[Doubleshot] The Lost Friend – END (Anneyeong hi-gaseyo)

Author : Choi Seunhye (Songhyena’s new Korean name)

Main Casts : Choi Minho (SHINee) , Seo Eunkyung

Other casts : SHINee’s Member, Choi Seunhye, Seo Joohyun

Rating : PG-15 or T

Double shot of : The Lost Friend (Part 1)

Romance, Tragedy, AU

Hana… Dul… Set! Chonun, Choi Seunhye imnida!!!!

Anneyeong haseo!! Aku datang untuk menamatkan FF yang aku tulis beberapa hari yang lalu. Belum baca? Klik aja link diatas. Seperti biasa, kritk + saran + komen ditunggu

ARE YOU A SILENT READER?

G.O. A.W.A.Y

AND

NO PLAGIATOR

Happy Reading, Readers ^^

“Minho oppa!!! Kenapa kau tidak kasih tau aku kalau kau akan berangkat?”tanya Eunkyung di pagi itu. Minho yang tadinya masih membantu orangtuanya mengangkat barang yang akan dibawa ke bandara internasional Incheon, mendekatinya yang dengan muka sembab karena tangisan di malam sebelumnya.

“Kalo aku memberitahumu, apa kau akan mengijinkanku untuk pergi?”tanyanya. Eunkyung dengan tegas menggeleng. Minho tersenyum dan mengelus lembut rambut yeoja itu. Ia tau cepat atau lambat, yeoja ini akan dating ke depan pintu rumahnya dan menangis sesegukan dan bertanya mengapa ia tidak diberitahu akan kepindahannya ke Cina.

Minho kecil berumur delapan tahun itu merentangkan kedua tangannya seperti menyuruh Eunkyung datang memeluknya. Tanpa berpikir dua kali apalagi tujuh kali, ia segera datang ke pelukannya.

“Oppa… Jika oppa pergi, siapa yang akan menjadi chiguku? Siapa yang akan menemaniku saat pergi dan pulang sekolah? Siapa yang akan menjadi teman curhatku?”tanya Eunkyung di sela-sela tangisnya. Minho hanya menghela nafas sambil memeluknya.

“Kau akan menemukan chingu yang sepertiku lagi…,”kata Minho. Eunkyung masih memeluknya dengan erat dan kemudian melonggarkan pelukannya. Ia bertatapan dengan Minho.

“Oppa… Sarangheyo,”kata Eunkyung. Minho menatapnya terkejut nampak dari ekspresi matanya yang membesar.

“Mwo?”

Eunkyung menangguk dengan tegas. “Sarangheyo, Oppa…,”ulangnya lagi. Minho masih terkejut. Ia tidak menyangka, chingu yang sudah ia anggap sebagai dongsaengnya itu memiliki perasaan lebih padanya. Tapi, mereka kan masih kecil.

“Eunkyung… Kita masih kecil. Cepat atau lambat, kau akan melupakanku dan menyukai namja yang lain. Meski aku tetap ada di Seoul, kau akan tetap menemui namja itu dan akan terus menceritakannya padaku.

Eunkyung kembali menggeleng dengan cepat,”annio~. Aku tetap menyukai Minho oppa…”

“Sungguh?”tanya Minho oppa. Eunkyung kembali mengangguk. Minho hanya tersenyum dan ia ingin berbalik badan namun tangannya ditarik Eunkyung yang baru saja berusia enam tahun bebrapa minggu lalu itu.

Cup!

Eunkyung mencium pipi kanan Minho. Minho tentu saja terkejut dan mendorong lembut badan Eunkyung.

Eunkyung mencoba tersenyum dan mulai berjalan mundur bermaksud pergi,”anneyeong hi-gaseyo… Semoga kau selamat, Oppa,”katanya  dan pergi meninggalkannya. Minho masih diam di tempat. Ia menatap punggung Eunkyung berambut lurus sepunggung itu berlari dan kemudian berbelok. Minho hanya menundukkan kepala dan tersenyum sambil memegang pipi kanannya yang baru saja dicium oleh Eunkyung.

 

*

Minho’s POV

 

Sekarang, Eunkyung bagaimana ya? Apa ia tetap imut? Rambut hitamnya masih lurus sepunggung? Ah… Mungkin sudah jauh lebih panjang. Sepinggang? Apa ia masih pintar seperti saat masih Elementary? Pasti masih. Ommanya akan marah jika nilainya turun. Setinggi apa dia? Dulu dia lumayan gendut. Sekarang pasti sudah kurus.

Aku terus membayangkan bagaimana Eunkyung yang sekarang. Mendengar berita dari Seunhye noona bahwa ia selamat setelah kecelakaan pesawat, aku benar-benar lega. Lega seperti aku telah lulus dari ujian akhir nanti. Tapi, Seunhye noona tidak tahu dimana ia sekarang karena kabarnya benar-benar hilang.

Tidak bertemu dengannya setelah tujuh tahun, aku benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaanku. Tapi, aku memang harus bertemunya! Apakah ia sadar bahwa Choi Minho SHINee itu adalah namja yang dulu pernah diciumnya?

Aku tersenyum membayangkan wajah Eunkyung yang mencoba tersenyum malu meski ia sangat sedih mengetahui kepindahanku ke Cina.

Ah, dongsaeng… Sekarang dimana kau?

Drrrtt…drrrt..drrttt…

Aku melirik ke arah ponsel yang bergetar. Getaran itu juga menyadarkan bahwa sekarang sudah jam sepuluh sedangkan aku baru menyelesaikan dua soal PR Kimia! Oh For heaven’s sake!

Aku mengambil ponsel yang terus bergetar dengan hebat dan melihat layarnya yang menulis ‘Taemin Dongsaeng Calling…’ . Aku menekan answer.

“Yeoboseo?”

“Yeoboseo? Hyung? Ah, hyung ah~. Aku sedang ada di Supermarket. Apa kau mau es krim yang ada di iklan channel 2?”

Aku membayangkan es krim yang ada di channel dua itu dan rasanya air liurku sudah berceceran kemana saja.

“Ne! Belikan ku dua kotak! Aku mau makan banyak malam ini!”kataku penuh semangat.

“Mwo?! Hyung! Apa kau gila? Es krim bisa membuatmu mati kedinginan malam ini. Manager bisa marah kalau tau!”

Aku tertawa gila mendegar penolakan dongsaengku ini. Dia benar-benar peduli.

“Ne… Ne… Ne… Terserah padamu saja!”

Klik.

Hubungan telpon aku putuskan dan kembali melamun tentang Eunkyung.

 

*

Eunkyung’s POV

 

Jam setengah sebelas. Aku segera mengambil selimut dan mengambil buku yang sama seperti hari-hari sebelumnya yang menyimpan selembar foto Minho oppa. Aku membuka pintu balkon dan kembali berdiri disana. Aku berjalan mendekati dinding pembatas dan melihat ke bawah.

“Mwo? Kunang-kunangnya mana?”

Aku segera melempar selimut itu begitu saja dan aku berlari ke lantai bawah untuk menuju taman belakang.

Buk! Buk! Buk!

Suara langkah kakiku benar-benar ribut saat menuruni tangga dan aku segera membuka pintu belakang.

Aduh!!!

Langkah kakiku langsung berhenti dan tubuhku terhempas ke tanah.

Oh, GOD! Kapan rasa sakit ini berhenti?!!!

Bahkan, sampai hari ini aku terus memaki mengapa tulang belakang dan paha ku selalu sakit jika aku berlari sebentar saja. Kenapa rasa sakit ini tidak pernah berhenti meski sudah tujuh tahun?! Ah, damn shit!

Aku berusaha berdiri dengan bertumpu pada kedua lenganku dan aku mencoba jalan kembali. Tapi, paha ini benar-benar ngilu! Mengapa besi ini masih ada di tulang pahaku?!

Arrrgggghhhhhhhhhh!!! Ini benar-benar sakit!!!!!!!!!

 

*

Minho’s POV

 

Tin..tong…

 

Aku berjalan dari luar kamar menuju pintu apartemen. Kenapa yang lain tidak mau buka?

“Anneyeong…,”sambutku ketika membuka pintu dan wajah Taemin muncul dibaliknya. Ia tersenyum sambil membawa dua kantong plastik besar.

“Hyuunnnngggg!!! I’m back! Keluarlah!!!!”

Namun, penghuni dorm yang lain masih diam. Tidak ada respon sedikitpun dari perkataan Taemin barusan. Taemin menatapku.

“Hyung, mana yang lain?”

Aku mengambil kantong plastik itu ditangannya bermaksud untuk membawakannya ke dapur,”aku tidak tahu.”

Taemin mengikutiku sambil lirak-lirik ke pintu-pintu kamar Hyung-hyungnya dan Key yang tertutup rapat.

Setelah menaruh di meja, aku langsung berdiri di ruang tv dan menyiapkan suara,”HEEEYYYYY!!! SEMUUUUAAAA!! TAEMIN DATANG BERSAMA DUA KANTONG PLASTIK BESAR BERISI ES KRIM YANG ADA DI CHANNEL 2!!!!!”

Brak brak brak brak!!!!

Seketika, pintu-pintu kamar yang tertutup tadi langsung terbanting dan keluarlah mpu-mpu penghuninya.

“Hey! Hey! Berikan untukku!”kata Onew yang langsung lari ke dapur namun ditarik Jonghyun yang muncul dari belakangnya.

“Hey! Leader~! Aku duluan!!!”teriaknya dan langsung mendorong Onew ke belakang.

“Hey! Jonghyun ah~! Kau tidak boleh melakukan itu padaku!”

Lalu, Key langsung muncul dari arah belakang mereka dengan wajah yang semrautan lalu mendorong memisahkan kedua hyungnya.

“Ya..ya..ya.. Terserah hyung saja!”katanya dan langsung berjalan mendekati kulkas. Aku dan Taemin menatap bingung tingkah chingu-chingu kami. Taemin berjalan mendekati Jonghyun dan Onew yang masih bertarik-tarikkan satu sama lain.

“Ah! Hyung! Berhentilah bertingkah kekanak-kanakkan seperti itu! Aku sudah membeli satu-satu buat kalian semua!”

 

*

Beberapa menit kemudian…

Kami sudah makan es krim dengan tenang di malam sekitar jam sebelas. Aku yang pertama menyelesaikan kotak es krimku dan bersiap-siap untuk meninggalkan ruang makan.

“Minho hyung!”panggil Taemin. Langkahku berhenti dan aku menatapnya,”ne?”

Taemin kembali menggeser mundur kursi yang aku dudukki yang berada di sampingnya,”duduklah.”

Aku kembali duduk di sampingnya dan menerka-nerka apa yang akan ia bicarakan.

“Soal yeoja tadi pagi itu… Aku sudah tahu siapa dia.” Aku terkejut.

“Ne?! Memangnya siapa?”

“Apa dia benar-benar ada hubungan dengan Eunkyung?”tanya Onew. Taemin mengangkat bahu.

“Waktu tadi aku sedang membeli es krim, aku kan memakai topi. Jadi, tidak ada yang tahu aku Taemin. Aku mendengar 2 karyawati disana sibuk membicarakan seseorang yang mengatakan bahwa ia dekat dengan Minho hyung. Aku pikir, siapa dia? Mungkin saja anak sekelasnya,”kata Taemin yang berhenti bicara untuk memakan kembali es krimnya.

“Hm… Aku tetap berpura-pura memilih-milih es krim sementara aku menguping. Ternyata, yang mereka bicarakan bukan yang seangkatan dengan Minho hyung. Tapi masih tingkat dua, sama denganku. Benar kan?”tanya Taemin kepadaku. Aku mengangguk.

“Ne… Dia memang tampak lebih muda dariku. Karena, jika dia seangkatan denganku, baik aku maupun Jonghyun ataupun Onew akan tahu siapa dia.”

Taemin mengangguk,”karena dari itu, aku tertarik untuk tahu yang lebih. Aku terpaksa membuka penyamaranku dan…”

“Tunggu! Kau membuka penyamaranmu?!”tanya Key. Taemin mengangguk.

“Wah! Bravo kau Mushroom! Aku tidak menyangka! Apa mereka histeris melihatmu?”tanya Key. Taemin tertawa lalu menggeleng.

“Annio~. Mereka memang kenal SHINee, tapi tidak terlalu nge-fans. Mereka nge-fans dengan Super Junior hyung.”

Key menghentakkan badannya sambil mendesah,”hah! Kujamin mereka akan menyesal setelah kau keluar dari Super Market itu. Karena akan susah mendapatkan kejadian langka seperti tadi!”

“Hey, Key! Berhenti bicara yang tidak jelas! Aku ingin tahu soal yeoja yang Minho cerita!”kata Onew.

Key tertawa mendengar teguran dari Onew,”yah yah, mianhe.. mianhe..”

Taemin menggeleng-geleng lalu mulai melanjutkan ceritanya,”namanya Seo Joohyun. Seohyun. Kelas social dua. Soal yang kau bilang Eunkyung.. Eunkyung itu, mereka tidak tahu. Tapi, mereka bilang memang pernah mengenal nama itu. Katanya sering ke super market itu bersama Ommanya.”

Aku terkejut mendengar berita itu,”ne?! Eunkyung sering kesana? Super market itu di dekat dorm kita! Berarti aku ada kesempatan untuk menemukannya!”

Taemin mengangguk, membenarkan omonganku.

“Tapi, Minho, aku rasa itu bukan Eunkyung yang kau cari. Memangnya tidak ada berita dari Seunhye noona?”tanya Onew. Aku menggeleng.

“Anni. Aku berharap secepatnya mendapatkan kabar itu.”

 

*

Satu minggu kemudian di taman sekolah…

 

Aku berjalan mendekati bangku taman yang terletak di barat taman yang agak jauh dari lapangan bola yang ada di dekatnya. Seorang yeoja berambut panjang mengenakan bando putih kecil sudah duduk disana. Menungguku. Aku berjalan mendekatinya dan menyadari lamunannya.

“Ah? Minho oppa?”panggilnya. Aku tersenyum lalu duduk di sebelahnya.

“Kau bawa apa pagi ini?”

 

*

Eunkyung’s POV

 

Aku berjalan tertatih-tatih karena ‘kaki besi’-ku terasa mengilu. Aku berjalan mendekati taman sekolah sambil membawa sebuah buku dan air putih di tangan kananku.

“Kaki ini, kenapa besinya tidak dikeluarkan saja?”tanyaku pada diri sendiri sambil membenarkan posisi kacamataku. Aku terus berjalan ke bangku taman yang letaknya di timur taman. Bangku kayu itu kosong. Tidak ada yang menyadari kalau benar-benar nyaman duduk disana. Di pagi hari seperti ini, angin bertiup benar-benar sejuk untuk pernafasan. Cahaya matahari tidak akan langsung mengenai siapapun yang duduk disini. Karena disini benar-benar teduh.

Aku melihat seorang yeoja cantik duduk di jauh seberangku. Ia sedang tersenyum-senyum sendiri sambil memegang kotak makanan. Mungkin ia menunggu namja chingunya untuk makan bersama. Beruntung sekali dia. Cantik dengan wajah asli. Tidak sepertiku hasil operasi plastik karena wajah dan sekujur tubuhku terbakar saat kecalakaan sembilan tahun yang lalu.

Aku mengalihkan pandangan ke arah sepak bola. Nampak beberapa namja sedang bermain bola bersama seorang yeoja yang tomboy yang aku kenal sebagai Kwon Yuri. Ia seangkatan denganku dan memang sangat tomboy. Ia hebat dalam bermain sepak bola dan ia juga cantik meski tidak terlalu pintar. Aku melihat kakinya yang semangat menggiring bola itu dan…. Gol!!!! Namja itu langsung terjongkok. Aku tertawa melihat ekspressi namja yang terkejut karena berhasil dikalahkan oleh yeoja cantik tapi tidak kemayu seperti Yuri.

Yuri tampak senang dan mendatangi namja itu sambil menunjuk-nunjuk.

“YA!!!! Kyuhyun ah~! Traktir aku pulang sekolah nanti. Anneyeong!”

Aku tertawa. Ia melakukan seperti itu karena namja bernama Kyuhyun itu akan mentraktirnya. Dulu aku juga suka bermain bola kaki. Minho oppa yang dulu mengajarkannya. Tapi, sejak kejadian itu, aku tidak boleh terlalu capek. Karena, satu ginjalku yang tersisa ini tidak cukup mampu menahan beban. Belum lagi ‘kaki besi’-ku yang bisa saja ngilu kapanpun ia suka.

Aku kembali menatap yeoja yang ada di seberangku. Ia kini tersenyum sumringah kepada namja yang sedang berdiri di depannya. Sepertinya namja itu baru datang. Lalu, namja itu duduk di sebelahnya.

Jddeeerrrr!!!

“Minho oppa?!”

Aku harus segera lagi. Tanpa ba bi bu, aku langsung berdiri untuk pergi. Namun, kaki besiku kembali ngilu dan aku langsung terjatuh.

“Ah!!!”

“Hey!!! Yang disana!!!! Kau kenapa?”

Itu suara Minho oppa!! Aku segera berusaha berdiri dan berjalan tertatih-tatih.

“Hey!!! Tunggu!!!”

Karena merasa suaranya sudah dekat, maka aku putuskan untuk lari. Menjauhinya.

Minho oppa, mianhe…

 

*

Malam ini, seperti biasa aku berdiri di balkon kamar dengan buku yang selalu aku bawa kemana-mana. Buku yang menyimpan foto saat aku bersama Minho oppa sembilan tahun yang lalu. Aku mengingat alasan kenapa aku juga ikut-ikutan menyimpan sebuah foto di dalam buku.

 

“Oppa… Apa itu?”

“Ne? Buku ini?”

Aku mengangguk.

“Buku ini… Menyimpan sebuah foto. Foto nenekku.”

Aku mulai merasa tertarik. “Oh ya? Kenapa di simpan ke sebuah buku?”

Minho oppa tersenyum. “Ne… Supaya kita bisa selalu mengingatnya dimanapun dia berada dan ia tahu bahwa ada yang memikirkannya setiap saat.”

 

Aku tersenyum. Mengingat dan merindukan. Itulah yang aku lakukan selama sembilan tahun lebih. Aku melihat kunang-kunang yang kembali datang di malam ini.

“Hey, aku merindukannya!”kataku pada kunang-kunang itu yang pasti tidak akan dijawab.

Drrtttt…drrrttt….drrttt…

Ponselku bergetar hebat di atas meja putih di belakang badanku. Aku berbalik dan mendekatinya bermaksud untuk melihat siapa yang menelpon. Aku duduk di sebelah meja itu dan mengangkat ponsel itu. Membaca nama yang tertera di layarnya aku tersenyum. Aku memutuskan untuk menjawab telepon.

“Yeoboseo??? Ah~ Seunhye unnie!!!”

 

*

Beberapa hari kemudian…

 

Minho’s POV

 

Drrrtt…drrrttt…

Buku Biologi yang tengah aku baca, kembali aku tutup karena ponselku bergetar dengan layarnya yang berkedap-kedip. Aku melihat jam dinding. Sudah jam sebelas malam. Siapa yang menelpon?

Aku mengambil ponsel itu dan melihat tulisan ‘private number’. Siapa ini? Stalker?

“Yeoboseo?”sapaku setelah mengangkat telepon tersebut. Hening…

“Yeoboseo?”

Masih tidak ada jawaban.

Aku mengangkat alis sebelah kanan. Masih diam. Aku memutuskan untuk menelpon tersebut dan menguap ngantuk.

“Hooooaammmm….”

Aku berdiri dan keluar dari kamar. Suasana dorm sepi. Tidak ada siapa-siapa. Besok sudah ujian akhir. Aku sudah siap buat ujian besok!

Aku ke kamar Taemin. Ternyata, dongsaeng ini sudah tidur. Aku ke kamar Key. Dia juga sudah tidur. Ke kamar Jonghyun.

“MWO?!! Komik?!”

Jonghyun tersenyum merekah.

“Hehehhe… Aku pusing.”

Aku bersiap maju untuk memarahinya. Namun, ponselku kembali bergetar. Tertulis nama Seohyun di layarnya.

“Yeoboseo? Ne… Aku lagi di kamar Jonghyun. Ne… Iya, my yeoja-chingu. Asal kau tepati janjimu!”

Seohyun sudah menjadi yeoja-chinguku. Aku melirik ke arah Jonghyun yang megeluarkan ‘V’-sign. Aku melengos dan keluar dari kamarnya.

 

*

 

Farewell party…

 

Aku sudah berjanji datang bersama Seohyun. Setelah bergabung dengan teman-teman, kami memisah menuju ke taman belakang hotel yang terdapat air mancur.

“Minho oppa… Chukkae~”

Aku tersenyum mengangguk,”ne… Gomawo.”

Seohyun mengangguk.

“Ah Seohyun ah~. Mana janjimu? Alamat Eunkyung? Kau berjanji untuk memberikannya karena kau memang mengenal Eunkyung,”kataku dengan perasaan yang gembira.

Akhirnya… Aku bisa bertemu Eunkyung.

“Seohyun? Kenapa kau diam?”

Seohyun menatapku. Aku pun menjadi diam. Ia masih menatapku dan aku merasa bahwa wajahnya semakin mendekat.

Apa maksud anak ini?

Wajahnya semakin dekat. Hingga aku bisa melihat gurat-gurat halus di bola matanya dan hembusan nafasnya pun semakin terasa.

Apa dia mau menciumku?!

 

*

Eunkyung’s POV

 

Ne…

Dress putih sudah siap. Sepatu sudah siap. Rambut sudah siap.

Acara farewell itu tidak jauh dari rumah. Hingga, aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Ah… God! Aku sebenarnya tidak siap.

Aku sudah berbeda dengan yang dulu. Wajahku sudah berubah. Entah Minho oppa akan mengenaliku atau tidak. Aku sakit-sakitan karena hidup hanya dengan sebuah ginjal. Kaki besiku masih sering ngilu. Entah lah… Yang jelas hari ini aku akan menunjukkan padanya bahwa aku ada di sekitarnya.

Aku turun dari tangga dan keluar rumah. Hari ini aku berbohong pada appa dan omma. Tapi, berbohog untuk kebaikan tidak apa-apa kan?

Aku menutup pintu dengan hati yang gembira. Akhirnya… Aku bisa menunjukkan diri padanya.

Jalanan Seoul malam ini sangat ramai. Aku terus berjalan di trotoar dengan senyum yang terus sumringah. Aku berhenti pada sebuah perempatan bersama pejalan kaki yang lain, mengantre untuk menyebrang.

Drrrttt…drrrttt…drrrtt…

“Yeoboseo?”sapaku.

“Eunkyung? Kau dimana?”

Aku tersenyum,”Taemin sunbae~,aku sudah di perempatan Orchid Street. Tunggu aku sebentar.” Aku melirik ke pejalan kaki yang lain yang sudah mulai menyeberang. Tanpa menengok-nengok lagi aku langsung menyeberang.

“Ne… Hahaha. Aku deg-degan. Gomawo Sunbae. Sudah memberitahukanku.”

Aku merasa sudut mata kananku silau. Aku segera melihat ke arah kanan dan melihat sebuah mobil yang melaju dengan kencang tanpa berhenti meski lampu sudah merah. Aku terdiam di tempat. Orang-orang sibuk meneriakkiku.

Kenapa mobil ini tidak berhenti? Pasti akan berbahaya untuk pejalan kaki yang tengah menyeberang.

TIIIIINNNNNNNNNNNN….!!!!!!!!!!

BRRRAAAKKKKKKK!!!!!

Ahhh.. Kakiku sakit. Perutku sakit. Kenapa aku bisa terplanting di jalanan aspal ini? Aku melihat orang-orang datang mengerumuniku. Kenapa mereka? Tiba-tiba, pandanganku menjadi gelap.

 

*

Minho’s POV

 

Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika Seohyun masih mendekatiku dan ia memejamkan matanya. Glek!

Aku menggerakkan tanganku mendorong kedua bahunya. Ia terdorong sedikit dan membuka matanya.

“Kenapa?”

Aku langsung menatap lurus ke arah air pancuran.

“Bagaimana dengan Eunkyung?”

Seohyun masih diam dan menggeleng,”mianhe… Aku tidak menemukannya.”

Aku menatapnya langsung,”jadi?! Kau menipuku?!”tanyaku dengan nada marah. Ia langsung menatapku.

“Oppa… Bukan maksudku seperti itu!”

Aku langsung berdiri dengan rasa kesal,”brengsek! Apa kau sengaja?”

Seohyun juga ikut berdiri,”KAU TIDAK TAHU YANG SEBENARNYA!!!!”

Tiba-tiba, pundakku ditarik seseorang dari belakang.

“Apa?!”bentakku pada Onew bersama Jonghyun, Taemin, dan Key yang ada di belakangnya.

“Ikut kami!”

*

Normal POV, flashback.

 

Jumat, 3 Maret 2002…

 

Pesawat yang baru saja lepas landas dari Incheon menuju bandara Kaohsiung  di Cina mengalami kecelakaan. Pesawat tersebut jatuh di pemukiman warga dan menewaskan hampir seluruh penumpang. Diketahui hanya sekitar tujuh penumpang yang selamat. Yaitu : Cho Suhman (21 thn), Seo Ran In (20 thn), Seo Eunkyung (7 thn), Kim Hyenam (43 thn), Im Jaeng (35 th) dan satu lagi belum terindentifikasi

*

 

“Yeoboseo? Seunhye unnie…!” Eunkyung senang mendengar suara yang sudah lama tidak ia dengar.

“Ne.. Ini aku. Apa kabarmu?”

Eunkyung tersenyum,”baik, Unnie. Unnie gimana?”

“Aku juga baik. Eunkyung… Minho mencarimu.”

Eunkyung terkejut,”mwo?! Dia mencariku?!”

“Ne… Dia mencarimu. Beberapa minggu lalu dia ke tokoku dan meminta tolongku untuk mencari alamatmu. Aku harus bagaimana?”

Eunkyung diam. Tidak dipungkiri ia benar-benar senang. Tidak menyangka, Minho mencarinya. Padahal mereka satu sekolah. Tapi, bukannya ia sudah memiliki yeoja chingu?

“Unnie… Tidak usah kasih tahu dia. Aku akan memunculkan diri sendiri.”

 

*

 

“Seohyun Unnie!!!”

Eunkyung langsung memeluk sacheonnya itu.

“Ne… Apa kabar?”tanyanya.

“Baik. Unnie, hayo masuk!”

“Anni~. Aku hanya ingin bicara sebentar. Tidak apa-apa di teras saja.”

Eunkyung mengangguk,”chukkae yo~ unnie. Sudah sama Minho oppa.” Seohyun tersenyum dan mengangguk.

“Tapi, dia mencarimu…”

“Aku tahu. Tolong tidak usah ngomong apa-apa. Aku akan muncul sendiri nanti.”

 

*

Minho berlari menuju ruang ICU. Ia tinggalkan Jonghyun yang masih mencari parkiran untuk mobil yang membawa mereka. Seohyun adalah sepupu Eunkyung. Pantas wajah mereka sangat mirip. Ia sudah menceritakan semuanya.

“Eunkyung sekarang sudah berbeda. Ia menjalani operasi plastik. Karena itu ia selalu minder tampil di muka umum. Karena itu bukan dia! Dia hanya hidup dengan satu ginjal. Makanya ia sering sakit-sakitan. Paha kanannya juga ditopang oleh gips karena tulangnya retak habis. Maka dari itu, ia sekarang tidak bisa berlari. Jika ia kecelakaan sekali lagi, maka ia tidak bisa diselamatkan,”papar Seohyun saat tadi masih di perjalanan.

Minho terus berlari hingga di depan ruang IGD. Seorang yeoja terbaring lemah disana. Saluran infus dan oksigen sudah terpasang. Perban dimana-mana. Ia masih sadar hanya saja lemah. Minho tidak bisa berbuat apa-apa. Air matanya langsung mengalir begitu saja. Kenapa ia tidak sadar bahwa yang dicarinya ada di sekitarnya?

Eunkyung masih diam saat Minho duduk di sebelah pembaringannya. Ia memegang telapak tangan yang dingin itu. Sangat lemas. Alat yang menunjukkan detak jantung masih berbunyi dengan ritme yang sama.

Minho menatap dongsaeng yang ia cari-cari selama ini.

“Eunkyung… Oppa disini.”

Masih diam. Eunkyung tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

“Eunkyung… Mianhe.”

Minho menangis. Ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.

“Oppa….”

Minho sadar ada yang memanggilnya. Ia melihat kelopak mata Eunkyung yang terbuka sedikit itu.

“Oppa… Aku…”

“Aku sudah tahu semuanya. Sembuhlah. Kau harus nonton konserku nanti.”

Eunkyung tersenyum samar.

“Oppa… Apa kau tau apa doa ku saat aku berulang tahun dulu?”

Minho menggeleng,”apa?”

Eunkyung menarik nafas,”aku ingin menjadi istri oppa kelak.”

Minho menahan air matanya dan ia mengangguk,”ne… Keinginan itu akan segera terpenuhi. Kuatlah, Eunkyung. Aku menunggumu!”

Eunkyung memalingkan wajahnya, menatap Minho. Ia menggeleng.

“Anni~. Aku tidak bisa. Aku sudah capek, Oppa. Menunggu Oppa selama ini. Ginjalku tidak bisa tahan lagi. Kasihan dia, sudah kerja sendirian tanpa teman. Besi ini juga sudah capek menahan tubuhku yang gendut.. Aku..”

“Eunkyung! Berhenti berkata seperti itu!”

Eunkyung mengalirkan air mata di kedua matanya,”anni~. Aku memang tidak sanggup lagi. Aku tidak bisa menjadi istri Oppa yang baik kelak. Oppa akan keluar dari SHINee karena harus terus menungguku. Aku akan sakit-sakitan….”

Minho terus menangis menatap Eunkyung yang tersenyum padanya.

“Nyanyikan sebuah lagu untukku…,”pinta Eunkyung. Minho mengangguk.

“Gom semariga.. Hanci baeso… Appa gom, omma gom.. Eggi gom.” Minho berusaha mengatur nafasnya diantara air mata yang terus mengalir.

“Appa gomeun, tung-tung he… Hiks, omma gomeun, nalsinhe…” Eunkyung ikut bernyanyi dengan suara yang sangat kecil.

“Eggi gomeun, nabalgiawa… Hisuk, hisuk, caranda…” Minho dan Eunkyung mengakhiri lagu itu. Eunkyung tertawa.

“Aku harap aku terus mengingatnya…,”katanya. Minho masih menangis. Eunkyung menatapnya sambil tersenyum.

“Oppa… Jangan menangis…”

Minho mengangguk dan menghapus air matanya. Eunkyung tersenyum.

“Oppa, anneyeong hi-gaseyo… Sarangheyo~”

Tiiitttttttttttttttt…….

Bunyi alat pendeteksi detang jantung itu mengeluarkan suara yang paling ditakuti siapapun. Ritme itu sudah tidak ada. Hilang. Tinggal suara itu. Minho terdiam. Ia melihata mata Eunkyung yang sudah tertutup.

“Eunkyung! Eunkyung!!! Bangun!!!!” Minho berusaha mengguncang-guncangnya.

“Eunkyung?! Eunkyung?! Susterrrrr!!!!” Minho langsung berdiri dan memanggil Suster yang ada di dekat ruangan tersebut.

 

*

9 Tahun yang lalu…

 

“Aku punya satu lagu bagus untukmu.”

Eunkyung menatap Minho.

“Ne? Apa?”

Minho langsung berdiri dan mulai bernyanyi.

“Gom semariga… Hanchi baeso.” Minho juga ikut bergoyang seperti apa yang digambarkan lagu itu.

Eunkyung tertawa melihat tingkah konyol Minho.

“Appa gom, omma gom, eggi gom. Appa gomeun tung tunghe… Omma gomeun nalsinhe. Eggi gomeun, nabulgiawa… Hisuk, hisuk, caranda..” Minho mengakhirinya dengan goyang-goyang pinggang.

Eunkyung tertawa dan bertepuk tangan,”hahahaha… Aku berharap akan terus mengingatnya, Oppa…”

 

END

official blog : wordpress
twitter : twitter

Advertisements

39 responses to “[Doubleshot] The Lost Friend – END (Anneyeong hi-gaseyo)

  1. Woohoooyyy hyena!!
    btw, saia masih belum mengakui nama anda yang sekarang ya!
    Bagus ka!
    sekali lagi, kata-katamu bagus, kayak baca novel beneran. Tapi, ada sedikit kesalahan kata-kata diatas.. hihi, overall B.A.G.U.S
    Good Joobbbb 4 author. Haha 🙂
    Aku ngakaknya waktu si taetae beli es krim. wkwk. Lucu kali. Terus yang minho teriak panggil member yang lain, terus yang ‘bravo kau mushroom’. wkwk.
    Sekuueeelll~~~ ya ya ya, kalau bisa. Ceritain kehidupan minho setelah ini ya..

    • WOOOOYYYYY HYESUUUU!!!
      akuin lah kalau saya Choi Seunhye, saudara dari Choi Siwon dan Choi Sooyoung
      wkwkwkwkwwkwk
      ayolah, hyena sudah menjadi masa lalu (?)
      #bletak

      gomawo… gomawo, chingu, saya juga turut berbahagia
      wkwkwkwkwk
      aku memang buat lucu di adegan es krim es kriman itu
      syukur kalo reader juga merasa lucu

      heheheh, ne…
      aku usahakan buat sekuel nya
      hehehe
      gomawo 😀

      baca cerita aku yang truth or dare ^^

      • Yang truth or dare juga uda tuh.. tadi barusan baca. wkwk
        Hihi. Hyena lebih bagus la yo dari pada seunhye
        Lanjutkan buat ff yang ngakak-ngakak terus ya 🙂 🙂

  2. sedih bikin nangiiisssss –̨–̨–̨__–̨–̨–̨
    sad ending yang bikin nangis, tapi ga abal-abal
    DAEBAK!!!! •₀•
    eunkyung punya orangtua(masih hidup)?

  3. Huaaaaaaaaa!!!! Kenapa matiiii????
    Sedihhh pas abis nyanyi itu aaaaaa:’:’:’:’
    Kasian minhooo
    Jadinya minho sama siapa….

    • iya…
      kan kalau orang yang sudah pernah kecelakaan, apalagi ginjalnya sudah tinggal satu, biasanya kalau kecelakaan lagi gak akan bertahan lama.. (setahu aku sih gitu.hehehehe)

      oh soal itu.. rencana aku mau buat side story
      nanti dibaca aja ya..
      gomawooo 😀

  4. eum … 😦
    kasian eungkyung ….
    ko telat see ktemuny … 😦
    sedih bgt pas bca …
    apalagi tau kalo eunkyung nunggu lama n slama ini minho ada d’dketny tapi ganyadar ..
    huwaaa 😦 minho minho …
    daebak , feelnya krasa 🙂

    • iya….. 😥
      mianhe mianhe kalau bener-” sedih
      heheheh
      tapi seneng juga karena feelnya kedapet hehhehehe

      gomawo aira sudah komenn 😀

  5. huaaaa keren bangeeet
    ceritanya bikin aku nangiiis…
    tp ttp ada bagian yg bikin aku ketawa 😀
    ceritanya bisa dilanjutin ga? hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s