THE REAL SWAN [I’M NOT CINDERELLA SIDE STORY]

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Lee Ji-Eun

Son Dongwoon

Kim Soohyun

Support cast : Super Junior

Genre : Romance

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan aku, hanya imajinasi aku sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

Poster and Thank’s To : Rara a.k.a cutepixie

“Sorry, maybe I’m not perfect for you. But, I’m still the best to beside you.” Ocha Syamsuri

****

THE REAL SWAN

****

JI-EUN POV

Aku meremas tanganku yang sedari tadi terus-terusan mengeluarkan keringatnya. Tch, sial. Aku gugup sekali. Padahal ini bukanlah perlombaan pertama untukku, tapi tetap saja aku tidak bisa menetralisasikan rasa gugupku yang berlebihan. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menikmati setiap inchi (?) udara yang kuhirup lalu aku menghembuskannya kembali. Ck, kenapa masih saja tidak terpengaruh?

Aku mengikat tali sepatu-ku dan memeriksa seteliti mungkin disetiap bagiannya. Aku berdiri dan menarikan beberapa gerakan untuk memastikan sepatu yang kupakai saat ini aman dan tidak membawa efek yang fatal untuk perlombaan yang akan kuikuti satu jam nanti.

Aku mengintip para peserta yang sedang menunjukkan tarian mereka di depan juri dari balik layar panggung ini. Kuakui gerakan mereka bagus-bagus semua, kesalahan yang mereka buat juga sangat minim sekali. Hufh, aku jadi sedikit gugup.

Sebenarnya aku tidak pernah segugup ini. Aku ballerina yang sudah sangat terkenal di dunia. Bahkan aku sudah menyabet beberapa penghargaan di berbagai perlombaan di saat usiaku masih sangat muda. Aku juga sering di sebut sebagai “The real swan” , “Kim Yuna’s junior”, dan sebutan lainnya. Saat usiaku menginjak 16 tahun, aku sudah di percaya untuk memainkan “White swan” untuk berbagai pertunjukan di Amerika.

Perlombaan ini adalah perlombaan kecil untuk pebalet kelas satu sepertiku, tapi tetap saja hatiku gugup sekali. Apa kegugupanku ini menyangkut soal itu? Tapi tidak mungkin sekali. Seorang Lee Ji-Eun tidak akan mudah jatuh karena hal sepele seperti itu. Oww, come on Lee Ji-Eun, jangan biarkan hal-hal sepele seperti itu akan menjatuhkanmu.

***

All those crazy things we did

Didn’t think about it, just went with it

You’re always there, you’re everywhere

But right now I wish you were here

….

I love you the way you are

Its who I am, don’t have to try hard

Avril Lavigne – wish you were here

Aku memalingkan wajahku dan sebisa mungkin tidak bertatapan dengan wajahnya langsung. Aku bertaruh aku pasti akan menumpahkan sebaskom airmata jika aku menatap matanya, ditambah lagi ia memandangku sendu seperti itu.

“Apa wajahku memuakkan bagimu sehingga kau tidak sudi bertatapan langsung denganku, Ji-Eun~ah?”

Suara lembut itu lagi. Kenapa ia masih bersikap begitu lembut kepadaku sementara ia tetap tidak mengerti maksudku?

“Lebih baik kau menamparku dan memaki diriku ketimbang kau asyik dengan kebungkamanmu Ji-Eun~ah. Aku tidak akan mengerti apa yang ada didalam hatimu jika kau tidak mengutarakan kepadaku.”

Apa yang ada didalam hatiku? Aku tidak tahu Dongwoon-ah. Aku hanya tidak tahu apa yang harusnya aku katakan.

“Mari kita berpisah. Aku rasa, aku tidak bisa terus bersamamu.” Ck, Lee Ji-Eun babo!! Kenapa itu yang malah keluar dari mulutmu?

“Berikan aku alasan yang logis, kenapa aku harus menyetujui untuk berpisah denganmu.”

Aku memejamkan mataku, mencoba untuk mencerna sekiranya apa yang akan kukatakan.

“Karena kita sudah tidak cocok lagi Dongwoon-ssi. Aku harap kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku. Dan kau tidak akan tersiksa lagi dengan sikap manja dan semaunya sendiri sepertiku.”

Aku mengepalkan tanganku lalu meninggalkannya.

Aku tahu aku ini yeoja bodoh yang teganya mencampakkan seorang Son Dongwoon. Tapi aku tidak punya pilihan lagi. Semua berita yang menyangkut dirinya terlalu menyakitkan hatiku. Aku bukan seorang yeoja yang mempunyai hati baja yang bisa berpura-pura untuk tidak mengetahui apa-apa.

Sayangnya aku bukan seorang malaikat yang mempunyai rasa sabar yang tiada batas.

“Ji-Eun~ah, apa kau ingin melihatku hidup seperti mayat?”

“Kau berlebihan Dongwoon-ssi. Kumohon jangan halangi jalanku.”

Ia tidak bergeming dan malah melentangkan kedua tangannya untuk menghalangiku untuk melangkah.

“Kau itu sumber cahaya-ku Ji-Eun~ah. Tidak ada gunanya seorang Son Dongwoon hidup dunia ini kalau kau tidak mengitari hidupku lagi. Aku butuh kau untuk menerangi hidupku.”

Aku terperangah mendengarnya. Bagaimana bisa ia mengucapkan kata-kata seperti itu? Apa ia tidak tahu jika kata-katanya itu meruntuhkan benteng yang sekuat tenaga kubangun? Dan dalam sekejap ia menghancurkannya begitu saja.

Airmata yang dari tadi kutahan kini tidak dapat kubendung lagi. Semuanya turun seolah-olah ada beribu-ribu galon airmata yang tersedia di mataku.

Ia menarikku kedalam pelukannya. “Jangan pernah mengucapkan kata-kata menakutkan itu lagi Ji-Eun~ah. Terlebih lagi jika aku tidak mengetahui apa letak kesalahanku.”

Aku menangis sesengukan dipelukannya. “Kau dan semua pemberitaan tentangmu Wonnie~ah. Aku tidak cukup kuat untuk bersikap baik-baik saja. Sekuat apapun aku untuk bertahan, akhirnya aku pasti akan berada di titik terendah di batas kesabaranku.”

Ia mengeratkan pelukannya dan membelai kepalaku. “Apa aku harus berhenti menjadi seorang artis agar kau bisa hidup tenang disampingku?”

Lagi-lagi aku terpengarah mendengar perkataannya. Sebenarnya seberapa besar cintanya kepadaku? Kenapa ia begitu gamblang menunjukkan semuanya?

***

Goobye makes a love so sweet

And love is love so it can teach us

We already are what we are

And what we are is beautifull

And strong enough

And good enough

A bright enough

Jewel – what you are

“Son Dongwoon, member dari grup idola terkenal Beast tertangkap kamera sedang menghabiskan malam bersama dengan salah satu member grup idola T.ara Park Ji-Yeon. Menurut salah seorang fans yang tidak sengaja melihatnya, keduanya tampak akrab dan tidak sungkan-sungkan menunjukkan keakrabannya. Sebenarnya apa hubungan mereka? Apa benar berita yang selama ini beredar jika mereka berdua sudah berpacaran? Apa tanggapan dari management mereka?”

Tanganku bergetar. Remote tivi yang kupegang sudah hancur berantakan karena terjatuh dari tanganku. Aku terduduk dilantai. Berita yang kulihat itu tidak benar kan? Itu pasti bukan Son Dongwoon yang kukenal. Di korea ini nama Son Dongwoon tidak hanya satu orang kan?

Ani, itu pasti bukan Son Dongwoon. Itu pasti bukan dia.

“Beberapa saat yang lalu pihak management dari Beast sudah angkat bicara. Mereka bilang jika pria yang dimaksud benar adalah Son Dongwoon. Namun hubungannya dengan Park Ji-Yeon hanya sebatas teman. Apa..”

Aku menutup telingaku rapat-rapat dan menggigit bibirku. Ani, aku tidak boleh menangis. Seorang Lee Ji-Eun tidak boleh lemah. Seberapa seringnya Dongwoon menyakitiku, aku tetap tidak boleh menangis.

***

“Apa barang-mu sudah siap semua Ji-Eun~ah?” Tanyanya.

Aku hanya menjawabnya dengan dengungan saja dan berpura-pura menyibukkan diri. Aku juga mengacuhkannya yang sedari tadi mengajakku berbicara. Bukannya aku tidak sopan karena mengacuhkan orang yang sedang mengajakku berbicara, aku hanya tidak siap untuk mengatur hatiku dan emosiku.

Park Ji-Yeon, Son Dongwoon.

Kedua nama itu selalu terngiang-ngiang ditelingaku. Dan itu membuatku tampak cengeng jika mengingatnya.

Mungkin merasa kesal karena aku acuhkan, ia menarik daguku secara paksa agar menatap matanya.

“Kali ini apalagi salahku Ji-Eun~ah? Kenapa kau bersikap begini lagi? Dan kenapa kau tidak mau menatapku lagi?”

Aku mendesis, lalu memutar bola mataku malas dan menatap matanya. “Aku tidak apa-apa Son Dongwoon. Berhentilah bersikap begini. Beberapa hari lagi aku ada perlombaan. Aku tidak ingin mood-ku kacau.”

“Beberapa hari lagi juga aku ada konser Ji-Eun~ah. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku?”

“So? Apa itu salahku? Salahku begitu?” aku menepis tangannya.

“Ya~ Lee Ji-Eun! Kumohon jangan bersikap seperti anak kecil seperti ini. Kapan kau bisa bersikap dewasa?” Bentaknya.

Aku sedikit kaget mendengarnya bentakannya. Baru kali ini ia membentakku.

“Mian Ji-Eun~ah. Aku tak bermaksud membentakmu.”

“Anak kecil katamu? Kalau begitu kenapa kau masih bertahan berpacaran denganku? Aku tidak bisa bersikap dewasa seperti Park Ji-Yeon, Dongwoon-ssi. Kalau kau masih mau berpacaran denganku, kau harus bertahan dengan sikapku yang kekanak-kanakan.”

“Kali ini kau marah karena pemberitaan itu.” Ia terkekeh. “Kau cemburu dengan Yeonnie~ah?”

“Tch, kau bahkan sudah saling memanggil panggilan sayang dengannya. Yeonnie~ah? Tch..”

“Ji-Eun~ah, kau masih saja percaya dengan berita itu? Kemana larinya seorang Lee Ji-Eun ‘The Real Swan’ yang diramalkan menjadi penerus Kim Yuna selanjutnya jika karena berita murahan seperti ini saja kau sudah cemburu besar.”

Zzz, namja ini. Apa ia tidak tahu apa yang kurasakan sekarang? Bahkan sejak berita itu beredar luas, ia sama sekali tidak menghubungiku dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan apakah aku salah jika aku bersikap seperti ini kepadanya? Hei, dia bahkan masih berstatus pacarku. Apa karena ia mengganggapku berhati kuat makanya ia tidak perlu repot-repot untuk menjelaskannya? Aku juga wanita Son Dongwoon. Apa kau tidak memikirkan berapa jam yang kuhabiskan untuk menangisimu karena berita yang kau anggap ‘murahan’ itu?

“Kurasa benar apa yang dikatakan orang-orang. Kita tidak cocok Son Dongwoon. Kau dan aku terlalu banyak perbedaan. Perbedaan yang kurasakan saat ini sudah terlampau besar. Aku takut tidak bisa lagi menyamakan perbedaan itu. Anggap saja aku terlalu pengecut. Tapi itulah aku. Lee Ji-Eun ‘The Real Swan’ yang pengecut.”

Aku menarik pegangan koperku lalu menyeretnya. Aku tidak peduli dengan teriakannya yang memanggil namaku.

Sekuat apapun aku menempa hatiku, aku tetaplah seorang yeoja biasa yang perlu perlindungan.

***

I’m outside and I’ve been waiting for the sun

With my wide eyes I’ve seen worlds that don’t belong

My mouth is dry with words I can’t verbalize

Tell me why we live like this

Keep me safe inde, your arms like towers

Tower over me

Yeah, cause we are broken

What must we do to restore

Our innocence, and oh the the promise we adored

Give us life again

Caure we just wanna be whole

Paramore – We are broken

Aku mengusap airmataku. Lagi-lagi aku menjadi orang cengeng karena mengingat itu semua. Aku merapikan pakaianku dan melatih nafasku. Jika sesuai dengan perkiraanku, sebentar lagi namaku akan dipanggil.

“Valeska Lee from South Korean.”

Gotcha. Sesuai perkiraanku. Namaku dipanggil.

Nama western-ku adalah Valeska Lee, berasal dari latin yang berarti ‘penguasa’. Aku sangat menyukai nama itu. Nama adalah doa, right? Kuharap aku benar-benar menjadi seorang penguasa seperti arti dari namaku.

“Are you ready miss Lee?” Tanya seorang staff yang memakai microfon ditelinganya. Aku menganggukkan kepalaku lalu menoleh ke pelatihku.

“Just relax Valeska. And don’t be nervous. Do it like usual, the real swan.” Pelatihku memelukku untuk beberapa detik. Ia pasti tahu jika perasaanku sedang tidak enak.

Aku tersenyum lalu berjalan mengikuti staf itu menuju arena perlombaan.

Oke, just relax Valeska, the real swan.

It came to me tonight

So everyone will have a choice

And under red lights

I’ll show my self it wasn’t forged

Paramore – we are broken

Aku menundukkan badanku seanggun mungkin dihadapan para juri. Para juri berbisik-bisik saat melihatku. Aku tahu mereka pasti terkejut melihatku mengikuti perlombaan ini.

Musik pun menggema di seluruh ruangan. Aku mengetuk kakiku menghitungnya sebelum aku mulai menggerakkan kakiku. Bagian awal dari lagu pun berbunyi, aku memutarkan kepalaku mengikuti irama lagu. Lalu aku pun menggerakkan badanku mengikuti lagu. Aku harus melakukannya sebaik mungkin. Bagaimana pun juga ini hanyalah perlombaan kecil. Aku harus menjadi pemenangnya. Aku adalah the real swan. Dan aku harus membuktikan aku bisa menjadi the real swan dimana pun aku menari.

We’re at war, we live like this

Keep me safe inside

Your arms like towers

Tower over me

Paramore – we are broken

“Apa aku harus berhenti menjadi seorang artis agar kau bisa hidup tenang disampingku?”

“Mari kita berpisah. Aku rasa, aku tidak bisa terus bersamamu.”

“Kali ini kau marah karena pemberitaan itu.” Ia terkekeh. “Kau cemburu dengan Yeonnie~ah?”

“Tch, kau bahkan sudah saling memanggil panggilan sayang dengannya. Yeonnie~ah? Tch..”

“Ji-Eun~ah, kau masih saja percaya dengan berita itu? Kemana larinya seorang Lee Ji-Eun ‘The Real Swan’ yang diramalkan menjadi penerus Kim Yuna selanjutnya jika karena berita murahan seperti ini saja kau sudah cemburu besar.”

Sial! Kenapa bayangan itu terus berputar-putar di pikiranku? Ayolah Lee Ji-Eun. Kau harus fokus menari. Tunjukkan kalau kau adalah The real swan.

“Kali ini apalagi salahku Ji-Eun~ah? Kenapa kau bersikap begini lagi? Dan kenapa kau tidak mau menatapku lagi?”

“Aku tidak apa-apa Son Dongwoon. Berhentilah bersikap begini. Beberapa hari lagi aku ada perlombaan. Aku tidak ingin mood-ku kacau.”

“Beberapa hari lagi juga aku ada konser Ji-Eun~ah. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku?”

“So? Apa itu salahku? Salahku begitu?”

Sial! Hampir saja aku terjatuh karena aku salah menggerakkan tubuhku. Aishh~ kenapa aku tidak bisa fokus dan bergerak menikmati lagu seperti biasanya?

Cause we are broken

What must we do to restore

Our innocence

And, oh, the promise we adored

Give us life again

Cause we just wanna be whole more

Paramore – we are broken

Tinggal sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi hingga aku bisa menyelesaikan lomba ini. Aku menarik nafasku lalu menjijitkan kakiku dan memutarkan tubuhku. Aku terus memutar-mutarkan tubuhku. Arghh~ kenapa kakiku jadi sakit begini? Kakiku tidak boleh kenapa-kenapa dan terluka dulu. Tinggal beberapa putaran lagi. Tinggal beberapa putaran lagi.

Lee Ji-Eun ‘the real swan’ kau pasti bisa.

***

I know you’re somewhere out there

Somewhere far away

I want you back

I want you back

“LEE JI-EUN ‘THE REAL SWAN’ TIDAK BISA MELANJUTKAN TARIANNYA.”

“THE REAL SWAN, GAGAL DALAM PERLOMBAAN DI VENEZUELA. ADA APA DENGANNYA?”

“THE REAL SWAN, DILARIKAN DI RUMAH SAKIT. KABARNYA KAKINYA TERLUKA PARAH.”

Aku melemparkan remote televisi lalu menjerit sekuat-kuatnya. Arghh~ kenapa aku bisa sebodoh itu? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan badanku seperti biasanya? Dan sekarang aku harus di rawat di rumah sakit karena otot kakiku putus.

Arghh~ babo! Babo!

Aku menarik selang infusku dan berdiri dari ranjangku. Aku terjatuh kelantai karena kakiku tidak cukup kuat untuk menopang berat tubuhku. Aku memegangi kakiku. Kenapa kaki ini tidak berguna lagi? Kenapa aku tidak bisa menari lagi?

“Agasshi, kenapa anda bisa terjatuh?”

“Arghhhh, pergi kalian! Pergi dari sini! Aku benci kalian!” Aku tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang melihatku. Apa peduliku? Apa pedulinya ‘the real swan’ yang sudah cacat?

“Agasshi..”

“Kubilang pergi!!!! Aku bilang pergi..” Aku menundukkan wajahku lalu menangis sekeras mungkin.

Aku kini sudah cacat. Dokter bilang kakiku tidak bisa digunakan untuk beberapa waktu. Bagi seorang ballerina, kaki yang sudah terluka tidak akan bisa digunakan untuk menari lagi. Dan kini apa gunanya lagi aku hidup?

At night when the stars

Light on my room

I sit by myself

“Lebih baik kalian keluar saja.”

“Tapi tuan…”

“Keluar saja. Biar aku yang mengurusinya.”

Aku mendengar suara pintu tertutup perlahan. Aku juga mendengar suara langkah kaki yang mendekatiku. Bau-nya. Aku kenal sekali dengan bau ini. Bau-nya semakin jelas tercium, dan semakin menusuk hidungku takala pemilik bau itu memelukku.

“Jangan menangis lagi. Dan jangan menjadi lemah seperti ini lagi.”

Talking to the moon, trying to get to you

In hopes you’re on the other side talking to me too

Oh, am I a fool who sits alone talking to the moon

Aku melepaskan pelukannya lalu mendongak untuk memastikan jika aku tidak salah mendengar suaranya.

“Son Dongwoon?”

“Hei, kenapa kau menangis? Lihatlah, the real swan tampak bodoh jika wajahnya penuh airmata seperti itu.”

I’m feeling like I’m famous

The talk of the town

They say I’ve gone mad

Yeah, I’ve gone mad

But they don’t know what I know

Cause when the sun goes done

Someone’s talking back

Yeah, they’re talking back

***

DONGWOON POV

Aku baru tiba di Korea saat mendengar kabar tentang kecelakaan yang di alami Ji-Eun saat perlombaan. Aku pun langsung menuju ke rumah sakit ini. Aku tidak memperdulikan lagi teriakan para manager dan member lainnya. Apa gunanya karirku sukses sementara belahan jiwaku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja?

Dan benar saja. Setibanya disini, aku malah mendapatinya dengan keadaan begini.

Aku ingin menangis melihat keadaannya sekarang. Lee Ji-Eun yang biasanya tampak angkuh dan kuat kini berubah begitu rapuh dan tidak berdaya. Aku tahu jika saat ini adalah saat yang terberat baginya. Sedari kecil ia selalu di elu-elukan karena bakat menarinya. Ia selalu bangga dengan semua itu. Tapi sekarang semuanya seolah berbalik menusuknya. Orang-orang yang dulu memujinya kini malah balik mempergunjingkannya karena kecelakaan yang ia terima.

Jika aku mampu. Aku akan mengirim orang-orang yang mempergunjingkan Ji-Eun ke belahan bumi yang paling ujung. Aku tidak ingin Ji-Eun terluka karena gunjingan orang-orang. Ji-Eun yang kuat dan angkuh itu hanyalah kamuflase untuk menutupi Ji-Eun yang rapuh.

Aku mengusap wajahnya lalu menariknya lagi kedalam pelukanku.

“Kakiku. Kakiku Dongwoon~ah. Kakiku tidak bisa digunakan lagi.” Ia mulai menangis lagi. “Aku bukan ‘the real swan’ lagi. Aku hanyalah ‘the worst swan’. Aku swan yang cacat.”

Aku mengusap kepalanya lalu mengecup puncak kepalanya. “Kau selamanya the real swan, Ji-Eun~ah. Setidaknya kau adalah the real swan di hati Son Dongwoon.”

Aku menggendong tubuhnya lalu menaruhnya secara perlahan di atas kasur. Aku menutupi badannya dengan selimut. Aku duduk di kursi disamping tempat tidurnya. Aku memegang erat tangannya lalu menciuminya.

“Tidurlah. Dan jangan pikirkan apapun. Aku akan menjagamu.”

Aku tersenyum saat ia mengangguk dan memejamkan matanya.

Mulai sekarang aku tak peduli lagi dengan apa yang orang katakan. Yang menjadi objek hidupku hanyalah yeoja yang berada didepanku ini. The real swan-ku.

***

At night when the stars light on my room I sit by my self

Talking to the moon, trying to get to you

In hopes you’re on the other side talking to me too

Oh, am I a fool who sits alone

Talking to the moon

Do you ever hear me calling?

“Morning nyonya Son.” Sapaku saat ia baru membuka matanya.

“Sejak kapan namaku berubah menjadi Son Ji-Eun?”

Aku terkekeh mendengar nada sinisnya. Yeoja ini. Kenapa secepat ini ia mengubah mood-nya? Tapi baguslah. Ini masih mending dibanding aku harus melihatnya menangis.

“Hei, aku punya kabar yang baik untukmu. Mau dengar?”

Wajahnya menunjukkan ekspresi penasaran. Aku tersenyum lalu duduk dipinggir tempat tidurnya. “Kata dokter, kakimu bisa sembuh lagi asal kau rajin mengikuti terapi pengobatan.”

“Jinjja? Kau tidak bohong?”

Aku mengusap wajahnya. “Sejak kapan aku membohongi dirimu?”

Kulihat ia menekuk wajahnya lagi. Hei, ada apa dengannya? Kenapa ia berubah kecut begini?

“Percuma saja kakiku sembuh jika aku tidak bisa menari lagi Wonnie~ah. Jika aku sembuh, aku tetaplah swan yang cacat.”

“Siapa bilang kau kuijinkan menari lagi?”

“Maksudmu?”

“Setelah kau sembuh, kau akan menjadi istriku. Kau tidak perlu lagi berusaha keras menjadi The real swan. Kau hanya perlu menjadi ibu dari anak-anakku, Son Ji-Eun.”

“Ya~ kau pede sekali. Siapa bilang aku mau menjadi istrimu? Cih, itu hanya didalam mimpimu Son Dongwoon.”

Aku mencium bibirnya sekilas. “Tapi sayangnya wajahmu tidak mendukung kebohonganmu Ji-Eun sayang.”

“Dasar playboy.” Wajahnya memerah.

“Tapi kau suka kan?”

Aku melumat bibirnya kembali.

***

Cause every night I’m talking to the moon, still trying to get to you

In hopes you’re on the other side talking to me too

Oh, am I a fool who sits alone talking to the moon

I knoe you’re somewhere far away

Bruno Mars – Talking To the moon

JI EUN POV

Ini minggu ke tiga pasca aku mulai mendapatkan terapi. Setiap hari aku terus menerus melakukan terapi tanpa terlewat sedikit pun. Aku ingin cepat sembuh, bagaimanapun caranya.

Dulu aku amat bangga dengan apa yang aku punya. Aku cantik, terkenal, ayahku pemilik rumah sakit terbesar di Korea Selatan, aku juga memiliki banyak bakat. Dengan semua kelebihan itu aku sangat percaya diri sekali untuk dapat pantas berada di samping namja itu. Ya, namja itu lah satu-satunya alasan mengapa aku berusaha keras untuk menjadi seorang Balerina terkenal. Tapi kurasa sekarang tidak ada gunanya lagi. Otot kaki-ku putus. Jika bagi seorang penyanyi tenggorokannya sangat berharga, maka bagi seorang Balerina kaki adalah yang paling berharga. Kaki bagi ballerina ibarat sebuah kaca, apabila terjatuh sekali maka akan sulit untuk digunakan lagi.

Bagaimana mungkin aku menjadi seorang ballerina jika kakiku pernah terluka?

Dan sekarang aku tak lebih dari seorang swan yang cacat.

Sebagai seorang swan yang cacat, apa mungkin aku pantas untuk tetap berada disisinya?

****

Ck, suster ini berisik sekali. Memang kenapa jika aku terlalu bersemangat melakukan terapi? Toh ini untuk kesembuhanku juga kan?

“Agasshi, sebaiknya kita kembali ke kamar. Kau sudah cukup lelah.”

Aku mendelik suster itu tajam. Ya, ini bahkan belum setengah jam. Kenapa suster itu malah menyuruhku menghentikan terapi ini?

Aku lebih memilih melanjutkan kegiatanku dibandingkan mendengar teriakannya yang sangat berisik itu. Entah karena aku terlalu bersemangat atau kakiku yang belum cukup kuat untuk menopang tubuhku, aku beberapa kali sempat terjatuh.

“Agasshi…” Teriak suster itu sambil membantuku untuk berdiri.

“Ya~ hentikan teriakanmu itu. Membuatku malu saja!” Aku menepis tangan suster yang ingin membantuku berdiri. Ck, memalukan saja.

“Tapi agasshi, nanti aku akan dimarahi oleh sajangnim jika melihatmu begini.”

“Ya~ justru teriakanmu lah yang bisa menimbulkan kemarahan appa.”

“Agasshi..”

Aku mendelik suster itu lagi. Sekali lagi ia berisik, maka aku tidak akan segan-segan untuk memecatnya.

****

“Aku dengar kau terlalu memaksakan diri untuk melakukan terapi itu Son Ji-Eun.” Dongwoon menatapku tajam, seolah aku ini seorang narapidana yang sedang di periksa.

“Kau pasti di beritahu oleh suster itu kan? Ck, awas saja. Dia pasti kupecat.”

“Son Ji-Eun, aku tidak mau melihatmu memaksakan dirimu lagi.”

Aku tersentak mendengar penuturannya. Apa aku tidak mempunyai harapan untuk sembuh makanya ia menyuruhku untuk tidak memaksakan diri lagi? Apa semua yang kulakukan ini percuma?

“Kenapa kau menangis?.” Raut wajah Dongwoon berubah panik saat melihatku meneteskan airmata.

“Kenapa kau berkata seperti itu? Apa aku tidak ada harapan untuk sembuh lagi makanya kau mengatakan agar aku tidak perlu memaksakan diri lagi?.”

Aku benar-benar tidak percaya mendengarnya berkata seperti itu. Aku tidak memerdulikan sejuta orang yang berkata negatif mengenaiku, mengenai kegagalanku, tapi tidak dengannya. Hanya kata-katanya lah yang menjadi kekuatanku untuk tetap bertahan sampai saat ini.

“Sampai kapan kau akan terus salah paham denganku? Aku hanya tidak ingin melihatmu terlalu memaksakan diri Lee Ji-Eun. Aku hanya tidak ingin melihatmu terluka lagi.”

Aku terdiam. Apa aku bersikap seperti anak kecil lagi?

“Aku hanya ingin cepat sembuh dan bisa menari lagi. Hanya dengan balet aku bisa sedikit merasa pantas untuk berada disampingmu.”

“Kurasa aku sudah mengatakannya Lee Ji-Eun. Kau tidak kuijinkan untuk menari lagi. Jika menari, membuatmu seperti ini, aku tidak akan pernah mengijinkanmu.”

“Kau egois Son Dongwoon.”

****

DONGWOON POV

Egois? Aku hanya tidak ingin dia memaksakan sesuatu yang akhirnya bisa membuatnya lebih terluka lagi. Apa itu bisa disebut egois?

Gadis ini. Aku hanya tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku hanya tidak sanggup melihatnya terluka lagi, dan melihat airmatanya menetes. Aku hanya ingin ia hidup bahagia disampingku.

Apa itu disebut egois?

“Istirahat-lah. Mungkin karena kau kelelahan, makanya emosimu mudah sekali tersulut.”

“Aku tidak lelah. Mungkin kau kali yang lelah meladeni orang sepertiku.” Ia mencibirkan bibirnya.

Ck, lagi-lagi sifat anak kecilnya keluar. Tapi entah kenapa melihatnya cemberut seperti ini, ia jadi lebih menggemaskan.

“Dasar bocah.” Aku segera menutup mulutku saat menyadari keceplosanku. Aigoo, ia pasti akan marah besar. Tunggu saja reaksinya.

1..

2..

3..

“YA~ SON DONGWOON! KAU BILANG AKU BOCAH HAH?”

Tuh benar kan?

“Aishh, kau ini. Jangan teriak-teriak. Ini rumah sakit, bebek.”

“MWO? BEBEK?.”

Aigoo~ Son Dongwoon. Kau pasti akan habis ditangannya.

“Memang kan? Bukannya panggilan-mu itu The Real Swan? Swan itu bebek kan?.”

“Sejak kapan Swan berubah jadi bebek? Itu Angsa bodoh.”

“Ahh, sama saja. Angsa kan mirip sama bebek.”

“Aishh, kau ini.” Ia menghela nafasnya berat. “Pergilah. Bukannya kau ada recording sebentar lagi?.”

“Kau mengusirku?.”

“Ya.” Jawabnya langsung, lalu membalikkan badannya.

Aku mengulum bibirku, menahan senyumku. Ia memang seperti ini, kadang bersikap seperti anak kecil, kadang bersikap menyebalkan. Tapi sejelek apapun sifatnya, ia tidak pernah menutupi apa yang ia rasakan. Ia akan mengutarakan sesuai apa yang ada didalam hatinya.

Ia memang bersikap seperti anak kecil. Tapi bukankah itu lebih baik daripada yeoja yang bersikap manis tapi sebenarnya berhati munafik?

Aku merapikan selimut yang membalut tubuhnya lalu mengecup puncak kepalanya. “Selamat tidur, bebek.”

“Mati kau Son Dongwoon.” Desisnya.

Aku terkekeh lalu pergi dari kamarnya sebelum sebuah bantal melayang ke wajah tampanku.

****

JI-EUN POV

Aishh~ namja itu. Apa ia tidak ada kerjaan lain selain mencemaskan keadaanku? Menurutku ia terlalu berlebihan dalam memperhatikanku.

Sebenarnya aku sangat senang mendapatkan berjuta perhatian darinya, tapi tidak begini juga. Masa satu jam sekali aku harus melaporkan keadaanku? Jika tidak, dalam setengah jam ia akan datang ke rumah sakit dan memarahiku.

“Agasshi, kau berjemur sebentar ya. Setengah jam lagi aku akan datang.” Kata suster itu lalu pergi dari taman ini.

Aku meregangkan tubuhku yang terasa kaku. Beginilah akibatnya jika yang biasanya setiap hari menari namun sekarang tidak berlatih lagi. Semua engsel didalam tulang akan kaku. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling taman. Aku baru tahu jika taman di rumah sakit ini indah sekali. Pantas saja appa mengeluarkan budget yang besar untuk perawatan taman ini.

Ponsel-ku bergetar, tidak perlu memeriksa ‘id caller’-nya. Ini sudah pasti namja Arab itu yang menelpon.

“Yeoboseo.”

“Yeoboseo, jagiya~. Neo eoddiga?.”

“Ditaman wae?.” Tanyaku sinis. Sebenarnya hatiku berdebar sih saat mendengar suaranya, tapi aku tidak akan pernah menunjukkannya. Ia pasti akan bersikap lebih menyebalkan jika ia tahu aku setiap hari merindukan suaranya.

“Ditaman? Sedang apa disana?.”

Ck, sikap protektifnya keluar lagi. Memangnya bisa apa aku di taman? Berenang huh?

“Lagi menggoda cowok lain. Kenapa memang? Bukannya kau lagi di Jepang?.” Tantangku.

“MWO? MENGGODA COWOK LAIN? YA~ KAU MAU MATI YA!!.” Teriaknya.

Aishh, namja ini.

“Aishh~ ya hentikan teriakanmu! Aku berbohong tadi. Aku lagi di taman sendirian saja.”

“Geotjimal. Aku segera kesana.”

“Mwo? Datang kesini? Buat apa?.”

“Untuk memastikanmu tidak selingkuh dengan namja lain.”

“Mwo? Aishh~ terserah kau sajalah.” Dengan cepat kulipat ponsel flat-ku dan memasukkan kembali kedalam saku baju. Aku mendengus dan mengacak rambutku.

Tapi, ngomong-ngomong dia tidak serius kan akan datang kemari?

Aku mengedarkan pandanganku lagi ke taman ini dan tidak sengaja menangkap seorang yeoja cantik yang langsung memalingkan wajahnya saat mata kami tidak sengaja beradu pandang. Jika orang bereaksi seperti ini, biasanya ia takut ketahuan sesuatu. Ck, pasti ia sejak tadi memandangku. Tapi buat apa?

Ee, tunggu. Rasanya aku sedikit familiar dengan wajahnya?

“Ya~ aku tahu kau daritadi memperhatikanku terus.” Teriakku. Yeoja itu menatapku lagi dan tersenyum tipis. Aku membalas senyumannya dan menekan tombol kursi roda otomatis agar dapat mendekati yeoja itu.

“Aku Lee Ji-Eun.” Aku menyodorkan tanganku saat sudah berada di hadapannya.

Wajahnya terlihat lebih cantik lagi jika dilihat dari dekat begini. Rasanya aku pernah melihatnya. Dimana ya?

“Aku Eunhye.” Ia menjabat tangannya, sedetik kemudian ia melepaskannya lagi.

Ahh, iya. Dia Cho Eunhye. Istrinya Cho Kyuhyun, maknaenya Super Junior yang terkenal ‘sopan’ itu.

“Kau istrinya Cho Kyuhyun kan?” Ujarku tiba-tiba.

“Mwo? Kau.. Kau tahu darimana?” Tanyanya balik. Dari raut wajahnya sepertinya ia sangat terkejut saat mendengarku yang tahu tentang statusnya. Ck, siapa yang tidak mengenal yeoja cantik ini? Ia sangat terkenal di kalangan member boyband. Bahkan mereka berebutan menjadikannya sebagai tipe istri idaman. Dan si Dongwoon, ‘Arab Brengsek’ itu juga sering membicarakan kecantikan yeoja ini.

“Tentu saja aku tahu. Si Arab brengsek itu selalu menyebut namamu.”

Ia menatapku penuh keheranan. Aishh, kenapa wajahnya jadi makin cantik jika ia menatap penuh heran seperti itu? Ck, pantas saja namja-namja haus kasih sayang itu sering membicarakan yeoja ini.

“Siapa yang kau bilang ‘Arab Brengsek’ itu jagi~?” Tanya sebuah suara yang sukses membuat aku dan yeoja itu serempak menoleh ke sumber suara. Muncul lah seorang namja tampan yang wajahnya sedikit ada kearabannya, ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Aishh, mau apa sih dia kemari?

“Mau ngapain kau kemari ‘Arab Brengsek’?” Desisku saat Dongwoon sudah berada didepanku.

“Kau tidak kangen kepadaku? Aku jauh-jauh datang dari Jepang hanya untuk menemui seseorang yang katanya ‘kangen’ kepadaku.” Namja itu mengedipkan matanya dan berniat mencium pipi-ku tapi dengan cepat aku menghindar. “Wae? Kau tidak kangen kepadaku?”

Dasar bodoh. Apa ia tidak ingat dengan keselamatan jantungku?

“Kau sudah berapa lama berjemur disini jagi~? Lihatlah kulitmu sudah mulai memerah begini.” Dongwoon memegang wajahku. Aku menunduk malu. Aigoo~ kenapa setiap hari ia bersikap menjijikan begini?

Dongwoon mencubit pipi-ku lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan ia berhenti saat melihat ke arah yeoja itu. Ia tersenyum canggung.

 “Kau. Kau Cho Eunhye istrinya Kyuhyun hyung kan? Kenalkan aku Dongwoon.” Dongwoon menundukkan badannya sedikit.

“Ne, Eunhye imnida. Hajiman, darimana kau tahu?” Yeoja itu mengerutkan alisnya.

 “Tentu saja aku tahu. Setiap aku ngumpul bareng dengan member SHINee, mereka pasti selalu memperebutkanmu sebagai tipe istri ideal mereka. Tapi setelah melihatmu langsung aku jadi paham kenapa mereka memperebutkanmu dan kenapa mereka selalu menyayangkan kau telah menjadi istrinya Kyuhyun hyung.” Jelas Dongwoon panjang lebar.

“Ehmm.. Ya~ Arab jadi kau sekarang sudah berani menggoda istri orang didepanku hah?” Sindirku. Aku sedikit tidak suka melihat ia memuji yeoja lain didepanku. Terlebih lagi dengan yeoja ini.  Aku sadar jika wajah yeoja ini cantik sekali. Siapapun pasti tergoda dengan kecantikannya.

“Aigoo~ uri jagi rupanya sudah bisa cemburu ya?” Dongwoon mencubit pipiku lagi. Aku menghembuskan nafasku kesal. Kesal dengan kelakuannya, kesal dengan sikap bodohku yang terlalu gamblang menunjukkan rasa cemburuku. Mau ditaruh dimana wajahku? Di penggorengan?

“Aishh~ berhenti mencubit pipiku.” Aku menepis tangannya Dongwoon. “Kau tidak punya jadwal lagi? Apa kau tidak lelah dari bandara langsung kemari?”

Dongwoon melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. “Sebenarnya ada sih. Tapi aku kan mau menjengukmu dulu. Pekerjaanku bisa nanti saja. Yang penting aku harus memastikan kalau kau baik-baik saja, dengan begitu aku bisa bernafas dengan lega.”

“Ya~ dasar bodoh. Kenapa kau lebih mementingkanku daripada pekerjaanmu?”

“Tentu saja aku lebih mementingkanmu. Aku bisa bangkit jika kehilangan pekerjaan, tapi aku tidak bisa bangkit jika aku sampai kehilanganmu.”

Lagi-lagi aku tercengang mendengar penuturannya.

****

Beberapa hari ini Dongwoon sibuk dengan recording dan persiapan untuk album barunya. Sebentar lagi grupnya akan mengeluarkan full album pertama mereka. Walaupun grupnya terbilang masih rookie, tapi sudah memperoleh berbagai piala mutizen dan berbagai penghargaan lainnya.

Tapi walaupun ia sangat sibuk, tetap saja rutinitasnya untuk menelponiku setiap jam tidak pernah absen.

Oh ya, beberapa hari ini aku selalu bersama dengan yeoja cantik itu. Ia sangat menyenangkan ternyata. Aku dan dia itu seperti kembar saja, kemana pun berdua. Bahkan aku memaksa untuk sekamar dengannya.

Aku tahu sikapku mungkin berlebihan. Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana cara bersikap dengannya. Err, harus kuakui aku tidak pernah mendapatkan sahabat. Maksudku teman yang benar-benar murni ingin berteman denganku. Karena selama ini semua orang selalu memanfaatkanku, memanfaatkan ketenaranku. Tidak ada yang murni ingin berteman denganku.

Eunhye itu menurutku jelmaan malaikat. Ia tidak hanya berwajah cantik, hatinya juga begitu rapuh dan polos. Pantas saja banyak member boyband -termasuk grupnya Dongwoon- yang menyayangkan kenapa yeoja se-sempurna itu bisa cepat menikah. Menikah dengan Cho Kyuhyun lagi, yang notabene member boyband paling ceplas-ceplos, ditambah lagi kelakuannya yang dorky itu.

Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang menikah dengan Cho Kyuhyun.  Sudah dipastikan seminggu setelah kami menikah, pernikahan kami akan langsung berakhir di pengadilan.

****

Sedari tadi aku sibuk memainkan iPad-ku. Seperti biasa, aku selalu mengecek dimana keberadaan Dongwoon sekarang melalui fanbase grupnya. Aku sangat berterima kasih dengan fanbasenya yang selalu mengikuti kegiatan Dongwoon kemana-mana, dengan begitu aku jadi tahu keadaan dan posisinya tanpa harus bertanya dengannya langsung. Ia pasti akan besar kepala jika tahu aku sangat mencemaskannya.

Aku melirik ke arah Eunhye yang sedang melamun. Aku jadi sedikit penasaran dengan apa yang ia lamunkan. Apa ia sedang ada masalah dengan suaminya? Ahh, lebih baik aku mencari tahu saja dimana keberadaan suaminya. Fanbase ELF kan banyak sekali. Pasti tak sulit mencarinya.

Sekitar beberapa menit aku mencarinya akhirnya aku ketemu salah akun twitter fanbase Super Junior. Segera saja aku baca beberapa twit mereka.

Eh, aku tidak salah lihat kan? Suaminya sedang ada di bandara Incheon? Setahuku subgroup Kyuhyun itu sedang berada di Taiwan.

“Eunhye-ah, apa suamimu sudah menghubungimu?” Tanyaku tanpa melepaskan pandangannya dari iPad-nya.

“Ani. Kenapa memang?”

“Ahh, tidak. Tapi kabar di twitter bilang kalau suami-mu sedang berada di Korea.” Aku mengerutkan alisku. Masa sih suaminya tidak menghubunginya? Dongwoon saja satu jam sekali pasti menghubungiku.

“Jinjja?” Tanyanya tak percaya. Ia mendekatiku.

“Lihatlah.” Aku menyodorkan iPad-ku. “Heii, apa suamimu akan langsung kesini? Aigoo~ asal kau tau aku ini adalah penggemarnya suamimu. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya.” Kataku.

Ia terdiam dan tersenyum samar. Sepertinya benar ia sedang ada masalah dengan suaminya. Jika tidak, wajahnya tidak akan semurung ini.

 “Ya~ kenapa kau diam saja? Ayo kita kesana. Kulitku sudah mulai terbakar nih.” Ujarku. Sebenarnya ini hanya kamuflase saja sih. Aku tidak tahan melihat ekspresi wajahnya seperti itu.

Kami pun berteduh di bawah pohon yang daunnya sangat rindang. Lumayan sih disini dibandingkan di tempat tadi.

Aku mengerjapkan mataku hanya sekedar untuk memastikan sesuatu yang kulihat. Namja itu rasanya pernah kulihat. Pakaiannya pernah kulihat. Tapi dimana ya?

Ah, benar juga. Itu kan Cho Kyuhyun. Ia saja masih memakai pakaian itu, pakaian yang sama persis di foto yang kulihat di fanbase Super Junior.

 “Eunhye-ah, apa itu suamimu? Aku tidak salah lihat kan?” Aku menunjuk ke suatu arah. Eunhye mengikuti arah tanganku. Eh, kenapa namja itu memapah yeoja lain?

“Hajiman.. Kenapa dia memapah yeoja lain? Apa kau kenal dengan yeoja itu?” Aku meliriknya cemas. Kulihat wajah Eunhye sangat pucat.

“Ne, itu adalah Victoria.” Ujarnya sakartis.

“Victoria? Victoria leadernya F(x) itu?” Tanyaku.

Ia mengangguk lemah. Ia menundukkan kepalanya dan secepat mungkin menghapus airmatanya yang mulai menetes di wajah cantiknya.

“Eunhye-ah, mereka kemari.” Ujarku.

 “Annyeong Kyuhyun oppa.” Sapaku saat suami Eunhye dan yeoja itu berada di hadapan kami.

 “Annyeong.” Sapa Kyuhyun, ia tersenyum ramah kepadaku.

“Hei, kau Eunhye kan? Kyuhyun-ah kenapa kau tak bilang istrimu juga dirawat di rumah sakit ini? Kau ini, seharusnya kau menemui istrimu dulu dibanding aku.” Omel Victoria.

Ck, kenapa aku mencium bau kebohongan ya disini?

 “Eunhye-ah, kau sakit apa? Kenapa kakimu di gips?” Tanya Victoria.

Eunhye mendongakkan kepalanya dan tersenyum sewajarnya.

“Ani, aku hanya terjatuh.” Jawabnya sekenanya. Eh, dia berbohong?

“Terjatuh? Tapi kenapa bisa separah ini?” Tanya yeoja itu lagi.

Aku bisa mencium bau kemunafikan disini.

“Ani. Aku tidak apa-apa. Kau sendiri eonni? Kenapa kau bisa dirawat disini?”

“Hahaha. Aku juga tidak apa-apa. Alergiku kambuh dan Kyuhyunnie memaksaku untuk di rawat disini. Padahal jelas-jelas aku tidak apa-apa. Kekhawatirannya sangat tidak beralasan.”

 “Song Qian, kulitmu mulai memerah. Aku antar kau kedalam ya.” Kyuhyun menoleh ke arah Eunhye. “Eunhye-ah, kau tunggu disini sebentar. Aku mengantar Victoria dulu.”

Tanpa menunggu jawaban Eunhye ia memapah Victoria menuju kedalam. Aku menatap Eunhye. Dasar yeoja bodoh.

“Ya~ yeoja bodoh! Kenapa kau tidak protes suamimu lebih memilih yeoja itu?”

Ia menoleh dan tersenyum. “Buat apa Ji-Eun? Buat mempermalukan diriku sendiri? Bagaimana jika setelah aku protes ternyata ia tetap memilih mengantar yeoja itu?”

Aku menggelengkan kepalanya. “Kau itu yeoja paling bodoh yang pernah kukenal. Apa hatimu tidak sakit melihat suamimu bersama yeoja lain?”

Eunhye terdiam dan menunduk lagi. Kurasa sebentar lagi ia akan menangis.

Aku memandangi punggung namja itu. Aku tidak menyangka jika suaminya sangat tega seperti itu. Apa ia tidak memikirkan perasaan istrinya sendiri?

Kurasa namja itu sangat beruntung sudah mendapatkan yeoja sebaik Eunhye.

****

Dongwoon menatapku serius, ia mendengarkan ceritaku dengan seksama. Aku menceritakan semua yang terjadi kepadaku hari ini padanya. Termasuk soal kejadian Eunhye dan suaminya itu.

“Bagaimana menurutmu? Tidakkah Cho Kyuhyun itu laki-laki yang sangat brengsek?.”

Dongwoon menggeleng. “Ani. Mereka hanya salah paham.”

“Maksudmu?.” Tanyaku penuh keheranan. Salah paham dari pohon pisang?. Orang jelas-jelas namja itu berselingkuh dari Eunhye.

“Semua orang itu punya masalah masing-masing Ji-Eun~ah. Lagian itu masalah rumah tangga mereka. Tidak baik mencampuri urusan mereka.”

“Tapi aku hanya kasihan dengan Eunhye. Ia sangat terpukul sekali. Kadang sesekali aku melihatnya tengah melamun. Entah apa yang ia pikirkan.”

Dongwoon mengelus rambutku. “Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri. Jangan ikut campur, arraseo?.”

Aku mengangguk. “Arrayo. Hajiman, aku kasihan saja melihatnya seperti itu.”

****

Aku diam saja saat appa memeriksa keadaanku. Yang aku benci dari appa adalah sikap overprotektif-nya ini. Sikapnya tak jauh berbeda dari sikap Dongwoon, makanya aku tak heran jika mereka berdua solid sekali. Bahkan appa akan memarahiku jika aku sedikit saja bersikap kasar dengan Dongwoon.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku selanjutnya jika hidup selamanya bersama dua namja seperti mereka. Hidupku pasti penuh batasan dan larangan untuk melakukan sesuatu.

“Honey, appa rasa sebaiknya kita ke Amerika saja. Bukannya appa tidak percaya dengan pengobatan di Rumah Sakit appa ini, tapi appa rasa kakimu perlu perawatan yang lebih bagus lagi.”

“Tapi appa, apa tidak ada pilihan lain selain pergi ke Amerika?.”

Jujur saja aku sedikit keberatan jika aku harus pergi kesana. Son Dongwoon, aku pasti akan merindukannya.

“Bukankah kau ingin menari lagi? The Real Swan harus kembali secepatnya.”

Ahh, entah sejak kapan tapi aku merasa tidak terlalu tertarik lagi dengan gelar itu.

“The Real Swan yang cacat appa. Aku bukanlah The Real Swan seperti dulu.”

Appa menepuk bahuku. “Kau adalah The Real Swan terhebat di dunia ini.”

Aku memegangi tangan appa yang berada di bahuku dan tersenyum tipis. “Aku hanya takut jika aku tidak bisa kembali seperti dulu lagi appa.”

“Percayalah dengan appa nak, appa akan mengusahakan yang terbaik untukmu.”

****

“Eunhye-ah, kau harus sering-sering menghubungiku ya.” Aku memeluk Eunhye. Aku menangis di pelukannya. Jujur saja, aku sedikit tidak rela berpisah dengannya, temanku satu-satunya.

“Ji-Eun~ah, uljima. Kau harus sembuh ya. Sepulang dari Amerika kau harus bisa berjalan kembali.” Eunhye mengelus punggungku.

Aku melepaskan pelukannya dan memegang wajahnya. “Neo.. Jangan jadi pabo yeoja lagi, arraseo? Jangan suka memendam sesuatu sendiri. Dia itu suamimu, milikmu, jangan sampai direbut oleh yeoja itu.”

Ia mengangguk. “Kau juga. Jangan gengsian dan keras kepala lagi dengan namja Arab itu. Bagaimanapun namja itu sangat mencintaimu.”

Aishh~ kenapa ia malah mengungkit namja itu?

“Yak~ kau ini. Pokoknya sebisa mungkin kau ambil alih suamimu dari yeoja itu. Dan juga..” Aku mendekatkan wajahku dan membisikkan sesuatu. “Kau harus bisa menggoda suamimu, kalau bisa buat dia menidurimu.”

“Mwo?” Ia tersentak. “ Yak~ Lee Ji-Eun!!!” Serunya.

Aku terkekeh dan mendorong kursi rodaku menjauhinya tanpa peduli ia yang masih teriak tak terima atas saranku tadi.

Eunhye~ah, aku harap kita akan menjadi teman selamanya.

****

“Kau tidak boleh bertatapan mata dengan namja lain, tidak boleh bersalaman dengan namja lain, harus menelponku setengah jam sekali, harus melaporkan semua kegiatanmu.”

Aku mengorek telingaku yang terasa gatal. Aishh~ namja ini, sampai kapan ia akan memperingatiku terus? Aku harus berbuat sesuatu untuk membuat dia diam.

Aku menarik tangannya lalu merengkuh wajahnya dan dengan cepat mengecup bibirnya. “Arra Tuan Son. Aku hapal dengan laranganmu, bisakah aku masuk ke pesawatku?.”

Kulihat ia tersenyum kikuk. Cih, bisa salah tingkah juga rupanya ia.

“Dan, jangan pernah mencium namja lain selain aku.Atau kalau tidak, aku akan menyusulmu kesana.”

****

Na ajikdo noreul jiul su eobseo
Jakku jakku niga saenggakna
Niga nomu bogoshipo
Bamsae hansumdo jalsu eobseo (jal su eobseo)

Nae mam changmuneul dudurineun bissori (bissori)
Niga ddeona beorin kujari (kujari)
Nomunado keuriwuoseo
Bamsaehansumdo jalsu eobseo nan

U kiss – 0330

Dua bulan adalah waktu yang tersulit sepanjang hidupku selama ini. Dua bulan ini juga adalah waktu paling memberatkan. Hari-hariku selama dua bulan ini diisi dengan terapi pengobatan kakiku. Sungguh aku sangat merindukan namja itu, tapi mengingat hanya balet lah yang bisa membuatku sedikit bangga akan diriku mau tak mau aku harus secepat mungkin bisa sembuh dan dapat menari lagi.

Aku hanya yeoja biasa yang tidak ada kelebihan. Kelebihanku hanya lah balet, jika aku tidak bisa menjadi ballerina lagi, apa yang bisa kubanggakan dari diriku?

Son Dongwoon itu adalah artis terkenal. Entah apa jadinya jika para penggemarnya tahu dia telah berpacaran dengan seorang yeoja yang cacat dan tidak mempunyai kemampuan apapun sepertiku. Aku tidak ingin membuat Dongwoon malu. Setidaknya dengan bakat balet-ku, aku bisa membanggakan dia.

Dan hari ini adalah hari terakhirku menjalani terapi pengobatan di Negara ini. Kata dokter yang menangani terapi pengobatanku, besok aku sudah bisa pulang ke Korea dan tentu saja bisa menari lagi. Appa benar, pengobatan disini bisa mempercepat kesembuhanku. Buktinya hanya dalam waktu dua bulan kakiku bisa sembuh kembali walaupun tidak sembuh seperti sediakala. Ya, kesembuhan kakiku hanya 90%. Aku bisa memang bisa menari lagi, tapi aku tidak bisa menari dengan gerakan super sulit. Otot kakiku belum terlalu kuat untuk itu.

****

Aku menggenggam koperku dengan sangat erat. Hatiku berdebar terlalu keras. Rasa gugup dan cemas bercampur aduk di dalam hati dan pikiranku saat ini.

Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Aku sangat merindukan udara Korea. Benar kata orang, sebagus-bagusnya Negara orang lain, pada akhirnya kita akan kembali ke Negara asal kita.

Aku menarik koperku lalu memakai kacamata hitam berlabel ‘G’ di pinggir frame-nya. Aku mempercepat langkah kakiku dan menundukkan kepalaku agar tidak dikenali oleh orang. Bandara saat ini sangat ramai, banyak wartawan juga yang berseliweran disini. Aku tidak mau beresiko tertangkap wartawan dan menjadikanku sebagai headline berita mereka.

Aku sedikit mendongak dan mengedarkan pandanganku di sekeliling tempatku berdiri saat ini. Aku memang sedang mencari Dongwoon. Karena dia seorang artis, aku rasa aku tidak perlu repot-repot mencari keberadaannya. Ia pasti mengenakan kostum menyamarnya yang super aneh itu. Yah, aku tinggal mencari seorang namja memakai kostum super aneh.

“Kyuhyun oppa!! Kyuhyun oppa!!”

Ehh, aku tidak salah dengar kan? Kenapa aku mendengar teriakan orang-orang yang memanggil nama Cho Kyuhyun? Apa member Super Junior akan berangkat keluar negeri?

“The Real Swan, are u The Real Swan?”

Sebuah suara sukses membuatku sedikit terkejut dan lebih terkejut lagi saat aku melihat seorang namja tampan yang berada didepanku ini. Bukan wajah tampannya yang membuatku terkejut, tapi karena pakaian yang ia kenakan saat ini.

“Ya! Kau gila ya? Kemana kostum samaranmu? Kenapa tidak kau pakai?”

Namja itu hanya mengendikkan bahunya acuh dan menarikku kedalam pelukannya. “Aku merindukanmu Swan-ku.”

Rasa hangat itu menjalari semua tubuhku. Yah, aku pun sangat merindukannya juga.

“Bodoh, kalau ketahuan wartawan bagaimana?” Tanyaku.

“Biarkan saja.” Jawabnya sekenanya.

Dan benar saja. Tak lama kemudian beberapa wartawan mulai mengerubungi kami. Satu persatu pertanyaan terlontar dari mulut mereka. Kilatan lampu blitz menyilaukan mataku. Dongwoon menahan tubuhku agar tetap berada didalam pelukannya.

“Dongwoon-ssi, apa yeoja itu adalah pacarmu?”

“Dongwoon-ssi, yeoja yang berada di pelukanmu itu adalah Lee Ji-Eun ‘The Real Swan’ ? dongwoon-ssi, sejak kapan kalian berpacaran?”

“Omoo, itu adalah the real swan?”

Aku memeluk tubuh Dongwoon seerat mungkin. Wartawan itu seakan ingin menguliti kami. Aku takut sekali. “Woonie-ah, aku takut.” Ujarku.

Dongwoon mengelus kepalaku dan membisikkan sesuatu di telingaku. “Tenanglah. Semua akan baik-baik saja.”

“Maaf semuanya, pacarku tampaknya tidak nyaman dengan keberadaan kalian.”

“Diam dan percayalah kepadaku.” Bisiknya lagi. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Percaya padanya? Tentu saja.

Aku tidak tahu lagi apa yang sebenarnya terjadi. Yang kutahu hanyalah Dongwoon mempercepat langkah kakinya dan teriakan para wartawan itu kian lama kian menghilang. Aku hanya bisa pasrah didalam pelukannya. Ia masih melindungiku agar wajahku tidak terpotret.

Dan akhirnya kami sampai di ruangan tunggu VIP di bandara ini. Aku duduk di bangku yang terletak di sudut ruangan, sementara Dongwoon sibuk dengan ponselnya.

“Gwaenchana?” Tanyanya, ia duduk di sampingku.

Aku menganggukkan kepalaku lalu menyender di bahunya. “Aku hanya takut.”

Dongwoon meremas tanganku. “Gwaenchana. Semuanya akan baik-baik saja.”

“Semoga begitu.”

****

Dongwoon menggenggam tanganku erat, ia menatapku sejenak lalu setelah hitungan ketiga ia pun menuntun tanganku dan berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Para wartawan mengerubungi kami lagi dan satu persatu pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari mulut mereka.

“Aku dan Lee Ji-Eun memang berpacaran. Dan yah, dia adalah The Real Swan.”

Aku hanya memandangi wajah Dongwoon, seluruh pikiranku hanya tertuju kepadanya. Aku tidak habis pikir dengan apa yang ia lakukan saat ini, ia mengatakan semuanya seolah ia bukan lah siapa-siapa. Apa ia tidak menyadari konsekuensi dari semua ini?

“Kau tau, hal ini lah yang selama ini kudambakan. Aku bisa bebas mengakuimu sebagai pacarku. Aku tidak perlu lagi bersembunyi dan menyembunyikanmu. Kini semua orang sudah tahu jika The Real Swan itu miliknya Son Dongwoon.”

The Real Swan miliknya Son Dongwoon?

Aku rasa aku sangat menyukai kata-kata itu.

-END-

**EPILOG**

Ji-Eun POV

Aku menghentikan langkah kakiku sejenak dan membalikkan badanku. Dongwoon menatapku aneh.

“Kenapa kau berhenti? Ada yang tertinggal?”

Aku menggeleng. “Ani. Hanya..” Aku menggelengkan kepalaku lagi. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Tidak mungkin itu adalah..

Jika mataku bisa di perbesar lagi mungkin mataku bisa sebesar bola saking terkejutnya aku. “Woonie-ah, itu Eunhye kan? Kenapa dia berada di bandara? Apa dia mau pergi?” Tanyaku.

Dongwoon hanya mengendikkan bahunya. “Entahlah. Tapi mungkin saja ia mau pergi liburan ke luar negeri.”

“Mungkin.”

Dongwoon menggenggam tanganku dan menuntunku lagi. Sesekali aku menoleh ke belakang, memeriksa siapa tahu jika yang kulihat itu ternyata benar adalah Eunhye.

END~~~~~

Akhirnya XD wuahahaha, endingnya GAJE? Ember -_____-

Tika yang cantik, yang baik, dan tidak sombong. Pasti kamu kecewa banget kan udah nunggu nih FF lama banget, malah dibuatin FF super aneh lagi.

Ckckck, entahlah XD

Dan, di epilognya itu aku masukin bocoran soal ending I’M NOT CINDERELLA ^^ hayooo, kira-kira apa yah ending dari FF super nista itu.

KEEP RCL ..

104 responses to “THE REAL SWAN [I’M NOT CINDERELLA SIDE STORY]

  1. Heung bahkan jieun bisa merasa kemunafikan victoria. Pasangan jiWoon ini ngegemesin ya meskipu rada sebel sama karakter jieun. Heumh kira2 eunhye kemana ya. Apa mau ikut ahjusi lee?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s