Let’s Make a Baby [Chapter-2]

Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Shim Changmin
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung
  • Etc.

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku.

Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan.

Ke acc twitterku ya di: @onyuni


[PROLOG][CHAPTER 1]

                Ck! Apa ini? Sudah dua email masuk yang menyatakan complain atas hasil editanku? Editor amatiran? God, apa yang ada di kepala dua orang ini? Apa mereka tidak me-review sebelum mengirim tulisan-tulisan ini? Sebenarnya yang amatiran siapa? Penulis-penulis ini atau aku?

            Aku memandangi titik-titik kecil air hujan yang jatuh satu per satu dari langit. Nampak dari jendela kacaku rintik itu semakin lama semakin deras. Setelah cukup puas mengamati, ku sesap secangkir coklat hangat yang berada di atas meja kerjaku. Sebelumnya aku memperhatikan motif yang ada di bagian badan cangkir. Ku elus motif bunga sakura yang mengitari lapisan luar benda pecah belah itu. Asapnya mengepul ke udara dan aku menikmati pemandangan coklat hangat di dalam cangkir klasik.

~Tok… Tok… Tok~

Aku memandang lurus ke arah pintu. Hmmm… itu pasti Max.

“Sebentar!” teriakku sembari meletakkan cangkir pada tempatnya semula.

            Aku berjalan menuju pintu kayu. Sesampainya di muka, tanganku langsung memutar knop pintu ke arah kiri dan membuka pintu itu. Tubuhku sempat terasa beku saat melihat sosok yang ada dihadapanku sekarang. Dia memakai kaos polo berwarna putih yang disesuaikan dengan celana bahan semi jeans berwarna biru gelap. Tidak seperti beberapa hari yang lalu saat aku menemuinya. Saat itu dia terlihat formal dengan balutan busana yang umum dipakai orang kantoran. Tapi sekarang dia menjelma menjadi pria yang biasa tanpa dasi dan sepatu yang mengkilat. Kali ini dia memilih sepatu cats. Badannya juga terdapat percikan-percikan air hujan. Saat dia membuka kacamata hitamnya, hal itu cukup membuatku susah untuk menelan ludah.

“Mau apa kau ke sini?” aku melongok ke belakang bahunya takut-takut kalau dia membawa beberapa petugas imigrasi.

“Tidak ada petugas imigrasi” katanya cepat menjawab ketakutanku yang tak samar. Dia menerobos masuk ke dalam apartemenku tanpa permisi.

            Bukan hal yang mengherankan jika dia tahu dimana aku tinggal. Kalau dia tahu seluruh dokumenku, tidak menutup kemungkinan dia tahu tempat tinggalku di sini. Tapi mau apa dia kemari? Apa dia berubah pikiran dan bermaksud untuk memperinci hal yang masih abu-abu?

“Jadi ini tempat tinggalmu?” kicaunya tanpa dosa sambil duduk di atas sofa.

            Tidak sopan? Memang. Tapi orang-orang Perancis terkadang memiliki sifat aneh seperti ini. Bahkan kaum pendatang pun bisa tertular. Aku tidak heran kalau dia juga seperti kebanyakan penduduk di sini.

“Basa-basi tidak perlu, Donghae-shi” aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, setelah menutup pintu. Untuk beberapa detik dia memandangku lurus.

Dia berdeham kecil “Apa pertanyaanmu kemarin sangat penting?”

“Yang mana? Tentang kenapa kau tidak menikah saja dengan orang yang kau cintai?”

Dia menjawabku dengan anggukan kecil. Melihatnya aku menghela nafas cukup dalam namun ku keluarkan secara perlahan agar tidak terlalu nampak di pandangannya.

“Menurutku sangat penting” jawabku seadanya menunggu kata ‘kenapa’ dari mulutnya.

“Seberapa penting?”

“Aku hanya tidak mau saat aku memutuskan untuk mengiyakan hal ini, terjadi masalah dan aku tidak tahu apa-apa. Itu saja intinya” aku mendekatinya yang tengah mengelus-elus dahinya sendiri. Dia berfikir dan aku langsung mengambil tempat di kursi yang berhadapan langsung dengannya.

“Kau tahu miom, Hyosun-ah?” katanya dengan nada yang paling lemah yang pernah ku dengar dari mulutnya. Biasanya dia selalu berbicara dengan intonasi yang teratur disertai penekanan-penekanan. Tapi kali ini tidak, dia menatap lurus sambil menerawang.

“Tumor jinak pada otot rahim?”

“Iya. Itulah yang terjadi padanya. Sewaktu kami masih sama-sama duduk di bangku kelas dua SMA, dia harus operasi pengangkatan dinding rahim” dia menatapku sayu. Terlihat sekali kalau dia cukup terpukul.

            Dari pernyataannya yang sederhana itu aku bisa menyimpulkan beberapa hal. Yang pertama adalah mereka teman satu sekolah atau bahkan satu kelas saat SMA, karena dia menggunakan key word ‘sama-sama’. Yang kedua, dinding rahim yang diangkat sama artinya tidak bisa mengandung. Dan yang terakhir, Donghae tidak bisa menyambung keturunan dari wanita ini.

“Oh…” seruku lirih. Dan sekarang aku malah merasa bersalah karena telah bertanya ini padanya.

“Jangan tanyakan apapun lagi mengenai ini karena aku sudah berjanji padanya untuk tidak memberitahu siapapun, Hyosun-ah”

“Maaf” kataku parau.

“Tidak perlu. Ini hanya masalah janji mengenai aib seseorang”

“Aku mengerti sekarang kenapa kau tidak bisa menikah dengannya. Tidak memiliki rahim, itu sama artinya suatu kegagalan bagi seorang wanita. Kau kecewa dengan hal ini?”

“Aku tidak tahu karena aku belum merasakan yang namanya mengarungi rumah tangga. Aku mencintainya tapi aku tidak bisa turut merasakan kegagalannya menjadi seorang ibu. Hanya dia yang tahu”

Aku mengangguk-angguk, mengiyakan apa yang aku pikir rasional.

“Kalau boleh tahu, dimana dia sekarang? Paris?”

“Tidak. Setelah putus dia ke New York. Dia mengambil sekolah modeling di sana”

            Eh? Putus? Jadi wanita yang dia maksud adalah mantan kekasihnya? Aku pikir dia adalah pacarnya sekarang. Ingin sekali aku bertanya lebih jauh kenapa hubungan mereka kandas. Tapi apa itu sopan? Ah sudahlah.

“Kami putus karena jarak. Selain berjanji untuk merahasiakan ini, aku juga berjanji akan menikahinya”

“Oh…” lagi-lagi hanya bisa mengeluarkan seruan ini.

“Kau sudah puas dengan penjelasanku, Hyosun-ah?”

“Tunggu, kau mau menikah dengannya sementara dia tidak bisa memberimu keturunan, Donghae-shi?” lagi-lagi dahiku dibuat berkerut olehnya.

“Aku akan punya anak darimu dan kami berencana akan mengadopsi bayi. Itu planning-planning kami ke depan”

“Apa ini wujud dari rasa kasihan?”

“Apa kau pikir selama lima tahun kami berhubungan hanya rasa kasihan yang timbul? Ini semacam harapan kami dari awal berpacaran. Pada akhirnya cinta yang kami jalin akan bermuara pada pernikahan”

Siapa bilang? Buktinya banyak yang gagal setelah bertahun-tahun pacaran. Tuhan yang menentukan semuanya, bukan berapa lama manusia berpacaran. Hmm… Entahlah, ini juga bukan wewenangku untuk tahu lebih jauh mengenai hubungan mereka. Setidaknya aku sudah mempunyai titik temu dari pertanyaan yang muncul di otakku. Aku tidak mengeluarkan unek-unek ini, daripada aku salah lebih baik diam, kan?

“Dia tidak tahu dengan rencanamu ini?”

“Tidak. Aku akan memberitahunya nanti. Setahun lagi dia akan selesai sekolah modeling dan kembali ke Seoul”

“Kau sudah puas?” dia menatapku cepat dengan sikapnya yang kembali seperti biasa. Rohnya yang tercecer sudah kembali di badannya.

Sejujurnya aku belum terlalu puas karena aku masih bingung. Mereka sudah putus tapi Donghae ingin menikah dengannya setelah berpisah dariku? Aneh. Apa karena jarak saja yang membuat mereka berpisah? Atau setelah bekas pacarnya kembali ke Seoul, mereka akan berpacaran lagi kemudian menikah? Well, kenapa aku jadi bertanya-tanya? Urusanku apa? Ah, sudahlah!

“Kau mau minum apa?” tanyaku mengabaikan pertanyaannya yang tergambar seperti sebuah geraman itu. Aku berjalan menuju pantry. Yang aku punya hanya air mineral, beberapa botol soda di kulkas dan seteko kopi.

“Kalau kau punya whisky aku tidak menolak” katanya mencoba mencairkan suasana setelah menatapku dengan ganjil.

“Sayangnya minuman itu tidak ada” aku menuangkan air mineral ke dalam gelas kemudian berjalan mendekatinya.

“Ini…” aku menyodorkannya dan dia meraih tanpa protes walaupun diiringi dengan dengusan kecil.

“Kau suka menulis?” tanyanya sambil memandang screen saver komputerku yang bergerak-gerak setelah meneguk air mineral itu hingga setengahnya.

“Aku suka mengedit”

“Tidak heran” dia meneguk sisa air yang ada di dalam gelas.

“Maksudmu?” dahiku berkerut, tidak mengerti apa yang dia maksud.

“Kau teliti dan suka hal yang terperinci. Pernah menulis sebuah buku sendiri dan mengeditnya?”

            Entah kata teliti dan terperinci itu adalah sebuah pujian atau apa, yang jelas aku tidak bisa menghentikan urat wajahku untuk mengembang walaupun tidak begitu nampak.

“Belum. Tapi hal itu sempat terlintas di benakku. Aku juga tidak tahu kapan akan memulainya. Aku terlalu sibuk. Mungkin suatu saat nanti aku akan membuat fiksi konyol berisi roman picisan”

“Kau menyukai pekerjaanmu, Hyosun-ah?”

“Saat aku kuliah, aku mengambil bidang sastra agar aku bisa menekuni hal yang mulanya adalah sekedar hobi. Dulu aku sangat suka menulis. Tapi biasanya aku menulis untuk ku baca sendiri. Bukan untuk dipublikasikan. Setelah lulus, aku mulai mengenal dunia edit-mengedit dan ternyata hal ini jauh lebih menyenangkan. Hal itu membuatku ketagihan. Iya aku sangat menyukai pekerjaanku walaupun aku harus bekerja sebagai editor freelance” paparku antusias.

“Kau mau minum lagi?” aku menatapnya kemudian melempar pandangan pada gelas yang ia timang dan sudah kosong.

“Tidak. Ini sudah cukup” jawabnya sambil meletakkan gelas itu di atas meja.

“Jadi?” katanya menggantung.

“Jadi apa?”

“Jadi, kau bersedia menerima tawaranku setelah aku ceritakan semuanya?”

            Aku menatapnya dengan dengusan kecil. Aku masih menyusun kalimat apa yang harus ku keluarkan. Di otakku sudah timbul beberapa pertanyaan baru dan itu sangat menggelitik.

“Bagaimana kalau aku bermasalah dengan kesuburan, hormon dan sebagainya, Donghae-shi? Kalau aku tidak memenuhi kriteria yang kau mau sebagai ibu dari anakmu?” tanyaku menantang. Anehnya dia tidak kaget dengan pertanyaanku. Dia malah mengeluarkan ponselnya dan memencet beberapa tombol sentuh layarnya.

“Yoboseyo… Kapan aku bisa ke tempat praktekmu… oh, oke”

~Klik~

            Dan itulah jawabannya. Dia memang sudah merencanakan ini semua dengan matang. Serasa dunia memang sudah di tangannya. Dari kata ‘praktekmu’ saja aku sudah menduga bahwa baru saja dia berbicara dengan dokter.

“Kita bisa datang kapan saja untuk memeriksa kondisimu” katanya santai sambil memasukkan gadget-nya ke dalam saku celana.

“Kondisiku?” aku terkekeh mendengar itu.

“Kondisi kita, Donghae-shi” tandasku dengan sebuah penekanan.

“Kita? Aku tidak bermasalah”

“Cih! Aku terbiasa menghadapi tulisan fiksi maupun non-fiksi, Donghae-shi. Aku sering membaca artikel yang berisi bahwa laki-laki kerap kali menyalahkan wanita dalam hal hubungan sex. Mereka yang tidak bisa atau belum mempunyai anak lebih sering menyalahkan istri yang tidak subur, istri yang mandul dan sebagainya. Tapi mereka tidak pernah berfikir tentang dirinya sendiri. Mereka cenderung melimpahkan kesalahan pada pihak wanita” terangku dengan nada sinis.

“Aku tidak seperti itu!”

“Lalu? Apa kita akan sama-sama memeriksa kondisi kita?” tantangku untuk yang kedua kalinya.

“Untuk apa?”

“Untuk membuktikan bahwa kita sama-sama normal”

“Aku tidak menyangka kalau menghadapimu tidak segampang yang ku kira”

Aku memegang kartu As-nya sekarang.

“Kalau kau tidak ragu dengan testosteronmu, ayo kita periksa bersama-sama. Atau jangan-jangan…”

“Jangan-jangan apa?” matanya melotot mendengar pelecahanku.

“Jangan-jangan kau memang tidak punya potensi untuk menjadi seorang ayah…”

“Jaga bicaramu, Sung Hyosun” geramnya kesal.

“Haha, tenang, tuan Lee. Tidak perlu segalak itu. Jadi?” aku menggodanya lagi.

“Terserah kau. Kapan kau bisa?”

            Aku berjalan menuju meja kecil yang tak jauh dari meja kerjaku. Ku sambar kalender meja yang menanti untuk diperhatikan.

“Lusa aku bisa” jawabku akhirnya.

“Oke, aku akan menjemputmu hari selasa” dia berdiri sambil menepuk-nepuk pahanya seolah ada beberapa butir debu yang menempel di situ.

“Kau akan pulang sekarang?”

“Tentu. Memangnya kau senang aku berlama-lama di sini?” dahinya berkerut.

“Lebih cepat kau angkat kaki itu lebih baik, Donghae-shi” aku berjalan menuju pintu dan membukakannya. Dia menyeringai penuh arti dan hal itu tidak bisa terdeteksi olehku.

            Dia berjalan ke luar apartemenku. Ku perhatikan hujan yang tadi mengguyur pusat kota Paris telah mereda. Dia berhenti, merenung sejenak sebelum aku menutup pintu. Dia berbalik dan berjalan ke arahku.

“Ada yang tertinggal?” tanyaku heran.

“Ada apa dengan pacarmu, Hyosun-ah?”

“Maksudmu?” alisku naik, lebih heran lagi.

“Aku rasa ini bukan keputusan yang main-main, Hyosun-ah. Lalu? Bagaimana dengan pacarmu?” tanyanya penuh selidik. Matanya membulat.

“Aku juga tidak mengatakan iya padamu”

“Tapi secara eksplisit kau mengatakan itu. Sekarang katakan padaku, apa yang terjadi pada pacarmu sampai kau mau menerima tawaran ini?”

            Demi Tuhan, sekarang aku merasa diserang balik olehnya. Dia mengambil kartu As-ku. Bodohnya, kenapa aku tidak mengantisipasi pertanyaan ini? Ada apa dengan otakku sekarang?

“Kenapa?” tanyanya lagi.

~Ndret… Ndret… Ndert~ benda elektronik yang tergeletak di atas meja kerjaku bergetar hebat. Itu pertanda panggilan masuk.

“Aku akan menjawabnya setelah aku tahu tingkat ‘kenormalan’-mu, Donghae-shi”

Aku menutup pintu dengan segera kemudian berjalan dan menyambar ponsel flip-ku tanpa peduli pada Donghae lagi. Toh, juga dia tidak mengetuk pintu lagi.

“Hallo?”

“Hallo, chaggi. Kau sedang apa?” tanya Max dari seberang sambungan.

“Sedang apa lagi selain berkutat dengan komputerku? Kau sendiri?”

“Aku sedang melihat keindahan menara Eiffel di tepi sungai Seine. Kau mau menyusulku? Sepertinya menikmati hidangan kaki lima di sini cukup romantis” katanya mencoba berkelakar.

“Kenapa kau baru bilang? Oke, aku akan menyusul ke sana. Tunggu emmmm… dua puluh menit lagi. message aku lokasimu dimana, oke?”

“Oke”

~Klik~

            Setidaknya otakku bisa rehat sejenak sebelum mengurusi email-email yang cukup membuatku gusar terakhir kali. Ku raih mantel yang tersampir di balik pintu. Memakainya sebelum menjajakan kaki keluar rumah. Mantel murah ini cukup membuatku hangat dengan ketebalan yang pas untukku.

            Apa yang harus ku katakan pada Max? Walaupun selama berhubungan dengannya aku selalu merasa gusar dengan hubungan kami ke depan, tapi hal ini adalah hal yang paling membuatku pusing bukan kepalang. Dia pasti akan sangat kecewa. Apa aku bisa mengatakannya sekarang? Bisakah dia menerima semua ini?

***

“Ah, Tuan dan nyonya Lee. Silahkan duduk”

Pria paruh baya yang mengenakan jas berwarna putih itu mempersilahkan kami dengan memberi tanda pada dua bangku kosong yang ada di hadapannya. Dia memakai kacamata dan sebuah stetoskop menggantung di lehernya. Wajahnya yang penuh kerutan dilengkapi dengan uban yang tumbuh di kulit kepalanya.

            Dan panggilan nyonya Lee padaku oleh dokter itu sama artinya bahwa Donghae telah mengaku menikah denganku. Tidak perlu dipertanyakan lagi.

“Tidak ada yang salah padamu. Nyonya Lee, kondisimu sangat subur. Kadar estrogenmu juga sangat cukup. Apa kau mengalami keluhan-keluhan?” kata sang dokter sambil mengawasi wajahku.

“Apa?” sontak aku kaget.

“Keluhan seperti pusing-pusing atau semacamnya?”

“Ohh…”

            Sebenarnya aku ingin meledak saat sang dokter mengatakan kata ‘subur’. Kadar estrogen dan lain-lain. Sekarang dia malah bertanya tentang keluhan-keluhan? Tentu saja ada, dok. Keluhanku akhir-akhir ini adalah hampir dibuat gila oleh Lee Donghae dengan tingkahnya yang menyebalkan.

“Aku hanya sedikit pusing akhir-akhir ini” aku melirik Donghae yang ada di sampingku. Dia menatap balik sejenak kemudian mengarahkan pandangannya lagi pada sang dokter.

“Mungkin itu hanya gejala kurang darah. Seharusnya kau tidak perlu merisaukan apa-apa mengenai kadar hormonmu. Jumlah hormon itu tidak akan teratur ketika mendekati menstruasi dan setelahnya. Itu wajar, jadi jangan khawatir” jelasnya dengan nada kalem kemudian membaca laporan selanjutnya.

“Oh, jadi saya tidak apa-apa, Dok?”

“Tentu tidak Nyonya Lee” dokter itu tertawa kecil padaku.

“Hmmm… Tuan Lee. Kau terlalu sibuk akhir-akhir ini?” dokter mengalihkan perhatiannya pada Donghae.

“Lumayan, dok. Aku sering lembur. Urusan kantor cukup menyitaku akhir-akhir ini. Apa ada masalah mengenai itu, Dok?”

Donghae menatap sang dokter dengan serius. Sementara aku mengeluarkan botol air mineral dari dalam tas dan meneguknya beberapa kali.

“Kadar testosteronmu menurun hingga 15%…”

            Vonis sang dokter itu hampir saja membuatku menyemprotkan seluruh air yang ada di dalam mulutku. Aku hampir tertawa terbahak-bahak tapi sebisa mungkin ku tahan dengan paksa dan hasilnya adalah aku terbatuk-batuk. Donghae menatapku penuh cemooh karena reaksiku barusan. Skak mat!

“Kau tidak apa-apa, Nyonya Lee?” tanya sang dokter terlihat sedikit panik.

“Tidak-tidak, Dok. Tarikan nafasku salah. Seharusnya aku menelan airnya kemudian menarik nafas. Tapi aku melakukannya bersamaan hingga tersedak” jelasku berlagak ilmiah. Tapi memang itu alasan yang paling rasional.

“Lain kali kau harus waspada, nyonya Lee. Kerongkongan dan tenggorokan yang terbuka secara bersamaan ketika sesuatu masuk ke dalam mulut dapat membuat organ paru-paru bermasalah”

“Ohh. Lain kali aku akan lebih berhati-hati, Dok”

“Dan kau harus mengurangi aktivitasmu, tuan Lee. Inilah pemicu utama kadar testosteronmu turun” dokter mengalihkan perhatiannya lagi pada Donghae.

“Apa itu bahaya, dok?”

“Sejauh ini tidak. Kau hanya perlu istirahat yang cukup, olahraga dan makan makanan yang mengandung zat besi”

Donghae berdeham sedikit kemudian melanjutkan“Kalau boleh tahu, prosedur apa yang harus kami jalani jika kami ingin menjalankan bayi tabung, Dok”

~Glek~ dan ini adalah pertanyaan yang tak ku sangka-sangka akan ditanyakan oleh Donghae pada dokter. Apa dia gila? Kita belum berbicara lebih serius mengenai ini.

“Bayi tabung? Untuk apa?” tanya sang dokter terkesan heran.

“Kami berencana menjalani program bayi tabung, dok. Kami ingin memperoleh anak melalui jalan ini”

Bukannya menjawab, sang dokter malah tertawa terbahak-bahak. Eh? Ada apa?

“Berapa usia pernikahan kalian?”

“Dua tahun, dok” lagi-lagi Donghae berbohong pada dokter yang hampir pikun itu.

“Kalian masih terlalu muda. Luangkanlah waktumu untuk relax, tuan Lee. Ini bukan masalah hormon, tapi mungkin faktor kelelahan yang kau alami. Ambillah cuti dan lakukan liburan-liburan bersama istrimu. Itu akan membuatmu relax. Untuk sementara aku akan memberimu resep vitamin yang bisa kau tebus di depan” dokter menuliskan beberapa karakter pada secarik kertas.

            Aku menoleh sejenak pada Donghae yang takzim memandangi sang dokter. Kemudian ku keluarkan ponsel dan mengetikkan beberapa karakter. Setelah selesai ku pencet tombol ‘send’. Aku di atas awan.

To: Lee Donghae

15% Tuan Lee?

Kau buang kemana 15% itu?

            Beberapa detik setelahnya, terdengar sebuah tanda pesan masuk dari ponsel Donghae. Buru-buru dia merogoh saku celana untuk memastikan. Raut wajahnya berubah dan dengan cepat menatapku. Aku menghindari tatapannya, berpura-pura meraba meja yang peliturnya masih begitu mengkilap. Aku yakin kedua bola matanya hampir keluar sekarang.

            Beberapa saat kemudian ponselku bergetar. Dengan segera aku membuka flip-nya. Aku menutup mulutku dengan tangan sembari cekikikan. Aku tidak membalasnya.

From: Lee Donghae

Tempat sampah! Puas?

“Resep ini harus kau tebus semua, tuan Lee” sang dokter menyodorkan secarik kertas yang baru saja dirobeknya.

“Baik, dok” Donghae memegangi dahi, memijitnya kecil sambil memandangi kertas itu.

“Kalau begitu kami pamit, dok” tambahnya lagi.

“Oke, silahkan. Dan kembalilah jika ada masalah lagi”

“Mari, dok” kataku untuk yang terakhir kali.

            Selama di jalan aku tidak berkata apa-apa. Dia terfokus pada jalan yang menurutnya lebih indah dipandang daripada mengobrol denganku. Dia mau bilang apa?

“Kau sudah makan?” tanyanya kikuk membuka pembicaraan.

“Sepiring pancake dan segelas kopi hangat, bukan ide yang buruk”

            Aku menjawab pertanyaannya tanpa menunggu dia bertanya ‘mau makan dimana’. Dia memandangku sekilas dan mengerti maksudku. Setelah beberapa menit menyurusi ibu kota, akhirnya kami menemukan sebuah café yang cukup hommy dan lumayan sepi. Kami mengambil tempat duduk yang berada di dekat dinding kaca.

            Sejenak dia mengamati kendaraan yang berlalu lalang di jalan De Prompe. Aku mengamatinya tapi tidak bertanya apapun padanya. Aku tidak ingin membangunkan macan yang sedang tidur. Yeah, anggap saja dia adalah macan.

“Sekarang ceritakan tentang pacarmu” dia menoleh padaku dan menatap secara intens.

            Kalimatnya membuatku semakin diam. Bukannya aku tidak mau bercerita, tapi hal itu menyayat luka di hati yang belum kering. Untuk sesaat aku masih berfikir, mau menggunakan kalimat dan kata-kata apa yang bisa ku bebaskan dari mulut. Dia masih mengamatiku. Tidak mungkin aku menangis di hadapannya karena itu bukan sifatku. Aku bukan tipe orang yang akan menumpahkan airmata dengan sembarangan di hadapan orang lain. Terlebih lagi Lee Donghae. Pikiranku masih tertuju pada obrolanku bersama Max dua hari yang lalu. Di tepi sungai Seine, dibawah sinar menara Eiffel.

-TBC-

Well, apa kabar semua?

Makasih yang udah RCL di chapter sebelumnya ya…

Makasih bangeeeeeeeeeeeeeet.

Ini jawaban dari pertanyaan kalian kenapa Donghae gak mau nikah sama ‘wanita itu’. Tapi aku gak jawab pertanyaan kalian tentang nasibnya Changmin. Jawabannya ada di chapter selanjutnya. Tunggu aja. Kapan? Aku usahain selasa. Tapi aku gak janji loh.

Yang tanya alamat WP klik Unie is Power. Tapi apa gunanya kalian ke WP-ku? Aku gak posting FF di situ loh. Sering kali kalau aku buka WP, aku pasti langsung ke dasbor FFindo tanpa nge-cek ke dasbor sendiri. Kalau mau baca-baca FF-ku langsung aja klik category “Lotus” di FFindo. Mau nanya PW juga? PW apaan coba? PW FF ini yang rate-nya jadi NC? Duuuuuh, lihat dulu lah ini nyampe chapter berapa? Baru chapter dua. Seluruh cast aja belum keluar dan titik temu belum keungkap kenapa udah nanya PW? Toh, kalaupun aku NC-in di salah satu chapter, PW-nya bukan aku yang bagiin. Yang bagiin salah satu readerku yang emang aku tunjuk buat milih di antara kalian. Bukan aku sendiri. Aku Cuma milih beberapa yang aku rasa pantas. Sisanya dia yang ngurus. Maksudnya salah satu chapt aku “skip” bukan berarti aku gak posting chapt itu di FFindo. Aku bakalan posting tapi gak full. Di bagian tertentu aku cut, udah itu aja. Ini biar yang masih anak-anak kaya Dya_Cyrus gak baca yang emang belum waktunya XD

Kalau ada pertanyaan di komen dan aku gak bales, aku minta maaf. Komen kalian banyak dan kalau aku bales salah satu, kasian yang lain yang juga nanya tapi gak aku jawab. Maksudku hanya pengen adil aja. Oke? Ditrima? Ditrima ya… Sah? Sah… /tanda-tanda mau gila/

Yang mau tanya, tanya aja! Ntar aku jawab di chapt selanjutnya. Aku gak langsung reply bukan berarti aku gak baca. Aku baca semuanya. Kalo ada yang kelewat protes aja…

Notes:

To: babyhae [kalo gak salah yang komen masalah KHK]

Hehehehe koreksi aku ya kalau ada yang salah. Aku bukan orang katolik. Aku orang islam. Semata-mata aku Cuma mau menguatkan cerita agar lebih realistis. Aku googling untuk masalah kaya gini, jadi kalau ada yang salah aku minta maaf. Kalau aku pake agamaku sendiri kan gak lucu. Gak kebayang. Makanya aku milih agama katolik. Kalo Kristen kan bisa cerai ya? Jadi, aku gabisa pakai itu karena unsur religiusnya kurang kuat. Tengs for koment ya:D

To: Anggi

PAYAAAAAAAAAAH LOL

To: Dika and Putri

Punya adek sesomplak kalian males banget deh. Masa aku bikin FF malah jadi sider. Dodol kalian hahahahaha

INDEKS: [PROLOG] [CHAPTER 1]

247 responses to “Let’s Make a Baby [Chapter-2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s