YOU’RE MY DESTINY

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Han ChaeRi

Cho Kyuhyun

Park Jungsoo

Support cast : Super Junior

Genre : Romance

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan aku, hanya imajinasi aku sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

POV : semua cerita di ambil dari sudut pandang Han Chaeri

****

“Kau percaya cinta itu adalah sebuah pilihan?” Ocha Syamsuri

****

YOU’RE MY DESTINY

****

Aku tetap memandangi punggung lelaki itu sampai ia benar-benar menghilang di balik jalan. Aku memegangi dadaku, rasa sakit perlahan merayapi seluruh urat nadi dan persendianku. Kakiku juga tidak mampu menopang berat tubuhku, aku terjatuh dan terduduk di lantai. Aku tak lagi memerdulikan tatapan dan gumaman dari orang-orang yang lewat.

Sudah berakhir. Semuanya sudah berakhir.

Cinta yang kujaga dan kupertahankan selama ini, kini sudah berakhir. Tiada lagi harapan untuk membinanya kembali. Dia benar-benar telah pergi dari sisiku.

Bagaimana aku harus melanjutkan hidupku lagi? Bagaimana aku mampu bernafas dengan baik lagi?

Aku mencintainya dengan segenap nyawa dan jiwa yang kupunya. Aku menyayanginya seakan tiada lagi kaum adam yang dapat menemani sisa hidupku. Aku sungguh menyayangi dan mencintainya, tapi sekarang semua berakhir.

Kurasakan ada sebuah lengan kekar yang memelukku dari belakang. Wangi parfum yang familir menerobos rongga paru-paruku. Tangisan itu tak lagi mampu kubendung. Airmata yang mengalir dari pelupuk mataku tak mampu lagi aku tahan. Semua pecah begitu saja.

“Semua sudah berakhir Kyuhyunnie. Semua sudah berakhir. Dia meninggalkanku, dia pergi dari sisiku.”

Aku bisa merasakan desahan nafas Cho Kyuhyun yang menghembus di tengkuk leherku. Ia makin mengeratkan pelukannya. Rasa hangat menjalari tubuhku, namun tidak sehangat pelukan namja itu, namja yang lima menit yang lalu memutuskan untuk hidup jauh dariku.

“Jangan hanya memandang dia saja Chaeri-ya, namja itu bukanlah segalanya untukmu. Lihatlah di sekelilingmu, lihatlah aku Chaeri-ya.”

Aku menjawabnya melalui tangisanku yang makin mengeras.

Tapi aku tidak bisa Cho Kyuhyun, dia lah yang mampu menghipnotis segala panca indera-ku. Dia lah penguasa dari hidupku.

****

Aku memandangi cangkir cokelat panas yang sedari tadi berada di genggaman tanganku. Cokelat panas ini adalah minuman kesukaan dari namja itu.

‘Oppa, kenapa kau senang sekali meminum cokelat panas? Seharusnya namja seusiamu minumnya itu kopi pahit atau apa gitu yang lebih elegan.’

‘My Chaeri, cokelat panas itu manis yang menghangatkan. Seperti cerminan dirimu. Kau seperti cokelat panas itu.’

Aku tersenyum sendiri mengingat betapa seringnya ia meminum cokelat panas. Bahkan dalam sehari ia bisa meminum tiga sampai empat gelas cokelat panas. Jika sehari saja ia tidak meminum cokelat panas, ia akan gelisah dan tidak bisa tenang. Cokelat panas itu seolah menjadi candunya.

‘Karena disetiap rasa cokelat panas itu aku bisa merasakan hangatnya dirimu My Chaeri. Kapanpun aku merindukanmu aku pasti akan meminum cokelat panas.’

Oppa, apa sekarang kau meminum cokelat panas? Atau kau malah membenci cokelat panas itu?

“Chaeri-ya, minuman itu tidak akan berkurang jika kau hanya memandanginya saja.”

“Kyuhyunnie, apa Jungsoo oppa tidak menyukaiku lagi? Apa aku membuat kesalahan yang begitu fatal sehingga ia mencampakkanku?”

Kyuhyun menaruh cangkirnya, ia mendesah nafasnya berat. Aku menegakkan kepalaku dan menatapnya. Ia membalas tatapanku dan tersenyum lirih. Aku tidak tahu kenapa, tapi senyumannya itu terkesan memaksa dan menyedihkan?

“Ceritakan sesuatu yang lucu Kyuhyunnie.” Aku benci melihatnya yang memaksakan untuk tersenyum padahal aku tahu hatinya sangat terluka. Dan sialnya aku sangat paham kenapa hatinya sangat terluka.

“Aku bukan pelawak Chaeri-ya. Dan YA!! Kenapa mood-mu cepat sekali berubah?”

Aku tertawa kecil mendengarnya. Ahh, mianhae Kyuhyunnie. Mianhae karena selama ini aku selalu menutup hatiku dan selalu menyakiti hatimu. Kau terlalu baik untukku, dan aku mungkin terlalu jahat untukmu.

“Kau mau Jajangmyeon?”

Aku mengernyitkan keningku, apa ia menawarkan makanan untukku? Ia tidak berencana untuk meracuniku kan?

“Ahh ayolah Chaeri-ya, aku memesannya bukan membuatkannya untukmu. Aku sadar dengan kualitas masakanku.”

Aku mengekeh lagi mendengar penuturannya. Cho Kyuhyun, kenapa aku mudah sekali tertawa jika berada di dekatmu?

****

Cinta itu bukan lah sebuah takdir, tapi itu adalah sebuah pilihan

Kau memilih untuk mencintainya, kau juga memilih sakit karenanya

“Chaeri-ya, aku pakai yang ini atau yang ini?” Kyuhyun menunjukkan dua kemeja berwarna hampir sama. Satunya berwarna putih dan satunya berwarna putih gading.

“Yang itu.” Tunjukku ke kemeja yang berwarna putih polos. Putih gading kurasa tidak sesuai dengan wajah tampannya.

Kyuhyun mengangguk setuju kemudian ia berbalik menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Malam ini kami akan pergi ke salah satu pesta relasi bisnisnya Kyuhyun. Mulanya aku menolak untuk menemaninya karena aku tahu disana pasti ada Jungsoo oppa. Jungsoo oppa itu termasuk salah satu pengusaha sukses di Korea, walaupun tidak sesukses dan sekaya Cho Kyuhyun ia termasuk pengusaha muda yang cukup di pertimbangkan.

‘My Chaeri, kau harus menemaniku lagi malam ini.’

‘Lagi oppa? Aigoo~ sebenarnya kau ini punya berapa juta relasi bisnis sih?’

‘My Chaeri, kau harus terbiasa untuk ini. Jika kita menikah nanti, kau pasti akan lebih sering menemaniku.’

Aku mengusap cepat air mata yang mengalir di wajahku. Kyuhyun pasti marah besar jika mengetahui aku menangis lagi. Aku beralih menuju ke ranjang Kyuhyun dan memilah beberapa gaun yang berada di atas kasur. Kyuhyun membelikan beberapa gaun untukku. Dan pilihanku jatuh ke gaun berwarna hitam dengan aksen berlian palsu di bagian dadanya. Aku mengambil gaun itu lalu menuju ke kamar satunya untuk mengganti pakaianku.

‘My Chaeri, jangan memakai pakaian berwarna hitam lagi.’

‘Kenapa oppa? Bukankah aku terlihat lebih cantik dengan memakai pakaian berwarna hitam?’

‘Aku hanya tidak tahan dengan tatapan para namja itu. Mereka menatapmu seolah ingin menelanmu hidup-hidup.’

Aku memandangi pantulan diriku di cermin besar yang berada di hadapanku ini. Aku sedikit tidak percaya jika yeoja cantik yang berada didepanku ini adalah aku sendiri. Jungsoo oppa benar, aku terlihat lebih cantik jika memakai pakaian berwarna hitam.

Aku menyapukan bedak tipis-tipis di wajahku. Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan make up, namun gaun super mahal ini terasa akan sia-sia jika aku tidak merias diriku. Setelah memastikan make up di wajahku terlihat sempurna aku mengambil jepit kecil dan menjepit poniku ke belakang sehingga memperlihatkan dahiku. Aku sengaja membiarkan rambut panjangku jatuh tergerai ke bawah. Kyuhyun sangat menyukai rambut panjangku yang tergerai.

‘My Chaeri, ikat saja rambutmu.’

‘Wae oppa? Apa rambutku mengganggumu?’

‘Ani, hanya saja aku sangat suka melihat leher jenjangmu.’

Yah, aku sadar jika keduanya mempunyai perbedaan yang cukup signifikan. Tapi entah kenapa saat ini aku justru melakukan semua hal yang Kyuhyun suka. Mulai dari gaun hitam ini -Kyuhyun sangat menyukai aku memakai pakaian berwarna hitam- , rambut yang di gerai, dan make up yang tidak terlalu mencolok. Apa mungkin aku melakukan ini semua hanya karena rasa bersalahku kepadanya? Apa iya aku melakukan ini hanya untuk membayar semua sakit yang ia terima karena aku yang terus memberinya harapan tanpa kepastian?

Aku hanya bingung dengan perasaanku. Di satu sisi aku sangat mencintai Jungsoo oppa, namun di sisi lain dari diriku aku merasa hangat dan nyaman berada di samping Kyuhyun. Aku sangat menyadari jika Kyuhyun sangat mencintaiku, mungkin cintanya melebihi rasa cintaku kepada Jungsoo oppa. Tapi ia tidak pernah mengeluhkan sikapku yang tidak kunjung membalas atau menolak perasaannya.

Aku mungkin manusia paling plin-plan dan tidak punya pendirian. Tapi sungguh, aku tidak mengetahui  dengan pasti bagaimana jenis perasaanku kepadanya. Apa perasaanku sama sepertinya atau malah sebaliknya?

Aku tahu mungkin aku adalah yeoja terjahat di dunia. Aku memang sudah menikah dengan Cho Kyuhyun, dan walaupun aku menikah dengannya karena sebuah perjodohan keluarga tapi aku tidak membencinya. Hanya saja saat itu hatiku telah terpaut dengan namja berwajah malaikat, Park Jungsoo. Kyuhyun mengetahui perasaanku, dan ia tetap menerimanya. Ia bahkan bersedia dan meluangkan waktunya hanya untuk mendengar curahan hatiku mengenai Jungsoo oppa.

Pernah suatu hari aku menanyakan apa hatinya sakit karena sikapku yang semaunya ini, ia hanya tersenyum dan bilang jika aku bahagia maka ia akan bahagia juga.

Andai saja cinta bisa dikendalikan, tentunya aku akan memilih untuk mencintai Kyuhyun.

****

Aku mendesah saat melihat beberapa pasang high heels yang berada di depanku. Semua jenis high heels yang berada di depanku ini bentuknya sangat indah dan cantik-cantik, aku jadi bingung sendiri memilih yang mana. Kyuhyun sangat mengerti apa yang menjadi kesukaanku, dia bahkan lebih mengerti diriku ketimbang diriku sendiri.

“Chaeri-ya, kenapa kau melamun begitu?” Cho Kyuhyun mendekatiku dan menaruh tangannya di pinggangku. “Eotte? Apa kau menyukai sepatu-sepatunya?”

Aku mengangguk. “Chua, neomu neomu chua. Hajiman, semuanya cantik-cantik.”

“Itu semua milikmu. Tapi tidak mungkin kan kau memakai semuanya malam ini. Pilih yang sesuai dengan gaunmu.”

“Ahh, tapi aku bingung Kyuhyunnie.”

“Aku yang pilihkan, bagaimana?”

Aku mengangguk lagi. Benar juga. Lebih baik dia saja yang memilihkan sepasang high heels untukku. Selera Kyuhyun patut di ancungi jempol. Pilihannya pasti tidak akan mengecewakan. Aku duduk di sofa kecil yang terletak tak jauh dari sana. Tatapanku tak lepas dari Kyuhyun yang sedang serius memilih sepasang high heels untukku. Aku sangat menyukai ekspresi seriusnya begini. Ia terlihat lebih tampan. Tanpa sadar aku tersenyum seraya menatapnya. Rasa hangat menjalari seluruh persendianku dan jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku langsung mengalihkan wajahku, bisa gawat jika Kyuhyun melihat wajahku yang memerah saat ini. Aku memegangi wajahku. Ke-kenapa aku jadi gugup begini?

Jantungku makin berdetak lebih kencang takala Cho Kyuhyun berjalan mendekatiku. Jantungku terasa mau copot saat tangannya menyentuh kakiku dan memasangkan high heels. Aku baru sadar  wajahnya terlihat sangat tampan jika dilihat dari dekat begini. Aku bahkan tidak mengedipkan mataku hanya karena memandangi wajah tampannya. Matanya, hidungnya, alisnya, semua tercipta dengan sempurna. Dan bibirnya, kenapa begitu seksi dan menggoda?

“Cahh, selesai. Eotte?” Kyuhyun mendongakkan kepalanya, aku sedikit terkejut dengan wajahnya yang tiba-tiba berada di depanku. Wajahnya terlalu dekat, terlalu dekat sampai-sampai jantungku terasa mau lepas karenanya.

Dan aku tidak tahu pasti siapa yang memulai, tiba-tiba saja bibir kami sudah saling melumat satu sama lain. Kyuhyun meraih tengkukku dan memperdalam ciuman kami. Sensasi menggelitik dan menghangatkan datang, begitu lidah Kyuhyun masuk kedalam mulutku dan menautkan lidahku dengan lidahnya. Aku menautkan tanganku di lehernya dan Kyuhyun meresponnya dengan tangan kanannya yang memeluk erat tubuhku sementara tangan kirinya terus menerus menarik tengkukku.

Aku tidak dapat lagi berpikir dengan jernih saat ini, pikiranku seolah terbang begitu saja. Semua sensasi yang dihasilkan karena sentuhannya membuatku mabuk hingga tak tahu lagi bagaimana caranya menyadarkannya. Aku merasakan tubuhku yang sekarang ini berada di dalam dekapannya dan sedetik kemudiaan aku merasakan kakiku yang tidak lagi menyentuh lantai. Tubuhku memang termasuk mungil, dan tentunya Kyuhyun dapat mudah menggendongku hanya dengan satu tangannya.

****

Paginya aku terbangun dengan rasa sakit dan letih yang luar biasa. Aku melirik ke jam yang berada di sudut ruangan. Sudah jam 8 pagi, aku harus menyiapkan makanan untuk Kyuhyun. Pelan-pelan aku melepaskan tangan Kyuhyun yang melingkari perutku. Lalu aku segera berlari menuju ke kamar mandi. Ah, betapa memalukannya jika Kyuhyun melihat tubuhku yang polos tanpa ditutupi satu pakaianpun.

Setelah membersihkan diri aku langsung menuju ke dapur untuk membuatkan roti panggang dan segelas teh hangat. Baru saja aku mau mengaduk teh saat sebuah tangan melingkari tubuhku.

“Morning princess.” Sapa Kyuhyun lalu mencium pipiku.

“Morning.” Aku melepaskan tangannya lalu mengangkat dua cangkir teh dan menaruhnya di atas meja. Kyuhyun menarik bangkunya dan duduk di depanku. Aku mengoleskan selai stroberi di atas roti panggang dan menaruhnya di atas piringnya.

Kemudian kami makan dalam diam. Jujur saja aku sedikit malu dengannya, di tambah lagi dengan kejadian semalam. Aku tidak tahu harus bagaimana bersikap.

“Tentang semalam..”

Aku berhenti mengunyah dan memperhatikannya secara seksama.

“Aku kira kau sudah tidak perawan lagi Chaeri-ya. Tapi ternyata..”

Aku menaruh kembali garpu dan meneguk air putih.

“Jadi kau kira aku telah melakukannya dengan Jungsoo oppa, Kyuhyunnie?”

Kyuhyun mengangguk pelan. Aku mendecak kesal, bagaimana mungkin ia menuduhku seperti itu?

Aku memang sangat mencintai Jungsoo oppa, tapi aku bukanlah seorang yeoja murahan yang menyerahkan tubuhku begitu saja tanpa adanya ikatan pernikahan. Dan dia menuduhku seakan-akan aku ini tidak suci lagi?

“Apa kau melakukan itu semalam karena beranggapan aku ini tidak suci lagi? Begitu Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun tersentak kaget, “Bu-bukan begitu Chaeri-ya. Aku hanya..”

“Hanya apa? Hanya kaget karena mendapatiku yang masih perawan dan kau merasa menyesal karena tidak seharusnya meniduriku begitu?”

“Chaeri-ya, bukan begitu.”

“Lalu apa Cho Kyuhyun?” Suaraku mulai meninggi. Aku berdiri lalu berlari menuju kamar. Aku benar-benar tidak tahan jika terus-terusan berhadapan dengannya.

Aku duduk di tepi ranjang dan menundukkan kepalaku. Tangisanku pecah lagi sekarang. Aku tidak menyangka jika Kyuhyun menganggapku murahan seperti itu. Apa ia melakukan semua ini hanya untuk membalas rasa sakitnya? Jika iya, dia berhasil. Kini aku pun merasakan sakit yang ia rasakan dulu. Merasakan bagaimana rasanya dicampakkan dan dibuat serendah mungkin.

Aku mendengar suara pintu kamar yang tertutup perlahan dan suara kaki yang melangkah kemari. Kyuhyun duduk di sebelahku.

“Mianhae Chaeri-ya.” Ujarnya dengan suara pelan namun masih mampu aku dengar.

“Pergilah Cho Kyuhyun. Sekarang semua dendammu telah terbalaskan. Aku sekarang tidak punya apa-apa lagi. Kalau kau ingin membuatku merasakan sakit, kau berhasil Cho Kyuhyun.” Suaraku tersendat karena tangisanku yang semakin menjadi.

“Kau bicara apa sih? Siapa yang membalas dendam siapa?” Kyuhyun menarik tubuhku agar menghadap dan menatap wajahnya. “Dengar Chaeri-ya, sejuta tahun pun kau membuatku menunggu dan menyakitiku, aku tidak akan pernah marah padamu. Tidak akan pernah. Arra?”

“Ta-tapi, kenapa kau menuduhku begitu Cho Kyuhyun? Aku bukan yeoja gampangan seperti yang ada didalam pikiranmu.” Tangisanku semakin mengeras. Kyuhyun memelukku dan menaruh kepalaku di dada bidang (?) nya.

“Aku hanya terlalu bahagia sekaligus terkejut Chaeri-ya.” Kyuhyun mengelus kepalaku dan mencium puncak kepalaku. “Terima kasih untuk semua harta yang kau berikan untukku semalam Chaeri-ya.”

“Ja-jadi kau tidak membalaskan dendammu Cho Kyuhyun?”

“Bodoh. Buat apa aku membalaskan dendamku? lagian aku yakin jika lambat laun kau akan jatuh ke sisiku.”

“Jika aku tetap tidak membalas perasaanmu bagaimana?”

“Tidak mungkin, buktinya semalam kau yang lebih bernafsu. Jika kau tidak mencintaiku, kau tidak mungkin mendesah dan berteriak seperti itu.”

Aku mencubiti pinggangnya. “Brengsek kau.”

Ia terkekeh dan memelukku lebih erat lagi. “Dengar Chaeri-ya, tak peduli apapun aku akan tetap menunggumu dan mencintaimu. Kebahagiaanmu adalah yang paling terpenting di hidupku, jadi jangan pernah meragukan perasaanku lagi. Arra?”

Aku mengangguk kecil.

Saat ini aku mengerti bagaimana cinta itu. Cho Kyuhyun mengajariku sebuah pelajaran yang amat penting. Jika mencintai itu bukan sebuah hal yang harus memaksakan. Mencintai itu juga merupakan sebuah pilihan. Aku mengerti kenapa ia begitu sabar menungguku dan menerima perlakuanku selama ini. Cinta yang membuat Cho Kyuhyun seperti itu.

Dan kini aku paham makna cinta sesungguhnya itu seperti apa.

Cinta bukanlah suatu keterpaksaan, benar?

****

Entah aku harus berteriak kesenangan atau bagaimana yang seharusnya aku lakukan saat aku mendengar kabar membahagiakan seperti ini. Aku hamil!

Kata dokter yang memeriksaku barusan, aku tengah mengandung tiga bulan. Aku tidak menyangka secepat ini mendapatkan seorang bayi. Aku mengelus perutku, dan kini didalam perutku ada sebuah nyawa.

Sepanjang jalan aku terus-terusan tersenyum dan mengira-ngira bagaimana reaksi Kyuhyun saat menyetahui jika aku tengah mengandung anaknya. Apa ia akan sepertiku? Atau malah sebaliknya?

Sesampainya dirumah aku langsung memasakkan beberapa jenis makanan kesukaan Kyuhyun. Kabar spesial harus di dukung dengan masakan yang spesial juga kan?

“Aku pulang.”

Senyumku makin melebar saat mendengar suara Kyuhyun. Segera saja aku menuju ke ruang depan. Kyuhyun memelukku dan mencium bibirku singkat.

“Kau memasak apa sayang? Baunya tercium sampai di luar sana.”

“Ada kimchi sup laut (?) kesukaanmu. Dan..” Aku menjelaskan apa-apa saja yang aku masak sambil berjalan menuju ke kamar kami. Aku menaruh tas kerja Kyuhyun di sofa lalu membantunya melepaskan jas. Sementara Kyuhyun membersihkan tubuhnya dikamar mandi, aku memilihkan sebuah pakaian ganti untuknya.

****

Aku tersenyum kecil saat melihat Kyuhyun yang tampak lahap sekali menyantap makananku. Nafsu makannya meningkat beberapa hari ini. Walaupun ia kerap kali menyingkirkan sayur-sayuran dari piringnya, ia tetap menghabisi makanannya dengan lahap.

Dan setelah makan malam tadi kami memutuskan untuk duduk di sofa menghadap ke jendela. Aku menyenderkan kepalaku di bahunya.

“Kyuhyunnie.”

“Ehmm.” Dia menjawab dengan dengungannya saja.

“Kalau aku berubah menjadi wanita gemuk dan jelek bagaimana?”

“Memang kau bisa gemuk Chaeri-ya?”

Aishh, namja ini. Selalu seperti ini. Yah, aku akui aku ini tipe orang yang susah untuk gemuk. Nafsu makanku seperti orang yang mempunyai berat 100kg, tapi beratku hanya berkisar 47kg sampai 49kg.

“Kalau perutku membesar dan tampak aneh gimana?”

“Bodoh, kau kan tidak hamil tentu saja kau tidak.. Tunggu, perutmu membesar? Maksudmu?”

Aku mengangguk.

“Jinjja?”

Aku mengangguk lagi.

Cho Kyuhyun memelukku erat. Ia menciumi pipiku lalu bibirku lalu ia menciumi perutku dan mengusapnya pelan.

“Berapa bulan Chaeri-ya?” Tanya Kyuhyun tanpa melepaskan wajahnya yang masih sibuk menempel di perutku.

“Kata dokter tiga bulan.”

“Omoo, jinjja?”

Aku menganggukkan kepalaku lagi.

“Annyeong aegi-ya. Kau bisa mendengar suara appa? Iya, ini appamu yang paling tampan. Nanti kau jangan merepotkan eomma-mu ya? Eomma-mu itu orangnya galak sekali, jadi jangan cari masalah dengannya. Arra?”

Aku menjitak kepalanya, “Ya! Siapa yang galak huh?”

“Tuh bener kan yang appa bilang, eomma-mu itu super galak.”

“YA! CHO KYUHYUN!”

****

Tak terasa usia kandunganku sudah menginjak enam bulan. Ternyata benar apa yang Kyuhyun katakan. Walaupun usia kandunganku menginjak enam bulan, badanku tidak terlalu berubah. Aku tidak segemuk seperti wanita hamil biasanya. Yang berubah hanyalah perutku yang semakin hari semakin membuncit.

Si Cho Kyuhyun bodoh itu entah kenapa setiap hari semakin membuatku kesal saja. Ada saja kelakuan dorky-nya yang membuat emosiku naik sampai ke ubun-ubun. Ia juga kerap kali bermanja-manjaan denganku. Aneh sekali, yang hamil itu siapa sih? Kenapa justru dia yang lebih manja dibanding aku?

Buktinya sekarang aja dia menyuruhku untuk datang ke kantornya dan membawakannya es krim rasa cokelat. Aigoo~ jangan bilang jika aku yang hamil dan ia yang ngidam.

Aku memesan semangkuk besar es krim rasa cokelat di kedai dekat kantor Kyuhyun. Lalu aku duduk di kursi sembari menunggu es krim pesananku datang. Aku menatap orang-orang yang berlalu lalang melalui jendela besar yang berada di dekatku.

“Kau sendirian saja My Chaeri?”

Aku sedikit tersentak dan makin terkejut saat mendapati siapa yang menyapaku barusan.

“Boleh aku duduk disini?” Ujarnya dan tanpa menunggu jawabanku lagi ia menarik kursinya dan duduk di atasnya. Ia menyunggingkan senyumannya, senyuman khasnya.

“Bagaimana kabarmu My Chaeri?”

My Chaeri? Mengapa ia masih saja memanggilku dengan My Chaeri?

“Baik oppa. Oppa sendiri bagaimana?”

“Cukup buruk setelah kehilanganmu.”

Aku mengerutkan alisku mendengar penuturannya. Cukup buruk katanya?

“Berapa bulan kandunganmu My Chaeri?”

“Enam bulan, oppa.”

Aneh, tapi aku tidak lagi merasakan debaran yang berbeda saat bertemu dengannya. Yang kurasakan saat bertemu dengannya seperti bertemu dengan seorang kakak yang telah lama tidak berjumpa.

“Ternyata keputusanku untuk meninggalkanmu adalah tepat, My Chaeri. Kau sudah menyadari kan siapa yang sesungguhnya yang kau cintai itu?.”

“Maksud oppa?”

“Aku sangat mencintaimu My Chaeri, dari dulu hingga sekarang. Tapi aku sadar jika cintamu bukanlah untukmu. Di hatimu itu hanya ada Cho Kyuhyun, suamimu. Aku tahu kau tidak mungkin meninggalkanku duluan, makanya aku memutuskan untuk meninggalkanmu.”

“Ani oppa. Kau salah. Di waktu itu aku hanya mencintaimu, bukan Cho Kyuhyun.”

“Ani, My Chaeri.” Jungsoo oppa mendesah. “Kau mencintaiku hanya sebagai kakak laki-laki dan kau mencintai Cho Kyuhyun sebagai seorang laki-laki. Hal itu tidak pernah kau sadari My Chaeri.” Ia menambahkan lagi. “Walaupun itu keputusan yang akan menyakiti hatiku dan membuatku kehilanganmu, tapi aku yakin keputusanku sangat tepat. Cinta bukanlah sebuah keegoisan My Chaeri.”

“Kenapa oppa tidak menjelaskannya waktu itu? Kenapa oppa mencampakkanku begitu saja?”

“Karena aku sangat mencintaimu My Chaeri. Aku mungkin namja yang kau cintai saat itu, tapi Cho Kyuhyun lah namja yang selamanya akan kau cintai.”

****

Aku melenggang masuk ke ruangan Cho Kyuhyun. Aku tidak perlu lagi membuat jadwal hanya untuk bertemu dengan Kyuhyun. Aku menaruh bungkusan es krim itu ke atas mejanya lalu duduk di kursi.

“Ya! Kau ini! Siapa yang hamil sih sebenarnya? Sekali lagi kau menyiksaku begini, kau akan mati ditanganku Cho Kyuhyun!!”

Kyuhyun tidak menjawab, ia malah menutup mataku dan menuntunku menuju ke suatu tempat.

“Kau mau membawaku kemana Cho Kyuhyun?”

“Sstt, diamlah. Aku ingin menunjukkan sesuatu.”

Aku terdiam. Dan kemudian Kyuhyun melepaskan tangannya yang menutup mataku. Aku hanya terperangah melihat tulisan-tulisan yang berada di depanku. Cho Kyuhyun, namja gila ini. Sampai kapan ia berhenti membuatku sesak nafas?

“Saengil chukae Chaeri-ya..” Kyuhyun memeluk tubuhku dari belakang. Ia menciumi rambutku.

Aku masih terperangah memandangi tulisan-tulisan itu. Cho Kyuhyun namja bodoh dan gila ini membuat tulisan selamat ulang tahun di sepanjang gedung yang terletak di depan gedung ini.

“Bagaimana bisa kau membuat semua tulisan-tulisan itu Kyuhyunnie?”

“Bisa saja. Apa sih yang tidak bisa aku lakukan untukmu Chaeri-ya?”

Jungsoo oppa benar, hanya Cho Kyuhyun lah yang mampu membuat hatiku kacau dan tidak bisa berhenti menduga-duga apa yang akan namja itu lakukan. Hanya Cho Kyuhyun yang bisa membuatku pusing setengah mati memikirkan kelakukannya.

Ya, Cho Kyuhyun itu adalah takdirku. Jikapun tidak, aku akan mengubahnya menjadi takdirku.

***END***

Ehemmm, mau ngakak tapi gak bisa -___________- FFnya aneh banget ya? iya kan? Aneh kan? Gak jelas kan?

Ini awalnya mau iseng-iseng aku buat ficlet aja dan genrenya angst. Tapi gak tau kenapa semakin kesini, malah semakin aneh.

Keep RCL deh..

95 responses to “YOU’RE MY DESTINY

  1. Bingung mo comment apa …krna setiap ff ‘lingkungan’ ka ocha sllu bikin tenang .ga bikn galau(euh?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s