I’M NOT CINDERELLA IX

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Lee / Cho Eunhye

Cho Kyuhyun

Kim Soohyun

Support cast : Super Junior

Genre : Romance

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan aku, hanya imajinasi aku sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

POV : semua cerita di ambil dari sudut pandang Eunhye

Poster and Thank’s To : Rara a.k.a cutepixie

“Sekeras apapun aku berusaha untuk mencintaimu dengan utuh, akhirnya aku akan sampai pada titik terbawah kesabaranku.” Ocha Syamsuri

Baca dulu : Part VIII

***

I’M NOT CINDERELLA

***

About one year ago…

“Appaaa…..” Suara teriakanku terdengar di seluruh penjuru rumahku. Segera  saja aku berlarian mencari appa-ku setelah mendengar dari supir yang menjemputku tadi jika appa sudah tiba di rumah, setelah menyelesaikan pekerjaannya di Jepang. Bisa dibilang appa-ku itu adalah pengusaha yang sangat sukses di Asia. Namun walaupun beliau sangat sibuk dengan pekerjaannya, dia tidak pernah mengurangi perhatiannya sebagai ayah. Bahkan appa-ku itu termasuk kedalam kategori ayah yang ‘cerewet’ dan ‘super protektif’ terhadapku. Aku bisa maklum sih, karena aku lah anaknya satu-satunya.

Tapi, jangan dikira aku adalah seorang anak yang manja karena di besarkan selayaknya seorang ‘tuan putri’ yang hidup dengan harta kedua orang tuaku. Sedari aku kecil aku selalu diajarkan bersikap sopan terhadap semua orang. Appa mengajarkanku nilai-nilai kesopanan yang sangat tinggi, appa juga selalu menerapkan untuk mempercayai orang lain. Sedangkan eomma-ku mengajari sikap selayaknya seorang wanita pada umumnya.

Namun sekeras-kerasnya mereka mendidikku, kasih sayang yang mereka curahkan tidak pernah kurang satu-pun, bahkan lebih.

Karena perhatian dan kasih sayang yang dicurahkan oleh appa dan eomma, makanya aku tak heran lagi jika banyak orang yang iri dengan kehidupanku. Contoh yang paling nyata adalah teman-teman sekolahku. Mereka sering memanggilku ‘princess’. Aku tahu kenapa mereka memanggilku seperti itu. Hanya saja aku tidak terlalu ambil pusing. Aku tidak ingin berpikiran negatif.

“Appaaa…” Aku berteriak lagi. “Ajuhmma, appa mana?” Tanyaku ke ajuhmma yang tidak aku tahu namanya. Tapi seingatku dia lah yang mengurusi semua pakaian-ku.

“Ada di ruangannya agasshi. Disana juga ada Nyonya besar.” Jawab ajuhmma itu.

“Ahh, khamsahamnida ajuhmma.” Aku menundukkan kepalaku sebagai ucapan terima kasih lalu berlari menuju ruangan yang di maksud oleh ajuhmma itu.

Senyum-ku langsung mengembang takala aku mendengar suara appa dan eomma-ku dari dalam ruangan. Tapi, ehh? Sepertinya tidak hanya appa dan eomma-ku yang berada di dalam ruangan itu. Ada orang lain kah? Tapi siapa?

Aku memutarkan knop pintu dan membuka pintu. “Appa..” Panggilku lalu berhamburan ke pelukan appa-ku.

“Aigoo~ uri Eunhye sudah pulang rupanya.” Appa membalas pelukanku, ia juga menciumi puncak kepalaku. Aku memeluk appa-ku erat-erat. Aku sangat merindukan bau appa-ku ini. Bau khas seorang ayah.

“Aigoo~ aigoo~ appa tidak bisa bernafas kalau kau memeluk appa seerat ini.”

Aku terkekeh dan melepaskan pelukanku. “Aku merindukan appa.” Aku mencium pipi appa.

“Aigoo~ Eunhye-ah, uncle juga baru pulang. Kenapa kau tidak mencium uncle juga?”

Aku menoleh dan kudapati ajuhssi-ku berdiri di samping eomma-ku yang sedang menyesap teh-nya. “Ajuhssi…” Aku memeluknya juga lalu menciumi pipi ajuhssi-ku.

“Aigoo~ seandainya kau bukan keponakanku. Kenapa semakin hari kau semakin tumbuh dan semakin cantik Eunhye-ah?” Ajuhssi mengusap kepalaku.

“Ya~ Lee Junghwa! Itu keponakanmu.” Eomma memukul kepala ajuhssi dengan majalah.

“Aishh~ noona. Berhenti memukul kepalaku. Sudah 20 tahun kau selalu menjadikan kepalaku ini sasaran empuk-mu.” Ajuhssi mengusap kepalanya dan mencibirkan bibirnya.

Aku tertawa melihatnya.

Lee ajuhssi itu adik kandung appa-ku. Saat appa dan eomma menikah, Lee ajuhssi baru berumur 10 tahun. Makanya tidak heran jika ia sangat dekat dengan eomma-ku.

“Makanya cepatlah menikah Lee Junghwa. Aku pusing melihatmu menempelku terus.” Ujar eomma-ku.

“Kenapa sih noona selalu menyuruhku cepat menikah? Aku tidak mau menikah sebelum aku menemukan wanita yang tidak secerewet noona. Cukup hyung saja yang tersiksa lahir batin karena menikah dengan wanita yang sangat cerewet seperti noona. Aku tidak mau.”

“Ya~~!!.” Sebuah majalah sukses mendarat di kepala ajuhssiku.

Aku dan appa-ku tertawa melihat tingkah laku mereka. Eomma dan ajuhssi-ku itu ibarat anjing dan kucing. Tidak pernah akur. Tapi walaupun begitu, eommaku sangat menyayangi ajuhssi-ku. Bahkan ia menganggap ajuhssi-ku itu seperti anaknya sendiri.

“Agi-ya, gantilah pakaianmu dan berdandan lah yang cantik. Kita akan makan di luar. Hari ini kita akan ada perjamuan makan malam dengan keluarga Cho.” Ujar appa-ku.

“Keluarga Cho? Nugu?” Aku memandang appa-ku heran.

“Keluarga Cho itu sahabat lama keluarga kita. Appa sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Dan ahh, putra bungsu mereka juga akan datang. Namanya Cho Kyuhyun. Apa kau mengenalnya? Appa dengar dia itu anggota dari grup idola yang sangat terkenal.”

Aku menggaruk kepalaku. “Cho Kyuhyun?” Aku berpikir sejenak. “Ahh, iya. Aku tahu. Kalau tidak salah dia itu maknae-nya Super Junior.”

“Apa kau menyukainya?” Tembak appa-ku langsung.

Mataku membulat mendengarnya. “Menyukainya?” Aku tertawa. “Appa, aku bahkan belum pernah bertemu dengannya, masa aku sudah menyukainya sih?”

Appa mengelus kepalaku. “Dia itu teman semasa kecil-mu agi-ya. Apa kau tidak mengingatnya?”

Aku mengangkat kedua bahuku dan menggeleng. Appa mengacak rambutku. “Ahh, sudahlah. Nanti malam kau akan melihatnya sendiri. Appa dengar dia itu sangat tampan loh.”

“Ajuhssi bahkan lebih tampan.” Ujarku sambil menunjuk ajuhssi yang lagi sibuk mengobrol dengan eomma-ku.

Appa tertawa. “Tentu saja Lee Junghwa tampan. Hyung-nya saja sangat tampan.”

Aku mengembungkan pipiku mendengar kenarsisan appa-ku. Ck, bisa-bisanya appa-ku senarsis ini.

“Ya, sudah. Cepat ganti pakaianmu.”

Aku mengangguk dan menuju ke kamarku dengan berat hati. Entahlah, tapi beberapa hari ini aku selalu merasa seperti akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi hidupku. Dan aku tidak tahu itu apa. Aku hanya berharap hidupku selamanya akan begini.

***

Acara makan malam dengan keluarga Cho berjalan dengan sukses. Tapi sayangnya putra bungsu dari keluarga Cho yang appa maksud tidak bisa hadir karena sedang recording untuk album baru grup-nya. Sebenarnya aku penasaran sih dengan putra bungsu dari  keluarga Cho ini. Apalagi sepanjang jalan menuju tempat perjamuan makan malam ini, eomma selalu menceritakan tentang ketampanan namja itu. Ck, aku jadi penasaran dengannya. Eomma-ku itu bukan jenis orang yang suka memuji. Jadi bisa dipastikan jika namja itu benar-benar spesial. Tapi entahlah. Aku tidak ambil pusing.

“Sayang ya, putra bungsu mereka tidak datang. Padahal eomma ingin melihatnya dari dekat.” Ujar eomma. Kini kami berada didalam mobil menuju ke rumah.

“Memangnya eomma belum pernah melihatnya?” Tanyaku.

“Eomma sudah lama tidak melihatnya. Eomma penasaran dengan wajahnya sekarang. Kata teman-teman eomma, Cho Kyuhyun itu sangat tampan. Suaranya juga keren.”

Aku mengernyit memandang eomma-ku. Bahkan mata eomma bersinar saat membicarakan namja itu. Oke, aku tambah penasaran seperti apa wujud namja bernama Cho Kyuhyun itu.

“Yeobo~ lebih tampanan aku atau Cho Kyuhyun itu?.” Rajuk appaku.

“Tentu saja kamu yeobo~ya.” Eomma mencium bibirnya appa.

“Ishh~ eomma, appa. Disini ada gadis berumur 18tahun. Berhenti bersikap menjijikkan seperti itu.”

Ck, dasar orang tua ini. Berciuman didepan anaknya sendiri.

Eomma dan appa tertawa renyah lalu memelukku.

***

“Eomma, kalian mau berangkat lagi?” Tanyaku heran saat melihat eomma sedang sibuk memasukkan pakaian appa ke dalam koper.

“Cuma 2 hari sayang.” Jawab eomma sambil terus memilih pakaian di lemari.

Aku duduk di pinggir kasur. “Aku ikut ya eomma.”

Eomma menoleh, ia tersenyum. “Mau ikut? Kami cuma ke Jepang sayang. Lagipula kau kan harus sekolah.”

Aku menunduk dan meremas seprai. Bukan begitu eomma. Aku hanya…

Hatiku hanya tidak tenang. Aku merasa aku akan kehilangan sesuatu yang berharga.

Eomma memegang wajahku. “Kenapa menundukkan kepalamu? Kau marah?”

Aku menggeleng namun tetap masih menundukkan kepalaku. “Ani.”

“Hei, lihat eomma.”

Aku mendongak dan kulihat eomma menyunggingkan senyumannya. “Eomma dan appa perginya cuma 2 hari. Tidak lama. Besok lusa eomma dan appa sudah pulang lagi.”

“Tapi bisakah aku ikut saja? Aku hanya tidak tenang kalau tinggal di Korea sendirian. Lee ajuhssi juga tidak berada di Korea.”

Eomma menggeleng. “Sejak kapan anak eomma jadi manja begini? Eunhye-ah, hanya 2 hari saja.”

Aku menarik nafasku berat lalu menghembuskannya. “Ne~ arraseo eomma.” Dengan berat hati aku menganggukkan kepalaku.

***

“Eomma, appa. Hati-hati ya. Dan cepat kembali.” Aku memeluk eomma-appa.

“Aigoo~ aigoo~ agi-ya. Arra. Kau mau oleh-oleh apa? Nanti appa belikan.”

Aku menaruh telunjukku di dagu, seolah berpikir. “Aku hanya ingin appa dan eomma cepat kembali saja.”

Appa tertawa terbahak-bahak. “Sejak kapan seorang Lee Eunhye jadi begini? Biasanya kau akan merengek minta di belikan sesuatu.”

Aku mencubit perut appa. “Appa…”

“Hahaha, arra. Arra. Appa dan eomma akan secepatnya kembali. Jadi anak baik. Arraseo?”

“Ne~ arrayo appa.”

Aku melambaikan tanganku sampai mobil yang di tumpangi eomma dan appa tidak terlihat lagi. Aku masuk kedalam rumah dengan langkah yang berat.

***

‘LEE YUNGHWA, PEMILIK PERUSAHAAN LEE OTOMOTIF MENINGGAL DUNIA.’

‘LEE YUNGHWA DAN ISTRINYA PARK YOONA, TERMASUK KEDALAM DAFTAR KORBAN YANG MENINGGAL.’

‘LEE YUNGHWA MENINGGAL DUNIA KARENA KECELAKAAN PESAWAT.’

‘KECELAKAAN PESAWAT JAPAN AIRLINES TADI PAGI MENYEBABKAN SEMUA PENUMPANGNYA MENINGGAL. KABARNYA CEO LEE OTOMOTIF, LEE YUNGHWA, JUGA TERMASUK KEDALAM PENUMPANG YANG MENINGGAL.’

Aku merosotkan badanku ke lantai. Berita itu tidak benar kan? Lee Yunghwa? Ani. Itu pasti bukan appa-ku. Bukankah appa-ku bilang akan secepatnya kembali? Aku tahu persis siapa appa-ku. Jika appa-ku telah berjanji, ia pasti akan menurutinya dan tidak pernah mengingkarinya.

“Agasshi..”

“Ajuhmma, berita itu tidak benar kan? Lee Yunghwa yang di berita itu bukan appa kan?”

“Agasshi…” Ajuhmma memelukku erat.

“Jawab ajuhmma. Itu bukan appa kan?” Aku melepaskan diri dari pelukan ajuhmma, lalu menggoncangkan bahu ajuhmma. Ajuhmma menggeleng lalu memelukku lagi.

 “Tidak mungkin appa dan eomma meninggalkanku sendirian. Appa dan eomma sudah berjanji selalu bersamaku sampai kapanpun.” Aku menangis di pelukan ajuhmma.

“Agasshi. Jangan menangis lagi.” Ajuhmma mengelus kepalaku.

Ini pasti mimpi. Ya, ini pasti sebuah mimpi buruk. Eomma dan appa tidak mungkin meninggalkanku.

***

Seusai pemakaman kedua orangtuaku, aku segera menuju ke tempat persembunyianku. Aku tidak sanggup lagi melihat tatapan kasihan dari tamu-tamu yang datang. Aku tahu tidak seharusnya aku bersikap begini, meninggalkan para tamu. Tapi aku bersikap begini tentu saja ada alasannya.

Bagaimana aku bisa sanggup untuk tersenyum di depan semua orang sementara hatiku sendiri masih sangat terluka?. Aku rasa hanya orang yang punya kelainan jiwa yang mampu tersenyum setelah kehilangan kedua orangtuanya.

Aku menenggelamkan wajahku di lipatan kakiku. Aku menangis sekeras-kerasnya. Kenapa Tuhan begitu tega denganku? Masih banyak orang-orang jahat yang berkeliaran di dunia ini, kenapa Tuhan memilih kedua orangtua-ku?

“Eomma.. Appa.. Jebal, kembalilah.”

Ck, Lee Eunhye bodoh!

Kenapa aku tidak memaksa ikut dengan mereka saja? Bukankah mengikuti kedua orang tuaku itu lebih baik dibandingkan aku harus hidup di dunia ini sendirian?.

“Kalau kau bersembunyi terus, kau tidak akan bisa keluar lagi.”

Aku mendongak untuk melihat siapa yang berbicara denganku. Walaupun mataku kabur karena dipenuhi airmata tapi aku bisa dengan jelas melihat wajahnya, terutama tatapan matanya. Segera kupalingkan wajahku menghindari tatapannya yang tajam itu. Yang tadinya ia berjongkok didepanku kini beralih duduk disampingku.

“Bersembunyi tidak akan membuatmu dapat menyelesaikan permasalahan. Apa kau takut semua orang bertanya tentang perasaanmu? Cihh, miris rasanya merasakan sakit sendiri, yang ada kau malah semakin sakit jika kau mencoba memendam sakitmu itu sendiri.”

“Tau apa kau? Pergi dari sini. Aku tak butuh belas kasihanmu!” Err, namja ini. Dia berbicara seolah-olah dia pernah mengalami apa yang kualami saja.

Ia mendesis pelan serta menghela nafasnya dalam, “Aku tidak tahu rasanya kehilangan kedua orang tuaku, tapi aku tahu rasanya di tinggal oleh orang yang kita cintai, merasa sakit karena kehilangan.”

“Pergilah, aku tak butuh nasihatmu. Kau tidak tahu apa-apa tentang perasaanku.”

Kutundukkan wajahku menutupi agar ia tidak melihatku menangis. Aku tak mungkin menangis dihadapan orang asing.

“Hei kau menangis? Coba lihat aku.”

Aku tak menanggapi ucapannya.

“Coba lihat aku sebentar.”

Ia menarik bahuku -nyaris memaksa lebih tepatnya- agar bisa menghadap kehadapannya.

“Aku tidak tau apakah ini benar atau tidak, kata orang-orang aku punya senyuman yang bisa menenangkan, dan spesial untukmu aku akan tersenyum yang sangat manis.”

Ia pun menarik bibirnya membuat sebuah senyuman. Ia amat tampan dengan senyumannya itu. Karena senyuman itu, mau tak mau membuatku tersenyum juga dan akhirnya terkekeh pelan. Kuakui ia memiliki senyuman yang menular serta tatapan yang membuat badan dan pikiranku seolah membeku.

“Hei kau tersenyum.” serunya saat melihatku ikutan tersenyum, “Aigoo~ ternyata senyumanku ini bisa digunakan sebagai obat depresi buat orang-orang sepertimu.”

“Ya~ apa kau pikir aku ini sedepresi itu?”

“Yah kurang lebih begitu, jika ditilik dari tampangmu yang begitu kusut.”

“Aishh~ kau ini.”

Mau tidak mau aku tertawa mendengar ucapannya.

“Tetaplah tersenyum dan tertawa seperti ini, jangan pernah menangis lagi, itu membuatku sakit.” Ia berbisik tepat didepan ditelingaku.

***

Jika mencintainya bisa begitu mudah, kenapa begitu sulit untuk membencinya?

Aku mengusap airmata yang membanjiri wajahku. Lagi-lagi aku menangis saat aku mengingat masa-masa itu. Eomma-appa, aku sangat merindukan kalian. Apa kalian juga merindukanku?

“Miss Lee, kau menangis?”

Aku menoleh dan kudapati Soohyun sedang berdiri di depan pintu sambil melipat tangannya. “Sejak kapan kau disini?”

“Lumayan lama.” Ia mendekatiku dan duduk disampingku. “Boleh aku tahu kenapa kau menangis? Kau menangis bukan karena suami-mu kan?”

“Ani. Aku hanya merindukan kedua orangtua-ku.”

Soohyun menarik nafasnya lega.

“Apa sakit?”

Aku mengernyit. “Maksudmu?”

“Apa hatimu sangat sakit saat mengingat kedua orangtua-mu?”

Aku menggeleng, lalu mengangguk lagi. “Begitulah. Rasanya seperti ada sebuah pisau yang mengoyak-ngoyakkan hatiku.”

Soohyun memelukku. “Aku tidak pernah merasakan kehilangan orang tua-ku. Tapi aku sangat mengerti bagaimana rasa sakitnya.”

Aku tersentak. Kata-kata ini?

“Aku tidak tahu rasanya kehilangan kedua orang tuaku, tapi aku tahu rasanya di tinggal oleh orang yang kita cintai, merasa sakit karena kehilangan.”

Ba-bagaimana mungkin dua orang yang berbeda bisa mengatakan hal yang sama?

Dan sialnya, lagi-lagi aku tidak dapat mengontrol diriku untuk menangis. Kenapa hanya mengingat hal kecil seperti ini bisa membuatku mengingatnya lagi?.

“Kenapa kau menangis lagi? Apa rasanya masih sangat menyakitkan? Segitukah kau merindukan orangtua-mu?”

Sayangnya bukan Kim Soohyun. Tangisan ini keluar begitu saja ketika aku mengingatnya.

 “Berhentilah menangis Eunhye-ah. Ini sangat memilukan hatiku.”

“Tetaplah tersenyum dan tertawa seperti ini, jangan pernah menangis lagi, itu membuatku sakit.”

Badanku bergetar, kepalaku terasa menyut. Rotasi di sekitarku seperti tidak berada pada tempatnya. Semua terlihat berputar-putar di depanku.

Aku tidak sanggup lagi, aku pun pergi ke meninggalkan Soohyun. Kurasa aku perlu menjernihkan pikiranku.

Cho Kyuhyun. Sebanyak apapun kau menyakitiku, ternyata tidak terlalu berefek pada hatiku. Pada kenyataannya aku sangat memerlukanmu sebagai penopang satu-satunya untukku agar dapat hidup di dunia ini.

***

Ini sudah satu minggu pasca aku melarikan diri dari rumah. Bukan melarikan diri, lebih tepatnya bersembunyi darinya. Jujur saja, aku sangat merindukannya. Merindukan sentuhannya (?) , merindukan kenarsisannya. Namun, jika mengingat kejadian saat ia ‘menamparku’ , seketika itu pula keinginanku untuk bertemu dengannya runtuh. Aku mungkin tidak cukup kuat untuk melihatnya langsung. Mungkin untuk sekarang pilihanku menghindar darinya adalah tepat.

Aku terus mengutuki pikiran dan hatiku yang tidak sinkron dalam menentukan sikap. Pikiranku sangat jelas memikirkannya namun hatiku sangat sakit jika mengingat semua perlakuannya.

Ya, sebagian dari tubuhku menuntutku untuk berpisah dengannya namun sebagian tubuhku malah bersikap sebaliknya. Ia terus-terusan bergejolak, menuntutku agar menemui namja itu. Namja yang entah bagaimana perasaannya kepadaku.

Aku mengusap wajahku. Aku tidak boleh selalu menangis. Menangis terus-terusan tidak ada gunanya kan? Lagipula kabar terakhir yang kudengar, ia sekarang masih berada di China. Sangat bodoh jika aku mengharapkan ia akan mencariku. Aku bahkan sangsi ia masih mengingatku.

****

Kubuka lemari es dan memeriksa bahan makanan yang tersisa. Soohyun tadi berpesan jika ia ingin makan Sup kacang merah muda (?). Saat ini aku memang tinggal di apartemennya Soohyun. Dan sudah satu minggu ini aku menginap disini. Err, jangan salah paham dulu. Walaupun kami tinggal di atap yang sama tapi kamar kami berbeda dan berjarak cukup jauh. Apartemen Soohyun sangat besar. Sangat besar untuk dirinya yang tinggal sendiri.

Aku menghembuskan nafasku saat melihat persediaan bahan makanan yang sudah menipis di lemari es. Aku yakin semua bahan makanan ini pasti hanya cukup untuk dua hari lagi. Aku menutup pintu lemari es dan mengambil iPhone-ku yang kuletakkan tidak jauh dari lemari es. Segera saja kutekan nomor Soohyun.

“Yeoboseo Eunhye-ah. Wae? Ada masalah?” Tanyanya langsung.

Aku menggaruk kepalaku. “Err, bahan makanan di lemari es sudah menipis. Aku ingin membelinya. Apa kau tahu dimana supermarket yang terdekat dari apartemen-mu ini?”

“Kau ingin berbelanja? Bagaimana dengan kaki-mu?”

Aku melirik kakiku yang masih di gips. “Gwaenchana. Aku kan hanya berbelanja, bukan ingin mengepel. Kurasa kakiku cukup kuat.”

Soohyun tertawa renyah.

“Tidak ada yang lucu Soohyun-ssi. Cepat katakan dimana supermarket-nya. Ini sudah hampir malam.”

“Arra. Arra. Supermarketnya hanya satu blok dari apartemen-ku.”

“Ahh, arraseo.” Aku segera memutus panggilan dan berjalan ke kamar untuk mengambil dompet. Soohyun memang meninggalkan dompetnya di rumah. Ia bilang untuk berjaga-jaga kalau aku membutuhkan sesuatu.

***

Aku mengecek daftar harga yang kubuat sebelum kemari. Jika aku memasukkan semua bahan makanan ke dalam keranjang sesuai dengan urutan, kurasa tidak ada yang tertinggal. Tapi rasanya ada sesuatu yang lupa kubeli. Tapi apa ya? Ck, entahlah. Aku mengangkat keranjang yang sudah setengah dipenuhi dengan berbagai bahan makanan dan menuju konter makanan ringan.

Baru saja aku mau memasukkan dua kotak wafer kedalam keranjang-ku saat aku mengingat kalau aku harus membeli susu untuk sup kacang merah muda (?) yang mau kubuat. Pantas saja aku merasa ada sesuatu yang penting yang kulupakan. Ternyata susu itu. Aku buru-buru memasukkan dua kotak wafer itu  kedalam keranjang dan kembali ke konter susu.

“Hyukkie, kau ini monyet atau apa sih? Kerjaanmu minum susu melulu.”

“Kyuhyun-ah, kau cerewet sekali. Cepat ambilkan susu stroberi-ku.”

“Ne, ne. Arraseo.”

DEG!

Kenapa aku seperti mendengar suara Eunhyuk oppa dan Kyuhyun?

Ani, ini pasti hanya perasaanku saja. Mereka kan saat sedang berada di China. Jadi sangat kecil kemungkinan untuk mereka berada disini. Aku memasukkan sekotak susu ke dalam keranjang dan secepat mungkin pergi dari sini.

Aku melangkahkan kakiku sedikit cepat. Aku berfokus menatap jalan dan tidak memperhatikan sekeliling. Dan arghh~ aku tidak sengaja menabrak seseorang dan aku hampir saja terjatuh jikalau orang itu tidak segera menangkap tubuhku.

“Jwesonghamnida. Mianhae aku berjalan terburu-buru tadi.” Aku terus menundukkan badanku. Ck, orang itu pasti marah besar deh karena tidak sengaja tertabrak olehku.

“Eunhye-ah?”

Aku mendongakkan kepalaku otomatis saat mendengar suaranya. Suara yang amat kurindukan, sekaligus suara yang sangat ku takuti.

“Kyuhyun?”

“Kau? Rupanya kau bersembunyi disini?”

Ia menatapku tajam. Menatap seolah-olah aku ini seseorang yang ingin ia hukum karena melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal. Aku memegang erat tongkat-ku dan berbalik untuk pergi namun tangannya mencengkram erat tanganku.

“Jangan pergi lagi Eunhye-ah. Jangan menghilang lagi.” Suaranya begitu lirih saat mengatakan itu.

Yang ingin kulakukan saat ini adalah berlari dan menghambur ke pelukannya. Tapi aku tidak bisa. Aku masih terlalu sakit.

Disini..

Dihatiku..

Mereka masih sangat terluka.

“Maaf Kyuhyun-ssi. Tapi aku harus pergi. Jwesonghamnida..” Aku menundukkan badanku dan melepaskan cengkramannya.

Ia tidak melepaskan cengkramannya, malah ia menarikku kedalam pelukannya.

“Aku mohon, jangan pergi lagi. Jangan menghilang lagi.”

****

Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama. Wajahnya tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak sangat jelas terlihat. Apa dia begitu kelelahan dengan semua jadwalnya? Apa makannya teratur? Kenapa ia terlihat sangat kurus begini?

“Cepat apa yang mau kau katakan Kyuhyun-ssi.”

“Apa begitu memuakkan diriku sekarang Cho Eunhye sampai kau tidak betah berada bersama denganku?”

Bukan begitu Cho Kyuhyun. Jika aku terlalu lama berdekatan denganmu, hatiku pasti akan goyah lagi. Aku hanya ingin bersikap tegas. Walau aku tahu rasanya sangat mustahil.

“Kau. Selama ini kau tinggal dimana?”

“Apa itu penting bagimu? Kau terlalu sibuk untuk memikirkan dimana aku tinggal Kyuhyun-ssi.”

“Apa kau sungguh berniat untuk bercerai dariku?”

Ce-cerai? Bahkan satu kata itu tidak pernah terlintas didalam otakku. Aku bercerai dengannya? Berpisah darinya? Aku tidak akan sanggup. Seluruh diriku telah terkontaminasi oleh pesonanya.

“Bagaimana denganmu? Apa kau mau?” Tanyaku balik.

“Menceraikanmu? Cih, itu hanya dalam mimpimu Cho Eunhye. Kau itu milikku. Aku tidak akan pernah melepasmu.”

“Aku bukan barang Kyuhyun-ssi.” Potongku cepat.

Ia menyeringai. “Sampai kapanpun aku tidak melepaskanmu. Dan aku minta kau tanamkan itu didalam pikiran dan hatimu sampai kapanpun.”

Tidak akan melepaskanku? Apa maksudnya?

Apa ia berniat ingin menyiksaku seumur hidup? Apa karena aku ini mainannya yang sangat menyenangkan makanya ia tidak akan melepaskanku?

Cho Kyuhyun. Tidakkah kau mengerti apa yang ada didalam hatiku?

****

“Maaf Cho Kyuhyun-ssi. Aku harus cepat pergi.” Dengan cepat kuambil tongkatku lalu pergi dari sini.

Aku tidak peduli lagi dengan teriakannya yang memanggil namaku. Aku hanya berpikir jika aku harus secepatnya pergi dari tempat itu. Entah apa yang akan terjadi jika satu  menit saja aku lebih lama berada disana. Mungkin pertahananku akan runtuh hanya karena tatapan matanya.

“Cho Eunhye, aku harus dengarkan aku.” Ia mencengkram tanganku lagi dan memaksaku untuk menghentikan langkahku.

Aku membalikkan badanku lalu menatap wajahnya. Setidaknya aku ingin ia tahu jika aku sedang tidak ingin bicara dengannya untuk saat ini.

“Mwo? Apa yang ingin kau bicarakan? Palli! Aku tidak punya waktu Cho Kyuhyun-ssi.”

“Dengarkan aku dulu Cho Eunhye.”

Aku tertawa sinis mendengar ia menyebut namaku? Cho Eunhye huh? Kemana nama itu saat kau menamparku?.

“Sepuluh detik Cho Kyuhyun-ssi.”

“Cho Eunhye, aku mohon.”

“10..”

“Cho Eun..”

“9..”

Kulihat Kyuhyun mendenguskan nafasnya.

“8..”

“Aku mohon percaya denganku. Aku..”

“7..”

“Aku tahu kesalahanku karena menamparmu..”

“6…”

“Sumpah demi apapun, aku tidak sanggup untuk melukaimu.”

“3…”

“Waktu itu pikiranku kalut, aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Maka dari itu aku mohon..”

“Waktunya habis Cho Kyuhyun. Maaf aku harus pergi sekarang.”

Kali ini aku tidak peduli lagi. Aku benar-benar harus pergi. Sedetik saja aku masih berada disana, airmataku pasti tumpah.

****

Lucu sekali cara Soohyun makan. Ia seperti anak kecil yang takut kehabisan makanan. Belum lagi makanan yang ada di dalam mulutnya habis, ia memasukkan lagi makanan ke dalam mulutnya. Cara makannya mengingatkanku ke Shindong oppa. Shindong oppa juga kesetanan jika sedang berhadapan dengan makanan.

“Kau kelaparan sekali ya?.”

Ia menjawab dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“Ya~ kunyah dulu makananmu.”

Ia menelan makanannya dengan cepat lalu mengambil segelas jus jeruk yang berada di dekatnya dan meminumnya.

“Mashita~ masakanmu benar-benar enak. Ya~ apa kau ini keturunan koki kerajaan?.”

Aku melemparinya dengan serbet yang sedari tadi kupegang. Serbet itu jatuh tepat di depan wajahnya. Aku terkekeh melihatnya, terutama melihat ekspresinya.

“Serbet itu tidak akan membuatmu mati Soohyun-ssi. Berhentilah berakting.”

Ia mengubah ekspresinya lalu tersenyum. “Aku serius soal tadi. Masakanmu benar-benar enak.” Soohyun mengancungkan kedua jempolnya.

Aku tersenyum kikuk. Untuk pertama kalinya wajahku memerah hanya karena mendengar pujiannya tentang masakanku.

“Lee Eunhye.” Panggilnya dengan suara super lembut.

Aku menatapnya dan lagi-lagi aku sedikit merasa salah tingkah karena di tatap dengan tatapan seperti itu.

“Aku tahu ini terlalu cepat.”

Deg! Kenapa jantungku jadi berdebar kencang?

“Tapi, apakah kau mau menjadi..”

Ia berhenti berbicara dan ia menundukkan kepalanya seolah sulit untuk mengatakannya.

Ya~ kenapa aku jadi gugup begini mendengarnya berkata seperti itu? Apa ia akan menyatakan cinta kepadaku?.

Ia mendongakkan kepalanya dan menatap mataku langsung lalu menyunggingkan senyumannya. Senyuman khasnya yang membuat sudut matanya tertarik ke samping. “Maukah kau menjadi tukang masakku?.”

“MWO? Tu-tukang masak?.”

“Ne. Masakanmu enak sekali Eunhye. Makanya aku mengangkatmu jadi tukang masakku. Bagaimana? Kau mau tidak? Gajinya besar loh.”

“Ya~ Kim Soohyun! Kau kira aku koki hah?.”

Aku mengejarnya yang sudah berlari duluan. Sialan! Kali ini aku akan benar-benar memberinya pelajaran, biar ia dapat merasakan apa yang namanya ‘serbet terbang’ itu (?).

****

“Aku kemarin bertemu dengan suamimu.”

Aku menghentikan kegiatanku sejenak. Aku mengelap tanganku di celemek yang masih kupakai. Aku mengambil gelas lalu menuangkan air kedalamnya, lalu dengan cepat aku meneguknya.

“Apa kau ingin makan sesuatu? Bilang saja. Aku akan memasakkannya untukmu.”

“Sepertinya suamimu curiga denganku. Bahkan tadi ia menanyakan kabarmu denganku.”

“Dan kau memberitahukannya jika aku tinggal disini bersamamu?.”

Ia menggelengkan kepalanya. “Cepat atau lambat ia pasti akan tahu keberadaanmu. Aku memang tidak keberatan kau tinggal disini, hanya saja aku merasa kau terlalu mengindarinya. Menghindar itu tidak akan menyelesaikan masalah Lee Eunhye.”

Aku melepaskan celemek yang kupakai dan bersiap untuk pergi menuju kamarku saat ia berkata, “Aku memang tidak pernah bertanya apa masalahmu dengan suamimu. Tapi kau tidak boleh terlalu lama menghindarinya Lee Eunhye. Walau bagaimana pun ia tetap suamimu.”

Aku jengah mendengar kata ‘suami’ itu.

Suami? Kemana posisinya sebagai suamiku saat ia menamparku?.

“Hanya untuk orang yang tahu status kami saja Soohyun-ssi. Selebihnya ia milik para fans-nya.”

“Kau harus mengerti posisinya. Dia itu seorang artis besar.”

Mengerti posisinya? Selama ini memangnya apa yang kulakukan? Menekannya? Menuntutnya?

Bahkan aku selalu melindunginya dari para fansnya yang ingin membongkar statusnya sebagai ‘suami’ ku. Apa dengan kakiku yang patah tidak meyakinkan semua orang jika aku mengerti posisinya?.

“Aku tidur dulu Soohyun-ssi. Jaljayo.”

Biarlah aku disebut pengecut karena aku selalu menghindarinya. Toh kenyataannya seperti itu.

TBC ***

Sorry banget untuk keterlambatannya ^^

 Aku memang hiatus kemarin. Mungkin sebagian besar readers tahu alasan kenapa aku hiatus.

Buat yang ngatain FF ini FF SINETRON? Wae? Memangnya kenapa kalau FF ini FF SINETRON? Aku gak pernah bilang FF aku bagus. Yeah, aku tahu kalo FF buatan kamu super bagus. Tapi yang penting FF aku banyak yang suka ^^ FF bagus atau tidaknya itu tergantung dari Readers, bukan dari sesama author. Jangan sombong ya mbak ^^ mentang-mentang bahasa FF aku biasa aja, terus kamu dengan seenaknya menghina tulisan aku gitu? Ck, aku nulis hanya HOBI ya.. Aku rasa aku gak perlu sekolah di bidang sastra atau banyak-banyak baca NOVEL TERJEMAHAN hanya karena memperbaiki gaya tulisan aku. Aku hanya menulis, dan terserah readers menilainya bagaimana.

Terima kasih ya udah perhatian ama FF dan gaya tulisan aku, tapi lebih baik kamu urusin pendidikan kamu aja dibanding ngurusin FF aku ^^

~~~~~

Nah, buat yang nanya kenapa FF THE REAL SWAN itu di hapus, kekeke~ itu memang sengaja aku hilangkan buat sementara dulu. Soalnya aku mau jadiin oneshoot. Tapi nanti aku post lagi kok ^^

YOU’RE MY CINDERELLA IS COMING SOON ^^ ASA AS UR REQUEST ^^

Nb : You’re my Cinderella itu kyuhyun’s pov-nya dari I’m not Cinderella. Kekeke~

Keep RCL..

270 responses to “I’M NOT CINDERELLA IX

  1. kyuhyun plis tetapin hatimu nak….. gue ga ngerti lu maunya apa. sini sini dgetok dulu palanya biar sadar /digetok duluan/

    oke kesabaran ada batasnya. ayolah kenapa eunhye ga sama soohyun aja? emang susah sih move on tapi kan ga ada salahnya /apa sih/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s