Let’s Make a Baby [Chapter-3]


Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Shim Changmin
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung
  • Cho Kyuhyun
  • Victoria Song
  • Etc.

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @onyuni


[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2]

Flash back…
Menyusuri jalan di tengah gegap gempita kota Paris dengan berjalan kaki merupakan kenikmatan tersendiri. Ditambah lagi dengan lembabnya udara yang cukup membuat orang-orang semakin mengeratkan mantel. Sayangnya aku telah menenggak secangkir coklat hangat di apartemen barusan, kalau belum biasanya aku akan membeli satu cup kopi di sebuah kedai kecil yang berdiri di sekitar Champ de Mars. Suasana Paris di malam hari seperti ini sudah terkenal sebagai suasana yang romantis di seluruh dunia. Tidak salah jika Paris menjadi salah satu tempat yang dikunjungi lebih dari dua ratus juta wisatawan, baik lokal maupun domestik.

Di tepi sungai Seine, aku mendapati Max tengah menatap permukaan sungai Seine yang berbuih. Aku kenal dari perawakannya. Dari caranya berdiri. Dia membelakangiku sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. Aku mendekat perlahan, kemudian memeluknya dari belakang setelah jarak kami hanya terpaut beberapa senti.

“Hei, Nona. Kau siapa? Kenapa memelukku seperti ini? Kau tidak tahu ya kalau aku sudah punya pacar?” katanya lembut sembari membebaskan tangannya kemudian mengelus tanganku yang telanjang tanpa sarung.
“Aku sudah tahu. Tapi aku ingin menggoda laki-laki yang sudah punya pacar sepertimu” aku tertawa kecil sambil menempelkan pelipisku ke punggungnya.

Aku bisa mencium aroma sabun bercampur minyak wangi yang menguatkan kemaskulinannya. Aku terbiasa dengan aroma ini setiap kali berada dekat dengannya. Badannya bergetar-getar, dia tertawa mendengar jawabanku.

“Kau tidak takut salah memeluk orang, Hyosun-ah?”
“Kenapa? Aku sangat hafal dengan perawakan dan wangi tubuhmu”
“Bagaimana kalau tadi kau salah?”
“Cuma aku yang bisa mengenali laki-laki sejelek dirimu, Max” aku bermaksud menarik tanganku, tapi Max menahannya.
“Malam ini romantis” katanya kemudian.
“Setiap malam di Paris selalu romantis, Max. Tidak jarang pasangan yang tengah berbulan madu menikmati suasana ini”
“Max…”
“Hmmm…” dia bergumam.
“Aku ingin membicarakan sesuatu” kataku dengan nada serak.

Max mengendurkan tangannya dan meloloskan tanganku begitu saja kemudian berbalik. Untuk sejenak mata kami berpaut satu sama lain.

“Tentang?” tanyanya kemudian.

Aku menghela nafas, kemudian mendudukkan bagian dari tubuhku di kerikil-kerikil kecil sambil menatap lurus ke permukaan air. Max mengikutiku dengan duduk bersebelahan. Aku bingung harus mengatakan sesuatu yang seperti apa padanya. Susah payah aku mengolahnya dalam otakku, tetap saja aku bingung untuk memulainya darimana.

“Kenapa diam?” tanyanya heran. Aku mengalihkan pandanganku dari air ke wajahnya yang rupawan.
Aku berfikir lagi “Menurutmu hubungan kita bagaimana, Max?”
“Sejauh ini baik-baik saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Aku menunduk, menatapi bumi yang seolah lebih cantik dari apapun sekarang ini.

“Aku merasa hubungan kita tidak akan mungkin, Max. Aku takut berjalan beriringan denganmu lebih jauh lagi. Bahkan untuk memikirkan menikah pun aku selalu merasa seperti… Seperti akan melakukan hal di atas kuasaku”

Mataku yang awalnya berkaca kini telah berleleran air asin yang menetes satu per satu. Dia diam. Aku diam. Sama-sama berfikir tentang satu hal.

“Aku selalu berfikir bagaimana menyatukan perbedaan ini menjadi satu kesepakatan. Di satu sisi aku tidak mau memungkiri kepercayaan yang aku anut, tapi di sisi lain aku juga yakin kau adalah orang yang sangat taat dengan ajaran Buddha. Bagaimana kita bisa bersatu? Apakah harus menistakan salah satu agama? Atau salah satu diantara kita harus mengalah dalam urusan ini?” aku menatapnya yang sekarang juga menunduk.

Dia menengadah sejenak. Aku tahu yang dia lakukan adalah mencegah airmatanya agar tidak keluar dan tetap mengitari bola matanya.

“Buddha sangat flexible, Hyosun-ah. Sepanjang pengesahan sebuah pernikahan dilakukan dengan tata cara Buddha, hal itu bukan masalah walaupun yang bukan Buddha tidak masuk agama kami terlebih dahulu” dia memandangku, setetes airmata menelusuri pipi kirinya.
“Pernikahan beda agama juga dianggap sah oleh ajaranku, tapi pernikahan itu tidak diberkati dengan sakramen pernikahan. Kalau kita sampai menikah, Max… Siapa mengikuti tata cara agama siapa? Di agamamu sah sudah pasti di agamaku tidak. Begitu pula sebaliknya” aku menatapnya intens tanpa bermaksud mengintimidasi.
Dia tertawa getir “Seharusnya sejak awal kita tidak pernah memulai ini semua, Hyosun-ah. Kita sama-sama salah. Kita terlalu jauh melangkah tanpa memikirkan ke depannya. Kalaupun salah satu diantara kita mengalah, lalu bagaimana dengan anak-anak kita kelak? Antara gereja dan vihara, antara natal dan waisak. Kita akan menentukan dimana letak meja dupa dan menggantung salib. Dan ironisnya lagi, setiap minggunya kita akan berjalan ke tempat yang terpisah, kau ke gereja dan aku ke vihara.”
“Aku tidak akan menukar agamaku, Max…” kataku lirih dan setelah itu tangisku benar-benar pecah dihadapannya. Dia mendiamkanku agar seluruh emosi terluap melalui tangisan. Mendengar setiap isakan yang tidak bisa ku tahan lagi.
“Begitu pula denganku…” jawabnya kemudian merangkulku agar tangisku jatuh membasahi dadanya yang bidang.

Aku merasakan detak jantungnya yang kian memburu disertai isakan walaupun samar terdengar. Tangisku masih mengguncang badannya. Pedih, sakit, marah, kecewa semuanya bercampur menjadi satu yang diwakili dengan tetesan airmata. Kenapa Tuhan memberiku perasaan yang seperti ini? Kenapa aku harus mencintai seseorang yang berbeda iman denganku? Sekalipun saat menjalani ini aku selalu dihinggapi rasa ragu untuk melangkah ke depan, tapi cintaku lebih dalam dari apapun. Belum pernah aku merasakan ini dengan laki-laki manapun.

“Kenapa aku begitu mencintaimu, Max? Kenapa? Kenapa harus kau yang aku cintai?”

Dia menatapku, kemudian menciumku sekilas, ragu-ragu kemudian melepaskannya.

“Karena jalannya harus begitu…”

“Semoga…” katanya tercekak menahan isaknya.
“Semoga jika masih ada kehidupan di masa yang akan datang, kita bisa bersatu dalam satu ikatan dan di satu simpang tanpa harus merisaukan perbedaan, Hyosun-ah” lanjutnya semakin mendekapku erat.
“Maafkan aku, Max… Maafkan aku…”
“Tidak, tidak ada yang salah, Hyosun-ah. Jangan meminta maaf. Memang keadaannya yang tidak tepat. Cepat atau lambat, kita memang harus membicarakan ini”

Tangisku semakin menderu dalam dekapnya. Tidak peduli lagi orang yang berlalu lalang akan berasumsi apa, aku hanya bisa menangis. Menangisi hubungan yang tidak akan sempat menjadi indah. Mungkin kami terlihat dekat, tapi sejujurnya kami menyebrang di jembatan yang berbeda.

“Apa rencanamu sekarang, Hyosun-ah?” tanyanya setelah bermenit-menit berlalu. Setelah airmata berkali-kali terusap. Setelah waktu berjalan sampai airmata di pipi mengering.

“Aku akan kembali ke Korea. Aku akan menikah”

Dia mengernyitkan dahi mendengar statementku.

“Orang tua angkatku menjodohkanku dengan anak dari temannya”

Aku berbohong. Orang tua angkatku kemungkinan besar tidak mengenal Lee Donghae. Sangatlah konyol jika aku mengatakan pada Max bahwa aku akan menikah untuk membantunya ‘membuat anak’. Tidak! Dalam beberapa kasus aku harus berbohong. Berbohong demi kebaikan sekalipun hal itu sama saja dengan dosa. Termasuk dalam keadaan ini.

“Kau mau menikah?” tanyanya heran.
“Aku hanya… Hanya tidak mau mengecewakan mereka. Mereka yang mengadopsiku dan membiayaiku sampai aku lulus kuliah. Ini adalah waktunya aku membalas budi, Max”

Sakit? Tentu. Membohongi orang yang kita cintai seperti ini sama saja menyayat-nyayat perasaan sendiri. Tapi pasti akan lebih sakit jika aku mengatakan hal yang sebenarnya. Dia tidak akan melepaskanku begitu saja tanpa alasan yang jelas. Jika dia tahu aku akan menikah dengan alasan ‘membuatkan anak’ untuk Donghae, jangan harap kakiku tidak dirantai olehnya.

“Apa dia tampan?”

Aku menerawang, membayangkan lekuk wajah Lee Donghae inci demi inci. Mata, hidung, tulang rahang, hidung sampai ke dagunya yang kelancipannya tidak begitu kentara. Tampan kalau dibayangkan. Tapi kalau sudah berbicara langsung dengannya rasanya berapi-api.

“Mungkin… Yang jelas kau yang paling tampan” aku tersenyum simpul padanya. Tak bisa mengelak, diapun tertawa.
“Bagaimana kau bisa mencintainya kalau kau mengatakan aku yang paling tampan?”

Bagaimana aku mau mencintainya, Max? Motif kami menikah bukan untuk memperdalam cinta dan menjalin kasih.

“Aku akan mencoba menghadirkan cinta dengan cara terbiasa”
“Kau yakin bisa?”
Aku mendengus dan menjawabnya dengan gelengan kecil “Aku akan mencobanya, Max”
“Apapun yang akan kau jalani ke depan dan dengan siapapun itu, aku harap kau bahagia, Hyosun-ah” dia mengelus puncak kepalaku dengan hati-hati. Menerima perlakuannya itu airmataku serasa ingin runtuh.
“Langit hari ini mendung. Biasanya cerah dan banyak bintang” katanya mengalihkan suasana.
“Kau bisa melihat Eiffel sebagai gantinya” sambungku.
“Eiffel…” dia menggumam sedikit berfikir.
“Mungkin ini terakhir kali kita bersama-sama di sini, Max” aku melanjutkan.
“Iya. Aku juga tidak berniat mengajak istri orang untuk diajak ke sini”
“Max…” kataku mengeluh.
“Aku bercanda. Hmmm… Sepertinya aku ke sini ingin mengajakmu makan di kaki lima?”
“Ide bagus. Selesai menangis perut jadi lapar, Max” kataku mecoba berkelakar.

Dengan mengabaikan rasa sedih yang masih berkecamuk, kami pun mencari penjual makanan di pinggiran sungai Seine. Tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang kami rahasiakan satu sama lain, kami hanya berusaha menghabiskan malam yang mungkin terakhir ini dengan tersenyum menutupi yang menyayat hati. Dan setelah ini mungkin aku akan menangis di apartemen sampai persediaan airmataku habis.

End Flashback…

Donghae memperhatikanku lekat yang sedari tadi berceloteh. Dia bisa menjadi pendengar yang baik sampai aku selesai berbicara. Dia menyodorkan selembar kain berwarna biru yang terlipat membentuk bujur sangkar. Aku menatapnya sejenak.

“Untuk apa?” aku melotot memandanginya.
“Untuk mengelap airmatamu. Apalagi?”
“Kau bodoh ya? Jelas-jelas aku tidak mengeluarkan airmata, kenapa kau memberiku sapu tangan?”
“Siapa tahu sebentar lagi kau akan ke toilet dan memutuskan untuk menangis di sana. Aku hanya takut kau kehabisan tissue”

Orang macam apa sih dia? Malah mengatakan hal seperti itu. Mati-matian aku menahannya agar tidak keluar, dia malah mencemoohku. Aku menatapnya penuh protes kemudian menyambar sapu tangan itu dengan segera. Ku bekap hidungku dengan kain itu dan mengeluarkan lendir-lendir di dalam lubang hidung. Aku puas melihat expresinya yang jijik itu.
“Puas?”
“Jorok!”
“Kau hanya tahu sebagian kecil dari diriku, Donghae-shi”
“Hmmm… Jadi intinya kau memanfaatkanku untuk membohongi bekas pacarmu?” tanyanya setelah menyeruput kopi hangat dari tempatnya.
“Terkadang hal itu diperlukan”
Dia menatapku sinis “Kau mengutip kalimatku beberapa hari yang lalu, Hyosun-ah”
“Jangan lupa aku adalah editor. Memoriku banyak, tak sulit untuk menghafal kalimatmu yang singkat itu” kataku bersikukuh.

Aku melemparkan pandanganku ke dinding kaca. Matahari semakin merangkak naik tapi suasana masih saja dingin. Sebentar lagi musim semi.

“Jadi, itu artinya kau setuju?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku sedang menikmati pemandangan yang ada di depanku sekarang. Aku melihat seorang ibu muda berjalan di trotoar sambil menggendong bayi kecil di dadanya. Sang ibu menggoda bayi kecil berambut pirang itu dengan guyonan-guyonan yang walaupun tak terdengar olehku tapi ku yakini sangat menghibur. Bayi itu tertawa disusul senyum yang terkembang dari sang ibu. Apakah nasibku akan seperti itu? Mempunyai anak dan membawanya ke dekapanku? Aku belum bisa membayangkannya.

“Kau melewatkan satu hal, Donghae-shi” aku mengalihkan pandanganku, dari trotoar ke pada mata bulat Lee Donghae.
Alisnya naik sebelah “Apa?”
“Apa kau tidak tahu kalau bayi tabung dilarang agama. Yang diakui hanyalah hubungan badan yang sebenarnya”
“Aku tahu” kilahnya santai kemudian menguras habis kopinya dalam sekali tegukan.
“Lantas?”
“Apa kau mau aku mau menjadi penjahat wanita? Yang meniduri wanita setelah menikahinya kemudian menceraikannya setelah seorang anak lahir? Jelaskan padaku, lebih brengsek mana hal itu ketimbang bayi tabung?” matanya mengisyaratkan kemarahan bercampur pembelaan dan melihat hal itu aku merasa sedikit gugup untuk menanggapi.
“Kau tidak takut dosa, Donghae-shi?”
“Manusia tidak akan luput dari kesalahan apalagi dosa. Hal ini yang bisa aku perbuat untuk menjaga keluargaku. Terserah kau mau memandangku seperti apa. Yang jelas aku tidak akan mengambil terlalu banyak darimu! kau bersedia menikah denganku saja aku sudah cukup bersyukur”

Dia memelanting badannya ke sandaran kursi. Wajahnya terlihat kusut seperti baju yang belum terkena panasnya setrika. Sedangkan aku sedang memainkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin itu indah dengan sebongkah batu kecil di tengahnya. Tapi ini imitasi. Bukan asli. Kami memilih diam sejenak, bergumul dengan pikiran masing-masing.

“Kau sempat bertunangan dengannya?” aku mendongak mendengar pertanyaan Donghae.
“Tidak. Aku hanya memakainya. Ini milikku, bukan dari orang lain”
“Lalu kenapa kau memakainya? Aku pikir saat pertama kali bertemu denganmu, kau adalah wanita yang sudah memiliki tunangan.”

Ekspresinya berubah normal lagi dengan tidak mengurangi sikap cool-nya.

“Aku hanya ingin orang-orang beranggapan seperti itu”
“Kenapa?”
“Aku tidak punya alasan untuk itu. Ini sudah aku lakukan sejak SMA hingga kuliah. Saat orang-orang bertanya apakah aku sudah bertunangan, aku hanya membalasnya dengan senyuman. Karena itulah banyak laki-laki yang berfikir ulang untuk mendekatiku.” Paparku sambil menelisik tatapannya yang lekat bercampur dengan ekspresi heran.
“Semacam merubah mindset?”
“Ya… Seperti itulah”

Setelah puas memainkannya, aku menarik cincin yang hampir tujuh tahun tidak lepas dari jari manisku itu. Setelah beberapa detik ku pandangi, ku taruh cincin itu tepat di depan piring bekas pancake milik Donghae yang telah kosong. Dia mengernyit.

“Lamar aku sekarang” kataku kemudian.
“Kau gila?” dia terperanjat, tapi aku tidak merubah ekspresiku yang masih datar.
“Itulah fungsi cincin itu. Siapapun yang menikahiku, aku ingin dia melamarku dengan cincin itu sebagai simbol”
“Termasuk denganku? Tapi…”
“Termasuk denganmu sekalipun motif kita menikah adalah membantu satu sama lain” potongku cepat.
“Aku tidak mau!”
“Aku butuh alibi tentang bagaimana kau melamarku” kataku membalikkan lagi ucapannya.
“Alibi? Kita bisa mereka-reka”
“Aku mau meminimalisir kebohongan” tandasku lagi.

Sejenak dia menatapku dengan ekspresinya heran. Kerutan-kerutan di dahinya semakin bertambah. Dan ekspresi itu sebagian besar bercampur marah yang tak bisa ia keluarkan.

“Shit!” umpatnya pelan kemudian mengambil cincin itu.
“Apa yang harus ku lakukan?” tanyanya sambil menimang cincin itu dengan suara yang mirip dengan geraman.
“Berlutut dengan satu tumpuan, kemudian tanyakan padaku ‘maukah kau menikah denganku?’”
“Ya! Yang benar saja!!!” protesnya berapi-api.
“Ayo lakukan” godaku.
“Tidak mau!”
“Ya sudah. Aku juga tidak mau menikah denganmu” kataku santai, memilih melipat kedua tanganku di depan dada.
“Kau tahu kan resikonya kalau kau tidak mau?” tanyanya setengah mengancam.
“Aku tahu. Tapi aku yakin kau tidak akan benar-benar melaporkanku pada petugas imigrasi. Kalau kau mau melakukannya, sudah dari lusa kau membawa mereka ke apartemenku”
“Gadis sinting”
“Tapi kau memilihku”

Kalimatku mungkin sebuah tamparan kecil untuknya. Entah dia merasa lelah berdebat denganku, akhirnya dia memundurkan kursinya dan berjalan mendekatiku setelah satu lenguhan kecil. Dia tidak punya pilihan. Saat menatapku dia masih berfikir sejenak dan setelah itu menekuk kakinya dengan satu tumpuan kaki. Dengan suasanya melodramatis yang sangat dipaksakan, dia membuka suara sambil menyodorkan cincin itu.

“Menikahlah denganku” suaranya lebih mirip dengan gumaman.
“Apa? Aku tidak mendengar” tanyaku meledek dan bola matanya hampir keluar.
“Menikahlah denganku” gumamnya lagi.
“Kurang keras”
“Sung Hyosun! Menikahlah denganku!” teriaknya menggema di restoran ini.

Aku diam selama beberapa detik karena kaget. Tapi setelah itu aku tertawa puas melihat ekspresinya yang seperti mau bunuh diri ini. Banyak pasang mata yang memandang ke arah kami, tapi aku tidak peduli. Hingga seorang pelayan mendekat ke arah kami. Donghae melamarku dengan bahasa korea.

“Ada masalah, nona?” tanyanya dengan menggunakan bahasa Perancis dengan logatnya yang sangat kental.
“Tidak. Tidak ada apa-apa. Pria ini hanya melamarku. Itu saja” jawabku dengan bahasa yang sama dengannya.
“Oh, aku pikir dia menyulitkanmu.”
“Tidak. Dia sedang melamarku. Tidak perlu khawatir. Kau bisa kembali lagi ke sini jika kami membutuhkanmu”
Pelayan itu kemudian mengangguk dan pergi meninggalkan kami. Donghae masih pada tempatnya, aku melemparkan pandangan ke arahnya sekarang.

“Kau puas?” aku tidak menjawab tapi menyodorkan tangan kiriku ke hadapanku.
“Pakaikan”

Untung saja aku adalah wanita. Jika aku berjenis kelamin sama dengannya, mungkin dia akan menghajarku habis-habisan di tempat karena mempermainkannya.

“Dasar anak kecil”
“Apa kau tidak mau mencium punggung tanganku dulu, Donghae-shi?” tanyaku menggodanya untuk yang ke sekian kali.
“Dasar gila!” kemudian dia pergi keluar restoran.

Aku tersenyum, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dan aku taruh di atas meja. Aku menyusulnya yang tengah berada di dalam mobil.

“Hmmm… Minggu depan urusan auditku di kantor cabang berakhir. Apa waktu itu kau sudah siap untuk kembali ke Korea?” tanyanya sambil menatap ke luar mobil, tangannya memegang kendali mobil.
“Besok aku akan ke penerbitan. Aku akan mengurus pengunduran diriku. Mungkin aku juga akan mengurus satu dua hal. Aku akan memberitahu orang tua angkatku dulu sebelum pulang. Mau pulang sendiri-sendiri atau…”
“Pulang bersama-sama. Aku akan menyiapkan tiketmu. Kita pulang hari minggu.”
“Oke. Kalau kau tidak keberatan, antarkan aku pulang sekarang. Please. Aku ingin istirahat”
“Bukan masalah”

Donghae menyalakan mesin mobilnya, kemudian melaju dengan kecepatan sedang setelah kami berdua sama-sama memakai seat belt.

“Donghae-shi…”
“Ada apa?” tanyanya tetap fokus pada jalanan.
“Nenek dan ibumu sudah tau dengan rencana ini?”
“Aku akan memberitahu mereka saat pulang”
“Bagaimana kalau mereka menolakku?”
“Aku akan meyakinkan mereka kalau aku tidak salah pilih. Kenapa? Kau takut batal menikah?”
“Aku hanya berfikir, kalau mereka tidak mengijinkan kita menikah, kepulanganku pun sia-sia. Lalu apa yang akan kau lakukan? Nekat?” aku menoleh padanya, tapi pandangannya tetap fokus pada jalan.
“Kenapa kau berfikir seperti itu?”

Aku menunduk, memainkan ujung kemejaku yang sudah kusut.

“Strata sosial kita berbeda, Donghae-shi. Kau dari keluarga yang kaya raya, sementara aku hanya orang biasa. Apa kau tidak berfikir seperti itu?”
“Standart nenek dan ibuku, bukan kaya atau miskin. Tapi layak atau tidak layak. Mereka tidak menilai seseorang dari materi. Mulai sekarang berhentilah meletakkan imbuhan ‘shi’ di belakang namaku. Belajarlah memanggilku oppa karena keluargaku sangat menghormati perbedaan usia…” katanya setelah menoleh sejenak padaku.

Ya, harus aku akui kalau umurku dua tahun di bawahnya dan memang seharusnya aku menghormatinya. Mungkin karena kami tinggal di daratan Eropa jadi aku terbiasa dengan panggilan nama. Berbeda dengan kultur Asia yang sangat menjaga tata karma.

“Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa. Kau tinggal tunggu saja…”
“Tunggu apa?” tanyaku karena pernyataan Donghae yang masih menggantung.
“Tunggu saja kau digantung oleh nenekku di pintu masuk atau dimasukkan ke dalam oven oleh ibuku…”

Tawanya getir. Mencoba mengancamku, tapi aku tidak merasa terancam. Ucapannya terdengar garing di telingaku. Aku tidak habis fikir orang-orang macam apa yang akan aku hadapi di rumah Donghae. Menghadapinya saja aku sudah cukup kewalahan, apalagi ditambah dengan nenek dan ibunya.

***

Setelah berjam-jam aku dan Donghae berada di dalam pesawat, akhirnya kami menapakkan kaki di tanah kelahiran. Aku sudah menghubungi keluarga Cho. Merekalah keluarga angkatku yang selama ini mengadopsi dan membesarkanku. Kyu oppa yang akan menjemputku di bandara. Dia adalah anak tunggal dari keluarga Cho. Nama lengkapnya adalah Cho Kyuhyun. Pribadinya yang cool menjadi pedomanku selama ini. Sementara itu, Donghae akan dijemput oleh sepupunya yang bernama Victoria. Anak dari adik ibunya yang sekarang ikut tinggal di rumahnya. Dia kuliah di Universitas Seoul, sementara orang tuanya berada di China.

“Oppa!” sebuah teriakan yang terdengar asing di telingaku saat aku dan Donghae tengah mendorong trolly masing-masing.

Aku mencari ke arah suara, dan mendapati seorang wanita dengan rambut yang bergelombang mendekati kami. Cantik. Kalau dilihat lebih lekat, dia mirip bintang iklan lipstick karena bibirnya yang terlihat sensual dan menggoda.

“Kau sendirian?” tanya Donghae.
“Iya. Bibi sedang ada rapat dengan client dan nenek sekarang di Mokpo. Kebetulan aku sedang libur kuliah, makanya aku yang menjemputmu sekarang” jelasnya.
“Di Mokpo? Sendirian?”
“Tiga hari lagi kan hari kematian kakek. Makanya nenek ingin berada di rumah lama untuk sementara”
“Ck! Aku lupa” Donghae mengelus pelipisnya yang tidak gatal.

Dan kau juga melupakanku Donghae. Hey! Aku di sini seperti pajangan sementara kalian berdiskusi sendiri. Ku putuskan untuk berdeham kecil dan hal itu cukup ampuh untuk membuatnya menghiraukanku.

“Oh, iya. Kenalkan. Ini adalah Sung Hyosun”

Aku tersenyum dan mengulurkan tangan bermaksud menjabat tangannya. Bukannya menyambut uluran tanganku, dia malah memandangiku heran kemudian melemparkan tatapannya pada Donghae dengan ekspresi yang masih sama.
“Pacarmu?” tanyanya pada Donghae kemudian memandangku dari atas hingga ke bawah. Jujur saja hal itu membuatku merasa tidak nyaman.
“Nanti oppa jelaskan di rumah”
“Dia pacarmu bukan?” tanyanya lagi dengan menaikkan nada suaranya sedikit lebih tinggi.

Aku menarik tanganku agar tidak tampak semakin tolol. Terlihat jelas sambutan dari sepupunya sangat tidak baik. Tapi apa salahnya menjabat tanganku? Hah? Apa dia tidak diajari sopan santun?

“Jawab, oppa!”
“Iya, dia pacarku. Aku akan menikah dengannya sebentar lagi”
“Apa? Lalu kau kemanakan Jessica?” tanyanya tidak percaya.

Jessica? Apakah itu wanita yang dimaksud Donghae selama ini? Bekas pacarnya.

“Sudahlah kita bicarakan di rumah. Aku lelah”
“Tapi, oppa…”
“Hyosun-ah!” sebuah teriakkan yang melengking masuk ke dalam rongga telingaku. Aku mengenal suara itu.

Seketika aku menoleh dan mendapati Kyu oppa tengah berlari ke arahku. Aku tersenyum melihatnya. Balutan blazer semi formal yang dipadukan dengan kaos berwarna abu-abu sangat pas di badannya. Walaupun dia adalah kakak angkatku, tapi paling tidak dialah yang selama ini meminjamkan bahunya untukku menangis kalau-kalau aku merasa sedih.

“Oppa!” aku melambaikan tangan.
“Maaf, aku telat. Biasa, macet” dia memelukku seketika.
“Tidak apa-apa, Oppa. Aku juga baru saja landing” kataku sambil melepaskan pelukannya.
“Oppa, kenalkan ini Donghae”

Kyu oppa langsung memandang Donghae. Menatapnya dari atas ke bawah dengan tampang tidak percaya.

“Pacarmu?” tanyanya langsung padaku. Aku memberikan anggukan kecil padanya.
“Kyuhyun. Cho Kyuhyun” Kyu oppa mengangsurkan tangannya dan Donghae menjabatnya dengan mantap.
“Lee Donghae. Dan ini adalah sepupuku, Victoria”

Sekilas Victoria dan Kyuhyun berpandangan. Entah apa yang mereka pikirkan, aku tidak tahu. Keduanya tidak langsung mengulurkan tangan.

“Apa aku mengenalmu?” tanya Kyu Oppa.

“Kau… Tunggu, kau Cho Kyuhyun yang dulu pernah kuliah di Universitas Seoul, kan?

“Apa aku mengenalmu?”

Victoria menggeleng “Aku rasa kau tidak mengenalku tapi aku sering melihatmu main game di taman kampus”

“Ohh… Siapa namamu?”

“Victoria. Victoria Song” Victoria mengulurkan tangannya dan disambut baik dengan Kyu oppa.

“Cho Kyuhyun”

            Hari itu aku dan Donghae berpisah di bandara. Dia akan menghubungiku jika waktunya sudah tepat. Victoria bersikap sinis padaku bukan tanpa alasan, melainkan karena dia adalah sahabat dekat Jessica yang tidak lain adalah bekas pacar Donghae. Urusan itu aku pikirkan nanti, sekarang yang aku perlukan adalah bertemu dengan keluarga angkatku untuk melepas rindu.

-TBC-

Annyeoooooooooooong…

Kemarin aku bilang hari selasa ya publishnya?

Yah, kebetulan aku lagi luang dan mata kuliah yang mematikan sudah terlewati dengan Alhamdulillah, akhirnya aku bisa nulis lagi.

To: Zinthomang, Jensiwonie, Missjasm1n3

Masalah agama Kristen boleh cerai atau gak, ternyata emang gak boleh. Aku baru googling n nanya-nanya ke temen. Tapi diperbolehkan cerai jika salah satunya selingkuh walaupun secara agama tetap dianggap masih menikah. Dan di pengadilan juga menganggapnya cerai. Aku minta maaf atas itu salah pengertian ini.

To: Kim Inseul- Lee Hyejin

FF kalian entar aku compare. Sabaaaaaaaaaaaaaar tunggu pas kita pisah kelas. Lagian gue juga lagi gak ada ide hehehehehehe.

To: Fa

SELAMAT! Kamu orang pertama yang ngebahas hukum bayi tabung. Aku pikir mau pada lempeng aja semua reader di sini. Aku tahu tapi aku ngambil jalan tengahnya kaya percakapan Hyosun n Donghae /tunjuk ke atas/ Tengs ya…

To: Sungkyulin

Tengs udah visit ke blog dan ninggalin komentar-komentar di FFku. Hahaha sory yang di blog belum ku bales /pelukamu/

To: Dika n Putri

Kalau tampilan kolom komen dari hp ada 2, pilih kolom yang bawah jangan yang atas. Bakalan gak masuk.

282 responses to “Let’s Make a Baby [Chapter-3]

  1. aduhh victoria bakal ngadu sama jessi gak yah soal hyosun?
    oh ya aku kagum banget sama author ini yang suka jawab pertanyaaan readernya jarang2 author kaya gini.

  2. Kyaaa…ada kyuuu..hehehe…
    Mmm..kykny gk bkal gampang bwt hyosun dterima di kel donghae cz blm ap2 vic udh sinis tuh ke hyosun..

  3. Dikirain changmin dan hyosun putusnya bakalan ribet, rupanya gak dan mereka sama2 menerima dg lapang dada. Lucu waktu donghae ngelamar hyosun di cafe.
    Mudah2an hyosun diterima di keluarga donghae, walau victory benci dg nya.

  4. Victoria semoga nanti bisa berteman baik juga dengan hyosun…. tokoh-tokohnya mulai keluar… ga sabar baca sampe selesai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s