[OneShot] Unordinary (It’s Misunderstanding]

Title : Unordinary (It’s Misunderstanding)

Author : Flameunrii★

Genre : Teen Romance Friendship ♥ AU (Se-AU-AU nya._.)

Cast : Kang Eunri | Choi Minho

Minor Cast : Han KiHyun | EunHyuk | Choi Siwon

Length : OneShot | Series [3897]

Another Series : (Wrong Number?)

==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==

Ini adalah Keimyung High School, sebuah sekolah luar biasa yang dihuni orang-orang tidak biasa. Kecuali…

Aku!

Namaku Kang Eunri. Yeoja 17 tahun, anak sulung dari Kang SamEun dan Kwon YeonRi. Jangan salah paham! Ibuku bukan penyanyi terkenal bersuara indah itu, tapi ibuku cukup terkenal di kalangan pelanggan kami sih. Pelanggan Restoran Cina, “KUKISHIMU KOKONO KERORO NO ITE WA ITEMO” (tolong jangan bertanya lagi kenapa namanya seperti itu)

Ini adalah hari kedua masa-masa buruk dimana kehidupan ku yang tidak biasa menjadi amat sangat tidak biasa.
“Kang Eunri!” Dan yeoja yang barusan meneriaki namaku adalah salah satu bibit penyebabnya.
“Wae?” KiHyun telah berdiri disampingku, berusaha mengatur nafas sembari menjejeri langkahku.
“Bagaimana semalam?”
“Bagaimana apanya?!”
“Kau dan Minho sunbae. Kemarin ketika aku pulang dengan eunhyuk oppa aku melihatmu dicegat olehnya. Apa kalian pulang bersama?”
“MWO?” Mulutku membulat saking tidak terima dengan asumsi KiHyun.
“Jangan bercanda! Kau tau apa yang terjadi kemarin? Dia mencegatku saat pulang, lalu memaksaku menemaninya latihan dan dia bilang tidak ada alasan untuk membantah karna aku harus melakukannya sebagai pacar yang baik! Kau tau lagi? Di lapangan bola Keimyung High School, lapangan bola terluas diantara lapangan bola sekolah-sekolah di Seoul, aku harus duduk seorang diri dipinggir lapangan hanya untuk menonton sebelas orang namja merebutkan satu benda bundar yang menggelinding kesana kemari! Dan kau juga harus tau, kalau selain menonton tugasku adalah berlari menghampirinya dengan membawakan air mineral dan handuk kecil setiap dia memberi kode dengan telunjuknya! Dan kau juga wajib tau kalau gara-gara itu aku harus terlambat pulang dua jam dari biasanya! Dan buruknya lagi, dia menyuruhku pulang sendiri karna dia mau pergi kumpul-kumpul dulu dengan empat teman akrabnya. ARGH MENYEBALKAAAAANN!!” Aku meninju-ninju udara kosong melampiaskan kekesalanku, sementara kihyun hanya memandang aksiku datar.
“Siapa yang menyebalkan?” Suara seorang namja mengusik kupingku. Mati! Sepertinya aku kenal suara ini.
“Oh, pas sekali. Eunri baru saja membicarakanmu kurang dari dua menit dua puluh empat detik yang lalu.” Dengan santainya kihyun bicara begitu fasih pada namja menyebalkan -meski cukup tampan- yang sebentar lagi tampaknya akan menguburku hidup-hidup. Oh tuhan! Sekarang aku menyesal pernah menyebut kihyun pintar.

“Jagiya!” Eunhyuk oppa di ujung koridor melambai ke arah kami. Ah, tidak! Kihyun maksudku. Karna tidak mungkin dia juga memanggil aku dan minho dengan panggilan jagiya o_o

“NE!” Sekarang nona kihyun yang kelewat pintar berlari kearah eunhyuk dan meninggalkan aku berdua saja dengan… Ow,ow~
INI GAWAT!
“Jadi aku menyebalkan katamu?” Deg. Baiklah, aku mulai merasakan hawa buruk disini.
“Yak! Yeoja! Kau dengar aku tidak!” Makhluk menyeramkan itu memegang kedua pundakku dan memutar badanku kehadapannya!
“KYAA! KENAPA KAU PEGANG-PEGANG!”
“HE? O_O”
“KYAA MESUM SEKALI!!” Aku berlari sekuat tenaga meninggalkannya yang masih bengong. Puwahhh! Sekarang aku tau cara melarikan diri yang efektif.

***
“Baik, sekarang kerjakan tugas 4 ini berpasangan. Jadikan teman sebelah kalian sebagai patner. Arasseo!” Tak! Tak! Tak! Park seongsaenim memukul papan tulis dengan tongkat kecilnya. Seisi kelas menjadi gaduh, mereka mulai membuat patner dengan teman sebelah mereka.

Aku melirik kesebelah kananku. Tembok. Bagus, aku hampir lupa kalau aku duduk disudut.
Sekarang aku melirik kekiri, KiHyun. Ok, aku juga hampir lupa kalau kihyun duduk disebelahku. Aku memutar kepalaku kekanan lagi.
“Baiklah tembok, aku percaya kau dan aku bisa jadi patner yang baik. Mari kerjakan soalnya bersama-sama.” Kataku dengan suara lantang. Sengaja sekali agar didengar kihyun. Ini semua karna aku sudah kelewat kesal dengan sikapnya akhir-akhir ini.
“Menurutmu nomor satu itu kita isi apa sebaiknya, tem?” Aku memandang intens pada tembok disampingku.
“OH! BEGITU! OKE BAIKLAH BAIK!” Suara kihyun terdengar keras. (Terpaksa) aku menolehnya,
“Cih, lebih memilih tembok dari pada aku! Padahal aku sudah sengaja membawakan komik sweet lollipop edisi kimi kimi tacihe (?) special dimana doraemon mengajak naruto untuk main domino. Sayang sekali~” KiHyun mengaduk-ngaduk tasnya dan mengacungkan benda persegi panjang, berukuran 17,8×13 cm dengan jumlah 136 halaman yang tampak bersinar! Oh! Cintaku! Aku mau itu!
“Yak! Yak! Kihyun-ah! Jangan menganggap serius, aku kan cuma mengetes mu saja!” Aku menggeser bangkuku kemeja kihyun dan menyergap komik yang ia acungkan tadi.
“Puwahhh! Hebat sekali. Aku tidak tau kalau Michiyo Kikuta dan masashi kishimoto berteman akrab dengan fujiko f fujio!” Sekarang aku sibuk membolak balik halaman komiknya.
“Hiks! Hiks! Kamu tega sekali mengetes ku seperti itu! Aku sempat berpikir kalau kamu benar-benar lebih memilih tembok untuk jadi sahabatmu tau tidak!” Kihyun mengusap-ngusap matanya. Kulempar komik kihyun kedalam tasku.
“Huwa kihyun! Mana boleh berpikir begitu! Kau sahabatku! Mana mungkin aku mau menukarmu dengan tembok yang bahkan bicara saja tidak bisa!” Aku memeluk kihyun, kihyun juga memelukku. Dan kami menangis haru. Oke, ini berlebihan.
Pluk! Sesuatu yang hangat terasa menyentuh kepalaku. Lalu kepalaku diputar kedepan.
“Si-a-pa yang suru kalian MAIN DRAMA DISINI!”
Pletak! Pletak! Dua jitakan untuk kepalaku ku dan kihyun. Astaga, aku lupa kalau kami sedang dikelas dan monster, maksudku park seongsaenim sedang mengajar.

***
“Kyaa! Sunbaenim! Kyahaha!” Sekelompok yeoja didekatku berteriak centil dan memasang pose aegyo yang justru membuat mereka tidak terlihat aegyo. Dari tadi mereka sibuk meneriaki ‘sunbae-sunbae keren’ (begitu yang aku tangkap dari obrolan mereka). Sangat luar biasa.
Ini adalah jam pelajaran olahraga. Jadi aku dan murid kelas 2-5 lainnya berada dilapangan basket yang letaknya berhadapan dengan gedung kelas 3. Wajar saja mereka berteriak-teriak begitu. Bahkan saat diruang ganti tadi aku melihat Kang Ji-Young, berbedak dan berdandan habis-habisan untuk menarik perhatian para sunbae nanti (begitu yang teman-teman katakan.)
“Kyaaa! Dia melihat kesini! Dia melihat kesini!” Sekarang para yeoja itu berdadah-dadah. Sepertinya mereka berhasil menarik perhatian para sunbae. Baiklah, ini mulai menyebalkan.
Aku membalik badan membelakangi gedung kelas tiga. Tidak nyaman dipandangi para sunbae.
“Satu, dua, satu, dua.” Aku berlari-lari kecil dan lompat ditempat. Kemana yoon seongsaenim? Jam pertama olahraga sudah hampir habis tapi kenapa dia belum juga datang!
“Satu, dua, satu, dua.”
“Aigoo, menganggu sekali!” Kihyun muncul didepanku dengan tatapan merasa terganggu.
“Wae?”
“Lihat para yeoja itu! Kenapa mereka begitu norak! Mempermalukan para hoobae saja.” Umpat kihyun memandang tajam pada mereka.
“Kyaa! Dia benar-benar melihat kemari!” Terdengar histeria mereka lagi. Kihyun ikut memandang ke gedung kelas 3,
“Mereka pikir dengan seperti itu para sunbae akan tertarik pada…Hey! Itu kan kelas 3-3, kelas eunhyuk oppa! Kyaa benar! Itu dia berdiri didekat jendela! KYAAA!! OPPA! EUNHYUK OPPA!!” Kihyun berdadah-dadah dihadapanku.
“SIAPA YANG TADI BICARA SOAL KELAKUAN NORAK?!” Teriakku tidak terima. Kihyun bersikap luar biasa.
“Heh, tunggu. Itu kelas 3-1 kan?” Kihyun mengernyit, matanya menyipit pada sesuatu yang ia perhatikan.
“Hey, eun!” Bahuku ditepuknya. Apa deh dia mulai menyebalkan!-_-
“Bukankah itu minho sunbae?” Kihyun makin menajamkan penglihatannya.
“Dia melihat kemari.” Ujar kihyun. Dia menepuk-nepuk pundakku lagi seolah menyuruh ku untuk ikut melihat. Err, aku menoleh ke arah tatapannya. Tampak seorang namja yang duduk dibarisan nomor 4, sebelah jendela, menatap kemari dengan tangan menopang dagu. Sepertinya itu memang minho. Tapi EH! Kenapa dia tiba-tiba membuang muka! Seperti kaget ketika ku balas lihat.
“Lah, begitu melihat wajahmu dia langsung membuang muka. Apa kamu tampak menakutkan eunri-ah?” Celetuk kihyun. Anak ini mulutnya terkadang memang kelewatan-___-
Tapi apa itu! Kenapa dia tiba-tiba buang muka padaku! Apa dia marah? Aish!

***
Lonceng istirahat berdering nyaring. KiHyun sudah lebih dulu keluar begitu dijemput eunhyuk oppa kekelas tadi. Aku ditinggal sendiri (lagi). Err,
Ku keluarkan makan siangku dari dalam tas. Kotak bekal berwarna kuning campur orange dengan gambar burung berkepala besar diatasnya. Haah, bahkan namdongsaengku tidak sudi memakai kotak bekal model begini.
‘Eunri-ah! Bekal hari ini adalah menu baru. Ayah berencana menambahkan menu di restoran kita. Dan inilah dia. Ah, kamu tau satu hal? Putriku yang cantik, kamu adalah orang pertama yang mencobanya! Berbahagialah~’ Aku masih ingat sekali perkataan ayah yang begitu riang ketika menyiapkan bekalku pagi ini. Ya, sebagai anak pemilik kedai makanan, aku memang lebih sering bawa bekal ketimbang belanja disekolah. Selain karna ayah, itu juga karna jajanan disini mahal-mahal sekali.
Ku buka kotak bekalnya…ada telur ikan, kwetiau, lalu…ini seperti campuran irisan daging ayam, jamur dan kedelai. Menu apa ini? Kenapa ramai sekali. Bagaimana ayah memberi namanya nanti-_-? astaga, Sungguh tidak biasa.
Ah! apalagi ini! Ada jamur pula! Lalu ini? Ha? kayu manis! Ya tuhan, ayah!  Sepertinya dia membuat menu baru dari campuran beberapa menu. Ckckck,
Lain kali akan kusuruh ayah mencampurkan dengkul tapir, sirip anoa dan jakun tuyul sekalian.
“Eunri-ssi! Apa ada yang bernama eunri disini?” Seorang namja berkacamata masuk kekelas. Kemarin minho, sekarang lain lagi. Besok siapa lagi yang akan masuk dan berkata, ‘Siapa Kang Eunri?’
“Aku! Wae!” Jawabku garang. Beda dengan minho. Namja ini tampaknya lunak dan lagi pula aku tau kalau dia satu tingkat denganku jadi aku tidak perlu takut dengannya.
“Aku disuru minho sunbae untuk memanggilmu. Dia ada dilapangan.”
“Memangnya mau apa dia?”
“Mana aku tau.” Namja itu menjawab acuh dan berlalu keluar. Ah, siapa peduli.
“Ah, iya. Dia bilang kalau kang eunri tidak datang dalam tiga menit sampaikan padanya kalau dia tidak akan bisa bernafas tenang.” namja itu melongokkan kepalanya lagi dari balik pintu.
“MWO?” APA TADI KATANYA?
“Aish!” Aku menutup tempat bekalku laru buru-buru berlari ke lapangan!  Dan saking buru-burunya tanpa sadar aku malah membawa bekalku. Aish! Kenapa aku harus terlibat dengan namja macam dia!

“Hosh…hosh…hosh…” Aku memegang lutut, mengatur nafas. Kulirik jam tanganku, waktu ku 3 menit 4 detik. Hanya terlambat 4 detik. Dan dia benar soal aku tidak benafas tenang.
Ku lirik dia, dia sedang bermain bola dengan para hoobae. Aigooo!! Lalu kenapa dia memanggilku!
Aih! Masa bodolah! Dia membuatku lapar! Aku duduk dibangku pinggir lapangan dan mulai menyantap bekalku. Baru saja aku menyuap sendok pertama seseorang mengusikku lagi.
“Eum, boleh aku coba bekal mu? Itu sepertinya enak.” Seorang namja gendut menghampiriku. Aku menghela nafas maklum. Dan namja itu duduk disebelahku.
“Aku Shindong, hehe! Boleh aku coba ya.” Belum kujawab iya dia sudah menyabet kotak bekal itu dari tanganku. Aigoo, sial sekali aku ini.
Shindong menyuap sekali, “Enak sekali.” Komentarnya. Aku tersenyum dan akan mengambil balik tapi…
“Aku coba sesendok lagi ya.” Pinta shindong. Aku mencoba sabar dan membiarkan ia melahapnya sekali lagi.
Dia mulai menyendok dan…

DUAK!

Terjadi hantaman didepan mataku! Kejadiannya sangat cepat!
Sesuatu melayang ke arah kami. Mengenai telak wajah shindong! Shindong terjengkang kebelakang dan kotak bekalku terlontar sejauh tiga meter. Sementara sendoknya melayang jauh kelangit memantulkan cahaya menyilaukan mata!
“SHINDONG!” Pekikku kaget. Terlambat memang! Aku mengintip shindong yang sudah tepar tidak berdaya lalu melihat bola kaki yang tergelatak disebelahnya. Kulirik sipenendang bola kakinya.
CHOI-MIN-HO!!
“Yak! Kau ini sudah gila ya!” Teriakku lantang! Kali ini dia sudah keterlaluan! Aku mendekati shindong untuk membantunya berdiri.
Sampai minho tiba-tiba sudah berdiri didepan kami. Berkacak pinggang melirikku dengan tatapan tajam.
“Kenapa kau lakukan ini!” Marahku.
“Ini salahmu! Kau yang membuatku melakukannya!”
“Apa katamu?!”
“Baru ditinggal sebentar saja sudah begini! Kau kira kau bisa berselingkuh dibelakangku huh!”
“HAH!!?”

***
“Dah, eunri~ah” KiHyun bersama namja cinghunya, kompakan berdadah ria ke arahku. Aku menghela nafas panjang, “Ne, dah~” Dan mereka melaju pergi meninggalkanku.
Setelah hilang dari pandangan, aku baru sadar akan sesuatu. Aku melirik kesekeliling dan berpikir kalau sepertinya ini memang kesempatanku. Aku tidak melihat namja itu dimanapun! Bagus!
Aku melangkah pulang keluar gerbang dengan damai. Hari ini tidak terlalu buruk juga rupanya. Habis tidak seperti kemarin. Tidak ada menunggu berlama-lama, tidak ada melihat sebelas namja melakukan kegiatan menyebalkan, tidak ada berlarian dengan handuk dan air mineral, tidak ada… apa lagi? Ah! Tidak ada tuan menyebalkan yang suka bicara keras dan mengatur orang! Tidak ada choi minho, tidak ada empat teman menyebalkannya, tidak ada choi minho, tidak ada diteriaki, tidak ada choi minho, tidak ada lambat pulang, tidak ada choi minho, tidak ada…
“HEH! MAU KEMANA KAU?” Deg. Aku membeku ditempat mendengar suara dari belakangku.
“Siapa yang bolehkan kau pulang heh?” Suaranya terdengar makin mendekat. Aku baru saja mau mengambil ancang-ancang untuk lari. Tapi kaki ku jadi tidak bisa digerakkan karna dia mengancam.
“Diam ditempat! Bergerak sedikit saja mati!” Hais! Demi telor kepiting ayah! Namja ini menyebalkan.

***
“Ambilkan minumku didalam tas!” Perintah namja itu dari tengah lapangan. Ketika dia lengah aku mengangkat tinjuku kewajahnya. Kesal sekali! Kalau bukan karna takut dari kemarin sudah ku tonjok matanya! (?)
Aku menyambar ransel hitam disebelahku. Ku tarik tali pembukanya dengan gigiku! Cih, kalau aku sedang tidak diet kulit sudah ku makan tas busuk ini dari tadi.
Aku mengobok-obok isi tasnya mencari air. Ku rogoh sesuatu…
“Buku? Bukan!” Ku lempar bukunya asal. Air…air…air…
“Ah! CD boyband shinee? Wah tampan sekali membernya! Ah! Aku harus cari air!” Aku tersadar dan membuangnya kesembarang tempat lagi.
“Pensil? Tidak.”
“Kamus? Ini juga tidak.” Setiap benda yang sudah kudapat kubuang begitu saja kebelakang.
“Ipod? Ah ini juga bukan.” Lempar lagi.
“Sepatu wanita? Ah ini bukan benda yang bisa diminum.” Lempar lagi kebelakang.
“Pocari sweat? Ini dia!” Aku mengacungkan botolnya senang. Seperti seseorang yang baru mendapatkan harta karun. Sudah begitu banyak benda yang aku salah dapat tadi. Mulai dari buku, pensil, CD, ipod, sepatu wanita lalu…
AH! APA TADI! IPOD DAN SEPATU WANITA!
Aku terlonjak sadar dan melihat barang-barang minho sudah bertebaran dibelakangku. Matilah aku! Ya tuhan! Ya tuhan! Aku pasti akan ditelan hidup-hidup oleh gajah peliharannya!
Ok, jangan tanya kenapa aku berpikir kalau dia memelihara gajah.
Aku memungut benda-benda yang kulempar tadi. Untung saja ipodnya tidak sampai rusak.
Coba hidupin deh. Ipodnya menyala, layarnya berwarna putih polos dan terbagi dua karna retak ditengahnya. Aku berkeringat dingin.
“Ah, tidak apa-apa. Hanya retak saja.” Gumamku.
Lalu tiba-tiba saja layar putihnya redup dan mati.
“Ah, tidak apa-apa eunri. Dia hanya kehabisan baterai. Yakinlah” Aku bergumam lagi. Menyeka keringat ku dan melempar ipodnya kembali kedalam tas. Berapa harga benda itu satu ya? Sepertinya aku harus menabung mulai sekarang.__. (bisa saja dia sadar dan minta aku mengganti nanti)
Aku memungut benda lain, ini sepatu? Kenapa dia menyimpan sebelah sepatu? Benar-benar abnormal! Dia sungguh namja tidak biasa.
Aku memperhatikan sepatunya dengan seksama. Sudah sedikit butek tapi entah kenapa rasanya aku mengenal akrab (?) sepatu ini.
“Bukankah sepatu ini…”

‘Yak! Tendang bolanya kemari.’
‘Igae!’
‘Duak!’

GYAA! INI SEPATU KU YANG HILANG SEBELAH ITU!
“Kau kenal?” Suara minho menganggetkanku. Sepatunya terlempar dan aku cepat-cepat memungutnya.
“Eh, eh?” Minho duduk ditempat ku tadi dan mulai meneguk minumannya.
“Sepatu itu…”
“Itu bukan sepatuku.” Ujar minho memotong. Beh, nenek penjual kue ubi juga tau kalau itu mah!
“Seorang yeoja pabo yang kusuruh menendang bola kearahku kemarin malah melontarkan sepatunya ke wajahku. Kurang ajar sekali kan.” Minho bicara sambil tetap menatap teman-temannya dilapangan.

Glek. Aku menelan ludah.
“Dia bahkan tidak minta maaf dan lari. Benar-benar tidak sopan.” Timpalnya lagi. Glek, aku menelan ludah sekali lagi. Sepertinya namja ini benar-benar punya masalah soal ingatan.
Dia menolehku lalu sepatu (yang sebenarnya milikku) ditanganku,
“Sepatu itu, sudah modelnya kuno, jelek, buluk, butek lagi. Untung saja tidak bau. Aku menyimpannya untuk mencari tau siapa yeoja pabo yang memilikinya. Kau tidak mungkin kenal pada sepatu itu kan?” Sekarang perasaan takutku tercampur aduk dengan kekesalan. Enak saja bilang modelnya kuno! Aku membelinya saat dia masih terpajang di stage New Arrival ya! KiHyun bahkan sempat iri melihatku dengan sepatu ini. Dan semua yeoja kelas 1-4 menyukai sepatuku. 1-4? Ok, aku memang membelinya saat kelas satu-___- Tapi bukan berarti modelnya sudah kuno dong.
“Lihat saja. Kalau aku tau siapa yeoja yang punya sepatu itu. Tidak akan kulepaskan dia!” Minho berkata garang. Membuat keringatku makin bercucuran.
Mianhae sepatu, tapi mulai hari ini kita putus hubungan!
Ku banting sepatunya kedalam tas minho. Namja macam apa yang mau membawa-bawa sebelah sepatu wanita selama dua hari.
“…” Aku diam, minho juga diam. Suasana disini benar-benar kaku. Tidak ada yang mau buka suara sedikitpun.
Ku lirik minho dari sudut mataku. Dia masih memandang intens pada teman-temannya di lapangan. Yang masih memperebutkan benda bundar hitam putih itu dari kemarin-_- Semenjak insiden menendang kewajah kapten sepakbola disebelahku aku jadi merasa harus waspada pada benda itu. Aish, nanti kalau aku jadi menteri olahraga akan ku ganti bola kaki menjadi kelereng.
“Minho-ah! Aku baru ingat ada janji dengan Nicole, aku duluan tidak apa-apa kan?” Salah satu dari empat teman akrab minho menghampiri kami. Dia adalah namja setengah botak yang menendang meja tempo hari.
“Ne, pergilah. Lagian latihan sudah selesai.” Minho menjawab.
“Jinja? Baguslah aku juga baru ingat kalau ada janji dengan ayah untuk membersihkan dapur bersama-sama.” Aku berdiri senang. Tapi tanganku ditahan,  “Siapa yang suru kau pulang heh? Kau belum boleh pulang!” Dan dia menarik tanganku agar aku kembali duduk. Aigoo kenapa aku sesial ini TT__TT
Satu persatu teman-teman klub sepakbolanya pulang. Kenapa aku belum boleh pulang juga! Ini sudah sore.
“Kamu itu…” Minho bergumam. Aku menoleh nya dan dia sudah menatapku dalam,
“Aku? Apa aku?” Responku malas. Aku mau pulang T_T
“Kamu itu seperti…”
“Seperti apa?”
“Seperti kutu air.”
“MWO?”
“Haha,” Dia tertawa! Hah! Sialan! Dia sebut aku seperti apa tadi?!
“Kamu kutu rambut!” Balasku.
“Heh? Kalau begitu kau adalah undur-undur.”
“Cih, kau lalat!”
“Maka kau nyamuk!”
“Aku kupu-kupu!”
“Mwo? Haha, tidak ada kupu-kupu yang mau disamakan dengan bekicot.”
“Siapa yang kau sebut bekicot? Kau itu seperti hama wereng tau tidak!” Ok, kita sebut ini perang mulut hewan insecta teman-teman.
“Kau seperti remis!”
“Aku ini tiram! Tiram mutiara.”
“Tidak kau itu teripang!”
“Kau gurita!”
“Tidak ada gurita setampan aku.”
“Mwo? Cih, bahkan sotong jauh lebih menarik darimu.”
“Kau telor buaya.”

“N-nde?? Baiklah kalau begitu kau adalah telur kudanil!”
“Yak! Pabo! Mana ada kudanil yang bertelur!” EH! O.O Benar juga! Gyaa kenapa aku begitu pabo.
“Kau serangga penyengat!” Balasku lagi. Ish, sekarang aku kehabisan hewan.
“Hem, baiklah…aku serangga penyengat” He? O.O Kenapa dia tidak membalas.
“Aku serangga dan kau adalah bunga bangkai.”
“APA?”
“Ya, pas sekali kan? Bunga bangkai kan suka serangga. Dan kau, kau juga suka padaku.” Namja ini selain menyebalkan ternyata juga punya tingkat narsisme yang tinggi!
“Siapa bilang aku suka padamu!” Kataku tidak terima.
“Bukannya kau sendiri yang berteriak seperti itu ditelfon.”
“Aku? Cih, untuk apa!”
“Tidak mau mengaku? Lalu kalimat, ‘Aku sudah lama menyukai mu diam-diam’ itu apa hah!”
“I-itu kan…”
“Kau bahkan minta jadi pacarku.” Dia bicara dengan nada menyindir. Arrrh aku tidak tahan lagi!
“ITU KAN KARNA AKU SALAH NOMOR!” Pekikku tidak terima. Seenaknya saja dia berpikir aku benar-benar menyukainya!
“Tunggu! Kau bilang apa tadi? Salah nomor?”
ASTAGA! ASTAGA! AKU MENGATAKANNYA! AKU MENGATAKANNYA! MATILAH! DIA PASTI AKAN MENGGILASKU SAMPAI MATI DENGAN MOTORNYA! HUWAAA!
“Yak! Yeoja! Jawab aku!” Minho mulai memaksa. Seperti tadi pagi, dia memegang kedua pundakku dan memutarnya kehadapannya.
“Jelaskan maksudmu tadi!” perintahnya. Aku melirik wajahnya yang tampak tidak senang. Lalu memutar badanku kembali menghadap lapangan.
Baiklah, Kang Eunri. Dua hari sudah cukup. Sepertinya ini memang sudah waktunya untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Ng, aku…” Aku berpikir sebentar menemukan kalimat yang cocok agar tak membuatnya tersinggung.
“Sebenarnya kau hanya salah paham. Aku tidak menyukaimu. Yang kusukai adalah Choi Siwon. Karna dia akan berhenti mengajar disini jadi temanku kihyun menyuruhku mengatakan perasaanku padanya. Kihyun memberikan nomor telfon siwon oppa. Ku pikir itu benar-benar nomor telfonnya, tapi pagi sesudah aku menelfon mu itu. Kihyun panik dan bilang kalau kami salah nomor karna itu ternyata nomor namdongsaeng siwon oppa. Yaitu kau…” Aku menghentikan ceritaku dan melirik ekspresi minho dari sudut mataku. Tidak berani memandangnya langsung.
“Oh…begitu. Jadi sebenarnya yang kau sukai itu hyungku, bukan aku. Begitu?”
“Ne…Karna itu sebaiknya kita…” Minho tiba-tiba berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.
Aigoo, sepertinya dia marah.
Baru saja jarak kami terpaut 2 meter. Langkah minho berhenti. Dengan posisi membelakangiku dia berkata,
“Tidak peduli kalau yang kau sukai bukan aku. Tidak peduli kalau kau suka pada siwon hyung atau siapa. Tapi kau sudah jadi yeojachinguku sekarang. Dan aku tidak mau memutuskanmu. Jadi suka tidak suka, kau tetap jadi pacarku. Arasseo!” Nadanya berubah menekan dikata terakhir. Dia bicara dengan suara yang keras sekali sampai aku harus memejamkan mata karna ketakutan.
“Kalau setelah ini kau mencoba menghindariku, akan ku cari kau kemanapun! Kalau kau lari aku akan mengejarmu! Kalau kau mencoba kabur, akan ku cari kau sampai dapat dan kupatahkan kakimu. Lalu kuseret dan ku ikat agar tetap berada disampingku. Kau tidak akan pernah lepas dariku, kecuali aku sendiri yang melepasmu. Arasseo!” Minho berkata dengan nada tinggi serta gertakan diakhir kalimat. Lalu berjalan meninggalkanku dan tasnya dipinggir lapangan.
Astaga, kenapa dia bisa bilang begitu? Aigoo, aku benar-benar kena masalah besar tampaknya TT_TT

***
Aku berjalan keluar gerbang sekolah dengan langkah gontai. Kenapa jadi begini? Kupikir setelah tau perasaanku yang sebenarnya minho akan mengerti dan memutuskan hubungan denganku. Tapi kenapa aku malah tetap jadi pacarnyaaa!! Huwaaa!!

Brum!! Brumm!! Suara deruman sepeda motor terdengar dari arah belakang. Suaranya makin dekat dan dekat.
Ish! Itu sudah pasti minho! Bagaimana ini! Aku masih canggung bertemu dengannya. Alasan apa yang harus ku katakan kalau dia memaksa mengantarku pulang?? (Baik, baik. Jangan katakan apapun. Aku tau kalau sekarang kalian berpikir aku sangat percaya diri)
Minho berhenti disampingku. Mesin motornya masih menyala. Dia menatap ku yang hanya bisa diam dari balik helmnya.
Tik! Tak! Tik! Tak! Suasana jadi hening. Aku diam, minho juga diam. Yang ributnya cuma mesin motornya.
Masih dalam keheningan, aku mengedarkan pandangan kesekeliling. Sudah hampir senja.
Koak! Koak! Dan kawanan burung bahkan sudah melintas didepan kami. Ku intip minho dari sudut mataku. Kenapa dia belum juga menyuruhku naik! Sampai kapan harus diam-diam begini!!
Dia tetap diam diatas motornya (yang ia standarkan) dengan tangan dilipat didada.
Tapi kemudian dia kembali memegang stang motornya dan…
Diliriknya wajahku sebentar lalu…
BRUUUMM!! BRUM!!
Dia memacu motornya dengan kecepatan kencang meninggalkanku sendiri yang hanya dapat terpaan asap kendaraannya saja!!
DIA TIDAK MENGAJAKKU PULANG BERSAMA?? TIDAK!! DIA TIDAK MENGAJAKKU!
Aish!! Bisa-bisanya dia melakukan ini padaku! Hah, Apanya yang pacaran kalau begini! Tega sekali dia meninggalkanku sendirian dan membiarkanku berjalan pulang dihari senja begini. Dasar potongan ubi!
Aku melangkah geram. Aku mau pulang!!
Drrmm…drmmm…
Baru saja enam langkah aku berjalan, sebuah motor spot warna putih melaju dari arah depan dan berhenti tepat dihadapanku. Mau mencegatku lagi huh?
Namja yang mengendarai motor itu, membuka kaca helmnya dan berteriak, “Kenapa kau tidak memanggilku untuk kembali!!”
“Mwo? Untuk apa aku lakukan itu?” Aku bertanya bingung.
“Errr, tentu saja agar…Argh! sudahlah!”
“-_-”

“Ayo cepat naik! Aku antar kau pulang!” Err,
“Itu perintah atau ajakan?”
“Tidak dua-duanya, aku hanya kasian pada yeoja malang yang harus berjalan pulang dihari senja.” Hah, perkataannya membuatku emosi.
“Sudah cepat naik!”
“Tidak perlu!” Tepisku. Aku kembali melangkah melewatinya,
“Eh, lepaskan!” Bentakku lagi karna dia tiba-tiba menahan tanganku, mencengkramnya dengan kuat.
“Apa? Lepaskan apa?” Katanya pura-pura bodoh.
“Err, lepaskan tanganku! Aku mau pulang sendiri saja!”
“Yasudah sana pulang sendiri!” Tangannya semakin mencengkram lenganku. Kutarik tanganku berusaha untuk lepas darinya. Tapi tenaganya terlalu kuat TT_TT
“Apa lagi yang kau tunggu? Sudah sana cepat pergi!”
“Kalau begitu lepaskan tanganku! Bagaimana aku bisa pergi kalau kau menahan tanganku?”
“Siapa yang menahanmu? Aku tidak menahanmu. Syalalala~ Syudududu~” Astaga! Harus sesabar apa lagi aku menghadapinya tuhaaaaan!,
“Lalu ini apa?” Aku menghentakkan tangan kananku yang dicengkramnya.
“Tanganku bergerak sendiri. Mianhae, ini diluar kendali.”
“Hahhh! Sulit dipercaya!” Aku mendengus kencang mendengar ucapannya.
“Cepat naik!” Sepertinya dia juga habis kesabaran. Karna dia langsung menarikku agar bergerak naik.
“Ini perintah atau ajakan?” Tanyaku lagi. Mencoba lunak sekali ini saja.
“Perintah! Kajja!” Dia melepas tanganku dan mengendik belakangnya seolah berkata, ‘Duduk sana’
Baiklah, mengingat langit hampir gelap sepertinya diantar pulang adalah pilihan yang baik. Kang EunRi. Demi telor kepiting ayah! Percayalah kau tidak akan mati karna ini! Batinku menyemangati. Aku mengangguk dalam hati dan mulai duduk dibelakang minho.
“Pegang yang erat.”
“Tidak perlu.”
“Kalau begitu jangan salahkan aku kalau kau terbang terbawa angin ya.”
“Cih, memangnya kau pikir aku ini apa?!” Aku menggetok helmnya sekali sambil tertawa, lalu kami mulai melaju pulang.
BRUM!! BRUUUUMMM!!!
“Kyaaaaa!! Choi MinHo! Pelanlah sedikit!” Dia mengendarai motornya dengan kecepatan yang mampu membuat umurku berkurang tujuh tahun.

Dan senja itu, adalah perjalanan pulang bersama kami yang pertama.  Yang mana dipenuhi oleh makianku, sumpah serapahku, dan teriakanku serta tertawaan minho yang seolah tertelan oleh terpaan angin.

==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==-==

.:FIN:.

Hohoho~ FF Unordinary ini awalnya cuma pengen aku bikin ficlet/oneshot.

Tapi karna baca-baca komen sebelumnya.

Sekarang  jadi pengen aku buat OneShot Series^^

Maksudnya, ini cerita Oneshot bersambung dengan seri yang beda-beda.

Kalau kemarinkan judulnya ‘Wrong Number?’

Yang ini ‘It’s Misundestanding’

Yang selanjutnya mungkin ‘Careless girl and Careness boy(?)’

Hohoho~ tapi kalo ini ada yang baca .____. (tergantung respon gitu)


Ah, kemarin ada yang tanya blog pribadi aku kan? Hoho~ ini dia

F L A M E U N R I I

Gumawo for read… ♥

Throw a few words in the column below =*

Advertisements

120 responses to “[OneShot] Unordinary (It’s Misunderstanding]

  1. Demi telor kepiting ayah wkwkwkwk sumpah dari awal sampe akhir lucuu, suka suka sukaa banget, eunri gaje aneh #plakk dan minho juga sama anehnya 😀
    baca dari series 3 ke 1 terus ke 2 .-. Abis nemu duluan yg series 3 😀
    di tunggu series 4 #udah ada apa belom ya# 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s