[FREELANCE] 6 Guys,6 Different Loves

6 Guys, 6 Different Loves

Author: Tiwie

Main Cast

–          Kim Jongwoon (Super Junior)

–          Park Yunhwa (T-Max)

–          Choi Seunghyun (Big Bang)

–          Kim Junsu (2PM)

–          Jang Wooyoung (2PM)

–          Lee Taemin (SHINee)

Other Cast

–          Kim Hyuna (4minute)

–          Lee Ji Eun/IU

–          Choi Sulli (f(x))

–          Moon Geun Young

Genre: Love, Romance, Sad

Rating: G/PG-13 (bingung)

-Kim Junsu’s Story-

Dilahirkan sebagai putra bungsu di keluarga Kim menjadikanku pribadi yang agak manja. Segala permintaan maupun keinginanku harus dikabulkan. Tak heran saat dewasa aku tumbuh menjadi sosok yang meremehkan sesuatu. Bahkan sesuatu yang amat sangat sacral. Sesuatu yang disebut cinta.

=====================================================================================

“Aku pulang,” aku memasuki rumah dengan langkah gontai. Hari ini sangat menyebalkan. Dosen itu seenaknya saja memberikan tugas di musim liburan seperti ini.”Kau sudah pulang, oppa?” kata Hyuna, adik perempuanku satu-satunya.”Ne, waeyo,” jawabku sambil menonton televisi.”Temanku nanti akan datang. Aku mau ke minimarket dulu membeli cemilan. Kalau dia sudah datang, suruh naik ke kamarku saja ya oppa,” katanya. Aku mengangguk.

“Sekalian belikan aku kripik kentang dan jus,” kataku setengah berteriak karena Hyuna sudah hampir keluar rumah.”Ne…!!” jawabnya. Temannya Hyuna? Aku jadi penasaran seperti apa temannya Hyuna. Bukankah selama ini Hyuna yang kukenal merupakan anak yang tertutup?.

Ting…..Tong….

“Ne,sebentar,” jawabku sambil berlari ke arah pintu. Di luar tampak seorang yeoja yang sedang berdiri membelakangiku.”Kau…temannya Hyuna?” tanyaku. Dia berbalik dan…. Aku tak bisa mengedipkan mataku. Baru kali ini aku melihat seorang yeoja semanis ini.

“Ne, joneun Choi Sulli imnida,” katanya sambil membungkukkan badannya.”Ne..jonenun Kim Junsu imnida,” balasku –sedikit- terbata-bata. Segera ku persilahkan Sulli masuk.”Sulli-ah, kau langsung ke kamarnya Hyuna saja ya. Di atas, yang pintunya berwarna putih,” kataku.”Gomawo, Junsu…,”,”Oppa,” sambungku cepat.”Gomawo Junsu oppa,” katanya lagi lalu berlari kecil ke kamar Hyuna. Aku tersenyum.

=====================================================================================

Apakah tadi aku sudah bilang aku terkadang seperti meremehkan sesuatu?. Itu yang kulakukan saat ini. Menganggap bahwa perjalanan cintaku akan mudah. Semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, ternyata aku salah. Cinta itu bukan sesuatu yang mudah ditebak.

=====================================================================================

“Sulli-ah, saranghaeyo..Would you be my girlfriend?” kataku suatu hari. 2 minggu setelah pertemuan itu, aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku padanya.”Oppa..??” jawabnya heran.”Kau tak usah malu-malu, Sulli-ah,” jawabku dengan tingkat kepercayaan diri tinggi. Sulli tersenyum sinis,”Oppa,ternyata memang benar yang dikatakannya Hyuna. Kau terlalu meremehkan sesuatu,”.

“Kuberitahu sesuatu, cinta itu bukan sesuatu yang bisa datang semudah itu,” kata-katanya membuatku tersentak.”Kau…menolakku?” tanyaku. Dia menggeleng pelan.”Aku belum menolakmu oppa,” jawabnya. Membuatku semakin kebingungan.”Perlihatkan padaku seberapa besar cintamu padaku atau mungkin juga kau bisa memperjuangkan cintamu. Mungkin suatu saat nanti aku akan berubah pikiran,”.

===================================================================================

Kata-kata Sulli membuatku sadar akan satu hal. Cinta merupakan satu hal yang sakral. Yang perlu diperjuangkan terlebih dahulu sebelum memiliki cinta itu seutuhnya. Ingat satu hal ini Choi Sulli. Aku, Kim Junsu, akan memperjuangkan cintaku untuk memilikimu seutuhnya. Tak peduli kapan saat itu tiba.

-Lee Taemin’s Story-

Aku Lee Taemin. Anak angkat di keluarga Kim. Keluarga Kim merupakan sahabat lama ayah dan ibuku. Menjadi anak angkat disini membuatku selalu mengalah. Tak jarang aku mengalah untuk sesuatu yang benar-benar berarti untukku. Semua itu hanya supaya aku tidak mengecewakan keluarga Kim.

=====================================================================================

“Sulli-ah, kau ada disini?” tanyaku. Kulihat Sulli dan Junsu hyung sedang bercakap-cakap di ruang tamu.”Ne, Taemin, aku sedang menunggu Hyuna,” jawabnya.Baru aku mau membuka mulutku lagi, aku melihat Junsu hyung menatapku dengan pandangan aneh. Bisa kurasakan Junsu hyung menyuruhku menyingkir.

Aku langsung paham dan mengalihkan pandanganku pada Sulli. Tiba-tiba, jantungku berdetak sangat kencang. Melihat satu sosok disana.”Sulli, mian membuatmu menunggu lama,” suara Hyuna membuatku sadar.”Tidak apa-apa kok. Tadi Junsu oppa menemaniku,” jawabnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung menaiki tangga dan naik ke kamarku. Sebelum jantungku berhenti karena melihatnya.

“Besok minggu kau datang kan, Sulli-ah?” lamat-lamat aku mendengar Hyuna bertanya kepada Sulli.”Tentu saja,” Sulli menjawab. Aku tak tahan mendengarnya lagi. Segera aku masuk ke kamarku dan menguncinya dari dalam. Sulit bagiku mengetahui dia menjadi milik orang lain.

Aku menutup pintu kamarku dan menarik napas pelan. Kusenderkan tubuhku di pintu kamar. Membayangkan senyumnya, tingkahnya, tawanya. Membuatku sadar dia tercipta bukan untukku. Setetes air mata jatuh menuruni pipiku. Entah sudah berapa kali aku menangis tertahan seperti ini. Hanya karena dirinya.

=====================================================================================

Aku tahu aku mencintainya. Tapi, aku juga tahu jika aku tak bisa, aniya, tidak boleh memilikinya. Ada tembok pembatas di antara kami berdua. Lagipula, Junsu hyung juga tak akan suka aku dekat-dekat dengannya. Aku bisa merasakan tatapan mata Junsu hyung saat kami mengerjakan PR bersama. Sungguh sulit bagiku untuk berdekatan dengannya. Sangat sulit.

=====================================================================================

Sekarang aku sedang berada di pesta pertunangan Hyuna dan Wooyoung hyung. Dan jantungku kembali berdetak cepat saat melihatnya. Dia memakai gaun putih selutut yang sangat pas ditubuhnya. Sayang, aku tak bisa –ah tidak, tidak boleh- memilikinya. Dia terlihat duduk berbaur dengan tamu yang lain. Sedangkan aku?. Duduk di pojok ruangan sembari memperhatikannya. Sungguh, aku sangat ingin memilikimu.

=====================================================================================

Cinta itu datang kepadaku begitu saja. Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai sahabat, karena kami seumuran. Tapi, lama kelamaan aku sadar, aku membutuhkannya. Lebih dari seorang sahabat. Tapi, jika aku memilikinya, aku akan menghancurkan keluarga ini. Keluarga yang telah membesarkanku.

Tapi, bagiku cinta itu tak selamanya harus memiliki. Mungkin saja aku bisa menemukan cinta sejatiku suatu saat nanti. Tapi, satu sisi hatiku juga mengakui, bahwa  aku, Lee Taemin, anak angkat di keluarga Kim, mencintai Kim Hyuna, kakak angkatku sendiri dengan sepenuh hati dan segenap ragaku.

-Kim Jongwoon’s Story-

Menjadi pewaris perusahaan itu keberuntungan sekaligus bencana bagiku. Beruntung, sebab aku tak perlu repot-repot mencari pekerjaan. Bencana, sebab aku tahu, hidupku tak akan tenteram dan damai. Apalagi kalau mempunyai hobi yang bertentangan dengan perusahaan.

=====================================================================================

“Jongwoon…!!!! Ini sudah jam berapa? Ayo bangun!” teriak ibuku tepat ditelingaku. Aku menentangnya dengan menarik selimut ke kepalaku. Ibuku terus menarik selimutku hingga aku terbangun karena merasa terganggu.”Umma, tadi malam aku lembur sampai jam 1 pagi. Biarkan aku tidur sebentar lagi,” pintaku dengan mata setengah terpejam.”Umma tidak mau tahu. Bangun atau umma bakar semua fotomu!”.

=====================================================================================

Aku memejamkan mata. Menghirup udara sedalam-dalam mungkin. Membiarkan oksigen mengisi paru-paruku, lalu menghembuskannya lagi. Aku memandang kota Seoul dari atap kantorku.”Jongwoon-ssi, ada tamu,” sela Yunhwa, asistenku, sebelum aku sempat memotret langit Seoul siang ini.”Sebentar lagi, Yunhwa,”. Aku buru-buru membidik seekor burung yang sedang terbang di langit. Mana mungkin aku kesini tanpa memotret apa pun.

=====================================================================================

“Asisten baru???” tanyaku tak percaya. Aku menoleh ke arah Yunhwa yang sedang –pura-pura- sibuk.”Tentu saja, kau tak kasihan dengan Yunhwa?” kata Seung Hyun. Aku menghela napas,”Jongwoon-ssi, ayolah, aku juga butuh teman,”. Aku memainkan bolpoin ditanganku,”Oke, tapi kau tetap jadi asisten utamaku,” putusku.”Siapa namanya, Seung Hyun?” tanyaku.”Moon Geun Young,”.

=====================================================================================

“Annyeong….,” pintu ruanganku terbuka dan muncullah sesosok yeoja. Membuatku yang sedang asyik melihat hasil kameraku terlonjak.”Ne, Geun Young-ah. Ada apa?” tanyaku. Dia memberiku beberapa berkas.”Ada yang perlu sajangnim tanda tangani,”. Aku jengah,”Jangan panggil aku sajangnim, panggil saja Jongwoon-ssi,”. Bisa kurasakan dia sedikit terkejut.”Ne, Jongwoon-ssi,”.

====================================================================================

“Jongwoon-ssi, boleh aku bertanya?” kata Geun Young. Saat ini kami sedang di café langgananku, sehabis bertemu dengan klien.”Ne, ada apa?” tanyaku sambil terus melihat-lihat foto dikameraku.”Apa…kau pernah jatuh cinta?” tanyanya. Aku langsung memandangnya tepat dibenik matanya.”Kau menyukai Yunhwa ya?” tanyaku. Sepertinya benar.

Pipinya langsung bersemu merah. Aku meletakkan kameraku lalu memandangnya dalam-dalam,”Percayalah padaku. Yunhwa bukan lelaki  yang tepat untukmu,”.”A…apa hakmu mengatakan itu? Kau ini sahabatnya, Jongwoon-ssi!” katanya kesal. Aku tahu segala tentang sahabatku yang satu itu, Moon Geun Young.”Percaya padaku,” kataku sambil menggenggam tangannya.

“Aku tak percaya kau tega mengatakan hal seperti itu tentang sahabatmu, Jongwoon-ssi,’ katanya sambil melepaskan tanganku dan pergi meninggalkan café ini. Segera kuraih tas –juga kamera- dan menyusulnya.”Geun Young, tunggu!” teriakku. Dia tak peduli. Dia terus saja berjalan menyeberang jalan. Tanpa melihat sekelilingnya. Aku berlari mengejarnya.

Ciiiittt……..BRUUUUK….

                Aku merasakan tubuhku terhempas ke jalan. Aku mendengar jerit cemas Geun Young. Aku tersenyum saat dia mengangkat kepalaku ke pangkuannya.”Jongwoon-ssi…kenapa?” tanyanya sambil menangis. Aku tersenyum sekali lagi,”Because I love you, Moon Geun Young,”. Bisa kurasakan air matanya jatuh ke pipiku. Hangat.”I will sacrifice my everything for you, even if its my own life,”. Samar-samar aku mendengar suara ambulans.

Aku merengkuh wajah Geun Young dan mengecup bibirnya lembut. Aku menarik napas panjang,”Don’t cry,” kataku sambil menghapus air matanya. Beberapa orang mengangkatku ke atas tandu. Tanganku masih menggenggam erat tangan Geun Young.”Geun Young-ah, saranghae,” kataku. Dan aku tak bisa melihat apa pun lagi. Semuanya gelap.

=====================================================================================

Aku tahu sejak awal Geun Young menyukai Yunhwa. Tapi, aku juga tahu persis bagaimana Yunhwa itu. Aku takut Geun Young akan terluka. Aku juga tahu sejak awal aku menyukai Geun Young. Tapi, entah kenapa, aku tak pernah berani mengatakannya. Aku hanya berani mengambil gambarnya secara diam-diam, lalu menempelkannya di kamarku.

Seperti ceritaku, cinta itu butuh pengorbanan. Cinta membuat orang rela mengorbankan apa saja untuk orang yang kucintai. Seperti yang kulakukan. Tapi, setidaknya, aku sekarang bisa menjaganya. Dan kali ini aku berani mengakui, aku, Kim Jongwoon, rela mengorbankan hidupku untuk Moon Geun Young. Hanya untuk Moon Geun Young.

-Choi Seung Hyun’s Story-

Aku Choi Seung Hyun. Anak pertama dari keluarga Choi, sahabat sekaligus rekan kerja Kim Jongwoon. Banyak orang yang mengatakan bahwa wajahku seperti malaikat maut. Tapi, aku tak pernah peduli. Toh, masih banyak orang yang sayang padaku. Nyatanya, aku mempunyai banyak penggemar dengan wajah seperti ini.

=====================================================================================

“Perlu bantuan?” tawarku pada seorang yeoja. Dia tersenyum,”Ne, tolong ambilkan buku yang itu,” katanya sambil menunjuk salah satu buku di rak yang tinggi. Dengan mudah aku mengambil buku itu untuknya.”Gomawo,” katanya. Aku mengulurkan tanganku,”Choi Seung Hyun imnida,”.”Lee Ji Eun imnida,”.

=====================================================================================

Itu pertemuan pertamaku dengannya. Aku tak menyangka gadis manis sepertinya satu kelas denganku. Selanjutnya kami sering bertemu untuk mengerjakan tugas, makan siang, bahkan berjalan-jalan. Aku selalu merasa ada something weird saat aku bersamanya. Seperti ada yang tidak beres dengan perutku. Entah apa pun itu.

=====================================================================================

“Ji Eun-ah, gwaenchanayo?” tanyaku. Siang ini Ji Eun Nampak sedang tidak sehat. Sudah beberapa kali dia hendak tersandung.”Gwaenchana, aku hanya kurang tidur,” jawabnya sambil menguap.”Perlu kuantar pulang?” tawarku. Dia menggeleng,”Tak usah. Lihat itu, fansmu sudah menunggu,”. Aku melihat keluar jendela. Benar saja, banyak yeoja menunggu di luar kelas. Malas sekali meladeni mereka hari ini.”Sudah ya, aku pulang duluan,” kata Ji Eun.

====================================================================================

“Seung Hyun!” teriak Ji Eun mengagetkanku. Aku hampir tersedak karenanya.”Wae?” tanyaku. Hari ini dia terlihat sangat senang.”Aku….jatuh cinta,” jawabnya malu-malu. Aku diam terpaku,”Nugu?”.”Jang Wooyoung, kau tahu dia kan?” tanya Ji Eun. Jang Wooyoung, siapa yang tak tahu dia. Namja pendiam yang sangat pintar. Pewaris tunggal Jang’s Corporation.

“Kapan kau bertemu dengannya?” tanyaku –berusaha bersikap normal.”Kemarin siang, setelah aku berpisah darimu,” jawabnya berseri-seri.Damn! Harusnya kemarin aku antar saja Ji Eun pulang.”Kakimu kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia memakai flat shoes seperti itu ke kampus.”Aku terkilir. Gara-gara ini juga aku bertemu dengan Wooyoung,” jawabnya.”Dapat musibah malah senang,” kataku sambil menjitak kepalanya.

=====================================================================================

“Jang Wooyoung, pewaris tunggal Jang’s Corp,” kataku. Wooyoung yang sedang mencari buku menatapku.”Choi Seung Hyun. Pemilik CS Entertainment,” nada bicaranya seolah-olah mengejekku. Aku menatapnya tajam.”Waeyo? Junsu tak ada disini, Seung Hyun,” dia menekankan pada nama ‘Junsu’.”Aku ingin bicara denganmu,”.

“Kau…menyukai Ji Eun?” tanyaku to the point.”Apa ini salah satu caramu memilih artismu?” tanyanya lalu berjalan meninggalkanku. Aku menarik lengannya,”Jawab saja pertanyaanku, Jang Wooyoung,”.”Waeyo? Jika memang aku menyukainya, kau mau apa?” tanyanya balik.”Kau bahkan bukan oppanya,” lanjutnya yang langsung menohok hatiku.

“Well, aku hanya ingin tahu,” jawabku tenang.”Lagipula,aku berani bertaruh kau tak akan bisa memilikinya,” balasku. Bisa kulihat ada sorot tidak percaya di matanya.”Apa…jangan-jangan kau lupa bahwa namamu Jang Wooyoung?”.”Neo….,” desisnya marah. Aku tertawa penuh kemenangan dalam hati. Dia pasti mengerti apa yang aku bicarakan.

=====================================================================================

Aku menatap Ji Eun khawatir. Sudah sebulan sejak pertunangan Wooyoung dia seperti ini. Pandangan kosong.”Dia tetap tak menghabiskan makanannya,” kata Yunhwa, kakak sepupu Ji Eun. Aku menghela napas. Hanya karena dia kau jadi seperti ini, Ji Eun?. Apakah kau tidak sadar ada seseorang yang selalu berada di sampingku?.

====================================================================================

Aku tahu Ji Eun menganggapku sebagai sahabat. Tak lebih. Tapi, aku juga tahu bahwa cinta itu juga meliputi kesetiaan. Dan aku, Choi Seung Hyun, akan setia menunggu Lee Ji Eun. Entah sampai kapan.

-Jang Wooyoung’s story-

Annyeong, aku Wooyoung. Anak tunggal di keluarga Jang.  Segala kehidupanku dari kecil seakan-akan sudah diatur. Aku bersekolah dimana, berteman dengan siapa, itu semua seolah-olah sudah diatur. Aku rasa jodohku nanti juga akan diatur oleh kedua orang tuaku. Aku yakin itu.

=====================================================================================

“Wooyoung-ie,kau sedang apa?” tanya Junsu padaku. Kim Junsu, anak dari keluarga Kim, yang juga sahabatku dari SD.”Entahlah..aku sendiri tak yakin,” jawabku asal. Junsu memutar bola matanya kesal. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.”Hei, lihat itu!” kata Junsu setengah berteriak. Kuikuti arah telunjuknya. Di kejauhan terlihat seorang lelaki sedang dirubung oleh beberapa wanita.”Choi Seung Hyun,” desisku menyebutkan namanya.”Menyebalkan bukan? Dengan tampang seperti itu dia bisa punya banyak penggemar,” kata Junsu –sedikit- emosi.”Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku pulang duluan,” kataku sambil mengangkat tasku dan meninggalkan Junsu.

Bbbrrruuukkk…. Aku sedang berjalan di lorong kampus saat kudengar sesuatu jatuh. Segera kuedarkan pandanganku mencari tahu. Di taman, tampak seorang yeoja terduduk sambil memegangi kakinya.”Neo gwaenchanayo?” tanyaku sambil membantunya berdiri.”Gwaen…AUW!!” belum sempat berdiri, dia sudah terjatuh lagi.

Segera kulihat pergelangan kakinya. Tampak lebam disana.”Kau terkilir. Ayo kuantar kau ke ruang kesehatan,” kataku sambil berjongkok didepannya. Sesaat dia nampak ragu.”Ayolah, aku tak akan macam-macam,” jawabku meyakinkan. Akhirnya dia melingkarkan tangannya di leherku.

“Siapa namamu?” tanyaku sambil berjalan kearah ruang kesehatan. Dia menyenderkan kepalanya dibahuku.”Lee Ji Eun imnida,” katanya pelan.”Aku Jang Wooyoung. Kita sudah sampai, mau aku temani?” tawarku sambil menurunkannya di kursi di ruang kesehatan. Dia menggeleng pelan.”Gomawo, Wooyoung-ie,”.

=====================================================================================

“Wooyoung-ie, kau pacaran dengan Ji Eun ya?” suatu hari Junsu tiba-tiba bertanya seperti itu padaku. Aku yang sedang meminum jusku langsung saja tersedak.”Darimana kau punya pikiran seperti itu?” tanyaku. Dia memutar bola matanya –kebiasaannya kalau sedang kesal.”Akhir-akhir ini kau terlihat dekat dengan Ji Eun,” tudingnya lagi.”Kami hanya berteman. Tak lebih,”.

=====================================================================================

Walau dihadapan Junsu aku berbicara seperti itu, nyatanya saat bersama Ji Eun aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada satu perasaan yang nyaman disana. Tapi, kebiasaan diatur sejak kecil oleh orang tuaku membuatku tak mengerti dengan apa yang kurasakan. Mungkin itu hanya perasaan sayang terhadap sahabat. Mungkin.

=====================================================================================

“Wooyoung-ie?” tanya Ji Eun. Aku tak tahu mengapa aku berdiri disini. Di depan apartemen Ji Eun.”Mau masuk?” tawarnya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk. Ternyata, bukan aku satu-satunya namja disini. Sudah ada Seung Hyun dan….aku tak tahu siapa namja yang satu itu.”Annyeong, Wooyoung-ie,” sapa Seung Hyun. Ada nada kesal dalam suaranya.

“Annyeong, Park Yun Hwa imnida. Aku sepupunya Ji Eun,” kata namja –cantik- itu.”Oya, Wooyoung-ie, ada apa kau kesini?” tanya Ji Eun. Aku seakan sadar dari alam mimpiku. Kukeluarkan secarik kertas dari saku jaketku.”Ini,” kataku,”Besok minggu hari pertunanganku. Kuharap kalian bisa datang,”. Bisa kulihat ada kilatan shock dimata Ji Eun.”Tunangan?” tanyanya.

=====================================================================================

Aku bukannya tak tahu kalau Ji Eun menyukaiku. Atau mungkin malah mencintaiku. Aku tahu sekali perasaannya terhadapku. Tapi, seperti yang sudah kubilang, hidupku sudah diatur oleh orang tuaku. Bahkan untuk urusan cinta.

Pada akhirnya aku dijodohkan dengan Kim Hyuna, adik Junsu. Ibuku mengatakan perjodohan ini dilakukan agar hubungan kedua keluarga semakin erat. Padahal aku tahu, semua ini hanya untuk urusan bisnis belaka. Teman-temanku, sekolahku, bahkan pasangan hidupku, itu untuk mempertahankan perusahaan.

=====================================================================================

Maafkan aku Ji Eun. Selama ini aku selalu menggantung hubungan kita. Aku tak mengatakan aku mencintaimu ataupun hanya menganggapmu sebagai teman. Selama ini aku memperlakukanmu layaknya kekasih bagiku. Aku hanya takut akan mengecewakanmu, Ji Eun.

Aku tahu kita tak mungkin bersatu. Aku menjalani hidup yang penuh dengan aturan. Aku juga tahu kau datang ke pesta pertunanganku dengan wajah habis menangis. Walau kau menutupinya degan make upmu, aku tahu. Aku tahu segala tentangmu, JI Eun. Karena, percaya atau tidak, aku, Jang Wooyoung, mulai mencintaimu.

-Park Yunhwa’s Story-

Kau tahu betapa menyebalkannya hidupku?. Setiap hari diejek oleh teman-teman karena wajahku yang cantik. Aku, Park Yunhwa, memang dilahirkan dengan wajah cantik. Terlampau cantik malah. Padahal aku ini seorang namja.

=====================================================================================

“Well…well…well… Lihat siapa yang datang sepagi ini,” kata seorang namja. Kim Junsu. Sudah sering dia berkata seperti itu.”Yunhwa-ssi, apakah kau tak salah memakai pakaian?” tanyanya lagi. Aku hanya bisa diam di tempatku, mengepalkan tanganku erat-erat. Ingin sekali aku menghajarnya. Kelakuannya beda sekali dengan sahabatnya itu.

“Tuan Kim Junsu, bisakah kau tutup mulutmu itu?” kata seseorang tiba-tiba. Aku tahu siapa pemilik suara itu.”Seung Hyun-ah,” gumamku pelan. Dia menatapku.”Ada Choi Seung Hyun rupanya. Kau siapa? Pacarnya?” ejek Junsu lagi.”Tentu saja tidak. Dia sahabat baikku. Apa…jangan-jangan kau suka pada Yunhwa?” balas Seung Hyun tenang.

“Neo…,” gumam Junsu kesal.”Sudahlah, tidak baik bertengkar pagi-pagi seperti ini,” kata Wooyoung menenangkan.”Oya, satu hal lagi Tuan Kim, bisakah kau contoh sahabatmu yang pendiam itu?” tanya Seung Hyun. Untung Wooyoung cepat menarik Junsu keluar dari kelas. Kalau tidak, aku tak tahu apa yang bakal terjadi.

“Gomawo,” kataku. Dia tersenyum,”Aku kan sahabatmu. Oya, nanti siang kau jadi ke rumahku kan? Akan kukenalkan kau pada adikku,”. Aku tersenyum. Andai saja aku bisa menceritakan semuanya padamu, Seung Hyun.

=====================================================================================

“Yunhwa, ini adikku, Sulli,” kata Seung Hyun.”Annyeong oppa, joneun Choi Sulli imnida,” kata yeoja manis ini.”Annyeong, Park Yunhwa imnida,”. Sulli memandangku tak berkedip.”Oppa, neomu yeoppeo,” katanya. Aku terkekeh pelan.”Kata ummaku, aku ini cantik luar dalam,” kataku sambil mengedipkan sebelah mataku. Matanya berbinar-binar,”Aku ingin seperti oppa,”.

=====================================================================================

Aku tak tahu kapan tepatnya rasa itu datang. Rasa nyaman saat melihatnya. Rasa tenteram saat berada disekitarnya. Aku bahkan tak tahu apakah aku pantas memiliki rasa ini. Mengingatnya membuatku takut. Takut kehilangan dirinya. Padahal aku tahu benar kalau aku tak mungkin memilikinya. Bahkan untuk sekejap mata.

=====================================================================================

“Yunhwa-ah! Yang benar saja! Kau gila!” kata Jongwoon. Akhirnya aku memutuskan menceritakan tentang ini. Jongwoon merupakan sahabat sekaligus bosku. Heran kenapa dia bisa menjadi bos sedangkan aku masih kuliah?. Gampang, saat SMP dan SMA dia mengambil kelas akselerasi.”Entahlah, aku juga tak tahu,” kataku lemas.”Bagaimana kalau dia sampai tahu?” tanyanya. Aku menggeleng pelan.”Aku bahkan masih tak percaya dengan diriku sendiri,”. Jongwoon menghela napas berat,”Aku tak bisa membantumu kali ini Yunhwa-ah. Masalahmu kali ini benar-benar…,”.

“Aku tahu, Jongwoon. Tapi, aku benar-benar tak bisa lepas,” kataku. Suaraku mulai bergetar.”Kau tahu,bagaimana pertama kali kami bertemu?”. Jongwoon menghela napas,”Dia bahkan sempat iri padamu, benar kan?”. Aku mengangguk. Merasakan setetes air jatuh menuruni pipiku.

=====================================================================================

Semua orang yang ada disini menangis. Tak terkecuali aku. Bahkan Seung Hyun pun menangis. Kami semua sekarang berada di pemakaman Jongwoon. Dia rela mengorbankan nyawanya demi orang yang dia cintai. Apakah aku bisa seperti dia?.”Jongwoon-ssi,kau bahkan belum melihatku menyelesaikan masalahku sendiri,” gumamku. Setetes air mata mengalir menuruni pipiku. Bisa kurasakan tangan Seung Hyun menyentuh bahuku. Berusaha menguatkanku.

“Geun Young-ah, sudahlah jangan meratapinya seperti itu…,” hiburku. Geun Young sejak tadi tak berhenti menangis. Aku tahu Jongwoon-ssi tiada karena menyelamatkan dirinya.”Tinggalkan aku sendiri,” gumamnya. Eh.? Ini sudah hampir malam. Aku menyentuh bahunya,”TINGGALKAN AKU SENDIRI!” teriaknya.”Sudahlah, biarkan saja dia,” kata Seung Hyun menarikku keluar.

=====================================================================================

Bagiku, cinta itu buta. Cinta bisa datang kepada siapa pun dan kapan pun. Cinta juga tak memilih-milih orang untuk kita cintai. Tak masalah jika cinta itu terlarang. Seperti diriku. Aku tak tahu kenapa aku bisa mencintai dirinya. Aku yang selalu diperhatikannya, tiba-tiba mempunyai perasaan seperti itu. Cinta itu buta, iya kan?. Sampa sekarang saja aku masih belum berani mengakui bahwa aku, Park Yunhwa, mencintai Choi Seung Hyun.

THE END

Advertisements

12 responses to “[FREELANCE] 6 Guys,6 Different Loves

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s