Let’s Make a Baby [Chapter-1]

Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Shim Changmin
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung
  • Etc.

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku.

Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan.

Ke acc twitterku ya di: @onyuni

[PROLOG]

            Ku tatap beberapa draft novel di komputerku secara bergantian. Deadline ini harus ku kerjakan sampai hari minggu tapi aku malah berjam-jam tanpa fokus menghadapinya. Sebagai editor freelance di salah satu penerbitan ternama di ibukota Negara Perancis, tidak seharusnya aku mengabaikan pekerjaan ini walaupun pekerjaan ini bisa ku kerjakan di apartemen kecilku. Bagaimana aku bisa diangkat sebagai editor tetap kalau aku berpangku tangan?

            Brengsek! Aku menggebrakkan mouse ke atas meja dengan kasar. Pikiranku masih tertuju pada satu hal, yaitu ‘membuat anak’. Ku buka laci mejaku perlahan. Ku temukan sehelai mika berukuran 5 kali 3 sentimeter di atas buku usang yang entah apa judulnya. Ini adalah kartu nama Donghae.

“Ku tunggu sampai besok di kantor cabangku. Jam setengah dua siang” saat itu dia menyerahkan kartu nama ini padaku kemudian pergi tanpa permisi.

Ku jejalkan benda sialan itu ke dalam laci dengan kasar setelah beberapa detik memandanginya. Kenapa aku harus bertemu dengan orang sesial dia sih? Dengan frustasi, aku menjambaki rambutku sendiri.

~Tuk… Tuk… Tuk~

“Apa kau sibuk?” sebuah suara yang sangat aku kenal menggema di apartemen kecilku.

            Aku menoleh dan mendapati sosoknya yang tegap tengah bersandar pada bingkai pintu yang tak tertutup. Aku cukup terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Sejak kapan dia di situ? Apa dari tadi dia mengamatiku?

“Max, sejak kapan kau di situ?” aku langsung bangkit dan menghampirinya.

“Emmmm…” dia memandang jam tangannya.

“Sejak 300 detik yang lalu” katanya santai seraya memelukku yang tengah berada di hadapannya.

“Kau tidak ke kantor?” tanyaku pelan tanpa mengurangi ulasan senyum yang aku tawarkan.

            Shim Changmin atau yang biasa aku panggil dengan sebutan Max adalah seorang executive muda di salah satu perusahaan manufaktur kenamaan di pusat kota Paris. Dari awal aku memasuki Negara ini, dia lah yang selalu membantuku. Dia membantuku memalsukan identitas sebagai warga Negara Prancis. Aku sudah berkali-kali mengajukan pergantian kewarganegaraan ke kedutaan Perancis, tapi sangat sulit untuk memperoleh kewarganegaraan. Dan ya… akhirnya aku memilih jalan pintas. Aku tidak bisa bekerja di bidang formal karena takut sewaktu-waktu harus berurusan dengan petugas imigrasi. Ini semata-mata aku lakukan karena aku harus menemukan kakak laki-lakiku yang kabarnya menetap di Paris.

“Ini bagian dari pekerjaanku, Hyosun-ah”

“Masa? Aku baru tahu kalau mengunjungi seorang editor freelance adalah bagian dari sebuah pekerjaan pegawai kantoran” aku bertanya dengan merefleksikan rasa tidak percayaku yang ku buat-buat.

            Seperti biasa, dia menyapukan bibirnya di atas bibir tipisku selesai berpelukan. Aku membalasnya sejenak. Tidak seperti biasanya dengan sebuah ciuman yang dalam. Baru sekian detik aku langsung melepasnya. Bahkan lidahnya pun belum sempat tenggelam di dalam mulutku. Terlalu banyak yang ku pikirkan. Terutama tentang tawaran Lee Donghae.

“Kenapa?” dahinya berkerut tak sanggup menyembunyikan rasa herannya.

“Tidak apa-apa” aku buru-buru melepaskan badanku darinya.

“Kau mau kopi?” aku berjalan menuju pantry yang ukurannya kecil, disesuaikan dengan luas apartemen ini sendiri.

            Aku meraih gagang teko bulat yang berisi cairan hitam pekat. Dia memberikan isyarat dengan tangan kanannya. “Tidak. Aku sudah minum kopi. Aku tidak lama. Aku hanya…”

Dia berjalan mendekat ke arahku, ”Aku hanya ingin memberikanmu ini.”

            Aku melihat benda berwarna silver mendekati warna putih yang ada di tangannya. Rantai-rantai kecil tersusun apik dan mengait satu sama lain. Di bagian tengahnya dihubungkan lempengan paling mencolok karena ukurannya yang lima kali lipat lebih besar dari rantai-rantai kecil itu. Lempengan itu adalah dua huruf yang disatukan. “MH”. Max-Hyosun.

“Max, ini…”

“Ini besi putih. Aku sendiri yang membuatnya. Sini aku pakaikan”

Dia meraih kalung itu kemudian memutar tubuhku hingga membelakanginya. Aku mengangkat rambutku ke atas agar dia tidak merasa kesulitan saat melingkarkannya di leherku dengan sempurna. Di hadapanku berdiri terdapat sebuah kaca yang cukup lebar untuk memantulkan bayangan kami berdua.

“Benarkah kau yang membuat ini?” tanyaku sambil mengelus logam itu. Walaupun itu hanya besi putih, tapi aku menyukainya. Ini indah sekali.

“Iya. Apa kau menyukainya?”

“Sangat!” jawabku mantap.

“Aku akan menggantinya dengan emas putih sungguhan saat kita menikah nanti. Bagaimana?”

“Max…” keluhku.

“Oke, oke… Aku mengerti kau belum siap untuk ke jenjang berikutnya. Begitu pula denganku. Hmmm… Aku harus berangkat ke kantor sekarang. Sampai nanti, chaggi” dia mengecup pipiku pelan kemudian beringsut meninggalkanku.

“Max…” panggilku saat dia berjalan di ambang pintu dia berhenti dan menoleh.

“Ada apa?”

“Aku mencintaimu…”

            Dia tertawa kecil melihatku yang tengah mematung di hadapannya. Dia mendekat setelah beberapa detik berlalu dan secara regular memberikan kecupan-kecupan tipis di bibirku. Kali ini aku membalasnya lebih dalam hingga beberapa menit seperti ritual yang biasa kami lakukan saat bertemu, walaupun hanya sebatas ciuman.

“Aku juga mencintaimu walaupun pagi ini kau terlihat sedikit aneh”

“Itu karena pekerjaanku yang menumpuk” aku berbohong. Alasan yang sebenarnya adalah pertemuanku dengan Donghae bukan karena pekerjaan yang sudah biasa menumpuk.

“Aku mengerti…” dia mengelus pipiku dengan jemarinya yang lembut.

“Aku berangkat ya…”

“Oke, hati-hati di jalan”

“Baiklah…” dia mengecup dahiku kemudian berlalu.

***

            Bodoh sekali aku? Apa ini ide bagus? Aku benar-benar di ruangannya. Kepalang tanggung, aku tidak bisa mundur dan kembali ke apartemen. Mau ditaruh dimana mukaku ini? Bahkan menggerakkan kakiku kebelakang satu langkah pun akan terlihat sangat konyol.

“Sudah ku duga kau akan datang. Duduklah” katanya dengan tetap berfokus pada tumpukan laporan dan file-file yang harus ditandatanganinya.

“Mau minum?” tawarnya.

“Tidak perlu” jawabku datar sementara dia masih sibuk dengan pekerjaannya.

“Aku harap kau tidak keberatan. Aku harus menyelesaikan ini semua hari ini juga” dia menatapku sejenak sambil memberi isyarat pada file-file yang teronggok di dapannya.

“Kalau sekarang bukan waktu yang tepat, aku bisa datang lain….”

“Tidak-tidak. Aku hanya mohon kesabaranmu sejenak. Ini tidak akan lama”

“Oh, oke”

            Aku duduk di hadapannya, dengan sabar menunggui hingga selesai. Tatapanku menyapu ruangan yang bisa dibilang cukup luas ini. Hingga akhirnya terpusat pada bingkai foto besar yang melatar belakangi dirinya sekarang. Aku memandangi wajah di foto itu satu per satu tanpa bersuara. Dari foto itu, yang ku tangkap adalah perbedaan generasi yang dikemas dalam sebuah bingkai keluarga. Nampak, anak kecil yang berusia kurang lebih lima tahun dipangku oleh seorang wanita yang memiliki banyak kerutan di wajahnya. Di sampingnya duduk pria. Dia memakai jas hitam, dengan rambut yang cukup menandakan bahwa usianya sudah di atas kepala enam. Intensitas ketiga tokoh yang menjadi center of view foto itu dilengkapi dengan adanya sepasang suami istri yang berdiri di belakang. Apa anak kecil itu Lee Donghae?

            Aku menatap Lee Donghae sejenak dan memperhatikan lekuk rahangnya. Kemudian ke bagian hidung dan bibir. Ku lempar pandanganku pada foto. Hmmm, sepertinya itu memang dia.

“Kalau ada hal yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja” ujar Donghae tanpa menoleh padaku.

Tampak tangannya tengah menarikan pena di atas materai yang baru saja dilekatkan dengan lem. Sepertinya mata Donghae tidak hanya di bawah dahi, tapi juga ada di ubun-ubunnya. Dia tahu kalau aku sedang mengamatinya.

“Apa itu kau?” tanyaku akhirnya.

            Dia tidak langsung menjawab, melainkan menutup filenya satu per satu. Aku memperhatikannya dengan saksama, menunggu dia menjawab pertanyaanku yang terlanjur ku lontarkan. Dia memandangku sejenak, kemudian memundurkan kursi dan berjalan hingga berdiri di sampingku sambil menatap bingkai foto itu. untuk beberapa detik, aku harus menunggunya hingga dia mau membuka suara. Seperti biasa, dia menyelipkan jemarinya ke dalam saku celana.

“Itu memang aku. Itu nenek dan kakekku. Serta yang di bagian belakang adalah kedua orangku. Foto ini diambil saat aku masuk TK pada hari pertama” katanya sambil memberi petunjuk dengan salah satu jarinya.

            Setelah itu dia diam sambil memandangi foto itu penuh arti. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sekarang, karena aku bukan paranormal. Mungkin kenangan-kenangan masa lalu tengah terbesit di pikirannya? Entahlah.

“Apa kau berubah pikiran?” akhirnya dia mengeluarkan suara walaupun tatapannya tetap lurus ke depan.

“Kenapa kau memilihku?” tanyaku lagi bersikukuh. Jujur saja aku tidak puas dengan apa yang dikatakannya tempo hari.

“Meminimalisir resiko” jawabnya singkat.

“Aku butuh detail” kataku tidak mau kalah.

“Hanya itu yang bisa ku katakan”

“Itu bukan jawaban. Bisakah kau lebih spesifik, Donghae-shi?”

            Dia menghela nafas, kemudian berjalan menuju kursinya. Dia memegang gagang telephone dan menekan speed dial.

“Bisakah kau kemari?” tanyanya dengan menggunakan bahasa Perancis yang cukup fasih. Setelah mendapat jawaban dari orang yang di seberang telephone, dia memutus sambungan.

            Dia tidak menjawab pertanyaanku. Lalu? Siapa yang dia hubungi barusan? Apakah security yang siap mendepakku dari ruangannya?

“Kau memanggilku, boss?” seorang wanita bermata biru dan rambut yang bisa dibilang pirang mendekati kami berdua.

“Ini seluruh file dan kontrak-kontrak yang sudah selesai ku koreksi dan ku tandatangani. Tolong kau cek ulang, kalau ada kesalahan langsung temui aku” Donghae menyerahkan file-file yang tersusun rapi dalam map itu padanya.

“Oke”

            Setelah transaksi itu, Donghae menatapku dibarengi dengan keluarnya wanita yang ku simpulkan sebagai sekretarisnya. Ternyata dia tidak memanggil security untuk mengusirku.

“Mau spesifik di bagian mana?” tanyanya sambil menatapku dengan intens. Jujur saja hal itu sedikit membuatku gugup, tapi aku berhasil mengontrolnya.

“Tentang semua ide gilamu untuk menikah denganku”

“Semata-mata aku hanya ingin memintamu melahirkan anak untukku”

“Oke, tentang anak? Lalu kenapa kau ingin mempunyai anak? Terlebih lagi denganku yang notabene baru kau kenal tidak lebih dari empat hari?”

            Lagi-lagi dia menghela nafas dengan cukup panjang.

“Aku ingin melindungi perusahaan yang dirintis oleh kakekku”

“Maksudmu?”

“Perusahaan ini didirikan oleh kakekku. Setelah kakekku meninggal, seluruh saham keluarga baru bisa dimiliki oleh ayahku saat beliau sudah menikah dan memiliki minimal satu orang anak. Itu adalah isi surat warisan yang ditandatangani oleh kakekku di hadapan notaris. Dan sebelum ayahku meninggal, surat warisan itu belum dirubah sama sekali hingga aku harus mengikuti tutorialnya. Bedanya, waktu itu ayahku sudah menikah dan mempunyai anak, yaitu aku. Sementara aku, aku baru menyelesaikan program masterku dan belum berfikir untuk menikah apalagi punya anak. Yang aku butuhkan adalah seorang anak dan istri agar seluruh saham keluargaku tidak dilelang bebas di rapat umum pemegang saham” paparnya sambil menatapku lurus seolah-olah mau mengira-ngira apakah aku benar-benar percaya atau tidak.

“Kau materialistis, Donghae-shi”

“Jangan naif dengan menyimpulkannya seperti itu. Coba kau di posisiku? Apa yang bisa kau lakukan dengan perusahaan keluargamu jika situasinya seperti ini? Mau tidak mau kau harus mengesampingkan egomu. Perusahan yang dibangun oleh keluargamu dengan jatuh bangun apa akan kau sia-siakan begitu saja, nona Sung Hyosun?”

“Lalu kenapa kau memilihku? Bagaimana kau bisa sekonyong-konyong memintaku menikah denganmu dan memberimu seorang anak padahal kita belum lama berkenalan?”

“Mungkin kita baru beberapa hari yang lalu bertemu, tapi sudah satu bulan penuh aku mengetahui identitasmu”

            Aku terperanjat dengan pernyataannya barusan. Dia mengenalku? Apa tidak salah? Dia membuka lacinya saat melihat ekspresiku yang sangat shock.

“Aku punya datamu” dia menyerahkan sebuah map berwarna kuning padaku.

            Di dalamnya berisi berkas-berkasku yang telah dicopy dari panti asuhan ‘Song Seoul’. Bagaimana bisa dia tahu tentang aku sampai sedetail ini?

“Aku membutuhkan alibi. Aku butuh seorang wanita berkewarganegaraan Korea yang tinggal di Paris. Dengan begitu, aku bisa berpura-pura pada ibu dan nenekku kalau aku sudah punya pacar selama di Paris.”

“Bagaimana kau bisa mendapatkan semua ini?” tanyaku dengan nada yang masih sulit percaya.

“Aku punya orang-orang yang bisa melacak keberadaanmu. Sebenarnya aku tidak secara sengaja menemukanmu. Kebetulan kau adalah orang yang bermasalah dan kemungkinan besar aku bisa membantumu, makanya aku langsung mengusut kebaradaanmu”

“Aku tidak percaya kau memanfaatkan situasiku…” aku menggeleng lemah sembari memandangnya dengan tatapan hina.

“Kalau ini bisa dikatakan sebuah simbiosis, maka kau bisa menyebutnya mutualisme karena kedua belah pihak sama-sama diuntungkan” dia mengancingkan jas kemudian menyesap kopi yang sudah tak lagi mengepul asapnya.

“Tapi di sisi lain kau mengancamku dengan melaporkanku pada petugas imigrasi. Apakah itu bisa kau sebut dengan simbiosis mutualisme, Donghae-shi?” tatapanku tajam, tapi dia terlihat tidak menghiraukan dan malah menyeringai puas.

“Terkadang hal seperti itu memang diperlukan, nona Sung Hyosun. Tapi percayalah, aku akan menemukan kakak laki-lakimu sebagai gantinya. Kalau perlu sampai ke ujung dunia. Kau juga berhak meminta materi padaku jika kau mau. Apapun yang kau mau asalkan aku sanggup akan aku turuti. Hanya aku satu-satunya harapan di keluargaku”

“Apa kau juga bisa membantuku memperoleh kewarganegaraan Perancis?” aku menantangnya karena dia tidak punya wewenang apa-apa dengan Negara ini.

“Kewarganegaraan? Untuk apa? Bukankah tujuanmu di sini adalah untuk mencari kakakmu?”

“Aku ingin menetap di sini. Setahun lebih aku mengajukan kewarganegaraan tapi selalu dipersulit oleh kedutaan. Aku tidak punya surat keluarga yang jelas. Mereka tidak menerima surat keluarga yang aku ajukan dari SONG SEOUL”

“Satu tahun? Kenapa kau tidak menikah dengan orang Perancis saja? Itu akan mempermudahmu memperoleh kewarganegaraan” tanyanya heran tapi sarat dengan senyum yang cukup mengejek.

“Aku tidak mau anak-anakku berambut pirang dan bermata biru. Aku tidak suka percampuran ras. Aku ingin anak-anakku tetap berwajah Asia”

“Hanya itu?”

“Tidak. Aku juga ingin tahu kenapa kau tidak menikah dengan wanita yang kau cintai? Kenapa kau bersikeras memilihku?”

Dia mendengus kesal dengan pertanyaanku barusan.

“Aku bisa membantumu dalam mengatasi masalah kewarganegaraan. Tapi untuk urusan ini wanita mana yang aku cintai, kau tidak berhak menanyakannya, Hyosun-ah”

“Kenapa? Yang aku butuhkan sekarang ini adalah detailnya, Donghae-shi. Aku membutuhkan alasanmu”

            Untuk beberapa menit kami hanya berdiam diri. Aku tidak membuka suara, begitu pula dengan Lee Donghae. Memangnya ada apa? Apa itu sangat pribadi?

“Dengar ya, Donghae-shi. Kau pikir menikah itu main-main? ”

“Aku juga tidak menganggapnya begitu. Setelah anak itu lahir, kita bisa mengajukan pembatalan pernikahan dengan alasan keterpaksaan atau apalah. Uskup akan mengurusnya karena pernikahan itu dianggap tidak sah”

“Tapi aku katolik! Pernikahan dianggap ‘tak-terceraikan’, Donghae-shi”

“Aku juga katolik. Pernikahan itu baru tak-terceraikan jika pernikahan itu ratum (sah) dan disempurnakan dengan persetubuhan. Buka Kitab Hukum Kanonik (KHK). 1141 kau akan menemukan jawabannya di sana. Sementara kita? Kita tidak akan bersetubuh dan dilandasi keterpaksaan dari masing-masing pihak kan? Pengadilan gereja akan mengabulkan perceraian kita” paparnya dengan wajah yang cukup terlihat frustasi.

“Berbeda dengan pernikahan yang sah dan telah disempurnakan dengan persetubuhan atau biasa disebut ‘ratum et consummatum’ yang jika terjadi perceraian, di mata gereja tetap dianggap sebagai sebuah perkawinan walaupun dengan status cerai” dia melanjutkan dengan nada yang kian melemah. Terlihat sekali dia sangat religious dari caranya menyampaikan penjelasan tentang perkawinan dalam agama katolik.

“Kenapa kita tidak berpura-pura telah menikah di Paris saja? Kita bisa…”

“Kau pikir aku akan merendahkanmu sejauh itu?” potongnya cepat, sejurus dengan itu dia mendengus dan melengos menghindari tatapanku.

“Dulu aku berfikir seperti itu. Tapi walau bagaimanapun, pada akhirnya ibu dari anakku adalah kau. Dengar ya… Aku menikahimu untuk melindungi nama baikmu sebagai ibu dari anakku kelak. Aku tidak mau anakku menjadi anak haram dari penikahan yang pura-pura walaupun kita tidak melakukan hubungan badan secara langsung. Aku akan tetap menuliskan nama kita ‘berdua’ sebagai orangtua kandung di akta kelahirannya”

            Mendengar penjelasannya itu aku hanya bisa membisu. Tak percaya kalau dia akan berfikir sejauh ini. Bahkan hal ini pun tidak sempat terlintas di otakku. Dia melindungi namaku juga? Aku pikir dia adalah orang yang tamak, egois dan ambisius. Tapi dari sudut pandang ini, aku bisa melihat bahwa dia adalah orang yang baik walaupun pembawaannya serius dan terkesan semena-mena dengan nada yang tidak jarang sangat mengancam. Lee Donghae, siapa kau sebenarnya?

“Bisakah kau menjelaskan padaku kenapa kau tidak menikah dengan wanita itu, Donghae-shi? Bukankah itu jauh lebih baik. Kau tidak perlu bercerai, kan?”

“Kenapa kau bertanya itu lagi?” dia membalik badan dan menatapku dengan geram.

“Karena aku tidak bisa menerima alasan yang setengah-setengah”

“Aku tidak akan menjawabnya!”

“Dan aku juga tidak akan sudi menerima tawaranmu” aku bangkit dan berjalan menuju pintu.

“Jika kau keluar dari ruangan ini, nona Sung Hyosun…” aku berhenti tanpa menoleh kemudian dia melanjutkan.

“Kau akan menyesal” tandasnya.

“Aku baru akan peduli sampai kau menceritakan semuanya” aku menoleh ke samping sejenak, tapi bukan menengok ke belakang untuk melihatnya dan setelah selesai, aku keluar dari ruangannya tanpa mengatakan apa-apa lagi.

“Terserah kau!”

-TBC-

Hallo! Hallo! Hallo!

Makasih banget ya buat yang RCL di [prolog] FF ini…

Aku gak nyangka banget komennya bakal di atas seratus.

Waktu itu aku lagi iseng ngetik di hape n nyoba ngeluarin ide yang emang udah beberapa bulan ini mau aku tuangin ke dalam bentuk tulisan. Aku pikir gak bakalan seantusias ini respons kalian…

Sekali lagi makasih ya…

Advertisements

297 responses to “Let’s Make a Baby [Chapter-1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s