnya. Klek. Terdengar suara pintu yang ditutup.

Aku kembali focus terhadap drama yang sedang kutonton. Aku menghayati drama itu. Hingga kini tenggorokanku tercekat saat melihat layar televise itu. Mataku tak bisa lepas dari tayangan itu meski sebenarnya aku ingin sekali menutup mataku untuk tak melihatnya.

Air mata seketika itu juga menggenang di pelupuk mataku. Aku tak bisa bersuara sekecil pun. Aku banar-benar tercengang. Adegan yang benar-benar tak pernah terbayang dipikiranku. Adegan dimana seseorang kelihangan sosok ibu didepan matanya sendiri. Orang itu menangis sejadinya, bahkan aku pun ikut menangis.

Orang itu terus dan terus memanggil ibunya. Tapi sosok yang ia paggil itu sama sekali tak bergeming. Seakan ia sedang berbicara pada sosok yang tak hidup. Dan memang benar. Sosok itu sudah tak bernyawa.

Entah pikiran negative apa yang ada di pikiranku. Aku membayangkan jika aku yang  berada di posisinya. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan saat itu juga. Mungkina ku hanya bisa menangisi kepergiannya tanpa berbuat sesuatu yang berguna untuknya.

Air mataku mulai menetes. Aku segera mengusapnya dan berlari menuju kamar.

Aku membanting tubuhku ke kasur. Kubenamkan kepalaku di atas bantal dan air mataku masih terus saja mengalir.

Aku seperti merasakan sesak di dadaku. Aku seperti bisa merasakan rasa kehilangan itu. Aku menangis tersedu. Tapi aku berusaha meredam suara tangisku dengan tetap membenamkan wajahku dan menggigit bibir bawahku.

~~

Malam sudah tiba. Aku yakin semua penghuni rumah ini sudah terlelap tidur. aku terjaga dari tidurku. Entah pikiran apa yang terus membebaniku hingga aku bermimpi buruk seperti ini. Aku bermimpi ibu meninggalkanku.

Aku menapakkan kakiku padaa lantai keramik putih. Dinginnya langsung menjalari seluruh telapak kakiku. Aku berjalan perlahan keluar dari kamar hingga aku sudah berada di depan kamar lain. Kamar ibu.

Aku membuka pelan pintu kemar itu. Satu langkah kakiku terhenti saat aku melihat wajah ibu yang sedang terlelap tidur di ranjangnya. Wajah letih ibu yang terpejam membuat dadaku sesak. Aku melangkah lagi, dan mulai mendekatinya. Kini aku duduk disisi ranjangnya. Ku amati setiap lekuk wajahnya.

Wajahnya sangat tenang saat ia tertidur. Atau mungkin ia hanya bisa setenang ini saat ia tertidur?

Apa yang kau rasakan selama kau menjadi ibuku, omma? Apa kau lelah dengan sikapku?

Bagaimana rasanya saat kau melahirkanku? Apa kau sempat putus asa?

Terima kasih, ibu. Kau telah bertaruh nyawa demi anakmu ini. Kau telah berjuang demi melahirkanku dan menampik setiap perih kesakitan yang kau rasa saat melahirkanku.

Air mata melelh mengarungi pipiku. Aku tersenyum menatap wajah ibuku. Wajah seseorang yang selalu memberikan senyumnya padaku meski aku bersikap ketus bahkan terkadangkasar terhadapnya. Wajah seseorang yang selalu mengucapkan kata sayang padaku meski aku terkadang bosan mendengarnya. Wajah seseorang yang selalu menyayangiku meski dengan kenakalanku yang terkadang membuatnya sangat marah.

Setulus itukah kasih sayang seorang ibu dengan anaknya meski terkadang kami menyakiti hatinya? Mengapa ia tak pernah benar-benar marah saat aku melakukan kesalahan? Ia mungkin membentakku tapi sesudah itu ia akan kembali bersikap lembut padaku. Apa kau pernah mengharap balasan dari apa yang kau lakukan?

Kurasa aku tau jawabannya. Tidak.

Aku tau sekarang. Cinta ibu terhadap anaknya itu sangat tulus. Ia akan menghadapi setiap jalanan berkerikil dengan kaki telanjangnya, demi anaknya. Meski itu harus membuat luka darah pada kakinya.

Dan aku tau, meski aku berusaha membalas jasamu. Sepanjang hayatku kasihmu tak akan pernah bisa kubalas. Mungkin aku akan membalasnya dengan keinginanku menjadi seorang ibu juga?

~ æ~æ~æ~

 

Sweater is worn by child when her mother is feeling chilly. ~Ambrose Bierce

Aku duduk di ranjangku sembari memeluk lututku. Kupandangi jalanan luar dari jendela kamarku. Lalu lalang jalanan menimmbulkan suara-suara bising dari kendaraan bermobil.

Aku menatap kosong ke luar. Seakan suara-suara bising itu sama sekali tak kudengarkan. Aku masih bergemelut dengan hatiku. Mungkin remaja biasanya sedang memikirkan kekasihnya, tapi tidak denganku. Aku memikirkan sosok paruh baya yang kini tengah bekerja demi mencari sesuap nasi untuk kami.

Ibu.

Aku masih ingat senyum hangat yang kau berikan pagi tadi. Aku masih ingat saat kau berlarian di tengah rumah kecil ini, memasak, mencuci, menyiapkan semua kebutuhan kami. Kau selalu memastikan aku tidak terlambat makan, tapi kau sendiri sama sekali tak menyentuh piringmu. Jangankan untuk makan, seteguk air saja kau bahkan lupa. Kau tak pernah mementingkan dirimu demi setiap orang yang kau sayangi.

Kau hanya akan mengatakan, ”yang terpenting anak ibu sudah makan. Dengan melihatmu makan ibu sudah merasa kenyang.”

aku bahkan masih ingat saat kita sedang dalam perjalanan ke luar kota. Aku meringkuk dalam dinginnya malam. Kau dengan kasih sayangmu, terjaga dari tidurmu hanya untuk menyelimutiku. Kau rela teridur tanpa selimut. Menerima setiap udara dingin yang berhembus. Sedangkan aku dengan nyenyaknya tidur salam kehangatan selimut.

Kenapa kau mau melakukan itu? Kau rela menyakiti dirimu sendiri demi anakmu?

Air mataku kembali menetes.

~ æ~æ~æ~

A mother is a person who seeing there are four pieces of pie for five people, promptly announces she never did care for pie ~ Tenneva Jordan

Kau dengan kedua tanganmu. Selalu sigap menyiapkan setiap makanan kami. Kau selalu melayani kami layaknya kami seorang raja. Bahkan saat keluargaku mengalami krisis ekonomi, kau dengan tenagamu yang entah seberapa, berjuang sekuat tenaga demi mencarikan kami makan. Meski kau harus mempertebal wajahmu demi berhutang kepada orang lain.

Bahkan hingga akhirnya kau mendapatkan uang itu. Kau hanya bisa menyediakan makanan secukupnya. Aku sadar sekarang, aku tak pernah memikirkan perasaanmu. Aku tak pernah memikirkan apa yang kau rasakan, saat aku sama sekali tak mau memakan makanan yang sudah susah payah kau buat. Saat aku selalu menginginkan makanan lebih dan kau tak bisa membelikannya hingga aku memberontak.

Aku tak pernah memikirkan sedihnya dirimu. Bahkan saat kau benar-benar tak punya cukup uang untuk membeli makanan kita berdua, kau rela untuk tidak makan demi anakmu. Kau bahkan rela menyerahkan bagianmu demi aku. Tapi aku tak pernah sekalipun berterima kasih padamu.

~ æ~æ~æ~

 

I remember my mother’s prayers and they have always followed me. They have clung to me all my life ~Abraham Lincoln

 

“Tuhan, ampunilah kami atas segala dosa kami. Berikanlah kami rahmat-Mu. Tuhan, limpahkanlah rezeki kami, agar aku bisa membahagiakan putriku. Aku ingin melihatnya tersenyum. Aku tak ingin melihatnya mengeluh bahkan bersedih. Aku ingin ia tak merasakan penderitaan. Mudahkanlah jalannya dalam hidup ini, Tuhan.”

Doa ibu.

Aku sering mendengar ibu mengucapkan kalimat-kalimta permohonan itu saat tengah malam. Aku sering melihat ia menengadahkan kedua tangannya, berdoa dengan diselingi isak tangisnya. Dan kenapa aku beru menyadari sekarang? Di setiap doa ibuku ia selalu menyebutku. Ia selalu berharap yang terbaik untukku.

Bahkan ia tak pernah meminta apapun tentang dirinya kecuali ampunan dosa. Selebihnya ia berdoa untukku. Ia seakan tak pernah lupa melakukannya. Seakan itu adalah sebuah kewajiban bagi dirinya.

~ æ~æ~æ~

 

She never shows her tears in front of me. She always tried to smile, even her heart is hurted. ~mumuturtle

 

Tangis. Aku tak pernah melihat tangisannya kecuali tangisan bahagia.

Tapi saat kau melihatnya menangis dibelakangmu, apa yang akan kau lakukan?

Aku ingat, saat kami sedang bersenda gurau di ruang tamu. Ia terlihat bahagia. Senyumnya selalu terkembang untukku. Tawanya sangat lepas. Tapi apa? Saat aku sudah tak ada dihadapannya, ia menitikkan air matanya. Entah perasaan sedih apa yang ia rasakan.

Hatiku seakan tercabik saat melihat ia menangis. Hatiku seakan ikut menangis seiring dengannya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan suaranya agar tak terdengar olehku. Aku ingin sekali berlari. Memeluknya dan mengatakan untuk tidak menangis. Tapi aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu.

Aku hanya bisa melihatnya dari balik pintu. Melihat ia dengan tangan halusnya mengusap lelehan air mata dipipinya yang terus mengalir.

Tangisannya seperti neraka untukku. Ia selalu saja tersenyum padaku akan tetapi menangis di balik punggungku. Aku ingin menjadi sandarannya. Aku ingin bisa mengembalikan tawanya sama seperti saat ia menenangkanku yang sedang sedih. Sama seperti saat ia mengembalikan senyumanku di tengah galaunya hatiku.

Tapi ia tak pernah. ia tak pernah menunjukkan kesedihannya. Ia selalu dengan baik menyembunyikannya. Aku tak ingin ia bersedih.

~ æ~æ~æ~

 

Who fed me from her gentle breast?

And hushed me in her arms to rest?

And on my cheek sweet kisses present?

My mother

~Anne Taylor

 

Siapa yang melahirkanku? Tanpa perlu kau katakan aku akan tahu bahwa jawabannya adalah ibu.

Kini aku membayangkan bagaimana jika aku diposisimu. Saat kau sedang berjuang, menahan rasa sakit yang teramat perih demi menyelamatkan satu nyawa yaitu aku. Saat kau dengan peluh yang mengucur di dahimu, berteriak kencang berusaha mengeluarkan bayi mungil dari rahimmu. Saat kau tersenyum bahagia di tengah kelelahanmu ketika kau melihat wajah imut sang bayi.

Sampai saat ini pun aku tak memiliki keberanian untuk menghampirimu, memelukmu, dan mengatakan terima kasih atas seluruh perjuangan yang telah kau lakukan untukku. aku masih tak berani untuk mengatakan kata maaf atas kesalahan yang selama ini aku lakukan.

Air mataku meleleh semakin deras.

Aku ingin kembali mengingat saat aku menjadi bayi mungilmu. Saat kau dengan kedua tanganmu yang lembut menggendongku. Mengecup kedua pipiku lembut dan tak bosan-bosannya menimangku. Kau yang dengan telatennya menyusuiku dengan asimu. Berharap air susu yang kau berikan bisa sangat bermanfaat untukku. dan itu benar. Kini aku tumbuh besar sekarang.

Dan aku terbayang, betapa kau sabarnya mengurusku. Kau tak pernah mengeluh meski kau harus terbangun  di tengah malam hanya untuk mengganti popokku. Kau tak pernah memarahiku saat aku tak mau makan bubur yang kau sediakan dan malah menumpahkannya. Kau tak pernah sedikitpun meninggalkanku meski kau tau aku tak kau bawa bersamamu. Ya… karena aku tahu, aku selalu ada dipikiranmu.

She never quite leaves her children at home, even when she doesn’t take them along. ~Margaret Culkin Banning

~ æ~æ~æ~

 

Hangat dalam dekapanmu

Memberikan aku kedamaian

Eratnya pelukmu, nikmatnya belaimu

Takkan pernah terlupakan

 

Klek..

Kudengar suara pintu rumah yang terbuka.

“omma pulang, nak!” seru ommaku.

Aku lekas mengusap pipiku yang basah oleh airmata. Aku segera beranjak menghampiri ibu. Kulihat ia sedang duduk seperti yang biasa ia lakukan sepulang bekerja. Ia selalu meregangkan ototnya di sofa. Ia menatapku dan menyuruhku duduk di sampingnya.

Akupun duduk disampingnya. Kutatap wajahnya yang sudah mulai berkeriput itu. Ia memejamkan matanya dan bisa kudengar deru nafas yang ia hembuskan. Sesaat kemudian ia membuka kembali matanya dan menatapku.

“kau menangis?” tanyanya dan merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. Aku menggeleng seraya tersenyum padanya. Lalu aku menghambur ke pelukannya.

Kupeluk erat ibuku. Ibu yang selalu sayang padaku. Ibu yang segala-galanya bagiku. Ibu tempat aku mengadu.

“kau kenapa?”

“ani, omma. Peluk aku!” ujarku.

Kemudian kurasakan sepasang tangan melingkar di punggungku. Nyaman sekali rasanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak tepat di samping telingaku. Aku bisa merasakan kehangatan saat ia mulai membelai rambutku dan mulai bernyanyi lagu kesukaanku.

Saat ini aku ingin sekali menangis. Aku ingin menumpakan segala penatku padanya. Aku ingin mengatakan padanya untuk jangan pernah pergi dari ku. Untuk selalu memelukku dan membelaiku. Tapi aku tak bisa. Ternggorokanku tercekat dan aku tak kuasa untuk mengeluarkan suaraku.

Aku memejamkan mataku. Merasakan setiap sensasi belaiannya. Merasakan kehangatan tubuhnya yang mulai merasuk di tubuhku.

Omma.

Gomawo.

Gomawo.

Gomawo.

Seribu kali aku mengatakan terima kasih. Bahkan sampai bibirku tak bisa terbuka lagipun tak akan pernah bisa menandingi segala sesuatu yang telah kau berikan untukku. segala kasih sayang yang setiap hari, bahkan setiap detiknya kau berikan untukku.

 

~ æ~æ~æ~

 

Mother’s day, it’s beautiful though, but it’s somebody’s hurting conscience that thought of the idea. It was someone who had neglected their mother for years and then their figured out: I got to do something about momma. And knowing mom was that easy, they figured “we’ll give her a day, and it will be all right with mother.” Give her a day, and then in return she gives you the other 364. See? ~Will Rogers

aku menatap setiap sudut kamarku yang bisa terbilang berantakan. Jaket yang berserakan di lantai. Buku-buku yang berceceran di atas meja. Semua barang-barang itu menghiasi kamarku sehingga terlihat seperti kapal pecah.

Lalu aku menagkap sebuah note yang tertempel di dinding di samping meja belajarku. Aku mengambilnya dan membacanya.

“22 Desember~mother’s day”

Aku tersenyum. Hari ibu masih sangat lama. Tapi kita tak perlu bukan menunggu untuk menyampaikan kasih sayang kita padanya saat hari ibu? Kita bisa melakukannya kapan saja, dimana saja, dan apa saja.

Pernahkah kau terpikir sesuatu?

Terkadang kita tak memperdulikan keadaannya. Terkadang kita selalu berusaha mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa memandangnya. Terkadang saat kita terjatuh kita beru berlari padanya. Bahkan terkadang bentakan dan kata-kata kasar terlontar untuknya.

Tapi apakah kalian pernah berfikir ia akan marah? Berfikirkah ia akan sedih?

Tidak.

Sering kali kita benar-benar tak tau apa perasaannya. Bahkan kita tak mau tau dan tak peduli. Tapi apakah kalian berfikir, bahwa satu senyum kalian yang meskipun hanya satu detik itu berharga untuknya?

Kita selalu saja mencari-cari alasan untuk menunjukkan cinta kita padanya. Saat hari ibu misalnya. Kita pasti akan berusaha sebaiknya untuk mencarikan hadiah terbaik, bahkan memperlakukannya layaknya seorang putri hari itu.

Tapi selebihnya? Nothing.

Mungkin hati seorang ibu tercipta dari sebuah sutra yang halus dan lembut, serta air yang murni. Ketulusannya bahkan tak bisa dengan hanya dibalas oleh emas semahal apapun itu.

Satu hari yang kita berikan untuknya, berartikan segalanya. Tapi setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik yang ia berikan untuk kita kadang terabaikan.

~ æ~æ~æ~

 

 

A man’s work is from sun to sun, but a mother’s work is never done. ~unknown

 

Ayah. Kalian akan berfikir positif saat mendengar nama itu. Sosok yang bertanggung jawab atas sebauh keluarga. Sosok yang banting tulang mencari nafkah demi keluarga. Bahkan sosok yang selalu akan melindungi keluarga.

Mungkin tak akan pernah terpikir. Seorang ayah bekerja banting tulang demi sesuap nasi pada siang hari bahkan terkadang pagi sampai pagi lagi. Lelah itu pasti.

Tapi apa kelelahan seorang ayah melebihi kelelahan seorang ibu? Tidak. Mungkin jika dilihat, pekerjaan seorang ibu itu sepele. Memasak, mencuci, mengepel. Tapi pekerjaan itu sama sekali tak akan pernah selesai. Selalu saja ada tambahan tambahan setiap waktunya. Terlebih lagi jika ia juga menyandang sebagai tulang punggung keluarga. Tak seperti seorang ayah yang bisa sejenak beristirahat, dan dibuatkan secangkir kopi.

Tapi seorang ibu?

Saat pagi, kerjanya adalah mencuci, menyiapkan masakan. Apa kau pikir itu mudah. Tentu tidak. Mungkin ia tidak lelah dalam hal fisik. Tapi ia lelah dalam pikirannya. Ia pasti akan selalu berfikir bagaimana caranya untuk menyiapkan makanan yang bergizi untuk keluarganya. Bagaimana ia bisa membuat semua orang nyaman berada dirumah.

Bahkan terkadang saat kita sakit, ia rela terjaga sepanjang malam untuk mengompres kita. Menyelimuti kita, bahkan menepuk-nepuk lengan kita untuk membuat kita tertidur.

~ æ~æ~æ~

 

Who ran to help me when I fell? And would some pretty story tell? Or kiss the place to make it well? My mother.  ~Anne Taylor

 

“huaaa!!!! Omma… sakit!!” kudengar suara tangisan seorang anak saat aku dalam perjalanan pulang. Aku menatap ke sekeliling dan mendapati seorang anak lelaki yang terjatuh dari sepedanya.

Aku bisa melihat luka yang terhias di lututnya dan darah segar yang mengalir. Anak itu menangis terisak sembari memegangi lututnya. Aku hendak menghampiri anak itu sesaat sebelum seorang wanita berlari menghampirinya. Wanita dengan dress berwarna putih itu membantu anak itu untuk berdiri.

“omma, sakit!” seru anak itu sembari menyeka matanya dengan kasar.

“aigoo… lukanya parah sekali. Lain kali kalau bermain hati-hati, araseo?” saran seorang wanita yang ternyata ibunya itu dengan lembut.

Wanita itu kini menggendong anaknya dengan lembut. Diciumnya pipinya dua kali lalu mereka pergi dari hadapanku. Mataku masih saja mengikuti kemana saja mereka pergi. Mataku seakan sudah tertancap padanya. Bahkan hingga kini mereka hilang di gang kecil. Aku masih saja menatapi gang yang sepi itu.

Aku kemabali melangkah, dengan gemelut pikiran yang memenuhi otakku. Aku masih ingat. Sangat ingat saat aku sedang sakit hati karena pria yang aku cintai ternyata menduakanku. Aku tak bisa berhenti menangis. Air mata terus saja mengalir dan membuatku bertahan hidup dua hari tanpa makan sesendok nasipun.

Ibu yang dengan kelembutannya menghampiriku. Mendekapku dalam dan membelaiku. Aku masih bisa merasakan hangat pelukannya saat itu. Ia terus saja berkata-kata untuk menenangkanku. Bahkan ia terus berusaha melucu demi membuatku kembali tertawa. Ia tak lelah untuk menemaniku di kamar meski aku sama sekali tak menanggapi perkataannya. Meski aku bagaikan mayat hidup dan benar-benar mengacuhkan ibuku. Tapi ia tetap setia menemaniku yang sedang sedih.

Tak sepantasnya aku bersikap kasar pada ibuku setelah apa yang ia lakukan itu. Tak seharusnya aku mengacuhkan setiap perkataannya yang sebenarnya sangat berguna itu. Karena perkataan ibu bagaimanapun itu adalah yang terbaik untuk kita.

~ æ~æ~æ~

 

A mom forgives us all our faults, not to mention one or two we don’t even have. ~Roberts Brault

Ibu dengan hatinya yang tulus dan ikhlas. Ia tak akan pernah mengungkit-ungkit kesalahan yang telah kita perbuat. Entah kesalahan itu kecil atau sangat besar. Ia tak akan pernah mengungkitnya bahkan seakan kita tak pernah melakukannya.

Ibu.

Ia selalu saja menganggap kita sebagai bayi mungilnya. Bayi yang mesti dijaga dengan ketat. Ia selalu saja mem-protek kita meski terkadang kita selalu bersikeras menolaknya. Meski terkadang kita selalu menyuruhnya untuk tak memanjakan kita dengan alasan malu. Dan ia menurutinya.

Meski ia terkadang sangat sakit saat ia tak bisa memanjakanmu di depan teman-teman kita. Tapi selebihnya, kita selalu dianggapnya sebagai barang berharga. Ia selalu menganggap kita seseorang yang tak pernah melakukan kesalahan. Padahal kenyataannya kita selalu menyakiti hatinya dengan sikap nakalnya. Kita selalu menyakiti perasaannya dengan bentakan yang terlontar dari mulut kita.

Tapi ia tak pernah mempermasalahkannya. Kesalahan-kesalahan yang dengan mudah kita perbuat, dengan mudah juga di lupakannya. Kesalahan yang kita lakukan selalu dianggapnya sebagai angin lalu.

~ æ~æ~æ~

 

Hari ini aku sudah bersiap untuk menghadiri sebuah acara di sekolahku. Aku sebenarnya tidak begitu mengerti acara apa yang akan di laksanakan itu. Yang kutahu itu adalah spiritual building. Entah apa itu.

Aku sudah siap dengan kemeja berwarna biru safir kesukaanku dan skinny jeans berwarna hitam. Tak lupa juga aku mengingatkan kepada ibuku untuk bersiap-siap. Yah, memang acara ini mengharuskan kami untuk mengajak orang tua kami juga.

Selesainya persiapan kami, aku dan ibu segera bergegas ke sekolah. Semua sudah berkumpul di sana. Sebelum kami memasuki aula, kami terlebih dahulu absen pada guru yang melayani kami.

~~

Air mataku seperti tak ada habisnya. Sedari tadi aku tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Air mata penyesalan.

Naungan-naungan doa itu terus terngiang di kepalaku. Gema-gema suara yang membuat hati bergetar masih terdengar dengan jelas di telingaku. Aku tak bisa menahan air mataku. Semua tumpah tanpa terkendalikan.

Aku sadar kesalahanku. Kesalahanku pada sang penguasa alam ini. Aku sudah banyak berdosa. Suara seorang lelaki paruh baya yang berdiri di depan membuatku menangis semakin menjerit. Saat ia menyebutkan kata neraka. Saat ia menyebutkan apa yang akan terjadi pada kita jika sampai saat ini kita masih hanya memikirkan keduniawian.

Lalu topikpun berganti.

Aku memejamkan mataku, sesuai perintah lelaki itu. Aku mendengarkan seluruh instruksinya.

“kalian pasti tahu pepatah yang mengatakan, bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Bayangkan! Bayangkan wajahnya dalam pikiran kalian. Bayangkan wajahnya yang sedang tersenyum hangat padamu. Dan bayangkan saat kita hendak melangkah mendekat, ingin memeluknya tapi ia malah pergi menjauh dan kita sama sekali tak bisa menjangkaunya. Dan kita sendirian di dunia ini. Tak ada lagi tempat untuk kita bersandar.”

Aku semakin menjerit menangis. Semua orang yang ada di sekitarku juga melakukan hal yang sama. Aku benar-benar membayangkannya. Dan aku sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpanya. Aku sama sekali tak ingin ia pergi dari ku. Aku ingin selalu bisa melihat senyumannya. Aku ingin selalu bisa merasakan hangat pelukannya.

“bayangkan! Kalian sedang tertawa bersama teman-teman kalian. Kalian seakan tak ingin lepas dari teman kalian. Lalu saat kalian pulang kerumah. Kalian mendapati rumamh kalian dalam keadaan yang ramai. Motor-motor dan mobil terparkir di depan rumah. Kalian berlari memasuki rumah. Kalian memandang seluruh tetangga kalian yang sedang duduk tertunduk dengan wajah yang pilu. Seseorang menghampirimu, mengusap pundakmu dan mengatakan sabar ya nak! Kalian masih tak mengerti. Bingung dengan situasi ini. Lalu kalian bertanya, dimana ibuku? Tapi tetanggamu itu hanya mengela nafas. Ia memelukmu sembari menangis. Ia mengusap punggungmu dengan kasih sayang. Kalian bertanya lagi dengan lebih keras. DIMANA IBUKU?

Aku benar tak bisa menahan tangisku. Aku terus menggigit bibir bawahku agar aku tak menangis kencang. Aku memeluk lutut ku seraya menggumamkan kata ibu. Aku memanggil manggilnya dengan suara lirih.

DIMANA IBU? Kalian terus saja bertanya. Tapi tetangga kalian hanya berkata, sabar nak, sebentar lagi ia akan datang! Lalu terdengar suara sirine dari luar. Sebuah mobil putih terparkir di halaman rumahmu. BAYANGKAN. Sebuah mobil bertuliskan ambulance datang. Lalu sebuah peti mati di bawa keluar dari dalamnya. Kamu berlari, menghampiri peti itu dan membukanya. Bayangkan, kini dihadapanmu, ibumu sudah tergeletak tak berdaya. Wajahnya pucat. Tak ada lagi tatapan kasih sayang dan senyuman hangatnya. Kau menangis! Memanggil namanya IBU IBU!! Tapi ia tak bergeming.” Ujar lelaki itu dengan sauara paraunya.

Aku menenggelamkan kepalaku disela-sela lututku. Aku semakin tertunduk dalam, menggigit bibir bawahku dan memeluk lututku semakin erat. Semua orang di sekitarku juga semakin histeris.

“apa yang akan kalian jika saat itu tiba? Kalian pasti akan berkata jangan tinggalkan aku ibu, aku minta maaf aku banyak salah. Tapi percuma, karena semua sudah terjadi. Sadar kalian? Apa yang kalian lakukan ini salah? Kalian memberontak padanya, membentaknya bahkan mengabaikannya. Lalu apa yang bisa kalian lakukan jika ia pergi?”

“cepat! Berdirilah! Hampiri orang tuamu! Minta maaf padanya, ucapkan terima kasih dan peluk ia seerat mungkin!” perintah lelaki itu.

Tanpa menunggu aba-aba lagi, aku dan yang lainnya langsung berdiri. Kami semua berbondong-bondong mengedarkan pandangan kami mencari ibu kami. Aku mencari-cari sosok yang mengenakan baju berwarna orange.

Aku harus berdesakan dengan siswa lain untuk sampai. Sesampainya aku di tempat ibuku, aku langsung menghambur ke pelukannya. Aku memeluknya dengan erat dan menangis di bahunya. Ia juga balas memelukku.

“Victoria, ibu minta maaf nak, jika ibu banyak salah!” ujar ibu dengan suara bergetar.

“ani omma! Aku yang seharunya meminta maaf. Mianhae, jeongmal mianhae!!” ujarku dengan sesenggukan dan semakin tenggelam dalam pelukannya.

Oh ibu…

Terima kasih untuk kasih sayang yang tak pernah usai

Tulus cintamu

Takkan mampu untuk terbalaskan

 

Oh ibu…

Semoga Tuhan, memberikan kedamaian dalam hidupmu

Putih kasihmu, kan abadi

Dalam hidupku…

Aku masih memeluknya. Seakan aku tak ingin melepaskan pelukan ini. Seakan aku ingin terus terus terlelap dalam dekapannya. Aku juga masih sesenggukan akibat tangisku tadi. Ia membelai rambutku lembut.

“omma, gomawo! Jeongmal gomawoyo!” ujarku. Ia hanya mengangguk. Dan terus membelai rambutku.

Aku kini berjanji ibu, tak akan menyia-nyiakan mu lagi. Aku akan memperlakukanmu seperti yang sepantasnya.

Aku sadar kini. Semua yang kulakukan benar-benar tak pantas. Mengingat kau selalu menyayangiku dengan kasih sayangmu yang berlimpah itu. Kau tahu ibu? Aku hanya seperti debu di tengah pancaran sinar kasih sayangmu. Aku selalu saja membuatmu sakit hati. Mianhae.

Aku sangat menyesal jika aku menlihat kebelakang. Dimana saat aku terus saja membentakmu dan tak memikirkan perasaanku. Mianhae. Aku berjanji ibu, aku akan menyayangimu, seperti kau menyayangiku. Bahkan aku akan berusaha menyayangimu melebihi kau menyayangi diriku.

Gomawo. Kau sudah memberikanku yang terbaik selama ini. Kau sudah berusaha untuk membuatku bahagia. Kau selalu mendoaakanku agar aku di beri yang terbaik di hidupku ini. Jeongmal gomawo!

~ æ~æ~æ~

 

Sayangilah dia. Seperti seharusnya kau menyayanginya. Cintailah dia, melebihi kekasihmu yang selalu kau bangga-banggakan. Cintai dia seperti ia barang berharga untukmu. Bukan seperti, tapi ia memang berharga. Bahkan ia lebih berharga dari emas yang ada di gudang rumahmu. Sekedar hembusan nafasnya itu sudah cukup membuat kita lega.

Senyumnya yang selalu menghangatkan hati kita. Jagalah agar senyum itu selalu terkembang di wajahnya. Usap seluruh peluh dan air mata yang merusak sinar wajahnya itu. Banggakan dia, selayaknya dia adalah hidup dan matimu. Berjuanglah untuknya, seperti ia yang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk kita.

Cari dia sekarang. Hampiri sekarang juga. Peluk dia. Cium pipinya. Katakan maaf padanya dan terima kasih. Kau tak akan menunggu jika saat itu tiba bukan? Katakan selagi ia masih berada disini. Sebelum semuanya terlambat. Karena kita tak akan pernah tau akan kepergian seseorang.

Sekarang juga, berlarilah! Dan berikan senyuman terbaikmu untuknya!

Tuhan…

Ampunilah ia atas segala dosanya…

Berikanlah ia kebahagiaan di dunia dan akhirat

Jangan biarkan ia menangis, Tuhan

Aku ingin selalu melihatnya tersenyum…

Mudahkanlah ia dalam menghadapi cobaan hidup yang kau berikan

Berikan ia kedamaian dalam hatinya…

Dan panjangkan umurnya…

Agar aku bisa membahagiakannya…

 

Amin…

THE END

 

Waahh… gimana ni FFnya? Mian, kalau FF ini gagal dan sama sekali tidak menyentuh. Karena saya kurang pandai dalam memilih kata-kata yang tepat. Mianhae, tapi FF ini saya buat untuk hiburan semata. Jadi jika ada yang tidak berkenan, saya mohon maaf sebesar-besarnya dan efek setelah saya mengikuti spiritual building. *deep bow…

Advertisements

9 responses to “Like a Dust When I Look Back (Doa Untuk Ibu)

  1. Pas banget, begitu lagi marah2 sama ibu tadi, langusng minta maaf sesegera mungkin setelah baca FF ini. Bener-bener menyentuh. Saya juga nangis lho onnie.
    Tapi maap, aku enggak baca sambil dengerin lagunya ungu-dan itu ternyata bikin tambah mengkhayati baca ffnya.
    Ya Tuhan, berikanlah berkah buat onnie yang buat FF ini, karena dia sudah bisa memberi pelajaran padaku. Amin.

    Nice FF lho, onnie. Yang pas pencerahannya, aku pernah dapat di les ngajiku, jadi udh terlanjur hanyut ke pencerahannya. Bacanya aja luaaaamaaa, onnie

    #terlalu banyakcurcol

    Oke, komennya: TIDAK ADA. Udh gak bisa berkata-kata apapun setelah baca semua isi dari FF ini. Hanya bisa bilang : Daebak d^^b

  2. Sumpah…!! sedih banget…!!
    Aq sampe nangis dan g bisa nafas…!!
    T.T apalagi ditambah lagu SNSD – Dear Mom…!! Astaga, smpe g bisa ngomong apa-apa lagi…

    Eomma, jeongmal sarangheyo….!!!
    :’)

  3. sumpah deh..
    banjir airmata sambil dengerin lagunya ungu…
    ya ampun…
    mamaku jauh bgt >.< belum bisa ketemu smpe bulan juli..
    jadi makin kangen…
    hayooo gaara2 chinguuu aku jd tambah kangen…
    tanggung jawab. *nodongin jengkol*

  4. Kata siapa ff-nya ga menyentuh?
    Ini sedih banget. Tapi maaf aku ga mengeluarkan air mata, karena aku susah mengeluarkan air mata (?)
    ff ini DAEBAK!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s