[FF/PG+13/ONESHOT] STRIVE

STRIVE/Oneshot

***

Title : Strive
Author : Erusadelune
Casts : Lee Taemin (SHINee), OC
Rating : PG+13

Genre : Angst, Tragedy, Dark, Fluff
Length : Oneshot
Theme Song : BEAST – 비가 오는 날엔
Disclaimer : I don’t own the character of Lee Taemin since he belongs to himself. However, i do own the plot. As it’s written as fiction, the OC characters are only my imagination.
 ©erusadelune 2011 all rights reserved.
Any distribution with no written consent from erusadelune is prohibited.

***

Bak pahlawan harab, sosok itu mengali. Candangnya lenyap. Tapi hatinya mengiba. Sebiduk cahaya lantas mengiring langkah. Kendati  Ia hanya seekor plankton diantara jerung manusia. Tak ada salahnya berlagak; toh ketetapan itu belum tercanang.  

***

Laksana siam mungil yang kehilangan semang, kaluk manis itu mengumbar serpihan galau. Semu dadu yang terceruk pada sisi mukanya seketika berubah suram. Ahn Seojung beringsut, kala gerombolan pemuda nakal mengusik kehadirannya.

“Apa—mau kalian?“ tanyanya sembari meniti langkah mundur. Ia bergidik ketakutan, sementara pemuda-pemuda berandalan itu malah makin tak karuan.

“Hentikan!” Seojung memohon, menyampar tangan-tangan kurang ajar. Tubuhnya seolah menciut, terhalang suruk tubuh-tubuh tegap. Matanya menjeling sejurus; menemukan sesosok tubuh kurus yang mencacak.

“Taemin…” Bibir sang gadis meronta, menggumamkan namanya. Lelaki itu tercengang.

Seorang pemuda menyeringai. “Kau mau ikut campur?”

“Tidak.” Taemin menggeleng. “Urusi saja urusan kalian.” Ketika itu, tungkainya nyaris mencacak pergi. Namun ia tak tega, tatapan Seojung berubah kuyu, tersemu rona pasi. Tubuh itu kehilangan daya; bagai onggokan mayat hidup.

“Tunggu—mau kemana kau?” Pria itu mendesis; melangkah cepat. Dua orang lain mengekor di belakangnya.

Taemin hanya menatap datar;  tanpa rona gentar maupun luapan keberanian. “Kau memang tak berhak mencampuri urusan kami, tapi kami berhak mencampuri urusanmu.” Sebuah pukulan sekonyong-konyong mendarat di pipinya.

Lelaki malang itu tersungkur, sisi mukanya bersemu merah. Seojung membeliak; lantas meronta. Tetapi satu pria tengil terlanjur mencengkeram pundaknya, menghempaskan tubuhnya pada permukaan dinding. “Ini urusan laki-laki.”

“Aku tak suka kekerasan.” Taemin mengusap cairan anyir yang meleleh dari sudut bibirnya. Sayang gerombol pria itu kadung tersulut. Sepasang tangan lantas menarik kerah kemejanya. “Tapi kami menyukainya!”

Satu lagi gemblengan hendak mengukir  memar, tetapi lelaki itu mengelak. “Lepaskan gadis itu, dan masalah ini selesai.”

“Selesai?” Cecar itu menyeruak, terseling gelak tawa. “Tak akan!”

Seojung memekik; tatkala gerombolan pria tengil itu mengeroyok tubuh kurus yang melemah. Laksana kelompok anjing hutan yang mereguk gumpalan daging manis. Gadis itu lantas meronta; mendorong tubuh pria di hadapannya kuat-kuat.

“Hentikan!” Seojung bertinggung, menyusupi celah pagar jaharu. “Ini tidak adil!” Pekiknya, teriring derai tangis yang memecah.

“Minggir kau, bodoh!” Pria jangkung itu jeraus menarik lengan sang gadis. “Tak akan! Aku tak akan pergi sampai kalian berhenti.” Kedua lengannya mengepak, menutupi lelaki malang yang bersimbah darah di baliknya.

“YA!” Bak mitraliur, koak itu menggema. Seojung terhempas, sikunya menumbuk permukaan tembok. Buru-buru ia menegak. Namun terlambat, gerombolan itu kadung membombardir tubuh Taemin. Sosok malang itu tersedak, bermuntahkan sputum darah.

***

Nyenyat mengiring suasana gelap. Seojung melayah cepat, menghampiri handai yang terhengit-hengit dipenuhi soyak. Bola matanya menyepuhkan kristal. Jemarinya menyapu memar yang tersongel di permukaan wajah.

Mian.” Sebelah tangannya mengalung pundak lelaki itu. Daksanya menegak, berusaha membawanya bangkit. Alih-alih mencacak, kedua tubuh lemas itu malah mengokol.

Seojung mengela napas. Benaknya diselubungi galau. Suasana itu terlampau sepi. Jika ia berkoak; niscaya hamunlah yang datang. Tak ada jalan lain selain memantapkan karsa. Kasid itu tak ada, kecuali dirinya.

Sekali lagi ia mencoba, memapah sang lelaki malang. Meski terogok-ogok meniti langkah, sedikit demi sedikit sejoli itu berpindah.

Trotoar jalan nampak lengang, hanya teriring nyanyian gegat. Kendatipun kuduknya tetap menggamang, was-was jika ancaman sekonyong-konyong menyergap keduanya.

Napas Seojung terengah. Peluh bercucuran memenuhi dahinya.  Sukar. Gadis itu tak membual, beban yang tak seimbang memaksanya harus mengeluarkan tenaga ekstra. Namun itu sepadan, setidaknya untuk membalas jasa lelaki itu.

Lamat-lamat atap rumahnya nampak menyembul. Seojung menyeringai, tak sabar menggapai. Sebelah kakinya menendang pagar kayu. Suasana sepi sontak berubah ramai, tatkala sebuah pot bunga mengantuk tanah. Gadis itu terperanjat; kebingungan.

“YA! Siapa disana?” Tanya itu terkoar, dan Seojung masih menggeming. Perlahan sesosok wanita baya mencuat dari balik pintu. Kedua perempuan itu saling terkesiap sejurus, sebelum sang wanita merengkuh tubuh yang terpampah tak berdaya.

“Siapa dia? Temanmu?”

***

Rintik cahaya membiduk kizib. Kelopaknya seketika mengonyot. Peri mungil itu tercenung. Sayap lebarnya mengatup. Rona indahnya berpendar cahaya. Namun sejenak, dirinya berubah kelam. Soaok yang menenangkan itu ditelan gelap.Jemari ini ingin meraihnya. Terlambat. Daksa itu kadung lenyap, menyisakan titik-titik duka. Cecar mengumbar tanya, dan terjawab dalam hampa.  

***

Selarik cahaya keemasan menyelinap dari sisi tingkap. Taemin mengerjap; silau. Matanya lantas menjeling, menghala sisi jendela. Lelaki itu terperangah. Sesosok gadis tercenung di dekatnya. Tubuhnya seolah berpendar, kala sinar mentari menyeruak dari balik punggungnya.

“Kau sudah sadar?” Ia mengulas senyum. Taemin berkernyit heran. Jemari lentik itu bergerak, hendak menyentuh permukaan dahinya. Lelaki itu menyergah cepat. “Aku baik-baik saja.”

Ia menyampir selimut putih yang mengelumun tubuhnya. Pakaiannya berganti. “Mana—“

“—ah seragammu sedang dicuci. Tak masalah kan kau pakai baju itu dulu.”

Ara!” Taemin mengangguk. Tubuhnya menegak. Sontak kepalanya berdenyut. Lelaki itu hampir ambruk andai Seojung tak merengkuh tubuhnya. “Istirahatlah dulu.” Tawarnya, sembari merenggangkan cangkuman. Lelaki itu menurut. Ia bersila di sisi ranjang.

“Jam berapa sekarang?” Manik matanya sejurus mengerling, mengitari seisi ruang. “Entahlah.” Seojung melangkah menuju tingkap. Dibukanya papan itu lebar-lebar. “Mungkin sekitar jam 10 !”

Mendadak Taemin terkesiap; pikirannya nyanyang. “Aku harus ke sekolah!” Tindak-tanduknya tak karuan, mengacak-acak perabotan ruang.

“Ya! Kau akan tetap ke sekolah? Bahkan dengan kondisi seperti itu?” Seojung terkikih. “Apa yang sedang kau cari?” Ia bertinggung, menyebelahi Taemin. Lelaki itu tak menjawab, hanya tercenung. Matanya menerawang, memandang langit fajar yang menyingsing.

“Kau benar.” Sekonyong-konyong ia merunduk, menghela napas. “Mungkin ini sekali waktu aku membolos.” Lanjutnya, teriring tawa. Walau separuh hatinya bergemuruh. Lelaki itu tak kuasa menujum, andai tindakan bejat ini terkuak. Ada tuntutan yang harus dipenuhinya, dan jika ia gagal, maka konsekuensi itu tak ayal menantinya di gerbang nestapa.

Ne, Taemin-ah! Gomawoyo!” Seojung berujar, melibas keheningan. Taemin melirik rautnya sekilas. “Untuk kejadian semalam?”

Seojung mengangguk. Tatapannya lekat, memandang gugus kumulus yang bercokol di langit. Taemin tak berlanjut, sebongkah kata bak menyangkut di pangkal tenggorokannya. Tatapannya lantas beralih. “Mana tasku?”

***

“Anak muda, kau yakin akan pulang sekarang?” Ahn Minhye tampak suram, ketika matanya menangkap gerak-gerik Taemin yang tengah membereskan dirinya. Wanita itu seolah tak rela, ia terlampau ikhlas menanggapi kehadiran lelaki itu.

Ye!” Taemin mengangguk hormat. Jemarinya meraih sepasang sepatu yang tergeletak di rak. Terlampau lihai, ia menyimpulkan temali yang menjuntai.

Minhye mendesau; kecewa. “Tapi kondisimu masih belum terlalu baik. Tidakkah kau ingin istirahat sebentar?” Lelaki itu menoleh cepat, mengulas senyum ramah. “Aku sudah merepotkan disini.”

“Siapa bilang kau merepotkan.” Minhye terkikih. “Aku justru sangat senang kau bisa menginap di sini. Merawatmu semalaman rasanya seperti merawat anggota keluarga yang baru! Maklumlah, dari dulu aku hanya bersama Seojung, kami—”

“—Ibu!” Sosok Seojung sekonyong-konyong tersongel, melanuskan mimik kesal. Minhye hanya tersenyum. “Ya, Apa yang kau bawa?” benaknya sontak mengulirkan tanya saat mendapati sesuatu bertengger di lengan anaknya.

“Ah—Ini seragammu.” Seojung buru-buru tersadar. “Maaf, ini masih agak basah.” Ia bertindak cepat, menjejalkan kain-kain itu ke dalam tas.

Gomawo!” Taemin meraih tasnya. Sejurus ia membungkuk; memohon pamit. Tungkai jenjangnya lantas berayun; meniti langkah pada permukaan setapak. Separuh hatinya sesungguhnya meragu. Ia bak tersendat di permukaan labirin.

Jika langkah itu berbalik, gerbang permulaannya niscaya menerima kehadirannya. Namun itu tak menyelesaikan perkara. Tetapi jika ia memilih berlanjut, naluri lemah itu tak berdaya. Terlalu banyak duri yang tergeletak di jalan, terlalu berat rasa-rasanya mencapai gerbang kemenangan.

***

Ranting-ranting itu terjulur, berselimutkan dedaunan hijau. Sayup-sayup angin melentuk di sekitarnya, mengalunkan suara-suara alam penenang batin. Sejurus Taemin terbuai, menikmati nyanyian langka yang mengiang di telinganya.

Meski segala rasa itu lantas lenyap, tatkala permukaan matanya meluapkan bayangan sebuah bangunan . Rumah putih berlantai dua itu nampak sunyi, niscaya terlampau mencekam.

Separuh sangsi, jemarinya memutar gagang pintu. Tak terkunci. Lekas-lekas dibukanya papan kayu itu. Suasana rumah lengang, tak terasa tanda-tanda kehidupan. Lelaki itu lantas mengendap, berjingkat menaiki tangga.

“Dari mana saja kau?” Suara berat itu sekonyong-konyong menggelegar. Taemin terkesiap. Setetes peluh membasahi sisi wajahnya.

“Ayah, kau tak berangkat kerja?” Lelaki itu mengganti tema pembicaraan, sementara jantungnya makin berdegup tak karuan. Benaknya sejurus merancu, bual apa yang harus dikarangnya?

“Dari mana saja kau? Kenapa semalaman tak pulang?” Lelaki itu bergidik; seiring langkah ayahnya yang lamat-lamat mendekat. Meski berdusta, namun bukti tak sanggup ditutupinya. “Aku—aku menginap di rumah temanku untuk mengerjakan tugas.”

“Menginap? Dan kau tak memberi kabar padaku? Bahkan teleponku juga tak kau angkat. Dimana ponselmu? Apa begitu caramu memperlakukan perhatianku?”

Ponsel? Benaknya menerka sejenak. Mampuslah ia. Barang itu pasti telah hilang. “Tidak. Aku—“

“—YA! Berbaliklah dan tatap aku!” Taemin tak kuasa mengelak, lasatlah ia dalam kondisi seperti ini. Tubuhnya perlahan berbalik. Kepalanya menekur, tak kuasa mengali permukaan wajahnya yang masih dipenuhi luka.

Pria baya itu mulai mengendus keganjalan. Ia mengangkat dagu anaknya. Matanya seketika membeliak; memandang raut itu dipenuhi memar. “Apa yang terjadi padamu?”

Taemin berusaha menghindar. Namun lengannya terlanjur tercengkeram. Lelaki itu terhempas, tubuhnya tersampar di atas sofa. “Katakan apa yang terjadi padamu!” Mr. Lee tak sabar, kalimatnya terkoak bak hardikan.

“Tak ada apa-apa. Luka ini hanya karena—aku terjatuh dari sepeda.”

“Apa kau berkelahi?” Ia seolah mengerti segalanya. Taemin mencongak, mengangkat pandang. Ketakutan itu kembali mengelumuninya. Tatapan ayahnya begitu bengis; menyiratkan segala amarah. “Kau terlibat perkelahian? YA! Katakan semuanya padaku. Siapa pelakunya! Aku pasti, aku pasti akan menghabisinya!”

“Hentikan! Ini masalahku, ayah tak perlu terlibat terlalu jauh.”

“Apa yang sedang kau katakan?” Kali ini Mr. Lee telah benar-benar dibuat berang. “Kau anakku. Kau tanggung jawabku. Jika sesuatu terjadi padamu, maka aku tak mungkin tinggal diam.”

“Tapi, bukankah ada suatu kala ketika kau membiarkanku menyelesaikan masalahku sendiri. Kau tak berhak selamanya mencampuri urusanku.”

Lengan Mr. Lee sekonyong-konyong terangkat, hendak melayangkan tamparan pada pipi kurangajar itu. Namun hatinya urung. “Baiklah. Jika kau tak ingin bercerita. Maka aku yang akan mencari tahu segalanya! Orang itu pasti akan celaka. Percalayah. Ia akan mendapat balasan setimpal.”

***

Sendu itu kembali menyeruak, menghinggapi permukaan benak yang beriak. Kala asa ini terlampau lemah, segala duka seolah meruah. Intuisi menghasut diri ini pergi. Meski segugus ketakutan itu mencengkeram tungkai kaki. Entah kalam apa yang hendak terjadi. Jampi-jampi ini tak kuasa mendorong pergi. Stigma kadung menghinggapi, sebuah hati tanpa nurani.

***

Nyaman. Perasaan itu langsung bersuaka tatkala tubuhnya terhempas ke ranjang. Nyeri yang terasa berganti ketenangan. Lelaki itu terbuai. Kantuk perlahan menerjang.

Kelopak matanya menutup, sementara benaknya tak henti berkelit. Bayang-bayang itu sontak mencuat, memenuhi sisi kosong benaknya. “YA!” Mata itu sekonyong-konyong membeliak.

Tungkai kakinya sejurus mengendap; meniti permukaan tangga. Kosong. Ruang tamu itu nampak lengang. Secepat kilat ia mencacak, membawa tubuh itu pergi jauh-jauh.

Setapak yang sama. Suasana yang sama. Masih berselimut aroma pagi menjelang siang yang hangat. Desau angin menyelinap di celah-celah ranting, terkadang meniupkan kenyamanan. Kendati rasa itu seolah tak sanggup menembus sarafnya. Ia melangkah dalam kecemasan.

Pagar kayu yang membentengi rumah mungil itu sekonyong-konyong menganga. Lelaki itu terengah di atriumnya. Sejurus munculah sesosok wanita baya. “Lee Taemin?” Kedua matanya membeliak; terperanjat menangkap kehadirannya.

“Seo—Seojung—eodi ka?” Pertanyaan itu terucap, teriring desah napas yang tersengal.

“Dia pergi. Ada urusan yang harus diselesaikannya. Aku tak tahu kemana!”

Ah,ne!” Senyuman itu menyembul, meski terselimut kekecewaan.

“Kau ingin bertemu dengannya? Mau menunggu dia sejenak?”

Ani! Aku akan mencarinya saja. Gamsahamnida!” Percakapan itu bergulir cepat, dan dalam hitungan detik, Taemin kembali melangkah pergi. Tungkainya berlari, sementara matanya sibuk menerawang sisi jalan. Dimana?

***

Lembayung senja memambang kuning, sementara surya mulai mengantuk. Kemilau cahayanya perlahan menyurut, tergantikan pekat. Waktu telah bergulir terlampau cepat, meski lelaki itu belum juga menemukannya. Mata besar yang berlukiskan kecemasan itu tak kunjung mendapati sosok yang ia cari.

Kakinya tetap menggarit langkah lebar, menuju pusat kota. Terkadang ia mengerling, mengawasi tepian jalan yang dipenuhi genangan manusia. Sayup-sayup lampu dunia mulai menyala, mengiringi suasana hatinya yang memburuk.

Napasnya terengah, peluh bercucuran membasahi dahinya. Sejurus ia bertinggung di atas trotoar, mengawasi pejalan kaki yang berlalu lalang. Sesosok gadis yang menegak di sisi rumah makan mewah tak ayal menarik perhatiannya. Cepat dientakan kaki, menghampirinya.

“YA! Seojung-ah!” Jemarinya terlanjur mencengkeram lengan gadis itu. Ia meragu, namun nuraninya tak salah. Seojung menatap dalam mata sayu; kebingungan.

“Ayo pergi dari tempat ini.” Taemin tak kuasa memendam emosinya yang membuncah.

“Kemana?” Seojung sejurus menoleh ke belakang. Matanya sempat memandang sebuah mobil hitam yang sedang mencari tempat pemberhentian. “Tapi aku ada urusan dengan seseorang. Aku sudah menunggunya sejak tadi.”

Taemin tak merespon, langkah kakinya beranjak cepat. Ia mengitari trotoar, menyisi dari pusat kota. “Kita harus pergi dari tempat ini. Segera!” Lelaki itu nampak serius, lantas menjeda langkah di depan halte.

Seojung tak kuasa berkata-kata, ia hanya menurut. Matanya menerawang sisi jalan. Tak ada yang aneh di jalanan itu, semua seolah berjalan normal. Tapi mengapa laki-laki ini bersikap berlebihan?

“Ayo!” Taemin menggamit pergelangan Seojung, ketika sebuah bus berhenti di hadapan mereka. Keduanya melangkah; menaiki kendaraan besar yang sepi penumpang.

Lelaki itu memilih dua kursi kosong di sisi kiri. Seojung menurut. Sejurus matanya menjeling, melirik raut wajah Taemin. Lelaki itu seolah berlagak, menyimpan sebuah tanda tanya besar. Meski ia tak sanggup menerka. Perubahan yang tiba-tiba tak cukup baginya untuk menyusun sebuah prediksi.

***

Halte itu nampak lengang, hanya berisikan dua makhluk kebingungan. Seojung tak henti berkernyit, kala Taemin memutuskan turun disana. Tempat itu asing baginya. Ia menerawang segala sisi, namun tak kunjung mendapatkan ide. “Dimana ini?”

“Entahlah.” Taemin menggeleng. Kota itu tak ubahnya kota asing baginya. Suasananya terlampau sepi, bermandikan remang-remang cahaya lampu. Bangunan yang bercokol di sekitarnya pun nampak tua, seolah tak pernah tersentuh renovasi.

“Sebenarnya kau ingin membawaku kemana?” Seojung menghela napas. Langkahnya berayun, melongok sebuah celah diantara rerumputan lebat di sisi belakang halte. Taemin mengikut. “Aku tak tahu. Aku hanya ingin membawamu jauh-jauh dari—”

“Siapa?” Kening gadis itu bersemu kerutan halus. Matanya mendadak berbinar tatkala mendapati seekor kucing kecil meringkih di sekitar semak belukar. “Kasihan.” Ia mendesau, lantas berlari menghampiri. Taemin hanya mengekor; alih-alih ingin mencegah.

Gadis itu bercanggung, membelai permukaan bulu yang nampak halus. Meski sang pemiliknya enggan. Kucing kecil itu terseok, memacu langkah pergi. Seleret goresan merah menghiasi tungkai kakinya. “Dia masih berlari dalam kondisi seperti itu.” Bibirnya membiduk busur senyuman.

Taemin sekonyong-konyong terkesiap. Petikan kalimat itu bak sindiran baginya. Mungkin hanya perasaannya saja. Namun intuisi seolah mengejeknya, ia tak lebih hebat dari seekor kucing kecil.

“Aaarrr!” Seojung sekonyong-konyong menggigil, tatkala angin malam lamat-lamat berhembus. Lelaki itu melirik, mendapati sang gadis mendesis dalam ringkihan. “Kau kenapa?”

Gadis itu hanya menggeleng, urung menjawab. Ia pun sejatinya tak mengerti, mengapa tubuhnya tiba-tiba mendingin. Seolah ada bongkahan es yang mencair di ubun-ubunnya, lantas menjejaki permukaan badannya. “Tak apa-apa. Hanya kedinginan. Lantas, bagaimana?”

Taemin membungkam sejurus. Lidahnya berubah kelu, kala hati justru kadung termantapkan. Tatapannya lalu hanya menerawang. Langit malam nampak buram. Seburam perkara yang membebat ruang benaknya. Bagaimana cara ia mengungkapkannya?

“YA! Kau tak mendengarku?” Pekikan gadis itu nyaris memekakan telinganya. “Aku dengar.” Ia bergumam pelan.

“Lalu? Bagaimana? Kenapa? Apa? Siapa? Ah—terlalu banyak yang ingin kutanyakan. Beritahu aku!” Seojung merengek, menggoyahkan lengan sang pemuda. Taemin menyeringai. Kapal hatinya bak terombang-ambing di tengah badai kebimbangan, antara ingin berlabuh dan terus berlayar; mengukir bual. Secercah kesal menyelimuti permukaannya, andai saja ia tak bercerita.

“Tidak adil. Kenapa kau tiba-tiba berubah bungkam?” Seojung mendesis kesal. “Biar kutebak—“

“—ayahku!” Lelaki itu menyerah. “Ya, dia. Aku pikir dia bisa mencelakaimu, jika ia tahu aku terluka karena bertemu denganmu malam itu. Ia tak pernah bermain-main. Itulah alasan mengapa aku membawamu lari. Kupikir dengan demikian, ia tak akan sanggup menjangkaumu.”

Sayup-sayup Seojung terkikih. “Masih soal kejadian itu? Baiklah, aku minta maaf. Tapi aku memang tak memaksamu menolongku. Itu bukan salahku, kan?”

“Jadi kaupikir itu salahku?”

“Tidak. Bukan. Itu tetap salahku.” Seojung menyeringai hambar. Gurat keceriaan itu berubah muram. “Andai aku bisa berlari seperti kucing itu!”

“Kucing? Apa kau takut?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. YA, Lee Taemin, apa kau takut?”

Taemin terdiam sejenak. “Sedikit.” Jawab itu terseling gelak tawa. Seojuk terkekeh. “Aku juga. Tapi bukankah sedikit-sedikit itu jika dibiarkannya bersama akan menjadi banyak?” lelaki itu berkernyit heran. Kalimat itu mungkin kalimat yang sering terngiang di telinganya ketika ia baru mengecap bangku pendidikan, namun ia tak mengerti, ternyata itu berguna di masa kini.

“Ayo kita selesaikan!” Perlahan Seojung bangkit, teriring sebuah juluran. Taemin menggapainya, meski separuh hatinya beriak; mengumpulkan gemuruh keraguan. “Tapi—“

“—Apa? Sampai kapan memangnya kau ingin lari? Memangnya kau adalah seekor kucing yang hanya bisa berlari? Seberapa kuat nyalimu untuk terus berlari? Lagipula, masalah juga tak akan selesai jika kau hanya terus berlari. Ia baru akan berhenti ketika kau membuatnya mati.” Gadis itu mendadak berubah cerewet. Rentetan kalimatnya cepat terucap. Taemin mengerjap, kepalanya menekur hampa.

Lelaki itu tak mengerti, mengapa perempuan ini lebih bernyali daripadanya. Mungkin karena ia terlampau rentah. Sial! Itukah sebabnya sang ayah berlaku sedemikian rupa? Lantas…semua kembali pada dirinya? Munafik!

***

“Akhirnya kita kembali!” Celetuk Seojung, usai bus terakhir menurunkan mereka di sebuah halte. “Kupikir kita akan tak akan kembali.” Gadis itu berlanjut, lantas mengusap-usap telapak tangannya. Benda itu terasa membeku, seolah darah tak lagi mengalir di nadinya.

“Kau masih kedinginan?”

Ia menggeleng, mengulas senyuman. Tungkai kakinya berayun cepat, menyusuri sisi jalan. Walau desis kedinginan tak henti mencecapi permukaan bibirnya. Taemin hanya mengekor di belakang, mengawasi segala sudut.

Sepasang mata itu sontak menangkap gerak-gerik mencurigakan. Dua pria tegap seolah membuntuti keduanya. Entah sejak kapan, lelaki itu tak yakin. Ia menarik pergelangan tangan Seojung, lantas menarik langkah cepat.

Sejoli yang tergesa-gesa itu meyatu dengan gerombolan pejalan kaki. Kedua pria yang mengejar mereka dibuat kebingungan, pandangannya menerawang diantara gerombolan manusia-manusia.

“Aaaa!” Sekonyong-konyong pekikan itu berkumandang. Taemin menjeling sejurus, memandang sebagian wanita-wanita tua yang bertiarap. Lamat-lamat bayangan pria berbalut tuxedo hitam itu menyembul. Dagunya meninggi, sebuah laras pendek terkait di dalam genggamannya.

Seketika jantung itu berdegup semakin kencang. Taemin melirik sejurus. Langkahnya mengendap, baru berlari menyisi dari genangan manusia. Seojung hanya mengekor, sebagian benaknya tak mengerti. Mungkinkah ini berhubungan dengan apa yang tadi lelaki itu bicarakan?

“YA! Berhenti!” Ia mendadak memekik. Taemin terkesiap, buru-buru merengkuh sosok itu. “Aku lelah!” Napas gadis itu tersengal, berubah sengau.

“Tapi kita harus secepatnya lari!”

Ani!” Seojung mengelak. Tungkainya menegak, urung melangkah. Sebersit pemikiran baru saja mencuat di benaknya. Gadis itu menjeling, menilik suasana sebuah mini market yang lengang. “Kau bisa tunggu disini sebentar?”

“Mau kemana kau?”

“Buang air kecil.” Ia menyeringai, penuh lagak. Sesungguhnya itu hanya bualnya semata. Yang nyata, ia hanya ingin menghindar dari lelaki itu. Dengan dalih : ia harus menyelesaikan masalah ini seorang diri.

Langkahnya lantas membelok dari tujuan. Gadis itu mengendap di antara setapak gelap. Terkadang ia berlari cepat, kala napasnya tersengal ia baru berjalan. Matanya tak henti mengawasi kanan kiri, melalui jalan pintas menuju sebuah hunian sederhana. Dari belakang, rumah itu nampak kumuh. Beberapa sisi-sisinya hancur.

Seojung menelan ludah kekhawatiran. Diseretnya langkah lebar menuju bagian dalam. Gadis itu membeliak, tatkala didapati kondisi rumahnya porak poranda. Aroma anyir pun memenuhi segala ruangan. Darah segar menjejak pada sebagian lantai kayu, mengantarkannya pada seonggok tubuh yang bertelungkup tak berdaya.

Sebuah pisau tajam menancap dalam di punggungnya, seolah menembus hingga ke bagian perutnya. Seojung mendekat, lalu menyampir beberapa helai rambut yang menutupi wajah tubuh dingin itu. Matanya sontak membelalak, tak percaya. Lantas didekapnya tubuh itu erat-erat. “Eomma!” Air mata merenjis, membasahi sisi muka yang bersemu ketakutan.

“Sudah selesai?” Lamat-lamat sosok tegap itu menampakkan wajah. Seojung kebingungan, ia meniti langkah mundur. Namun sosok itu terlanjur mencengkeram helai rambutnya, menyeret paksa tubuh sang gadis.

***

Langit malam semakin pekat, semakin mengoarkan suasana mencekam. Taemin bertinggung, mengawasi mini market yang terus menyepi. Sosok itu tak kunjung muncul. Sejurus lelaki itu menyimpan curiga.

Ia melangkah, memasuki bilik kecil yang membuatnya membeku. Tatapannya menerawang ke segala sisi, hanya ada rak-rak berisikan jajanan dan beberapa pelayan. Tak nampak sosok Seojung disana.

“Permisi, bolehkah aku menumpang ke kamar mandi?” Lelaki itu lantas bertanya pada salah seorang pelayan wanita.

“Di sebelah sana, di luar ruangan.” Wanita itu tersenyum sembari menghala jemari, menunjukkan letak kamar mandi. Taemin mengikuti instruksinya.

Sepi. Toilet itu nampak sepi. Tak ada sebatang tubuhpun yang menegak di sana. “Astaga!” Sebuah firasat buruk bak memenuhi sisi benaknya. Buru-buru diseretnya langkah cepat, menapaki setapak gelap.

***

“YA!” Seojung memekik. Perih mengguyur seluruh tubuhnya tatkala tubuh itu diseret paksa. Tungkai atasnya menyisakan titik-titik merah usai bergesekan dengan permukaan aspal yang kasar. Ia mendesis, berusaha melepaskan cengkraman yang menarik ubun-ubunnya.

Tubuh itu sekonyong-konyong terhempas, menghantam permukaan dinding. Laksana gumpalan sampah yang sedang dibuang. Seojung terbatuk, mendapati nyeri di sekitar dada.

“Kau puas?” Tanya itu mengudara seiring tatapan Seojung yang mendongak. Diantara juntai rambutnya, ia mendapati seringai itu melebar. Rautnya nampak kesal, menyimpan kasam.

Meski gadis itu tak sanggup berujar. Bibirnya seketika mengatup. Gigi-giginya bergemeluk, terhambat nyeri. “Jawab aku!” Tangan kasar itu niscaya menjumput beberapa helai rambut sang gadis. Seojung merintih, renggutan itu terlalu keras, seolah mengelupas kulit kepalanya.

Lelaki biadab itu tak sabar, lantas melentukkan kepala Seojung. Dinding beton yang keras menjadi penyangganya, hingga peluh bersemu darah menetes dari sisi keningnya.

“Katakan padaku, kau ingin tipe yang seperti apa? Seperti kawananku?” Gelak tawa membahana. Seojung hanya meringkuk, tatkala sebilah besi pengiris tajam mecuat dari balik rompi sang pria. Ia mengisut, berusaha menghindar. Namun genggaman itu lebih cepat dari gerakannya, menghambat langkahnya.

Sekonyong-konyong benda jahanam itu merenggut sisi samping perutnya. Seojung mendesis, ketika anyir tumpah ruah membasahi bajunya. Lelaki biadab itu menyeringai. Namun sejurus seorang lelaki lain muncul. “Gawat!” Pekiknya dari jauh.

Seojung mengintip dari sela rambutnya. Kedua lelaki itu sibuk berbincang. Bodoh! Oloknya dalam hati. Gadis itu membiduk senyum lantas menggarit langkah menggelinjang. Permukaan dinding menjadi tumpuannya berdiri. Meski nyeri, namun benaknya yang tak kasdu nyawanya terenggut memaksakan kehendak. Lamat-lamat sosok itu menghilang, terbawa angin malam.

***

Bukan matine, afirmatifnya mengoarkan cerita senja. Tatkala kedua tungkai jenjang itu mengehela, menembus lolongan anjing malam. Sejurus kuduknya menggamang, kala cekam menyelinap celah benaknya. Sosok rentan itu meringkih; suasana hatinya kelam.

Lembayung telah berubah warna. Sinar kemerahannya tertelan angkara murka. Laksana penderitaan yang datang mendera, terlalu kejam pekat itu menelan pancar keindahannya. Tak ayal anyir menyeruak dari koyakan kulitnya. Perih terdesis; laksana lidah yang terkait sanggamara.

Lututnya berkeluk; menyandarkan diri pada sudut lorong sempit nan gelap. Jemari mungil itu gemetar; perih itu kembali menyeringai. Nyeri cabik yang menganga tak henti merintihkan sudut bibirnya.

Daksa lemas itu ambruk, mengantuk pinggiran dinding. Ia membujur; bagaikan onggokan mayat. Meski bibirnya masih sanggup mendesis; mengulas lengkungan busur.

Waktu beralih, dan situasi terus menghening. Tempat kumuh itu tersembunyi; terlampau sepi. Mustahil. Imaji belaka jika ia berharap orang itu sanggup menggapainya.

Namun kalam bercerita lain. Irama langkah kaki yang membabi buta itu perlahan terengkuh cuping telinga. Teriring desah napas memburu; ayunannya membawanya menemukan sosok yang tergeletak di sisi lorong. Orang itu membeliak; lantas meraup tubuh yang menggigil itu.

Gwaenchanayo,Ahn Seojung?”

Dingin, tatkala kedua tangannya mengusap kening sang gadis. Sejurus ia dirundung frustasi. Apalagi aroma anyir yang terkuak semakin tak mampu ditutupi. Ia menggoyangkan punggung yang membeku itu. Meski goncangan hebatnya tak kuasa membangunkannya. Gadis itu tetap terlelap, bak putri tidur.

“YA! Bangunlah, Ahn Seojung!”

“Ah!” Desis itu sekonyong-konyong bersuaka, tatkala sebuah tonggak besar terasa meninju tengkuknya. Orang itu hendak berbalik, namun benaknya seolah melayang. Seketika ia ambruk; tersungkur di sisi jalan.

***

Gugus kristal mengepuli sudut matanya. Raungnya berderau. Niscaya ia tersungkur, meringkuk hampa. Perih. Tatkala kepulan hitam itu melebar, menyimpan jaharu yang menggelegar malam. Permukaan hatinya beriak; terselumun ombak penyesalan.

Jika ia tak berlagak, pasti sayapnya akan bernaung.

***

Kelukur itu menggenangi permukaan roman yang berkelemayar. Paras ayunya tak ayal tenggelam dalam hitam, tatkala anyir  yang menguap mendebur arun. Lemah; sebongkah daya tak nampak mengalang tulang. Laksana daun kering; tubuh itu meringkih di permukaan aspal.

Di sekitarnya, seorang lelaki muda tersungkur. Ia mendesis; nyeri menyampu sebagian tengkuknya. Jemarinya  mengelukur permukaan aspal, meningalkan titik merah pada ujungnya. Desau itu kembali berkoar, mengumpat kesal.

Kepalanya perlahan mendongak, mendapati cercahan bayang-bayang nestapa. Sepasang kaki tegap lain berayun, membopong wadah bertampungkan etanol. Karbon jenuh itu tersurai, menahir pada sulur-sulur rambut hitam yang menjuntai.

“Apa yang—“ kalimatnya tersengal; berubah desah nyeri, kala linjakan itu mendesak punggung tangannya. Sang jaharu mengumbar kekeh, lantas menjumput helai helai rambutnya. “Tunggu giliranmu.“Manik matanya membeliak, menghempas tubuhnya jauh-jauh.

“Kita lakukan sekarang?” Jaharu tegap lain menjeling sejurus. Seringainya melebar. Gugus beranang kecil sekonyong-konyong menguap dari celah pemantik. Hanya menghitung detik dan benda kecil itu meluncur, mengantuk aspal yang tergenang cairan awawarna.

Lautan merah sontak menerjang, begitu menyala. Pendar rembulan bahkan tersisih oleh deburnya. Sepasang jaharu itu meniti langkah mundur, mengiring si lelaki muda mulang. Seketika itu ia sadar; dunianya berubah marak. Ia menggeliat, sepadan dengan raungan yang meraum hebat.

“Seojung-ah!”

Tubuh itu terbujuk maut yang menyeringai. Nyaris ia berlari mengarung samudra beranang, andai genggaman itu tak menohok hulu perutnya. Ia terjerembab, menahan sedak. Gumpal sesal mengendap di permukaan hatinya, melelehkan tangisan.

Geumanhaeyo!” Pekiknya menggaung, mengiringi recapan merah yang menghempas. Daksanya beringsut, takala depa itu sekonyong-konyong mendesak napasnya. “Hentikan! Bodoh!” Bak teranjik jiwa lain, tubuh itu menggelegar, hendak melepaskan cengkraman.

Pundaknya berayun tak tentu arah; meronta. Sayang cengkaraman itu urung melonggar, justru makin mengencang. “Seojung-ah!” Terseling isak; Ia kembali menyuakakan kalimat panggilan. Tak sadarkah ia, ceruk telinga itu tak kuasa meraup getaran yang ada?

Kalam yang kadung terpatri mustahil tertangguh; seberapapun jaminan ternegosiasi. Sauh frustasinya hanya gema belaka, meski ceruk bibirnya tak henti bersuara. Suara tegarnya melemah, berubah serak. “Mian!” Kuduk itu merunduk, menyisakan duka yang tak berujung.

Tolong! Lamat-lamat bunyi itu terdengar. Diangkatnya pandang, menyaksikan sisi lorong yang perlahan menghitam; kepanasan. Dibaliknya nampak bayang sang sosok jelita. Kelam, tak bercahaya. Ronanya bersemu memar, pakaiannya laksana kain kumal. Tubuh rentan itu lantas merangkak, mengulurkan jemari lentik yang menghangus.

Andai uluran itu mendekat, niscaya akan dijangkaunya. Sayang gaya itu terlampau lemah, mustahil tersentuh manusia. Sebab ia telah berantara, terlantar di genangan nestapa. “Giliranmu?” Lelaki itu tersadar, tatkala seorang jaharu berbisik. Sebotol alkohol mencuat dari balik rompinya, tersela seringai masamnya.

“BERHENTI!” Pekik itu sekonyong-konyong membahana, teriring debur timah panas yang baru saja mencuat. Lelaki itu melirik, dua pria tegap mencacak beberapa meter darinya. Perlahan langkah salah seorangnya mendekat, lantas meraih seonggok tubuh yang merana.

***

Aroma alkohol menyeruak, tatkala lelaki itu mendorong gagang pintu. Didapatnya sosok seorang pria tersudut di sisi bar kecil, menikmati sebotol soju. Batang rokok tersisip di sela jemarinya.

Lelaki itu melangkah cepat, menghampiri sosok pria yang dianggapnya gila. Pria itu menyeringai, lantas menegak habis botol sojunya. “Apa? Aku sudah menyelesaikan masalahmu?” Setengah sempoyongan, lelaki itu meraih sebuah dokumen di atas meja.

“Mereka sudah terbunuh. Pria-pria tengil tak beradab itu telah mati.” Ia menggelar tawa lebar, niscaya bola matanya mencuat. Lantas dihempaskannya tubuh yang melayang itu, meringkuk di atas sofa.

“Kau membunuh mereka? Dan itu membuat kawanannya bengis!” Lelaki itu menyampar dokumen yang tergeletak diatas meja. Tak ayal pria mabuk itu gusar.

“Kau—beraninya! Seharusnya kau berterima kasih padaku!” Lengannya tersampir, hendak menepuk pipi yang masih memar itu. Namun pria baya itu kehilangan daya. Alih-alih, tubuhnya kembali tersungkur di atas sofa.

“Berterima kasih? Setelah karena sikapmu, seseorang yang tak bersalah pula tewas?” Sang lelaki memekik, lantas menghantam permukaan meja. Kristal-kristal kaca bergelimangan, bergemerincing nyaring.

Kendati pria baya itu hanya terbahak. Otaknya tak cukup sempurna untuk mampu mengolah masalah yang sebenarnya. Karena sejatinya, jika ia sadar, iapun tak pelak sama bengisnya dengan lelaki itu.

Mabuk adalah jalan pintasnya, melupakan segenap duka yang menyelimuti hati. Ia waras, sungguh! Ia bahkan lebih warasa dari jiwa sang lelaki yang seolah kehilangan jalan. Iapun tak rela, ketika nyawa semudah itu melayang, hanya untuk melindungi seonggok tubuh kecil.

***

Perlahan kelopak matanya membuka. Bayang itu nampak hina, tatakala cermin menyembulkannya. Wajahnya muram, terselubung dusta. Kasap rasanya, ketika ujung jemari ini menyentuhnya. Wajah itu bak tempurung bajan, kelam dan tak lecat.

Lelaki itu merunduk, menahirkan percikan air pada permukaan wajah. Perih. Memarnya terasa berdenyut, ketika recik itu menyentuhnya. Ia meringis, menahan desis. Tatapnya kembali mendongak, mengamati bayang roman yang melecun.

Hina lata. Sosok itu sekonyong-konyong menyembul. Samar-samar menyeruak di balik bayang wajahnya. “Mwoya?” Lelaki itu berkoak, laksana orang yang tak waras. Sejurus amarahnya meletup. Kristal yang berkilat itu lantas tercercah. Kepingannya berdenting nyaring; mengantuk permukaan ubin.

Recikan darah segar merenjis, memenuhi sisi wastafel. Lelaki itu meringis; seketika perih mencabik sela jemarinya. “YA! APA LAGI MAUMU?” Koarnya menggema, bak kilat yang membelah mega. Seisi otaknya seolah membancuh. Bayang-bayang itu silih berganti memenuhi memorinya. Gila! Semua ini membuatnya gila!

Pelan-pelan ia tersungkur, mengantukkan tempurung dahi pada permukaan dinding. Darah segarnya kembali merecap, memenuhi sudut wajah. Tak ayal bau anyir meluap, menggantikan aroma kamar mandir. Kelebat ingatan atas perempuan-perempuan itu sontak memenuhi seluruh benaknya.

Ahn Seojung! Lelaki itu berkoar-koar hebat, terseling tangis yang mongering. Segubuk penyesalan menaungi sisa ruang hatinya. Kenyataan itu bukan fiktif, bukan pula angan-angan yang tak tentu. Itu nyata.  Gadis itu benar-benar tewas karena dirinya. Meski ia memperlakukannya bak raja. Tapi siapa dirinya? Atas kuasa apa dia? Sungguh! Itu keterlaluan.

“YA, LEE INHWAN! APA SEKARANG KAU PUAS? INI SALAHKU. DIA MATI KARENAKU. MAKA SEKARANGLAH, IZINKAN AKU MENYELESAIKAN MASALAHKU SENDIRI!” Gelak tawa mendadak membahana. Lelaki itu beringsut, menuju bathtub. Keran airnya menyala, menyemburkan bulir-bulir penahir.

Lukanya terbasuh, menyisakan cairan merah pada permukaan bawah. Ia mengerling sejenak, lantas menyeringai. Mungkin cairan itu laksana kolam sirup baginya. Lelaki gila itu berangsur-angsur mengangkat daksa, lalu merebahkan badan diatasnya.

Dingin menyeruak, menyusupi tulang remuk berselimut lara. Namun lelaki itu enggan berhenti. Otaknya menggila, tak lagi sanggup memilih perkara sebatas logika. Ia membatu, membiarkan bibirnya membiru. Pelan-pelan debit air meninggi dan tubuh itu terangkat, melayang diantara genangan air.

***

Sebiduk angan menggerecak pusang

Tatkala asa mengiring langkah

Tubuh ringkih terhempas nestapa

 

Jemari mengulur; menerjang alianse kelam

Onggokan relik memekik; lamat-lamat mengoak

Sayang kelopak mengerjap

Terlampau congkak menilang bala

 

Bodoh!

Rintik cahaya mengarung

Dan relung menegak dahaga surya

Kelam terbentang; membuncah duka

 

Asak sesal memagut hikayat

Ranjau lakon melapuk; menggurat kernyih

Lantas biarkan lidah ini kelu

Menyerap bulir cecar yang membeku

***FIN***

Advertisements

33 responses to “[FF/PG+13/ONESHOT] STRIVE

  1. ah, mau baca ulang deh, gapuas klo baca di hape. prtama2 sih mikir, authornya dari ngara jiran ya..eh, trnyata salah. mianhe *deep bow*. btw, saya acungin jempol krna bikin ff dengan diksi tingkat dewa ini, haha…:D eung, authornya 15 taun? sama dong, tpi saia gabisa bkn ff dg gaya bhsa bginian…yah, yg penting, Keep writing, thor 😀

    • Hahaha…baca di hape emang gak asyik. *ditendang*
      Jiran? Astajim saya warga malingsial dong. TT
      Haduh…haduh…apanya yang tingkat dewa, saya manusia biasa kok.
      Ok ok…rencananya juga mau bikin lagi.

  2. seriusan authornya umur 15 taun? o.o
    inimah kayak udah kuliahan deh..tadinya saya kira authornya kuliah di jurusan sastra indonesia, ternyata masi muda bgt toh. Keren!

  3. DEWA BANGET BAHASANYA!!!!
    Subhanallah, bacanya aja sampe terkesima begini! ckckkckck. Jjang!

  4. Aduh!!! Nih authornya prnah mnang karang puisi tingkat internasional ya?? Aigoo..gaya bhasanya keren bnget!! Hwaa! Bneran 15 y.o?? Aigoo… Knakan,aku 14 y.o lho#gaknanya
    ampe pusing nih mbacanya… T.T

  5. ==’ saya gangerti baca soalnya bahasa indonesianya bakuuuu banget *duagh
    bagus kok 🙂
    ini dr lagu B2ST yg mn ya XD
    weleh; unnie toh.. Kenalin dah XD ze imnida, 13yo :3
    bagus kok XD buat lg ya, tpi, b.indo nya jgn baku banget.
    Sumpah, saya mesti ngolah 2x lipat dr biasanya (?) haha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s